Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

  • 2018-07-27 10:15:43
  • 372

Selasa sore seusai sembahyang Ashar, saya langsung melesat ke Jl. Jagannath Shankar Seth dengan mengendarai bus kota. Yang namanya bus kota di mana pun sama, kalau jam kerja akan dimulai atau telah selesai, penumpang mesti berjubel. Saya merasa bahwa keadaan bus kota di Bombay tidak jauh berbeda dengan bus Damri di Surabaya dan Jakarta. Hanya saja, jalanan di Bombay tidak seperti di Surabaya dan Jakarta yang banyak dilewati mobil-mobil mewah dari tingkat Volvo, Peugeot, sampai Mercy. Sedang di Bombay, mobil-mobil yang lewat kebanyakan mobil buatan India sendiri yang bentuknya mirip mobil-mobil Fiat kuno yang di Surabaya hanya bisa ditemui
di pasar loak Dupak Rukun.
Saya tidak mengerti, kenapa orang-orang India begitu gandrung dengan buatan Italia, sehingga tidak saja bentuk mobil Fiat yang dijiplaknya, tetapi sepeda motor bajaj pun modelnya meniru Vespa. Dan yang tak habis saya pikir, orang India kalau mempunyai sepeda mesti yang jenis besar yang di Surabaya disebut sepeda perang. Di jalan-jalan saya jarang melihat orang memakai sepeda jengki, hampir semua sepeda adalah sepeda gede yang biasanya dipakai tukang pos.
Dalam tempo kurang dari dua minggu saya menghirup udara Bombay, diam-diam saya merasa bersyukur menjadi orang Surabaya. Bayangkan, di hampir tiap sudut kota, saya selalu melihat orang miskin jumlahnya nyaris tak terhitung. Kalau kebetulan ke stasiun Sandhurst, saya mesti melewati perkampungan kumuh yang mengenaskan yang sebelumnya tak pernah saya lihat. Kemiskinan, kesengsaraan, kekumuhan seolah-olah menjadi bagian yang tak terpisah dengan kehidupan di kampung-kampung Bombay. Hampir di setiap pinggiran jalan saya selalu melihat pedagang kaki lima dan pengemis serta tukang ramal. Di kaki lima itulah saya biasanya sering membeli Roti Kaney yang sebenarnya adalah Roti Maryam yang di Surabaya sering saya beli di Jl. K.H Mansyur. Dan sekalipun saya suka makan roti-rotian, kalau terus-terusan rasanya saya kepingin muntah. Di Bombay saya benar-benar tidak pernah ketemu nasi, sebab makanan orang Bombay adalah roti, yaitu tepung terigu yang diberi air dan digoreng bulat-bulat tipis.
Di dalam bus kota yang di cat merah dan suara mesinnya seperti mau merontokkan jantung, saya terpaksa menahan napas karena para penumpang yang kebanyakan kuli, bau tubuhnya membuat kepala saya berdenyut-denyut. Yang paling membikin jengkel, penumpang bus kota di Bombay benar-benar tidak tahu aturan. Bayangkan, bus yang sudah penuh penumpang itu terus saja dijejali sehingga tak kurang penumpang yang nggandol di belakang dan di samping luar bus. Anehnya, kondektur yang menarik ongkos, seperti tahu siapa-siapa penumpang yang belum dan sudah bayar.
Kepergian saya ke kuil api Wadiaji memang tidak saya omongkan sama Tuan Arvind. Sebab saya yakin dia akan melarang saya pergi untuk menemui Ahmed Bushra menghadap Baba Mirza. Dia selalu menasehati agar saya selalu berhati-hati hidup di Bombay karena banyak penipu yang melakukan aksi dengan berbagai cara.
Memang, sejak saya tinggal di kamar sebelah rumah Tuan Arvind, saya sering diajaknya duduk-duduk minum kopi sambil berbincang-bincang tentang berbagai hal yang menyangkut agama dan kesusastraan. Dari perbincangan kami selama beberapa kali, saya bisa menyimpulkan bahwa Tuan Arvind tergolong orang yang fanatik beragama tetapi masih suka membeda-bedakan status orang berdasar faktor keturunan. Dalam berbicara pun, dia selalu tidak lupa menyebut-nyebut keagungan dan kehebatan leluhurnya yang menurutnya adalah keturunan raja-raja Moghul. Dan terus terang saja, saya sangat tidak suka kalu dia sudah bicara soal kehebatan leluhurnya, karena kalau dia sudah begitu, maka dia akan menjelek-jelekkan dan membusuk-busukkan orang-orang yang dikenalnya sebagai keturunan orang rendah. Saya selalu merasa muak kalau melihat dia sudah memuji-muji kebesaran leluhurnya dan keluarganya seolah di dunia ini hanya dia dan leluhurnya.
Kemuakan saya makin menjadi-jadi ketika dengan nada menyindir dia menjelek-jelekkan kebodohan orang-orang yang menyembah Dewa Hanoman. Saya tidak peduli dengan umpatannya terhadap Hanoman andaikata matanya tidak melirik-lirik saya dan nada suaranya tidak sinis seolah ditikamkan kepada saya. Bahkan secara terus terang dia mengumpat kebodohan Debendra yang sekalipun sudah masuk Islam tetapi masih percaya pada penitisan Hanoman di dunia. Dan darah saya sempat menanjak ke kepala ketika dia mengatakan bahwa teori Darwin sebenarnya berlaku untuk sebagian manusia, sebab sebagian manusia memang keturunan kera, dan wajarlah kalau sebagian ada yang menyembah Hanoman bahkan ada yang mirip Hanoman.
Saya tahu sebenarnya dia menyindir saya. Tapi saya sendiri menjadi heran, karena kemarahan saya tidaklah sampai menjadikan ke-sudrun-an saya kumat. Saya sendiri heran dengan berbagai perubahan yang saya alami selama di Bombay. Misalnya, saya tidak pernah lagi bisa berkomunikasi dengan Sirr-i-Asrar di pedalaman saya. Saya tidak pernah lagi merasakan belitan rasa yang selama ini menjadikan saya sudrun. Semua berlangsung apa adanya seolah-olah saya adalah seorang manusia yang utuh yang hanya mengandalkan akal dan perasaan. Ya, saya mendadak saja jadi mudah tersinggung dan cengeng. Saya mendadak suka mengeluh dan berkeluh kesah. Saya mendadak sering menyesali ketidakadilan Tuhan yang mencipta saya seperti kera sehingga pernah satu kali saya dikerubuti anak-anak di kuil Mahalaxmi yang terletak di tepi pantai tak jauh dari Jl. Raya Bulabhai Desai, di mana mereka menyangka saya bintang film Vikas yang memerankan tokoh Hanoman.
Terus terang, selama di Bombay saya bisa meresapi suatu makna kehidupan benar-benar utuh sebagai manusia yang berdiri di atas hamparan tanpa batas. Kelebatan hidup yang saya lihat benar-benar menanamkan kesan mendalam di relung-relung jiwa saya. Saya diam-diam membayangkan, andaikata saya tidak rajin menjalankan sembahyang dan berdzikir serta terbiasa hidup dalam ke-sudrun-an, mungkin saya akan menjadi pengumpat Tuhan seperti kebanyakan ornag-orang di sekitar Saya.
Semakin lama saya merasakan kehidupan Bombay, semakin saya melihat dengan akal dan perasaan saya akan atmosfer yang melingkari kehidupan Bombay. Orang mudah sekali mengaku sebagai Avatar (manusia Tuhan), nabi, sekaligus ornag mudah sekali memaki dan mengumpat pada Tuhan. Orang mudah dibeli dan diperintah apa saja. Bahkan setumpuk buku foto kopian karangan seorang nabi begundal Inggris yang ajarannya menyebar di Indonesia, saya beli dari seorang bekas pengurus jemaat dengan mengganti ongkos foto kopi 4 ribu rupee. Oleh sebab itu, saya benar-benar kaget setelah membaca kegilaan tulisan nabi itu.
Tuan Arvind sendiri memamng sudah mewanti-wanti saya agar saya tidak gampang percaya pada omongan setiap orang yang belum saya kenal. Tuan Arvind sendiri menurut saya adalah orang yang baik, tetapi kalau sudah kumat edannya, maka dia akan seperti orang kesurupan memuja-muji leluhurnya dan pada gilirannya memuja-muji dirinya sendiri. Bahkan menurut Ashok, jongos Tuan Arvind yang serba bisa, bahwa istri Tuan Arvind yang bernama Ny. Laxmikant derajadnya setingkat anjing, berarti Tuan Arvind sendiri telah kawin dan menyetubuhi anjing geladak.
Ashok sendiri bagi saya adalah manusia unik juga, karena dia tergolong jongos yang paling tahan bekerja kepada Tuan Arvind. Kalau kebetulan Tuan Arvind tidak ada di rumah, Ashok pasti mengajak saya berbincang-bincang dengan topik utama membusuk-busukkan Tuan Arvind dan Laxmi Devi. Dari berbagai omongan Ashok saya menyimpulkan bahwa dia adalah orang yang tertindas oleh kesewenang-wenangan. Dia diam-diam seperti menyimpan dendam kesumat kepada dua majikannya ayah beranak itu. Namun yang mengherankan saya, kalau dia sudah berada di depan kedua majikannya, sikapnya selalu tampak manis dan benar-benar menjilat. Sejauh ini saya belum sekalipun mendengar Ashok bicara "tidak" kepada kedua majikannya. Dia selalu bilang "ya, ya, ya" dalam segala hal sambil tubuhnya membungkuk-bungkuk.
Sesekali saya melihat Tuan Arvind marah dan menempeleng Ashok. Saya lihat Ashok berlutut sambil mengacung-acungkan tangannya ke atas seolah menyembah-nyembah. Dia mengatakan bahwa dia memang bersalah dan wajib dihukum. Tetapi begitu Tuan Arvind tidak ada, maka dia mengomel sehabis-habisnya. Bahkan satu saat saya melihat dia meng-gambar di atas kertas orang-orang yang berdiri sambil bertolak pinggang. Gambar itu kemudian diberinya tulisan Sir Arvind. Sesudah gambar itu diangkat-angkat selaiknya seorang demonstran mengacungkan poster dan pemflet, maka gambar itu pun dibakarnya.
Ashok juga sering saya lihat didamprat oleh Laxmi Devi. Tapi kalau Laxmi Devi yang mendamprat, dia seolah-olah sengaja menggoda hingga Laxmi pun menampar pipinya. Anehnya, dengan tamparan tangan Laxmi itu, saya melihat kilasan bias kepuasan dari wajah Ashok. Dia tampaknya suka ditampar oleh Laxmi. Bahkan semakin keras tamparan Laxmi, semakin dia merasa puas. Saya tentu saja melihat hal semacam itu sebagai ketidakwajaran, sehingga buru-buru Laxmi saya ingatkan bahwa sebaiknya dia tak perlu menampar Ashok lagi.
Laxmi sendiri tampak kaget ketika saya beritahu bahwa tamparannya terhadap Ashok bisa menimbulkan dampak yang tidak baik baginya, yaitu saya katakan bahwa kalau Ashok terbiasa dengan kepuasan seperti itu, dia akan bisa memperkosa Laxmi. Laxmi Devi akhirnya menceritakan dengan jujur bahwa dia beberapa kali memang memergoki Ashok mengintipnya ketika dia sedang mandi. Bahkan dengan tanpa malu-malu dia mengatakan pada saya, bahwa dia ingin sekali saya intip kalau sedang mandi atau ganti pakaian di kamar. Mendengar pengakuan Laxmi itu, tentu saja darah saya bergolak dan jantung saya berdentam-dentam.
Laxmi Devi yang melihat saya tersentak, diam-diam mulai menceritakan semua yang dia pikir dan dia rasakan kepada saya, seolah-olah saya adalah sahabatnya yang sudah bertahun-tahun menjadi bagian hidupnya:
"Ketahuilah, Sudrun, bahwa saya adalah Laxmi Devi yang tercantik di antara dara cantik di seluruh tanah Barat ini. Lihatlah hidungku mancung. Lihatlah bibirku yang bagai delima merekah. Lihatlah pipiku yang bagai apel ranum. Lihatlah rambutku yang mengurai bagai bunga bakung. Lihatlah susuku yang bagai pepaya gantung. Semua orang menyatakan saya adalah dara yang paling cantik dan lemah lembut. Semua orang memuji kagum pada saya. Tetapi mereka tidak pernah tahu bahwa kecantikan ini adalah malapetaka bagi saya."
"Sampean mesti tahu, Sudrun, bahwa usia saya sekarang ini sudah 27 tahun. Tetapi seperti yang sampean ketahui, tidak seorang pun laki-laki yang mau menjadi suami saya atau kekasih saya. Mereka yang datang hanya menyatakan kekaguman pada saya. Mereka hanya memuji keharuman dan keindahan saya. Tetapi mereka tak sedikit pun berkenan memetik saya. Padahal saya tidak pernah memilih-milih, bahkan siapa pun yang bersedia melamar saya maka saya akan bersedia mendampinginya, meskipun itu sampean yang orang asing buat saya."
"Saya selalu merasa heran, kenapa setiap laki-laki yang akan mendekati saya selalu kabur sebelum dia menyatakan rasa cintanya atau keinginannya untuk menikahi saya. Mereka semua seperti melihat saya sebagai kuntum mawar dilingkari duri, padahal saya tidak melihat duri di sekitar saya. Ayah saya pun memberi saya kebebasan dalam bergaul, sehingga saya rasa, amat mustahil saya yang cantik ini tidak laku kawin. Saya pernah mendatangi seorang peramal perempuan, dia menyatakan bahwa saya memang sengaja diguna-guna oleh seorang anak paman saya yang bernama Asha. Saya tahu, dia sangat cemburu dengan kecantikan yang saya miliki. Sejak kecil dia memang suka menjelek-jelekkan saya karena kecemburuan itu. Karenanya, saya tidak perlu kaget kalau dia mengguna-guna saya agar saya tidak laku kawin. Tapi yang tidak saya mengerti, kenapa dia bisa tega terhadap saya, padahal dia sudah kawin dan punya anak."
Mendengar pengakuan Laxmi Devi, saya hanya manggut-manggut tetapi saya tidak tahu pasti kenapa dia begitu kelabakan karena tidak laku kawin. Berbagai omongan Ashok setidaknya merupakan informasi yang cukup lengkap bagi saya baik tentang Tuan Arvind maupun tentang Laxmi Devi. Dan terus terang pula sebagai lelaki normal saya pun sebenarnya tertarik juga dengan Laxmi Devi yang cantik dan matanya blalak-blalak itu. Tapi saya tetap berusaha untuk mengesampingkan hasrat saya, meski saya merasakan desakan kuat untuk mendekati Laxmi Devi. Akhirnya, dengan apa adanya saya menceritakan kepadanya sekitar ketidaklakuan dirinya kawin:
"Perlu sampean ketahui, Laxmi, bahwa saya diam-diam sering berbicara dengan Asha dan suaminya. Dia sering menyatakan kepada saya, bahwa dia sangat sayang kepada sampean. Tetapi entah karena apa, sampean justru sering merendahkannya karena dia sampean anggap sebagai gadis yang jelek. Dia mengaku sering memuji kecantikan kalian."
"Tetapi sampean justru selalu merendahkan dan memuji diri sampean sendiri. Sampean sepertinya hendak menunjukkan bahwa siapa pun tidak ada yang lebih cantik dari sampean. Bahkan menurut Asha, kebencian sampean makin menjadi-jadi ketika dia berpacaran dengan Aruna dan kawin."
"Sampean mesti sadar, Laxmi, bahwa dengan kecantikan yang sampean banggakan itu, sampean tanpa sadar telah terperangkap pada satu titik pusat kebanggaan diri. Sampean ingin menjadi orang tercantik di dunia. Sampean ingin tidak ada lelaki yang memuji gadis lain kecuali sampean sendiri. Dan tanpa sadar, sering sampean menyakiti hati para lelaki yang ingin mendekati sampean."
"Satu contoh dari kebiasaan jelek sampean, sampean selalu mengatakan kepada setiap lelaki yang mendekati sampean, bahwa diri sampean sedang diburu oleh lelaki lain. Padahal, sampean ketika itu sedang tidak diuber-uber oleh siapa pun. Tapi entah kenapa sampean selalu membuat kesan seolah-olah diri sampean adalah gadis yang laris yang diuber-uber banyak lelaki."
"Saya tahu, Laxmi, bahwa apa yang sampean lakukan sebenarnya merupakan kodrat kewanitaan sampean. Sebab seekor ayam babon atau kucing betina, tidak pernah menyerah begitu saja apabila diuber-uber pejantannya. Tetapi sampean keliru, sebab belum pernah ada seekor ayam babon diburu ayam jantan lebih seekor begitu juga dengan kucing."
"Sampean tanpa sadar telah terperangkap pada kebanggaan sampean atas kecantikan yang sampean miliki. Sampean tanpa sadar telah terperangkap pada angan-angan, bahwa dengan cara semacam itu, lelaki yang menguber-uber sampean akan menjadi segan dan hormat, karena sampean ternyata sangat dibutuhkannya dan dibutuhkan banyak lelaki. Kalaupun di antara mereka ada yang jadi suami sampean, maka sampean berharap mereka tidak akan membuat sembarangan sampean."
"Sampean tidak pernah sadar, bahwa diam-diam sampean selalu merasa lebih tinggi daripara lelaki yang mendekati sampean. Sampean selalu bilang bahwa sampean adalah perempuan terhormat dan baik-baik yang tidak bisa dibuat sembarangan. Sampean selalu bilang bahwa suami yang ideal bagi sampean adalah lelaki yang bisa menghormati istri dan mengerti tanggung jawab pada keluarga. Sampean selalu bilang bahwa sampean tidak sudi dimadu. Sampean selalu bilang tetek bengek, seolah-olah para lelaki yang mendekati sampean adalah keledai-keledai congek yang dungu."
"Aduh Tuhan," kata Laxmi Devi terisak-isak. Dia rupanya sangat terpukul dengan apa yang saya kemukakan. Dia tidak pernah menduga bahwa sikapnya selama ini justru menjadi bumerang baginya. Apa yang dikehendakinya tanpa disadarinya justru telah mendatangkan hal-hal yang tidak dikehendaki. Kemudian dengan suara gemetar dia berbisik lirih:
"Saya sadar akan semua ini, Sudrun, karenanya saya akan merasa senang sekali kalau sekarang ini ada lelaki yang mau menguber-uber saya. Saya akan mengubah sikap saya. Dan saya akan merasa senang, kalau lelaki yang menguber-uber saya adalah sampean sendiri."
Dengan hati kalang kabut, saya menjelaskan bahwa soal jodoh adalah soal yang menjadi wewenang Tuhan. Karena itu, saya mengharap dia tidak terlalu merasa rendah diri dengan pengalaman pahit itu. Saya juga bilang, bahwa andaikata Tuhan nanti menggerakkan kuasa-Nya dan tiba-tiba saya tergerak untuk mengubernya, maka saya tanpa sungkan lagi akan mengubernya.
"Pokoknya," gumam saya tegas, "Sampean harus melihat berbagai kejadian yang tergelar di alam. Artinya, kalau ayam dan kucing betina tidak ada yang menguber-uber pejantannya, maka sampean janganlah menguber laki-laki. Ingatlah selalu bahwa mawar tidak pernah menawar-nawarkan harumnya, tetapi harum itu sendiri yang menebar ke mana-mana."

Di tikungan Jl. Jaganath Shankar Shet saya turun dari bus kota. Ahmed Bushra Saya lihat sudah berdiri di trotoar dengan tasnya yang berbentuk kotak yang selalu dijinjingnya. Begitu dia melihat saya, langsung dia melompat bagai kera mendapat jatah makan sambil tersenyum lebar.
"Saya kira sampean tidak datang, kawan," seru Ahmed Bushra menyalami saya.
"Saya tadi sembahyang dulu sebelum ke sini," sahut saya sesingkat.
"Dia itu sangat baik," seru Ahmed Bushra sambil membisikkan sesuatu ke kuping saya, "Sampean akan saya perkenalkan kepada seorang Jurnalis Bombay City."
"Siapa?" tanya saya heran. "Avijja!"
"Saya sudah mengenalnya," jawab saya tenang, "Bukankah dia kemenakan Tuan Arvind?"
Ahmed Bushra terkejut dengan jawaban saya. Dia benar-benar tidak menduga kalau saya sudah mengenal jurnalis yang dikenal suka memuat berita-berita iklan dan mode itu. Tanpa dia omongkan, saya sudah tahu dari Ashok maupun Laxmi Devi bahwa Avijja adalah orang yang suka bicara soal perempuan seolah-olah dia adalah laki-laki tanpa tanding, meski dari beberapa perempuan yang pernah diajaknya kencan diperoleh penjelasan bahwa jurnalis yang banyak uang itu gampang keok di atas ranjang. Dengan tubuh pendek dan perut membuncit seperti perempuan bunting, saya bisa menebak kalau Avijja secara anatomis memang tidak kuat di bidang begituan, karena postur-postur seperti dia dalam Kitab Kamasutra digolongkan sebagai kelompok kelinci yang memang mudah keok.
Dengan jawaban saya, Ahmed Bushra kelihatannya agak gugup. Karena itu dia buru-buru mengajak saya ke rumah Baba Mirza yang tak jauh dari kuil api Wadiaji, dan sepanjang perjalanan dia tidak lagi menyebut-nyebut soal Avijja. Saya sendiri tidak tahu, untuk apa Ahmed Bushra akan memperkenalkan saya dengan Avijja. Saya hanya menerka kalau dia sebenarnya ingin memperoleh kepercayaan dari saya karena punya kawan wartawan. Tapi, bagaimana pun saya tetap merasa tak tahu maksud-maksud tesembunyi dalam diri Ahmed Bushra.
Ketika kami memasuki teras rumah Baba Mirza, saya lihat wajah Ahmed Bushra berubah cerah. Dia membisikkan agar saya memasukkan uang sekadarnya ke kotak amal yang diletakkan di tengah pintu masuk. Dia mengatakan bahwa semakin saya banyak memberi uang, maka rezeki saya akan semakin banyak. Dengan agak jengkel karena merasa tertipu, saya mengeluarkan uang 25 rupee untuk saya masukkan kotak. Tetapi baru saja uang itu mau saya masukkan, tiba-tiba Ahmed Bushra menyambarnya sambil membisikkan omongan bahwa dia ingin memasukkan uang saya sekalian dengan uangnya agar kami berdua beroleh berkah.
Saya tahu bahwa Ahmed Bushra sebenarnya tidak memasukkan uang ke kotak. Ia menyelipkan uang saya ke saku celananya meski tangannya berbuat seolah-olah memasukkan uang ke kotak. Dalam hati saya mengumpat keterkutukan seekor bajingan bernama Ahmed Bushra ini. Saya mendadak ingat seorang bajingan tengik di daerah Suci-Gresik yang bernama Anam yang rajin sembahyang dan dzikir di masjid tetapi suka pula mencuri uang di kotak masjid dan menipu orang-orang di sekitar masjid. Orang-orang macam begini memang dibekali Allah kepandaian untuk menipu. Dan kepandaian orang macam ini adalah semata-mata sebagai jalan bagi kesesatannya sendiri.
Sekalipun saya agak jengkel dengan ulah Ahmed Bushra, saya tak menggubrisnya, sebab saya lebih suka memandangi suasana seram rumah Baba Mirza yang kayu-kayu di langit-langit rumahnya dilepoti jelaga. Suasana wangi dupa secepat kilat menyergap hidung saya. Sementara kepulan asap tipis memenuhi ruangan dengan suara orang menggumam seperti dzikir.
Di ruang tengah rumah Baba Mirza saya melihat sekitar empat orang laki-laki yang bersimpuh mengelilingi seorang lelaki bersurban putih dengan janggut lebat menutupi separo wajah. Lelaki berjanggut lebat tu tentulah Baba Mirza. Usianya sekitar 60 tahun, tapi masih tampak kokoh. Matanya yang berkilat seperti menyimpan daya magis. Dia duduk bersila membelakangi sebuah tungku api yang berkobar, sehingga sepintas kilas tubuhnya bagai keluar dari kobaran api. Mulut Baba Mirza terdengar terus menggumamkan suara hingga mirip orang menggerutu atau dengung lebah. Tangan kanan dan tangan kirinya sesekali terlihat diangkat dan diputar-putar dalam gerakan setengah lingkaran.
Di antara ke empat lelaki yang mengelilingi Baba Mirza, ternyata hanya seorang yang saya kenal, yaitu Avijja yang duduk bersila dengan perut membuncit ke depan dan pipi menggembung mirip kera menyimpan makanan di mulut. Ahmed Bushra membisiki saya, dan mengatakan bahwa kedatangan Avijja ke Baba Mirza adalah untuk meminta berkah dan kewibawaan serta pengasihan, agar dia disegani kawan-kawan seprofesinya tapi makin dicintai oleh atasannya.
Saya sendiri sebenarnya tidak percaya dengan hal dukun berdukun seperti yang pernah diungkapkan Ashok dan Laxmi, di mana mereka mengatakan bahwa Avijja selalu menggunakan jasa dukun untuk menundukkan pimpinannya. Semula saya menganggap omong kosong saja keterangan Ashok dan Laxmi. Tetapi dengan melihat sendiri kenyataan itu, mau tidak mau saya agak termakan juga oleh berita kasak kusuk itu.
Di sebelah kiri Avijja duduk seorang laki-laki berusia sekitar 53 tahun dengan tubuh agak ditegakkan. Menurut Ahmed Bushra laki-laki itu bernama Moha-sha, seorang profesor yang terkenal sombong dan selalu merasa diri lebih pintar daripada profesor lain, meski kenyataannya tidak demikian. Kalau benar laki- laki itu adalah profesor Moha-sha, maka saya sedikitnya pernah mengetahui dari Ahmed Arshad, kawan kuliah Laxmi Devi yang sering berbincang-bincang dengan saya.
Profesor Moha-sha, menurut Arshad, sebenarnya orang yang memiliki pribadi menarik. Kalau ada mahasiswa yang sakit, tanpa segan-segan sang profesor akan menjenguk sambil membawa sekadar oleh-oleh. Dengan nasehat ini itu, dia memberi pengarahan kepada si sakit seperti saat dia memberi kuliah. Anehnya, begitu tutur Arshad, meski Moha-sha seorang profesor, dia terkenal amat anti dunia medis. Dia menganggap ilmu kedokteran sebagai ilmu spekulasi yang berbahaya, di mana dokter-dokter gampang ngomong soal bedah membedah. Dan di dalam banyak hal lebih suka menggunakan jasa ilmu perdukunan.
Yang paling tidak disukai banyak orang dari pribadi profesor Moha-sha adalah watak congkak dan arogansinya yang berlebih-lebihan. Dia selalu memandang bahwa tidak boleh ada orang lain yang lebih pintar dari dia. Dan sifat lain yang amat memuakkan, dia suka sekali memperalat orang lain untuk kepentingan pribadinya. Beberapa orang kawan Laxmi seperti Ahmed Kareem, Ishak, Rajanikant, Noor Aruni yang merupakan bekas-bekas mahasiswa profesor Moha-sha selalu mengeluh dengan sifat busuk sang profesor itu.
Ishak misalnya, sering dianggap sebagai kacung yang bekerja di biro iklan, di mana dia selalu kebagian tugas dari sang profesor untuk membuat transparansi yang akan dipakai di Over Head Projector (OHP). Dengan tanpa mempertimbangkan kesibukan orang lain, Ishak yang dianggap kacung itu langsung diberi tugas-tugas membuat setumpuk transparansi dengan jangka waktu pendek. Alhasil, tiada waktu bagi Ishak tanpa membuat transparansi dan media-media pengajaran yang lain. Dan Ishak pun pernah harus menjual baju dan celananya gara-gara membeli transparansi dan spidol serta peralatan lainnya untuk menggarap pesanan gratis sang profesor.
Kalau sudah bicara soal Kareem, Rajanikant, dan Noor Aruni, maka mereka itulah kacung-kacung yang selalu ditindas oleh sang profesor, sehingga tanpa sadar, dalam setiap kesempatan mereka selalu berusaha menjelek-jelekkan sang profesor.
Profesor Moha sendiri, begitu menurut Kareem, selalu berusaha menggiring mahasiswa-mahasiswanya untuk menguji dirinya. Dia dengan berbagai macam cara berusaha memperoleh puja dan puji dari orang-orang sekitarnya, terutama dari mahasiswanya. Dia, bahkan tanpa malu-malu menceritakan segala kelebihan dan kecemerlangan dirinya di depan siapa saja. Dan dia baru kelihatan puas apabila para mahasiswanya mendecakkan mulut sambil mengangguk-angguk takjub dengan bualannya yang sering absurd itu.
Kalau ada mahasiswa yang minta dibimbing tesis olehnya, maka tak ayal lagi mahasiswa itu akan diperlakukan sebagai kacung dungu yang tidak bisa berpikir. Biasanya, dia hanya membuka waktu bimbingan pada hari Senin dan Kamis. Dan kalau ada mahasiswa menyerahkan rancangan tesisnya, maka tanpa dibaca lagi, langsung akan dioret-oret dan disalah-salahkan dengan tanpa memberitahu bagaimana susunan yang betul. Dia memang dikenal sebagai profesor yang paling suka mengoret-oret tesis mahasiswa tanpa memberi penjelasan atau menerima alasan sang mahasiswa, di mana proses bimbingan pada akhirnya berlangsung satu arah. Dengan demikian, untuk bab pendahuluan pun paling tidak seorang mahasiswa harus berkonsultasi sampai sepuluh kali. Artinya, mahasiswa itu mesti mengubah tesisnya yang sudah dioret-oret sepuluh kali.
Rahasia kegemaran oret-mengoret tesis itu baru dipecahkan oleh Ahmed Arshad. Kisahnya, ketika dia mengajukan usulan tesis, hampir separo dari catatan kaki yang dibuatnya mengutip diktat-diktat dan buku-buku sang profesor. Bahkan, Arshad yang kocak itu memasukkan pula catatan-catatan perkuliahan sang profesor sebagai catatan kakinya yang diberi catatan "wawancara khusus". Rupanya, dengan siasat semacam itu Arshad menjadi pemegang rekor sebagai mahasiswa yang paling sedikit rancangan tesisnya dioret-oret.
Keanehan sifat Profesor Moha-sha yang sebenarnya memuakkan adalah kegemarannya mencari popularitas dengan memanggil wartawan-wartawan agar bisa konsultasi dengannya dalam berbagai hal. Tanpa malu sedikit pun, dia akan menelepon seorang wartawan dan bicara ngalor-ngidul dalam suatu urusan yang sering kali tidak menarik dan berita yang basi dan dia merasa kecewa setelah hasil wawancaranya tidak dimuat di koran, tanpa dia sadar bahwa ia sebenarnya telah memaksakan kehendaknya untuk memuatkan berita-berita basi yang tidak aktual. Dan anehnya, dengan berbagai pengalaman yang tidak mengenakkan itu, dia tidak pernah kapok; artinya, dia terus saja meneleponi wartawan-wartawan dan mengajak mereka untuk mewawancarainya dalam soal kasus-kasus basi yang sama sekali tidak aktual.
Kecongkakan dan arogansi yang ditunjukkan Profesor Moha-sha memang berakibat mengenaskan baginya, meski hal itu tidak pernah disadarinya. Dalam kehidupan sehari-hari, dia tetap menampilkan diri sebagai orang yang paling nomor wahid, di mana hal itu terlihat dari caranya berjalan yang selalu membusungkan dada seperti seorang jenderal sedang melakukan inspeksi. Kalau kebetulan dia melihat sesuatu hal yang tidak sesuai dengannya, maka tanpa menunggu waktu dia akan bertolak pinggang memberi instruksi sambil menuding-nuding. Dia selalu kelihatan puas apabila melihat orang-orang yang didampratnya mengangguk-angguk ucap minta maaf, seolah-olah dari dialah sumber kebenaran itu berasal. Dan setelah memberi pitutur maupun petunjuk, Profesor Moha-sha pun dengan membusungkan dada akan menggoyang-goyangkan kepala ke kanan kiri penuh bangga.
Kearoganan Profesor Moha-sha itu pada gilirannya memang menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Sebab orang-orang di fakultas maupun di tempat lain yang mengenalnya sangat tidak menyukainya meski tidak terang-terangan. Di fakultas sendiri yang namanya profesor, doktor, dosen, mahasiswa, tenaga administratif hingga tukang sapu, tidak ada yang berkasak kusuk membicarakannya. Bahkan Profesor Moha-sha pernah satu ketika mencak-mencak ketika seorang doktor lulusan Amerika bernama Khalil Alif menulis cerpen di koran Bombay City mengenai kebusukan Profesor Moha-sha. Anehnya, sang profesor itu justru tidak pernah menyadari bahwa banyak sekali orang tidak menyukainya. Dia terus berjalan, menggelinding seperti robot dengan perasaan mengatakan bahwa semua orang mesti kagum dengan kehebatannya. Sungguh suatu kutub yang bertolak belakang antara apa yang dipikirkan dan dirasakannya dengan kenyataan yang diperolehnya.
Sang profesor yang secara langsung atau tidak langsung suka memuji-muji dirinya itu pada gilirannya terperangkap pada suatu persoalan yang rumit. Dia seperti terbelenggu oleh benteng-benteng yang didirikan untuk kemegahan dirinya sendiri. Kalau suatu saat dia menghadapi suatu problem yang berkait dengan perkembangan ilmu baru, maka dengan suara keras dia menyalak bahwa dialah yang paling tahu perkembangan ilmu tersebut. Dia selalu mengaku bisa dalam segala hal. Dan sebagai konsekuensinya, dia harus membaca bermalam-malam sekitar literatur perkembangan ilmu tersebut, meski sering untuk itu dia dijadikan bahan tertawaan secara diam-diam oleh banyak orang.
Gelar keprofesoran, ternyata telah memerangkap dia ke suatu mitos celaka yang menyatakan bahwa profesor adalah semacam gelar dari Tuhan, dalam arti seorang profesor harus tahu segala hal dan tidak bisa salah. Karena keyakinan keblinger itulah, maka profesor kita ini sering mengidentifikasikan diri sebagai dewa yang waskita dan wajib disembah serta dipuja-puji. Dia tanpa sadar sudah mengingkari kodrat kedlaifan dan ketidaksempurnaan manusia. Dia merasa bahwa sebagai profesor dia wajib disebut sebagai sumber kebenaran. Fatwanya adalah kebenaran. Analisisnya adalah kebenaran. Bahkan dia merasa, dialah satu-satunya manusia yang pantas untuk dipuja-puji sebagai sumber dari segala sumber kebenaran, sehingga sering dia menelpon wartawan untuk memuat fatwanya di koran, meski hal itu jarang termuat. Dan bagi dia, dimuat atau tidaknya fatwanya di koran adalah urusan nomor dua, yang jelas dia merasa puas karena bisa mendikte dan memfatwai wartawan.
Ahmed Arshad yang sudah mengenal Profesor Moha-sha bertahun-tahun, sering tanpa sadar terbius oleh ketegaran sang profesor dalam menegakkan panji-panji kebanggan diri. Sering, Arshad membayangkan Profesor Moha-sha hadir begitu saja saat dia sedang sembahyang atau dzikir. Dalam bayangan itu, begitu Arshad ngomong, dia membayangkan Profesor Moha-sha melarangnya untuk memuji-muji kebesaran Allah dan Nabi Muhammad. Sungguh mati, begitu Arshad bersumpah, dia sering dibayangi sosok Profesor Moha-sha yang memerintahkan dirinya agar mau memuja-muji kehebatan dan kebesaran sang profesor.
Apa yang dialami oleh Arshad itu, setelah diperiksakan ke psikiater, dikatakan sebagai proses pergeseran kesan yang terjadi di alam bawah sadar Arshad karena terpengaruh sikap Profesor Moha-sha yang haus kehormatan dan pepujian yang dengan berbagai macam cara berusaha untuk mendapatkannya. Dan tanpa sadar, Profesor Moha-sha telah memberhalakan dirinya sebagai Tuhan pemilik puja dan puji.
Dengan berbagai cerita tentang Profesor Moha-sha saya akhirnya menarik kesimpulan bahwa lelaki itu justru akan mengalami katastrofe psikis apabila menjelang masa pensiun. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kesepian dan kecewanya dia apabila sudah dipensiun. Bahkan saya yakin, begitu dia dipensiun, maka dia akan Syndrome Power.
Sekarang ini, yang saya herankan, kenapa Profesor Moha-sha yang sudah memper-Tuhankan dirinya itu bisa berada di depan Baba Mirza seperti pesakitan meringkuk di depan hakim. Mungkin, pikir saya, dia meminta bekal tertentu dari Baba Mirza agar dirinya bisa berwibawa dan ditakuti serta dipuja-puji oleh semua orang. Tapi bisa juga dia sedang berobat, karena dia lebih suka berobat ke dukun-dukun daripada ke dokter.
Ketika saya sedang membayang-bayangkan Profesor Moha-sha, tiba-tiba saja Baba Mirza mengangkat tangan ke atas dengan mulut mengeluarkan semacam erangan, mirip gerakan harimau. Sedetik kemudian, tangan-tangannya digetarkan dan matanya hanya kelihatan putih tanpa manik-manik. Mereka yang berada di sekitar Baba Mirza tampak meringkuk dan terkesima tanpa daya oleh gerakan magis Baba Mirza. Ahmed Bushra yang duduk bersila di sisi saya, bahwa Baba Mirza sedang memanggil ruh Salman Rusdhie.
"Siapa yang menyuruh panggil Salman Rusdhie?" tanya saya ingin tahu.
Ahmed Bushra menunjuk ke arah Tuan Bhavasava, seorang laki-laki tambun berkepala botak berhidung bengkok mirip burung kakak tua. Tuan Bhavasava adalah seorang pengusaha yang memiliki beberapa pabrik di Bombay dan Calcuta. Dia, menurut Ahmed Bushra, adalah orang yang sangat fanatik beragama dan suka berderma membantu orang-orang miskin. Tuan Bhavasava dikenal sebagai tokoh dermawan yang tiada banding karena selalu membantu pembangunan masjid, rumah yatim, panti asuhan.
Kefanatikan Tuan Bhavasava makin kelihatan ketika dunia digegerkan oleh Salman Rusdhie yang mengarang novel The Satanic Verses, di mana tanpa bilang bah atau buh lagi Tuan Bhavasava langsung mengirim pembunuh-pembunuh bayaran ke London untuk menghabisi Salman Rusdhie. Sikap Tuan Bhavasava dalam mengantisipasi kasus Salman Rusdhie itu tentu saja menjadikan namanya makin harum sebagai pahlawan pembela Islam yang tanpa tanding.
Tuan Bhavasava sendiri dengan kedudukannya sebagai tokoh terpandang, secara sadar atau tidak sadar telah terperangkap ke suatu lingkaran memabukkan atas kebanggaan diri. Dia secara diam-diam menganggap bahwa tidak ada orang di bawah langit ini yang sudah berbuat begitu banyak terhadap Islam kecuali dirinya. Dia selalu menganggap bahwa pembangunan masjid atau panti asuhan tidaklah bisa berlangsung apabila tanpa bantuannya. Dia merasa bahwa dialah manusia yang menentukan maju dan mundurnya dakwah Islamiyah di Bombay dan sekitarnya.
Kepada Ahmed Bushra, Tuan Bhasavasa sering bercerita bahwa sebagai dermawan dia sudah menanam benih-benih pahala yang mulia di akhirat, di mana pada akhir zaman nanti dia tinggal menuai hasilnya. Dia, tutur Ahmed Bushra, selalu membayangkan limpahan pahala yang diperolehnya dari amal perbuatannya atas ketaatannya pada perintah agama, di mana pahala itu selalu dibayangkan seperti tumpukan gunung-gemunung yang akan membuat hidupnya di akhirat penuh kenikmatan. Dia senantiasa yakin bahwa dengan pahalanya itu, Allah akan membuatkannya sebuah istana indah dengan 40 buah pintu, dan dia duduk sebagai raja diraja yang disanjung dan dilingkari bidadari-bidadari.
Tuan Bhavasava pernah bercerita kepada Ahmed Bushra bahwa dia adalah ahli surga yang sudah terjamin kehidupannya di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, tuturnya pada Akhmed Bushra, dia selalu beramal sebanyak-banyaknya.
Tuan Bhavasava sering menasehati Akkmed Bushra agar sering beramal seperti dirinya. Sebab, menurutnya, dia sudah membuktikan bahwa setiap kali dia beramal dalam kebaikan maka hartanya semakin bertambah, sehingga dia selalu beramal tanpa menghitung-hitung. Bahkan dengan bangga Tuan Bhavasava menceritakan kepada Ahmed Bushra bahwa berbagai panti asuhan di Bombay dan Calcuta akan gulung tikar apabila tidak diberinya bantuan bulanan dalam jumlah yang cukup besar. Masjid-masjid pun akan terbengkalai apabila pembangunannya tidak didukung dana darinya.
Ahmed Bushra sendiri sering melihat Tuan Bhavasava mengunjungi rumah yatim piatu untuk berbicara panjang lebar mengenai berbagai rencananya yang muluk-muluk. Para pengurus rumah yatim piatu biasanya hanya manggut-manggut sambil memuji kebaikan hati Tuan Bhasavasa, dan sepengetahuan Ahmed Bushra, pengurus rumah yatim piatu yang paling pintar memuji dan membicarakan semua amal kebaikan Tuan Bhavasava, bisa dipastikan akan memperoleh jatah yang paling besar. Sehari-hari, begitu yang diketahui Ahmed Bushra, Tuan Bhavasava selalu terlihat duduk berlama-lama di depan komputernya untuk mengalkulasi segala amal yang telah dikeluarkannya bagi kepentingan agama.
Ahmed Bushra juga sering melihat Tuan Bhavasava mendatangi rumah beberapa mullah untuk meminta keterangan sekitar kelipatan pahala dari amal di dunia untuk memperoleh imbalan kebaikan di akhirat. Dan Akhmed Bushra sering melihatnya mengalkulasi di komputernya kelipatan-kelipatan amalnya dari kelipatan 27, 10, 270, 600 sampai tak terhingga. Biasanya, begitu kata Ahmed Bushra, Tuan Bhavasava akan kelihatan puas wajahnya setelah mencetak dengan printer hasil kalkulasi pahalanya. Ahmed Bushra sering melihatnya melompat-lompat setelah membaca lembar demi lembar catatan pahalanya. Mungkin, tutur Ahmed Bushra, Tuan Bhavasava akan tidur nyenyak setelah menghitung hitung.
Bayangan Tuan Bhavasava mendadak lepas dari benak saya ketika Baba Mirza meraung keras dengan tangan menggapai ke atas. Saya tersentak kaget, dan melihat Baba Mirza menyandarkan tubuh di dinding tungku apinya dengan napas tersengal-sengal. Sedetik kemudian dia menggumam dengan suara menggeletar seolah-olah suara itu bukan suaranya sendiri.
Seorang lelaki kurus yang tampangnya mirip Salman Rusdhie yang menurut Ahmed Bushra bernama Vinod Kamasava tampak beringsut mendekati Baba Mirza. Dengan suara gemetar Vinod Kamasava menggumam, "Kaukah itu Salman?"
"Kau siapa?" tanya Baba Mirza dengan nada curiga.
"Aku Vinod Kamasava, saudara sepupumu," sahut Vinod ramah, "Lupakah kau pada masa kecil dulu selalu bersama?"
"Aha Vinod… Aku sekarang ingat," seru Baba Mirza dengan suara mirip Salman Rusdhie, "Bukankah dulu kita sering membolos sekolah? Kau tentu masih ingat ketika kita naik kereta api pulang balik dari stasiun Sandhurst ke stasiun Byculla?"
"Ya, ketika berlari-lari di atas gerbong?"
"Aku yang paling berani, kan?"
"Kau memang hebat, Salman," Vinod memuji. "Kau masih ingat tentunya, kita sering ke terminal
Maharashtra?"
"Aku ingat sekali," seru Vinod dengan mata berbinar penuh kegembiraan, "Bukankah engkau pernah mencuri apel dan kita berdua diuber-uber orang?"
"Kau mungkin sudah lupa, Vinod. Waktu itu aku mencopet dompet orang, sedang yang mencuri apel kamu. Aku berhasil menyambar dompet dengan bebas, tapi kau yang justru ketahuan, kawan. Dan kita pun diuber-uber sambil diteriaki maling."
Baba Mirza yang kerasukan ruh Salman Rusdhie itu tertawa terbahak-bahak diikuti Vinod. Sementara mereka yang melihat kejadian itu menatap takjub penuh keheranan.
Tuan Bhavasava yang melihat Vinod bicara melantur dengan Salman Rusdhie, mendadak mendekat sambil berbisik. Vinod bagai tersadar dan buru-buru mendekati Baba Mirza yang kesurupan ruh Salman Rusdhie.
"Salman," gumam Vinod Kamasava, "Aku tahu engkau sekarang sedang dilanda kegelisahan karena novelmu banyak dikutuk orang."
"Bahkan sekarang ini, aku tidak bisa berbuat banyak."
"Kenapa kau membuat novel macam itu, Salman?"
"Panjang ceritanya, Vinod."
"Boleh aku mengetahuinya?" tanya Vinod dengan nada ingin tahu, "Aku pikir, sekarang ini engkau butuh seseorang yang bisa kau ajak bicara. Kukira aku bisa memahamimu."
Baba Mirza yang bagai kerasukan ruh Salman Rusdhie itu kelihatan menunduk sedih. Kemudian dia menangkupkan kedua tangannya menutupi wajah. Dan mulailah ruh Salman Rusdhie bercerita tentang berbagai kepedihan hidup yang dialaminya. Dia menceritakan bahwa sejak kecil dia sudah memperoleh perlakuan tidak adil dari ayahnya. Ayahnya, begitu tuturnya, sangat memusuhi dan sering menghukumnya. Bahkan tak jarang dia dimaki-maki ayahnya sebagai anak busuk yang sesat.
Perlakuan ayahnya yang keras dan membencinya itu, menyebabkan Salma Rusdhie jadi kecewa dan liar. Dia sering membolos sekolah dengan mengajak Vinod Kamasava. Dia sering mencuri buah-buahan di pasar atau sekadar mencopet di terminal. Dia selalu merasa tidak kerasan tinggal di rumah karena ayahnya seperti seorang polisi yang selalu mengintainya seakan-akan dia adalah bajingan tengik yang paling busuk.
Salman Rusdhie mengaku bahwa dia tidak sedikit pun merasa bersalah dengan ulahnya dalam membolos sekolah, mencuri buah-buahan, mencopet di terminal, mencuri uang ibunya, atau sekadar mengintip tetangga-tetangganya yang mandi. Semua kenakalannya adalah akibat sikap sang ayah otoriter dan memusuhinya. Dia mengaku sangat dendam dengan sang ayah.
"Saya tahu, ayah sengaja membuang saya," keluh Salman Rusdhie mengenang saat-saat dia digiring ke Inggris. Kemudian dia menceritakan kesengsaraan demi kesengsaran yang dialaminya sebagai anak India yang diperlakukan tidak layak oleh anak-anak Inggris yang angkuh dan congkak. Di mata anak-anak Inggris, ungkapnya, dia dianggap tidak lebih tinggi dibanding anak-anak negro yang diolok-olok sebagai boneka Dakochan, yang apabila besar nanti hanya akan menjadi jongos, kacung, sopir atau kuli pelabuhan.
Kesumat Salman Rusdhie terhadap sang ayah makin memuncak ketika sang ayah dengan sengaja menyendat-nyendat pengiriman uang untuknya. Untuk bisa bertahan hidup dengan sisa uang yang dimilikinya, maka dia mulai ikut-ikutan menjadi pengecer ganja dari satu sekolah ke sekolah lain. Sebagai pengecer ganja, sering dia dihajar anak-anak nakal dari berbagai gang atau sekadar ditipu pengecer lain. Dan satu ketika Salman Rusdhie mengaku dihajar sampai setengah mati oleh sebuah jamaah di masjid London karena dia kedapatan mengedarkan ganja di antara anak-anak masjid.
Kebencian Salman Rusdhie terhadap agama Islam makin mengakar di hatinya. Dia menganggap ayahnya jahat karena dipengaruhi ajaran Islam. Dia juga menganggap bahwa orang-orang masjid yang jahat pun dipengaruhi ajaran Islam. Pokoknya, menurutnya, ajaran Islam sangat tidak toleransi dan menyakiti dirinya.
Dalam usia 15 tahun Salman Rusdhie memutuskan untuk tidak lagi menggeluti dunia kepengeceran ganja. Dia mencoba memasuki dunia gigolo untuk memuasi nyonya-nyonya besar dari kalangan atas di London. Sejak menggeluti dunia per-gigolo-an, nasibnya agak baik, di mana dia mampu bersekolah dengan membawa mobil sendiri. Tapi celakanya dengan predikat gigolonya, kawan-kawan perempuan Salman memberinya olok-olok sebagai gigolo penyebar penyakit kelamin.
Belum tiga tahun Salman Rusdhie bertualang dari pelukan perempuan satu ke pelukan perempuan lain, dokter menyatakan dia terkena sipilis. Hampir sebulan dia harus pulang balik ke dokter untuk mendapat suntikan Salvarzan. Menurut advis dokter, dia dilarang berganti-ganti pasangan. Dokter bahkan sempat manakut-nakuti, bahwa apabila dia masih menjalin hubungan berganti-ganti, akan mengakibatkan kebutaan. Oleh sebab itu, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, dalam tempo setahun Salman hanya melakukan masturbasi.
Selama menjalani waktu kosongnya, Salman mengaku menjalin hubungan dengan Clarissa Luard, seorang Call-girl yang terkenal di kawasan lampu merah Soho sebagai Miss Special-oral. Mereka menjalin hubungan tak kurang dari tiga tahun sampai Clarissa hamil dan Salman terpaksa mengawininya. Hubungan Salman Rusdhie dan Clarissa menjadi retak ketika istrinya masih sering menjalin hubungan dengan para bekas pelanggannya, sebab Salman Rusdhie sendiri ternyata selalu mengalami "ejakulasi dini" dalam menggempur istrinya. Perkawinan mereka pun pecah ketika Salman Rusdhie mendapati kenyataan bahwa anak yang dilahirkan Clarissa ternyata berbeda jauh jenis darahnya dengannya. Salman Rusdhie merasa telah dikecoh.
Salman Rusdhie yang merasa tertipu itu mulai menggeluti dunia lampu merah. Setelah bertahun-tahun dia kehilangan kepercayaan kepada aetiap orang, dia berkenalan dengan seorang pengarang bernama Marianne yang janda dan memiliki seorang anak gadis. Setelah melakukan "kumpul kebo" selama tiga tahun, awal tahun 1988 Salman Rusdhie mengawininya. Tetapi kemalangan terus memburu Salman Rusdhie, di mana istri barunya yang janda itu ternyata masih sering berganti-ganti pasangan di luar, karena Salman Rusdhie selalu mengalami "ejakulasi dini".
Kekecewaan Salman Rusdhie makin menanjak ketika istrinya menjalin keintiman dengan seorang pelatih yoga-tantra yang bernama Abdel Faristha. Tampaknya Abdel Farishta mengajarkan teknik-teknik yoga-tantra kepada Marianne khususnya yang menyangkut praktik Maithuna dan Mudra. Bahkan pada gilirannya, anak Marianne pun menjadi siswi yang setia dari Abdel Faristha.
"The Satanic Verses itulah manifestasi berjuta-juta kekecewaanku terhadap kekecewaan hidup. Aku merasa bahwa Allah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad telah memberi nasib yang buruk untukku, karena itu aku menggugat dengan caraku. Aku menggugat dan menyatakan bahwa segala apa yang kualami adalah sepenuhnya jalan hidupku sendiri. Tuhan tidak berhak menentukan nasibku, sebab Tuhan sudah kuanggap mati sebagaimana Nietzsche pernah menyatakannya."
"Kau bertobatlah Salman!" seru Vinod Kamasava. "Tobat?" gumam ruh Salman Rusdhie, "Tobat pada
siapa?"
"Tobat kepada Allah!"
"Bukankah Tuhan sudah mati? Bukankah orang-orang yang mengaku nabi adalah pendusta besar? Bukankah saya menderita karena kejahatan orang-orang Islam, termasuk ayahku?"
"Kau bajingan tengik!" seru tuan Bhavasava melonjak sambil mendekati Baba Mirza dengan ancang-ancang hendak memukul dan menendang. Tapi secepat kilat Avijja merangkulnya dan berusaha menyadarkan apa yang terjadi hanyalah ruh dari Salman Rusdhke yang bicara. Oleh sebab itu kalau Tuan Bhavasava marah dan memukul, maka yang akan kesakitan tentulah Baba Mirza. Rupanya Tuan Bhavasava menyadari keterburu-buruannya, buru-buru dia duduk kembali di sisi Profesor Moha-sha.
Baba Mirza sejenak mengejang tubuhnya, kemudian dengan mengusap peluh di kening dia berkata, "Salman Rusdhie ternyata amat ketat. Bukan cuma Scotland-Yard yang menjaganya, tetapi dukun-dukun Vodoo dari Haiti pun ikut menjaga."

SHARE:

Comments

Recent Posts

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA BELAS)

Angin bertiup kencang menaburkan hawa maut ke segenap penjuru bumi. Gelombang samudera menggemuruh dengan suara ombak berdentum-dentum menggempur batu karang yang tegak menjulang

Hachi

Hachi

Bila hati ini mungkin bisa di wakili oleh sebuah tempat, misal kan rumah.Rumah yang telah kau tinggalkan.Rumah yang segala perabotannya berantakan walaupun tanpa

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA)

"Kalau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!"Kembali bisikan misterius itu membentur pedalaman saya bagai kilatan halilintar, yang belakangan ini justru semakin sering

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

"Kalau engkau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!”Bagai kilatan cahaya petir, bisikan misterius itumembentur gugusan telinga batin saya tanpa dapat

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Dening: Suparto BrataDiamput! Sepatuku ilang ndhuk mejid. Iki gara-gara sholat Jumat ndhuk mejid enyar cedhake kantorku. Diamput, ejik enyar wis nggawa korban!

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

Sejak melewati pengalaman menggetarkan bersama ruh mereka yang sudah berada di alam barzakh, segala sesuatu secara berangsur-angsur saya rasakan mengalami perubahan pada diri

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Ramadhan dan lebaran selain tentang hal puasa dan mudik juga sebagai pemantik kenangan saat bulan puasa dan lebaran tahun sebelum-sebelumnya. Itulah yang dirasakan Rahwana

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA)

"Kalau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!"Bisikan misterius itu kembali mengganas sepertimenjebol dinding-dinding otak saya. Namun karena kebetulan saya