LEGENDA KUDA GAGAK RIMANG

LEGENDA KUDA GAGAK RIMANG

  • 2018-08-02 14:38:58
  • 3916

Kuda Gagak Rimang adalah kuda tunggangan andalan Arya Penangsang. Menurut cerita tutur yang berkembang di lingkungan masyarakat Kabupaten Blora, khususnya di sekitar wilayah Jipang dan Panolan, konon asal-usul kuda Gagak Rimang adalah kuda milik Riman. Riman adalah anak Soreng Pati, Penggede di Desa Kasiman. Konon kuda tersebut menghilang pada saat tuannya, yaitu Riman bertarung melawan Siman, anak Soreng Rangkut, Penggede di Desa Sambeng, dalam memperebutkan Rara Swari.

Adapun kisahnya adalah sebagai berikut.

Pada saat Riman bertarung melawan Siman dalam rangka memperebutkan Rara Swari, gadis pujaan mereka, kuda kendaraan Riman melarikan diri. Sampai dengan saat Riman meninggal, kuda tersebut tidak diketahui rimbanya. Konon kuda tersebut melarikan diri masuk hutan.
Tersebutlah Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan pada saat itu sedang memikirkan keadaan daerahnya yang di bagian utara. Beliau berjalan-jalan mengadakan pelawatan untuk memeriksa daerah kekuasaannya. Dalam lawatannya tersebut beliau ditemani oleh patihnya yang bernama Metaun.
Tatkala perjalanan Arya Penangsang sampai pada suatu tempat yang banyak ditumbuhi rumput segar, tampaklah oleh beliau seekor kuda hitam yang mulus pancal panggung sedang berlari mendekatinya. Anehnya, kuda yang tampak binal tersebut sesampainya di depan Arya Penangsang seketika jinak, seolah-olah minta dikasihi. Ia menggaruk-garukkan kakinya ke tanah, seolah- olah meminta perlindungan.
Melihat hal itu, Arya Penangsang segera mendekatinya. Anehnya, kuda tersebut sama sekali tidak menunjukkan kebinalannya. Seketika itu Arya Penangsang merasa tertarik kepada kuda tersebut dan bermaksud ingin memilikinya. Kuda tersebut lalu didekatinya, kemudian beliau naik ke punggungnya. Di atas punggung kuda yang baru ditemukannya tersebut Arya Penangsang tampak sangat gagah dan anggun. Beliau lalu mengajak Patih Metaun untuk mencari pemilik kuda tersebut. Adapun tempat di mana diketemukannya kuda tersebut disebut Desa Gagakan karena sang kuda berbulu hitam mulus bagaikan burung gagak.
Untuk mencari sang pemilik kuda, Arya Penangsang dengan diiringi Patih Metaun, berjalan ke arah timur. Akhirnya, beliau sampai di tempat Soreng Pati dan Soreng Rangkut bertarung. Pada saat itu kedua jagoan tersebut sedang merenungi peristiwa yang baru saja mereka alami, yang memakan korban anak-anak yang sangat mereka cintai. Mereka berdua merasa sangat menyesal. Baru kemudian, berkat nasihat gurunya, Ki Gede Senori, akhirnya mereka bisa menerima dengan ikhlas segala apa yang telah terjadi dan menimpa dirinya.
Arya Penangsang, begitu tiba di tempat itu segeralah menghampiri keempat orang yang sedang duduk termangu tersebut. Lain halnya dengan Soreng Pati, begitu melihat kuda tunggangan anaknya datang dengan ditunggangi orang lain, seketika hatinya yang semula agak reda langsung kembali membara karena teringat akan Riman, anaknya. Dia langsung berdiri dan dengan marah akan menghampiri sang penunggang kuda. Begitu pula saudara-saudaranya, Soreng Rangkut dan Soreng Rana. Mereka mengira orang tersebut telah merampas kuda milik Riman.
Akan tetapi, kekuatan mereka seakan tiba-tiba sirna begitu orang yang menunggang kuda tersebut mengibaskan tangannya memberi isyarat agar mereka menahan diri. Seketika mereka jatuh terduduk, seakan-akan ada kekuatan gaib maha dahsyat yang memaksa mereka untuk duduk menghormat. Sadarlah sekarang bahwa mereka sedang berhadapan dengan seseorang yang bukan sembarangan. Mereka pun tetap duduk dengan mata menatap tajam pada Arya Penangsang.
Arya Penangsang lalu memperkenalkan diri pada keempat orang guru dan murid tersebut. Mereka berempat kagum akan kesetiaan Adipati tersebut. Kemudian, Arya Penangsang memnanyakan apakah mereka tahu siapa pemilik kuda hitam yang ditungganginya itu. Seketika keempat orang tersebut serentak menjawab "Riman". Begitu mendengar jawaban tersebut, Arya Penangsang lalu memberi nama kuda hitam yang ditungganginya dengan sebutan "Gagak Riman" karena kuda tersebut berbulu hitam mulus laksana burung gagak dan pemiliknya bernama "Riman". Dalam perkembangan selanjutnya, nama "Gagak Riman" sering juga disebut "Gagak Rimang".
Keempat guru dan murid tersebut oleh Arya Penangsang diminta untuk menjadi pengikutnya dan diberi pangkat Wedana Prajurit. Adapun, tempat kuda Gagak Rimang ditambatkan disebut dengan nama Desa "Cancangan", sedangkan peninggalan-peninggalan yang berkaitan dengan legenda kuda Gagak Rimang, antara lain adanya Sendang Modan dan Sendang Gagakan.
Sendang Modan berada di sebelah selatan Desa Gagakan. Dahulu Sendang ini merupakan tempat minum kuda Riman. Konon air dari sendang tersebut sangat bertuah. Terutama, bagi orang yang ingin menggugurkan kandungan. Jika ada orang yang ingin menggugurkan kandungan, syaratnya minum air sendang dengan cara mencuri. Syarat lainnya ialah orang tersebut belum pernah meminum air di Desa Gagakan. Setelah itu, diharapkan kandungan tersebut akan menghilang tanpa bekas. Cerita tuah sendang ini faktanya hanyalah sebuah mitos.
Adapun, Sendang Gagakan berada di sebelah timur Desa Gagakan. Air di sendang ini selalu keruh karena sendang ini digunakan sebagai tempat berkubangnya kuda Riman pada saat belum berjumpa dengan Arya Penangsang.

SHARE:

Comments

Recent Posts

ASAL MULA NAMA DESA BRABOWAN, BITING, DAN GAGAKAN

ASAL MULA NAMA DESA BRABOWAN, BITING, DAN GAGAKAN

Alkisah, pada zaman dahulu kala sekitar abad XV, ada sebuah desa yang terkenal dengan nama Desa Senori. Di desa tersebut hidup seorang tokoh sakti bernama Ki Gede Senori. Karena

Sampai Jumpa Sego Pecel

Sampai Jumpa Sego Pecel

Beriring lewatnya hari idul fitri, maka usai sudah moment mudik. saatnya kembali lagi ke kota, kembali ke rutinitasnya masing-masing atau disebut merantau. saat moment

Blora Kota Sastra

Blora Kota Sastra

Blora kota yg layak untuk dijuluki kota sastra, semoga pemkab blora berkenan hati membangun perpustakaan besar sastra dg mengoleksi buku2 sastra karya sang maestro, sbg perwujudan

LEGENDA DESA WATU BREM (TU-BREM)

LEGENDA DESA WATU BREM (TU-BREM)

Alkisah, pada saat masih zamannya penggede di Desa Pojok Watu (Desa Tu-Brem) hiduplah seorang penggede (kepala perampok) bernama Malang Sudiro. Suatu saat ia bermaksud mengawinkan

Bloraku

Bloraku

Dari tempat berjauhan ingin kembali ke kampung halaman Rindu akan sejuknya suasana ,makanannya dan yang pasti keluarga tercinta Terlalu indah untuk dilupakan

LEGENDA PUNDEN JANJANG

LEGENDA PUNDEN JANJANG

Legenda Punden Janjang terkait dengan kisah perjalanan Pangeran Jati Kusuma dan Pengeran Jati Kuswara dalam pengembaraannya    mencari    pusaka   

ASAL-USUL DESA SAMBONG

ASAL-USUL DESA SAMBONG

Kekalahan pasukan Kadipaten Jipang Panolan oleh pasukan dari Kadipaten Pajang mengakibatkan pendudukan wilayah Jipang oleh orang Pajang. Adapun yang kemudian menduduki Kadipaten

Blora Tercinta

Blora Tercinta

Katanya blora itu kecil tapi isinya banyak. Ada Pak Pramoedya, Samin, minyak bumi, jati, batik, barongan, lontong tahu dan yang pasti satenya yang paling uenak tenan