LEGENDA NAYA GIMBAL

LEGENDA NAYA GIMBAL

  • 2018-08-02 14:43:19
  • 589

Nama Naya Gimbal bukanlah nama sebenarnya. Nama sebenarnya adalah Sentika. Kata Naya diambil dari nama induk pasukan laskar Diponegoro. Sebagaimana diketahui, laskar prajurit Pangeran Diponegoro terbagi dalam satuan-satuan induk seperti Laskar Naya, Laskar Dipo, dan lain-lain. Nama Naya ini tidak hanya digunakan oleh Sentika, semua teman Sentika juga menggunakannya. Oleh sebab itu, banyak orang yang memiliki nama Naya.
Alkisah, dengan tertangkapnya Pangeran Diponegoro di Magelang, Sentika melarikan diri ke wilayah utara. Dalam pelariannya tersebut sampailah dia di Desa Bangsri yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Bangir. Oleh karena masih selalu terbayang pengejaran musuh, ia selalu berpindah-pindah tempat. Akhirnya, sampailah ia di Desa Kembang. Pengembaraan Sentika tidak hanya untuk bersembunyi, melainkan juga untuk mengamat-amati gerak- gerik musuh.
Naya Sentika merasa kurang aman di Desa Kembang. Ia lalu meninggalkan desa tersebut dan pergi ke Desa Mrayun. Ia merasa cocok dengan lurah Desa Mrayun karena memiliki pendapat dan tujuan yang sama dengan dirinya. Oleh karena itu, dia merasa tenang tinggal di desa tersebut. Dia mendapatkan teman hidup seorang gadis anak petani kaya yang bernama Tomiyah. Dengan demikian, Sentika dapat menyembunyikan diri di tanah petegalan milik mertuanya.
Dalam persembunyiannya tersebut Sentika memelihara banyak kerbau yang dibelinya dengan maksud sebagai persiapan biaya jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam perjuangan. Ternak-ternak piaraan Sentika dikumpulkan dan dipelihara di Dusun Ngingser bersama pengikutnya yang bernama Beja.
Sebagai pejuang sejati, dia tidak bisa tenang sebelum cita-citanya untuk mengusir penjajah Belanda dari bumi pertiwi berhasil. Pada suatu hari ia bermimpi seolah-olah bertemu dengan seorang pertapa bernama Moro. Dalam mimpi itu ia diperintahkan untuk bertapa di suatu tempat sebagai sarana agar kelak bisa mencapai cita-citanya. Dalam mimpi tersebut Sentika merasa diberi peralatan sebagai penanda waktu yang baik untuk memulai perjuangannya. Peralatan yang diberikan tersebut berupa sebuah payung dan sehelai sapu tangan sebagai senjata dan sebuah genuk (gentong) sebagai penanda waktu. Pertapa itu berpesan apabila genuk tersebut posisinya sudah miring, berarti waktu untuk berjuang sudah dapat dimulai.
Begitu terbangun dia merasa heran karena apa yang didapatkannya dalam mimpi ternyata benda tersebut benar-benar ada di hadapannya. Dengan begitu, dia yakin bahwa mimpinya tersebut bukanlah mimpi biasa, melainkan semacam wasiat atau amanah yang harus dilaksanakan. Oleh karena itu, dia lalu berniat untuk bertapa di tempat sebagaimana yang ditunjukkan dalam mimpinya. Sebelum pergi bertapa, Sentika menyerahkan segala miliknya kepada istri dan pengikutnya, Beja. Ia meminta Beja merawat dan memelihara segala apa yang ia kumpulkan itu dengan sebaik-baiknya karena di kemudian hari akan sangat bermanfaat. Selanjutnya, ia berpamitan akan berangkat ke Bukit Gempol untuk bertapa.
Sepeninggal Sentika, kedua adik Tomiyah yang bernama Budi dan Gluntang sangat gembira. Mereka akan mendapatkan harta yang cukup banyak peninggalan dari kakak iparnya. Pada suatu hari, hasil panen Sentika di ladang yang ditunggu Beja diambil oleh Budi dan Gluntang. Walaupun Beja sudah melarangnya, Budi dan Gluntang tidak menghiraukannya. Bahkan, Budi dan Gluntang menangkap Beja, lalu menghajarnya sampai tidak berdaya. Ketika Beja dalam keadaan tidak berdaya, Budi dan Gluntang dapat dengan mudah menghabiskan seluruh hasil panen Sentika yang sebenarnya akan dipergunakan untuk persiapan keperluan perjuangan di kemudian hari.

Dengan badan masih berlumuran darah dan sedikit tenaga, Beja tertatih-tatih datang ke rumah Tomiyah. Melihat hal itu istri Sentika sangat terkejut. Dia pun segera menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Begitu mengetahui duduk persoalannya, Tomiyah sangat marah kepada kedua adiknya yang dianggap tidak tahu diri.
Kemarahan Tomiyah membuat kedua adiknya sakit hati. Mereka berdua mencari tahu tempat pertapaan kakak iparnya. Mereka bermaksud melaporkan keberadaan kakak iparnya kepada penguasa setempat agar mendapat kepercayaan. Setelah mengetahui keberadaan kakak iparnya serta ciri-ciri akan dimulainya perjuangan, mereka bermaksud akan menggulingkan genuk pusaka kakak iparnya tersebut. Dengan sembunyi-sembunyi mereka berdua berhasil menggulingkan genuk pusaka Sentika.
Pada suatu hari Naya Sentika mengetahui bahwa genuknya sudah miring. Dengan begitu, ia berpendapat bahwa waktu untuk mulai berjuang sudah tiba. Segeralah payung dan saputangan pemberian Ki Moro dibawanya. Kemudian ia mengumpulkan orang-orang yang sepaham dengannya. Tidak berapa lama dia sudah mendapatkan pengikut dalam jumlah yang cukup banyak. Para pengikut Sentika, selain bekas pasukannya yang semula tersebar tak terorganisir, juga para warga yang antipenjajah.
Penyerangan yang pertama-tama dilakukan adalah menyerbu gudang gula dan tembakau di Mrayun. Dengan berkobarnya gudang milik Belanda tersebut, pasukan Sentika bersorak-sorai kegirangan. Semua petugas dan pegawai gudang tersebut diajak memberontak bersama pasukan Sentika sehingga barisan pasukannya menjadi semakin besar. Dengan bertambahnya barisan pasukan yang mendukung pemberontakannya, pasukan Sentika selalu bersorak-sorai. Sebagai tanda kegembiraannya, tempat tersebut kemudian diberi nama Gunung Surak.

Pada waktu terjadi pemberontakan tersebut Lurah Desa Mrayun sedang tidak berada di tempat. Ia sedang berada di Desa Sedan untuk mengikuti pertemuan di kawedanan. Berita pemberontakan tersebut menggegerkan persidangan. Dengan segera Wedana Sedan mengajak pengawalnya beserta seorang naib bernama Markhoti untuk turut memberantas pemberontakan tersebut. Sampai di Desa Taunan rombongan wedana dari Sedan bertemu dengan laskar Naya Sentika sehingga terjadilah pertempuran yang cukup seru. Dalam pertempuran tersebut Naib Markhoti gugur. Dengan gugurnya Naib Markhoti, rombongan Wedana Sedan terpaksa harus mengakui kekuatan pasukan laskar Naya Sentika. Akhirnya, rombongan Wedana Sedan mundur dengan teratur.
Asisten Residen Rembang begitu mendengar berita tersebut segera meminta bantuan kepada Bupati Tuban. Bupati Tuban kemudian menghubungi saudara seperguruan yang berada di Desa Kembangsore (Doplang). Ia meminta bantuan Bupati Tuban untuk menangkap Naya Sentika, hidup ataupun mati.
Pasukan Tuban dipimpin oleh Bupati Tuban dan dibantu Lurah Kembangsore. Dalam waktu yang tidak lama, pasukan Tuban dan pasukan Naya Sentika sudah terlibat pertempuran. Dalam pertempuran ini payung Naya Sentika robek terkena senjata Jaya Gludhug Kamituwa. Oleh karena jumlah pasukannya kalah banyak, akhirnya Naya Sentika memerintahkan kepada pasukannya untuk mundur. Pada saat mundur tersebut bertemulah Naya Sentika dengan Nyi Moro. Dalam pertempuran tersebut ia diberitahu Nyi Moro bahwa sebenarnya belum tiba saatnya untuk memberontak. Adapun, gentong yang posisinya miring itu sebenarnya karena dimiringkan oleh adik iparnya sendiri yang bernama Budi.
Pada pertemuan itu pusaka wasiat yang berupa payung dan saputangan diminta kembali oleh Nyi Moro. Selanjutnya, Naya Sentika dianjurkan untuk melarikan diri ke arah selatan. Mengikuti anjuran Nyi Moro, Naya Sentika pun segera melarikan diri ke arah selatan.
Joyo Glundhung dan rombongan terus mengejar Sentika, tetapi tidak dapat menemukannya. Hanya pembantunya yang bernama Beja yang tertangkap. Beja lalu dibunuh oleh Joyo Glundhung. Oleh lurah Mrayun, jasad Beja dibawa ke Bupati Tuban sebagai bukti. Oleh karena itu, Lurah Mrayun mendapatkan hadiah karena berhasil membunuh pemberontak dengan bukti membawa jasad tersebut. Walaupun, sesungguhnya yang membunuh Beja adalah Joyo Glundhung. Jasad Beja lalu diletakkan di tonggak kayu bogor. Tempat tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Sawah Bogor.
Atas pemberontakan Naya Sentika tersebut, Residen Jepara Rembang lalu mengeluarkan perintah bahwa siapapun yang bisa menangkap Naya Sentika, hidup atau mati, ia akan diberi hadiah tanah perdikan. Dengan perintah tersebut, Lurah Kembangsore yang bernama Suradipa segera mendatangi adiknya yang bernama Suradira yang tinggal di Bleboh. Setelah sekian lama ia tidak bertemu dengan adiknya.
"Wahai adikku Suradira. Bagaimana kabarmu?" "Saya baik, Kakanda. Bagaimana dengan Kakanda?" "Seperti inilah keadaan Kakandamu."
"Kiranya ada angin apa Kakanda menyempatkan diri berkunjung ke mari?"
"Begini, adikku, Dira. Aku mendapat perintah dari Residen untuk menangkap pemberontak Naya Sentika, hidup atau mati. Siapa pun yang bisa menangkapnya akan mendapat hadiah tanah perdikan."
"Hmm, saya sudah sering mendengar nama Naya Sentika ini. Ia terkenal lihai dalam bertarung dan memiliki banyak pengikut."
"Oleh karena itulah, kedatanganku ke mari untuk meminta bantuanmu menangkap Naya Sentika."
"Baik, Kakanda. Dengan senang hati, saya akan membantumu."
Suradira segera mengerahkan anak buahnya untuk mencari informasi mengenai Naya Sentika.
Beberapa saat kemudian, anak buahnya melapor.
"Ki Lurah, saya mendengar kabar bahwa Naya Sentika pernah datang ke Desa Sambong Bleboh."
"Sedang apa dia di desa tersebut?"
"Kabarnya, Naya Sentika sering mengunjungi seorang janda muda yang ada di desa tersebut."
"Kira-kira kapan dia akan datang?"
"Menurut informasi, Naya Sentika akan datang ke rumah janda tersebut sekitar pukul sepuluh malam."
"Bagus, kita akan menangkapnya begitu dia datang." Mendengar laporan tersebut Lurah Suradira segera mengadakan persiapan untuk menangkap Naya Sentika. Begitu Naya Sentika tiba di rumah janda tersebut, pasukan Lurah Suradira bersiap siaga. Pada saat akan makan sayur bayam, Naya Sentika langsung ditangkap.
Oleh karena itu, sebelum meninggalkan tempat tersebut Naya Sentika berkata.
"Dengarkan, wahai penduduk Desa Bleboh! Kukatakan bahwa di desa ini tidak akan tumbuh pohon bayam lagi. Selain itu, orang yang hidup di daerah ini akan menderita."
Setelah ditangkap, Naya Sentika kemudian dibawa ke Rembang untuk diserahkan ke Asisten Residen. Oleh karena keberhasilannya menangkap Naya Sentika, Lurah Kembangsore mendapatkan hadiah tanah perdikan. Sementara itu, Lurah Bleboh mendapatkan hadiah seorang putri bernama Den Ayu Nganten.
Asisten Residen Rembang memerintahkan agar Naya Sentika dimasukkan ke dalam tong 'kaleng besar', kemudian dilarung 'dihanyutkan' ke laut. Pada waktu itu Naya Sentika meninggalkan kata-kata.
"Besuk yen ana bentung plonthang sangisore uwit uwal-uwil ing tegalan getak-getak iku bakal males lan nagih janji".
'Kelak jika ada bentung plontang di bawah pohon uwal-uwil di ladang getak-getak itu saya akan membalas dan menagih janji.'

Cerita mengenai Naya Sentika ini diawali ketika berakhirnya perang Diponegoro pada 1830. Tertangkapnya Pangeran Diponegoro oleh tentara Belanda dengan cara tipu muslihat, tidak menyurutkan perlawanan dari para pengikutnya. Di berbagai daerah masih ada sisa-sisa prajurit Diponegoro yang tetap patuh dan setia meneruskan perjuangan sampai titik darah penghabisan. Salah satu prajurit yang meneruskan perjuangan Pangeran Diponegoro itu adalah Naya Sentika. Naya Sentika merupakan seorang Wiratama kenamaan. Ia melakukan pergerakannya di daerah Rembang.
Konon kabarnya, sebelum memulai pergerakan di daerah Pantai utara, Naya Sentika terlebih dahulu bersembunyi di lereng Gunung Butak. Ia menyamar sebagai seorang pendeta. Keberadaannya sebagai pendeta di Gunung Butak, semakin hari semakin dikenal oleh masyarakat sekitar. Pendeta Naya Sentika dikenal sangat pandai dan bijaksana. Hal ini menyebabkan banyak penduduk sekitar Gunung Butak yang datang untuk berguru maupun memohon nasihat kepadanya. Lambat laun semakin banyak murid yang berguru pada Pendeta Naya Sentika tersebut.
Suatu hari, disampaikan pada murid-muridnya bahwa ia akan melakukan semedi (tapa) untuk keperluan khusus. Namun, Naya Sentika tidak menjelaskan tujuannya bertapa. Ia hanya mengatakan bahwa semedi akan dilakukan dengan cara menghadap kepada sebuah jambangan besar (genuk = Jawa) yang diletakkan menelungkup. Apabila nanti genuk itu dapat berdiri seperti semula, berarti permohonannya terkabul.
Berhari-hari, berbulan-bulan Naya Sentika telah bertapa. Namun, jambangan tersebut belum nampak berdiri seperti semula, melainkan hanya miring letaknya. Para murid pun telah lama menunggunya dan segera ingin tahu hasil semedinya tersebut. Mereka berduyun-duyun menuju tempat Naya Sentika. Murid-murid itu kemudian beramai-ramai mendatangi tempat Sang Guru Naya Sentika bersemedi. Kedatangan mereka penuh riang gembira, serta sorak-sorai penuh harapan.
Melihat jamban itu miring keadaannya para murid pun menyangka bahwa permohonan Sang Guru telah terkabul. Untuk mengenang peristiwa itu, mereka menyebut tempat semedi itu Gunung Genuk dan tempat mereka datang bersorak-sorai disebut Gunung Sorak. Karena sudah terlalu lama bertapa kondisi fisik Sang Guru pun sudah banyak berubah. Badannya menjadi kurus kering, sedangkan rambutnya lebat dan kusut masai (gimbal = Jawa). Karena melihat fisik Sang Guru itulah, mereka lalu memberikan gelar kepada Sang Guru, Naya Gimbal. Sesampainya di tempat semedi tersebut para murid pun bertanya kepada Sang Guru, atas hasil semedinya. Naya Gimbal menjawab bahwa ia sebenarnya sedang berjuang melawan penjajah Kompeni. Kepada murid-muridnya, Naya Gimbal menanyakan kesediaan mereka menjadi prajurit dalam barisan menentang penjajah Kompeni. Akhirnya, mereka semua menyetujui permintaan Sang Guru untuk menjadi prajurit. Tempat murid-murid Naya Sentika mendengar permintaan Sang Guru dan menyatakan kesediaannya untuk menjadi prajurit kemudian disebut Gunung Prajurit.
Selanjutnya, Naya Gimbal beserta para muridnya beralih ke tempat yang lebih aman dari Gunung Prajurit. Di tempat yang baru ini, Naya Gimbal mengeluarkan maklumat (woro-woro = Jawa).
Maklumat tersebut antara lain berbunyi demikian, "Siapa pun yang menjadi pegawai (punggawa = Jawa) Kompeni maka harus kita lawan!" Tempat dikeluarkannya maklumat itu sekarang terkenal dengan nama Desa Woro. Mereka bertolak menuju ke timur. Di suatu desa mereka menyerang serikat desa yang memihak kompeni.
Serangan berlangsung agak lama dan dahsyat sehingga menimbulkan banyak korban. Banyak korban yang luka-luka, berat maupun ringan. Bahkan, ada seorang penduduk desa yang mati terbunuh oleh prajurit Naya Gimbal. Mayatnya disandarkan seolah-olah masih hidup pada batang pohon bogor (pohon siwalan yang disadap untuk diambil air niranya). Melihat kejadian seperti itu Naya Gimbal bersabda bahwa mayat itu benar-benar masih hidup. Sungguh menakjubkan, badan mayat itu benar-benar hidup seperti semula. Penduduk desa yang menyaksikan kesaktian Naya Gimbal itu kemudian berbalik memihak kepadanya dengan penuh kesetiaan. Demikian pula, bagi Naya Gimbal sendiri, rasa cintanya terhadap rakyat menjadi lebih tebal. Untuk mengenang kisah itu, desa tersebut diberi nama Desa Bogorejo.
Setelah pertempuran di Desa Bogorejo, Naya Gimbal dan para pengikutnya bergerak menuju ke arah selatan. Di suatu tempat mereka mendapat serangan dari pihak lawan. Pertempuran berlangsung amat hebatnya, banyak korban berguguran pada pihak Naya Gimbal. Mereka gugur di medan bakti dalam mempertahankan tanah air dengan mengorbankan jiwa dan raganya. Untuk mengenang pengorbanan mereka, Naya Gimbal memberi nama tempat itu Desa Sedan (dari perkataan seda yang berarti meninggal).
Sementara itu, pergerakan Naya Gimbal telah tersebar luas di kalangan orang-orang yang memihak Kompeni. Mereka membenci, mengutuki, dan menyebutnya berandal. Untuk mencegah meluasnya berita, Naya Sentika atau Naya Gimbal berusaha meninggalkan tempat itu. Ia dan pasukannya bergerak ke hutan, naik dan turun gunung. Demikian jauhnya mereka melakukan perjalanan, kemudian sampailah di salah satu desa. Di desa tersebut terjadi pertempuran lagi. Ketika pertempuran sedang berkecamuk hebat, tiba-tiba Naya Gimbal dikejutkan oleh menyemburnya darah dari tubuh salah satu prajurit yang tertusuk senjata musuh. Naya Gimbal berusaha menutup luka sejadi-jadinya. Mujurlah luka itu dapat segera sembuh. Atas kejadian itu, Naya Gimbal berpesan agar kelak apabila negara telah aman, makmur dan sentosa tempat itu hendaknya dinamakan Desa Pancur (mancur = Jawa). Akhirnya, pertempuran berakhir dengan kemenangan pada pihak Naya Gimbal.
Pergerakan dilanjutkan ke barat. Di suatu desa mereka beristirahat. Mereka  merasa  aman  di  tempat  itu.  Naya  Gimbal memutuskan untuk bermalam sambil memikirkan dan merencanakan tujuan selanjutnya. Rencana berjalan lancar dan baik, seperti halnya dengan tempat lain, desa ini pun kemudian disebut dengan Desa Tuyuan. Untuk menambah kesigapan para prajurutnya, Naya Gimbal memberikan pelajaran pencak silat di dekat Desa Tuyuan tersebut. Pelajaran pencak silat yang diberikan segera dapat dikuasai oleh para prajuritnya. Kemudian tempat dilakukannya latihan pencak silat itu diberi nama dengan Pesanggrahan. Kenyataannya sekarang Desa Pesanggrahan saat ini terkenal akan ahli-ahli pencak silatnya.
Pergerakan Naya Gimbal dan para prajurit pengikutnya makin lama makin tersiar ke seluruh pelosok di daerah Kabupaten Rembang. Berita ini pun telah dilaporkan kepada Sang Bupati. Mendengar laporan ini, Sang Bupati segera mengirim pasukannya yang dipimpin oleh Ki Demang Waru untuk menumpas pergerakan yang dipimpin oleh Naya Gimbal. Walaupun demikian, pihak Naya Gimbal tidak merasa takut dan gentar. Bahkan, pantang mundur setapak pun. Kedudukan mereka telah bergeser ke arah barat dari Desa Tuyuan dan Desa Pesanggrahan.

Ketika tengah bergerak, pasukan Naya Gimbal bertemu dengan pasukan Ki Demang Waru. Terjadilah pertempuran sengit yang memakan waktu agak lama dan memakan banyak korban dari kedua belah pihak. Dalam pertempuran kali ini Naya Gimbal dapat berhadapan langsung dengan Ki Demang Waru. Pada saat mereka berhadapan muka, Naya Gimbal berkata seperti ini.
"Kami tidak memusuhi kalian, melainkan Kompeni. Akan tetapi, kalian bertempur berhadapan dengan kami? Bukankah engkau sendiri masih ingat bahwa Pangeran Diponegoro adalah guru kita?"
Mendengar perkataan tersebut, Ki Demang Waru menjadi teringat bahwa sebenarnya mereka masih satu perguruan.
Kemudian jawab Ki Demang Waru, "Benar katamu itu, sebenarnya kami pun tidak memusuhimu. Kami hanya memperingatkan dirimu saja. Bukankah engkau bergerak seorang diri? Sedangkan kekuatan Kompeni lebih besar. Oleh karena itu, urungkan saja niatmu itu!"
"Tidak, kami tidak akan mundur setapakpun, melainkan hendak meneruskan perjuangan Pangeran Diponegoro, Guru kita!" Kemudian Ki Demang Waru menyambung lagi, "Sudah, janganlah marah. Aku memang menyalahi kesetiaan terhadap guru karena itu ambillah senjata gadaku ini sebagai taruhan nyawaku.
Bunuhlah diriku dengan gadaku ini!"
Terperanjatlah Naya Gimbal, tak sampai hati ia membunuh temannya sendiri. Ki Demang Waru membujuk lagi, "Naya Gimbal, sekarang belum waktunya untuk mengusir Kompeni dari bumi kita ini. Bila kamu tak mau mengerti, berarti menyiksa temanmu sendiri. Kembalilah ke tempatmu!"
Mendengar bujukan itu, Naya Gimbal agak marah, "Tidak, aku tidak sudi, Demang Waru. Engkaulah satu-satunya orang yang menghalang-halangi. Itu berarti engkau sendiri berpihak kepada Kompeni."
Ki Demang Waru lalu menyanggah tuduhan tersebut, "Seperti halnya kamu, aku pun tidak berpihak kepada Kompeni. Hanya lain caraku dengan caramu."
"Bohong, mana buktinya kalau memang demikian?" Ki Demang Waru menyakinkan lagi, "Kalau kamu tak percaya kepadaku, bunuh saja aku!"
Karena geram dan marahnya Naya Gimbal, diayunkanlah senjata gada ke arah Ki Demang Waru. Akan tetapi, Naya Gimbal menjadi heran karena ternyata senjata gada itu lenyap, tiada berbekas. Kemudian, ia mengundurkan diri dari tempat tersebut, sedangkan Ki Demang Waru berdiri terpaku saja, tiada bergerak sedikitpun.
Peristiwa hilangnya gada Ki Demang Waru membekas menjadi sebuah desa, Desa Gada. Habis rasa kagumnya, Ki Demang Waru kembali ke Kabupaten Rembang untuk melaporkan kejadian itu kepada Sang Bupati. Dalam laporannya kepada bupati, ia menyatakan bahwa Naya Gimbal telah melarikan diri dari daerah Rembang sehingga tak berhasil ditangkap. Namun, ternyata tanpa sepengetahuan Ki Demang Waru, ada orang lain yang melaporkan bahwa sebenarnya Ki Demang Waru sepakat dan setuju dengan Naya Gimbal. Mendapat laporan yang sebaliknya  tersebut, Bupati Rembang menjadi marah. Ki Demang Waru merasa malu mengakibatkan demikian. Rasa malunya membuatnya tidak pulang ke rumahnya, tetapi pergi tanpa meninggalkan bekas (muksa = Jawa). Bekas kademangannya sekarang menjadi Desa Waru.
Selanjutnya, pasukan Naya Gimbal berjalan ke arah selatan dari Desa Gada. Mereka beristirahat di suatu tempat yang dianggap aman untuk mengembalikan semangat. Tiada lagi rasa samar akan kekuatan mereka. Karena hilangnya perasaan samar di tempat itu, desa tempat beristirahat itu kemudian disebut dengan nama Desa Samaran. Dari sini mereka terus bergeser dan semakin bertambah semangat juang mereka. Sebagai kenangan tempat tersebut dinamai Desa Sulang.
Pergerakan pun dilanjutkan ke selatan. Dalam perjalanan Naya Gimbal berhenti sejenak dan berpesan, "Kalian tidak perlu mengetahui arah kita bergerak, melainkan ikut sajalah kehendakku. Bila tidak suka kembalilah ke tempatmu masing-masing."
Para prajurit menjawab bahwa masih akan tetap setia mengikuti jejaknya. Ucapan janji setia itu dikenang dengan memberi nama tempat itu Desa Pragen. Desa Pragen pun ditinggalkannya. Akhirnya mereka sampai di suatu desa yang agak besar.
Naya Gimbal berkata, "Berhentilah di tempat ini, kita bertahan di daerah ini!" Perintah itu kemudian dikenang sebagai nama desa, yaitu Desa Gunem. Di sekitar Desa Gunem mereka bertempur mengalahkan musuh. Tempat kemenangan itu dikenal orang dengan nama Desa Andang-Andang. Alkisah, pergerakan Naya Gimbal semakin tersebar luas hingga ke luar daerah Rembang.
Berita ini pun didengar oleh Bupati Blora. Bupati Blora membuat suatu tipu muslihat untuk melumpuhakan mereka. Kepada putrinya diperintahkan untuk menari Jangglungan (semacam tarian tayub) yang telah direncanakan. Tepat pada waktunya, berlangsung permainan. Tontonan itu sangat ramai dikunjungi orang. Tidak ketinggalan pula Naya Gimbal dengan para pengikutnya. Sementara itu, pasukan dari Blora diam-diam menyamar menjadi penari Jangglungan. Tengah ramai-ramai permainan berlangsung tiba-tiba Naya Gimbal dengan pasukannya disergap pasukan Blora yang menyamar tersebut. Demikianlah, riwayat Naya Gimbal berakhir. Sama dengan gurunya, Pangeran Diponegoro yang dapat dikalahkan Kompeni dengan tipu muslihat. Demikian juga, Naya Gimbal akhirnya tertangkap dengan tipu muslihat.

SHARE:

Comments

Recent Posts

ASAL-USUL DESA SAMBONG

ASAL-USUL DESA SAMBONG

Kekalahan pasukan Kadipaten Jipang Panolan oleh pasukan dari Kadipaten Pajang mengakibatkan pendudukan wilayah Jipang oleh orang Pajang. Adapun yang kemudian menduduki Kadipaten

Blora Dari Kejauhan

Blora Dari Kejauhan

Sebelum saya merantau ke luar dari blora, saya merasa blora hanyalah kota mati. tapi setelah saya merantau, ternyata blora adalah kota yang sangat hidup, kota yang selalu

LEGENDA PUNDEN JANJANG

LEGENDA PUNDEN JANJANG

Legenda Punden Janjang terkait dengan kisah perjalanan Pangeran Jati Kusuma dan Pengeran Jati Kuswara dalam pengembaraannya    mencari    pusaka   

Blora Kota Sastra

Blora Kota Sastra

Blora kota yg layak untuk dijuluki kota sastra, semoga pemkab blora berkenan hati membangun perpustakaan besar sastra dg mengoleksi buku2 sastra karya sang maestro, sbg perwujudan

LEGENDA ARYA PENANGSANG

LEGENDA ARYA PENANGSANG

Arya Penangsang merupakan seorang keturunan Raja Demak, yakni cucu Sultan Trenggono, Raja Demak yang berkuasapada tahun 1521—1546 M. Arya Penangsang merupakan putra

Akankah Jalan Sumbawa di Blora Menjadi Jalan Pramoedya Ananta Toer?

Akankah Jalan Sumbawa di Blora Menjadi Jalan Pramoedya Ananta Toer?

Seperti kita ketahui, PRAMOEDYA dilahirkan di Blora pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya berdagang nasi. Nama asli

Asal-Usul Desa Nglorok, Turi, Semampir, Tinggil dan Besah

Asal-Usul Desa Nglorok, Turi, Semampir, Tinggil dan Besah

Cerita ini merupakan legenda yang menceritakan asal usul lima nama desa di Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora. Legenda ini berawal ketika Perang Diponegoro selesai dengan ditangkapnya