Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT)

  • 2018-07-22 10:11:40
  • 982

"KALAU MAU MENCARI ALLAH, BELAJARLAH DARI IBLIS!"
Seperti ledakan halilintar bisikan misterius itu menggedor otak dan dada saya yang membuat seluruh jaringan darah di tubuh saya macet beberapa detik. Saya tidak mengerti, kenapa bisikan misterius itu bisa menjadi begitu dahsyat pengaruhnya sehingga membuat jiwa saya seperti terlontar jauh ke suatu hamparan sunyi yang mengerikan. Sesaat setelah bisikan misterius itu hilang, suasana saya rasakan menjadi hening dan hampa, di mana hanya rasa lapar saya rasakan meremas-remas perut saya dan membuat kepala saya berdenyut-denyut. Semua hampa.
Hambar. Lengang.
Seingat saya, sudah sehari semalam ini saya tidak makan sesuatu kecuali meminum seteguk air waktu berbuka sore kemarin. Mungkin kondisi fisik saya yang jelek karena saya telah berjalan kaki dari Surabaya ke Gresik, sehingga bisikan misterius itu menjadi begitu dahsyat saya rasakan. Tetapi bagaimana pun saya tetap kebingungan, karena saya sedikit pun tidak memiliki niat berjalan kaki ke kota Gresik apalagi saya dalam keadaan puasa. Dan saya semakin kebingungan ketika saya mendapati diri saya tahu-tahu sudah berada di suatu kompleks makam yang seingat saya adalah makam leluhur saya, karena pada waktu saya masih kecil bapak saya pernah mengajak saya berziarah ke kompleks makam ini.
Terus terang, saya bukan orang yang gemar berziarah apalagi sampai meminta-minta berkah pada salah satu makam. Karena itu, sekalipun kompleks makam yang sekarang ini saya masuki tidaklah pernah saya kunjungi kecuali sewaktu kecil ketika saya diajak bapak berziarah, tidak membuat hati saya tergerak untuk berziarah dan meminta sesuatu dari ahli kubur yang tidak lain dan tidak bukan adalah kakek buyut saya. Bukan karena apa kalau saya sampai tidak suka berziarah, tapi hanya karena saya takut melakukan perbuatan syirik meski sebesar atom di dalam hati saya. Oleh karena itu, kehadiran saya di tengah kompleks makam leluhur pada tengah malam ini sangatlah mengherankan, terutama bagi saya sendiri. Bagaimana mungkin tanpa pernah saya rencanakan, tiba-tiba saya sudah berada di sebuah kompleks makam yang dikeramatkan masyarakat?
Saya sendiri tidak mengerti, kenapa suasana gelap gulita di kompleks makam itu sedikit pun tidak menimbulkan suasana seram bagi saya. Saya menganggap biasa saja keadaan yang melingkari sekitar saya. Bahkan diam-diam saya merasa tenang karena perasaan saya mengatakan, bahwa mereka yang dikuburkan di kompleks makam itu adalah para leluhur saya. Mereka, pikir saya tidaklah mungkin menggoda dan menakut-nakuti saya dalam bentuk kuntilanak, jerangkong, pocongan, gondoruwo, kemamang, brekasakan, ilu-ilu, banaspati, tuyul, dan demit.
Dingin malam mendadak Saya rasakan menusuk tulang belulang saya. Perut saya mendadak saya rasakan sangat lapar sekali. Kepala saya pun saya rasakan berdenyut-denyut. Pohon beringin yang berdiri megah di tengah-tengah kompleks makam, saya lihat- lihat bergoyang-goyang seperti makhluk hidup. Sementara awan hitam di langit yang menutupi rembulan dan bintang-bintang, membuat suasana gelap gulita. Tidak terlihat apapun di sekitar saya kecuali pancaran lampu lima watt yang terpasang jauh di pinggir jalan dengan nyala suram berkedip-kedip.
Ketika angin dingin menerpa tubuh saya, saya rasakan tubuh Saya limbung. Buru-buru Saya duduk dan menyandarkan punggung pada gerbang yang mengantarai teras makam dengan tungkub. Saat kesadaran saya terasa mulai menurun, tiba-tiba saya melihat relief batu yang terpampang di dinding tungkub makam: bentuknya bulat melingkar dengan gambar makara di tengah, tetapi pada pancaran gambar cahaya yang berpendar ke delapan penjuru mata angin, sela-selanya terdapat delapan tulisan dalam huruf Arab yang berbunyi: Allah, Muhammad, Adam, Ma’rifat, Asma’, Sifat, Dzat, dan Tauhid. Saya tidak tahu pasti apa makna dari kedelapan tulisan huruf Arab itu. Tapi saya menduga, itu semacam rumus rahasia dari suatu aliran tarikat tertentu yang berkaitan dengan inti utama ajaran rahasia, yang tidak juga saya ketahui itu rumus ajaran tarikat apa.
Antara sadar dan tidak, saya menyaksikan gambar relief di dinding tungkup makam itu seperti memancarkan suatu kekuatan gaib, yang membuat saya seperti terhisap ke suatu kekuatan gaib yang melemparkan saya ke suatu dimensi yang menegangkan. Semakin saya pusatkan konsentrasi saya untuk memandang lebih tegas gambar relief itu, semakin terhisap saya oleh kekuatan gaibnya. Dan entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saya mendapati diri saya sudah duduk di atas "watu gilang" yang teronggok seperti meja di halaman yang terletak di luar gerbang makam. Yang lebih mengherankan, tangan saya berpegangan pada dahan pohon kamboja yang tumbuh di samping meja batu yang bentuknya seperti tangan. Tapi betapa terkejutnya saya ketika dahan kamboja yang saya pegang itu terasa sangat empuk seperti kapas. Dan keterkejutan saya makin memuncak ketika saya amat-amati dahan kamboja yang saya pegang itu ternyata lengan seseorang. Saya kejap- kejapkan mata saya, dan saya dapati sosok manusia bertubuh tegap mengenakan pakaian lurik Jawa ditutupi jubah putih berdiri tegak memandangi saya yang berdiri kebingungan.
"Siapa sampean?" gumam saya asal ngomong dengan pandangan nanar dan dada berdegup-degup,
"Pakaian sampean kok persis Pangeran Diponegoro dalam film yang saya lihat di bioskop?"
Orang berjubah putih itu diam tak menjawab. Tapi sesaat kemudian tangannya melesat dengan cepat menjewer kuping saya. Dan secepat itu pula dia menyorongkan wajahnya ke wajah saya. Saya terkejut, karena menyaksikan wajah laki-laki itu mirip dengan wajah bapak saya. Tapi sebelum saya berpikir jauh, laki-laki yang berwajah mirip bapak saya itu membisikkan sesuatu ke kuping saya.
"Sampean Kiai Pusponegoro?" pekik saya kaget dan saya rasakan kesadaran saya rontok sehingga tubuh saya terasa tumbang di atas watu gilang. Napas saya mendadak terasa pendek. Tubuh saya tiba-tiba terasa dingin. Kemudian semuanya saya rasakan menjadi ringan bagai tanpa bobot. Saya seperti melayang-layang tanpa bobot di antara dua alam yang dibatasi semacam kabut tipis.
Sepersekian detik saya merasakan tubuh saya melayang-layang tanpa bobot di angkasa yang penuh diselimuti kabut tipis. Kemudian sepersekian detik, saya melihat sosok bayangan laki-laki berjubah putih itu berdiri di hamparan padang luas saling berhadap-hadapan dengan saya. Saya pandangi dia penuh rasa heran. Dia hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu saya. Saya kebingungan tidak tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang harus saya lakukan di tengah suasana aneh mencengangkan ini.


"Sampeankah Kiai Pusponegoro yang tadi menjewer kuping saya?" tanya saya diliputi keheranan, "Di manakah kita sekarang ini?"
Laki-laki berjubah putih itu tersenyum sambil terus menepuk-nepuk bahu saya. Saya sendiri heran karena saya merasakan kelegaan luar biasa menguasai dada saya setiap kali tangan laki-laki itu hinggap di bahu saya. Tapi bagaimana pun saya tetap curiga dengan situasi aneh yang saya alami, sehingga saya pun bertanya lagi, "Betulkah sampean Kiai Pusponegoro?"
Dia mengangguk penuh wibawa. Saya mencium bau mawar dan kenanga menebar dari tubuhnya memasuki penciuman batin saya. Setelah saya tahu bahwa laki-laki misterius di depan saya itu adalah Kiai Pusponegoro, saya masih bertanya lagi, "Apakah sampean ini Kiai Pusponegoro yang kakek-moyang saya?"
"Kenapa engkau selalu bertanya wahai anak bagus?" tanya Kiai Pusponegoro mulai mengelus-elus rambut saya yang awut-awutan.
"Saya khawatir jangan-jangan sampean ini jin yang menggoda saya dalam rupa Eyang Kiai Pusponegoro."
"Kewaspadaan memang penting, o anak," sahut Kiai Pusponegoro dengan nada sabar, "Tapi jangan sampai engkau terperangkap pada prasangka buruk. Sebab sekali engkau terjerat oleh lingkaran prasangka buruk, maka engkau akan terus menerus berputar-putar dalam kumparan kecurigaan yang tidak berujung pangkal. Dan ketahuilah, bocah, dalam pencarian ruhani jangan sekali-sekali engkau membenamkan diri dalam pertanyaan-pertanyaan dan kecurigaan-kecurigaan; sebab yang demikian itu akan menjadi jerat bagi langkahmu sendiri."
"Eyang Kiai Puspo yang mulia," kata saya penasaran," Di mana kita sekarang ini berada?"
"Kita sekarang ini berada di alam rasa yang ada di dalam dirimu sendiri."
"Di dalam diri saya sendiri?" tanya saya makin heran, "Bagaimana mungkin sampean bisa masuk ke dalam diri saya?"
"Karena di dalam darah, daging, sumsum, urat-urat, dan tulang-tulangmu tersembunyi hakikat darah, daging, sumsum, urat, dan tulangku. Duniamu adalah duniaku meski kita dipisahkan ruang dan waktu. Sebab engkau ada lantaran aku ada. Engkau adalah mata rantai dari keberadaanku, sehingga di alam rasamu terangkai hakikat alam rasaku, demikian sebaliknya."
"Ketahuilah, o anak, bahwa lewat alam rasamu aku memasuki alam rasaku. Oleh sebab itu, wahai bocah, aku tetap dapat merasakan getaran samudera rasa di dalam alam rasamu sekalipun antara aku dan engkau sudah dipisahkan oleh ruang dan waktu yang berlainan."
"Apakah manusia yang mati masih bisa melihat dan mengetahui segala sesuatu tentang manusia yang hidup?" tanya saya ingin tahu.
"Sesungguhnya kematian hanya kerusakan wujud luar belaka. Kematian bukan kepunahan. Kematian hanya peristiwa perubahan dari satu wujud ke wujud yang lain. Dan ketahuilah, o anak, bahwa yang mati sesungguhnya lebih mendengar dan lebih melihat daripada yang hidup. Yang mati lebih merasakan daripada yang hidup. Yang mati lebih waskita daripada yang hidup. Karena yang mati tetaplah hidup di alam semesta yang batin yang disebut ‘Aalam-i-Arwaah yang merangkum makna ‘Aalam–i-mitsaal dan ‘Aalam–i- ajsaam."
"Apakah sampean mendengar segala keluh kesah anak keturunan sampean, wahai Eyang Kiai Puspo?" tanya saya ingin tahu.
"Mereka yang hatinya tidak dinodai titik hitam akan selalu memancarkan getar kuat dari alam rasanya ke alam rasaku, sehingga segala apa yang mereka rasakan akan bisa aku rasakan. Tetapi apabila pada hati mereka ada titik hitam, maka terhijablah alam rasa mereka dengan alam rasaku."
"Apakah yang sampean maksud dengan titik hitam dalam hati itu, Eyang?"
"Apabila engkau melihat ada di antara keturunanku atau yang lain bersimpuh di sekitar makamku, sementara hati mereka terpaut pada onggokan bebatuan di pusaraku. Mereka yang tidak mendoakan aku, tetapi meminta doa dari batu nisanku, itulah noda hitam; mereka yang hari-hari hidupnya diliputi kilasan-kilasan materi duniawi dalam dengus keserakahan, itulah noda hitam."
"Bagaimanakah dengan mereka yang memohon pertolongan dan memohon berkah kekeramatan dari sampean, Eyang?" tanya saya ingin penegasan.
"Itulah noda hitam."
Diam-diam saya merasa bersyukur karena saya sejauh ini belum terperangkap pada lingkaran noda hitam yang berupa pemujaan dan penyembahan makam Kiai Pusponegoro yang menjadi kakek-buyut saya. Rupanya berbagai tekanan hidup yang saya rasakan dan saya resapi dengan segala kepahitan dan kegetirannya tanpa saya pernah mengeluh dan meratap pada kekuatan-kekuatan inderawi di luar diri saya, secara tanpa sadar telah mengguncang alam rasa kakek-buyut saya yang sudah mati ratusan tahun silam itu. Dan sungguh saya tidak pernah berpikir bahwa kebiasaan-kebiasaan beberapa orang kerabat saya yang bersimpuh di depan makam sambil meratap-ratap meminta pertolongan dan berkah dari kakek-buyut saya itu justru merupakan titik hitam yang menghijab dan memisahkan alam rasa semesta yang batin antara yang hidup dan yang mati.
Setelah agak lama saya termangu-mangu, saya pun menanyakan sekitar makna . Kiai Pusponegoro tiba-tiba menunduk dan dari surban putih di kepalanya memancar cahaya biru keputihan dilingkari sinar pelangi. Kemudian dengan suara dipenuhi getar kekuatan Kiai Pusponegoro mulai berkata:
"Ketahuilah, o anak, bahwa apa yang disebut  adalah sebuah rangkaian makna perjalanan insan kembali ke mata air yang hakiki. Itulah yang disebut Ilmu Sangkan Paraning Dumadi, yang telah diajarkan Kangjeng Sunan Kalijaga, Kangjeng Sunan Giri, Kangjeng Syaikh Siti Jenar, Kangjeng Sunan Gunung Jati. Ajaran  sendiri terpilah menjadi tiga buana yang disebut Triloka."
"Loka yang pertama adalah buana bawah yang merupakan alam dari kerendah-budian hawa nafsu yang dirangkum dalam makna "DIYU" yang berarti raksasa. Pada tingkat ini, manusia berada pada tahap ke-aku-an yang kerdil yang mengejawantah dalam watak adigang-adigung-adiguna. Manusia pada tingkat ini gerak kehidupannya selalu diselimuti nafsu-nafsu, bahkan dijadikannya hawa nafsu itu sebagai sesembahan dan tujuan hidup mereka (QS. al-Jatsiyah: 23). Hal itu pada dasarnya berpangkal dari kodrat-kodrat bawaan yang menjadi bagian hakiki kehidupan setiap insan, karena makna penciptaan manusia berawal dari "Intipati tanah" yang membentuk bagian wadag yang dzahir yang secara kodrati merangkum makna "aku" yang kerdil dan berbeda-beda. Sementara pada ke-aku-an tersebut melekat kodrat-kodrat dzahir yang senantiasa digetari sifat-sifat terendah dari nafsu-nafsu dzahir yang mewadag dalam bentuk materi."
"Di lain pihak, dari asal-usul pembentuk wadag manusia yang rendah itu terangkum hakihat Ruuh Ilahi yang terangkai dalam rahasia Nafakhtu fiihi min ruuhi (QS. ash-Shaad: 72). Dengan demikian, hakikat kerendahan manusia adalah "kesatuan dari pertentangan" antara makna rendah "Intipati tanah" dengan makna suci Ruuh Ilahi. Sehingga hakikat keberadaan manusia senantiasa saling tarik menarik antara yang rendah dan yang tinggi, antara yang wadag dan yang ruhani, antara yang duniawi dan yang ukhrawi."
"Ketahuilah, o anak, bahwa apa yang disebut "Diyu" adalah hakikat manusia yang terseret pada kodrat-kodrat rendahnya untuk melekatkan diri pada yang wadag dengan nafsu-nafsu yang melingkupinya. Manusia yang seperti ini akan mengorbankan apa saja untuk kepentingan "aku"-nya. Manusia "Diyu" ini membuat berbagai kerusakan karena segala gerak dan langkah hidupnya hanya dituntun oleh "aku" yang kerdil. Manusia "Diyu" inilah oleh Allah disetarakan dengan hewan ternak, bahkan lebih sesat jalan dari hewan (QS. al-Furqan: 44). Bahkan manusia "Diyu" itu direndahkan derajatnya sebagai serendah- rendahnya mahkluk (QS. at-Tiin: 5). Manusia "Diyu" inilah makhluk yang dimurkai Allah dan menuju ke jalan yang sesat (QS. al-Fatihah: 7)."
"Karena itu, o bocah, setiap manusia wajiblah meruwat "Diyu"-nya dengan "Sastra Pangruwat" agar dia bisa menjadi "Rajendra Hayuningrat" atau "Khalifatullah fill Ardl" yang tiada lain adalah al-Insaan al-Kamil."
"Apakah yang disebut "Rajendra Hayuningrat" itu, Eyang?" tanya saya penuh diliputi rasa keingintahuan.
"Rajendra berarti "Raja" atau "Khalifah" atau "Wakil Al-Malik," yaitu "raja di dunia" yang mewakili Maharaja Diraja Alam Semesta. Sedang Hayuningrat bermakna pemelihara jagad dunia, baik jagad ageng maupun jagad alit, baik jagad yang dzahir maupun jagad yang batin. Mereka yang disebut Rajendra itulah manusia-manusia sempurna (al-Insaan al-Kamil) yang telah menemukan jati dirinya dalam kesadaran Sirr al- Haqq sehingga menyadari bahwa dirinya tercipta dari satu nafs yang terangkai dalam makna min nafsin wahidah (QS. an-Nisa’: 1)."
"Ketahuilah, o anak, bahwa untuk menjadi al-Insaan al-Kamil atau Rajendra Hayuningrat itu bukan pekerjaan ringan. Sebab perjalanan dari "Diyu" menuju ke "Rajendra" harus melampaui tujuh samudera, tujuh gurun, tujuh lembah, tujuh buana, tujuh langit yang tak pernah diketahui batas-batasnya. Ketujuhnya adalah rangkaian dari pengejawantahan nafs yang menghampar indah, namun penuh keganasan yang siap menenggelamkan dan meleburkan apa saja dan siapa saja. Dan ketujuh nafs itu adalah Nafs Ammaraah, Nafs Lawwamah, Nafs Sufliyah, Nafs Muthama’innah, Nafs Raadiyah, Nafs Murdiyyah, dan Nafs Kaamilah."
"Apa yang disebut Sastra Pangruwat, Eyang?"
"Sastra Pangruwat adalah rangkaian hukum-hukum yang dzahir maupun yang batin, yang tidak saja menghukumi perjuangan dari "Diyu" menuju "Rajendra," melainkan menghukumi pula makna mata rantai antara "Diyu" hingga ke "Rajendra" sampai ke "Yang Ilahi". Bagi kita tiada lagi Sastra Pangruwat yang haq terkecuali al-Qur’an yang memaknai hukum dari "Diyu" ke "Rajendra" secara tersurat, dan memaknai hukum "Rajendra" ke "Yang Ilahi" secara tersirat."
"Karena semua itu, o anak, satu ayat dari Sastra Pangruwat yang berbunyi Wa fii anfusikum afalaa tubshiruun (QS. ad-Dzariyat: 21) bisa ditafsirkan secara tersurat dan secara tersirat dengan segala rangkuman hakikatnya. Dan bagi "Rajendra" pemaknaan ayat tersebut bisa berarti "Dan Dia berada dalam nafs-mu tapi engkau tidak melihat Dia." Dengan hukum- hukum dari Sastra Pangruwat semacam itulah mereka yang sudah merangkum makna Rajendra akan terangkum dengan sendirinya ke dalam hakikat Laa tataharraka dharratin illa bi-idzni’llah-tidak ada yang bergerak kecuali dengan perintah dan izin Allah-pun dia terangkum dalam makna Laa haula wa laa quwwata illa billahil aliyyil adhiim."
"Ketahuilah, bahwa Allah sudah menyatakan apabila Dia sudah cinta akan hamba-Nya, maka Dialah yang akan menjadi pendengaran dan penglihatan hamba apabila hamba ingin mendengar dan melihat. Dia yang akan menjadi tangan jika hamba bekerja dan Dia akan menjadi kaki jika hamba berjalan (hadits qudsi). Demikianlah makna Sastra Pangruwat bagi perjuangan "Diyu" menuju ke "Rajendra" yang hakiki."
"Apakah tahap itu yang disebut Manunggaling Kawula Gusti, Eyang?"
"Engkau boleh memaknai itu. Tetapi menurut ajaran yang pernah aku peroleh dari jalur keilmuan Kangjeng Sunan Giri, yang demikian itu bukan Manunggaling Kawula Gusti, melainkan pertautan makna dari Allah Ain Insaan atau Insaan Ain Allah. Tetapi, perlu engkau pahami bahwa hakikat Allah Ain Insaan tidak bisa secara sembrono ditafsirkan dengan kerangka pemikiran awam, apalagi dengan pola pemikiran otak-atik mathuk yang diliputi hawa nafsu."
"Dengan cara bagaimana saya bisa menafsirkan dan memaknai ungkapan-ungkapan seperti Allah Ain Insaan, Eyang?"
"Dengan ilmu hakikat, o anak," kata Kiai Puspo- negoro tegas, "Ibarat pengungkapan Syaikh Siti Jenar tentang panggilan atas dirinya, di mana beliau berkata bahwa "Syaikh Siti Jenar tidak ada, yang ada Allah" yang oleh pemikiran orang kebanyakan sudah jauh disalahtafsirkan, bahkan dengan sembrono orang langsung menuduh bahwa Syaikh Siti Jenar telah sesat dan mengaku diri sebagai Allah, itu semua jauh dari pemaknaan yang benar."
"Adakah yang bisa saya peroleh dari pemaknaan ungkapan Syaikh Siti Jenar berdasar ilmu hakikat, wahai Eyang?" tanya saya penuh rasa ingin tahu.
"Tahukah engkau arti Adam, al-‘Adam, dalam Bahasa Arab, bocah?"
"Al-‘Adam artinya tidak ada, ketiadaan, Eyang Kiai."
"Kalau Syaikh Siti Jenar mengaku diri sebagai Bani Adam yang ‘adam, kemudian dia mengatakan bahwa dirinya tidak ada, karena ‘adam sendiri maknanya tidak ada; apakah itu salah?"
"Tidak, Eyang Kiai," sahut Saya mulai menangkap arah pemaknaan yang diuraikan Kiai Pusponegoro, "Tapi kenapa beliau harus menyatakan ‘adam?"
"Karena saat itu, beliau benar-benar berada pada keadaan tidak ada, ketiadaan, yaitu berada dalam ketiadaan pengejawantahan dalam Pengetahuan Ilahi. Keadaan itu tidak bisa dijelaskan dengan bahasa manusia. Tapi jika satu ketika engkau mampu men- capainya, engkau akan bisa memahami kenapa beliau berkata seperti itu."
"Saya paham, tidak semua keadaan bisa dijelaskan dengan bahasa manusia."
"Kau tentu juga tahu tentang arti Wujud dalam Bahasa Arab?"
"Ya, Eyang Kiai," sahut saya cepat, "Wujud artinya ada."
"Kau percaya bahwa Allah adalah Wujud?"
"Itu keyakinan dasar dari ke-tauhid-an kita, Eyang Kiai."
"Sekarang, menurut hematmu, salahkah kalau Syaikh Siti Jenar mengatakan bahwa dirinya "tidak ada" alias ’adam dan selanjutnya dia mengatakan hanya Allah yang "Ada" alias "Wujud?"
"Saya tidak melihat ucapan yang demikian sebagai suatu kesalahan, Eyang Kiai," sahut saya mulai memahami ungkapan yang membingungkan itu.
"Tetapi, andai tidak kuuraikan ucapan Syaikh Siti Jenar berdasar ilmu hakikat, maka engkau pun tentu akan menganggap bahwa beliau telah murtad karena mengangkat diri sebagai Tuhan."
"Begitulah kejahilan otak saya yang awam, Eyang Kiai."
"Karena itu, janganlah sekali-kali engkau terlalu cepat berkomentar, dan jangan pula terlalu cepat menuduh seseorang. Sebab, kalau engkau merasa masih awam dan bodoh, janganlah terperangkap pada sikap asal bicara dan asal komentar, karena semakin banyak bicara semakin tampak kedangkalan pikiranmu. Oleh sebab itu, renungkanlah apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa diam adalah emas dan banyak bicara adalah besi."
"Apakah saya boleh mencari tahu akan makna hakiki dari ungkapan rahasia Allah Ain Insaan, Eyang Kiai?" tanya saya ingin tahu.
"Janganlah engkau menjadi pemalas dengan hanya menerima segala ajaran tanpa berjuang, sebab yang demikian itu akan menjadikan dirimu tidak ubahnya seperti beo yang hanya bisa meniru. Terjunlah engkau ke samudera kehidupan, di mana engkau nanti akan menemukan bahwa di tengah gejolak kehidupan yang ada di dalam dan di luar dirimu sebenarnya tergelar ilmu hakikat yang luas tanpa batas. Namun demikian, engkau hendaknya selalu mengingat bahwa hanya hati yang bersih yang menyinar akal budi yang jernih saja yang mampu menangkap makna sejati ilmu hakiki yang langsung diajarkan oleh Allah dalam ke-rahasia-an-Nya."
Saya termangu-mangu mendengar uraian demi uraian Kiai Pusponegoro yang dengan tepat mengenai hulu jantung saya. Tetapi, sedetik kemudian, mendadak saja saya mengingat tentang ungkapan Kiai Pusponegoro tentang Sastra Pangruwat. Dengan rasa ingin tahu yang mengganas, saya pun bertanya, "Eyang Kiai, apakah yang dimaksud dengan al-Qur’an sebagai Sastra Pangruwat?"
"Ketahuilah, bahwa pada setiap umat senantiasa ditetapkan Sastra Pangruwat sebagai penuntun agung bagi kehidupan baik yang dzahir maupun bathin. Sedang kita sebagai umat Muhammad SAW, maka al- Qur’an adalah Sastra Pangruwat yang menjadi sumber dari segala sumber hukum dan tata hidup kita."
"Ketahuilah, bahwa tidak ada ayat al-Qur’an yang telah diwahyukan itu yang tidak mengandung aspek lahir dan batin. Sebab setiap huruf mempunyai makna HADD dan setiap huruf menyatakan secara tak langsung MATLA’–nya. Dengan demikian, al-Qur’an pada hakiktnya adalah KALAM ALLAH dalam makna dzahir dan batin yang terangkai dalam hakikat Kalaam-i-Dzaati dan Kalaam-i-Tafshiilii; al-Qur’an adalah Kalaam-i-nafsi sekaligus Kalaam-i-Lafdzii."
"Al-Qur’an sebagai Kalaam-i-Lafdzii adalah al- Qur’an yang terangkum dalam teks-teks yang bisa diurai dalam kata-kata yang merupakan wahyu yang terang sebagai petunjuk, di mana isi dari al-Qur’an tersebut memuat hukum-hukum dan petunjuk-petunjuk yang tegas dan terang bagi manusia. Sementara al-Qur’an sebagai Kalaam-i-Nafsi tergelar di dalam rangkaian hukum kehidupan makhluk di tengah semesta."
"Ketahuilah, bahwa al-Qur’an sebenarnya adalah hakikat manusia itu sendiri, yang secara batin meru- pakan obor penyuluh bagi munculnya al-Qur’an di dalam diri manusia, sehingga manusia yang berhasil merangkai makna al-Qur’an di dalam dirinya, maka dia itulah Kalam Allah yang hidup di mana segala gerak dan tingkah lakunya tidak akan menyimpang dan bergeser dari rangkaian hukum Ilahi yang termaktub di dalam al-Qur’an sebagai Kalaam-i-Lafdzii."
"Saya belum paham tentang al-Qur’an di dalam diri manusia dan al-Qur’an di luar diri manusia, Eyang Kiai," kata saya kebingungan, "Saya kurang paham dengan kejelasan itu, karenanya saya khawatir nanti saya menyimpulkan bahwa al-Qur’an adalah kitab suci yang ada dua jumlahnya, yaitu, al-Qur’an yang diwahyukan melalui Nabi Muhammad SAW dan al- Qur’an lain yang ada di dalam tubuh manusia."
"Jika engkau mencari, maka engkau kelak akan bisa mengurai ketidakpahamanmu itu dengan ilmu hakikat."
"Saya mengerti itu, Eyang Kiai," kata saya penasaran, "Tetapi saya ingin sampean memberi sedikit uraian agar saya dapat mengembangkannya sendiri di dalam perikehidupan saya kelak."
"Ketahuilah, o anak, bahwa al-Qur’an dalam makna Kalaam-i-Nafsi dan Kalaam-i-Lafdzii adalah al- Furqan dalam makna Haq yang secara dzahir dan batin adalah Pembeda. Al-Qur’an sebagai Furqan adalah pernyataan dari Dzaat-i-Bahat yang merupakan pengejawantahan Nuur yang muncul dalam wujud luar sebagai Aql-i-Kull yang mewujud lagi dalam Ruuh- i-A’dzaam yang mewujud lagi dalam Qalam. Sementara manusia dicipta dari Kalam Allah "KUN" yang dirangkum dalam makna terahasia–Khalaqa’l insaana ‘alaa shuurati ar-Rahmaan–yang keharuman dan keindahannya merangkum makna Khalaqtu biyadayya."
"Renungkan, bahwa al-Qur’an dalam makna Kalaam-i-Nafsi adalah pengejawantahan dari hakikat manusia yang secara kodrat memiliki makna pembeda antara yang haq dan yang batil. Setiap manusia secara naluriah mampu membedakan apa-apa yang haq dan apa-apa yang batil meski sering menyembunyikannya (kufr). Kodrat insaniah yang tersembunyi dalam hakikat setiap manusia untuk membedakan yang haq dan yang batil itulah yang disebut al-Qur’an atau al-Furqan dalam makna Kalaam-i-Nafsi. Demikian juga naluri ke-Ilahi-an yang menjadi kodrat bawaan setiap manusia adalah mata rantai dari makna al-Furqan sebagai Kalaam-i-Nafsi yang terangkai dalam kodrat-kodrat dan hukum-hukum yang tetap dan tidak berubah yang berada pada diri manusia karena ‘tiupan ruh’ saat penciptaan."
"Kalau begitu apa arti al-Qur’an sebagai Kalaam- i-Lafdzii, kalau dalam hakikat manusia sebenarnya ada al-Qur’an?"
"Al-Qur’an dalam makna Kalaam-i-Lafdzii adalah satu kiblat, satu hukum, satu daya, dan satu hakikat dari sumber Ilahi di luar diri manusia yang berfungsi untuk pedoman bagi pernyataan al-Qur’an dalam diri manusia. Sebab sering kali al-Qur’an di dalam diri manusia terselimuti oleh lapisan-lapisan nafsu sehingga yang haq menjadi terselubung. Di samping itu, banyak penyebab yang menjadikan al-Qur’an di dalam diri manusia keliru dalam memaknai kehidupan maupun bisikan azali untuk kembali ke asal. Karena itulah al- Qur’an dalam makna Kalaam-i-Lafdzii senantiasa berfungsi sebagai patokan yang hakiki."
"Mengapa al-Qur’an dalam makna Kalaam-i- Lafdzii harus menjadi pedoman kalau di dalam diri manusia ada al-Qur’an dalam makna Kalaam-i-Nafsi?"
"Ketahuilah, bocah bahwa kebenaran al-Qur’an dalam makna Kalaam-i-Nafsi selalu terbalut oleh tudung-tudung nafsu yang lahir dari ke-aku-an kerdil anasir materi. Oleh sebab itu, al-Qur’an dalam makna Kalaam-i-Lafdzii terlahir lewat lisan seorang  manusia yang ma’shum yang terjaga dan terpelihara dari perbuatan dosa yang bernama Muhammad SAW, yakni Nuur-Nya sendiri."
"Ketahuilah, bahwa sejak Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama, di mana disebutkan bahwa Allah mengajarkan kepada manusia dengan QALAM, maka sejak itulah secara berangsur-angsur al-Qur’an dalam makna Kalaam-i-Nafsi di dalam diri Nabi Muhammad SAW tersingkap; sehingga tanpa perantaraan Ruuhu’l Quds dalam makna Jibril, Kalam- i-Lafdziil keduanya menjadi satu kesatuan yang utuh dan sempurna. Dengan demikian, Nabi Muhammad SAW dalam kerangka pandang ilmu hakikat adalah yang dzahir dan yang batin dari makna kesatuan sempurna al-Qur’an sebagai Kalaam-i-Nafsi dan Kalaam-i-Lafdzii. Maka begitulah, beliau telah ditetapkan sebagai Uswatun Hasanah; Kalau al-Qur’an adalah pedoman bagi segala sumber hidup pribadi maupun sumber hidup masyarakat, maka Nabi Muhammad SAW adalah pedoman bagi pola perilaku hidup pribadi maupun pola perilaku hidup masyarakat."
Saya termangu penuh takjub dengan uraian demi uraian yang saya rasakan seperti diatur memasuki alam rasa dan alam akal budi saya. Saya merasakan kelegaan yang teramat luas, meski saya menyadari bahwa makna  saya rasakan masih teramat rumit untuk dipraktikkan. Tapi, meski demikian, saya sudah menetapkan bahwa apapun yang terjadi saya akan terjun ke samudera kehidupan untuk menemukan apa yang saya rindukan selama ini, yaitu mencari Kebenaran Ilahi.
Angin dingin mendadak menerpa tubuh saya. Dan entah bagaimana awalnya, mendadak saja saya merasa seperti tersadar dari satu mimpi menakjubkan.

Dengan perut terasa lapar dan tenggorokan dicekik rasa haus saya tertatih-tatih meninggalkan kompleks makam Kiai Pusponegoro. Kejadian yang baru saja saya alami, meski apa yang diwejangkan oleh Kiai Pusponegoro masih menancap di benak saya, benak Saya diliputi kekacauan. Dingin malam saya rasakan menyengat tulang belulang saya, tapi saya merasa amat haus dan lapar.
Dalam jarak sekitar tiga puluh meter dari letak batu gilang ke arah timur, saya menghentikan langkah memandangi sorotan cahaya lampu neon yang menerangi kompleks makam Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Saya melangkah beberapa jangka. Kemudian dengan tangan gemetar saya mengambil kendi-kendi yang dicat putih dan menenggak airnya yang segar dari kendi itu. Saya rasakan kesegaran luar biasa merayapi sekujur jiwa raga saya.
Malam makin menanjak meniti kesenyapan. Saya bersimpuh di sebelah timur makam Syaikh Maulana Malik Ibrahim sambil membuka-buka surat Yasin yang sebenarnya sudah saya hafal di luar kepala. Saya merasa kebingungan tidak tahu apa yang harus saya lakukan.

Cukup lama saya duduk dan membuka-buka surat Yasin tanpa tahu harus berbuat bagaimana. Sementara dalam benak saya mengambang kejadian beberapa waktu silam ketika saya bersama adik dan kawan saya berziarah malam hari ke makam Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Ziarah tersebut adalah merupakan yang pertama kali saya lakukan selama hidup. Anehnya, saat itu mendadak saya mencium bau kesturi yang sangat wangi yang menebar bersama hembusan angin.
Ketika itu saya menganggap bahwa bau kesturi itu tentu berasal dari kain putih yang diselimutkan di atas batu nisan. Namun ketika kain putih itu saya cium, ternyata tidak berbau apa-apa. Saya terus mencari asal bau kesturi yang begitu wangi, tapi tetap tidak saya ketemukan. Dan yang membuat rasa aneh mencakar hati saya, ketika kami beriringan pulang, mendadak bau kesturi itu menebar lagi dan kemudian hilang lagi. Yang aneh, hal itu terjadi sepanjang perjalanan kami pulang ke rumah.
Bau wangi kesturi itu pada akhirnya menjadi tanda tanya besar bagi saya. Dan tanda tanya itu makin besar ketika saya bertanya pada beberapa orang yang pernah ziarah ke makam Syaikh Maulana Malik Ibrahim, di mana mereka tidak pernah membaui wangi kesturi itu. Dan sekarang ini, mendadak saja saya merindukan wangi kesturi yang pernah saya baui itu, meski saya sadar bahwa aroma kesturi itu bisa saya peroleh dengan membeli bibit minyak wangi di Ngampel atau Bongkaran.

Suasana hening malam saya rasakan benar-benar mencekam ketika saya menggumamkan surat an-Nahl sambil membuka-buka surat Yasin. Ketika saya selesai menggumamkan surat an-Nahl, tanpa sadar tiba-tiba saja saya membaca surat Yasin sambil memejamkan mata. Saya baca ayat demi ayat dengan tubuh lemah lunglai dan perut melilit kelaparan. Saya merasakan tubuh saya benar-benar lemah seperti kehilangan tenaga.
Saya tersentak ketika aroma kesturi mendadak menebar dan memasuki penciuman saya. Aroma kesturi yang sama dengan ketika saya menciumnya pada saat ziarah pertama. Ya, aroma kesturi yang menurut hemat saya jauh lebih wangi dan lebih segar dibanding kesturi yang menebar dari bibit minyak wangi.
Saya mengerjap-ngerjapkan mata untuk mengembalikan kesadaran. Suasana hening sekali. Saya celingukan mencari-cari asal bau kesturi yang menyogok hidung saya dengan begitu misterius. Dengan penasaran saya merangkak sambil mendengus-dengus menciumi daerah di sekitar makam. Tapi senua hening dan bau kesturi terus melingkari dan menusuk ke dalam hidung saya. Antara sadar, saya kemudian berpikir; jangan-jangan aroma wangi itu berasal dari sesuatu yang gaib yang berasal dari dimensi kehidupan lain. Dan berpikir ke arah itu, tiba-tiba tanpa saya sadari saya membaca sebuah wirid rahasia pemberian Kiai Ghufron yang menurut beliau bisa menjadi sarana untuk menjalin hubungan dengan ruuh orang yang sudah mati. Saya baca wirid itu berulang-ulang dan saya tancapkan konsentrasi ke satu titik; sehingga pada beberapa jenak yang berlalu, saya merasakan sesuatu dari dalam diri saya melesat keluar; tubuh saya, Saya rasakan melorot ke bawah; dan cakrawala di depan saya secara fantastis mendadak tersingkap seperti tirai disibakkan.
Hamparan warna hijau mendadak saya rasakan menyerbu pemandangan saya seolah-olah di hadapan saya tergelar permadani hijau dengan matahari hijau. Di depan saya dalam jarak sekitar dua meter, saya melihat seorang lelaki berkulit putih kemerahan dengan wajah sangat tampan dengan kumis dan janggut lebat menumbuhi wajahnya, berdiri memandangi saya. Surban dan jubahnya yang putih berkebaran ditiup angin menebarkan wangi kesturi. Lelaki itu tersenyum dan berdiri melayang-layang seolah-olah tidak menginjak tanah.
Dengan rasa takjub saya bertanya, "Siapakah sampean?"
"Aku Syaikh-i-Aththar di antara Masyaayakh-i-Aththar."
"Apakah sampean Fariduddin Aththar?"
"Apa arti sebuah nama kalau hanya menjadi pembatas bagi hakikat dzat dan sifat. Karena itu, ketahulah bahwa aku adalah mata rantai dari para penyebar wangi kesturi yang lain yang bersumber dari Nuur-i-Rahmaanii. Oleh karena itu, ke mana pun engkau berada dan membaui kesturi dari tubuh jiwa siapa pun, maka di situlah makna kami terangkai dalam dzat dan sifat."
Saya segera menyadari bahwa lelaki tampan penebar wangi yang melayang-layang di depan saya itu adalah seorang ‘auliya. Saya meraba bahwa dia mungkin Syaikh Maulana Malik Ibrahim meski saya tidak memiliki keberanian untuk bertanya lebih lanjut. Saya hanya termangu takjub memandanginya.
"Engkau hendak mencari Allah?" tanyanya dengan suara merdu dan aroma wangi menebar dari kata-kata yang menghambur dari mulutnya.
"Begitulah yang sedang saya lakukan selama ini, Tuan."
"Wa Hua ma’akum ainama kuntum (QS. al- Hadiid: 4), dan Dia bersama engkau di mana pun engkau berada. Dan ke mana pun engkau menghadap, di situlah wajah Allah (QS. al-Baqarah: 115)."
"Saya sudah agak memahami apa yang tersurat, tetapi saya belum bisa merangkumnya dalam kenyataan hidup saya."
"Untuk apakah engkau mencari Allah?"
"Saya ingin mencari Allah, dan saya tidak tahu mengapa hal itu saya lakukan, Tuan," sahut saya berterus terang.
"Apakah engkau mencintai akan Allah?"
Saya tersentak dengan pertanyaan itu. Tapi saya segera menyadari bahwa saya tidak boleh mengada-ada dengan mengatakan cinta Allah. Akhirnya, dengan jujur saya mengakui bahwa saya memang belum mencintai Allah; karena saya memang belum tahu tentang Allah; karena saya belum akrab dengan Allah; karena saya belum mengenal Allah. Bahkan dengan terus terang saya mengakui, bahwa selama ini saya sering berbuat tidak senonoh dengan Allah; karena saya sering memaksa-Nya untuk memenuhi keinginan-keinginan saya; karena saya sering mengeluh atas sesuatu yang diperbuat Allah yang tidak sesuai dengan keinginan saya; karena saya lebih sering mengurangi hak dan kuasa Allah dengan pikiran saya yang dangkal.
"Saya mengakui, bahwa Allah di dalam otak dan perasaan saya, mungkin bukan Allah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, melainkan Allah yang jahil dan kerdil seperti kejahilan dan kekerdilan otak saya."
Lelaki tampan berjubah itu merentangkan tangan dan memancarkan cahaya pelangi di kepalanya. Kemudian dengan suara merdu dia berkata, "Engkau orang jujur, kawan, tetapi karena kejujuranmu itulah engkau menjadi naif. Karena itu, janganlah engkau syak dan ragu apabila orang-orang memberimu sebutan sebagai orang sinting. Sebab, selama engkau tetap sadar bahwa dirimu memang sinting, dalam arti engkau tetap memelihara kejujuranmu meski bertentangan dengan pandangan orang banyak, maka engkau pun sebenarnya manusia waras."
"Engkau dengan berani menyatakan bahwa dirimu belum mencintai Allah. Tapi ketahuilah, kawan, bahwa sejak engkau menyadari dirimu dan tidak menyembunyikan sesuatu darinya, maka seketika itu juga gerbang Mahjuubiin di dalam nafs-mu telah terbuka. Sinar kebenaran telah memancar; dan tinggal perjuanganmu yang akan menentukan."
Saya termangu mendengar uraian demi uraian yang saya rasakan melegakan otak dan dada saya. Saya kemudian menanyakan pengalaman meresahkan yang saya alami sekitar bisikan misterius yang mengharuskan saya belajar dari iblis yang saya anggap menyesatkan. Tetapi lelaki berjubah itu mengangkat kedua tangannya seolah-olah mendoa; kemudian dengan wajah diliputi sinar keagungan dia berkata:
"Selama engkau terperangkap pada konsep bahwa iblis adalah seekor makhluk mengerikan dengan taring dan gigi-geligi tajam, mata melotot membiaskan maut, kuping mencuat, kening bertanduk satu; dan berbagai gambaran mengerikan yang lain; maka bisikan itu akan menjadi momok bagi sinar kebenaran di dalam hatimu, di mana engkau sejatinya telah terjebak pada keterbatasan akal budi hingga ilmu hakikat tidak bisa kau resapi dengan benar."
"Ketahuilah, kawan, bahwa bisikan yang hadir seperti kilatan petir di dalam hatimu itu adalah sirr dari al-Qur’an dalam makna Kalaam-i-Nafsi yang tersembunyi di dalam dirimu. Dan engkau telah melakukan hal yang terbaik dengan meragukan setiap bisikan yang berpendar dari kedalaman jiwamu. Keraguan itulah yang disebut al-khatraat, sebab dirimu tidak terbebas dari dosa."
"Entah sudah berapa banyak orang-orang seperti engkau yang menjadi terkutuk karena terlalu cepat menyatakan bahwa bisikan yang diperoleh adalah Kebenaran Ilahi. Mereka terlalu cepat membanggakan diri sebagai sumber kebenaran. Sementara mereka hanyalah manusia-manusia kerdil yang masih berlepot dosa dan nista. Mereka menganggap bahwa mereka telah memiliki al-Qur’an sendiri yang lebih benar dari al-Qur’an yang disampaikan Nabi Muhammad SAW. Mereka itu, sungguh hanya manusia-manusia terkutuk yang dirangkaikan Allah dalam makna wa man yudhillahu falaa hadiyallah–mereka itulah yang sesat dan tidak bisa ditunjuki–semoga engkau yang men- jadikan al-Qur’an Kalaam–i–Lafdzii sebagai pedoman bagi setiap bisikan sirr akan dirangkaikan dalam makna man yahdi’ilaah falaa mudhilla lahu."
"Apakah makna hakiki dari bisikan saya tentang iblis?"
"Ketahuilah, kawan, bahwa tidak ada satu pun keterangan yang haq yang menjelaskan tentang wujud iblis. Al-Qur’an hanya menerangkan tentang dzat dan sifat iblis. Oleh sebab itu, betapa sesatnya apabila engkau membayangkan iblis dalam bentuk-bentuk mengerikan sesuai kejahilan otakmu."
"Kalau suatu ketika ada ilham di dalam jiwamu yang menghendaki agar engkau belajar dari iblis, maka janganlah engkau membayang-bayangkan diri sebagai murid seekor setan mengerikan yang akan menyesatkan jalanmu. Renungkanlah semuanya secara mendalam sampai ilmu hakikat akan terus menyinari hatimu hingga rahasia semesta ini akan tergelar di hadapanmu."
"Apakah saya harus belajar dari dzat dan sifat iblis untuk bisa mencapai tajjali kepada Allah?" tanya saya ingin tahu.
"Belajarlah tentang dzat dan sifat iblis dengan ilmu hakikat, niscaya engkau akan mendapat banyak pengetahuan. Dan andaikata engkau telah berhasil memahami secara mendalam akan dzat dan sifat iblis, maka dengan jelas engkau akan melihat bahwa di dalam dirimu sendiri sebenarnya tersembunyi hasrat-hasrat ke-iblis-an yang menyesatkan itu."
"Sekali lagi kuingatkan akan engkau, kawan, bahwa dengan mempelajari akan dzat dan sifat iblis maka engkau akan secara tegas bisa memilahkan antara yang haq dan yang batil, baik yang di dalam maupun yang di luar dirimu. Maka demikianlah makna ilham yang menghendaki engkau belajar dari iblis."
"Di manakah saya bisa belajar banyak tentang dzat dan sifat iblis?"
"Terjunlah di tengah samudera zaman, niscaya engkau akan mendapati sifat-sifat iblis ada di dalam dirimu dan ada di dalam setiap manusia yang engkau jumpai. Mudah-mudahan rahmat dan hidayah Allah senantiasa terlimpah atasmu, hingga engkau tidak tergelincir dari jalan-Nya."
"Kalau suatu saat nanti saya berhasil memahami sifat-sifat iblis, apakah dengan cara menghindari sifat-sifat itu maka saya akan menemukan jalan Ilahi?"
"Jalan menuju Ilahi bermacam-macam, kawan. Dan engkau memiliki jalan tersendiri apabila engkau ikhlas berjuang untuk setia pada niat utamamu mencari Allah. Allah telah berjanji akan menunjukkan jalan-jalan-Nya kepada siapa yang mau berjuang untuk mencari-Nya. Oleh sebab itu, jangan syak dan ragu lagi bahwa apabila engkau telah mengenal nafs- mu yang terhijab oleh daya-daya iblis, maka saat itu pula engkau akan mengenal Allah; semua selubung akan disibakkan bagai langit malam dikuakkan oleh matahari."
"Ketahuilah, kawan, bahwa pengibaratan iblis adalah penggambaran rambut-rambut hitam meng- urai yang menutupi pipi lembut Sang Kekasih yang kuning langsat mempesona. Mereka yang beriman dan berharap mencium pipi lembut Sang Kekasih yang kuning langsat yang sangat dicintai itu, akan masuk ke dalam rangkaian kalimat man yahdillahu falaa mudilla lahu. Tetapi bagi mereka yang goyah iman bahkan tak beriman akan melekat di kumparan rambut hitam yang menutupi pipi lembut Sang Kekasih, di mana ketertutupan oleh rambut hitam itu terangkai dalam kalimat wa man yudillahu falaa hadiyalah."
"Ketahuilah, bahwa mereka yang bisa memaknai pipi lembut Kekasih Tercinta dalam kelekatan iman, dia akan memperoleh petunjuk dan berkah-berkah dari rangkaian makna wa maa arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamiin (QS. al-Anbiyaa’: 107). Sedang mereka yang tersangkut dalam rambut-rambut hitam dalam kegoyahan iman, mereka akan berada di jalan sesat dan adzab-adzab dari rangkaian makna Inna’alaika la‘natii ilaa yaumi’ddiin (QS. ash-Shaadh: 78)."
"Bagaimanakah sampean dulu mengenal Allah?" tanya saya ingin memperoleh petunjuk, "Beritahu saya, agar saya bisa menjadikannya sebagai pelajaran ber- harga dalam perjalanan menuju-Nya."
"Araftu Rabbi bi Rabbi, aku mengenal Tuhan dengan Tuhan, dan ketahuilah bahwa pengenalan atas Tuhan tidak bisa dipikir dan direka-reka. Tuhan tidak bisa didikte-dikte. Tuhan tidak bisa dipelajari seperti objek ilmu pengetahuan duniawi. Semua yang terjadi pada salik yang mencari-Nya tergantung utuh kepada-Nya; kalau Dia sudah memberi petunjuk, maka tak ada satu pun orang yang bisa menyesatkan mereka yang ditunjuki-Nya. Sebaliknya, apabila Dia sudah menyesat- kan seseorang, tak satu pun orang yang bisa memberi petunjuk kepada mereka yang disesatkan-Nya; Dia membuka pengenalan Diri-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya."
Saya menjadi bingung dengan penjelasan yang diberikan oleh lelaki berjubah yang menurut hemat saya itu kemungkinan adalah Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Jauh di relung-relung jiwa saya, terselip sebuah tanda tanya besar; kalau segala gerak-gerik manusia semuannya ditentukan oleh Allah, termasuk penentuan sesat dan tidak sesatnya manusia, lalu untuk apakah orang-seorang harus berjuang sekuat tenaga dalam mencari kebenaran hakiki?
"Apakah sebuah perjuangan mencari Allah perlu bagi saya, jikalau pada akhirnya saya hanya tergolong orang yang dikehendaki sesat oleh Allah?" tanya saya penuh penasaran, "Bukankah lebih baik saya berdiam diri saja menunggu keputusan nasib saya yang sudah ditetapkan sesatnya?"
"Mengapa engkau berpikir seperti itu?"
"Apa gunannya saya bersusah payah menyiksa tubuh dan pikiran kalau pada akhirnya saya sebagai air akan mengalir ke lautan juga, karena saya ternyata tidak punya kemampuan untuk menentukan keputusan nasib saya sendiri. Untuk apa saya harus bersusah payah mencari jejak Ilahi kalau toh akhirnya saya ditakdirkan sesat jalan oleh-Nya."
"Tahu dari manakah engkau kalau Allah sudah memutuskan nasibmu sebagai salik yang sesat jalan?"
"Belum, saya belum tahu kepastian nasib saya." "Karena engkau belum tahu keputusan nasibmu,
maka berjuanglah sekuat tenaga bagi kebaikan dirimu.
Jangan sekali-kali engkau berputus asa dari rahmat Allah sebelum engkau tahu pasti akan garis-keputusan nasibmu yang ditetapkan-Nya. Dan camkan, wahai kawan, bagi seorang salik yang pasrah dan menyerah sebelum dia tahu garis-keputusan akhir, maka sebenarnya dia seorang pemalas yang sudah berputus asa sebelum berjuang. Tahukah engkau bagaimana sabda Allah bagi orang yang berputus asa dari rahmat-Nya?"
"Renungkan benar, kawan, sebelum sesuatu jelas bagimu jangan pernah engkau menyerah. Sebab hanya orang bodoh yang tidak berani menguji keputusan garis takdirnya. Sebab hanya orang pandir yang percaya begitu saja pada apa yang dikatakan oleh orang lain. Oleh sebab itu, yakinkan dirimu dalam usaha memperoleh penyaksian azali untuk membuktikan ke- putusan nasibmu tanpa sedikit pun pernah menyerah sampai titik akhir persaksianmu."
"Renungkanlah, kawan, akan hakikat alam yang tergelar di depanmu. Lihatlah air yang mengalir di sungai dan jeram-jeram terjal! Lihatlah angin yang menghembus di padang belantara! Lihatlah gelombang yang menderu menerjang pantai! Lihatlah elang perkasa yang terbang di tebing-tebing tinggi! Lihatlah semua! Kemudian bayangkan, apa yang terjadi seandai- nya semua itu pasrah dan menyerah pada keputusan nasibnya dengan berdiam diri?"
"Camkan, kawan, bahwa hidup adalah "gerak". Oleh sebab itu, bergeraklah engkau untuk menguji takdirmu yang belum engkau ketahui bagaimana akhirnya. Jangan engkau jadikan dirimu seperti ranting kering di tengah samudera yang menyerah mutlak kepada alunan ombak yang menghempaskannya.

Syukurilah rahman dan rahim-Nya yang telah membekali engkau dengan kemuliaan-kemuliaan di atas makhluk yang lain. Kuasai dan kendalikanlah semua sumber perbendaharaan Ilahi yang dibekalkan di dalam kodrat hidupmu untuk mencapai sejauh yang engkau mampu mencapai! Berjuanglah! Bekerjalah! Karena Tuhan telah bekerja dalam kegirangan raya saat mencipta semesta!"
"Engkau boleh menyerah dalam kepasrahan mutlak apabila engkau telah menguak rahasia-rahasia Ilahi secara terang. Engkau boleh bersikap seperti ranting mati di tengah samudera apabila engkau telah berhasil menyingkap ke-rahasia-an Lauh-Mahfudz yang terjaga kesucian dan kerahasiaannya. Tetapi ingat! Engkau akan menjadi terlaknat apabila memilih berpasrah mutlak akan keputusan takdirmu sebelum engkau ketahui akhir dari semuanya itu."
"Saya mengerti wahai Tuan yang mulia," sahut saya merasa tertonjok pedalaman jiwa saya, "Oleh sebab itu, saya akan berjuang sekuat jiwa raga saya untuk tetap menjaga kesetiaan saya terhadap prinsip saya. Saya akan berjuang tanpa henti dengan penuh rasa syukur atas apa yang dibekalkan Allah pada diri saya."
"Buktikan sendiri hakikat Kebenaran Ilahi dengan persaksian Araftu Rabbi bi Rabbi sampai engkau tidak lagi mempertanyakan keberadaan sebagai saalik-i-majdzuub, yaitu pencari Tuhan yang terserap dalam ke-Ilahi-an."

SHARE:

Comments

Recent Posts

Kisah Sejarah Gaib Tanah Jawa

Kisah Sejarah Gaib Tanah Jawa

Sejarah awal Pulau Jawa seolah terbungkus oleh misteri, karena sama sekali tidak diketahui keberadaannya oleh dunia sampai pulau ini dikunjungi oleh peziarah dari China, Fa

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

Sejak melewati pengalaman menggetarkan bersama ruh mereka yang sudah berada di alam barzakh, segala sesuatu secara berangsur-angsur saya rasakan mengalami perubahan pada diri

Lebaran 2011ku

Lebaran 2011ku

pengalaman itu tak selamanya menjadi guru yang terbaik. Pagi-pagi pulang dari kerja aku langsung ke stasiun gambir untuk membeli tiket kereta buat mudik, tapi ternyata semua

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Ramadhan dan lebaran selain tentang hal puasa dan mudik juga sebagai pemantik kenangan saat bulan puasa dan lebaran tahun sebelum-sebelumnya. Itulah yang dirasakan Rahwana

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

"Kalau engkau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!”Bagai kilatan cahaya petir, bisikan misterius itumembentur gugusan telinga batin saya tanpa dapat

Hachi

Hachi

Bila hati ini mungkin bisa di wakili oleh sebuah tempat, misal kan rumah.Rumah yang telah kau tinggalkan.Rumah yang segala perabotannya berantakan walaupun tanpa

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA)

"Kalau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!"Bisikan misterius itu kembali mengganas sepertimenjebol dinding-dinding otak saya. Namun karena kebetulan saya

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sebuah perjalanan melintasi semesta ruhani adalah sebuah rentangan pengalaman menakjubkan yang sangat fantastis jika dipikir dengan nalar. Sebab segala sesuatu yang tergelar