MAKAM PURWA RUCI

MAKAM PURWA RUCI

  • 2018-08-21 11:09:15
  • 348

Legenda makam Purwa Ruci berawal dari keributan yang terjadi di Tulungagung. Pada saat keributan terjadi, ada seorang bangsawan bernama Wonoboyo atau 'Derkuku Mas' melarikan diri ke daerah Panolan. Untuk menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan di tempat yang baru ia pun bertani. Panolan memang daerah yang tanahnya subur, maka segala tanaman yang ditanam Wonoboyo tumbuh dengan subur. Namun, ada satu tanaman yang aneh di antara tanaman yang lain, yaitu tanaman koro.
Setiap kali tanaman koro mulai berbuah, maka di pagi harinya buah tersebut selalu menghilang. Hal tersebut membuat Wonoboyo bingung dan bertanya-tanya siapa yang mencuri buah koro miliknya.
"Sebenarnya siapa yang mengambil buah koro milikku? Ini sungguh keterlaluan, aku belum pernah sekalipun memetiknya padahal aku yang telah menanamnya," kata Wonoboyo di kebunnya. Wonoboyo akhirnya memutuskan untuk menjaga tanaman koro ketika mulai berbuah. Tujuannya supaya ia mengetahui siapa yang memetik buah koro miliknya. Ia berjaga-jaga dari siang sampai keesokan harinya. Namun, ia belum juga menemukan siapa yang memetik buah koro tersebut. Siang dan malam ia terus-menerus menjaga buah koro yang hampir matang itu. Pada suatu malam Wonoboyo merasakan angin yang aneh, ia pun semakin waspada dan pandangannya berusaha fokus ke buah koro. Tiba- tiba ada seekor ular yang sangat panjang.
"Hah…ular?! Panjang sekali ular itu," kata Wonoboyo kaget. "Ternyata ular itu yang mencuri buah koro milikku selama ini. Tak akan aku biarkan ular itu memetik buah koro milikku lagi."
Dengan cepat Wonoboyo melompat dari tempat ia berjaga, "Ciiiaaatt…"
Ular tersebut hampir memakan buah koro milik Wonoboyo, tetapi ular itu tidak jadi memakan buah koro karena kaget melihat kehadiran Wonoboyo.
"Wahai ular yang selalu mencuri buah koro milikku. Kau panjang sekali. Maka berubahlah kau menjadi tombak panjang!"
Maka seketika itu juga, ular tersebut berubah menjadi tombak. Wonoboyo menganggap tombak tersebut sebagai benda yang sakti. Kemudian oleh Wonoboyo tombak tersebut diberi nama Kyai Upas.
Setelah memiliki pusaka Kyai Upas, nama Wonoboyo semakin terkenal dan mulai disegani oleh masyarakat di tempat tinggalnya. Kemudian ia mengangkat dirinya sendiri menjadi seorang tumenggung.
"Wahai masyarakat yang ada di desa ini. Aku mengumpulkan kalian di tempat ini tujuannya hanya satu yaitu untuk menyaksikan bahwa aku akan mengangkat diriku sebagai tumenggung. Sekarang resmilah aku menjadi tumenggung yang akan ditemani oleh Kyai Upas ini. Jika aku meninggal kelak, tombak pusaka Kyai Upas ini akan aku turunkan pada keturunanku."
Masyarakat sangat kaget dan saling berbisik satu dengan yang lainnya. Kemudian ada satu orang sesepuh di sana yang ditunjuk sebagai perwakilan untuk berbicara kepada Wonoboyo.
"Baiklah Wonoboyo, jika itu keputusanmu kami sepenuhnya mendukungmu sebagai tumenggung."
Masyarakat di desa itu akhirnya menerima keputusan tersebut dan menyebutnya dengan nama Tumenggung Wonoboyo. Setelah meninggal, tombak pusaka Kyai Upas selalu diturunkan pada keturunannya. Keturunan Wonoboyo yang pertama adalah Notowijoyo I. Notowijoyo I berhasil membangung tempat tinggal yang seperti kerajaan karena di sekitarnya dibangun pula alun-alun, masjid, paseban, dan bangunan yang lain.
Setelah Notowijoyo I meninggal, ia digantikan Notowijoyo II, kemudian digantikan oleh Notowijoyo III. Tumenggung Notowijoyo III yang diangkat menjadi tumenggung menggantikan ayahnya, pada saat penjajahan Belanda. Ia sangat bersikap anti-Belanda dan karena hal itu, ia dipindah ke Madiun kemudian dipindah lagi ke Tulungagung. Ketika pindah ke tempat lain, Beliau tidak lupa selalu membawa pusaka warisan leluhurnya yaitu Kyai Upas. Namun, plawung tombak pusaka Kyai Upas tertinggal.
Menurut masyarakat sekitar, plawung dari tombak Kyai Upas yang tertinggal disimpan di makam Purwa Suci milik neneknya. Namun, suatu ketika tombak tersebut menghilang setelah ada seseorang yang bermimpi, dirinya mengantar benda tersebut ke Tulungagung. Semua warga geger dengan kejadian tersebut. Mereka khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena hilangnya plawung tersebut. Anehnya pada saat yang bersamaan, ada seorang warga yang melihat orang bermimpi tersebut memang benar-benar naik perahu dan berkata akan mengantar plawung ke Tulungagung.
"Maaf Kyai saya ingin menceritakan sesuatu yang aneh Kyai," kata seorang warga dengan gugup."
"Ada apa? Mengapa gugup sekali?"
"Itu Kyai, semalam saya bermimpi kalau saya pergi naik perahu mengantarkan plawung ke Tulungagung."
"Benarkah? Ini sangat aneh karena bersamaan dengan hilangnya plawung itu."
Tiba-tiba ada seorang warga datang terburu-buru ke rumah Kyai tersebut.
"Permisi…maaf Kyai saya mengganggu."
"Oh tidak, silahkan masuk. Ada keperluan apa, Bapak datang ke sini."
"Semalam saya bermimpi kalau saya melihat seorang warga pergi naik perahu ke Tulungagung Kyai."
"Terus apa masalahnya Pak?" kata Kyai penasaran.
"Saya melihat warga tersebut membawa plawung Kyai Upas. Katanya ia pergi ke Tulungagung tujuannya untuk mengantarkan plawung Kyai Upas."
"Wah ini benar-benar mimpi yang sangat berkaitan dengan Bapak ini," kata Kyai sambil menunjuk warga yang pertama menceritakan mimpinya.
"Mungkin ini petunjuk bagi kita Bapak-bapak bahwa plawung tersebut memang sudah di Tulungagung. Kita berdoa saja semoga semuanya baik-baik saja."
Kemudian di antara perjalanannya berpindah dari Panolan sampai ke Tulungagung, Notowijiyo III memerintahkan untuk memindahkan makam neneknya dari Panolan ke Purwa Ruci. Selanjutnya makam tersebut dikeramatkan oleh masyarakat di sekitar Bukit Kedinding. Setiap tahun di makam tersebut selalu dilakukan upacara sedekah bumi dengan dilengkapi pagelaran 'Lengen Tayub' selama sehari semalam yang dilaksanakan pada hari Jumat Pahing. Kepercayaan dari masyarkat sekitar makam mengenai makam tersebut adalah apabila ada pegawai atau pejabat yang baru pindah ke Kedung Tuban lalu segera berziarah ke makam tersebut, maka ia akan segera naik pangkat.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Blora itu mana?

Blora itu mana?

menurutku, jawaban paling tepat jika ditanya "Blora itu mana?" adalah perbatasan jawa tengah - jawa timur tapi Blora ikut jawa tengah. hehehehehe

Akankah Jalan Sumbawa di Blora Menjadi Jalan Pramoedya Ananta Toer?

Akankah Jalan Sumbawa di Blora Menjadi Jalan Pramoedya Ananta Toer?

Seperti kita ketahui, PRAMOEDYA dilahirkan di Blora pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya berdagang nasi. Nama asli

ASAL-USUL BLORA

ASAL-USUL BLORA

Blora merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang letaknya berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur. Cerita asal-usul Blora ini memiliki banyak versi. Berbagai versi tersebut

Sampai Jumpa Sego Pecel

Sampai Jumpa Sego Pecel

Beriring lewatnya hari idul fitri, maka usai sudah moment mudik. saatnya kembali lagi ke kota, kembali ke rutinitasnya masing-masing atau disebut merantau. saat moment

Samin, Dulu Dihinakan, Sekarang Dikudang-kudang

Samin, Dulu Dihinakan, Sekarang Dikudang-kudang

Terlepas dari sejarah dan asal-usul Samin, dulu saat saya masih SMP, sekitar tahun 98-an (lulusan tuwo

ASAL MULA CEPU

ASAL MULA CEPU

Diceritakan sejak pusaka Pajang hilang, Pangeran Benawa mengutus saudara-saudaranya untuk mencarinya sampai ditemukan. Ia begitu risau dengan hilangnya pusaka peninggalan ayahnya

Blora Tercinta

Blora Tercinta

Katanya blora itu kecil tapi isinya banyak. Ada Pak Pramoedya, Samin, minyak bumi, jati, batik, barongan, lontong tahu dan yang pasti satenya yang paling uenak tenan

ASAL-USUL DESA SAMBONG

ASAL-USUL DESA SAMBONG

Kekalahan pasukan Kadipaten Jipang Panolan oleh pasukan dari Kadipaten Pajang mengakibatkan pendudukan wilayah Jipang oleh orang Pajang. Adapun yang kemudian menduduki Kadipaten