HILANGNYA PUSAKA PAJANG

HILANGNYA PUSAKA PAJANG

  • 2018-07-24 22:51:48
  • 976

Tersebutlah pemerintahan Kadipaten Jipang Panolan yang menjadi wilayah bawahan Kerajaan Pajang karena kekalahan Arya Penangsang oleh Sutawijaya. Wilayah tersebut kemudian diserahkan kepada putra Sultan Hadiwijaya yang bernama Pangeran Benawa. Adapun Ki Ageng Pemanahan, ayah Sutawijaya, yang membantu menyingkirkan Arya Penangsang diberi hadiah bumi Mentaok. Selain itu, Ki Penjawi yang juga dianggap berjasa dalam mengalahkan Arya Penangsang, diberi hadiah bumi Pati. Kelak, Bumi Mentaok menjadi kerajaan besar bernama Mataram di bawah kepemimpinan Ki Ageng Pemanahan yang bergelar Sultan Agung. Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat, Bumi Mentaok atau Mataram diserahkan kepada anaknya, yaitu Sutawijaya. Setelah naik tahta, Sutawijaya bergelar Panembahan Senopati.
Kebesaran Kerajaan Mataram akhirnya mengalahkan kebesaran Kerajaan Pajang. Melihat hal itu, Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya tidak  berkenan.  Beliau  lalu  memperingatkan  Sutawijaya atau  Panembahan  Senopati  untuk  tidak  meluaskan  wilayah kekuasaanya. Namun, Panembahan Senopati tidak menghiraukannya sehingga akhirnya pecah perang terbuka antara Kerajaan Pajang melawan Kerajaan Mataram. Sudah menjadi hal yang umum jika suatu kerajaan kalah perang, maka kerajaan beserta seluruh isinya menjadi milik  sang  pemenang.  Begitu pula Kerajaan Pajang. Seluruh isi istana dirampas dan dikuasai untuk selanjutnya diboyong ke Mataram termasuk benda-benda kebesaran kerajaan maupun pusaka-pusakanya. Namun, pada kenyataannya Pangeran Benawa sebagai pewaris Kerajaan Pajang tidak mau melepaskan sebuah pusaka yang bernama Wulu Domba Pancal Panggung dengan alasan pusaka tersebut sudah diserahkan oleh ayahnya kepadanya. Meskipun pihak Mataram terkenal sangat garang, tetapi untuk hal tersebut pihak Mataram meluluskan permintaan Pangeran Benawa untuk tidak mengambil pusakan kerajaan tersebut. Begitulah, akhirnya Pangeran Benawa masih tetap dapat menyimpan pusaka pemberian ayahandanya tersebut.
Pusaka Wulu Domba Pancal Panggung adalah kumpulan dari beberapa pusaka bertuah Kerajaan Pajang yang terdiri atas Tumbak Kyai Karawelang, Keris Kyai Semburat, Kudi Trantang, Panah Kyai Sapu Jagat, dan Pedang Kyai Clengkrong. Kelima pusaka tersebut ditempatkan dalam sebuah guci buatan Cina. Dalam keyakinan Pangeran Benawa, kelima pusaka tersebut merupakan yoni atau wahyu untuk keraton. Artinya, barang siapa memiliki atau menyimpan pusaka tersebut, dia akan mendapatkan wahyu keraton.
Pangeran Benawa dan beberapa orang pengikutnya menata kembali sisa wilayah Pajang yang sebagian  sudah  dirampas  oleh Kerajaan Mataram. Berbekal pusaka Wulu Domba Pancal Panggung ia mengembangkan wilayah kekuasaan ke seberang timur Bengawan Sala. Wilayah-wilayah perluasan tersebut di antaranya adalah Kabupaten Bojonegoro dan Rajegwesi. Tindakan Pangeran Benawa dalam memperluas wilayah kekuasaan tersebut sebenarnya kurang disetujui oleh saudara-saudaranya karena akan mendatangkan risiko yang tidak ringan.
Perluasan wilayah yang dilakukan Pangeran Benawa tersebut membuat Bupati Rajegwesi merasa terancam. Bupati Rajegwesi menyiapkan diri untuk berjaga-jaga bila terjadi tersuatu yang tidak diinginkan. Ia mengatur strategi agar dapat menghalau pasukan Pangeran Benawa dari bumi Rajegwesi. Dari mata-mata dan sejumlah telik sandi yang dikerahkan, Bupati Rajegwesi mengetahui bahwa Pangeran Benawa mengandalkan pusaka keramat Kerajaan Pajang. Oleh karena itu, Bupati Rajegwesi menyusun siasat untuk mencuri pusaka keramat tersebut.
Bupati Rajegwesi mengumpulkan semua petinggi dan tetua Kabupaten Rajegwesi dalam pengaturan siasat menghadapi pasukan Kerajaan Pajang. Di antara para tumenggung yang hadir dalam persidangan tersebut, hanya seorang modin dari Kuncen yang menyanggupi untuk mencuri Pusaka Pajang yang berada di Panolan tersebut. Singkat cerita, Modin Kuncen itu pun segera berangkat ke Panolan dengan didampingi Modin Ngoken. Keberangkatan Modin Kuncen dan Modin Ngoken ke Panolan diiringi oleh Laskar Recakwesi. Salah satu strategi Laskar Recakwesi yang dipimpin Modin Kuncen dan Modin Ngoken adalah membuat kekacauan di wilayah timur kadipaten, yakni Desa Sumber Pitu. Kekacauan yang dibuat itu bukan tanpa alasan. Laskas Recakwesi bertujuan mengalihkan perhatian prajurit Kadipaten Panolan agar terfokus di sebalah timur istana.
Siasat tersebut pun berhasil. Kekacauan tersebut membuat sebagian besar Laskar Jipang Panolan membuat persiapan dan berjaga-jaga di Desa Sumber Pitu sehingga di dalam istana kosong. Dengan begitu, Modin Kuncen dan Modin Ngoken dengan mudah dapat masuk istana dengan leluasa.
Akhirnya, mereka berdua berhasil menemukan pusaka keramat Kerajaan Pajang yang konon merupakan sumber kekuatan Pangeran Benawa. Namun, Modin Kuncen dan Modin Ngoken mengalami kesulitan ketika hendak mengangkat seperangkat pusaka keramat Kerajaan Pajang tersebut. Mereka berdua mencari akal agar dapat mengangkat pusaka itu. Akhirnya, mereka  berdua menemukan cara jitu. Dengan menggunakan seutas tali ijuk mereka berdua berhasil membawa pusaka keramat tersebut. Setelah berhasil membawa seperangkat pusaka keramat Kerajaan Pajang itu, pasukan Kabupaten Rajegwesi yang tergabung dalam Laskar Recakwesi menuju ke arah barat kadipaten agar tidak berjumpa dengan pasukan Jipang Panolan yang berjaga di sebelah timur, tepatnya di Desa Sumber Pitu.
Singkat cerita, Pangeran Benawa akhirnya menyadari hilangnya pusaka Wulu Domba Pancal Panggung. Ia sangat marah dan kecewa atas kelalaiannya menjaga pusaka peninggalan ayahnya tersebut. Hal itu mengakibatkan keadaan di dalam istana tidak kondusif. Sering terjadi perselisihan antara satu dengan yang lainnya. Akhirnya, Pangeran Benawa memanggil saudara-saudaranya, yakni Pangeran Jati Kusuma, Pangeran Jati Kuswara, Pangeran Anom (Panjaringan), Pangeran Giri Jati, dan Pangeran Giri Kusuma. Pangeran Benawa memerintah saudara-saudaranya tersebut untuk mencari pusaka keramat. Pangeran Benawa menunjuk pimpinan pasukan pencari pusaka kepada Pangeran Jati Kusuma. Setelah semuanya siap, mereka berlima segera berangkat menuju ke arah barat lalu ke utara.
Pasukan pencari pusaka tersebut tiba di suatu tempat yang dihuni sejenis makhluk halus atau siluman. Orang yang tinggal di kawasan tersebut banyak yang menganut ajaran mistik sehingga mereka bisa berubah wujud menjadi seekor binatang jadi-jadian, seperti harimau, babi hutan, dan sebagainya. Kepandaian tersebut digunakan untuk berbuat yang tidak baik, seperti mencuri, merampok dan perbuatan jahat yang lain. Mereka memanfaatkan ilmu berubah wujud yang dikuasai untuk melancarkan aksi jahat. Melihat hal tersebut, Pangeran Jati Kusuma menamai tempat tersebut gadu, yang artinya 'tempat ini banyak terdapat binatang gadungan'.
Agar terhindar dari hal-hal buruk, Pangeran Jati Kusuma beserta pasukannya cepat-cepat meninggalkan wilayah Gadu. Mereka terus berjalan ke arah utara. Akhirnya, sampailah mereka di suatu tempat yang sejuk dan ditumbuhi banyak pepohonan. Di tempat tersebut, pasukan Pangeran Jati Kusuma dapat dengan mudah melihat ke arah utara. Ketika beristirahat sambil melihat-lihat suasana di sekelilingnya, Pangeran Jati Kusuma mengambil sehelai daun dibentuk sebuah menjadi cinthung 'centong sayur' untuk mengambil air di sebuah sumur yang berada di daerah tersebut. Sumur tersebut kemudian dinamakan Sumur Cinthung atau Sendang Cinthung. Ketika sebagian pengikutnya beristirahat, Pangeran Jati Kusuma melihat ke arah utara dan tampaklah sebuah tempat yang kelihatan agak kurang terang. Menurut perkiraan Sang Pangeran, tempat itu dapat menunjukkan di mana pusaka kerajaan yang hilang dapat ditemukan. Tidak jelas bagaimana ceritanya hingga akhirnya tempat yang tampak suram tersebut dinamakan Cereme.
Pangeran Jati Kusuma beserta pasukannya melanjutkan perjalanan ke tempat yang diperkirakan dapat menunjukkan dapat ditemukannya pusaka kerajaan yang hilang. Akhirnya, sampailah mereka di tempat yang sangat sulit dilalui karena  keadaan  sudah gelap. Hal tersebut membuat mereka terpaksa menunda perjalanan untuk sementara. Keadaan di tempat tersebut sangat gelap. Akhirnya, Pangeran Jati Kusuma menancapkan Tongkat Kyai Jumpina ke tanah. Dari bekas tancapan tongkat tersebut keluar cairan yang menyala sehingga dapat dipakai sebagai minyak untuk menyalakan obor. Petilasan tempat tersebut kemudian disebut Magung atau Murgum yang artinya 'sumur agung' (sekarang terletak di Desa Lodok bagian barat). Magung ini sampai sekarang dipergunakan untuk sesaji dan sedekah bumi. Selain itu juga digunakan untuk melepas kaul atau nazar bagi yang memercayainya.
Setelah cukup terang, rombongan tersebut melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan, obor yang mereka bawa kehabisan minyak. Dengan sigap dan cekatan Pangeran Jati Kusuma kembali menancapkan tongkatnya dan seketika keluarlah minyak dari tempat yang ditumbuhi pohon beringin tersebut. Pada perkembangannya tempat keluarnya minyak yang ditumbuhi pohon beringin tersebut dinamakan Sringin berasal dari kata ngisor 'di bawah' dan ringin 'beringin'. Rombongan kembali melanjutkan perjalanan hingga di tengah perjalanan obor yang mereka bawa kehabisan minyak kembali. Seperti yang dilakukan sebelumnya, Pangeran Jati Kusuma menancapkan kembali tongkat ke tanah sehingga keluar minyak yang dapat digunakan untuk menyalakan obor. Di tempat tersebut Pangeran Jati Kusuma membagi tugas kepada saudara-saudaranya. Pangeran Jati Kusuma dan Pangeran Jati Kuswara meneruskan perjalanan ke arah utara sedangkan Pangeran Anom, Pangeran Giri Jati, dan Pangeran Giri Kusuma melanjutkan perjalanan ke arah timur.
Di tempat lain, perjalanan Modin Kuncen sampai di sebuah ladang yang penuh dengan tanaman cabai yang mulai memerah. Modin Kuncen melepas lelah dengan beristirahat di bawah pohon rindang di tengah ladang cabai tersebut.
"Alangkah banyak cabai di tempat ini," gumam Modin Kuncen sambil mengamati ladang cabai yang subur itu.
"Kelak, tempat ini dinamakan Desa Cabaian," gumamnya lagi. Hingga kini Desa Cabaian masih ada tetapi tidak banyak penduduk yang menanam cabai.
Setelah merasa segar, Modin Kuncen melanjutkan perjalanannya menuju ke arah utara. Sampai akhirnya dia tiba di sebuah hutan yang banyak ditumbuhi pohon Joho. Hutan itu begitu lebat dan sejuk. Suasana ini membuat Modin Kuncen mengantuk hingga akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat di hutan tersebut. Setelah sekian waktu berselang, Modin Kuncen bangun dan merasakan tubuhnya menjadi segar kembali. Dia menamakan hutan tersebut Hutan Joho. Kemudian Modin Kuncen melanjutkan perjalanannya ke arah utara.
Dalam perjalanannya, Modin Kuncen tidak menemui banyak rintangan. Dia sangat menikmati perjalanannya tersebut. Hingga sampailah dia di sebuah sendang 'sumber mata air'. Karena hari sudah agak siang, Modin Kuncen merasa lapar. Dia memutuskan beristirahat di dekat  sendang  tersebut.  Dia  membuat  perapian di dekat sendang itu dan memasak dedaunan untuk sarapan. Setelah mengisi perut, Modin Kuncen hendak membersihkan diri. Modin Kuncen mandi sepuasnya di sendang yang teduh itu. Dia juga mencuci pakaian yang dipakainya karena sudah agak berbau keringat. Setelah dicuci, pakaiannya langsung dijemur di sekitar sendang tersebut. Sembari menunggu pakaiannya kering, Modin Kuncen menutupi badannya dengan selembar kain yang dibawanya. Dengan buaian semilir angin dan kicau burung, tertidurlah Modin Kuncen. Ketika sudah menjelang waktu salat asar dia terbangun. Pakaian yang dipakainya telah kering dan siap dipakai kembali. Modin Kuncen bersiap hendak melanjutkan perjalanannya kembali. Sendang tempatnya beristirahat dan menjemur pakaian tersebut dinamakannya Sendang Pepe yang artinya 'sendang tempat menjemur'. Tempat tersebut sampai sekarang sering didatangi oleh seniman untuk ngalap berkah 'meminta barokah' agar diberi suara bagus seperti suara Modin Kuncen. Adapun yang dilakukan adalah dengan cara mengadakan sedekah di tempat tersebut. Sampai sekarang sendang tersebut masih sangat dikeramatkan, khususnya oleh masyarakat di sekitar sendang. Begitu keramatnya tempat itu hingga tidak ada orang yang berani mengambil ikan yang hidup di sendang tersebut.
Modin Kuncen melanjutkan perjalanan ke arah timur. Dia menuju ke wilayah Kadipaten Rajegwesi. Menjelang waktu salat magrib Modin Kuncen tiba di Desa Paingan. Karena waktu untuk menjalankan salat magrib sangat terbatas, dia singgah di surau desa tersebut untuk menunaikan sembahyang. Desa Paingan merupakan desa tempat tinggal Pangeran Giri Kusuma.  Pada saat Modin Kuncen memasuki halaman surau, dia dilihat oleh dua orang warga desa yang ternyata anak Pangeran Giri Kusuma yang bernama Sumilir dan Sikentir. Melihat ada orang asing di desa mereka, Sumilir dan Sikentir berinisiatif memberitahu ibu mereka yang bernama Nyai Sri Kuning. Begitu mendengar laporan dari kedua anaknya, Sri Kuning segera pergi ke surau yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahnya.di rumahnya yang tidak begitu jauh dari surau. Setelah mengamati beberapa saat, Sri Kuning tertarik pada barang yang dibawa orang asing yang datang ke desa mereka tersebut. Sri Kuning mengenali barang yang dibawa oleh pendatang itu merupakan pusaka yang sedang dicari suaminya.
Sri Kuning mengatur siasat untuk dapat merebut pusaka keramat itu. Ia mencoba merayu pendatang tersebut agar mau bermalam di rumahnya. Pada mulanya Modin Kuncen tidak mau bermalam di tempat yang sama sekali belum dikenalnya. Namun, kecantikan Sri Kuning yang sangat memesona telah meluluhkan naluri kelelakiannya. Setelah lama bercengkerama akhirnya Modin Kuncen berkenan menginap di rumah keluarga Nyai Sri Kuning yang merupakan istri Giri Kusuma. Sri Kuning menjamu tamunya dengan minuman tuak yang sudah diramu dengan ramuan yang memabukkan. Hal ini dilakukan agar Modin Kuncen pingsan sehingga Sri Kuning leluasa mengambil pusaka keramat yang telah lama dicari suaminya. Benar saja, begitu menenggak minuman yang disuguhkan Sri Kuning, Modin Kuncen langsung mabuk lalu tak sadarkan diri.
Pada saat itu pula Sri Kuning memerintah kedua putranya untuk memberitahukan keberadaan tamu tersebut kepada Pangeran Giri Kusuma. Saat itu Pangeran Giri Kusuma tengah berada di Trisinan, yakni sebelah timur Desa Paingan. Pangeran Giri Kusuma bergegas kembali ke Paingan begitu mendengar pemberitahuan dari kedua putranya. Setibanya di rumah, dia sangat gembira karena barang yang dibawa sang tamu benar-benar pusaka yang sedang dicarinya. Agar tamunya tidak melarikan diri, Pangeran Giri Kusuma dibantu kedua putranya mengikat kaki dan tangannya.

Tidak lama berselang, Modin Kuncen sadar dari pingsannya. Ia sangat terkejut dan tidak berdaya karena kedua tangan dan kakinya terikat. Setelah dicecar pertanyaan bertubi dari Pangeran Giri Kusuma, Modin Kuncen pun akhirnya mengakui bahwa dirinyalah yang telah mencuri pusaka Kerajaan Pajang yang berada di Kadipaten Jipang Panolan. Karena sang pencuri pusaka sudah mengaku dan sudah tidak berdaya, Pangeran Giri Kusuma tidak tega untuk menghukumnya. Akhirnya dia membebaskan Modin Kuncen dengan syarat tidak boleh memberitahukan hal itu kepada orang lain.
Dengan ditemukannya kembali pusaka tersebut, Pangeran Giri Kusuma beserta saudara-saudaranya merasa sangat gembira. Agar tidak diketahui orang lain, pusaka-pusaka tersebut dibagi dengan saudara-saudaranya. Tempat penyimpanan pusaka yang berwujud guci atau gentong ditinggalkan di Desa Paingan. Guci tersebut diisi dengan lantung 'residu' yang berasal dari Magung. Oleh sebab itu, guci tersebut kemudian dikenal dengan nama Genthong Silatung dan menjadi pusaka Desa Ledok turun-temurun. Guci tersebut diisi dengan lantung setiap tiga bulan sekali. Adapun hari pengisiannya dipilih pada Jumat Pahing.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Blora Kota Sastra

Blora Kota Sastra

Blora kota yg layak untuk dijuluki kota sastra, semoga pemkab blora berkenan hati membangun perpustakaan besar sastra dg mengoleksi buku2 sastra karya sang maestro, sbg perwujudan

LEGENDA NAYA GIMBAL

LEGENDA NAYA GIMBAL

Nama Naya Gimbal bukanlah nama sebenarnya. Nama sebenarnya adalah Sentika. Kata Naya diambil dari nama induk pasukan laskar Diponegoro. Sebagaimana diketahui, laskar prajurit

Bloraku

Bloraku

Dari tempat berjauhan ingin kembali ke kampung halaman Rindu akan sejuknya suasana ,makanannya dan yang pasti keluarga tercinta Terlalu indah untuk dilupakan

Blora itu mana?

Blora itu mana?

menurutku, jawaban paling tepat jika ditanya "Blora itu mana?" adalah perbatasan jawa tengah - jawa timur tapi Blora ikut jawa tengah. hehehehehe

Blora Dari Kejauhan

Blora Dari Kejauhan

Sebelum saya merantau ke luar dari blora, saya merasa blora hanyalah kota mati. tapi setelah saya merantau, ternyata blora adalah kota yang sangat hidup, kota yang selalu

Masyarakat Samin

Masyarakat Samin

Masyarakat Samin adalah keturunan para pengikut Samin Soerontiko yang mengajarkan sedulur sikep, dimana dia mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain di luar kekerasan. Sedulur

Kali Lusi Blora Tahun 80an

Kali Lusi Blora Tahun 80an

Tapi bila hujan mulai turun, dan gunung-gunung di hutan diliputi mendung, dan matahari tak juga muncul dalam empatpuluh atau limapuluh jam, air yang kehijau-hijauan itu berubah

Mengenal Keberadaan Suku Samin di Blora

Mengenal Keberadaan Suku Samin di Blora

Blora selain di sebut kota sate atau kota jati, ternyata memiliki sekelomok penduduk yang unik yaitu suku Samin. Bermula dari latar blakang gerakan Samin secara historis muncul pada tahun 1890, ketika