ASAL MULA NAMA DESA BRABOWAN, BITING, DAN GAGAKAN

ASAL MULA NAMA DESA BRABOWAN, BITING, DAN GAGAKAN

  • 2018-08-02 13:52:43
  • 975

Alkisah, pada zaman dahulu kala sekitar abad XV, ada sebuah desa yang terkenal dengan nama Desa Senori. Di desa tersebut hidup seorang tokoh sakti bernama Ki Gede Senori. Karena kesaktiaannya, dia mempunyai banyak cantrik atau murid. Di antara murid-muridnya yang terkenal ialah: Soreng Rana, Soreng Pati, dan Soreng Rangkut. Soreng Rana menjadi penggede di Batokan, Soreng Pati menjadi penggede di Kasiman, dan Soreng Rangkut menjadi penggede di Sambeng.
Ketiga soreng tersebut terkenal sebagai tiga  serangkai  yang ditakuti, baik oleh lawan maupun kawan. Ketiga penggede ini masing-masing mempunyai anak satu orang. Soreng Rana mempunyai anak perempuan bernama Rara Swari. Soreng Pati mempunyai anak laki-laki bernama Riman. Soreng Rangkut juga mempunyai anak laki-laki bernama Siman.
Riman dan Siman sama-sama menaruh hati pada Rara Swari. Bagi Swari sendiri sangatlah sulit dalam menentukan siapa yang akan dipilihnya karena keduanya sama-sama baik kepadanya. Akan tetapi, kedua perjaka tersebut selalu saling cemburu. Mereka berdua berlomba-lomba berusaha untuk dapat memiliki gadis pujaan hatinya.
Pada suatu hari Riman datang ke rumah Rara Swari untuk mengajak pergi Rara Swari, datang pula Siman di Batokan dengan maksud akan mencurahkan segala isi hatinya untuk meminang gadis pujaannya tersebut. Sayang, kedatangannya sedikit terlambat karena Rara Swasi sudah diajak Riman ke Kasiman. Oleh karena itu, Siman sangat marah kepada saingannya tersebut.
Siman bermaksud menyusul Riman yang sedang berduaan dengan Rara Swari. Hati Siman merasa sangat sakit ketika melihat dua orang yang dicarinya terlihat sangat santai di atas punggung kuda Riman. Dengan marah Siman menyuruh Riman turun dari kudanya dan mengajaknya bertanding untuk memperebutkan Rara Swari.
"Riman, cepatlah turun dari kudamu!"
"Mari kita bertanding secara jantan. Siapa yang menang, dia yang mendapatkan Rara Swari!"
Mendengar tantangan Siman, Riman pun menyahut. "Baik, aku terima tantanganmu!"
Keduanya adalah anak dari penggede-penggede sakti yang berasal dari satu perguruan sehingga sama-sama kuat. Mereka berdua sama-sama menguasai ilmu perkelahian yang bersumber dari satu aliran. Perkelahiran berlangsung dalam waktu cukup lama dan masing-masing sangat sulit untuk mengalahkan lawannya. Akhirnya, keduanya bersepakat untuk beristirahat sejenak guna mengambil nafas, yang dalam istilah setempat disebut brubuh (istirahat). Tempat untuk istirahat tersebut kemudian disebut brubuhan yang selanjutnya berkembang menjadi nama desa Brabowan.
Pada saat Riman dan Siman sedang beristirahat, sambil masing-masing mempelajari dan mengamati kelemahan lawannya, tiba-tiba datanglah Soreng Rangkut, ayah Siman. Kedatangan Soreng Rangkut memperbesar hati Siman. Siman lalu mengadu kepada ayahnya dengan berkata bohong bahwa Riman telah merebut paksa calon menantunya.
Mendengar laporan anaknya tersebut, hati Soreng Rangkut menjadi membara. Dia sangat marah kepada Riman yang telah mengganggu kebahagiaan anaknya. Oleh karena  itu,  tanpa  pikir panjang Riman langsung dibunuhnya di  tempat  itu juga dan jenazahnya dibiarkan begitu saja di tempat tersebut. Pada waktu Soreng Rangkut datang, Rara Swari sudah terlebih dahulu melarikan diri. Begitu pula kuda Riman, juga sudah pergi tak diketahui rimbanya.
Sepeninggal Riman, Soreng Rangkut dan anaknya bermaksud akan pergi ke Batokan untuk melamar Rara Swari. Akan tetapi, di tengah perjalanan Soreng Rangkut memerintahkan kepada anaknya untuk kembali saja ke rumah. Adapun yang melamar Swari cukup dirinya yang pergi.
Disebutkan pada waktu itu, Soreng Pati, ayah Riman sedang dalam perjalanan pulang dari bepergian. Dia melalui tempat seperti yang biasa dilewatinya. Tiba-tiba di tengah perjalanan ia melihat jenazah Riman, anaknya, tergeletak di tengah jalan yang sepi. Jenazah Riman tampak tergeletak begitu saja kaya babi ngglinting (seperti babi hutan yang terkapar) sehingga tempat tersebut kemudian disebut Desa Biting berasal dari kata babi dan ngglinting.
Soreng Pati segera mengamati luka pada tubuh anaknya untuk mengetahui penyebab kematiannya. Dia sangat terkejut begitu melihat bekas pukulan yang mengenai anaknya, ternyata sama dengan jenis pukulan yang dimilikinya. Dengan begitu, dia dapat memastikan bahwa yang membunuh anaknya adalah orang yang satu perguruan dengannya. Menurutnya, kemungkinan hanya ada dua, apakah Soreng Rangkut atau Soreng Rana.
Pada saat dia termangu memikirkan siapa sebenarnya yang telah membunuh anaknya, tiba-tiba dia melihat Siman berkelebat di tempat tersebut dengan sikap yang mencurigakan. Siman pun segera dikejarnya. Begitu tertangkap, Soreng Pati sangat terkejut melihat pakaian yang dipakai Siman berantakan tampak habis berkelahi. Dengan begitu, dia tahu pasti bahwa yang membunuh Riman pastilah Siman. Siman pun lalu memberi tahu bahwa yang membunuh Riman adalah ayahnya. Begitu mendengar penjelasan tersebut, tanpa pikir panjang Siman pun lalu dibunuhnya. Jenazah Siman dikubur dalam satu tempat dengan Riman.
Disebutkan, pada waktu Soreng Rangkut ke Batokan mau melamar Rara Swari untuk anaknya Siman, didapati rumah Soreng Rana dalam keadaan kosong. Soreng Rana sedang pergi ke Senori menghadap gurunya. Mendapati keadaan keperti itu, dia lalu bermaksud akan menyusul ke Senori. Di tengah jalan ia bertemu saudara sepeguruannya, Ki Soreng Pati, yang mencarinya. Maka terjadilah pertarungan antara dua jago seperguruan tersebut. Keduanya belum bisa saling mengalahkan. Akhirnya, mereka berdua bersepakat untuk mencari biang keladi persoalan yang memakan korban anak-anak mereka tersebut.
Oleh karena yang menjadi penyebab perkelahian tersebut adalah Rara Swari, mereka berdua memutuskan untuk mencari wanita tersebut. Tujuannya adalah membunuh Rara Swari sebagai pertanggungjawaban atas terbunuhnya Siman dan Riman. Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan ke arah utara guna mencari Rara Swari. Tempat pertempuran antara kedua jago tersebut menjadi bosah-baseh (porak-poranda) dan rata. Tempat tersebut kemudian disebut dengan nama Desa Ngrata.
Tersebutlah Rara Swari yang melarikan diri karena takut pada kedatangan Soreng Rangkut, ayah Siman. Perjalanan Rara Swari sampai di suatu tempat yang rindang dan banyak airnya.  Ia menyembunyikan diri di tempat itu dengan maksud agar tidak diketahui oleh Soreng Rangkut. Akan tetapi, belum juga hilang lelahnya, ia sudah keburu diketahui oleh kedua orang soreng yang mencarinya. Dengan penuh kemarahan, kedua soreng itupun segera membunuhnya.
Sebelum meninggal, Rara Swari sempat berpesan bahwa siapapun yang berwujud wanita bila sampai berani meminum atau mandi di tempat itu pasti akan celaka. Sampai sekarang mata air di tempat tersebut disebut Sendang Lanang. Bagi wanita sangat ditabukan mandi atau membasuh muka dan kakinya di sendang tersebut karena akan menemui halangan, lalu sesampainya di rumah meninggal dunia. Adapun tempat di mana Rara Swari dibunuh disebut dengan nama Desa Swareh.

Setelah puas membunuh Rara Swari, Soreng Pati dan  Soreng Rangkut melanjutkan pertarungan untuk menunjukkan kesaktian masing-masing. Akan tetapi, seperti halnya pada waktu sebelumnya, mereka berdua tidak berhasil mengalahkan satu sama lainnya. Hingga habis tenaga keduanya belum ada yang kalah maupun menang. Akhirnya, mereka berdua terkulai tidak mampu bergerak karena kehabisan tenaga.
Pada saat itu datanglah Ki Gede Senori dengan diiring Soreng Rana yang mencarinya karena hatinya merasa tidak enak. Setelah diobati oleh gurunya, Soreng Pati dan Soreng Rangkut pun sadar. Mereka berdua lalu menceritakan peristiwa yang sudah terjadi, yang telah membawa korban ketiga anak mereka.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Akankah Jalan Sumbawa di Blora Menjadi Jalan Pramoedya Ananta Toer?

Akankah Jalan Sumbawa di Blora Menjadi Jalan Pramoedya Ananta Toer?

Seperti kita ketahui, PRAMOEDYA dilahirkan di Blora pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya berdagang nasi. Nama asli

Blora Tercinta

Blora Tercinta

Katanya blora itu kecil tapi isinya banyak. Ada Pak Pramoedya, Samin, minyak bumi, jati, batik, barongan, lontong tahu dan yang pasti satenya yang paling uenak tenan

Butuh Lapangan Pekerjaan Luas

Butuh Lapangan Pekerjaan Luas

minimnya lapangan pekerjaan di kabupaten Blora memaksa kebanyakan pemudanya untuk merantau ke daerah atau kota lain guna mencari pekerjaan. semoga kedepannya pemerintah bergerak

Blora Dari Kejauhan

Blora Dari Kejauhan

Sebelum saya merantau ke luar dari blora, saya merasa blora hanyalah kota mati. tapi setelah saya merantau, ternyata blora adalah kota yang sangat hidup, kota yang selalu

LEGENDA NAYA GIMBAL

LEGENDA NAYA GIMBAL

Nama Naya Gimbal bukanlah nama sebenarnya. Nama sebenarnya adalah Sentika. Kata Naya diambil dari nama induk pasukan laskar Diponegoro. Sebagaimana diketahui, laskar prajurit

LEGENDA ARYA PENANGSANG

LEGENDA ARYA PENANGSANG

Arya Penangsang merupakan seorang keturunan Raja Demak, yakni cucu Sultan Trenggono, Raja Demak yang berkuasapada tahun 1521—1546 M. Arya Penangsang merupakan putra

LEGENDA KYAI BALUN

LEGENDA KYAI BALUN

Kyai Balun merupakan sebutan untuk Pangeran Anom atau Pangeran Panjaringan. Pada cerita sebelumnya disebutkan bahwa pusaka keramat Kadipaten Jipang Panolan yang hilang berhasil

Kali Lusi Blora Tahun 80an

Kali Lusi Blora Tahun 80an

Tapi bila hujan mulai turun, dan gunung-gunung di hutan diliputi mendung, dan matahari tak juga muncul dalam empatpuluh atau limapuluh jam, air yang kehijau-hijauan itu berubah