Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA)

  • 2018-07-21 21:06:43
  • 428

"Kalau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!"
Bisikan misterius itu kembali mengganas seperti
menjebol dinding-dinding otak saya. Namun karena kebetulan saya membicarakan soal Ita Martina dengan Mat Aksan, maka saya merasa bahwa sebaiknya saya alihkan saja bisikan itu dengan menghunjamkan pikiran saya ke kilasan bayangan Ita Martina. Sungguh, bagi saya membayangkan sosok Ita Martina lebih baik daripada diburu-buru bisikan laknat itu. Dan seperti biasa, imajinasi saya pun mulai terbang ke gugusan awan kapas mendendangkan musik indah dari kerajaan surgawi, dengan sosok Ita Martina menari-nari gemulai di lingkaran imaji saya.
Saya sendiri tidak tahu pasti apakah Ita Martina yang sekarang ini masih seperti Ita Martina sepuluh tahun silam, gadis pemalu yang tidak suka bicara, mudah gugup, tak suka bergaul tapi kuat pendirian. Sifat Ita Martina yang introvet itu mau tidak mau telah membetot naluri saya yang suka menyingkap-nyingkap suatu kemisteriusan.

Jika diawali dari cerita awal, pada mulanya saya menganggap Ita Martina tidak lebih sebagai gadis cantik yang memang patut untuk ditaksir laki-laki nor- mal yang otak dan jiwanya waras. Hampir setiap laki- laki yang ada di kelas saya tak pernah luput membaui keharuman Ita Martina sebagai mawar indah, termasuk saya. Tetapi Ita Martina bagaikan mawar beracun yang dilingkari duri yang enggan dipetik. Dia laksana kuntum mawar yang tersenyum mengangguk- angguk, menertawakan kumbang-kumbang jantan yang mendengung di sekitarnya.
Keanehan Ita Martina itu benar-benar menjadi misteri bagi saya pribadi. Bahkan karena keanehannya, saya sering memperoleh kesan; jangan-jangan Ita Martina itu bukan manusia, tetapi sebaliknya adalah bidadari atau mahkluk aneh dari planet asing yang menjelma ke dunia sebagai manusia bernama Ita Martina. Dengan kesan semacam itu, sering saya kesankan Ita Martina memiliki sepasang sayap yang indah, dan tubuhnya tidak terbentuk dari bahan darah dan daging, tetapi dari sejenis lilin.
Kesan saya yang menganggap Ita Martina sebagai bidadari atau manusia planet bertubuh lilin, sekalipun tidak sesuai dengan nalar saya, toh pada gilirannya memojokkan saya ke suatu anggapan bahwa Ita Martina memang bukan manusia. Kulitnya yang kuning keputihan selalu saya kesankan sebagai lilin yang akan mudah leleh dan rusak apabila disentuh secara sembrono dan sembarangan. Dan sekalipun otak saya mengatakan Ita Martina adalah makhluk manusia yang tubuhnya terdiri dari darah dan daging, toh secara utuh saya mengesankannya sebagai lilin.
Karena kesan saya bahwa tubuh Ita Martina terbuat dari lilin, maka saya selalu merasa giris apabila dia bercanda dengan Surini, kawan sebangkunya. Kalau dia sudah bercanda dengan Surini, maka dia akan suka sekali mencubit. Dan saya mesti menahan napas apabila Surini membalas dengan cubitan, sebab saya merasa bahwa tubuh Ita Martina yang terbuat dari lilin itu tentu akan rusak apabila dicubit. Dan saya pun lantas memejamkan mata setiap kali melihat Surini mencubit Ita Martina, karena saya tidak bisa membayangkan bagaimana bekas cubitan itu akan bolong. Dan sungguh saya tidak bisa membayangkan, bagaimana dari tangan Ita Martina yang bolong itu akan mengalir cairan kuning yang hangat; cairan lilin.
Kesan saya bahwa Ita Martina bukan manusia pada gilirannya membuat saya terjatuh pada kesan yang sangat absurd tentangnya. Selain saya selalu ber- anggapan bahwa tubuh Ita Martina terbuat dari lilin, paling tidak tentulah dia tidak memiliki kodrat seperti sewajarnya makhluk jenis manusia. Artinya, saya selalu menganggap bahwa Ita Martina yang tubuhnya terbuat dari lilin itu tidak mungkin bisa berak, kencing, apalagi kentut seperti manusia. Saya benar-benar telah terperangkap pada imajinasi saya yang keliru, tetapi sulit saya hapus.
Dibayangi kesan keliru, satu ketika saya pernah memergoki Ita Martina memasuki kamar kecil sekolah yang letaknya bersebelahan dengan kantor tata usaha sekolah. Pikiran waras saya langsung mengatakan bahwa Ita Martina masuk ke kamar kecil mestilah hendak kencing atau sekadar berak. Tapi imajinasi dan perasaan saya menolak akal waras saya. Ita Martina, menurut imajinasi saya, tidak mungkin kencing, berak apalagi sekadar kentut di dalam kamar kecil itu. Dia adalah seorang bidadari. Dia adalah gadis aneh dari planet asing yang tubuhnya terbuat dari bahan lilin. Mana mungkin makhluk planet yang tubuhnya terbuat dari bahan lilin bisa kencing, berak, kentut?
Sekalipun otak saya berkata bahwa Ita Martina masuk ke kamar kecil sekolah adalah untuk kencing atau berak, toh perasaan saya tetap menolaknya. Saya tidak yakin bahwa Ita Martina bisa berak, kencing atau kentut. Karena itu, dengan mengendap-endap saya melesat ke kamar kecil sekolah yang diperuntukkan bagi siswa laki-laki yang letaknya bersebelahan dengan kamar kecil untuk siswi perempuan. Di dalam kamar kecil, buru-buru saya mendekati dinding pemisah kamar kecil laki-laki dan kamar kecil perempuan. Lalu secepat kilat saya tempelkan kuping saya ke dinding untuk mendengar suara-suara dari kamar kecil di sebelah, di mana Ita Martina berada.
Darah saya terasa macet seketika waktu mendengar suara semburan air memancar sayup-sayup di seberang dinding yang menandakan bahwa Ita Martina benar- benar sedang kencing. Saya termangu-mangu cukup lama mencari keterkaitan antara akal dan perasaan saya yang sulit dikompromikan itu. Akhirnya, akal saya menyimpulkan bahwa Ita Martina bagaimanapun adalah seorang manusia biasa, manusia yang tubuhnya terbuat dari bahan daging, manusia yang bias berak, kencing, dan kentut. Itu fakta. Jangan diputar-putar lagi dalam imajinasi liar. Celakanya, sejak kejadian itu, Ita Martina seperti mengetahui perasaan dan kecamuk pikiran yang menggejolak di dalam diri saya, sehingga untuk masuk ke kamar kecil pun dia mesti melihat- lihat apakah saya ada atau tidak. Kalau dia tidak melihat bayangan saya, maka dia akan masuk ke kamar kecil. Sebaliknya, kalau dia melihat saya, sampai usai jam sekolah dia tidak akan sudi masuk ke kamar kecil sekolah.
Terus terang, saya memang agak kecewa setelah mengetahui bahwa Ita Martina bisa kencing. Dan kekecewaan Saya itu makin meningkat ketika saya sering mendapatinya menyontek dalam setiap ulangan. Waduh, betapa lihainya dia kalau menarik buku dari bawah bangku. Tapi lagi-lagi otak saya mengatakan bahwa sebagai manusia adalah wajar kalau Ita Martina menyontek. Sementara jauh di lubuk hati saya, selalu tercekam kesan bahwa Ita Martina seharusnya pintar seperti bidadari atau gadis planet yang jenius, di mana dengan ucapan "abrakabrada" atau "alakazam", dia harusnya sudah mengetahui jawaban dari setiap soal yang diujikan. Tapi faktanya tidak demikian yang terjadi. Begitulah otak saya dalam merekam kesan, selalu Saya dapati tidak sejalan dengan perasaan saya, sehingga semua pikiran dan perasaan yang tidak selaras itu menjadikan saya kalang kabut dalam banyak hal.

Kecantikan Ita Martina yang membuatnya banyak ditaksir laki-laki, pada gilirannya memang menimbul- kan keiri-hatian kawan-kawan perempuan saya yang lain. Sering saya mendapati mereka ngrasani Ita Martina dengan hal-hal yang jelek, meski keadaan tersebut tidak mengurangi respek para laki-laki terhadap Ita Martina yang tidak suka mengobral diri. Ita Martina adalah Ita Martina; gadis aneh yang kolot, tradisional, alami, sok gengsi, angkuh, dan jual mahal meski tidak cerdas.
Sifat Ita Martina yang aneh tetap tidak menurun- kan kesan saya terhadapnya. Sekalipun saya tidak lagi membayangkan dia sebagai bidadari atau gadis planet yang aneh, saya cenderung membayangkan dia sebagai puteri kraton antah berantah yang agung, pemalu, angkuh, dan suka jual mahal. Meskipun sudah saya kesankan sebagai puteri, saya tetap tidak bisa mem- bayangkan bahwa tubuhnya terdiri dari daging yang dilapisi kulit lembut. Saya selalu mengesankan bahwa tubuh Ita Martina terbuat dari lilin. Dan itu sudah cukup membuat saya serba salah, sebab saya selalu men- dapat kesan bahwa saya akan selalu merusakkan tubuhnya apabila saya menyentuhnya. Bahkan dalam bayangan pun, saya tidak berani membayangkan dia menjadi pacar saya; karena saya takut kalau dia menjadi pacar saya, tubuhnya akan rusak oleh kekasaran saya ketika meraba, mengelus, meremas tangannya.
Dengan berbagai kenyataan terkait kesan saya tentang Ita Martina tersebut, saya akhirnya hanya bisa menyimpan sosok Ita Martina dalam relung-relung imajinasi Saya. Tetapi demi Tuhan, saya tak pernah membayangkan dia seperti keiblisan saya. Paling jauh, saya hanya berani membayangkan bisa mencium pipi Ita Martina, itu pun dengan kehati-hatian luar biasa karena saya khawatir pipinya tertekan keras dan melesak ke dalam. sungguh saya tidak bisa membayangkan, bagaimana Ita Martina dengan pipi penyok seperti bumper mobil sedan ketabrak truk. Saya pun tidak mampu membayangkan akan mencium bibirnya dengan sangat bernafsu, sebab saya takut bibirnya akan putus oleh ciuman saya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Ita Martina tanpa bibir.
Sekarang ini, setelah sepuluh tahun tidak pernah lagi bertemu karena Ita Martina sudah bekerja di luar kota, saya sadari bahwa kesan saya tentangnya selama itu ternyata keliru. Hal itu baru saya ketahui setelah saya beromong-omong dengan Surini, teman duduk sebangku Ita Martina. Betapa Surini mengungkapkan bahwa Ita Martina tidaklah selemah yang sering dibayangkan orang selama ini, termasuk yang saya bayangkan. Ita Martina, menurut Surini, memiliki tenaga yang luar biasa kuatnya. Dulu, katanya, waktu ada pelajaran olahraga dengan lari keliling lapangan, Surini mengaku sudah hampir putus napasnya waktu keliling lapangan dua kali, tetapi Ita Martina dengan tenang terus melaju seperti seekor kuda betina, mengitari lapangan sampai lima kali.
Saya tentu saja kaget dengan keterangan Surini itu. Tapi, bagaimanapun saya mesti percaya, karena Ita Martina memang kelihatan kukuh tubuhnya meski saya mengesankannya seperti lilin. Dan Surini pun menceritakan, betapa dia pernah diremas lengannya oleh Ita Martina sampai dia meringis kesakitan. Menurutnya, remasan tangan Ita Martina hampir mirip dengan catok baja yang bisa meremukkan tulang belulang. "Waktu itu saya tanya apakah Ita ikut karate?" gumam Surini mengenang, "Tapi dengan mata mendelik, dia menyatakan tidak ikut bela diri apapun."
Begitulah dari kenyataan demi kenyataan, akhirnya Surini mendapat kesan bahwa Ita Martina sejatinya adalah seorang Bionic Woman. Bahkan Surini pernah bercerita kalau Ita Martina pernah suatu kali menekuk sebatang besi dan meremukkan batu dengan hanya diremas-remas. Surini juga menyaksikan bagaimana dinding penyekat kantin yang terbuat dari batu bata roboh berantakan gara-gara disenggol Ita Martina. Sungguh, ini informasi yang luar biasa yang menggugurkan semua kesan yang sudah saya bangun bertahun-tahun. Tetapi, benar dan tidaknya penuturan Surini, saya tetap sulit menghapuskan kesan ke-lilin-an tubuh Ita Martina. Bagi saya, Ita Martina tetaplah gadis lilin yang gampang rusak bila disentuh.
Nah, ketika jiwa saya makin dicakari oleh bisikan setan terkutuk itu, saya berusaha mencari suatu pegangan yang bisa saya pakai untuk melenyapkannya. Dan pegangan itu yang saya kira relevan adalah Ita Martina, yang sepengetahuan saya belum kawin meski umurnya tergolong tua untuk ukuran gadis Jawa. Ya, umur 28 tahun memang sudah dianggap lajang bagi kebiasaan pandang orang Jawa, meski saya tidak tahu apakah Ita Martina memang tidak mau kawin dengan manusia karena dia adalah bidadari dari planet asing. Yang jelas, saya merasa bahwa saya sekarang ini sedang mencari pegangan yang bisa saya pakai untuk me- nyingkirkan bisikan terkutuk yang hampir membuat saya gila itu.
Atas persetujuan kawan-kawan, termasuk Surini dan Mat Aksan, saya menyelenggarakan reuni kelas di rumah Badillan. Dan sungguh tidak saya bayangkan, Ita Martina ternyata datang juga. Saya heran, ternyata dalam tempo sepuluh tahun ini hanya tampang saya yang sudah berubah sangat drastis; mirip monyet tua yang penuh bulu-bulu putih seperti Resi Kapiwara. Sementara Ita Martina dan kawan-kawan yang lain masih sangat remaja meski gurat-gurat kedewasaan membayang di wajah mereka. Bahkan Ita Martina sendiri tampaknya seperti gadis berusia belasan tahun, yang hal itu terjadi mungkin karena dia tergolong bidadari yang selalu muda.
Kesan saya tentang Ita Martina ternyata tidak berubah secuil pun. Tetapi sekarang ini, lewat Surini, saya sedikit banyak mengetahui tentang dia. Misalnya saja, selama ini saya selalu menganggap bahwa Ita Martina memiliki kaitan dengan nama Martina Navratilova, tokoh kampiun tenis dunia. Tetapi kesan saya mestilah salah, sebab sewaktu Ita lahir, Martina Navratilova belum menjadi juara dunia tenis sehingga namanya tidak dikenal orang.

Menurut Surini, nama Martina berkaitan dengan bulan Maret di mana Ita Martina dilahirkan. Diam- diam saya kagum dengan bapaknya yang memberi nama Martina untuk mensublimasikan bulan Maret; sebab tentulah nama Ita akan lucu kalau semisal diganti Ita Maretina, Ita Maretinem, Ita Maret-Ini, dan Ita Maret-Itu. Dan nama Ita sendiri tampaknya disodok- kan begitu saja oleh bapaknya untuk menambah puitisnya nama itu, meski tidak tahu benar apa maknanya.
Setelah acara reuni itu, saya sempat kelabakan karena bisikan terkutuk itu terus saja memburu saya sehingga mau tidak mau saya harus memperkuat objek yang saya jadikan pegangan. Dan objek itu, yang sudah saya tetapkan adalah Ita Martina. Demikianlah, diam-diam saya mulai memburu Ita Martina seperti seekor kucing memburu tikus. Saya berusaha deteksi keberadaannya di rumahnya yang terletak di Lawang Sekateng XIII Nomer 1530. Kemudian saya pantau pula tempat kerjanya di Bank Perkembangan Kota di kota Jombang, tepatnya di Jl. Wahid Hasyim 1836. Akhirnya setelah memperoleh kepastian, saya pun menulis surat di mana dalam surat itu saya paparkan apa adanya tentang kesan saya terhadapnya. Dan gilanya, dalam surat itu saya kemukakan keinginan saya agar Ita Martina bersedia menjadi pacar Mat Aksan dan pacar saya. Bahkan dengan terus terang saya kemukakan betapa besarnya keinginan Mat Aksan dan saya untuk memilikinya.

Saya sungguh tidak bisa membayangkan, bagaimana apabila saya bisa memiliki Ita Martina sebagai istri. Yang jelas dengan tubuh Ita Martina yang terbuat dari lilin itu, saya akan bisa hidup dalam suasana yang penuh kreatif dan imajinatif, sehingga saya akan selalu setia menjadi suaminya dan dia akan tetap saya jadikan istri saya satu-satunya. Dan semua itu, tentu bertolak dari ke-lilin-an tubuh Ita Martina sendiri.
Terus terang, dengan tubuh Ita Martina yang terbentuk dari lilin itu, saya akan bisa mengembang- kan aspek kreatif dan imajinatif saya. Sehingga kalau dia menjadi istri saya, maka saya pun tentu akan bergembira ria. Satu saat, misalnya, saya akan bisa melumat-lumat tubuh Ita Martina hingga menjadi gumpalan lilin. Kemudian dari lilin itu akan saya bentuk model-model yang indah tiruan dari artis Kim Basinger, Kathleen Turner, Joddie Foster, Pamela Bordes, dan sederet perempuan cantik yang lain, sehingga saya benar-benar bisa menikmati banyak tubuh perempuan lewat tubuh Ita Martina yang terbuat dari lilin. Dan dengan kenyataan seperti itu, tentulah saya tidak akan pernah bosan memiliki istri yang tubuhnya bisa saya bentuk dalam berbagai wujud dan rupa sesuai imajinasi saya. Ahai, betapa nikmatnya memiliki istri yang tubuhnya bisa berubah-ubah dalam berbagai bentuk.
Membayangkan Ita Martina sebagai istri memang teramat indah meski sering harus absurd. Sebab sebagai manusia bionic yang bertubuh lilin, rasanya saya tidak perlu lagi menyiapkan dana khusus untuk pengobatan.

Bukankah manusia lilin tak perlu sakit? Kalaupun tubuhnya agak meriang, cukuplah beristirahat di tempat yang sejuk akan sembuh sendiri.
Celakanya, dengan kelilinan tubuh Ita Martina, saya tidak mungkin akan melakukan ibadah haji bersama Ita Martina. Sebab tubuhnya yang dari lilin itu tentulah akan leleh apabila dibakar matahari di Arab yang panasnya na’ udzubillah. Dan yang lebih celaka lagi kalau apa yang diomongkan Surini adalah benar; yakni Ita Martina sebagai perempuan yang memiliki kekuatan raksasa. Sungguh tangan saya bisa patah ditekuk-tekuknya. Rambut saya akan rontok apabila dijambaknya. Dan sungguh tak bisa saya bayangkan, bagaimana jadinya kalau dia marah dan saya dibanting dan diinjak-injaknya.
Sebenarnya, dengan semakin membayang- bayangkan Ita Martina, saya justru semakin merasa ngeri dan gentar. Sebab mau tidak mau saya mesti membayangkan dia sebagai mahkluk dari planet asing atau sekadar bidadari. Dengan demikian, saya seperti benar-benar dihadapkan pada mimpi buruk yang mengerikan; di satu sisi saya sangat mengharapkannya, tapi di sisi lain saya sangat ngeri dibuatnya. Tetapi, karena saya sudah terlanjur mengirim surat, maka pantang bagi saya untuk surut langkah.
Kemunculan bayangan Ita Martina yang tiba-tiba dari gugusan alam bawah sadar saya, makin lama makin terasa memenuhi seluruh hidup Saya. Bayangan Ita Martina semakin saya bayang-bayangkan semakin bersemayam di relung-relung otak saya, sehingga bayangan itu seperti keluar masuk mengikuti napas saya. Anehnya, saya tiba-tiba merasakan seperti diseret arus magnet yang amat kuat untuk terus menerus menggumuli bayangan Ita Martina.
Keterbelengguan jiwa saya oleh bayangan Ita Martina pada dasarnya tidak terlepas sama sekali dari kenekatan saya dengan mengirim surat kepadanya. Betapa dengan kenekatan tersebut saya akhirnya seperti terperangkap pada dilema yang sulit dipecahkan. Di satu pihak saya seolah-olah membabi buta meng- harapkan sesuatu berlangsung indah dan saya membayangkan berhasil meraihnya, sementara di lain pihak saya justru merasa bahwa ada sesuatu yang misterius yang tidak mungkin menyatukan saya dengannya. Akhirnya tidak ada jalan lain yang harus saya lakukan kecuali mengatakan secara terus terang kepada Mat Aksan maupun Surini masalah saya dengan Ita Martina, di mana yang terakhir ini tertawa terpingkal-pingkal mengetahui kekonyolan saya.
Tetapi, apapun risiko dari menggeluti bayangan Ita Martina, yang jelas saya merasakan seperti men- dapat keringanan beban dari bisikan terkutuk yang menyesatkan itu. Dengan membayangkan sosok Ita Martina, bisikan misterius yang mendorong agar saya belajar kepada iblis itu sedikit bisa saya alihkan. Karena itulah, saya merasa perlu berspekulasi sekaligus meraih sejumlah keuntungan kalau mungkin. Dan saya sadar, bahwa apa yang saya lakukan itu tidak lain adalah bentuk nyata dari kebiadaban saya.
Wujud lain dari kenekatan saya adalah ketika saya dengan tiba-tiba dan di luar perhitungan saya, menelepon Ita Martina di kantornya. Dengan telepon yang tak terduga itu, Ita Martina kelihatan terkejut. Rupanya dia tidak menduga akan kenekatan yang saya lakukan, sehingga pembicaraan yang berlangsung lewat telepon itu benar-benar kacau. Saya sendiri menjadi nervous, dan membayangkan Ita Martina bertindak seperti gadis planet yang melancarkan interogasi kepada saya.
Rasanya, baru sekali itu saya melakukan komuni- kasi dengan orang lain secara kacau dan membingung- kan. Saya kira bukan karena apa, tetapi saya sudah dibebani semacam bayangan yang absurd tentang sosok yang saya ajak bicara. Dan begitulah omongan saya dan Ita Martina ibarat omongan anak SMP yang kacau dan sumbang nadanya. Bahkan terkesan cengeng sekali.
Omongan saya dengan Ita Martina sendiri memang lebih terkesan kacau, di mana dia dengan tegas dan ringkas berbicara sambil sesekali terpenggal-penggal. Saya seperti mendengar suara super stereo dari antariksa lewat high-frequency yang membuat denyut jantung saya berdegup-degup.
"Saya dengar-dengar sampean mau kawin ya," kata saya asal ngomong.
"O iya, memang," sahut Ita Martina agak bingung.
"Kapan kira-kira?" tanya saya bodoh.
"Tunggu saja tanggal mainnya," seru Ita Martina seolah-olah menjelaskan tanggal main sebuah bioskop, "Lhaa sampean sendiri kapan kawinnya?"
"Wah kalau saya menunggu sampean saja," sahut saya cepat.
Ita Martina tampak gelisah dengan jawaban saya, meski dari desah napasnya Ita Martina kelihatan jengkel. Dan dengan tenang dia berkata, "Kenapa sampean memilih saya? Toh di Surabaya banyak gadis yang lebih cantik dari saya."
"Saya sendiri tidak tahu, kenapa saya mesti memilih sampean. Yang jelas sejak SMA dulu saya sudah melihat sampean sebagai sesuatu yang aneh. Saya lihat sampean seperti bidadari dari planet asing yang jauh."
Ita Martina terdiam kebingungan dengan jawaban saya.
"Sampean tidak marah kan kalau saya cintai?" tanya saya agak geli mendengar kebodohan omongan saya sendiri.
"O tidak!" sahut Ita Martina cepat, "Untuk apa marah?"
"Jadi tidak apa-apa ya saya naksir sampean?"
"Ya tidak apa-apa, dan tidak ada yang melarang."

Saya termangu kehabisan bahan pembicaraan. Dan akhirnya setelah sekitar dua puluh menit omong-omongan, saya dan Ita memutuskan untuk menyelesaikan pembicaraan. Saya mendapati tubuh saya seperti remuk tanpa bentuk. Saya merasa seperti habis dipermak kenpetai. Baju saya basah kuyub disimbah keringat. Tetapi, saya merasa lega karena bendungan yang selama ini menggumpal di sumbatan jiwa saya telah bobol dan mengalir entah ke mana.
Sebenarnya, sejak awal saya mengirim surat, saya sudah menceritakan apa adanya tentang keberadaan saya maupun Mat Aksan. Kepadanya saya jelaskan bahwa Mat Aksan adalah seorang sarjana yang bekerja di bagian keuangan sebuah departemen di Jl. Kendang- sari, di mana dengan kedudukan tersebut Mat Aksan memiliki masa depan cemerlang di samping pribadi- nya memang baik. Sementara tentang saya sendiri, dengan jujur saya katakan apa adanya bahwa saya adalah Sudrun yang hidup penuh tantangan dan banyak lawan karena ke-sudrun-an saya. Saya jelaskan bahwa kerja saya tidak menentu, ibarat orang meng- guncang pohon asam. Dengan kejelasan saya itu, saya berharap Ita Martina bisa berpikir secara sehat dan memilih Mat aksan yang memiliki masa depan cerah.
Saya memang mengharap dan selalu berdoa agar Ita Martina bersedia menerima cinta Mat Aksan dan mau dijadikan istrinya. Sebab bagi saya sendiri adalah tidak mungkin bisa dicintai Ita Martina, karena di samping saya dikenal brengsek dan sudrun, saya juga hidup tak tentu tujuan. Karena itu, semua yang berkaitan dengan harapan dan cinta saya, biar pupus sendiri dan kemudian gugur seperti daun-daun kering jatuh dari pohonnya.
Karena hidup saya penuh tantangan dan ketidakpastian, maka saya sadari benar bahwa adalah suatu dosa kalau saya menyeret gadis sebaik Ita Martina ke dalam kancah kehidupan saya yang semrawut dan penuh ketidak-pastian. Ya, saya berharap agar Ita Martina selalu hidup dalam ketenteraman bersama suami yang setia dan anak-anak yang nakal. Kalaupun saya mencintainya, maka saya lebih suka melihat dia hidup bahagia bersama orang lain daripada hidup menderita bersama saya.
Saya sendiri sebenarnya heran, kenapa selama ini saya tidak pernah merasakan apa yang disebut cinta. Saya hanya merasakan suatu ketertarikan yang luar biasa pada suatu objek, terutama yang saya anggap aneh dan absurd. Dan ketertarikan saya pada Ita Martina, benar-benar menerkam jiwa saya sehingga saya sendiri heran. Dan ketika saya tanyakan kepada beberapa orang tentang ketertarikan saya pada objek yang bernama Ita Martina, mereka mengatakan bahwa mungkin saja itu yang dinamakan cinta.
Kalau gejolak perasaan saya terhadap keanehan Ita Martina dikatakan cinta, saya pun masih ragu-ragu. Saya hanya merasa bahwa Ita Martina adalah objek yang sangat menarik perhatian saya karena keaneh- annya, yang hal tersebut berkait erat dengan naluri saya yang suka menyingkap-nyingkap sesuatu yang selama ini lebih banyak saya salurkan untuk menyingkap buku-buku. Nah, kalaupun nanti saya bisa menjadikan Ita Martina sebagai istri, tentulah saya akan lebih bebas menyingkap-nyingkapnya. Satu demi satu pakaian penutupnya akan saya singkap. Lalu organ tubuhnya akan saya preteli dan saya lihat dengan mikroskop, karena mungkin di tubuhnya terselip organ dari planet asing.
Alhasil, dengan kenyataan yang berkumpar-kumpar dengan keberadaan saya dan Ita Martina, maka saya pun menganggap saja diri saya sebagai peneliti setingkat Skinner. Dan karena itulah saya diam-diam menyuruh adik saya untuk mengirimkan sebuah boneka kelinci kepada Ita Martina, tepat di hari ulang tahunnya.
Adik saya sendiri heran, kenapa saya bisa mengirim sebuah boneka kepada seorang gadis, padahal hal itu langka sekali. Saya katakan saja terus terang bahwa saya mencintainya. Tapi adik saya menyatakan bahwa Ita Martina kelihatannya sudah punya pacar yang tidak lain adalah kawan sekantornya.
Saya tercekat dengan penjelasan adik saya, tetapi diam-diam saya merasa bersyukur kalau Ita Martina memang sudah berpacaran dan akan kawin. Kalaupun dia kawin, tentulah dia tidak sembarangan memilih orang; tentunya yang dipilihnya adalah laki- laki yang tampan, gagah, cerdas, kaya, dan simpatik.
Diam-diam saya tersenyum sendiri mengingat boneka kelinci yang saya kirim. Sebab boneka itu sebenarnya saya peroleh dengan mengutang pada adik saya, karena kebetulan saya sedang kantong kempes. Dengan uang utangan itulah saya diantar adik saya ke toko Sanrio. Dan adik saya ketika itu hanya geleng- geleng kepala ketika saya katakan kalau saya ingin memberi hadiah ulang tahun kawan gadis saya.
Adik saya yang tinggal di kota Mojokerto dan menjadi menantunya seorang camat itu, diam-diam memantau gerak-gerik Ita Martina untuk memastikan apakah dia sudah punya pacar atau belum. Dan hasil- nya, dia menelepon saya bahwa Ita Martina memang kelihatannya sudah punya pacar; sebab sering dia diantar jemput oleh seorang lelaki muda yang simpatik dengan mobil.
Tawa saya meledak mendengar uraian adik saya meski saya agak kecewa karena terlalu sembrono meng- gempur orang tanpa tahu posisi. Tapi bagaimanapun saya merasa sangat bahagia kalau Ita Martina memang segera kawin, karena bagaimanapun saya sempat mendengar bisik-bisik dari tetangga-tetangganya yang membicarakan kebelum-kawinannya sampai usia 28 tahun. Nah, dengan secepatnya dia kawin, tentulah bisik-bisik itu tidak akan menebar lagi; apalagi kalau calon suaminya adalah pimpinan bank yang kaya dan simpatik serta bermasa depan cemerlang.
Akhirnya, saya pun menelepon Ita Martina. Tetapi dia sudah dipindah ke bank cabang di kota lain. Setelah sekitar lima menit saya cari, akhirnya saya menemukan nomer teleponnya. Dan saya pun berbicara dengan Ita Martina yang selalu beralasan sibuk dan belum sempat membalas surat saya. Adapun dari berbagai omong-omong selama ini isinya jika diringkas kira-kira sebagai berikut:
"Ketahuilah, wahai Sudrun, sewaktu suratmu saya terima saya merasakan bumi tempat saya berpijak melorot ke bawah. Saya membolak-balik suratmu seolah saya tidak yakin bahwa kamu bisa begitu berani mengirim surat kepada saya. Dan ketahui pula, Sudrun, bumi ini saya rasakan berputar seperti dreimollen ketika kamu menelepon saya untuk yang awal sekali. Saya seperti tidak yakin bahwa kamu bisa begitu berani menelepon saya."
"Saya mengucapkan terima kasih untuk semua yang kamu berikan kepada saya. Saya mengucapkan terima kasih atas undangan makan-makan dalam reuni. Saya juga mengucapkan terima kasih karena ke- beranian kamu menyatakan cinta kepada saya. Saya juga mengucap terima kasih atas kiriman bonekanya. Pokoknya, saya terima kasih untuk semuanya. Semuanya."
"Ketahuilah, Sudrun, bahwa seperti yang kamu alami dengan bayangan saya maka saya pun demikian halnya. Saya selama ini selalu membayang-bayangkan bahwa kamu bukanlah makhluk dari planet bumi. Saya tidak tahu apa nama planet tersebut, yang jelas saya yakin, planet itu adalah planet yang belum mapan seperti bumi sehingga makhluk-makhluk penghuninya masih mengalami proses evolusi."

"Terus terang, saya selalu merasa gentar setiap kali melihat kamu seolah-olah kamu adalah makhluk buas yang mengerikan yang siap mencabik-cabik tubuh saya. Saya tidak mengerti kenapa saya mempunyai perasaan seperti itu. Yang jelas saya selalu mengingat tokoh Tarzan setiap saya melihat kamu. Saya sungguh tidak sopan kalau mengatakan terus terang kepadamu tentang kesan saya. Tapi saya tidak bisa lagi menyem- bunyikan lagi kenyataan bahwa film Tarzan itulah yang membentang di benak saya setiap kali saya melihatmu; entah itu tokoh Tarzan atau tokoh pembantu, yang jelas di film itu."
"Sejak saya kecil saya memang menyukai film-film dan dongeng humanis seperti Tarzan. Oleh karena itu, ketika bioskop-bioskop memutar film humanis yang berjudul King Kong saya pun buru-buru menonton. Saya suka sekali dengan tokoh King Kong yang gagah itu. Tapi maaf, saya sering membayangkan bahwa yang menjadi pemeran utama dalam film King Kong tersebut adalah kamu. Ya, saya bayangkan kamu dengan tubuh meraksasa menjadi King Kong yang baik hati."
"Saya sendiri heran, kenapa saya suka tertarik dengan bentuk-bentuk seperti King Kong dan kera peliharaan Tarzan. Saya tidak tahu. Yang jelas, saya selalu merasa kagum dengan gerakannya yang gesit dan kuat. Dan karena itu pula, diam-diam saya mengagumi kamu seperti saya mengagumi keranya Tarzan dan King Kong. Saya bayangkan kamu melompat-lompat dari atap rumah satu ke atap rumah yang lain, kemudian melesat di antara dahan-dahan pepohonan. O betapa lucunya kalau kamu mengupas pisang dan memakannya dengan mata berkedip-kedip."
"O ya, perlu kamu ketahui pula bahwa saya sangat mengagumi tokoh Hanoman dalam cerita Ramayana. Kera itu sangat gagah dan perkasa dengan bulu putih menghiasi tubuhnya. Konon, dia bisa menelan matahari dan tidak bisa mati karena telah merangkai hakikat keabadian. Hanoman adalah monyet yang amat berjasa karena dia berhasil membasmi angkara murka dan menjadi pembunuh sumber kedurjanan. Dia dilukiskan bisa mengangkat gunung."
"Tetapi sayang, pembuat cerita itu memojokkan Hanoman pada nasib yang buruk, di mana sepanjang hayatnya Hanoman dilukiskan sebagai kera putih yang tak pernah kawin karena seleranya terlalu tinggi, ingin mengawini seorang puteri yang cantik jelita bernama Trijata. Sementara dia merasa tidak mungkin kawin dengan kera betina yang dipandangnya sebagai hewan memuakkan untuk dijadikan istri. Nah, begitulah celakanya kalau ada binatang mengalami proses evolusi menjadi manusia, sekalipun Hanoman digambarkan lebih pintar dan lebih sakti dari manusia."
"Saya sendiri tidak tahu, apakah tindakan Hanoman dalam mencintai puteri Trijata itu bisa dikatakan sebagai tindakan seekor kera yang tidak tahu diri. Saya hanya merasa bahwa pembuat dongeng itu telah berbuat tidak adil dengan membuat tokoh Hanoman sebagai kera yang menderita seumur-umur karena menjadi manusia utuh dia tidak bisa, tetapi kembali menyadari diri sebagai kera juga tidak mungkin. Saya anggap kisah Hanoman itu adalah kisah yang tidak adil dan mendiskreditkan dunia per- monyet-an."
"Tetapi sekali lagi maaf, saya tidak bermaksud menyinggung kamu. Saya hanya memiliki kesan bahwa setiap kali saya menjumpai kamu, bayangan Hanoman senantiasa melesat memasuki benak saya. Saya bayangkan kamu mengangkat gunung, membanting raksasa, mengaduk-aduk samudera, dan membakar kota Alengka. Dan bayanganmu itu terus saja melesat ketika saya membaca-baca buku arkeologi yang mengisahkan proses evolusi manusia dari bentuk pithecantrophus erectus sampai menjadi manusia sempurna."
"O ya, saya kira demikian dulu omong-omong dari saya. Kamu tidak perlu tersinggung. Kamu justru harus bangga karena saya ternyata pengagum kera. Oleh sebab itu, tunggulah surat balasan dari saya yang berisi jawaban saya. Sudah ya…!"
Brakk!
Saya dengar pesawat telepon dibanting di ujung sana. Saya termangu sambil tetap memegangi pesawat telepon yang sudah berbunyi nut… nut…. nut. Saya bagaikan mimpi mendengar segala apa yang baru saja dikatakan Ita Martina. Dan sungguh tanpa Saya sadari, pipi saya telah basah; saya tidak tahu apakah air mata itu ungkapan kebahagiaan atau kepedihan saya. Saya hanya merasa, bahwa sekarang ini saya benar-benar seekor kera yang kebingungan karena salah masuk kandang harimau.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT BELAS)

Badai gurun menggemuruh dahsyat bagaikan iring-iringan barisan raksasa berkejaran sambung-menyambung, melonjak, menggulung, menghentak-hentak, mengaduk-aduk, dan menghempas

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Ramadhan dan lebaran selain tentang hal puasa dan mudik juga sebagai pemantik kenangan saat bulan puasa dan lebaran tahun sebelum-sebelumnya. Itulah yang dirasakan Rahwana

Hachi

Hachi

Bila hati ini mungkin bisa di wakili oleh sebuah tempat, misal kan rumah.Rumah yang telah kau tinggalkan.Rumah yang segala perabotannya berantakan walaupun tanpa

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Dening: Suparto BrataDiamput! Sepatuku ilang ndhuk mejid. Iki gara-gara sholat Jumat ndhuk mejid enyar cedhake kantorku. Diamput, ejik enyar wis nggawa korban!

Lebaran 2011ku

Lebaran 2011ku

pengalaman itu tak selamanya menjadi guru yang terbaik. Pagi-pagi pulang dari kerja aku langsung ke stasiun gambir untuk membeli tiket kereta buat mudik, tapi ternyata semua

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Selasa sore seusai sembahyang Ashar, saya langsung melesat ke Jl. Jagannath Shankar Seth dengan mengendarai bus kota. Yang namanya bus kota di mana pun sama, kalau jam kerja

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEMBILAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEMBILAN)

Malam sudah agak larut ketika saya kembali dan mendapati Ashok masih menjerang airuntuk membuatkan kopi Tuan Arvind. Sepengetahuan saya, Ashok sepertinya tidak pernah

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

"Kalau engkau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!”Bagai kilatan cahaya petir, bisikan misterius itumembentur gugusan telinga batin saya tanpa dapat