Hachi

  • 2017-06-21 00:08:13
  • 628

Bila hati ini mungkin bisa di wakili oleh sebuah tempat, misal kan rumah.
Rumah yang telah kau tinggalkan.
Rumah yang segala perabotannya berantakan walaupun tanpa sedikitpun kau buat berantakan.

Rumah yang akan tetap aku bangun walaupun tanpa ada dirimu.
Bukan, bukan aku bangun untuk ditinggali orang lain, tapi akan aku bangun lebih nyaman jika nanti kamu datang kembali. Jika nanti.
Yang akan tetap aku bangun walaupun sebenarnya aku tak tahu akan aku bangun seperti apa.

Di depan rumah akan aku tanam sebuah tanaman.
Bukan tanaman bunga anggrek yang selalu menyombongkan keindahannya.
Juga bukan bunga mawar atau melati atau sejenisnya yang selalu tebar pesona dengan keharumannya.
Tapi, akan aku tanam pohon yang sederhana, pohon waru.
Pohon yang mempunyai daun bebrbentuk lambang hati.

Di bawah pohon itulah aku berada.
Aku, seekor anjing bernama Hachi.
Hachi yang selalu menunggu tuannya kembali tanpa menyadari bahwa tuannya tak akan pernah kembali.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH)

Matahari sudah menggelinding sembilan kali di langit Bombay ketika keanehan lelaki tua yang belakangan saya ketahui bernama Chandragupta menerkam jiwa saya. Keanehannya rasanya

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEMBILAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEMBILAN)

Malam sudah agak larut ketika saya kembali dan mendapati Ashok masih menjerang airuntuk membuatkan kopi Tuan Arvind. Sepengetahuan saya, Ashok sepertinya tidak pernah

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Setelah 9 tahun merantau ke Newyork, Rahwana akhirnya memutuskan untuk mudik ke kampung halamannya, tepatnya di kecamatan Alengka kabupaten Blora.Suatu pagi sehari sebelum

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sebuah perjalanan melintasi semesta ruhani adalah sebuah rentangan pengalaman menakjubkan yang sangat fantastis jika dipikir dengan nalar. Sebab segala sesuatu yang tergelar

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Malam hitam membentang diwarnai jutaan bintang yang meneteskan embun bagai langit menitikan air mata membasahi semesta. Keheningan mencekam seolah-olah menidurkan rerumputan

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEBELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEBELAS)

Malam hitam jernih dengan jutaan bintang bertaburan laksana pelita semesta dibentangkan di atas permadani semesta. Dalam hening berjuta-juta wangi mawar menaburi bumi bagai

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

"Kalau engkau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!”Bagai kilatan cahaya petir, bisikan misterius itumembentur gugusan telinga batin saya tanpa dapat

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Selasa sore seusai sembahyang Ashar, saya langsung melesat ke Jl. Jagannath Shankar Seth dengan mengendarai bus kota. Yang namanya bus kota di mana pun sama, kalau jam kerja