LEGENDA MALING GENTHIRI

LEGENDA MALING GENTHIRI

  • 2018-08-21 13:00:16
  • 419

Pada zaman dahulu tersebutlah seorang tokoh bernama Ki Ageng Pancuran. Ia mempunyai dua orang putra laki-laki bernama Maling Kondang dan Maling Kopa. Ketika mulai menginjak usia dewasa, Maling Kondang mencari ilmu dengan berguru pada Sunan Ngerang di Semarang.
Sebelum diterima sebagai murid, Maling Kondang bersembunyi di kolong yaitu di bawah rumah geladak tempat Sunan Ngerang mengajarkan ilmu pada murid-muridnya. Sunan Ngerang yang menyadari keberadaan Maling Kondang tersebut kemudian memanggilnya untuk menghadap.
"Hei anak muda. Apa yang sedang kau lakukan di bawah sana?"
"Maaf Sunan…tujuan saya bersembunyi di sini supaya saya dapat diangkat menjadi murid Sunan."
"Apa benar begitu? Kau yakin tidak punya niat jahat kepadaku?" "Sungguh Sunan, saya tidak punya niat jahat sedikitpun." "Baiklah kalau begitu, sekarang kau resmi sebagai muridku." "Terima kasih banyak, Sunan telah berbaik hati menerima saya sebagai murid Sunan."

Maling Kondang akhirnya diterima sebagai murid oleh Sunan Ngerang dan diberi julukan Maling Genthiri. Menurut Sunan Ngerang, Maling Kondang mempunyai sifat seperti hewan Genthiri yang bersembunyi di bawah kolong.
Setelah mendapat ilmu, Genthiri lalu mengambara di daerah Kabupaten Blora dan Rembang.
"Maaf, Sunan. Saya merasa bahwa ilmu-ilmu Sunan sudah saya pelajari semuanya. Saya memohon izin untuk mengembara ke daerah lain."
"Ya, betul memang semua ilmu sudah kau pelajari. Namun, apakah kau sudah menguasai jurus-jurus andalanku?"
"Ya, Sunan, semua jurus-jurus yang diajarkan Sunan sudah saya kuasai."
"Bagus! Pergilah. Aku hanya bisa berpesan supaya hidupmu selalu berguna untuk orang lain."
"Baik, Sunan."
Pekerjaannya Maling Kondang di Blora dan Rembang ialah mencuri. Namun, barang yang ia curi adalah benda-benda milik orang kaya. Kemudian ia berikan kepada orang-orang miskin.
Kemudian karena sudah merasa dewasa, Genthiri mempunyai keinginan untuk mempersunting seorang perempuan. Perempuan tersebut bernama Dewi Sirep, anak dari Mbok Randha Suganti.
"Ayah, kini aku sudah dewasa." "Lalu?"
"Aku ingin meminang seorang perempuan." "Perempuan mana yang ingin kau pinang, Nak?"
"Nama perempuan itu Dewi Sirep dari Desa Sapetik, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang."
"Baiklah, nanti aku akan mengutus adikku untuk meminangnya." Kemudian setelah mengetahui keinginan anaknya tersebut, Ki Ageng Pancurang mengutus adiknya yang bernama Jarum. Jarum diutus Ki Ageng Pancurang untuk pergi ke Desa Sapetik untuk meminang Dewi Sirep. Akan tetapi, lamarannya ditolak karena Dewi Sirep sudah mempunyai tunangan bernama Jaka Salakan. Ketika mengetahui lamarannya ditolak, Genthiri marah.
"Wahai Kakanda, perempuan yang bernama Dewi Sirep tidak menerima pinangan dari Maling Kondang," kata Jarum dengan hati-hati.
"Apa?? yang benar saja!" kata Maling Kondang yang dari tadi mengintip di belakang.
"Betul Maling Kondang. Dewi Sirep telah dipinang laki-laki lain."
"Kurang ajar! Ini tidak bisa aku biarkan," Kata Maling Kondang marah.
"Sudah, Nak. Bersabarlah…mungkin ia bukan jodohmu."
"Tidak ayah. Aku sungguh mencintai Dewi Sirep. Aku harus melakukan sesuatu."
Akhirnya dengan amarah yang berkecamuk Maling Kondang pergi untuk mendatangi Jaka Salakan. Kemudian Maling Kondang membunuh Jaka Salakan. Dewi Sirep yang merasa takut kemudian menerima Genthiri dengan dua syarat.
"Maling Kondang, kau telah membunuh kekasihku Jaka Salakan. Sekarang aku hanya bisa pasrah padamu, kau bisa juga membunuhku jika kau mau."
"Dewi Sirep, tolong terimalah pinanganku. Aku sangat mencintaimu."
"Jika itu keinginanmu, akan aku turuti." "Benarkah, Dewi Sirep?"
"Tapi, dengan dua syarat."
"Apapun syarat yang kau ajukan pasti aku dapat melaksanakannya. Katakan saja persyaratannya," kata Maling Kondang dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Syarat yang pertama adalah Maling Genthiri harus mandi di Sendang Karang di daerah Tuban. Kemudian syarat yang kedua adalah Genthiri harus membawa Bende Becak, Bende Singa Barong dan Bende Kencana."
"Jika hanya itu syaratnya, pasti aku bisa melakukannya Dewi.
Percayalah padaku."
"Sudah. Segera laksanakan saja dua syarat yang aku katakan tadi. Jika seandainya kau gagal, maka, aku tidak berhak menerima pinanganmu."
"Iya Dewi, akan segera aku laksanakan."
Maling Genthiri menyanggupi persyaratan yang diberikan Dewi Sirep. Kemudian dengan mudah ia melakukan syarat yang pertama yaitu mandi di Sendang Karang di daerah Tuban. Bende yang telah ia berikan pada Dewi Sirep adalah Bende Becak. Kemudian, ia hendak memenuhi syarat yang lain, yaitu membawa salah satu bende milik Rangga Yuda di Semarang. Suatu malam, ia hendak mencuri bende milik Rangga Yuda.Namun, sebelum berhasil mencuri ia telah terlihat oleh Rangga Yuda, ia gagal mencuri.
Sebenarnya Maling Genthiri memiliki ilmu panalimunan, yaitu ia dapat masuk ke dalam rumah dan ruangan lain hanya melalui cahaya lampu yang menembus celah-celah pada dinding. Ia juga memiliki benda pusaka berupa gunting sakti yang dapat memotong kayu setebal apapun. Akan tetapi, takdir berkata lain. Ia harus gagal memenuhi persyaratan yang diajukan Dewi Sirep.
Hidup Maling Genthiri akhirnya berakhir di Desa Kawengan, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora. Hal itu terjadi pada saat ia akan mencuri, seseorang melihatnya. Kemudian ia pun berniat melarikan diri. Namun, nasibnya berakhir ketika kakinya terjerat tanaman talas sehingga ia terjatuh.
"Ah, sial! Hanya karena tanaman ini kakiku terjerat. Kurang ajar! Aku bersumpah siapa pun di daerah Kawengan sebelah barat akan celaka hidupnya bila menanam talas."
Kata-kata Maling Kondang dipercaya oleh masyarakat hingga kini. Masyarakat sekitar tidak ada yang berani menanam talas di dekat makam Maling Kondang.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Akankah Jalan Sumbawa di Blora Menjadi Jalan Pramoedya Ananta Toer?

Akankah Jalan Sumbawa di Blora Menjadi Jalan Pramoedya Ananta Toer?

Seperti kita ketahui, PRAMOEDYA dilahirkan di Blora pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya berdagang nasi. Nama asli

Asal-Usul Desa Nglorok, Turi, Semampir, Tinggil dan Besah

Asal-Usul Desa Nglorok, Turi, Semampir, Tinggil dan Besah

Cerita ini merupakan legenda yang menceritakan asal usul lima nama desa di Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora. Legenda ini berawal ketika Perang Diponegoro selesai dengan ditangkapnya

LEGENDA ARYA PENANGSANG

LEGENDA ARYA PENANGSANG

Arya Penangsang merupakan seorang keturunan Raja Demak, yakni cucu Sultan Trenggono, Raja Demak yang berkuasapada tahun 1521—1546 M. Arya Penangsang merupakan putra

Blora Tercinta

Blora Tercinta

Katanya blora itu kecil tapi isinya banyak. Ada Pak Pramoedya, Samin, minyak bumi, jati, batik, barongan, lontong tahu dan yang pasti satenya yang paling uenak tenan

LEGENDA NAYA GIMBAL

LEGENDA NAYA GIMBAL

Nama Naya Gimbal bukanlah nama sebenarnya. Nama sebenarnya adalah Sentika. Kata Naya diambil dari nama induk pasukan laskar Diponegoro. Sebagaimana diketahui, laskar prajurit

Kali Lusi Blora Tahun 80an

Kali Lusi Blora Tahun 80an

Tapi bila hujan mulai turun, dan gunung-gunung di hutan diliputi mendung, dan matahari tak juga muncul dalam empatpuluh atau limapuluh jam, air yang kehijau-hijauan itu berubah

Mengenal Keberadaan Suku Samin di Blora

Mengenal Keberadaan Suku Samin di Blora

Blora selain di sebut kota sate atau kota jati, ternyata memiliki sekelomok penduduk yang unik yaitu suku Samin. Bermula dari latar blakang gerakan Samin secara historis muncul pada tahun 1890, ketika