Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA BELAS)

  • 2018-08-02 09:50:00
  • 379

Sang bagaskara menyembul dari tirai cakrawala dengan kehangatan cahayanya yang menerobos dedaunan dan menguapkan embun pagi. Bebungaan menebarkan wanginya seolah menyediakan diri untuk dipetik sebagai persembahan bagi alam raya. Kumbang-kumbang berdengung menyanyikan keindahan semesta bagai melantunkan simfoni hutan yang indah. Sementara kicau burung-burung mengumandang menambah semarak pagi ceria.
Dalam suasana yang serba memancarkan makna hidup itu saya termangu di bawah tanaman Vassika yang merambat di dinding kuil Hanoman. Kelinci-kelinci dan kera-kera yang berlarian dan melompat-lompat di teras kuil bagaikan anak-anak dewa bercanda di hamparan padang sutera dengan bunga-bunga Vassika berguguran menebarkan wanginya. Dan segala yang saya resapi pada kejernihan pagi ini, terasa menyentuh perasaan jiwa saya terdalam. Saya merasakan seolah-olah sukma saya pergi meninggalkan tubuh saya. Sementara anjing Twam yang mulai kelihatan agak gemuk, bergulung-gulung di atas pasir berkerikil seolah hendak merasakan kehangatan sinar mentari yang melekat di atas hamparan kerikil.
Dalam kesendirian seperti ini, rasa merasakan terkaman perasaan bagai menghentak-hentak jiwa saya. Saya merasakan bahwa kelekatan saya dengan kuil Hanoman telah diantarai oleh suatu jarak yang tanpa batas. Saya menyadari bahwa segala macam tingkah manusia yang diarahkan kepada saya yang mereka duga sebagai Avatar, sedikit pun tidak membekas di hati saya. Bahkan sebuah kursi empuk yang dilapisi beludru Persia dan emas yang dipajang sebagai singgasana saya, tidak saya pedulikan dan saya biarkan tergolek tanpa daya di pintu kuil yang tertutup. Saya menyadari bahwa segala apa yang saya alami hanyalah merupakan sebuah rentangan perjalanan saya yang tak pernah saya ketahui ujung akhirnya.
Satu pagi usai sembahyang subuh, saya seperti merasakan sesuatu desakan rasa di pedalaman saya yang menyatakan bahwa saya harus secepatnya meninggalkan kuil Hanoman. Saya tidak tahu kenapa perasaan itu mendadak begitu kuat menerkam dan meremas-remas jiwa saya. Dan saya sadar betul bahwa terkaman perasaan saya itu bukan disebabkan kejadian semalam, di mana dengan keanehan tenaga gaib saya melemparkan tubuh Chitrangada. Saya benar-benar merasa bahwa terkaman perasaan saya itu sama sekali tidak berkaitan dengan kejadian semalam yang bisa saja saya manfaatkan untuk memperkuat ke-Avatar-an saya.

Bagi saya bukan persoalan jika harus meninggalkan kuil Hanoman, di mana saya memperoleh kemapanan dan kehormatan berlebihan. Sebab saya sudah menyadari bahwa penolakan atas sebuah kemapanan dan kehormatan adalah bagian naluri saya sejak kecil. Tetapi yang sekarang ini justru menjadi beban pikiran saya adalah keberadaan Aham dan Twam yang seolah menjadi bagian hidup saya.
Saya benar-benar tidak berani membayangkan akan apa yang terjadi andaikata Aham dan Twam saya ajak pergi begitu saja dari rumah Rajesh dan Reekha. Hubungan batin antara Aham dan Vijay tampaknya sudah begitu lekat. Bahkan hubungan Aham dengan Reekha pun tampaknya tidak bisa dipisahkan. Dan pikiran saya tanpa sadar membayangkan bagaimana Aham harus sakit jika harus dipisahkan dari Vijay dan Reekha. Tetapi saya pun tidak melihat kemungkinan yang lebih baik bagi Aham apabila dia harus saya tinggal menjadi beban Reekha dan suaminya.
Tiba-tiba saja bayangan buruk tentang Aham berkelebat memasuki benak saya. Saya bayangkan dia akan kedinginan dalam hujan dan kegerahan dalam panas apabila ikut pergi bersama saya meninggalkan rumah Rajesh. Saya bayangkan dia akan hidup terlunta-lunta kekurangan susu dan makanan yang biasanya tersedia untuknya setiap waktu. Saya bayangkan dia akan menderita apabila tercabut dari buaian kasih Reekha yang sudah seperti ibu kandung yang menyusuinya.
Saya memang sudah memikirkan Aham sejak lama, di mana satu saat nanti kami harus pergi dari kawasan kuil Hanoman. Saya memang sempat memutuskan bahwa sebaiknya Aham memang saya titipkan saja kepada Reekha dan Rajesh agar bisa dipelihara dengan baik bersama Vijay. Saya sempat memutuskan bahwa seyogyanya saya harus bisa mengatasi rasa cinta kasih saya terhadap Aham demi kebahagiaan dan keselamatannya. Tetapi, saya benar-benar dibenturkan oleh satu problem yang tak bisa saya ajak kompromi, yaitu saya tidak bisa membiarkan Aham dididik oleh Rajesh dan Reekha yang hidup diselimuti takhayul dan keterbelakangan pendidikan. Saya tentu akan merasa bersalah, andaikata suatu ketika melihat Aham duduk meratap di pintu kuil Hanoman untuk menyembah patung batu atau sekadar memaki-maki dewa karena keinginan dan doanya tidak terpenuhi.
Ketika saya sedang tenggelam dalam perenungan, tiba-tiba saya mendengar senandung merdu alunan syair dalam bahasa Persia yang mempesona pendengaran jiwa:
Chashmi ibrat bar-kusha wa qudrat-i-yesdan bibi. Tu khud hijabi khudi, Sudrun, azmiyan barkhis. Bisyar safar bayat ta pukhta shawad khamay. (Ingatlah! Bukalah matamu dan resapilah pelajaran dari kebijaksanaan Ilahi! Engkau adalah hijab dirimu sendiri, Sudrun, keluarlah dari padanya! Berbagai pengembaraan disyaratkan bagi yang mentah agar menjadi matang!).

Kemerduan dan makna syair dalam Bahasa Persia yang mengumandang itu benar-benar menusuk jiwa saya terdalam. Dan di saat saya mencari-cari arah datangnya suara syair yang mempesona pendengaran itu, tiba-tiba di belakang saya muncul bayangan manusia, yang ternyata adalah sosok Chandragupta, yang misterius. Sebagaimana tanda-tanda dari kemunculan sebelumnya, tubuh Chandragupta menebarkan wangi kesturi.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!" sahut saya dengan gelombang kebahagiaan mendadak memenuhi jiwa semesta Saya.
Burung-burung kecil berkicau sahut-menyahut disambung kokok ayam jantan yang suaranya menyemarakkan keheningan pagi, seolah menyambut kehadiran Chandragupta yang tertawa lepas bersama hembusan angin pagi. Saya menarik napas dalam-dalam seolah saya ingin menghirup semua kesegaran aroma rumput dan bunga-bunga Vassika yang berguguran menebarkan wangi bersama aroma tubuh Chandragupta. Dua ekor burung gereja kelihatan bertengger tenang di bahu kiri Chandragupta sambil mengibas-ngibaskan sayap. Sungguh sebuah pemandangan yang aneh tetapi mempesona jiwa. Lalu dengan suara yang dilantunkan seperti orang bernyanyi Chandragupta berkata:
"Ketahuilah, wahai Sudrun, bahwa peristiwa semalam adalah salah satu batu ujian yang berhasil engkau lampaui. Dan andaikata kejadian semalam tidak berhasil engkau lampaui, maka aku tidak bisa berkata sesuatu kepadamu selain ungkapan Man yudzdzilahu fa laa haadiyalah."
"Apakah yang telah saya lakukan semalam sehingga saya dianggap berhasil melampaui satu tahap ujian?" tanya saya ingin tahu.
"Ketika engkau mengingkari dan menafikan gelar Avatar yang dilekatkan orang-orang yang memuja Hanoman," kata Chandragupta dengan suara tenang," Ketika itulah aku melihat langit citra dirimu terbelah bagai kelopak mawar. Aku melihat kilasan-kilasan cahaya dan kalaam-i-haqq mengumandangkan kegaiban dari kata suci-kuntum amwataan fa-ahyakumengkau telah mati dan Dia memberi engkau hidup (QS. al-Baqorah: 28) dan engkau tiada perlu bertanya tentang makna kalaam-i-haqq ini kepada siapapun, karena kalaam-i-haqq ini bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk dilewati dan dialami sebagai bagian dari laku suluk."
"Ketahuilah, bahwa andaikata engkau ketika itu mengakui diri sebagai Avatar, maka Rabb-mu akan dikabuti oleh ke-aku-an yang begitu halus. Engkau akan terperangkap pada sifat dan perilaku iblis yang merupakan manifestasi Ism al-Muudzil yang sesat-menyesatkan. Ketahuilah, Sudrun, bahwa orang yang telah tersesat itu diakui oleh Rabb-nya sendiri, tetapi dia justru ditolak oleh Rabbu'l-i-Rabb. Dan orangorang yang tersesat, ibarat hatinya telah dikabuti oleh ketebalan air yang membeku menjadi es. Karena itu renungkanlah, o Sudrun, bahwa di dalam air pandangan bisa menembus keterang-benderangan keadaan sekitar, tetapi di dalam es pandangan tidak bisa menembus kepekat-gelapan gumpalan air yang membeku, demikianlah qalb yang sesat itu keadaannya."
"Ketahuilah, o Sudrun, bahwa sekarang ini engkau telah memasuki tahap akhir dari KATSRAH yang merupakan pancaran dari Barzaakh-i-Jami'i. Engkau sekarang sedang merambat di rentangan busur yang melengkung, di mana titik perjalananmu sekarang adalah seibarat di sekitar QABA QAUSAIN (QS. anNajm: 9), yang tiada lain adalah puncak dari stasiun akhir dari al-farq. Di titik tertentu itulah engkau akan mendaki di anak tangga Jam'ul-Jam yang dimahkotai Maqaaman Mahmud (QS. Bani Israil: 79)."
"Camkan benar wahai Sudrun, bahwa pada satu saat nanti apabila engkau tetap melangkah pada shirat yang lurus, maka engkau akan melihat hakikat Jamal dan Kamal dari-Nya. Engkau akan mampu mewadahi hakikat innii jaa'ilun fi'l ardhi khalifatan (QS. alBaqarah: 30) yang memiliki kemampuan merangkum Kasf-i-Quluub dan Kasf-i-Qubuur. Di titik tertentu dari perjalananmu itu, engkau akan merangkum hakikat infishaal ke ittishaal. Tetapi, selalu ingatlah, bahwa ujian perjalananmu masih teramat rumit dan jauh lebih halus dari ujian-ujian sebelumnya, sehingga perjalanan ini sering diibaratkan meniti rambut dibelah tujuh."
"Kapankah saya harus memulainya?" tanya saya.
"Sekarang!" sahut Chandragupta tegas. "Apakah engkau menunggu terlepasnya panah waktu dari busurnya?"
Sebenarnya saya ingin bertanya lebih banyak kepada Chandragupta. Tetapi, seperti tidak peduli dengan segala sesuatu yang melingkungi keberadaannya, Chandragupta melangkah cepat menuju rimbunan semak belukar seolah-olah tubuhnya terbuat dari sebentuk asap yang bisa menerobos ke mana saja tanpa penghalang apapun. Dia melesat di antara semak belukar seperti berjalan di atas padang rumput ilalang. Saya sadar bahwa saya tidak akan bisa menahan kepergiannya seperti juga saya tidak bisa menahan arus nasib yang menyeret kehidupan saya. Saya hanya yakin bahwa Chandragupta, tentu tidak akan melepaskan saya begitu saja.
Saya pandang arah lenyapnya tubuh Chandragupta di antara semak belukar seolah-olah saya pandang lenyapnya sukma saya sendiri. Saya merasakan seolah-olah ada yang hilang dari diri saya setiap kali saya terpisah dengan Chandragupta. Tetapi, sekarang ini sekalipun saya mampu menahan getaran jiwa yang menggejolak, hati saya terasa seolah disayat-sayat pisau hingga mengalirkan darah. Entah apa yang terjadi, saya mendadak saja seolah-olah tidak menganggap Chandragupta sebagai orang yang lain dari diri saya sendiri. Saya merasa Chandragupta adalah bagian dari diri saya sendiri meski saya belum tahu bagian diri yang mana.

Akhirnya, keanehan rasa yang saya rasakan dalam kaitan dengan Chandragupta, baru terpahami seusai saya menjalankan sembahyang Subuh. Sentuhan gaib dari Sirrul al-Haq yang membentur pedalaman saya, memunculkan bukti dengan kemunculan Chandragupta yang mengisyaratkan agar saya cepat-cepat meninggalkan kumparan memabukkan di kuil Hanoman. Saya menjadi sadar bahwa seruan dari relung-relung kerinduan yang terahasia di pedalaman jiwa saya itu ternyata telah menampakkan diri meski masih dalam wujud yang samar-samar.
Kepergian saya dari kuil Hanoman, sekalipun sudah saya tengarai sebelumnya, toh pada kenyataannya bukan sebuah kepergian yang sederhana ke suatu perjalanan tamasya indah dan menyenangkan. Kepergian dengan makna perpisahan yang dalam, ternyata tidak segampang yang saya bayangkan. Hal itu terutama menyangkut perpisahan antara saya dan Aham di satu pihak dan Rajesh serta Reekha di pihak yang lain maupun perpisahan saya dengan anjing Twam.
Dengan bersimpuh di lantai dan merangkul kaki saya, suami-istri yang saya akrabi sekian waktu itu mengiba sambil meratap. Mereka memohon agar saya tidak pergi meninggalkan mereka. Kalau saya pergi, begitu pinta mereka, seyogyanya saya bersedia meninggalkan Aham sebagai kawan Vijay yang akan mereka perlakukan sebagai darah daging mereka sendiri. Dengan meninggalkan Aham, begitu menurut mereka, maka kalau saya sewaktu-waktu datang akan menjadi kabar kegembiraan bagi mereka.
"Sadarilah, wahai Rajesh dan Reekha, bahwa setiap kali ada pertemuan maka selalu ada perpisahan. Ada kedatangan mesti ada kepergian. Lahir dan mati adalah satu makna dalam dua rangkaian. Dan apa yang terkait dengan timbul dan tenggelamnya penderitaan, tiada lain adalah tersebab ke-aku-an yang dangkal yang serba ingin memiliki segalanya. Oleh sebab itu, ikhlaskan kepergian kami meski rasa kemanusiawian kita terasa berat memikul beban kehilangan dari orang-orang tercinta."
"Wahai guru, biarlah kami meminum darah penderitaan kami. Tetapi sungguh kami tidak mampu menampung darah yang mengalir dari penderitaan Aham yang belum mengenal makna dosa. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana tubuh Aham harus menggigil kedinginan diterkam dingin malam yang menggigit. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana Aham harus menangis menjerit-jerit dicekik kehausan," ratap Reekha dengan bercucuran air mata.
"Janganlah rasa syak dan ragu melingkupi jiwamu, wahai Rajesh dan Reekha," kata saya sambil menyuruh mereka berdua berdiri, "Ketahuilah bahwa Allah adalah Tuhan seru sekalian alam! Dia yang menjadikan kita semua, kemudian Dia pula yang menghidayahi kita semua. Dia yang memberi kita makan dan minum. Dan kalau kita sakit, maka Dia yang akan menyembuhkan kita. Dia yang mematikan dan menghidupkan kita (QS. asy-Syu'ara: 77-81)."
"Oleh sebab itu, o Rajesh dan Reekha, pasrahkanlah segala urusan kepada-Nya. Janganlah engkau memiliki sesuatu dan merasa mempunyai hak atas sesuatu. Sebab segala sesuatu adalah milik Allah semata. Sedang engkau sendiri tidak memiliki sesuatu, bahkan nyawa dan tubuhmu sendiri bukanlah milikmu. Karena itu, bersiap-siaplah engkau senantiasa untuk berpisah dengan segala apa yang ada di sekitarmu, termasuk perpisahan dengan Aham, Vijay, dan nyawa serta tubuhmu sendiri."
Rajesh dan Reekha pucat sekali wajahnya ketika mendengar kata-kata saya. Saya merasakan tarikan menyayat menghentak hati saya melihat kecemasan dan kegelisahan yang mencakari jiwa mereka berdua. Tetapi, saya segera menguatkan diri sambil menghibur dalam hati, bahwa takdir telah terkuak bagi saya sendiri ataupun bagi mereka. Dan apa yang saya rasakan dengan sayatan pedih di hati ini adalah merupakan tahap permulaan dari perjalanan saya melewati jalan penderitaan yang akan terus menghadang dalam bentuk ujian demi ujian.
Rajesh yang termangu dengan mata berkaca-kaca mundur dan mengambil Aham dari kamarnya. Dengan air mata bercucuran Rajesh menciumi Aham yang tertawa-tawa dalam gendongannya. Didekapnya Aham seolah-olah anak itu adalah bagian dari jiwanya yang tak ingin dilepasnya. Pagi itu keredupan sinar mentari yang diliputi awan hitam menerobos celahcelah jendela dan membiaskan kepedihan yang mendalam di kesunyian ruangan.
Reekha yang melihat suaminya menggendong Aham serta merta meraung sambil merangkul Aham yang didekap Rajesh. Lampu redup yang menyinari ruangan berkedip-kedip bagai ikut merasakan kepedihan yang memenuhi segala. Saya merasakan betapa kekacauan hati Rajesh dan Reekha sempat menguncang jiwa saya meski saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk tetap teguh pada pendirian.
Ketika detik demi detik berlalu dan saya tetap berdiri tenang bagai patung batu, Reekha melangkah terhuyung bagai tanpa tenaga ke arah saya. Dengan suara tersendat-sendat dia menyodorkan Aham yang terbungkus selimut lembut ke arah saya. Saya diam sambil menelan ludah karena tenggorokan saya mendadak terasa kering dicekik kepedihan.
Reekha tampak ragu-ragu memandang saya. Kemudian dengan menggigit bibir dia merengkuh Aham ke dalam pelukanya sambil mengumam:
"Lihatlah wahai guru, bibir Aham yang merah bagai Mawar. Lihatlah pipinya yang ranum bagai apel. Lihatlah matanya yang berkilauan bagai permata. Lihatlah tubuhnya yang lembut mewangi. Mampukah saya melupakannya? Mampukah saya melupakan anak yang telah saya susui dengan jiwa dan raga saya ini? Mampukah saya melihat buah hati saya ini akan hidup menderita sebagai musafir yang tidur berselimut dingin malam dan berbantal kesunyian?"
"Reekha, janganlah engkau membayang-bayangkan kuasa Tuhan dengan kekerdilan angan-anganmu, sebab Allah lebih tahu akan segala urusan," kata saya menahan kepedihan, "Karena itu, relakanlah kepergian kami menapaki jalan takdir-Nya."
Wajah Reekha tampak pucat pasi dan lututnya gemetaran. Dia rupanya mulai sadar bahwa usahanya untuk menghentikan saya tidak akan berhasil. Dia menyadari bahwa bagaimana pun keadaannya, dia harus melepaskan kami yang tidak dapat lagi tinggal di rumahnya. Air mata Reekha bercucuran membasahi wajah Aham yang didekapnya.
"Engkau akan pergi ke padang sunyi, o anakku," ratap Reekha memandangi wajah Aham dengan air mata bercucuran, "Kalau engkau haus di tengah perjalanan, ingatlah akan susuku sehingga kehausanmu akan terobati, o anakku. Kalau engkau kedinginan di tengah rinai hujan, rangkul dan dekaplah bayangan dan kehangatan mesraku. Dan andaikata engkau nanti telah besar, tetaplah ingat bahwa seorang ibu yang tak pernah melahirkanmu, tetapi mengasihimu sepenuh jiwa sedang menantikan engkau, o puteraku."
"Kuatkan hatimu, Reekha!" kata saya pedih. "Guru!" desah Reekha lirih dengan pipi basah,
"Bolehkah saya mencium putera saya tercinta untuk yang terakhir?"
Saya terperangah dengan kata-kata Reekha yang terdengar sangat tulus. Entah apa yang terjadi, tanpa saya sadari hati saya tiba-tiba runtuh dan air hangat saya rasakan tergulir membasahi pipi saya. Dan antara galau jiwa, saya menggumam lirih, "Lakukanlah apa yang ingin engkau lakukan, o ibu berhati mulia."
Tangis Reekha meledak. Dengan tersedu-sedu ia menciumi wajah Aham dan sesekali mendekapnya erat-erat. Suasana di dalam ruangan pun menjadi basah oleh air mata ketika Aham menjerit keras yang diikuti ledakan tangis Rajesh. Saya benar-benar terpukau dalam kepedihan yang mencekam ketika Rajesh dan Reekha bergantian menciumi Aham.
Hati saya mendadak terasa meleleh bagai salju diterkam musim panas ketika Reekha dengan langkah lunglai dan wajah kuyu menyodorkan Aham kepada saya. Air mata Saya masih membasahi pipi ketika Aham melekat dalam dekapan saya. Dengan suara saya buat setenang mungkin, saya berusaha menghibur Rajesh dan Reekha, "Ketahuilah, bahwa sebenarnya saya tidak menginginkan perpisahan ini. Tetapi adalah suatu kebodohan apabila saya menganggap bahwa kita tidak akan pernah berpisah. Oleh sebab itu, sebelum kemelekatan di antara kita semakin kuat, maka saya memutuskan untuk pergi memenuhi pangilan jiwa saya."
"Pergilah guru," desah Rajesh memegangi lengan saya, "Pergilah memenuhi panggilan jiwa guru. Jika sampean kelak menemukan Tuhan dalam Kebenaran, kembalilah kepada kami dan ajarilah kami akan Kebenaran yang sampean peroleh. Saya akan selalu berdoa bagi keselamatan sampean, Aham serta Twam."
"Saya akan selalu mengingat sampean semua", kata saya penuh haru, "Saya akan mengingat kalian semua apabila Aham menangis, tertawa, tidur, dan mengoceh. Saya akan terus mengingat semua kebaikan sampean meski saya tidak bisa lagi melekatkan diri kepada sampean semua. Tetapi, tetaplah sampean ingat-ingat dan sampean amalkan akan apa yang pernah saya ajarkan kepada sampean."
Rajesh dan Reekha bersimpuh di lantai dengan hati pedih. Dan ketika saya melangkah perlahan-lahan meninggalkan mereka, saya dapati suasana pagi masih sunyi dengan kicau burung bersahutan di pepohonan. Di antara detak langkah saya, sayup-sayup saya dengar isak tangis menggema dari segenap penjuru mata angin. Anehnya, gema isak tangis itu seolah-olah menggema dari dalam jiwa saya sendiri.

Angan-angan sering kali tidak sesuai dengan kenyataan. Itulah yang sedikitnya telah saya alami dalam hidup. Perjalanan panjang meninggalkan kuil Hanoman yang sebelumnya saya bayangkan akan penuh diliputi kesengsaraan dan penderitaan, ternyata tidak terbukti mewujud dalam kenyataan. Bahkan kelihatannya, sejak saya meninggalkan kuil Hanoman, segala sesuatu yang terkait dengan kehidupan saya sepertinya sudah diatur sedemikian rupa hingga menawarkan kemapanan dalam segala hal. Bayangkan, ketika saya berjalan terseok-seok menggendong Aham dengan diikuti Twam, mendadak saja di tengah jalan antara kota Ujjain dan kota Agra, kami berjumpa dengan Laxmi Devi yang membawa mobil sendiri hendak pakansi ke Srinagar. Entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu Laxmi Devi melihat kami yang sedang berjalan di trotoar dan kemudian dengan sukarela menghentikan mobilnya dan menawari kami untuk ikut menumpang mobilnya.
Semula saya menolak ajakannya untuk ikut serta bersamanya ke Srinagar karena dia kebetulan pergi seorang diri. Tetapi, setelah dia menyinggung masalah kesehatan dan keselamatan Aham, maka saya mesti berpikir yang masuk akal bahwa bayi kecil itu bagaimanapun tidak boleh menderita karena saya. Aham adalah Aham, makhluk kecil yang memiliki garis keputusan nasib sendiri. Dia bukan saya, dan saya sama sekali tidak ada hak untuk menyengsarakan dia demi kepentingan saya. Dia mesti cukup minum susu dan cukup makan.
Akhirnya, saya menyetujui untuk ikut Laxmi Devi ke Srinagar dengan janji bahwa yang mengemudikan mobil selama perjalanan adalah saya. Laxmi Devi sendiri harus duduk di jok belakang menunggui Aham. Sementara Twam saya biarkan duduk di bangku sebelah saya. Tawaran ke Srinagar yang jauh itu saya terima saja, mengingat saya tidak memiliki tujuan yang pasti setelah meninggalkan kuil Hanoman.
Sepanjang jalan Laxmi Devi terus berkicau bagai burung kutilang. Dia menceritakan bagaimana sunyinya rumah yang ditinggalinya sejak saya pergi. Dia menceritakan bahwa ayahnya, Tuan Arvind, sering duduk sendiri pada malam hari bagai menyesali keputusannya menolak kehadiran Aham dan Twam. Dan beberapa pekan silam, Tuan Arvind menerima kabar burung bahwa saya menjadi avatar di sebuah desa dekat Amravati. Sayangnya ketika Laxmi Devi dan ayanhnya ke tempat itu, ternyata saya sudah pergi beberapa jam sebelumnya.
"Tapi dasar jodoh, kita pun akhirnya bisa ketemu juga tanpa sengaja," kata Laxmi Devi menepuk bahu saya dari belakang. Saya merasakan darah saya berdesir keras.
Saya mengkertak gigi dengan tingkah Laxmi Devi yang bisa saya golongkan ingin memancing syahwat saya. Saya mulai sadar, bahwa ujian yang akan saya hadapi akan jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Saya sadar bahwa andaikata Tuhan menguji saya dengan kesengsaraan dan penderitaan mungkin saya akan mampu menahannya. Tetapi, ujian-ujian yang menyangkut keserba-mapanan dan keserba-indahan justru sering meruntuhkan orang, di mana hal itu mungkin juga akan terjadi pada diri saya. Saya pun, meski sudah melewati berbagai ujian dan pengalaman yang menggetarkan, toh pada kenyataannya saya tetaplah manusia berkelamin laki-laki yang belum mati dan nafs sufliyyah saya masih siap meletus kapan saja dia disulut. Dan tepukan Laxmi Devi pada bahu saya barusan, setidaknya merupakan penanda bagi akan datangnya ujian demi ujian berat yang akan saya lewati.

Sepanjang perjalalan, saya merasakan betapa tersiksanya saya mengatasi sentakan-sentakan birahi dan kelebatan imajinasi yang ganti-berganti di otak saya. Anehnya, dalam keadaan seperti itu sirru'l haqq di pedalaman jiwa saya justru seperti tersembunyi dalam selimut kabut, sehingga dalam banyak hal saya lebih mengandalkan pergulatan antara akal dan perasaan saya. Dan hal yang demikian itu, sungguh merupakan siksaan tersendiri bagi saya.
Perjalanan ke Srinagar ternyata bukan perjalanan yang dekat, melainkan perjalanan yang sangat jauh dari Amravati, yaitu kira-kira sejauh 2000 kilometer. Selama mengatasi jarak perjalanan yang melelahkan, saya harus memerangi gempuran nafsu saya yang sering menggelegak tanpa kendali mengaliri jaringan pembulu darah saya sewaktu saya berada dekat dengan Laxmi Devi. Untuk mempercepat perjalanan, sejak dari New Delhi saya mengambil jalur sepanjang Karnal-AmbalaLudhiana-Jullundur. Setelah itu menikung ke utara ke jalan baru jurusan Pathankot lewat Mukerian. Sore hari, setelah melesat di jalanan selama tiga hari tiga malam, kami tiba di Jammu dan Laxmi Devi langsung mengajak menginap di Dak Bungalow, sebab perjalanan ke Srinagar masih sekitar 305 kilometer lagi.
Sejak April sampai Mei, kawasan Kashmir memasuki musim semi di mana angin bertiup keras dan dingin di mana taman-taman bunga membentang bagai permadani alam digelar dewa-dewa dengan wangi semerbak memenuhi bumi. Bunga khatayee terlihat bergoyang-goyang di antara bunga Naïve yang mirip terompet. Di hampir setiap taman, bunga-bunga menyembul gembira seolah-olah ingin dipetik tangan indah gadis-gadis Khasmir yang berlarian manja di bawah bunga Gol Mirjan yang berguguran memenuhi permukaan bumi. Di antara beribu-ribu jenis bunga, hanya bunga Gol Aftab yang saya kenal baik karena bunga itu tiada lain adalah bunga matahari yang kuning menghampar laksana permadani.
Laxmi Devi sendiri semula menginginkan saya untuk tidur satu kamar dengannya, di mana dia tidur di kasur dengan Aham sedang saya tidur di lantai bersama Twam, tetapi hal itu tentu saja saya tolak. Saya sadar bahwa saya tidak akan kuat mengatasi nafsu birahi saya apabila berada dalam satu kamar dengan seorang gadis secantik dan semolek Laxmi Devi, apalagi dalam musim dingin yang jekut seperti ini. Akhirnya, untuk mengirit biaya, saya memutuskan untuk tidur saja di mobil bersama Twam. Aham sendiri saya suruh tidur bersama Laxmi Devi.
Laxmi Devi sendiri sebenarnya menginginkan saya bersedia mengantarnya ke kuil Vaishno Devi di Katra yang jaraknya sekitar 59 kilometer dari Jammu. Tetapi, saya dengan halus menolaknya, dengan alasan kami tidak bisa membawa Aham ke kuil tersebut yang cukup tinggi letaknya di lereng Gunung Himalaya. Laxmi Devi hanya tersenyum mendengar alasan saya. Dan saya baru tahu makna senyumnya ketika kami tiba di Srinagar, karena pada kenyataannya, Srinagar lebih tinggi letaknya dibanding Katra.
Di Srinagar, Tuan Arvind ternyata memiliki rumah yang cukup besar yang terletak di Jl. Batsyah, tidak jauh dari Mahalaxmi Hotel. Kediaman Tuan Arvind tersebut, menurut Laxmi Devi, sudah ditetapkan atas namanya. Sementara rumah tersebut belum dihuni, Laxmi Devi menggaji Ranjit dan Shakuntala, dua suami-istri yang sudah tua dan tanpa anak. Ranjit dan Shakuntala teryata jauh berbeda dengan Ashok yang hidup sehari-hari di lingkungan keluarga Tuan Arvind. Kesan Ranjit dan Shakuntala terhadap Tuan Arvind terutama terhadap Laxmi Devi sangat baik. Dia sangat memuji kecantikan dan kebaikan hati Laxmi Devi yang dibayangkannya seperti Mahalaxmi Devi. Dan propaganda tentang Laxmi Devi makin keras kalau juru kampanyenya adalah Shakuntala, yang menurut pengakuannya pernah menjadi pelacur di masa kolonial Inggris dulu.
Ranjit dan Shakuntala adalah orang-orang jujur yang tidak merasa perlu menyembunyikan masa silamnya. Ranjit sendiri menurut pengakuannya adalah bekas seorang pencuri yang suka mengambil bendabenda milik orang Inggris. Dia mengaku ketemu Shakuntala di rumah bordil Calcuta, di mana Shakuntala ketika itu menjadi langganan utama tentara-tentara Inggris. Setelah kemerdekaan, mereka sepakat untuk kawin dan memulai hidup baru sebagai pelayan hotel di Srinagar. Dari berbagai pengalaman itulah mereka akhirnya mengenal Laxmi Devi yang melihat kesungguhan mereka, di mana mereka pun akhirnya dipercaya untuk menunggui rumah Laxmi Devi beserta isinya.
Ranjit sendiri kepada saya mengaku terus terang kalau dia sering juga memperbolehkan turis-turis asing untuk menginap di rumah Laxmi Devi, karena memang Laxmi Devi sudah memberikan izin sebagai honor tambahan. Tapi, itu pun dilakukan hanya pada waktu tertentu saja, karena bagi Ranjit dan Shakuntala, yang dibutuhkan bukanlah uang melainkan keakraban dengan orang-orang asing yang tentunya memiliki cerita bermacam-macam. Ranjit mengaku suka dongeng-dongeng. Dia mengaku sering merasa kesepian karena tidak memiliki anak. Dan kehadiran orang-orang di sekitarnya tentulah akan menjadi sangat berarti untuk mengurangi kesepian hidupnya yang sunyi.
Kehadiran kami di tengah mereka tentu saja sangat membuat kebahagiaan yang tiada tara. Ranjit dan Shakuntala yang pada dasarnya sangat merindukan anak tampak begitu tenggelam dalam kesibukan mengurusi Aham. Pagi-pagi sekali Ranjit sudah terlihat berlari-lari sepanjang jalan untuk membeli susu hangat bagi Aham. Shakuntala pun sering terdengar menyanyi gembira sambil mengayun-ngayun tubuh Aham di dalam gendongannya. Celakanya, mereka berdua menganggap bahwa saya adalah suami Laxmi Devi dan Aham adalah anak kami.
Dengan pandangan semacam itu, saya menjadi kebingungan sendiri. Sebab kalau saya menyatakan bahwa saya bukan suami Laxmi Devi, maka mereka tentu akan menganggap Laxmi Devi sebagai pembohong yang mengada ada, karena menurut merekaLaxmi Devi sendirilah yang menyatakan bahwa saya adalah suaminya. Saya sendiri sadar bahwa apa yang diomongkan Laxmi Devi kelak harus saya luruskan. Tetapi, saya sungguh tidak sampai hati setiap bertemu dengan Laxmi Devi yang menatap saya dengan pandangan sendu seolah-olah minta dilindungi dan dikasihi. Sungguh, saya tidak sampai hati untuk menjadikan Laxmi Devi sebagai "pembohong" di depan Ranjit dan Shakuntala.
Akhirnya, setelah berpikir tak kurang dari tiga hari, saya memutuskan untuk memperjelas masalah saya dengan Laxmi Devi pribadi. Dia saya ajak bicara di luar rumah agar lebih bebas dan tidak diketahui Ranjit maupun Shakuntala. Dan Laxmi Devi menyatakan kesediaannya untuk bicara di danau Dal.
"Kenapa jauh-jauh ke danau Dal?" tanya saya. "Danau Dal tidak jauh," kata Laxmi Devi, "Hanya beberapa kilometer dari Srinagar ke arah Shalimar."
Saya tidak dapat menolak terlalu keras setelah melihat mata Laxmi Devi berkaca-kaca hendak menangis. Saya tahu bahwa dia merasa saya abaikan selama ini. Tapi, bagaimana pun, saya tidak ingin jatuh dari titian jembatan ruhani saya. Karena itu, selama perjalanan menuju danau Dal, saya merangkai berbagai alasan yang sekiranya tidak menyinggung Laxmi Devi sekaligus bisa membebaskan saya dari jerat-jerat cintanya yang diam-diam mengepung.
Danau Dal sendiri ternyata sebuah danau yang luas dan indah dengan taman dan pulau di tengah-tengahnya. Air danau berkilau-kilau bagai Kristal dengan teratai mengambang di atasnya. Perahu-perahu kecil yang panjang yang dipenuhi bunga-bunga Gul Yarkand, Gul Daood, Sosun, Shev Dhanna dan Khatayee terlihat hilir mudik menunggang gelombang. Para pembawa perahu itu menjual bunga-bunga kepada para turis yang menyewa rumah-rumah di atas air. Sementara burung-burung Diva Kav, Kakov, Tech, Wan Bulbul, dan Sheena Pi Pin beterbangan sambil mencericit melagukan keindahan alam di sekitarnya.
Ketika Laxmi Devi mengajak saya ke taman di tengah danau dengan menaiki perahu, saya menolak. Saya mengatakan dengan terus terang bahwa saya takut melakukan hal-hal yang dilarang agama. Laxmi Devi kelihatan merah pipinya mendengar jawaban saya. Tetapi sebagai perempuan, dia masih bisa mengelak bahwa dia tidak pernah memiliki pikiran buruk seperti saya. Dan saya pun dengan rendah hati menyatakan bahwa setiap laki-laki pada dasarnya memiliki pikiran-pikiran buruk setiap kali berada di dekat perempuan. Dan Laxmi Devi tampaknya puas dengan jawaban saya.
"Sekarang kita bicara di sini saja," kata Laxmi Devi sambil bersimpuh di atas rumput. Saya ikut duduk di dekatnya. Namun, entah bagaimana awalnya, mendadak saja pikiran Saya dikelebati bayangan buruk tentang kisah pewayangan lakon Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi yang gagal mengajarkan Sastra Hajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Hati saya tercekat. Saya buru-buru mengambil tempat duduk di atas sebuah batu yang menonjol yang jaraknya sekitar dua meter dari Laxmi Devi duduk.
Setelah suasana hati saya agak terkendali, saya mulai membicarakan sekitar pandangan keliru Ranjit dan Shakuntala yang menganggap saya sebagai suami Laxmi Devi. Laxmi Devi tersentak mendengar kata-kata saya. Tapi dengan menguatkan hati dia berkata:
"Saya terpaksa mengatakan begitu, Sudrun, sebab saya tidak melihat kemungkinan lain untuk menjelaskan dengan apa adanya hubungan kita yang sesungguhnya. Sampean mungkin marah dengan kenyataan tersebut. Tetapi sampean mesti tahu, bahwa saya adalah seorang perempuan. Apa yang menjadi omongan orang kalau saya pergi dengan seorang lelaki dan seorang bayi yang bukan apa-apa saya?"
"Sampean mungkin bisa beralasan macam-macam untuk menyalahkan sikap saya. Saya bisa memaklumi itu, sebab saya menyadari bahwa sampean bukan perempuan yang mau mengerti perasaan dan jalan pikiran perempuan. Karena itu kalau sampean marah kepada saya, saya persilakan sampean marah. Cekiklah leher saya sampai saya mati. Kalau saya mati, cukuplah sampean menceburkan tubuh saya di danau Dal, dan sampean bisa pergi meninggalkan Kashmir dengan bebas."
"Kenapa sampean menganggap saya sejahat itu?" sahut saya tidak senang.
"Karena saya merasakan bahwa sampean membenci saya."
"Sampean keliru menafsirkan sikap saya," kata Saya terus terang, "Sebab saya tidak membenci siapapun, dan saya selalu berusaha untuk tidak mencintai siapa pun."
"Omongan sampean aneh sekali," gumam Laxmi Devi.
"Sampean tentu tidak mengerti kenapa saya memiliki pandangan seperti itu," kata Saya menjelaskan, "Sebab sampean tidak pernah menyadari bahwa kesengsaraan hidup adalah berawal dari keterikatan orang seorang terhadap segala apa yang menjadi miliknya. Keterikatan itulah yang menimbulkan rasa kehilangan, keterpisahan, kesunyian yang semuanya adalah penderitaan. Hanya mereka yang tidak memiliki yang tidak akan pernah kehilangan."
"Sampean terpengaruh prinsip hidup Buddhisme," kata Laxmi Devi datar, "Pandangan hidup sampean tidak mencerminkan sikap hidup seorang muslim sejati."
"Saya tidak akan bicara soal Buddhisme," kata saya menjelaskan, "Saya hanya ingin menjelaskan kepada sampean bahwa Islam mengajarkan agar orang tidak mengikatkan diri kepada sesuatu yang bersifat bendawi. Islam mengajarkan bahwa harta benda dan anak serta istri bukanlah menjadi milik seseorang, sebab segala sesuatu yang melingkari hidup seseorang adalah milik Allah. Mahasuci Allah, yang di tangan-Nya tergenggam segala kerajaan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu (QS. al-Mulk: 1). Oleh sebab itu, bagi manusia hanya diperkenankan menjaga dan memelihara apa yang menjadi milik Allah sebagai amanat, sehingga dalam setiap gerak-gerik seseorang yang mengaku muslim haruslah membaca kesaksian BISMILLAH, yakni persaksian atas nama Allah, sebab manusia hanya berbuat sesuatu sebagai wakil dari Allah di atas bumi. Sementara manusia memang tidak memiliki sesuatu, bahkan atas nyawa dan tubuhnya sendiri. Dan ketahuilah, bahwa Allah tidak menjadikan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk menyembah-Nya (QS. adzDzariyaat: 56)."
"Kalau Islam mengajarkan demikian, kenapa Rasulullah SAW mewajibkan umatnya untuk kawin dan memiliki harta benda?" sergah Laxmi Devi cepat.
"Ketahuilah, o Laxmi Devi, bahwa sesungguhnya harta dan anak-anak itu tiada lain hanyalah ujian (QS. at-Taghabun: 15), dan akan celakalah orang-orang yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung hartanya serta menganggap bahwa hartanya itu akan bisa memeliharanya (QS. al Humazah: 2-3)."
"Tetapi perlu sampean ketahui, bahwa dengan pandangan itu bukan berarti orang Islam harus miskin semua dan hidup mengasingkan diri dari dunia. Orang Islam harus mempunyai harta kekayaan yang berlimpah sehingga mereka bisa menunaikan ibadah haji dan beramal jariyah yang lain dalam rangkaian jihad fi sabilillah. Tetapi tetaplah orang harus ingat bahwa apa yang dimiliki seseorang itu adalah milik Allah yang sewaktu-waktu akan diambil oleh-Nya."
"Apakah itu berarti kita boleh mempunyai sesuatu tetapi tak boleh menambatkan hati kita pada apa yang kita punyai itu?" tanya Laxmi Devi.
"Ya, begitulah," sahut saya senang karena Laxmi Devi tampaknya memahami apa yang kami bicarakan, "Jangan sampai kita menyatakan bahwa segala milik kita adalah tambatan seluruh hidup kita."
"Apakah dengan begitu kalau satu saat kita dirampok orang jahat tak perlu melawan?" tanya Laxmi Devi memburu, "Bukankah semua yang kita miliki bukan milik kita?"
"Itu adalah pemahaman yang naif dan keliru, sebab yang kita jaga dan kita pelihara adalah milik Allah yang diamanatkan kepada kita. Karena itu, wajib bagi seorang muslim untuk membela sampai mati atas amanat Allah yang dipikulnya."
Pembicaraan kami terus berlangsung dari soal hak dan kewajiban manusia sebagai wakil Allah di atas bumi. Laxmi Devi tampaknya gadis yang cukup cerdas meski dia sangat sulit menerima jalan pikiran saya yang sangat bertolak belakang dengan jalan pikirannya. Dan Saya bisa memaklumi karena pandangan seumumnya perempuan tentang materi memang khas dan sulit diluruskan, sehingga wajar sekali kalau Rasulullah SAW ketika akan wafat menitipkan masalah perempuan kepada umatnya. Ya, perempuan adalah saluran yang paling gampang dari godaan iblis untuk menyesatkan manusia, yang hal itu sudah termanifestasikan dari kisah Hawa yang menyeret Adam ke perbuatan dosa.

Akhirnya setelah berbicara panjang-lebar, Laxmi Devi seperti memahami pandangan saya. Bahkan dia berjanji apabila satu saat nanti saya mendapat panggilan ruhani untuk melakukan uzlah, maka dia akan memelihara Aham dan Twam sebagai ibu yang baik. Dan hati saya merasa terenyuh ketika dia menyatakan akan tetap setia memelihara Aham, bahkan dengan keadaannya seperti sekarang ini yang dianggap Ranjit dan Shakuntala sebagai istri saya. Dia memohon agar Saya tidak menceritakan hal yang sebenarnya kepada Ranjit dan Shakuntala tentang hubungan kami, sebab hal itu menyangkut kehormatannya.
"Saya tidak ingin dirasani orang sebagai gadis lajang yang tidak laku kawin. Karena itu, saya merasa bahwa status saya sebagai istri sampean akan sedikit memberi muka bagi saya. Dan yang penting orang-orang tahu bahwa saya pernah kawin dan bisa punya anak."
"Kalau begitu sampean memojokkan saya," kata saya.
"Memojokkan bagaimana?" tanya Laxmi Devi bingung.
"Sebab dengan ngomong bahwa status sampean adalah istri saya, maka saya harus kelihatan terus-menerus bersama sampean. Ini benar-benar merantai hidup saya," kata saya.
"Lho, tidak ada yang mengikat sampean dengan rantai," kilah Laxmi Devi agak tersinggung, "Sampean boleh saja pergi ke mana pun sampean suka."
"Kalau saya bebas seperti itu, status sampean sebagai apa?"
"Orang boleh menduga saya sebagai janda," kata Laxmi Devi menyergah, "Sebab bagi saya status janda adalah jauh lebih baik daripada status perawan lapuk tidak laku kawin."
"Sampean ini sembrono banget," kata saya geli. "Sembrono?" tanya Laxmi Devi heran. "Ketahuilah, o Laxmi Devi, bahwa dengan status
sampean sebagai janda, maka kemungkinan sampean untuk memperoleh cinta yang tulus dari seorang lelaki sangatlah tipis. Sebab kebanyakan lelaki mengawini janda tidaklah didasari atas rasa cinta, tetapi hanya didasari nafsu semata. Saya laki-laki, Laxmi Devi, dan saya tahu pasti pandangan lelaki tentang perempuan, terutama janda."
"Aduh, saya bingung," seru Laxmi Devi tertahan, dan tiba-tiba saja air matanya menetes membasahi pipinya yang kemerahan meski ia kelihatan berusaha menahan tangisnya. Akibat menahan tangis, dada Laxmi Devi tampak naik turun di tengah isak tangisnya yang tersendat.
Melihat Laxmi Devi yang kebingungan dan terisakisak, hati saya merasa terenyuh seolah-olah saya dapat merasakan kepedihan perasaannya. Dan dalam keharuan, tanpa berpikir panjang saya menggumam seolah-olah tanpa saya sadari:
"Sudahlah, Laxmi Devi, pasrahlah sampean kepada keputusan Allah yang menentukan segala-galanya bagi kehidupan makhluk-Nya. Ketahuilah, bahwa apa saja nikmat yang sampean peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpa sampean adalah dari diri sampean sendiri (QS. anNisaa': 79). Oleh sebab itu, berprasangkalah yang baik terhadap Allah bahwa tidaklah Beliau memberikan yang terburuk bagi sampean atas sesuatu yang tidak sampean sukai, melainkan ada sesuatu yang sejatinya dikehendaki Beliau yang terbaik untuk sampean. Yakini itu."
Laxmi Devi makin menangis tersedu mendengar uraian saya. Dia rupanya merasa terkena tikam oleh kata-kata saya. Dan akhirnya, dia mengakui bahwa dia memang sering diam-diam menggerutu atas nasib yang diberikan Allah kepadanya sebagai perempuan cantik yang cerdas dan kaya raya, tetapi tidak laku kawin. Dia mengaku sering menyumpahi Allah sebagai Tuhan yang tidak adil.
"Sampean seharusnya merasa bersyukur, bahwa dalam keadaan seperti itu sampean masih setia menjalankan perintah agama, sehingga sampean masih sadar diri. Padahal banyak di antara perempuan yang mengalami nasib seperti sampean, yang tidak laku kawin, memilih jalan sesat terjerumus ke jurang kesesatan yang mengerikan."
"Ya, saya tahu, bahwa banyak sekali gadis-gadis yang belum kawin dalam usia di atas 25 tahun yang akhirnya putus asa dan menjadi perempuan penjual diri."
"Yang saya maksud bukan itu," kata saya menukas. "Kalau bukan itu, lalu apa yang sampean maksud?"
tanya Laxmi Devi ingin tahu.
"Di negeri saya, ada sebuah kuburan keramat yang terletak di atas sebuah bukit bernama Gunung Kemukus," kata saya menceritakan kegiatan sesat para penyembah kuburan di antara sebangsa saya, "Kuburan itu, konon makam Jaka Samudra, yaitu seorang pemuda yang telah berbuat serong dengan ibu tirinya. Gadis-gadis lajang, perawan tua, dan janda-janda kembang yang kepingin kawin, berbondong-bondong berziarah ke kuburan itu pada malam hari. Dan salah satu syarat agar permohonan mereka terkabul, mereka diwajibkan melakukan persetubuhan dengan lelaki yang ditemuinya di tempat itu. Begitulah mereka bersetubuh di sekitar makam itu secara beramai-ramai agar keinginannya terkabul."
Laxmi Devi terbelalak mendengar cerita saya. Tetapi sedetik kemudian dia menunduk sambil menangis terisak-isak, seperti menyesali diri. Dan terus terang, sebagai laki-laki yang normal, saya sempat tersentuh juga meliha gadis secantik Laxmi Devi menangis di depan saya. Tetapi bayangan kisah Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi mendadak berkelebat di relung benak saya, hingga saya berusaha untuk menyadari bahwa saya tidak boleh mengikuti perasaan sampai hanyut terseret arus pesona yang ditebar Laxmi Devi.

Setelah berbicara tanpa arah ke Utara, Selatan, Barat, dan Timur secara panjang-lebar, akhirnya saya menyetujui saja kehendak Laxmi Devi untuk mengakukan dirinya sebagai istri Saya. Hal itu saya anggap saja sebagai pengorbanan saya untuk menjaga nama baiknya, sebab saya melihat betapa pentingnya hal itu bagi dia meski bagi saya bisa saja itu sangat merugikan. Tetapi mengenai status Aham, Saya menolak keras kehendak Laxmi Devi. Sebab bagaimana pun Aham harus tahu statusnya sejak dia masih kecil bahwa dirinya adalah anak angkat yang ditemukan di pinggir jalan. Ini penting, karena hal itu menyangkut hukum agama. Dengan menyadari eksistensi dirinya, saya berharap Aham dapat berdiri teguh di atas kepribadian yang mandiri, sehingga kalau di satu saat nanti dia menjadi manusia besar, maka dia bisa menyatakan dengan jujur dan tegar bahwa kebesaran yang dicapainya adalah kebesaran dirinya sendiri, sekali-kali bukan karena dikatrol kebesaran orang tuanya.

Apa yang saya putuskan mengenai status Aham, tidak lain dan tidak bukan memang merupakan ajaran Islam. Untuk selanjutnya, saya memang tidak berkata sepatah kata pun kepada Ranjit maupun Shakuntala tentang pengakuan Laxmi Devi sebagai istri saya. Tetapi jauh di lubuk hati Saya menyembul semacam keyakinan bahwa cepat atau lambat kebohongan Laxmi Devi akan terbongkar meski tidak melalui mulut saya. Sementara itu untuk menghindari munculnya fitnah atau menjauhkan kemungkinan agar rahasia Laxmi Devi tidak terbongkar, saya sehari-hari berusaha berada di luar rumahnya, terutama kalau malam hari Saya selalu berdzikir di Masjid Jama' hingga Subuh.
Pengurus masjid yang melihat saya sebagai satu-satunya jama'ah yang paling kuat duduk berlama-lama dalam dzikir, kelihatan menaruh simpati. Lalu mereka pun sering mengajak saya beromong-omong sampai larut dalam berbagai hal terutama yang menyangkut masalah keruhanian. Dari merekalah saya mengetahui bahwa Masjid Jama' yang disanggah 327 pilar itu dulunya didirikan oleh Sultan Sikandar Shah pada tahun 1388 Masehi, yaitu sezaman dengan era pemerintahan Hayam Wuruk di Majapahit. Menurut cerita: pada tahun 1462 masjid itu rusak binasa oleh api. Sultan Mohammad Shah kemudian membangunnya kembali tahun 1473. Tapi untuk kedua kalinya Masjid Jama' terbakar hancur dan dibangun kembali oleh Aurangzeb putera Shah Jehan pada tahun 1665. Nasib malang kembali menimpa Masjid Jama', karena untuk yang ketiga kalinya terbakar hancur. Masjid baru dibangun kembali tahun 1916.
Masjid lain selain Masjid Jama' di Srinagar yang sering saya kunjungi adalah Masjid Pathar yang terletak di tepi kiri Sungai Jhelum. Masjid itu, menurut riwayat, dibangun oleh puteri Noor Jahan, istri Raja Jahangir. Masjid kuno yang lain yang juga sering saya kunjungi adalah Masjid Shah Hamadan yang terletak di tepi kanan Sungai Jhelum. Masjid Shah Hamadan ini terbuat dari kayu yang indah penuh ukir-ukiran.
Menurut riwayat masjid ini dibangun oleh Syaikh Hamadan, tokoh asal Persia yang datang ke Kashmir saat Sultan Quthbuddin berkuasa tahun 1379. Itu artinya, Masjid Shah Hamadan lebih tua dibanding Masjid Jama'.
Setelah berdzikir ganti-berganti di tiga masjid tua tersebut, pada satu malam yang dinginnya menusuk tulang, tiba-tiba saja saya didatangi Chandragupta yang muncul dengan tak terduga-duga di depan saya. Meski tersentak, tetapi saya tidak terkejut, karena saya sudah membaui wangi kesturi yang menebar dari tubuh Chandragupta yang sudah saya kenal. Chandragupta sendiri dengan tenang duduk bersila di hadapan saya sambil mengucap salam. Anehnya, saya tidak bisa membedakan apakah saat itu berada di dalam salah satu dari tiga masjid tua itu ataukah berada di sebuah dimensi yang bukan di dunia. Saya merasa seperti berada di suatu tempat yang bercahaya temaram dengan hawa dingin dan keadaan hening.
Dalam keheningan yang dingin itu, saya mendengar tetes-tetes air jatuh menimpa bebatuan di tengah suara gemericik air yang mengalir di kejauhan. Aneh sekali suasana malam itu. Lalu tanpa pernah saya bayangkan sebelumnya, Chandragupta berkata dengan suara diliputi semacam wibawa harimau yang membuat gentar siapa pun yang mendengarnya.
"Ketahuilah, o Saya, bahwa engkau sekarang sudah mulai mendaki Jamu'l Jam," desah Chandragupta dengan suara seperti desau angin di padang ilalang.
"Sampean memanggil nama saya yang sebenarnya?" tanya saya heran, "Bagaimana mungkin sampean bisa tahu kalau nama saya yang sebenarnya adalah 'Saya'?"
"Ketahuilah, o Saya,, bahwa keragaman nama di antara kita sudah lebur. Sudrun sudah hilang. Chandragupta pun sudah musnah. Yang tinggal hanyalah 'Saya' yang memiliki kaitan dzat dan sifat yang sama."
"Saya belum mengerti maksud sampean," gumam saya heran.
"Ketahuilah, o Saya, bahwa pada tahap tertentu di antara kita terdapat kesamaan yang hanya bisa kita ketahui sendiri. Aku bisa mengetahui engkau, karena aku lebih dulu berada di tahap tersebut, sementara engkau baru menaikinya, sehingga engkau belum mengetahui secara pasti siapa aku sebenarnya dan siapa engkau sebenarnya. Karena itu, sejak saat ini kita tidak perlu lagi ber-aku dan ber-engkau serta bertuan satu dengan yang lainnya. Cukuplah engkau menyebut aku dengan sebutan 'Saya', dan aku pun akan menyebut engkau dengan sebutan 'Saya'. Sebab kita memang 'aku' yang satu yang hanya dipisahkan dan dibedakan oleh bentuk fisik tubuh kita."
Saya termangu-mangu memandangi Chandragupta yang duduk bersila dengan tangan memutar-mutar tasbih. Sekilas saya melihat bahwa pada diri Chandragupta membias bayangan keberadaan saya meski saya tidak tahu bias bayangan apa yang saya tangkap itu. Saya mendadak saja merasakan bahwa Chandragupta bukanlah orang lain melainkan bagian dari diri saya sendiri. Ini sungguh aneh, berkali-kali aneh.
"Ada beberapa hal yang ingin aku jelaskan kepada engkau, Saya, sebelum aku meninggalkan engkau sendirian dalam menapaki perjalanan ruhani," kata Chandragupta menyibak keheningan.
"Sampean akan meninggalkan saya?" tanya saya kaget dan mendadak tubuh saya terasa panas-dingin dan gemetar.
"Bukankah engkau sering mengatakan bahwa setiap ada perjumpaan mesti ada perpisahan?" gumam Chandragupta seperti menyindir, "Bukankah engkau juga sering berkata bahwa siapa yang memiliki pasti akan kehilangan?"
"Tetapi yang saya maksudkan adalah sesuatu yang bersifat bendawi," kilah saya dengan tubuh menggigil dihajar semacam kegentaran, "Saya tidak mengatakan itu dengan maksud untuk terpisah dengan penuntun ruhani saya."
Chandragupta mendadak tertawa renyai, dan derai tawanya menggema dibawa desau angin malam. Kemudian dengan tetap duduk bersila sambil mengelus-elus janggutnya yang lebat dan panjang hingga ke dada, dia menggumam:
"Wahai nafs yang dibelenggu maut, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai! (QS. al-Fajr: 27-28). Ketahuilah, apabila sangkakala telah ditiupkan, maka tidak ada lagi pertalian nasab (QS. al-Mu'minun: 101). Sadarilah bahwa tiap-tiap nafs telah disempurnakan akan apa yang dikerjakan dalam rangkaian hukum sebab akibat (QS. az-Zumar: 70). Sesungguhnya tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya (QS. al-Mudatsir: 38)."
"Wahai Saya!" seru saya memanggil Chandragupta dengan sebutan Saya, yang membuat saya keheranan sendiri, "Mengapakah sampean menafsirkan MUTHMA'INNAH dengan sebutan nafs yang dibelenggu maut?"
"Aku tidak perlu menjelaskan itu sekarang," sahut Chadragupta tersenyum lebar, "Sebab satu saat nanti engkau akan mengetahui sendiri makna sejatinya."
Saya menunduk kecewa, tetapi saya segera menyadari bahwa selama ini saya terlalu banyak bertanya daripada merenungkan sendiri suatu persoalan. Itu sebabnya, setelah mendengarkan apa yang dikatakan Chandragupta, saya jadi sadar bahwa bagaimana pun saya harus melakukan perjalanan ruhani seorang diri. Itu sungguh sebuah fakta yang menakutkan. Itu sebabnya, saya membutuhkan bekal-bekal petunjuk dari Chandragupta sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan saya dalam kesendirian.
Chandragupta sendiri ternyata mengetahui gelegak jiwa dan kilasan pikiran saya. Dengan suara lembut diliputi wibawa, dia berkata, "Aku tahu engkau mengalami kegamangan dalam meniti jejak langkah seorang diri di atas bentangan jalan ruhani. Padahal, inilah awal pembuktianmu untuk menguji kebenaran kalimat 'Sesungguhnya Dia meliputi segala sesuatu' (QS. Haa Miim: 54); sadarilah, bahwa Allah pelindung orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (QS. al-Baqarah: 257); janganlah engkau syak dan ragu, sebab Dia bersama engkau di mana pun engkau berada (QS. al-Hadiid: 4)."
Mendengar ungkapan Chandragupta yang terakhir, hati saya tersentak dan dada saya terasa sesak. Saya merasa bahwa saya selama ini masih dilanda keraguan dan kebimbangan, sebab saya sendiri mengakui betapa naluri saya sebagai manusia masih serng menginginkan bukti rupa dan rasa dari Keberadaan Allah. Karena itu, sekalipun ayat-ayat al-Qur'an sudah menegaskan dengan terang, saya masih sering dilanda keraguan karena belum menyaksikan sendiri dengan mata indera akan Keberadaan Allah. Sungguh, sebuah keinginan naif yang membuktikan kebodohan dan kedangkalan ruhani saya.
Chandragupta yang melihat perubahan mimik saya hanya tersenyum sambil terus berkata, "Ketahuilah, o Saya, bahwa keraguan adalah awal dari kepastian. Bukankah kepastian tidak akan pernah terjadi tanpa ada keraguan? Oleh sebab itu, wahai Saya, beruntunglah engkau yang termasuk orang-orang yang meragukan Allah. Sebab, hanya mereka yang meragukan yang akan beroleh kepastian. Sebab, hanya yang bertanya yang akan beroleh jawaban. Sebab, hanya yang mencari yang akan menemukan."
"Ketahuilah, wahai Saya, bahwa betapa banyaknya manusia yang hanya mewarisi begitu saja akan hakikat pengenalan akan Allah secara turun-temurun. Mereka itu tidak peduli akan apa yang mereka sembah, sebab Tuhan bagi mereka adalah seperti apa yang didongengkan orang tuanya. Bahkan tak jarang terjadi di antara umat Islam sendiri yang memahami keberadaan Allah dengan kekerdilan otaknya yang jahil. Sehingga Tuhan yang dipahaminya bukanlah Tuhan yang seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, melainkan Tuhan yang kerdil dan picik seperti prasangka dan dugaan mereka."
"Adakah bekal yang bisa saya peroleh dari sampean, sebelum sampean meninggalkan saya, wahai belahan jiwa saya mulia?" tanya saya berharap.
"Ingatlah, o Saya, bahwa selama ini engkau masih terikat oleh perasaan suka dan tidak suka atas segala hal yang terjadi di sekitarmu. Karena itu, sejak saat ini engkau harus belajar melepas rasa suka dan tidak suka di dalam dirimu atas sesuatu yang terjadi di sekitarmu. Dengan demikian, apabila suatu saat nanti engkau mendapati sifat iblis dilakukan oleh seseorang di sekitarmu, janganlah engkau membenci atau memusuhinya."
"Apa yang harus saya lakukan, jika berada pada keadaan berhadapan dengan orang-orang bersifat iblis?" tanya saya heran dan ingin jawaban.
"Pujilah Allah yang telah mencipta makhluk-Nya dengan aneka rupa sifat dan perbuatan sehingga membuatmu tergetar olehnya, "kata Chandragupta tanpa ekspresi, "Pujilah Allah kalau engkau melihat kebaikan maupun kemungkaran yang diperbuat makhluk ciptaan-Nya."
"Apakah itu berarti saya harus berpangku tangan melihat sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani dan ajaran Islam?"
"Aku tidak menyuruhmu mengambil sikap seperti itu, Saya, aku hanya menyarankan agar engkau melepaskan subjektivitasmu. Artinya, kalau satu saat engkau menemui suatu tindak kebatilan, cegahlah dia dengan tangan, mulut, atau dalam hati; tetapi engkau harus tetap ingat, jangan membenci dia yang melakukan kebatilan."
"Renungkanlah akan perilaku Nabi Muhammad SAW ketika mendakwahkan kebenaran Islam. Beliau tidak sampai terperangkap kepada rasa suka dan tidak suka. Bahkan saat beliau dilempari batu dan dibalur tai unta, beliau tetap mendoakan kebaikan terhadap orang-orang yang memusuhi. Bahkan kalau engkau tahu, sekalipun beliau memimpin berbagai peperangan, namun beliau tidak pernah membunuh siapa pun kecuali dijadikan sarana oleh Allah. Sebab beliau tiadalah diutus Allah kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta (QS. al-Anbiyaa': 107) sehingga saat membunuh musuh dalam.perang pun yang melakukan adalah Allah sendiri dengan menjadikan beliau sebagai sarana (QS. al-Anfal: 17). Oleh karena itu, contohlah perilaku beliau yang lemah lembut dan penuh kasih sayang dalam menyampaikan kebenaran terhadap kaum beriman tetapi bisa tegas terhadap mereka yang ingkar."
"Saya akan selalu mengingat pesan sampean untuk meneladani Nabi Muhammad SAW dalam segala hal sesuai kemampuan saya, sebab saya sadar bahwa saya hanyalah manusia dlaif yang tiada seujung kuku hitam dibanding beliau," kata saya.
Chandragupta tertawa lepas dengan suara berderai-derai. Kemudian dengan mendadak dia berkata, "Tahukah engkau kenapa satu batu ujianmu sudah terlewati?"
"Saya belum mengerti sama sekali."
"Ketahuilah, Saya, bahwa di saat engkau menguraikan penjelasan kepada Laxmi Devi, maka seketika itulah engkau telah melewati garis pembatas dari samudera dirimu. Engkau sekarang ini sedang meniti tanah genting di antara dua buah lautan penghasil Lu'Lu'u dan Marjaan (QS. ar-Rahmaan: 19-20-22). Di situlah engkau akan melihat kapal-kapal besar yang memuat umat yang layarnya terkembang laksana gunung-gemunung (QS. ar-Rahmaan: 24), di mana kapal-kapal tersebut adalah ibarat dari agama-agama yang menuju Allah sebagai ibarat pelabuhan harapan. Dan kalau engkau selamat di ujung tanah genting, maka segala yang ada di hadapanmu akan sirna, dan yang tetap tinggal hanya wajah Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Besar (QS. ar-Rahmaan: 26-27)."
"Saya tahu, bahwa perjalanan saya kali ini akan diuji oleh kebaikan-kebaikan dan kemapanan-kemapanan yang bisa menjebak dan menghalangi perjalanan saya," kata saya dengan hati berbunga-bunga, "Sebab di atas tanah genting itu, apabila saya goyah oleh pemandangan lautan yang berisi mutiaramutiara indah dan marjaan yang indah, maka saya akan terperosok dan tenggelam di lautan tersebut."
"Engkau telah memahami makna rahasia yang tersembunyi di balik ayat-ayat al-Qur'an," kata Chandragupta penuh haru, "Tetapi tahukah engkau akan keteranganku tadi seputar sebab-musabab langkahmu sampai di tanah genting antara dua lautan?"
"Ya," seru saya karena saya mendadak saja merasakan kehadiran Siiru'l Haqq membentur pengalaman saya, "Saya telah memahami penjelasan akan hakikat manusia sebagai pemegang amanat Ilahi."
"Engkau bukan sekadar memahami dan menguraikannya, tetapi engkau telah mengamalkannya meski itu belum kau sadari," kata Chandragupta dengan mata berbinar-binar, "Oleh sebab itulah kita bisa saling bertemu dalam segala hal. Ketahuilah, Saya, bahwa kebanyakan umat Islam sekarang sudah tidak menyadari lagi bahwa dirinya adalah wakil Allah di atas bumi. Mereka sudah terjebak pada keserakahan dan mengaku-aku sebagai pemilik segala. Padahal, mereka tidak memiliki apapun di dunia in, bahkan tubuh dan nyawa mereka pun bukan milik mereka."
"Bersyukurlah engkau yang masih ingat akan keberadaanmu sebagai manusia yang tidak memiliki apa-apa dan tidak dimiliki oleh siapa-siapa kecuali Sang Pencipta. Sebab mereka yang sudah meng-hak-i hak Allah, akan terjerat pada kebendaan dan menjadi takut mati. Padahal Allah sewaktu-waktu akan mengambil milik-Nya dengan cara tak terduga."
"Semoga saya dijauhkan Allah dari kecenderungan yang demikian."
"Tetapi perlu engkau ketahui, Saya, bahwa mereka yang meng-hak-i hak Allah akan hidup dalam keserbatidak-tenteraman. Mereka akan selalu dirundung kesedihan, kecemasan, keresahan, kegelisahan jiwa, dan rasa sakit karena mereka selalu kehilangan setiap saat. Dan kalaupun mereka mampus, maka mereka pun akan mengalami sakaratul maut yang mengerikan karena jiwanya telahmelekat pada hak milik yang bukan haknya."
"Apakah saya punya hak untuk mengingatkan mereka?"
"Ingatkanlah mereka kalau engkau mampu," kata Chandragupta datar seperti tanpa perasaan, "Tetapi engkau tidak akan dapat mengubah mereka, karena Rasulullah SAW telah melihat hal itu akan terjadi pada umat beliau. Oleh sebab itu beliau pernah berkata bahwa suatu ketika nanti umat Islam akan cinta dunia dan takut mati. Itulah penyakit al-wahan yang diderita umat Muhammad SAW. Semoga kita terhindar dari penyakit nista itu."
"Tapi maksud saya mengingatkan mereka itu semata-mata hanya dilandasi keinginan untuk menyampaikan apa yang saya ketahui tanpa sedikit pun saya memendam pamrih apakah seruan saya akan diterima atau tidak."
"Itulah yang kumaksud dengan keterlepasan jiwa dari rasa suka dan tidak suka."
"Apakah yang harus saya lakukan sesudah ini?" "Lakukan puasa dan uzlah selama 40 hari," kata Chandragupta, "Aku sangat berharap, satu saat nanti engkau akan kawin dan beranak-pinak."
"Kenapa sampean bilang begitu?" tanya saya heran, "Padahal saya sendiri tak pernah tahu apakah sampean sendiri punya istri dan anak."
"Ketahuilah, Saya, bahwa seorang salik yang kawin akan memiliki maqam beberapa tingkat di atas salik yang tidak kawin. Dan tanpa kujelaskan pun engkau sudah paham itu."
Saya masih termangu penuh takjub dengan uraian Chandragupta ketika tiba-tiba saja dia bergerak cepat memeluk saya. Saya merasakan napas saya sesak didekap dengan erat oleh Chandragupta. Dan saat saya megapmegap berusaha menghirup udara, saya rasakan dekapan Chandragupta melonggar karena tubuhnya berubah menjadi sebentuk gumpalan asap. Sekejap kemudian Chandragupta telah raib ke dalam diri saya.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Dening: Suparto BrataDiamput! Sepatuku ilang ndhuk mejid. Iki gara-gara sholat Jumat ndhuk mejid enyar cedhake kantorku. Diamput, ejik enyar wis nggawa korban!

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Malam hitam membentang diwarnai jutaan bintang yang meneteskan embun bagai langit menitikan air mata membasahi semesta. Keheningan mencekam seolah-olah menidurkan rerumputan

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA BELAS)

Angin bertiup kencang menaburkan hawa maut ke segenap penjuru bumi. Gelombang samudera menggemuruh dengan suara ombak berdentum-dentum menggempur batu karang yang tegak menjulang

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

Sejak melewati pengalaman menggetarkan bersama ruh mereka yang sudah berada di alam barzakh, segala sesuatu secara berangsur-angsur saya rasakan mengalami perubahan pada diri

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT)

"KALAU MAU MENCARI ALLAH, BELAJARLAH DARI IBLIS!"Seperti ledakan halilintar bisikan misterius itu menggedor otak dan dada saya yang membuat seluruh jaringan darah di

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA)

"Kalau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!"Kembali bisikan misterius itu membentur pedalaman saya bagai kilatan halilintar, yang belakangan ini justru semakin sering

Percayakah Kau Padaku?

Percayakah Kau Padaku?

Cerita ini diambil dari salah satu cerita pendek pada buku "Sepotong Hati Yang Baru" dengan judul "Percayakah Kau Padaku?" yang ditulis oleh Tere Liye.__________________

Kisah Sejarah Gaib Tanah Jawa

Kisah Sejarah Gaib Tanah Jawa

Sejarah awal Pulau Jawa seolah terbungkus oleh misteri, karena sama sekali tidak diketahui keberadaannya oleh dunia sampai pulau ini dikunjungi oleh peziarah dari China, Fa