Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Malam hitam membentang diwarnai jutaan bintang yang meneteskan embun bagai langit menitikan air mata membasahi semesta. Keheningan mencekam seolah-olah menidurkan rerumputan dan belalang. Ketika jam dinding berdentang tiga

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sebuah perjalanan melintasi semesta ruhani adalah sebuah rentangan pengalaman menakjubkan yang sangat fantastis jika dipikir dengan nalar. Sebab segala sesuatu yang tergelar di semesta ruhani sangat aneh dengan berbagai peristiwa

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA BELAS)

Angin bertiup kencang menaburkan hawa maut ke segenap penjuru bumi. Gelombang samudera menggemuruh dengan suara ombak berdentum-dentum menggempur batu karang yang tegak menjulang di tengah amukan badai. Sepintas suara ombak

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT BELAS)

Badai gurun menggemuruh dahsyat bagaikan iring-iringan barisan raksasa berkejaran sambung-menyambung, melonjak, menggulung, menghentak-hentak, mengaduk-aduk, dan menghempas bumi menimbulkan getaran dahsyat kekuatannya, seolah

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA BELAS)

Malam merentang laksana kubah biru dengan bintang-gemintang berkilau-kilau seperti jutaan permata ditaburkan. Sepotong rembulan sabit melengkung bagai busur direntangkan di kaki langit, melesatkan panah waktu menuju kesunyian.

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA BELAS)

Sang bagaskara menyembul dari tirai cakrawala dengan kehangatan cahayanya yang menerobos dedaunan dan menguapkan embun pagi. Bebungaan menebarkan wanginya seolah menyediakan diri untuk dipetik sebagai persembahan bagi alam

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEBELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEBELAS)

Malam hitam jernih dengan jutaan bintang bertaburan laksana pelita semesta dibentangkan di atas permadani semesta. Dalam hening berjuta-juta wangi mawar menaburi bumi bagai ditebar tangan-tangan bidadari. Sementara angin sakal

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Matahari bersinar bersih, cahayanya membias putih di batas cakrawala yang berpendar jernih laksana pancaran kristal. Langit biru membentang bagai kubah sebuah masjid. Angin berhembus lirih menerbangkan wangi bebungaan. Berjuta-juta

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEMBILAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEMBILAN)

Malam sudah agak larut ketika saya kembali dan mendapati Ashok masih menjerang airuntuk membuatkan kopi Tuan Arvind. Sepengetahuan saya, Ashok sepertinya tidak pernah istirahat dari kerja hariannya sebagai jongos di

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Selasa sore seusai sembahyang Ashar, saya langsung melesat ke Jl. Jagannath Shankar Seth dengan mengendarai bus kota. Yang namanya bus kota di mana pun sama, kalau jam kerja akan dimulai atau telah selesai, penumpang mesti

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH)

Matahari sudah menggelinding sembilan kali di langit Bombay ketika keanehan lelaki tua yang belakangan saya ketahui bernama Chandragupta menerkam jiwa saya. Keanehannya rasanya hanya bisa saya rasakan sendiri, karena orang-orang

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM)

Perubahan besar di dalam diri saya makin saya rasakan ketika serentetan kenangan masa silam saya yang penuh percikan dan lepotan noda hitam yang mengotori jiwa saya, berkelebatan ganti-berganti mengisi suasana suci dan fitrah

Kisah Sejarah Gaib Tanah Jawa

Kisah Sejarah Gaib Tanah Jawa

Sejarah awal Pulau Jawa seolah terbungkus oleh misteri, karena sama sekali tidak diketahui keberadaannya oleh dunia sampai pulau ini dikunjungi oleh peziarah dari China, Fa Hien pada tahun 412 Masehi.Berdasarkan buku

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

Sejak melewati pengalaman menggetarkan bersama ruh mereka yang sudah berada di alam barzakh, segala sesuatu secara berangsur-angsur saya rasakan mengalami perubahan pada diri saya. Saya merasakan bahwa bisikan misterius yang

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT)

"KALAU MAU MENCARI ALLAH, BELAJARLAH DARI IBLIS!"Seperti ledakan halilintar bisikan misterius itu menggedor otak dan dada saya yang membuat seluruh jaringan darah di tubuh saya macet beberapa detik. Saya tidak mengerti,

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA)

"Kalau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!"Kembali bisikan misterius itu membentur pedalaman saya bagai kilatan halilintar, yang belakangan ini justru semakin sering frekuensi kemunculannya. Rupanya upaya saya

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA)

"Kalau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!"Bisikan misterius itu kembali mengganas sepertimenjebol dinding-dinding otak saya. Namun karena kebetulan saya membicarakan soal Ita Martina dengan Mat Aksan, maka

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

"Kalau engkau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!”Bagai kilatan cahaya petir, bisikan misterius itumembentur gugusan telinga batin saya tanpa dapat saya ketahui maksudnya. Kilatan itu muncul begitu

Lebaran 2011ku

Lebaran 2011ku

pengalaman itu tak selamanya menjadi guru yang terbaik. Pagi-pagi pulang dari kerja aku langsung ke stasiun gambir untuk membeli tiket kereta buat mudik, tapi ternyata semua tiket sudah habis. ternyata pemesanan tiket sudah

Hachi

Hachi

Bila hati ini mungkin bisa di wakili oleh sebuah tempat, misal kan rumah.Rumah yang telah kau tinggalkan.Rumah yang segala perabotannya berantakan walaupun tanpa sedikitpun kau buat berantakan.Rumah

ABOUT US

Kadang, Hidup itu DIAMPUT

Kadang, Hidup itu DIAMPUT

YOU MIGHT ALSO LIKE

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Ramadhan dan lebaran selain tentang hal puasa dan mudik juga sebagai pemantik kenangan saat bulan puasa dan lebaran tahun sebelum-sebelumnya. Itulah yang dirasakan Rahwana

Percayakah Kau Padaku?

Percayakah Kau Padaku?

Cerita ini diambil dari salah satu cerita pendek pada buku "Sepotong Hati Yang Baru" dengan judul "Percayakah Kau Padaku?" yang ditulis oleh Tere Liye.__________________

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Setelah 9 tahun merantau ke Newyork, Rahwana akhirnya memutuskan untuk mudik ke kampung halamannya, tepatnya di kecamatan Alengka kabupaten Blora.Suatu pagi sehari sebelum

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Dening: Suparto BrataDiamput! Sepatuku ilang ndhuk mejid. Iki gara-gara sholat Jumat ndhuk mejid enyar cedhake kantorku. Diamput, ejik enyar wis nggawa korban!

COMMENT