Hachi

  • 2017-06-21 00:08:13
  • 698

Bila hati ini mungkin bisa di wakili oleh sebuah tempat, misal kan rumah.
Rumah yang telah kau tinggalkan.
Rumah yang segala perabotannya berantakan walaupun tanpa sedikitpun kau buat berantakan.

Rumah yang akan tetap aku bangun walaupun tanpa ada dirimu.
Bukan, bukan aku bangun untuk ditinggali orang lain, tapi akan aku bangun lebih nyaman jika nanti kamu datang kembali. Jika nanti.
Yang akan tetap aku bangun walaupun sebenarnya aku tak tahu akan aku bangun seperti apa.

Di depan rumah akan aku tanam sebuah tanaman.
Bukan tanaman bunga anggrek yang selalu menyombongkan keindahannya.
Juga bukan bunga mawar atau melati atau sejenisnya yang selalu tebar pesona dengan keharumannya.
Tapi, akan aku tanam pohon yang sederhana, pohon waru.
Pohon yang mempunyai daun bebrbentuk lambang hati.

Di bawah pohon itulah aku berada.
Aku, seekor anjing bernama Hachi.
Hachi yang selalu menunggu tuannya kembali tanpa menyadari bahwa tuannya tak akan pernah kembali.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA BELAS)

Malam merentang laksana kubah biru dengan bintang-gemintang berkilau-kilau seperti jutaan permata ditaburkan. Sepotong rembulan sabit melengkung bagai busur direntangkan di

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Selasa sore seusai sembahyang Ashar, saya langsung melesat ke Jl. Jagannath Shankar Seth dengan mengendarai bus kota. Yang namanya bus kota di mana pun sama, kalau jam kerja

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEMBILAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEMBILAN)

Malam sudah agak larut ketika saya kembali dan mendapati Ashok masih menjerang airuntuk membuatkan kopi Tuan Arvind. Sepengetahuan saya, Ashok sepertinya tidak pernah

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Matahari bersinar bersih, cahayanya membias putih di batas cakrawala yang berpendar jernih laksana pancaran kristal. Langit biru membentang bagai kubah sebuah masjid. Angin

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT BELAS)

Badai gurun menggemuruh dahsyat bagaikan iring-iringan barisan raksasa berkejaran sambung-menyambung, melonjak, menggulung, menghentak-hentak, mengaduk-aduk, dan menghempas

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Dening: Suparto BrataDiamput! Sepatuku ilang ndhuk mejid. Iki gara-gara sholat Jumat ndhuk mejid enyar cedhake kantorku. Diamput, ejik enyar wis nggawa korban!

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

"Kalau engkau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!”Bagai kilatan cahaya petir, bisikan misterius itumembentur gugusan telinga batin saya tanpa dapat

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH)

Matahari sudah menggelinding sembilan kali di langit Bombay ketika keanehan lelaki tua yang belakangan saya ketahui bernama Chandragupta menerkam jiwa saya. Keanehannya rasanya