Asal-Usul Desa Nglorok, Turi, Semampir, Tinggil dan Besah

Asal-Usul Desa Nglorok, Turi, Semampir, Tinggil dan Besah

  • 2018-08-02 14:56:03
  • 963

Cerita ini merupakan legenda yang menceritakan asal usul lima nama desa di Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora. Legenda ini berawal ketika Perang Diponegoro selesai dengan ditangkapnya Pangeran Diponegoro oleh Belanda. Kemudian sisa-sisa prajurit Diponegoro mengikuti Pangeran Diponegoro melarikan diri ke utara. Namun, pasukan ini tetap bergerilya meneruskan perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Salah satu prajurit Pangeran Diponegoro yang menyelamatkan diri ke utara tersebut yaitu Naya Sentika. Perjuangan Naya Sentika dilanjutkan di sekitar Desa Bangsri. Lurah Desa Bangsri yang bernama Ki Gede Toinah mendukung dan membantu perlawanan Naya Sentika terhadap Belanda.
Di Desa Bangsri ini Naya Santika membangun kekuatan bersama para pengikutnya. Ia tidak hanya mendapatkan kekuatan dari Lurah Desa Bangsri, tetapi seluruh rakyat di desa tersebut juga ikut membantunya. Penduduk Desa Bangsri sebagian menjadi prajurit dan sebagian yang lain membantu menyediakan makanan dan perlengkapan perang lainnya. Dari Desa Bangsri, pasukan Naya Santika menyerang desa-desa di sekitarnya yang menjadi kaki tangan Belanda. Lambat laun penyerangan yang dilakukan oleh Naya Santika tersebut terdengar oleh Bupati Blora Raden Tumenggung Cakranegara. Bupati Blora yang merasa dekat dengan Belanda merasa terancam kedudukannya. Ia segera memerintahkan para punggawanya untuk menghentikan peperangan yang dilakukan oleh Naya Sentika dan para pengikutnya.
"Peperangan yang dikobarkan Naya Sentika harus dihentikan. Kalau sampai Belanda mendengar ada perang di wilayah Blora, jabatanku sebagai bupati akan terancam."
"Bagaimana caranya Kanjeng Bupati?"
"Aku akan mengutus adikku, Pangeran Sumenep untuk menyerbu Desa Bangsri yang dijadikan markas Naya Sentika dan menumpas pemberontakan itu. Lebih baik kita terlebih dahulu menyerbu daripada kita diserbu Naya Sentika. Aku dengar Naya Sentika mempunyai rencana menyerbu kota Blora."
Rencana Raden Mas Tumenggung Cakranegara untuk melakukan penyerbuan ke Desa Bangsri pun segera dimatangkan. Pasukan, makanan, senjata, dan strategi disiapkan dengan baik. Namun demikian, ternyata Naya Sentika pun sudah mendengar rencana penyerbuan Bupati Blora tersebut ke Desa Bangsri. Oleh karena itu, ia segera memindahkan markasnya ke arah tenggara Bangsri. Tempat yang kemudian dijadikan markas baru oleh Naya Sentika dan pengikutnya dinamakan Desa Nglorok, yang berarti pergi ke arah tenggara. Saat itu pula Naya Sentika bernazar tidak akan memotong rambutnya sebelum berhasil menumpas Belanda dan membuatnya angkat kaki dari Tanah Jawa. Karena nazar itulah, Naya Sentika bergelar Naya Gimbal. Istri Naya Sentika, Dyah Ayu Sumarti tidak ikut suaminya pindah ke Desa Nglorok, melainkan tetap tinggal di Desa Bangsri. Dyah Ayu Sumarti tetap tinggal karena ia harus tetap melatih para wanita Desa Bangsri untuk menjadi prajurit.

Sementara itu, sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, Pangeran Sumenep menyerbu Desa Bangsri. Ketika pasukannya sampai di Desa Bangsri, ia tidak menemukan prajurit Naya Sentika. Pangeran Sumenep hanya berjumpa dengan istri Naya Sentika, Dyah Ayu Sumarti dan beberapa prajurit wanitanya. Melihat kecantikan Dyah Ayu Sumarti, Pangeran Sumenep jatuh cinta dan ingin menjadikannya istri. Dyah Ayu Sumarti menolak. Dyah Ayu Sumarti melarikan diri dan mengadukan segala perbuatan Pangeran Sumenep kepada Naya Sentika, suaminya. Mendengar pengaduaan istrinya itu, Naya Sentika atau Naya Gimbal beserta prajuritnya langsung menyerang pasukan Pangeran Sumenep. Dalam penyerbuan itu, Pangeran Sumenep kalah dan melarikan diri ke Blora.
Dalam peperangan itu, ada beberapa prajurit Naya Gimbal yang terluka dan diobati dengan menggunakan daun turi yang masih muda. Oleh karena itu, tempat terjadinya pertempuran antara pasukan Naya Gimbal dan pasukan Pangeran Sumenep dinamakan Desa Turi. Tidak jauh dari tempat itu, ditemukan mayat para prajurit Pangeran Sumenep, tersangkut di pohon. Tempat itu kemudian diberi nama Desa Semampir sebab ada mayat yang semampir 'tersangkut' di pohon. Prajurit Naya Gimbal bersuka ria karena dapat mengalahkan pasukan Pangeran Sumenep. Dalam perjalanan kembali ke Desa Nglorok, sampai di suatu tempat mereka saling tinggil-tinggilan 'saling mengangkat tubuh seorang dengan yang lainnya' sebagai ungkapan kegembiraan. Tempat itu kemudian dinamakan Desa Tinggil.
Setelah penyerangan Pangeran Sumenep, pasukan Naya Gimbal diperkuat oleh Ki Gede Toniah, Ki Samboro, Beia, dan Dyah Ayu Sumarti beserta prajurit putrinya. Ia menyuruh sebagian prajuritnya ke Gunung Genuk untuk mengambil senjata. Di tengah perjalanan prajurit Naya Gimbal bertemu orang dari Desa Taunan dan Mrayun. Mereka menyarankan agar senjata dari Gunung Genuk disimpan di rumah Lurah Mrayun. Saran itu diterima oleh suruhan Naya Gimbal. Sampai sekarang sebagian senjata yang berupa pedang dan bendhe masih ada di Desa Mrayun.
Kekalahan Pangeran Sumenep saat melawan Naya Gimbal kemudian dilaporkan kepada Raden Mas Tumenggung Cakra negara. Mendengar laporan itu, ia lalu meminta bantuan Kompeni di Semarang. Kompeni mengabulkan permintaan Raden Mas Tumenggung Cakranegara. Beberapa hari kemudian, sejumlah besar tentara Kompeni berangkat dari Semarang ke Blora. Setelah bantuan Kompeni dari Semarang tiba, Kompeni bersama dengan pasukan Raden Mas Tumenggung Cakranegara menyerbu Desa Bangsri. Terjadilah pertempuran yang sengit. Banyak jatuh korban, baik dari pihak Naya Gimbal maupun pihak Kompeni Belanda dan Bupati Blora. Perang Bangsri yang seru sampai saat ini tetap dikenang oleh penduduk Desa Bangsri. Mereka kagum dengan keberanian dan perjuangan Naya Gimbal beserta prajuritnya, yang sebagian besar adalah penduduk Bangsri, yang tiada mengenal kata menyerah. Untuk mengenang peperangan itu, penduduk Bangsri mendirikan patung Naya Gimbal sebagai peringatan Perang Bangsri. Mereka menganggap perang tersebut adalah perang antara rakyat yang dipimpin oleh Naya Gimbal dengan Belanda dan kaki tangannya.
Karena kekuatan yang tidak seimbang, baik kekuatan prajurit maupun senjatanya, akhirnya Naya Gimbal terdesak dan mengundurkan diri ke arah timur, ke arah Desa Sambeng. Desa Sambeng ini terletak di sebelah timur laut Kota Cepu. Di desa tersebut Naya Gimbal dan prajuritnya bersembunyi. Pasukan Kompeni bersama pasukan Raden Mas Tumenggung Cakranegara mengejar ke Sambeng. Ketika Kompeni mencari persembunyian Naya Gimbal, penduduk Desa Sambeng memberi tahu persembunyiannya.
Setelah diketahui tempat persembunyian Naya Gimbal, Kompeni dan pasukan Bupati Blora berencara menangkap Naya Gimbal dengan tipu muslihat. Ketika menyerbu Naya Gimbal, barisan pertama bukan Kompeni dan pasukan Blora, tetapi penabuh terban dan jidor seperti arak-arakan pengantin. Dalam penyerbuan tersebut terjadi peperangan yang sengit. Banyak penduduk Desa Sambeng yang mati. Tempat terjadinya peperangan itu kemudian dinamakan Desa Besah. Kata Besah berasal dari blasah (bahasa Jawa) berarti 'bergeletakan'.
Peperangan tersebut menunjukkan kesaktian Naya Gimbal karena tidak ada satupun peluru Kompeni yang dapat menembus tubuhnya. Namun, karena kalah persenjataan dan prajurit, akhirnya pasukan Naya Gimbal terkepung dan Naya Gimbal menyerah. Bupati Blora, Raden Tumenggung Cakranegara membawa Naya Gimbal ke Rembang. Oleh Residen Rembang, Naya Gimbal dibuang ke Laut Jawa sebagai hukumannya. Demikianlah akhir riwayat Naya Gimbal.

SHARE:

Comments

Recent Posts

ASAL-USUL DESA SAMBONG

ASAL-USUL DESA SAMBONG

Kekalahan pasukan Kadipaten Jipang Panolan oleh pasukan dari Kadipaten Pajang mengakibatkan pendudukan wilayah Jipang oleh orang Pajang. Adapun yang kemudian menduduki Kadipaten

Mig33 Blora

Mig33 Blora

Akhir-akhir iki lagi usum #10yearschallenge 2009 - 2019.
Lha kebeneran tahun 2009 kuwi nek gak salah lagi rame-ramene mig33 neng mbloRO.
Ndelalah kae yo pernah ngumpulke poto-potone

LEGENDA DESA WATU BREM (TU-BREM)

LEGENDA DESA WATU BREM (TU-BREM)

Alkisah, pada saat masih zamannya penggede di Desa Pojok Watu (Desa Tu-Brem) hiduplah seorang penggede (kepala perampok) bernama Malang Sudiro. Suatu saat ia bermaksud mengawinkan

Kali Lusi Blora Tahun 80an

Kali Lusi Blora Tahun 80an

Tapi bila hujan mulai turun, dan gunung-gunung di hutan diliputi mendung, dan matahari tak juga muncul dalam empatpuluh atau limapuluh jam, air yang kehijau-hijauan itu berubah

Akankah Jalan Sumbawa di Blora Menjadi Jalan Pramoedya Ananta Toer?

Akankah Jalan Sumbawa di Blora Menjadi Jalan Pramoedya Ananta Toer?

Seperti kita ketahui, PRAMOEDYA dilahirkan di Blora pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya berdagang nasi. Nama asli

ASAL MULA NAMA DESA BRABOWAN, BITING, DAN GAGAKAN

ASAL MULA NAMA DESA BRABOWAN, BITING, DAN GAGAKAN

Alkisah, pada zaman dahulu kala sekitar abad XV, ada sebuah desa yang terkenal dengan nama Desa Senori. Di desa tersebut hidup seorang tokoh sakti bernama Ki Gede Senori. Karena

LEGENDA NAYA GIMBAL

LEGENDA NAYA GIMBAL

Nama Naya Gimbal bukanlah nama sebenarnya. Nama sebenarnya adalah Sentika. Kata Naya diambil dari nama induk pasukan laskar Diponegoro. Sebagaimana diketahui, laskar prajurit

Blora Dari Kejauhan

Blora Dari Kejauhan

Sebelum saya merantau ke luar dari blora, saya merasa blora hanyalah kota mati. tapi setelah saya merantau, ternyata blora adalah kota yang sangat hidup, kota yang selalu