Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT BELAS)

  • 2018-08-21 10:14:35
  • 351

Badai gurun menggemuruh dahsyat bagaikan iring-iringan barisan raksasa berkejaran sambung-menyambung, melonjak, menggulung, menghentak-hentak, mengaduk-aduk, dan menghempas bumi menimbulkan getaran dahsyat kekuatannya, seolah akan merontokkan bintang-bintang di langit dan meruntuhkan awan yang berarak di angkasa. Di tengah gemuruh badai mengerikan itu, saya dan Twam teraduk-aduk tanpa daya dalam intaian maut. Setelah lama dicekam amukan gurun, saya rasakan sisa tiupan badai yang sudah melemah masih sangat kuat untuk mencabik-cabik bagian demi bagian tubuh saya menjadi serpihan-serpihan daging bercampur debu. Angin bersuit-suit menghamburkan pasir dan batu ke segenap penjuru. Bunga-bunga rumput kering, kerikil, dan debu melanda permukaan gurun pasir seperti gelombang laut menyapu pantai.
Dengan menundukkan tubuh di antara bebatuan saya merangkul tubuh Twam yang menggigil kedinginan. Saya lindungi tubuh Twam dengan tubuh saya. Sementara pasir dan kerikil menerpa, saya rasakan seperti beribu-ribu jarum ditusukkan ke kulit saya.
Badai terus bergemuruh dengan suara angin bersuitsuit laksana kumandang tangis berjuta-juta setan penasaran bergentayangan di gurun.
Saya tepuk-tepuk punggung Twam untuk menenteramkan hatinya yang galau karena saya melihat Twam menguik-nguik di dekapan saya dengan kegelisahan mencakari wajahnya. Napas Twam terdengar memburu. Dalam takut dia meringkuk dan memejamkam mata. Melihat keadaan Twam, diam-diam rasa iba merayapi hati saya. Kelebatan-kelebatan kenangan bersama Twam saya rasakan menghunjam memasuki jiwa saya terdalam. Twam bagi saya tak berbeda dengan Aham, yaitu makhluk yang sudah dibayangi maut tetapi belum tiba saat ajal, sehingga harus mengarungi samudera kehidupan dengan keaneka-ragaman makhluk Tuhan yang ajaib.
Saya tersenyum mengingat keberadaan Twam bersama saya malam ini. Bayangkan, tiga hari sebelum saya berpamitan kepada Laxmi Devi, Twam sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Dia menghilang begitu saja, dan Laxmi Devi sempat menganggapnya telah tewas dibunuh orang. Bahkan saat saya berpamitan, Ranjit dan Shakuntala masih sibuk mencari Twam ke sana kemari. Tetapi ketika saya sudah meninggalkan Srinagar dan sedang melangkah di tengah malam di pinggiran kota Bhadra yang terletak di utara gurun Rajasthan, Twam mendadak muncul. Sambil menguik-nguik dan membungkuk-bungkuk, ia mengendus-endus kaki saya dengan moncongnya.
Melihat kemunculan Twam yang tak terduga, saya mendadak sadar bahwa apa yang terangkai dalam rantai keterikatan antara saya dan Twam bukanlah kebetulan belaka. Saya makin sadar akan keterikatan saya dengan Twam ketika sirru'l haqq di pedalaman jiwa saya menengarai bahwa perjalanan saya masih jauh dan harus diwarnai keterlepasan berbagai ikatan subjek-objek dari diri saya. Akhirnya, saya menyadari bahwa cepat atau lambat saya niscaya akan terpisahkan dari Twam sebagaimana keniscayaan terpisahnya jiwa dari tubuh saya.
Angin masih membadai dalam gemuruh mengerikan seperti lolongan sejuta serigala lapar memanggil kawanan. Saya masih tenggelam dalam renungan ketika badai makin mengganas seperti hendak menerbangkan batu-batu gunung. Saya merasakan tubuh saya ditusuk-tusuk oleh jutaan pasir yang berubah menjadi jarum. Saya merasakan tubuh saya seperti dihempas-hempaskan kekuatan angin yang membanting, menekuk, menarik-narik, dan mendorong-dorong tubuh saya yang meringkuk di balik bongkahan batu. Saya merasakan urat-urat di sekujur tubuh saya dihentak-hentak dan ditarik-tarik kekuatan raksasa yang akan melumatkan tubuh saya. Saya terus bertahan dengan ingatan tertancap dalam-dalam kepada Sang Pencipta semata. Saya tidak peduli badai. Saya tidak peduli ancaman kematian. Saya hanya merasakan betapa malam semakin larut semakin diterjang prahara yang menggila di mana gelombang pasir yang berterbangan mengamuk seperti akan menggulung segala yang melintas di hadapannya.

Ketika satu saat saya merundukkan tubuh untuk menghindari serangan angin berpasir yang mengganas, tanpa saya duga tiba-tiba Twam menggeliat dari dekapan saya. Gerakan Twam yang lemah itu tanpa saya sadari telah melonggarkan dekapan saya atasnya. Lalu terjadi peristiwa yang tidak saya sangka-sangka: dalam hitungan detik, tubuh Twam telah merosot dari dekapan saya. Lalu secepat kilat, tubuh Twam terpental ke udara akan tergulung badai. Hanya raung pendek Twam yang sempat saya dengar sebelum tubuhnya lepas dari dekapan saya.
"Twam!" pekik saya pilu di tengah gemuruh badai yang dengan cepat menelan suara saya. Sedetik tangan saya sempat meraih kaki depan Twam. Saya pegang erat kaki depan Twam, namun kekuatan badai menarik tubuh Twam lebih kuat. Beberapa jenak, terjadi peristiwa menegangkan di mana saya harus bergulat melawan badai untuk memperebutkan Twam.
Twam meraung kesakitan karena tubuhnya ditarik kuat-kuat dari dua arah yang berbeda. Beberapa detik saya terkesima. Tapi setelah itu saya sadar bahwa Twam tidak mungkin lagi saya pertahankan. Saya tidak mungkin memegangi terus satu kaki depannya, sebab hal itu akan semakin menyakitinya. Saya sadar bahwa dengan posisi seperti itu, dalam tempo singkat tubuh Twam akan terbelah menjadi dua. Twam akan mati secara mengerikan dengan kehilangan satu kaki depan dan dada terbelah.
Akal sehat saya akhirnya berbicara. Cengkeraman tangan saya atas kaki depan Twam, buru-buru saya lepaskan. Sedetik kemudian, tubuh Twam terpental dan lenyap tergulung badai. Saya tidak lagi mendengar suara Twam. Saya hanya mendengar gemuruh badai mengguruh bagai hendak meruntuhkan segala. Saya bayangkan tubuh Twam yang melayang-layang di angkasa itu akan menghantam bebatuan, kemudian terkubur pasir di tengah gurun.
Malam gelap berkabut ketika titik-titik embun membasahi tubuh saya. Saya tersentak seperti terbangun dari sebuah mimpi buruk. Saya mendadak seperti linglung merasakan dingin malam yang menggigit. Ternyata, badai telah berhenti. Pengalaman mengerikan yang baru saja saya lewati benar-benar membuat otak saya macet tak dapat diajak berpikir. Saya seperti tidak dapat menentukan apakah saya tadi baru saja bermimpi atau pingsan. Yang jelas, pengalaman tersebut sangat mencekam dan hampir membuat saya mati.
Sekarang ini setelah kesadaran mulai merayapi jiwa saya, saya merasakan seluruh tubuh saya remuk seperti tanpa tulang-belulang. Perut saya mendadak terasa sakit bagai dicengkeram dan diremas-remas tangan raksasa. Leher saya terasa bagai dicekik catok baja. Dada saya terasa seperti dihantam godam berton-ton. Saya sadar bahwa saya belum berbuka puasa sehingga kekuatan fisik saya sangat tersita. Saya baru ingat bahwa sekarang ini adalah malam keempat puluh dari puasa saya.
Dengan napas terengah-engah menahan kesakitan, saya menatap bintang-bintang yang bertebaran di langit yang redup sinarnya karena diselimuti kabut. Saya tidak bisa menggerakkan tubuh saya karena saya merasakan tulang-tulang di sekujur tubuh saya sudah remuk. Saya hanya bisa menatap kegelapan malam dengan titik-titik bintang yang menghambur laksana permata ditebarkan di atas permadani hitam.
Ketika saya tenggelam dalam ketidak-berdayaan di tengah kelam malam, tiba-tiba saya melihat seberkas cahaya kuning kemerahan berpendar-pendar mengitari tubuh saya. Saya tercekat dan bertanya-tanya dalam hati tentang cahaya kuning kemerahan yang baru sekali itu saya saksikan. Cahaya apakah itu? Apakah ajal saya sudah datang?
Pancaran cahaya itu makin lama makin terang, tetapi berangsur-angsur meredup dalam jarak sekitar dua meter di depan saya. Saya kebingungan ketika cahaya itu perlahan-lahan membentuk silhouette seperti sosok manusia yang memancarkan cahaya berwarna emas. Melihat pemandangan menakjubkan yang aneh tersebut, saya bertanya-tanya dalam hati akan makna sebenarnya dari pemandangan yang saya lihat tersebut, apakah itu cahaya malaikat yang akan mencabut nyawa saya, entahlah saya tidak tahu.
Di tengah kebingungan saya, tiba-tiba pancaran cahaya berkilau-kilau keemasan itu memperdengarkan suara merdu memukau jiwa, "Akulah Allah yang mengejawantah!"
"Allah?" gumam saya takjub pada keindahan yang memancar di depan saya itu, "Sampeankah Tuhan? Sampeankah Rabbu'l Arbaab?"
"Aku adalah Rabbu'l Arbaab! Aku adalah Rabb sesembahan seluruh makhluk. Akulah tempat meminta. Akulah tempat bergantung. Seluruh alam semesta ada di bawah duli kuasaku."
Saya tidak dapat berkata-kata karena rasa takjub akan keindahan cahaya itu merajalela memenuhi kesadaran saya. Ada kekuatan gaib maha dahsyat yang begitu misterius. Saya rasakan daya gaib memukau seluruh kesadaran saya. Daya pesona itu sangat dahsyat tak tertahan. Saya merasakan diri saya seperti seekor lebah yang terbius wangi bebungaan.
"Jangan syak dan jangan ragu lagi, bahwa aku adalah Tuhan; Allah Yahudi dan Allah Nabi-nabi! Sembahlah akan Aku!" Suara itu menggema merdu bagai simfoni agung yang memabukkan jiwa.
Suara yang mengumandang begitu merdu itu mendadak seperti mengalirkan suatu kekuatan gaib ke tubuh saya. Saya menggeliat merasakan kenyamanan merasuki sekujur tubuh saya. Saya merasakan tulang-belulang saya tegak kembali. Saya tiba-tiba bisa bangkit berdiri dengan tubuh segar dan jiwa diliputi kegembiraan. Tetapi ketika saya akan menjatuhkan diri untuk bersujud di hadapan cahaya keemasan itu, tiba-tiba saja bayangan bapak saya mengelebat memasuki benak saya. Sepersekian detik kemudian, telinga saya mendadak seperti mendengar dongengan bapak saya sewaktu saya masih kecil, di mana tergiang-ngiang jelas kata-kata bapak saya bahwa Allah adalah Tuhan yang tidak bisa disamai oleh sesuatu. Allah adalah Ahad. Tunggal. Mutlak. Allah tidak bisa dipikir dan tak bisa dijangkau pikiran. Allah bukan laki-laki dan bukan perempuan. Allah tidak bisa dilihat pancaindera. Allah adalah Maha Gaib dan Maha Tunggal tidak terbandingkan dengan sesuatu. Jika sesuatu masih menyerupai sesuatu, pasti itu bukan Allah. Sungguh, yang menyerupai sesuatu itu bukan Allah, suara bapak terdengar mengiang seperti memenuhi cakrawala pendengaran saya.
Ketika telinga saya menangkap gaung suara bapak yang terngiang-ngiang secara lamat-lamat, tiba-tiba pula sirru'l haqq di pedalaman jiwa saya membentangkan kalam-i-ghayb:
"Allah adalah Tunggal dan tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya (QS. al-Ikhlas: 1-4). Ingatlah segala perkara yang dahulu daripada awal zaman, bahwa Aku ini Allah; tiada lagi Tuhan yang lain atau sesuatu yang setara dengan Aku (Yesaya, 44:6). Maka sekarang ketahuilah olehmu dan perhatikanlah ini baik-baik, bahwa Tuhan itulah Allah, dan kecuali Tuhan Yang Esa tiadalah yang lain lagi (Ulangan, 4:36). Adapun Allah Tuhan kita, Dialah Tuhan Yang Esa (Markus, 12:29). Inilah hidup yang kekal, yaitu supaya mereka mengenal Engkau, Allah Yang Esa dan Benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu (Yahya, 17:3). Ingatlah bahwa Zarathustra membersihkan agama dari pemujaan Daevas beserta pemujaan unsur-unsur yang dapat diraba dengan pancaindera (Yasna, 44:9)."
Kilatan petir mendadak saya rasakan menyambar pedalaman jiwa saya. Baris terakhir dari kalam-i-ghaib yang berasal dari kitab Avesta itu benar-benar menyadarkan saya.
"Kamu bukan Tuhan!" seru saya lantang dengan suara menggeram.
"Akulah Tuhan sesembahan umat manusia!" seru cahaya gemerlapan itu terpendar-pendar," Barangsiapa menyembahku, akan kuberikan baginya seluruh kekayaan duniawi. Akan kuangkatkan dia di atas manusia lain sebagai raja diraja."
"Tidak!" seru saya menggeram ganas, "Kamu bukan Allah! Sekali-kali bukan Dia."
"Allah hanya sebutan bagi yang Ilahi! Adapun aku, Allah yang mengejawantah."
"Tidak, kamu bukan tuhan! Kamu bukan Rabu'l Arbaab," sergah saya bersikukuh.
"Aku adalah Tuhan manifestasi Allah. Aku disebut Angramainyu. Aku disebut Daevas. Aku disebut Ism Mudzil."
"Menyingkirlah Iblis! Jangan menggoda saya." "Sembahlah aku!" seru cahaya gemerlap itu mengulang, "Aku akan memberimu seluruh kekayaan dunia dan kekuasaan raja bagimu."
"Saya tidak butuh kekayaan dunia. Saya juga tidak mau jadi penguasa dunia," sergah saya tegas, "Menyingkirlah kamu!."
"Ketahuilah manusia bodoh!" seru silhouette itu dengan pancaran emas berkilauan, "Beberapa saat lagi engkau akan mati apabila tidak segera bertaubat dan menyembahku. Aku tahu engkau sedang kelaparan dan kehausan di tengah gurun."
"Allah memelihara hidup saya," bantah saya tegas, "Allah yang menentukan mati dan hidup saya sekali-kali bukan engkau."
"Kalau Allah yang kau sembah maha kuasa, perintahkan Dia untuk menyuguhkan makanan bagimu dari langit dengan diantar para malaikat-Nya! Suruhlah Allah yang kau sembah untuk mengubah batu dan pasir di sekitarmu itu menjadi makanan lezat!"
"Terkutuklah engkau iblis, karena engkau mengajarkan agar manusia memerintah Allah!" pekik saya marah, "Menyingkirlah kamu! Minggat dari hadapanku!"
Cahaya keemasan di depan saya berpendar-pendar menyilaukan mata disertai suara gemuruh mengguncang bumi. Saya pungut sebongkah batu kecil. Lalu sambil membaca ta'awud saya lempar cahaya itu.
Angin bertiup kencang. Cahaya keemasan itu berangsur-angsur melenyap. Saya termangu mendengar suara angin gurun yang menderu bersuit-suit menaburkan dingin malam. Sedetik kemudian semua menjadi hening. Senyap. Hampa.
Saya menarik napas dalam-dalam termangu takjub dengan kejadian menggetarkan yang baru saja saya lewati. Bagaimanapun saya merasa bersyukur karena berhasil lolos dari bujukan jahat Angramainyu, Raja Kekelaman yang tiada lain adalah iblis terkutuk. Udara malam terasa menerkam tubuh saya dengan dingin menusuk-nusuk bagai ribuan jarum memasuki kulit daging dan tulang saya. Saya mengkertak gigi menahan dingin yang menyengat, meski saya tidak tahu harus berbuat apa dengan ketidakberdayaan ini. Saya hanya pasrah dan menunggu agar tidak lama lagi pagi akan menjelang.
Setelah beberapa menit termangu-mangu sambil terus-menerus berdzikir, saya tiba-tiba saja melihat seberkas cahaya putih kebiru-biruan berpendar indah mengitari kepala saya. Cahaya itu makin lama makin terang. Cahaya itu kemudian menebarkan aroma wangi yang mempesona indera penciuman saya. Sungguh, aroma wangi yang sebelumnya belum pernah saya baui. Saya terpesona ketika cahaya beraroma wangi itu berpendar-pendar dalam kumparan indah pada jarak sekitar dua meter di depan saya. Cahaya itu membentuk silhouette seperti bayangan Angramainyu, tetapi cahaya ini lebih jelas dan berangsur-angsur membentuk bayangan manusia yang memancarkan warna putih kebiru-biruan.
Cahaya gemilang putih kebiru-biruan itu mendadak mengeluarkan kata-kata dalam bahasa tanpa suara sebagaimana yang sering saya dapati pada bisikan sirru'l haqq. Tetapi saya dengan segera dapat memahami maksudnya, bahwa dia menghendaki agar saya membuka mata hati dan mengambil pelajaran dari kebijaksanaan Ilahi yang akan disampaikannya.
"Siapakah sampean?" tanya saya dalam hati karena lidah saya kelu dan mulut saya tertutup rapat tak bisa digunakan untuk berbicara.
"Aku Zarathustra," kata manusia bercahaya putih kebiru-biruan itu dengan bahasa gaibnya yang aneh menakjubkan, "Aku telah mati dan Tuhan tetap hidup. Dia membangkitkan yang mati dari yang hidup, dia membangkitkan yang hidup dari yang mati."
Mendengar pengakuan yang aneh itu, saya terlonjak gentar dan kebingungan. Kekhawatiran kembali menerkam jiwa saya. Jangan-jangan cahaya itu adalah penjelmaan lain dari iblis yang sebelum ini sudah menggoda saya dengan mengaku Allah. Karena itu, sekalipun saya terpukau oleh pesona keindahan yang terpancar dari manusia bercahaya putih kebirubiruan itu, saya tetap menunggu dengan waspada akan segala sesuatu yang akan diucapkannya. Dengan demikian, saya akan bisa menentukan apakah manusia bercahaya itu iblis atau bukan.
"Seluruh makhluk adalah seruling bambu dan Tuhan adalah peniup agungnya," kata manusia bercahaya gemilang itu, "Siapa yang mengingkari peniup seruling, merekalah bambu rusak keropos yang tidak bisa menimbulkan suara jika ditiup."
"Sampeankah peniup seruling itu?" tanya saya memancing.
"Aku Zarathustra, pesuruh Ahura Mazda Yang Maha Esa. Dia adalah Cahaya yang bersinar tanpa sumbu dan tanpa api. Dia Esa dan Kekal Azali. Dia tidak terjangkau akal budi. Dia tidak tersentuh pancaindera. Dia tidak bisa diserupai sesuatu. Dia tidak bisa dibandingkan dan diserupakan dengan sesuatu apapun."
"Siapakah yang sampean maksud Ahura Mazda?" tanya saya memburu karena saya belum yakin kalau manusia bercahaya itu adalah Zarathustra.
"Ahura Mazda adalah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Mencipta alam semesta. Dari Dia alam semesta berasal (Yasna, 43:7). Dia Tuhan Yang Esa dan Mahatahu atas segala kejadian (Yasna, 44:2). Dia Tuhan Yang Esa, Tuhan Yang Mahabesar dan Mahakuasa (Yasna, 45:6). Dia Tuhan Yang Maha Esa, Mahakasih dan Maha Penyayang (Yasna, 45:5). Dia Tuhan Yang Esa, Tuhan Yang Mahapemurah (Yasna, 45:6)."
"Apakah yang dikehendaki Ahura Mazda pada manusia?" tanya saya masih dicekam keraguan dan kekurang-yakinan.
"Ahura Mazda menginginkan kebaikan bagi manusia agar manusia tidak mengikuti kesesatan Angramainyu dalam manifestasi syaitana yang celaka di hari perhitungan," kata Zarathustra menjelaskan, "Sebab di hari perhitungan tersebut, setiap makhluk akan dihitung atas semua perbuatan yang pernah dilakukannya. Ketika itu Ahura Mazda bersemayam di takhta kebesaran-Nya menyaksikan orang-orang melintasi Civentuperetu, yakni jembatan lurus yang sangat kecil ibarat rambut dibelah tujuh, yang merentang di atas cairan logam panas yang menyalanyala dan menggelegak dahsyat. Di jembatan Civentuperetu itulah Angramainyu beserta seluruh pengikutnya akan tergelincir dan dibakar selamalamanya di dalam api neraka."
"Adakah jalan lurus yang ditunjukkan Ahura Mazda bagi manusia?"
"Ahura Mazda merentanglan tiga jalan utama dengan ratusan jalan kecil yang bisa dicapai manusia untuk kembali kepada-Nya. Yang pertama adalah HUTAMA, yaitu berpikir baik, dalam arti setiap saat manusia haruslah selalu mengingat Ahura Mazda melalui hukum-hukum-Nya dan sifat-sifat-Nya serta nama-nama-Nya yang indah dan mulia. Seseorang yang sudah bisa menjernihkan pikirannya dari pengaruh syaitana, tentu akan bisa mempengaruhi tindak lakunya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab dari pikiranlah segala hal yang jahat dan baik bersumber."
"Yang kedua adalah HUKHATA, yakni kata-kata yang baik, di mana manusia harus selalu berkata-kata yang baik dengan orang lain terutama kepada sesama penyembah Ahura Mazda. Mereka yang kata-katanya menyenangkan para penyembah Ahura Mazda, maka Ahura Mazda pun akan senang. Berbicara yang sopan lagi santun meski kepada anak kecil wajiblah dilakukan oleh setiap penyembah Ahura Mazda. Sebab dari kata-katalah yang congkak dan yang rendah hati dapat dibedakan. Dari kata-katalah yang sesat dan yang beroleh petunjuk dapat dibedakan, sebab dari katakatalah seseorang bisa mendapat dan bisa kehilangan simpati."
"Ketahuilah, bahwa manusia yang sudah kehilangan simpati dari sesama manusia akan berdiri di hamparan tanah gersang di bawah naungan Angramainyu. Orang yang kata-katanya suka memuji dirinya sendiri akan dibutakan mata hatinya dan akan larut dalam puja dan puji bagi dirinya sendiri. Ketahuilah, bahwa mereka yang selalu memuja-muji dirinya sendiri adalah dapat dilihat dari kata-katanya. Semua kecongkakan dan kesombongan berawal dari HUKHATA yang gagal yang akhirnya mempengaruhi pikiran, di mana orang semacam itu selalu melihat kenyataan di luar dirinya sebagai hal yang buruk."
"Yang ketiga adalah HVASTRA, yakni perbuatan yang baik, di mana manusia harus bersikap dan berperilaku yang sesuai dengan apa yang digariskan Ahura Mazda. Apa yang dimaksud berbuat baik adalah tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Perbuatan seseorang yang bisa menyinggung perasaan atau mengecewakan orang lain, yang demikian itu sudah tergolong perbuatan tidak baik."
"Apakah perbuatan yang baik untuk diri sendiri?"
"Menjaga kesehatan diri sendiri dengan baik, yaitu membersihkan tubuh dan merapikan rambut serta memotong kuku-kuku (Vendidad, 17:1); menggosok gigi dengan siwak agar terhindar dari penyakit dan akan disukai orang dalam pergaulan (Sadder, 17:1). Setiap hal yang merugikan harus dihindari, misalnya, memakan bawang, mencuci najis yang menempel di tubuh maupun pakaian, menghindari minuman yang memabukkan, berzinah, mencuri, bahkan ketika bersin pun orang harus mengikutkannya dengan doa (Sadder, 7:1-7)."
"Bagaimanakah balasan bagi orang yang baik dan bagaimana pula balasan bagi orang yang tidak baik?" tanya saya ingin tahu.
"Ahura Mazda yang memiliki hak mutlak untuk menentukan amal perbuatan manusia selama hidup di dunia. Jembatan Civentuperetu adalah ujian akhir untuk menimbang amal perbuatan manusia. Mereka yang selamat ke seberang, mereka itulah manusia yang berbuat baik yang hidup mengikuti hukum-hukum Ahura Mazda. Dan hanya mereka yang baiklah yang selamat menyeberangi Civentuperetu, sebab Civentuperetu lebih halus dari rambut dibelah tujuh dan di bawahnya ada api neraka berkobar-kobar yang dibuat dari logam yang memuai (Yastna, 43:4 dan 30:7). Mereka yang berbuat kebajikan akan merasakan cairan logam memuai itu bagai uap susu yang hangat, tetapi mereka yang jahat dan sesat akan tersiksa dan terjerumus ke dalamnya (Yasna, 46:10 dan 71:16). Mereka yang berbuat kebajikan akan menikmati hidup kekal di dalam Paradaeza yang penuh ragam karunia dan anugerah Ilahi (Yasna, 53:4). Tetapi, bagi setiap manusia yang ingkar akan kekal disiksa di dalam Gehennama dengan siksaan yang tiada tara pedihnya (Yasna, 49:11)."
"Bagaimanakah sikap pemuja Ahura Mazda terhadap mereka yang memusuhinya?" tanya saya menangkap kesamaan ajaran Ahura Mazda dengan Islam.
"Terhadap orang-orang kafir yang memusuhi, bersikaplah keras dan gunakanlah senjata untuk menghadapi mereka (Yasna, 31:18). Namun demikian, bertarunglah dengan musuh-musuhmu secara seimbang dan jangan melampaui batas, serta berbuatlah lemah lembut terhadap sahabatmu sesama penyembah Ahura Mazda (Yasna, 31:19)."
"Saya mengira, bahwa apa yang sampean ajarkan sebenarnya adalah ajaran tauhid yang tidak jauh berbeda dengan ajaran Islam," kata saya menyampaikan kesimpulan saya.
"Ketahuilah, bahwa siapa pun yang menegakkan ke-Esa-an Ilahi adalah Islam, yakni manusia-manusia yang hanya menyerah dan pasrah kepada satu Ilahi yang tidak terjangkau pancaindera dan tak terjangkau akal budi. Ketahuilah, bahwa mereka menegakkan keEsa-an Ilahi seibarat mata rantai yang merentang dari satu zaman ke zaman lain tanpa terputus. Tetapi ketahuilah, bahwa mata rantai di antara beratus ribu nabi itu telah ditutup oleh Ausedhar-mah, Juru Selamat Yang Terpuji."
"Siapakah Ausedhar-mah?" tanya saya membayangkan sejenis tokoh mesianik.
"Ausedhar-mah adalah juru selamat yang terpuji, yang merupakan juru selamat kedua. Dia telah menggenapi mata rantai ajaran ke-Esa-an yang pernah disampaikan para nabi sebelumnya. Ajaran Ausedharmah akan tetap dipelihara oleh Ahura Mazda sampai akhir kehancuran umat manusia."
Saya terhentak dalam ketakjuban luar biasa. Zarathustra tetap berpendar di awang-awang di depan saya dengan sinar gemilang putih kebiru-biruan dengan bertabur titik-titik cahaya keemasan. Saya bertanya-tanya dalam hati tentang pertemuan saya dengan Zarathustra yang jelas sekali sangat berbeda dengan apa yang saya ketahui dari buku-buku picisan yang mengatakan bahwa Zarathustra adalah penganjur ajaran dualisme, di mana ada Tuhan dua yang samasama saling berkuasa, yakni Ahura Mazda dan Angramainyu. Ternyata, itu pandangan keliru dari orang-orang yang tidak memahami secara benar ajaran Zarathustra. Ketika saya masih tercengang dalam kumparan pikiran saya tentang ajarannya, tiba-tiba Zarathustra berkata-kata dalam gemerlap sinarnya yang berkilau-kilau:
"Lewat engkau ingin kuluruskan ajaranku yang telah dihancur-leburkan manusia-manusia pengikut Angramainyu yang sesat."
"Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Tuan?" tanya saya heran, "Saya hidup di zaman yang jauh berbeda dengan zaman di mana sampean hidup."
"Aku akan menyampaikan ajaranku kepada engkau dengan caraku."
"Apakah yang harus saya lakukan untuk menerima ajaran Tuan?"
"Serukanlah pada dunia bahwa Zarathustra adalah utusan yang diutus Ahura Mazda bagi bangsa Arya. Kacaukanlah ajaran-ajaran penyembah Angramaiyu sebagaimana mereka mengacau-balaukan ajaran-ajaranku. Hantamlah kesesatan ajaran kaum zindik yang memutarbalikkan ajaranku."
"Tulis dan kumandangkan kepada dunia bahwa Zarathustra adalah penyampai ajaran Ke-Esa-an Tuhan. Robeklah kitab-kitab yang dikarang orang-orang Karfaster yang menyatakan aku anti Tuhan. Hunuslah pedang dan tikamlah dada para penyeleweng ajaran Ke-Esa-an Tuhan yang merusakkan ajaranku. Hunuslah pedang dan penggallah leher manusiamanusia rendah yang mengaku Tuhan dan utusan Tuhan baru."
"Apakah yang sebaiknya saya lakukan terhadap orang-orang yang seiman dengan saya?" tanya saya ingin mengetahui ketegasan ajaran Zarathustra.
"Humata, Hukhata, Hvarsta itulah tiga jalan utama," kata Zarathustra dalam ketenangan tanpa perasaan, "Setiap orang yang beriman haruslah suci dan murni dalam berpikir, berkata, dan berbuat. Seorang yang baik haruslah mengasihi setiap yang beriman, yang miskin dan yang sengsara. Berbuatlah kasih sekalipun terhadap hewan yang mendatangkan kemanfaatan."
"Berbuatlah yang lemah-lembut dengan sesama orang yang beriman, tetapi keraslah terhadap musuh. Jangan menganggap dirimu lebih tinggi dari orang lain yang seiman. Jangan membangun bangunan-bangunan aturan untuk menempatkan diri sendiri sebagai yang paling tinggi dan mulia di antara mereka yang beriman. Berbuatlah rendah hati dan merendahkan diri di antara yang beriman. Hargai dan hormatilah orang lain yang seiman sebagaimana engkau ingin dihargai dan dihormati. Dan sikap meninggi-ninggikan diri adalah sikap yang tidak adil yang tidak disukai Ahura Mazda."
"Ingat-ingatlah, bahwa kalau di hatimu terbetik setitik hasrat untuk meninggikan diri, maka pikiran dan kata-katamu akan berubah menjadi buruk dan cenderung merendahkan orang lain. Kalau sudah begitu, maka perbuatanmu pun akan tidak berbeda dengan pikiran dan kata-katamu yang diliputi kesombongan. Oleh sebab itu, janganlah merasa lebih tinggi dari orang lain, sebab kalau itu terjadi engkau telah berubah menjadi Angramainyu terkutuk."
"Camkanlah ketika Ahura Mazda mengumpulkan para Spentamainyu yang suci dan semua diperintahkan untuk bersujud kepada Yima, manusia pertama yang dicipta Ahura Mazda. Seluruh Spentamainyu bersujud kepada Yima kecuali Angramainyu. Angramainyu menyatakan bahwa dia tunduk dan patuh atas semua perintah Ahura Mazda, kecuali disuruh bersujud kepada Yima. Angramainyu merasa bahwa ia lebih mulia dari Yima. Angramainyu dengan penuh kecongkakan memuji-muji kemuliaan, kepandaian, kesaktian, kekuatan, dan ketinggian derajatnya sendiri di hadapan Ahura Mazda. Maka dikutuklah Angramainyu dan direndahkan derajatnya sampai ke dasar Gehannama. Dan sejak saat itu Ahura Mazda menerangkan hukum bahwa siapa yang berjuang mencari puja-puji, maka kehinaanlah yang akan diperoleh."
"Karena itu, apabila engkau mendapati orang yang suka memuji-muji dirinya dan ingin dipuja-puji orang lain, maka yang demikian itu adalah cerminan sifatsifat Angramainyu. Begitu juga jika ada orang yang iri hati terhadap peruntungan orang lain, maka dia pun tergolong cerminan Angramainyu. Dan begitulah orang-orang congkak yang selalu menganggap rendah orang lain dan menilai tinggi diri sendiri akan dihinakan oleh Ahura Mazda dengan cara dibuang ke dasar Gehannama."
"Apakah itu berarti kita tidak boleh berlebih-lebihan?"
"Bercukup-cukuplah dalam berbuat dan jangan melampaui batas. Artinya, jangan terlalu menilai tinggi diri sendiri, pun jangan terlalu menilai rendah diri sendiri. Contohlah air yang mengalir di sungai. Dia akan memancar lembut di mata air, dia bisa menjadi ganas di jeram, dan dia bisa mengerikan di muara. Tetapi air juga bisa tenang di telaga dan suci bersih sebagai embun di dalam gumpalan awan."
"Sampean tadi mengatakan ada juru selamat kedua yang bernama Ausedhar-mah. Sebenarnya ada berapakah juru selamat itu?" tanya saya ingin tahu.
"Ausedhar yang pertama adalah Khairusy Maharaja Agung Kerajaan Persia keturunan Visthaspa. Khairusy adalah raja yang menegakkan rumah Ahura Mazda dari bangsa-bangsa keturunan Sulaiman. Khairusy adalah raja yang dengan kekuasaannya mengembalikan kemegahan negeri Jerusalayim dari kerusakan yang dilakukan Sargon dan Nebukadnezar. Rumah Ahura Mazda yang dibangun Khairusy itulah yang menyelamatkan iman keturunan Sulaiman dari kepercayaan murtad bangsa Asyiria yang menyembah berhala."
"Khairusy itulah juru selamat pertama bagi manusia yang dikirim Ahura Mazda ke dunia. Sekalipun Khairusy penyembah Ahura Mazda, ia tetap membangunkan rumah Ahura Mazda bagi orang-orang keturunan Sulaiman yang menyebut rumah itu sebagai Bait El. Sebab Ahura Mazda hanyalah sebutan bagi Tuhan Yang Esa yang juga disebut Allah, El, Yehuwa bagi keturunan Sulaiman. Ahura Mazda adalah Tuhan bagi seluruh manusia, baik manusia yang ingkar maupun manusia yang beriman."
"Juru selamat yang kedua adalah Ausedhar-mah yang merupakan keturunan utusan dari antara bangsa keturunan Ibraham. Dia lahir tak jauh dari rumah Ahura Mazda yang dibangun utusan asal negeri Ur, yaitu Ibraham. Dia menggenapi seluruh ajaran Ahura Mazda yang telah diajarkan oleh beratus ribu utusan sebelumnya. Dia adalah utusan sekaligus raja. Sebab setiap yang diutus Ahura Mazda sebagai juru selamat mestilah memiliki kekuasaan."
"Juru selamat yang ketiga atau juru selamat yang terakhir adalah Shayosant, yakni juru selamat yang akan menandai akhir kehidupan dunia. Ia akan lahir di sebuah desa tiada jauh dari gunung Sabalan tempatku beroleh titah sebagai utusan Ahura Mazda. Dia akan muncul tak terduga dan menjadi penguasa yang sangat kuat perkasa di dunia."
"Bagaimanakah tanda-tanda Shayosant?" tanya saya ingin tahu karena tanda-tanda Ausedhar dan Ausedhar-mah saya sudah ketahui.
"Aku tiada boleh menguak akan rahasia kehidupan yang belum terjadi secara gamblang" kata Zarathustra tegas, "Tetapi kalau engkau ingin mengetahui tandatanda Shayosant, maka dia tidak akan berbeda dengan kedua juru selamat sebelumnya. Dia akan berpikir, berkata, dan berbuat yang baik sesuai ajaran Ahura Mazda. Dia akan merusakkan berhala-berhala sesembahan manusia dalam berbagai wujud dan manifestasi. Dia mencntai orang-orang yang menyembah Ahura Mazda dan membebaskan mereka dari kejahatan para penyembah berhala. Dan kebanyakan orang tidak pernah mengetahui siapa dia, karena semua orang merasa curiga dengan segala apa yang diperbuatnya. Tetapi Ahura Mazda akan meneguhkan dia. Ahura Mazda akan menyingkirkan musuh-musuhnya sehingga Shayosant bisa berkuasa menegakkan kerajaan Ahura Mazda di dunia dengan adil dan bijaksana. Tetapi dengan kemunculannya, sejatinya dunia pun sedang menjelang kehancurannya."
"Adakah tanda-tanda yang lain?"
"Ahura Mazda senantiasa menerakan cap pada tubuh ketiga juru selamatnya. Cap itu ada diterakan di dada, ada yang di pungung, ada yang di kening."
Saya sebenarnya masih ingin meminta penjelasan lebih lanjut tentang Shayosant, tetapi cahaya yang memancar dari tubuh Zarathustra berpendar makin menyilaukan. Lalu bagaikan kilatan petir cahaya yang memancar dari Zarathustra menyambar penglihatan saya. Saya terpana kebingungan. Namun setelah saya sadar, bayangan Zarathustra tidak terlihat lagi. Alam sekitar saya gelap. Sunyi. Senyap. Hening.
Saya termangu lama memikirkan perjumpaan aneh yang tak terduga dengan bayangan Zarathustra. Entah bagaimana awalnya, mendadak saja berbagai tanda tanya mengalir deras dari dalam otak saya, terutama menyangkut obsesi saya tentang Zarathustra dengan segala ajarannya yang ternyata banyak kemiripan dengan ajaran Islam.
Sungguh, selama ini saya telah salah memahami ajaran Zarathustra yang telah diselewengkan para Majus penyembah api. Saya selama ini telah menganggap bahwa Zarathustra adalah penganjur ajaran dualisme keilahian, padahal Zarathustra adalah penganjur ajaran tauhid. Bahkan dalam buku Also Sprach Zarathustra yang dikarang Friedrich Nietzsche, filsuf ateis Jerman, Zarathustra digambarkan sebagai seorang ateis yang menyatakan bahwa 'Tuhan telah mati' sebagaimana imaji Nietzsche. Ya, lewat tokoh Zarathustra, Nietzsche memaklumkan bahwa Tuhan telah mampus. Boleh jadi karena kekurang-ajarannya itu, hidup Nietzsche berakhir dengan tragis digerogoti sipilis sampai ingatannya tidak beres.
Sekarang ini, setelah perjumpaan dengan Zarathustra di alam al-khayal, tiba-tiba semua obsesi saya menjadi terang. Obsesi tentang ajaran Zarathustra telah terjawab dan tergelar terang-benderang. Zarathustra, dalam bentangan sejarah ternyata sejak lahir sudah memiliki tanda-tanda dan kodrat-kodrat yang berkait dengan kemukjizatan seorang utusan Tuhan.
Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saya mengetahui dengan terang-benderang kisah hidup Zarathustra yang sebenarnya, di mana menurut pengetahuan yang saya peroleh, Zarathustra lahir dari rahim seorang perawan bernama Duondova yang sedikit pun belum pernah dijamah oleh suaminya yang bernama Porushop dari suku Spitama di negeri Azerbeijan (Yasna, 47:17-18). Bayi Zarathustra dikisahkan tercipta dari nur abadi yang ketika lahir sudah bisa tertawa (Yasna, 47:43). Kelahiran Zarathustra telah mengguncang jiwa Durashan, pemimpin para Majus penyembah api. Durashan mengirim tiga tokoh Majus untuk menyambut kelahiran Zarathustra. Tetapi bukannya menyambut gembira kelahiran bayi ajaib itu, bayi Zarathustra yang setelah lahir sudah bisa merangkak itu justru ditangkap dan dimasukkan ke dalam tungku api oleh mereka. Namun, aneh, Zarathustra selama di dalam kobaran api malah tertawa-tawa dan merangkak keluar. Nyala api yang berkobar-kobar tidak sedikit pun membakar tubuhnya.
Setelah dewasa Zarathustra dikawinkan dengan gadis bernama Havivi. Dalam usia 30 tahun dia berkhalwat di gunung Sabalan dan beroleh pencerahan dengan ajaran Humata, Hukama, dan Hvastra. Setelah beroleh pencerahan Zarathustra mulai melancarkan dakwah dengan menggempur para Majus dan orang-orang yang menyembah api. Zarathustra menyampaikan ajaran ke-Esa-an Tuhan Yang Tunggal yang disebut Ahura Mazda, yakni Tuhan yang memiliki 20 sifat dan 101 nama mulia. Tetapi, Zarathustra ditertawakan dan dimusuhi oleh para pemuja api, terutama para pendeta Majus yang menjadi pemuka para penyembah api terutama karena ajaran Zarathustra menentang penyembahan terhadap unsur-unsur yang bisa diraba oleh pancaindera (Yasna, 44:9).
Keberadaan Zarathustra sebagai utusan Ahura Mazda ternyata dipikul dengan demikian menyakitkan. Tetapi, Zarathustra sudah bertekad untuk mengorbankan apa saja, kalau perlu nyawanya, demi keberlangsungan ajaran Ahura Mazda (Yasna, 33:14). Zarathustra menyatakan keimanannya untuk hanya pasrah dan menyerah kepada Ahura Mazda semata (Yasna, 44:11).
Ajaran ke-Esaan Ilahi yang disampaikan Zarathustra ternyata tidak sekadar dijadikan tertawaan masyarakat dan hujatan pemuka Majus, bahkan Zarathustra sendiri dihalau dan diusir-usir oleh seluruh masyarakat, sehingga tidak ada orang yang berani mendekatinya. Itu sebabnya, dalam waktu 10 tahun berdakwah, Zarathustra hanya memperoleh seorang pengikut.
Di tengah penderitaannya dijauhi dan dimusuhi masyarakat, dalam kesunyian di tempat sepi muncul unsur jahat syaitana yang menjanjikan kekuasaan dan kenikmatan duniawi bila Zalathustra bersedia meninggalkan ajaran Ahura Mazda. Tetapi, Zarathustra tetap pada keyakinannya bahwa Tuhan hanyalah satu dan tidak bisa disamai oleh sesuatu dan tidak bisa pula dipikir-pikir atau disentuh pancaindera. Zarathustra tetap yakin akan kebenaran janji Ahura Mazda (Yasna, 46:3). Demikianlah, setelah mengalami penderitaan tak terkira selama 10 tahun lebih, Zarathustra mendapat perintah untuk hijrah ke kota Balkh (Yasna, 46:1-2).

Setelah hijrah ke kota Balkh di Bactria, Zarathustra menjumpai Raja Kavi Vishtaspa di Kutataja Balkh. Untuk membuktikan keunggulan, di hadapan Raja Kavi Vishtaspa, Zarathustra beradu argumen tentang kebenaran ajarannya melawan para Majus penyembah api, termasuk bertarung menunjukkan keunggulan ilmu. Setelah bertarung sengit dengan para Majus penyembah api selama tiga hari tiga malam, Zarathustra dinyatakan menang. Raja Kavi Vishtaspa beserta seluruh keluarganya memeluk agama tauhid yang diajarkan Zarathustra (Yasna, 53:2). Sebagaimana prasyarat menjadi pengikut Zarathustra, Raja Kavi Vishtaspa beserta keluarga setelah mengimani ke-Esaan Ahura Mazda dan bersedia memeluk agama Ahura Mazda, wajib membaca persaksian (syahadat) di mana isi dari persaksian tersebut ialah "mengaku diri sebagai penyembah Ahura Mazda Yang Esa, pengikut Zarathustra yang memusuhi berhala-berhala dan mentaati hukum Ahura Mazda. Persaksian tersebut wajib diucapkan dalam kebaktian memuja Ahura Mazda sehari-hari. Zarathustra mengajarkan agar pengikutnya banyak mengingat (dzikir) dengan menyebut nama Ahura Mazda.
Sebelum Ahura Mazda mencipta manusia pertama, Yima, Dia sudah mencipta Spentamainyu dan Angramainyu. Spentamainyu adalah makhluk dengan kodrat ruhani yang baik, sedangkan Angramainyu adalah makhluk dengan kodrat ruhani angkara. Spentamainyu yang memiliki kedudukan mulia ada enam, yaitu Vohu Manah, lambang ingatan yang baik dan menjadi pesuruh Ahura Mazda sebagai penyampai wahyu; Asha, lambang ketertiban dan keadilan; Kshatra, lambang kekuasaan dan kebijaksanaan; Armaiti, lambang kesucian dan welas asih; Haurvatat, lambang kesentosaan dan kemakmuran; Ameretat, lambang keabadian. Demikianlah keenam Spentamainyu itu disebut Amesha Spentas atau Malaikat Mulia. Sementara Angramainyu adalah iblis yang memiliki pengikut para syaitana.
Setiap manusia, menurut ajaran Zarathustra, segala macam perbuatan baik dan buruknya akan dicatat oleh dua Ahuras, sehingga setiap diri akan diadili perbuatannya di hari perhitungan (Yasna, 31:20). Manusia yang baik akan masuk ke Paradaeza yang penuh karunia dan anugerah kemuliaan tiada terhingga (Yasna, 53:3,10:31, dan 33:3-5). Sedang manusia yang ingkar dan sesat akan masuk ke dalam Gehannama yang penuh siksa derita dengan makanan yang amat hina (Yasna, 31:20,49:11). Manusia yang beriman kepada Ahura Mazda disebut Madr Yasnan, sedang yang ingkar disebut Kharfasters.
Seiring berpusarnya waktu, terutama setelah Zarathustra mangkat, akar dari ajaran Zarathustra makin banyak yang diselewengkan. Dalam serbuan Alexander Agung pada 356-323 SM yang membawa dewa-dewa Yunani dan Romawi, telah mencabut akar ajaran Zarathustra yang murni. Kitab Avesta yang jumlahnya 21 kitab, hanya tersisa 5 kitab, di mana itu pun sudah diselewengkan dan dicampuradukkan oleh ajaran Majus penyembah api. Sehingga Zarathustra diposisikan seolah-olah tokoh penganjur penyembahan terhadap api.
Diam-diam saya merasa bersyukur bahwa Allah telah berjanji untuk menjaga Agama Islam sampai akhir zaman. Sebab kalau hal semacam ajaran Zarathustra terjadi pada Agama Islam, sudah bisa dipastikan bahwa Islam pun akan banyak diselewengkan. Satu bukti dari upaya penyelewengan yang selalu muncul akibat bisikan iblis tersebut terlihat pada kasus Salman Rusdhie, di mana dalam novel The Satanic Verses, dia mengutip ayat 19 sampai ayat 21 dari Surat an-Najm sehingga terkesan bahwa Nabi Muhammad SAW selain menganjurkan orang menyembah Allah, juga menganjurkan menyembah berhala Latta, Uzza, dan Manat. Boleh jadi dari masuknya pikiran orang-orang sinting seperti Salman Rusdhie itulah, maka ajaran Zarathustra jadi berbalik 180 derajat. Padahal dalam Islam yang disebut Zarathustra tidak lain dan tidak bukan adalah Nabi Dzulkifli Alaihissalam, di mana makna nama Zarathustra adalah Sang Penunggang Unta alias pemimpin rombongan kafilah.
Satu hal lagi yang saya anggap patut untuk saya syukuri dari perjumpaan saya dengan Zarathustra adalah kejelasan tentang juru selamat Aushedar yang tiada lain adalah Khorusy atau Cyrus Bertanduk (berkuasa). Dengan uraian Zarathustra itu menjadi jelaslah bahwa Cyrus itulah yang disebut sebagai tokoh Zulkarnain (yang memiliki dua bertanduk) dalam alQur'an. Hal itu berarti menumbangkan keraguan saya tentang penafsiran banyak orang tentang tokoh Zulkarnain yang sering diindentikkan dengan tokoh Alexander Agung dari Macedonia yang menyembah dewa-dewa dari agama pagan Yunani kuno.
Sekarang ini, obsesi saya tentang tokoh Zulkarnain dalam al-Qur'an itu sudah terjawab, setidaknya bagi saya sendiri. Bahwa Cyrus atau Khorusy tidak lain dan tidak bukan adalah Zulkarnain yang membentangkan kekuasaan dari Asia kecil hingga ke gugusan negeri Mesir sampai ke kawasan tanah di antara dua laut, yaitu Laut Hitam dan Laut Kaspia. Ya, Cyrus itulah yang telah melakukan penaklukan ke arah matahari tenggelam di Laut Hitam yang membentang (QS. alKahfi: 86). Cyrus ini pula yang menaklukkan daerah di tempat matahari terbit dan mendapati bangsa (Kazhar) yang tinggal di kawasan dua gunung (Sebalan dan Kaukasus) yang bahasanya tidak terpahami (QS. al-Kahfi: 90-93). Cyrus inilah yang membantu orang-orang Israel membangun kembali dua bekas kerajaan Sulaiman dan kerajaan Israel di Samara dan kerajaan Judea di Jerussalem di mana rakyat kedua negara tersebut melaporkan kepada Cyrus akan hal Raja Saron II dan Raja Nebukadnezar dari Assyria yang telah menghancurkan Samara dan Yerussalem, merampas harta kekayaan Sulaiman, bahkan merobohkan Kuil Sulaiman di bukit Zion yang merupakan Bait Allah, dan menawan orang-orang Judea.
Cyrus itulah yang menaklukkan bangsa Assyria dan memulangkan orang-orang Judea yang ditawan oleh Sargon dan Nebukadnezar. Cyrus itulah yang telah mengembalikan harta kekayaan Sulaiman yang tersisa yang dirampas Nebukadnezar kepada Imam Judea. Dan Cyrus itu pula yang membangun kembali kuil Sulaiman, Bait Allah di bukit Zion, dan membangun kembali Jerussalem dari kehancurannya (Tawarikh II, 36:23; Ezra, 1:1-11; 4: 1-24; 5:1; 6: 1-22; QS. al-Kahfi: 95-96).
Tegaknya kembali Kuil Sulaiman di bukit Zion yang dibangun kembali oleh Cyrus, adalah dinding besi yang kokoh yang memisahkan ajaran haq yang bersumber dari ajaran nabi-nabi Bani Israel dengan ajaran batil yang bersumber dari pengaruh kepercayaan Assyria yang paganistik. Ya, dengan tegaknya Kuil Sulaiman tersebut, tidak ada pengaruh lagi dari kepercayaan-kepercayaan musyrik yang bisa melintasi dan menembus pertahanan tauhid keturunan Sulaiman, kecuali Allah sendiri yang akan merobohkannya (QS. al-Kahfi: 97-98). Namun serbuan bangsa Khazar pemuja ruh-ruh kegelapan yang dipimpin pemuka-pemuka tukang sihir, tak kenal lelah mengintai ketenang-damaian keturunan Sulaiman dan kerajaan Cyrus. Bangsa Khazar yang merupakan keturunan puak bangsa Massagetae, suku nomaden di Asia Tengah di sebelah timur Laut Kaspia, menebar kebinasaan di mana-mana, terutama di bawah pimpinan Kaghan Skila dan Kaghan Grgur, yang tak terkalahkan.
Kebangkitan imperium Khazar di bawah Kaghan Skila dan Kaghan Grgur mengguncang kehidupan bangsa-bangsa. Kebiadaban dan kesesatan merajalela memenuhi permukaan bumi. Kerusakan dan kebinasaan menghambur laksana badai menerjang tanaman gandum. Bangsa-bangsa yang tersingkir dari negerinya akibat serangan orang-orang Khazar, memohon pertolongan kepada Cyrus, yang membikin dinding besi menutupi dua gunung untuk menghalangi gerak laju balatentara Khazar. Kaghan Skila dan Kaghan Grgur beserta bala tentaranya pun tidak dapat melampaui dinding besi yang dibikin Cyrus. Demikianlah, menurut riwayat Kaghan Skila dan Kaghan Grgur yang membawa balatentara yang kejam yang menghancurkan negeri-negeri itu disebut dengan julukan Ya'juj wa Ma'juj, yaitu makhluk yang membuat kerusakan di muka bumi (QS. al-Kahfi: 93-94). Cyrus sendiri meski awalnya beroleh kemenangan menghadapi suku Khazar biadab keturunan Massagetae, pada akhirnya gugur dalam pertempuran akibat kelicikan musuh.
Nama Khorusy sendiri memiliki makna ganda yang bisa ditafsirkan bermacam-macam. Khorusy bisa ditafsirkan sebagai mata rantai, tanduk, abad, puncak gunung, pertahanan, pedang, dan maharaja agung. Saya kira memang tidak salah kalau Aushedar yang disebut Zarathustra adalah dia, karena selain al-Qur'an menyebutnya sebagai tokoh Zulkarnain, Tuhan dalam kitab suci Ibrani memberi sebutan "gembala-Ku" baginya (Yesaya, 44:28). Ke-juruselamat-an Khorusy lebih tegas lagi ketika Tuhan menyebutnya dengan sebutan "al-Masih-Ku" (Yesaya, 45:1).
Keyakinan saya bahwa tokoh Zulkarnain dalam alQur'an adalah Cyrus rasanya tidak perlu saya persoalkan lagi. Saya tidak peduli dikatakan orang sudrun yang mengada-ada dengan menafsirkan tokoh Zulkarnain sebagai identik dengan tokoh Cyrus. Yang pasti, saya tidak pernah menemukan akar kata Zulkarnain dalam bahasa Greek. Dan saya menolak tegas ke-Zulkarnain-an Alexander Agung dalam kaitan dengan tafsir al-Qur'an, karena Alexander adalah jelas-jelas menyembah dewa-dewi Yunani serta 'membasmi' kitab-kitab Zarathustra.
Adapun Aushedar-mah, juru selamat yang terpuji tiada lain adalah Nabi Muhammad SAW, di mana Muhammad sendiri maknanya Yang Terpuji. Di dalam kitab suci pun, kehadiran beliau sudah ditengarai dengan janji Allah akan bangkitnya sebuah bangsa besar dari keturunan Ismail (Kejadian, 21:17-21). Dan kedatangan messias itu pun dijanjikan di gunung Paran (Faran) (Ulangan, 33;2) yang secara geografis terletak di antara Makah dan Madinah. Demikianlah kehadiran Aushedar-mah itu ditengarai oleh Isa putera Maryam sebagai Ruuh Kebenaran yang menyampaikan kebenaran dari mulutnya (Yahya, 16:13) di mana al-Qur'an pun menegaskan bahwa Nabi Muhammad menyampaikan kebenaran wahyu dari lisannya (QS. an-Najm :3-4). Adapun kehadirannya pun sudah ditengarai pula dalam bagian yang lain kitab suci (Yahya, 14:16, 26; 15:26; 16:7-8, 13-14).
Sementara itu yang belum saya ketahui secara terang adalah kedatangan Shayosant yang akan menghancurkan kemungkaran dan menumpas kedzaliman serta mengasihi Tuhan Yang Esa. Saya kira zaman yang serba semrawut dengan pengaruh kebendaan yang luar biasa dahsyat ini, sangatlah sulit mencari pemimpin besar yang berpikir, berkata-kata, dan berbuat baik yang dengan berani menggulingkan berhala sesembahan manusia. Yang saya anggap sulit bagi kedatangan Shayosant pada masa sekarang ini adalah letak kelahirannya yang dilukiskan terletak di sebuah desa tak jauh dari gunung Sebalan di kawasan sekitar Azerbaijan dan pegunungan Kaukasus, di mana daerah tersebut sekarang ini sedang dikuasai rezim komunis yang zalim. Dan saya pikir pun, kedatangan Shayosant itu tentulah masih lama karena saya pikir hari kehancuran dunia tentulah masih sangat lama.
Bagaimanapun perjumpaan antara saya dan Zarathustra memiliki makna erat dengan obsesi saya tentang pengetahuan rahasia Sastra Hajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, di mana kata "Diyu" ternyata saya dapati berasal dari bahasa Persia Kuno, yaitu dari akar kata "DIU" yang merupakan akar kata Daevas yang mencakup makna "keterikatan bendawi" yang menunjuk pada lambang kerakusan, keserakahan, keangkuhan, kelobaan, kedustaan, keculasan, ke-akuan, kenistaan dari kecenderungan-kecenderungan manusia yang semuanya melambangkan kodrat-kodrat dari unsur potensi yang merusak kehidupan manusia.
Kalau makna "Diyu" dalam Sastra Hajendra berasal dari akar kata "Diu" dari bahasa Persia Kuno, maka tidak dapat diragukan lagi bahwa ajaran Sastra Hajendra tentu terkena pengaruh tokoh-tokoh Islam dari Persia baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu dari tokoh-tokoh penganut paham Susuhunan Kudus, Raden Jakfar Shodiq, maupun pengaruh paham sufisme Syaikh Datuk Abdul Jalil yang digelari Syaikh Lemah Abang alias Syaikh Siti Jenar. Pengaruh-pengaruh Persia tersebut sedikitnya saya ketahui lihat cara mengaji tradisional orang-orang Jawa yang menggunakan istilah-istilah bahasa Persia seperti "Jabar – Zher Fyes" dan bukan menggunakan istilah Arab seperti "Fathah – Katsroh – Dlomma." Tradisi Kenduri yang berasal dari bahasa Kanduri, tidak bisa diingkari tentang kemungkinan adanya pengaruh Persia. Begitu juga dengan keberadaan istilah-istilah Persia dalam bahasa Jawa dan melayu seperti Nakhoda, Bandar, Astana (istana), Bedebah, Biadab, Bius, Diwan (dewan), Gandum, Jadah (anak haram), Lasykar, Tamasya, Saudagar, Pasar, Syahbandar, Pahlawan, Kismis, Anggur, Takhta, Medan, Firman, dan lain-lain. Penggunaan istilah-istilah Arab seperti musyawarat, rakyat, hakikat, maslahat, syari'at, hikmat, manfaat, dan sebagainya menunjuk pada pengaruh aksentuasi Persia yang melafalkan huruf "T" di akhir kata dengan lafadz jelas.
Sementara kata Sastra dan Hajendra sendiri jelas diambil dari bahasa Sansekerta, di mana kata sastra berarti kitab suci dan orang yang ahli sastra disebut sastri, di mana kata sastri tersebut dilafalkan dalam lidah Jawa menjadi santri. Adapun kata Jendra dipungut dari kata Rajendra yang berarti "Raja" atau "Khalifah". Pengambilan dari bahasa Sansekerta kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno) menjadi Sastra Hajendra yang diadaptasi lagi ke dalam bahasa Jawa Baru menjadi Sastra Jendra. Adanya pengaruh Persia dan Sansekerta di Jawa tampaknya berkaitan dengan pengaruh tokoh-tokoh penyebar Islam asal Persia, Gujarat, dan Teluk Bengala di India seperti Syaikh Maimun bin Hibatallah, Syaikh Subakir, Syaikh Syamsuddin al-Wasil, Syaikh Maulana Malik Ibrahim, Syaikh Jumadil Kubra, dan sebagainya.
Dengan sudut pandang dan kerangka pemikiran, saya menjadi yakin bahwa kemunculan pengetahuan rahasia yang disebut Sastra Hajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu terjadi selama dan sesudah zaman Wali Songo. Sebab dalam kepustakaan Jawa, kalimat Sastra Jendra Yuningrat baru muncul pada abad ke-19 dalam karya pujangga Yasadipura, Arjuna Sasrabahu. Sewaktu di India, saya sempat menanyakan kepada beberapa orang ahli di India soal konsep Sastra Jendra yang terdapat di Jawa, di mana mereka menyatakan tidak tahu-menahu dengan konsep pengetahuan tersebut. Dan kisah Wisrawa dan Sukesi di India memang tidak ada sangkut-pautnya dengan ajaran rahasia Sastra Jendra.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Kisah Sejarah Gaib Tanah Jawa

Kisah Sejarah Gaib Tanah Jawa

Sejarah awal Pulau Jawa seolah terbungkus oleh misteri, karena sama sekali tidak diketahui keberadaannya oleh dunia sampai pulau ini dikunjungi oleh peziarah dari China, Fa

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Ramadhan dan lebaran selain tentang hal puasa dan mudik juga sebagai pemantik kenangan saat bulan puasa dan lebaran tahun sebelum-sebelumnya. Itulah yang dirasakan Rahwana

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Setelah 9 tahun merantau ke Newyork, Rahwana akhirnya memutuskan untuk mudik ke kampung halamannya, tepatnya di kecamatan Alengka kabupaten Blora.Suatu pagi sehari sebelum

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM)

Perubahan besar di dalam diri saya makin saya rasakan ketika serentetan kenangan masa silam saya yang penuh percikan dan lepotan noda hitam yang mengotori jiwa saya, berkelebatan

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Matahari bersinar bersih, cahayanya membias putih di batas cakrawala yang berpendar jernih laksana pancaran kristal. Langit biru membentang bagai kubah sebuah masjid. Angin

Lebaran 2011ku

Lebaran 2011ku

pengalaman itu tak selamanya menjadi guru yang terbaik. Pagi-pagi pulang dari kerja aku langsung ke stasiun gambir untuk membeli tiket kereta buat mudik, tapi ternyata semua

Percayakah Kau Padaku?

Percayakah Kau Padaku?

Cerita ini diambil dari salah satu cerita pendek pada buku "Sepotong Hati Yang Baru" dengan judul "Percayakah Kau Padaku?" yang ditulis oleh Tere Liye.__________________

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

"Kalau engkau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!”Bagai kilatan cahaya petir, bisikan misterius itumembentur gugusan telinga batin saya tanpa dapat