LEGENDA PUNDEN JANJANG

LEGENDA PUNDEN JANJANG

  • 2018-07-25 21:04:43
  • 1103

Legenda Punden Janjang terkait dengan kisah perjalanan Pangeran Jati Kusuma dan Pengeran Jati Kuswara dalam pengembaraannya    mencari    pusaka    Kerajaan Pajang    yang hilang. Konon setelah berpisah dengan ketiga saudaranya, yakni Pangeran Anom, Pangeran Giri Jati, dan Pangeran Giri Kusuma yang melanjutkan perjalanan ke arah timur, Pangeran Jati Kusuma dan Pangeran Jati Kuswara melanjutkan perjalanan ke arah utara. Perjalanan mereka berdua dapat dikatakan cukup lancar tanpa halangan yang berarti. Mereka membawa beberapa orang pengikut
yang terdiri atas sahabat dekat dan beberapa orang punggawa.
Suatu hari, sampailah mereka berdua di suatu tempat yang sulit dilalui karena di depannya terbentang sungai yang berarus deras dan curam. Para pengikutnya tidak dapat melalui rintangan tersebut. Melihat hal itu, Pangeran Jati Kusuma segera bertindak. Ia menggunakan kesaktiannya untuk menciptakan sebuah jembatan di atas sungai tersebut. Jembatan yang terbuat dari tanah itu terbentang menghubungkan dua tebing di atas sungai yang deras dan curam itu. Akhirnya rombongan dapat melintasi sungai dengan lancar dan selamat. Hingga sekarang tempat tersebut dikenal dengan sebutan Wot Lemah 'jembatan yang terbuat dari tanah'.

Sesampainya di seberang sungai, rombongan Pangeran Jati Kusuma beristirahat melepas penat yang  mendera.  Pangeran Jati Kusuma melihat keadaan di sekitar tempat tersebut. Dia menikmati suasana alam yang sejuk dan tenang. Tiba-tiba, Pangeran Jati Kusuma memerhatikan sebuah tempat yang menarik perhatiannya. Pangeran Jati Kusuma melihat tempat yang dia rasakan layak untuk bertapa. Ia segera memberitahukan hal itu kepada para pengikutnya. Ia berkehendak bertapa di tempat tersebut. Dengan tangkas dan cekatan para pengikut Pangeran Jati Kusuma menyiapkan segala peralatan yang diperlukan untuk bertapa. Namun, setelah beberapa lama ternyata tempat tersebut tidak cocok untuk bertapa. Tanah tempat bertapa tersebut tiba-tiba jigrug 'longsor' yang berarti tidak cocok untuk bertapa. Para pengikut Pangeran Jati Kusuma menduga bahwa tanah di tempat tersebut tidak kuat menahan kesaktian Pangeran Jati Kusuma yang sedang bertapa.
Kemudian, para pengikut kedua pangeran itu pun menyarankan untuk berpindah ke tempat yang lebih cocok. Adapun tempat tersebut kemudian dinamakan Gunung Cilik atau Juruk yang berasal dari kata Jugrug. Pangeran Jati Kusuma menyatakan pada para pengikutnya bahwa ketika bertapa di tempat yang longsor tersebut dia sempat mendapat wangsit 'petunjuk'. Pangeran Jati Kusuma mendapatkan petunjuk bahwa tempat bertapa yang cocok untuk kedua pangeran tersebut ialah sebuah pegunungan yang berada di sebelah utara tempat tersebut. Jadi, tanah longsor itu merupakan pertanda mereka harus pindah ke tempat yang lain. Dalam  wangsit 'petunjuk' tersebut, kedua pangeran beserta rombongan diperintahkan untuk mencari tanah yang njajang. Oleh karena itu, sang pangeran menyebut tempat yang disebutkan dalam semedinya dengan tanah janjang.

Tanpa berpikir lama lagi, mereka pergi mencari tempat seperti yang diperintahkan pada wangsit. Mereka berjalan ke arah timur laut. Tampaklah di sana gugusan pegunungan yang sesuai dengan petunjuk yang diterima dalam tapa brata sang pangeran. Akhirnya, rombongan pun segera menuju ke tempat tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju tempat tersebut, diceritakan bahwa kedua pangeran itu membuat masjid di Desa Genjeng, yang terletak di dekat Desa Nglebur/ Ngrambah. Masjid tersebut dikenal dengan nama Masjid Benteng. Tidak terlalu jelas riwayat penamaan masjid tersebut. Diceritakan juga bahwa selama proses pembuatan masjid tersebut, kedua pangeran itu selalu didatangi oleh seorang wanita cantik dari Desa Bleboh yang bernama Nyai Randha Kuning. Maksud kedatangan wanita tersebut agar diperkenankan menjadi selir sang pangeran. Keinginan Nyai Randha Kuning tersebut tidak dikabulkan, tetapi juga tidak ditolak. Kedua pangeran tampan itu tidak menanggapi rayuan wanita cantik itu karena mereka menganggap bahwa hal tersebut adalah bagian dari godaan dalam pembangunan masjid. Mereka hanya memfokuskan perhatian pada pembangunan masjid agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat di sekitar wilayah itu untuk beribadah.
Proses pembangunan masjid belum selesai, tetapi sang pangeran sudah meninggalkan tempat tersebut untuk bertapa di tanah janjang. Menurut cerita, hal ini dilakukan karena sang pangeran  mendengar  sebuah  bisikan  untuk  segera  bertapa  di tanah janjang tersebut. Akhirnya, pembangunan masjid dilanjutkan oleh para pengikut dan warga Desa Bleboh. Di sisi lain, selama sang pangeran bertapa, Nyai Randha Kuning tetep setia menunggu permintaannya dijadikan selir dikabulkan sang pangeran. Nyai Randha Kuning benar-benar dimabuk asmara yang bertepuk sebelah tangan. Tindakan Nyai Randha Kuning tersebut pada akhirnya memunculkan sebuah aturan umum yang harus dipatuhi oleh warga Desa Bleboh, yakni orang dari Desa Bleboh atau Desa Nglebur tidak boleh menikah dengan orang dari Desa Janjang. Latar belakang munculnya aturan tersebut kurang begitu jelas. Peraturan tersebut benar-benar dipatuhi oleh warga kedua desa tersebut karena jika dilanggar akan mengakibatkan bencana. Namun, apabila memaksa harus menikah, kedua calon mempelai harus bersedia hidup bersama terlebih dahulu di Desa Nglebur atau Desa Bleboh. Selain itu, calon mempelai wanitalah yang harus mengajukan lamaran terlebih dahulu, seperti yang dilakukan oleh Nyai Randha Kuning.
Di tanah janjang, diceritakan dua pangeran yang sedang melakukan tapa brata. Cara bertapa dua orang pangeran tersebut berbeda. Pangeran Jati Kusuma melakukan tapa dengan cara mengurangi makan dan tidur, sedangkan Pangeran Jati Kuswara melakukan tapa dengan cara terus-menerus makan dan tidur. Dikisahkan, selama melakukan tapa, kedua pangeran tersebut saling menunjukkan kesaktiannya. Di antara kedua pangeran tersebut yang memiliki kesaktian yang lebih ungggul adalah Pangeran Jati Kuswara.
Suatu ketika, Pangeran Jati Kusuma marah kepada adiknya. Ia tidak suka dengan cara bertapa adiknya yang terus-menerus makan tersebut. Pangeran Jati Kusuma pun memecah kendil yang biasa dipergunakan untuk menanak nasi. Namun, kemarahan Pangeran Jati Kusuma tersebut tidak membuat Pangeran Jati Kuswara terpancing untuk marah. Pecahan kendil yang sudah berantakan tersebut dipungut dan dikumpulkan serta diatur sedemikian rupa sehingga pulih kembali seperti sediakala. Pernah pula Pangeran Jati Kusuma mencoba kesaktian adiknya dengan cara menyuruh seorang utusan mengambil sorban yang tertinggal di Desa Semanggi. Sang utusan pun segera berangkat menjalankan perintah tuannya. Setibanya di Desa Semanggi sang utusan tertegun karena melihat sorban yang dimaksud berada di puncak pohon nyiur yang cukup tinggi sehingga tidak mudah diambil. Karena merasa tidak sanggup mengambil sorban tersebut, sang utusan memutuskan untuk kembali menghadap tuannya, Pangeran Jati Kusuma. Ia memberitahu sang tuan perihal yang dilihatnya. Mendengar hal tersebut, Pangeran Jati Kuswara menyatakan tidak percaya lalu sang utusan disuruhnya kembali ke Desa Semanggi untuk segera mengambil sorban yang diminta kakaknya.
Dengan perasaan kesal karena tidak dipercaya, sang utusan pun kembali ke Desa Semanggi memenuhi Perintah Pangeran Jati Kuswara. Namun, begitu tiba di Desa Semanggi, utusan tersebut merasa heran dan takjub karena pohon nyiur yang tadinya menjulang tinggi, seketika merendah sehingga sorban yang dimaksud oleh tuannya dapat diambil dengan mudah. Begitulah, akhirnya kedua pangeran sakti tersebut menghabiskan sisa usia mereka di tempat mereka bertapa yang kemudian diberi nama Desa Janjang. Mereka menjadi tokoh masyarakat yang sangat disegani dan dikagumi karena kebijaksanaan dan kesaktian mereka. Mereka pun meninggal di desa tersebut dan dimakamkan di tempat yang sama. Makam kedua pangeran tersebut dinamakan punden janjang karena berbentuk punden berundak yang berada di Desa Janjang.
Sampai sekarang, setiap tahun diadakan upacara sedekah bumi di makam kedua pangeran tersebut. Upacara itu dilaksanakan setiap habis panen, tepatnya pada Jumat Pon. Di samping itu, di makam tersebut juga sering digunakan sebagai tempat ngalab berkah 'mencari barokah'. Ritual itu dilaksanakan dengan acara mementaskan pertunjukan wayang Krucil khas Janjang dengan menampilkan wayang keramat ciptaan sang pangeran yang terdiri atas Wayang Panji, Wayang Kyai Brojol, Wayang Kyai Kuripan, dan Wayang Nyi Sekentir.
Konon wayang-wayang tersebut sangat keramat. Jika terpaksa dipentaskan di luar daerah, wayang tersebut harus dibawa dengan jalan kaki dengan cara digendong. Selain itu, makam kedua pangeran tersebut juga sering digunakan sebagai sarana melakukan peradilan tradisional yang dikenal dengan istilah Sumpah Janjang. Acara tersebut biasanya dilakukan dalam rangka mencari kebenaran yang sudah tidak bisa dilakukan dengan jalan lain. Dengan dilakukannya Sumpah Janjang dalam waktu yang tidak terlalu lama kebenaran pasti akan segera terungkap, paling lama dalam jangka waktu tiga bulan. Hal ini sebagaimana pepatah Jawa yang berbunyi becik ketitik, ala ketara 'yang baik akan diketahui, yang jelek pun akan kelihatan'.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Mig33 Blora

Mig33 Blora

Akhir-akhir iki lagi usum #10yearschallenge 2009 - 2019.
Lha kebeneran tahun 2009 kuwi nek gak salah lagi rame-ramene mig33 neng mbloRO.
Ndelalah kae yo pernah ngumpulke poto-potone

ASAL-USUL DESA SAMBONG

ASAL-USUL DESA SAMBONG

Kekalahan pasukan Kadipaten Jipang Panolan oleh pasukan dari Kadipaten Pajang mengakibatkan pendudukan wilayah Jipang oleh orang Pajang. Adapun yang kemudian menduduki Kadipaten

Butuh Lapangan Pekerjaan Luas

Butuh Lapangan Pekerjaan Luas

minimnya lapangan pekerjaan di kabupaten Blora memaksa kebanyakan pemudanya untuk merantau ke daerah atau kota lain guna mencari pekerjaan. semoga kedepannya pemerintah bergerak

Blora tetaplah Blora, Cepu adalah bagian dari Blora

Blora tetaplah Blora, Cepu adalah bagian dari Blora

Banyak orang yang tidak tau kota Blora, jangankan luar provinsi, satu provinsi pun Banyak orang yang tidak tau.Di luar sana cepu adalah nama yang dimengerti banyak orang

LEGENDA KUDA GAGAK RIMANG

LEGENDA KUDA GAGAK RIMANG

Kuda Gagak Rimang adalah kuda tunggangan andalan Arya Penangsang. Menurut cerita tutur yang berkembang di lingkungan masyarakat Kabupaten Blora, khususnya di sekitar wilayah

Blora Kota Sastra

Blora Kota Sastra

Blora kota yg layak untuk dijuluki kota sastra, semoga pemkab blora berkenan hati membangun perpustakaan besar sastra dg mengoleksi buku2 sastra karya sang maestro, sbg perwujudan

MAKAM PURWA RUCI

MAKAM PURWA RUCI

Legenda makam Purwa Ruci berawal dari keributan yang terjadi di Tulungagung. Pada saat keributan terjadi, ada seorang bangsawan bernama Wonoboyo atau 'Derkuku Mas' melarikan