LEGENDA DESA WATU BREM (TU-BREM)

LEGENDA DESA WATU BREM (TU-BREM)

  • 2018-08-02 14:37:00
  • 504

Alkisah, pada saat masih zamannya penggede di Desa Pojok Watu (Desa Tu-Brem) hiduplah seorang penggede (kepala perampok) bernama Malang Sudiro. Suatu saat ia bermaksud mengawinkan anaknya yang bernama Malang Kusuma dengan seorang gadis dari Desa Ngoda. Hari perkawinan sudah ditentukan, begitu pula semua peralatan yang diperlukan sudah disiapkan. Pada hari yang sudah ditentukan, rombongan pengiring pengantin pria berbondong-bondong dari Desa Pojok Watu menuju ke Desa Ngoda. Upacara perkawinan berjalan dengan lancar dan meriah. Pada hari kelima setelah perkawinan (sepasar) sang pengantin akan diunduh, diboyong untuk dirayakan di Desa Pojok Watu. Pada saat yang sudah ditentukan, rombongan pengantin berjalan dari Desa Ngoda menuju Desa Pojok Watu.
Di tengah perjalanan mereka dihadang oleh segerombolan perampok yang sesungguhnya adalah anak buah ayah sang pengantin laki-laki. Gerombolan tersebut merampok iring-iringan pengantin Malang Kusuma karena mereka tidak tahu kalau yang menjadi pengantin adalah anak dari pimpinan mereka.
Dalam peristiwa perampokan tersebut, segala  peralatan  dan perlengkapan upacara iring-iringan pengantin berceceran di sepanjang jalan antara Ngoda dan Pojok Watu. Iring-iringan pengantin berusaha melawan rombongan para perampok untuk mempertahankan benda-benda perlengkapan upacara perkawinan yang dibawanya. Maka, terjadilah pertempuran cukup seru yang dalam istilah setempat disebut tawur. Tempat terjadinya peperangan (tawur) antara rombongan pengiring pengantin melawan gerombolan perampok tersebut kemudian dinamakan Desa Sawur. Peralatan kebesaran pengiring pengantin banyak yang tercecer di perjalanan. Barang-barang tersebut antara lain: bonang renteng (alat gamelan untuk mengiringi perjalanan rombongan pengantin); kembang nyamplung (sumping sang pengantin); jarit jomblang (kain yang dipakai oleh sang pengantin); kukusan (peralatan dapur yang dipergunakan untuk keperluan upacara bubak kawah, khususnya untuk pengantin anak sulung).
Tempat hilangnya bonang renteng kemudian disebut Sawah Bonang Renteng. Di sawah ini, setiap akan mulai tanam atau panen harus didahului dengan membunyikan (nabuh) bende, sebagai pengganti bonang renteng. Tempat hilangnya sumping pengantin yang bernama kembang nyamplung kemudian disebut Sawah Nyamplung. Tempat hilangnya kain yang dikenakan pengantin bernama jarit jomblang kemudian disebut Sawah Jomblang. Tempat hilangnya kalung yang dikenakan sang pengantin kemudian disebut Sawah Kalung. Tempat hilangnya peralatan upacara bubak kawah yang berupa kukusan, kemudian dinamakan Sawah Kukusan. Hilangnya kalung yang dikenakan oleh sang pengantin disebabkan sang pengantin terjerat (kesrimpet) dahan kacang. Oleh karena itu, di sawah tempat hilangnya kalung tersebut ditanami pohon kacang.
Dalam peristiwa tersebut akhirnya pengantin dan pengiringnya terpisah. Tempat terpisahnya pengantin dengan pengiringnya kemudian disebut Sawah Manten. Untuk membuang sial, di tempat tersebut setiap tahun harus disediakan sepasang bekakak putra-putri menyerupai sepasang pengantin, sebagai peringatan atas terjadinya peristiwa naas tersebut. Adapun sang pengantin karena sudah tidak ada lagi yang mengurusi merasa ketakutan, akhirnya bersembunyi (ndhelik) pada sebuah sendang (mata air), yang kemudian disebut Sendang Delika. Usai tawur, para pengiring mencari sang pengantin. Akan tetapi, dicari ke sana-kemari (digoleki nganti napis) belum juga ketemu. Akhirnya, tempat para pengiring mencari pengantinnya tersebut kemudian disebut Sawah Napis.
Atas terjadinya peristiwa perampokan terhadap iring-iringan pengantin yang berasal dari Desa Ngoda menuju Desa Pojok Watu tersebut dianggap sebagai malapetaka besar sehingga sampai saat ini orang Desa Pojok Watu pantang berbesan dengan orang Desa Ngoda. Jangankan berbesan, membawa sesuatu dari Desa Ngoda ke Desa Pojok Watu pun dipantangkan. Konon pernah terjadi, seorang gembala membawa batu kerikil dari Desa Ngoda ke Desa Pojok Watu yang juga disebut Desa Tubrem (Watu Brem) terpaksa harus dikembalikan ke tempatnya semula karena begitu tiba di rumah, semua binatang piaraannya sakit. Anehnya, setelah batu kerikil tersebut dikembalikan ke tempatnya semula, seketika semua binatang piaraannya yang semula sakit sembuh seperti sedia kala.
Adapun asal mula nama Desa Tu-Brem atau Watu Brem adalah sebagai berikut. Penggede Malang Sudira begitu mengetahui bahwa apa yang diperbuat oleh anak buahnya adalah perbuatan yang salah, maka dia merasa malu. Dia lalu pergi meninggalkan desanya. Dalam perjalanan ia bertemu dengan seseorang yang memikul dagangan brem (makanan dari sari tape).
Penggede Malang Sudira bertanya pada orang yang memikul dagangan tersebut.
"Hei, Pak Tua! Apa yang ada dalam pikulanmu itu?"
Orang tersebut merasa ketakutan dan khawatir kalau barang yang dibawanya akan dirampas oleh penggede tersebut. Oleh karenanya dia menjawab dengan berbohong. "Ini batu, Penggede."
Mendengar jawaban tersebut Penggede Malang Sudira bertanya lagi.
"Watu apa kok kaya brem?" 'Batu apa kok seperti brem'. Atas kejadian itu, akhirya desa yang dilewati tersebut dinamakan Desa Watu Brem atau Tubrem, yang merupakan kependekan dari kata watu brem. Demikianlah asal mula nama Desa Watu Brem atau Tubrem menurut cerita yang berkembang di masyarakat.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Blora tetaplah Blora, Cepu adalah bagian dari Blora

Blora tetaplah Blora, Cepu adalah bagian dari Blora

Banyak orang yang tidak tau kota Blora, jangankan luar provinsi, satu provinsi pun Banyak orang yang tidak tau.Di luar sana cepu adalah nama yang dimengerti banyak orang

LEGENDA PUNDEN JANJANG

LEGENDA PUNDEN JANJANG

Legenda Punden Janjang terkait dengan kisah perjalanan Pangeran Jati Kusuma dan Pengeran Jati Kuswara dalam pengembaraannya    mencari    pusaka   

Butuh Lapangan Pekerjaan Luas

Butuh Lapangan Pekerjaan Luas

minimnya lapangan pekerjaan di kabupaten Blora memaksa kebanyakan pemudanya untuk merantau ke daerah atau kota lain guna mencari pekerjaan. semoga kedepannya pemerintah bergerak

Asal-Usul Desa Nglorok, Turi, Semampir, Tinggil dan Besah

Asal-Usul Desa Nglorok, Turi, Semampir, Tinggil dan Besah

Cerita ini merupakan legenda yang menceritakan asal usul lima nama desa di Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora. Legenda ini berawal ketika Perang Diponegoro selesai dengan ditangkapnya

LEGENDA MALING GENTHIRI

LEGENDA MALING GENTHIRI

Pada zaman dahulu tersebutlah seorang tokoh bernama Ki Ageng Pancuran. Ia mempunyai dua orang putra laki-laki bernama Maling Kondang dan Maling Kopa. Ketika mulai menginjak

Cerita Dari Blora

Cerita Dari Blora

Blora adalah kota kecil di jawa tengah. Tapi, dari kota kecil inilah lahir sebuah karya yang besar yaitu buku "CERITA DARI BLORA" karya Pramoedya Ananta Toer. sebagai warga

Blora Dari Kejauhan

Blora Dari Kejauhan

Sebelum saya merantau ke luar dari blora, saya merasa blora hanyalah kota mati. tapi setelah saya merantau, ternyata blora adalah kota yang sangat hidup, kota yang selalu