Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM)

  • 2018-07-26 10:08:19
  • 462

Perubahan besar di dalam diri saya makin saya rasakan ketika serentetan kenangan masa silam saya yang penuh percikan dan lepotan noda hitam yang mengotori jiwa saya, berkelebatan ganti-berganti mengisi suasana suci dan fitrah dari Idul Fitri. Seyogyanya hadirnya kartu-kartu lebaran dan perjumpaan saya dengan para bekas gendakan saya serta dengan perempuan-perempuan aneh yang menakjubkan yang pernah mengisi hidup saya, justru saya rasakan akan membuat jiwa saya terguncang. Tetapi saya berusaha untuk merasakan bahwa semua yang akan saya hadapi akan saya dudukkan seperti rentetan kisah-kisah ringan yang tidak perlu mengguncang jiwa saya.
Saya sadar betul bahwa apa yang pernah berkait dengan ke-iblis-an dan kebinatangan saya adalah merupakan sebuah rentangan daftar dosa panjang dan kelam yang mengerikan. Saya sadar bahwa kelicikan dan kebiadaban saya sebagai manusia sudrun tentu sangat dikutuk, baik oleh Tuhan, manusia maupun malaikat. Tetapi saya merasa sedikit agak terhibur ketika Sirr-i-Asrar di pedalaman saya mengungkapkan bahwa bagaimana pun besar dan luas dosa seseorang, Allah akan mengampuninya jika bertobat kecuali perbuatan syirik.
Berbicara soal syirik memang bukan berbicara tentang filsafat. Tapi, tanpa filsafat yang mendalam, bicara soal syirik ibarat orang-orang buta membahas masalah gajah. Semua masih serba meraba-raba, di mana syirik oleh sebagian orang selalu dipahami sebagai kegiatan orang seorang menyembah benda-benda yang berupa patung, pohon, batu, kuburan, candi, dsb…dsb. Padahal, yang dinamakan syirik, sejauh pemahaman saya, jauh lebih mendalam dari sekadar itu.
Suatu ketika di sore lebaran, beberapa orang tetangga ketemu Saya dan buru-buru mereka menyalami saya sambil mencium tangan saya. Saya tentu saja menolaknya. Buru-buru mereka saya nasehati bahwa hal itu tidak baik karena hal itu bisa mendatangkan pengkultusan atas diri saya. Tetapi betapa kagetnya saya ketika Sirr-i-Asrar di pedalaman saya menuduh bahwa saya telah kafir dan musyrik dengan perbuatan saya mengingatkan para tetangga saya itu.
Penasaran, saya bertanya kepada diri sendiri, kenapa perbuatan saya yang baik itu dikatakan kafir dan musyrik? Sirr-i-Asrar di pedalaman saya dengan keras menjawab, bahwa sesungguhnya ketika saya mengatakan menampik kultus sebagai alasan adalah merupakan pengakuan atas keberadaan nafs Saya dengan anggapan lebih tinggi daripada nafs orang lain.
Maksud saya mungkin baik, tapi jauh di pedalaman hati saya, sejatinya terselip sepercik noda hitam yang mengantarai nafs saya dengan nafs orang-orang maupun dengan Rabbu'l Arbaab.
Seharusnya, begitu ungkapan Sirr-i-Asrar, saya tidak perlu merasa dikultuskan orang. Seharusnya saya hanya menganggap bahwa orang-orang yang mencium tangan Saya adalah mereka yang menghormati ilmu saya, bukan menghormati pribadi saya sebagai Sudrun. Dan andaikata perbuatan mereka itu saya anggap untuk meminta berkah kepada saya, maka itu pun telah membuat saya kafir dan musyrik. Dalam hal itu, saya tidak boleh mereka-reka dan mengada-ada tentang sesuatu yang diperbuat orang dengan kecurigaan yang berlebihan.
Akhirnya, daripada saya berbuat sesuatu yang mencelakakan diri Saya sendiri, maka sepanjang Idul Fitri saya lebih suka mengurung diri di kamar sambil membaca surat-surat dan kartu lebaran yang ada. Saya menganggap kehadiran surat-surat dan kartu lebaran itu sebagai bagian dari catatan dosa-dosa formal saya yang bisa saya ketahui dengan jelas. Dan sepucuk kartu lebaran dari Wiwik Sedanwati saya baca berulang ulang dengan hati kebat-kebit.
Wajah Wiwik Sedanwati berkelebat sesaat dalam benak saya. Wiwik yang lembut dan ayu. Wiwik, pereks yang pernah kukerjai tetapi secara tanpa sengaja bisa menemukan identitas saya, tiba-tiba saja mengingat saya pada ratapannya ketika ia datang ke rumah saya.

Jika Saya ungkapkan kembali, isi ratapan Wiwik Sedanwati kira-kira seperti ini:
"Saya sungguh tidak menduga, Sudrun, kalau sampean adalah manusia tengik yang tidak punya perasaan seperti robot. Padahal, saya semula mengira sampean adalah manusia baik-baik yang memiliki hati nurani penuh cinta dan kasih sayang lebih dari manusia yang lain. Tetapi ternyata, saya telah salah menilai."
"Ketahuilah, Sudrun, ketika kita pertama kali diperkenalkan oleh Siska, saya merasakan ada semacam keanehan pada diri sampean. Saya ingat betul ketika itu sampean hanya tersenyum dan tidak mau bersalaman dengan saya. Sekalipun saat itu saya agak ngeri melihat tampang sampean yang sudrun dan sedikit beringas, tapi saya merasa bahwa sampean adalah orang baik, terutama setelah saya melihat sinar kesenduan memancar dari mata sampean."
"Terkaan saya ternyata benar, karena sampean ternyata orang baik yang suka mentraktir saya tanpa sampean meminta imbalan. Sampean tidak pernah meminta saya mentraktir sampean dengan tubuh saya. Beberapa kali sampean memberi saya uang tanpa saya mengerti apa maksud sampean. Saya hanya merasa bahwa sampean adalah orang yang baik. Bahkan berbagai nasehat yang sampean berikan kepada saya, benar-benar merasuk ke dalam jaringan tulang sumsum saya meski saya tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaan saya saat itu."
"Ketahuilah, Sudrun, betapa diam-diam saya sering membayangkan bagaimana nikmatnya bila sampean menggarap saya. Bahkan kalau saya sedang digarap orang, sering saya bayangkan bahwa yang menggarap saya adalah sampean. Sungguh sering saya mendambakan sampean sebagai suami saya yang bisa membuat perut saya melembung besar berisi bayi dari benih sampean. Oh, betapa bahagia ketika saya bayangkan bagaimana saya akan memiliki anak-anak yang nakal dan lucu dari sampean."
"O Sudrun…Sudrun, betapa saya sering berdiri tanpa busana di depan cermin. Saya bayangkan sampean sebagai seekor kucing ganas dan saya sebagai sepotong ikan asin. Dengan menggeram-geram penuh selera, saya bayangkan sampean menyergap tubuh saya. Lalu saya bayangkan sebagai kucing yang nakal sampean menggigiti tubuh saya yang melebihi lezatnya ikan asin. O Sudrun, betapa saya bayangkan gigi dan taring sampean mencabik-cabik tubuh saya; sampean mengunyah dan memamah tubuh saya yang luluh tanpa bentuk. Lalu tanpa saya sadari, khayalan saya berangsur menjelma menjadi kucing; dan saya pun tanpa sadar mencabik-cabik diri saya sendiri sampai tubuh saya melumer seperti gelali."
"Tetapi, Sudrun, betapa kecewanya saya ketika satu saat sampean mengajak saya pergi ke luar kota. Saya masih ingat ketika sampean membawa mobil Taft-GT dan menyuruh saya duduk di samping sampean yang mengemudi. Saya menduga, sampean akan mengajak saya pergi ke hotel short time di Tretes di mana sampean akan menggarap saya habis-habisan."
"Terus terang, Sudrun, saat itu saya merasa serba salah. Tubuh saya terasa panas-dingin, karena saya tidak pernah membayangkan akan sampean ajak pergi ke luar kota. Sebab dari kawan-kawan saya, saya dengar sampean adalah orang yang baik dan tidak suka main perempuan. Karena itulah, Sudrun, selama perjalanan itu saya membayangkan berbagai kejadian indah tentang sampean. Saya bayangkan sampean akan mengajak saya di sebuah villa di Tretes atau paling sedikit di sebuah hotel short time. Saya bayangkan, sampean menjadi makhluk ganas yang menggempur tubuh saya semalam suntuk sampai tubuh saya terasa lemah, lunglai kehabisan daya. Saya bayangkan, betapa saya megap-megap sampean tekuk-tekuk dan sampean lipat-lipat dalam dekapan sampean. Ya, saya bayangkan tubuh saya seperti bongkahan salju dan sampean saya bayangkan sebagai matahari; o saya bayangkan tubuh saya akan luluh dan meleleh sepeti es krim oleh kehangatan sinar sampean yang memancarkan kehidupan."
"Tapi, Sudrun, betapa saya tiba-tiba harus ter-heran-heran ketika sampean secara mendadak menghentikan mobil di tengah gelap gulitanya malam di jalan tol antara Sidoarjo-Gempol. Saya semula mengira bahwa sampean akan menghentikan mobil dan memasang segitiga pengaman. Kemudian saya bayangkan sampean akan menggarap saya habis-habisan di jok mobil. Ya, saya selalu berpikir ke arah garap-menggarap jika membayangkan sampean."
"O Sudrun... Sudrun! Betapa saya harus mengutuk sampean ketika saya sadar bahwa tujuan sampean mengajak saya keluar kota tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk menyakiti saya. Aduh mak, betapa sakitnya hati saya sampean perlakukan seperti itu. Sungguh tega sampean menerlantarkan saya di tengah gelap malam di tengah jalan tol yang lengang. Dan saya masih ingat, betapa saya harus terlunta-lunta berjalan berkilo-kilo meter dalam gelap untuk sampai ke Sidoarjo sebab tidak satu pun kendaraan lewat yang saya hentikan mau berhenti. Bahkan sopir-sopir truk yang melihat saya mengacungkan tangan di pinggir jalan tol, buru-buru melesatkan mobilnya secepat angin karena mereka mengira saya kuntilanak. O betapa bedebahnya sampean!"
"Ketahuilah, Sudrun, saya memang pereks yang telah bejat dan murahan. Tapi sampean mesti ingat bahwa saya bukan seekor kucing yang bisa sampean buang di jalanan begitu saja, karena saya masih punya perasaan dan harga diri. Dan ketahuilah pula, Sudrun, sakit hati saya semakin membara ketika saya mendengar dari kawan-kawan saya bahwa sampean diam-diam memang punya kegemaran melempar pereks di jalan tol."
"Saya akhirnya menyadari bahwa pereks-pereks yang sampean buang di jalan tol dan sengsara semalaman tentulah banyak jumlahnya. Dan karena kesadaran itulah, saya akhirnya menyimpulkan bahwa sampean adalah setan terkutuk yang mengerikan. Sampean tengik! Sampean busuk! Sampean jahanam! Sungguh, saya telah keliru membayangkan sampean orang baik-baik."
"Ketahuilah, Sudrun, bahwa saya telah menggalang kekuatan para pereks untuk bersama-sama mendoakan laki-laki tengik seperti sampean supaya mampus digilas truk. Saya mengajak semua pereks yang pernah sampean lempar di jalan tol untuk mengutuk sampean agar sampean dilemparkan Tuhan ke tempat yang sunyi di neraka sebagaimana kesukaan sampean melempar pereks ke jalan tol di malam hari yang gelap dan sepi. Tetapi ketahuilah, o Sudrun, bahwa saya pribadi tidak menyimpan dendam kepada sampean karena saya sadar bahwa sampean memang orang tidak waras, sampean orang sudrun."

Saya mengeleng-gelengkan kepala sambil men-decak-decakan mulut. Dalam hati saya mengakui bahwa secara langsung atau tidak langsung Saya telah menyakiti orang-orang seperti Wiwik Sedanwati dengan cara tidak lazim, yaitu cara saya yang sudrun dan urakan. Saya sadar bahwa selama ini tanpa saya sadari, saya telah melakukan kejahatan di mana jiwa saya merasa terpuaskan apabila telah menghukum setimpal gadis-gadis nakal yang menjadi pereks, yaitu dengan meninggalkan mereka di tengah kegelapan jalan tol antara Sidoarjo-Gempol. Saya sadar bahwa saya benar-benar makhluk jahannam, karena Saya telah menciptakan neraka buatan di dunia untuk latihan gadis-gadis nakal tersebut sebelum mereka dicincang dan direbus di neraka.
Kepala saya terasa berdenyut-denyut ketika meresapi dan menghayati rangkaian kejadian terkutuk yang pernah saya lakukan dalam ke-sudrun-an saya. Bayangan Isti Widyawati gadis kecil yang selalu memburu-buru Saya, tanpa meminta izin tiba-tiba sudah berkelebat memasuki rentang ingatan di benak saya. Setiap saat mengingatnya, Saya selalu merasa bersalah karena dengan sepenuh sadar telah menolak kehadirannya di dalam hati saya meski menurut orang-orang sekitar, saya telah melakukan kegoblokan karena menolak Isti Widyawati, gadis lugu yang ayu dan kalem.
Isti Widyawati memang sering datang ke rumah saya untuk sekadar meminta saya ajari melukis atau memahami karya sastra. Saya tidak tahu apakah dia benar-benar ingin belajar melukis dan mendalami sastra dari saya atau ada maksud lainnya, entahlah. Yang jelas, karena dia sering ke rumah saya dan saya sering ke rumahnya dalam rangka belajar melukis dan membincang sastra, maka orang-orang menggunjing bahwa kami berpacaran. Padahal saya waktu itu hanya sering mengajaknya membeli cat warna, pastel, kertas gambar, kanvas, dan novel-novel karya Pram, Budi Darma, Danarto, N.H.Dini, atau mengajaknya sekadar makan ringan di Bakery. Saya benar-benar kaget setelah mengetahui bahwa sebenarnya sumber isu yang menggunjing bahwa saya berpacaran dengan Isti Widyawati, tidak lain dan tidak bukan adalah ibunya sendiri.
Bahkan dengan tanpa malu-malu ibunya ngomong kalau dia kepingin sekali punya mantu yang baik, yaitu saya. Dan celakanya, ke mana pun saya pergi, Isti Widyawati selalu membuntuti saya.
Saya menjadi gelisah ketika ternyata Isti Widyawati terus-terusan membuntuti dan menguber saya. Bukan karena apa saya gelisah, tetapi saya sudah terlanjur menganggapnya sebagai anak kecil yang berperilaku tidak wajar. Sebab dalam pemikiran saya, seorang perempuan yang menguber-nguber laki-laki adalah perempuan yang kurang waras jiwanya. Saya menganggap tindakan Isti Widyawati menguber-uber dan membuntuti saya itu sebagai sesuatu yang tidak alamiah alias tidak manusiawi; sebab, menurut hemat saya, seekor ayam betina belum pernah kedengaran mengejar ayam jantan dengan maksud ingin dikawini. Dan soal uber-menguber berdasar naluri alamiah manusia sebagai spesies yang memiliki kesamaan dengan ayam, kucing, anjing, sapi, kuda selaku makhluk ciptaan Tuhan, bagi saya adalah prinsip; sehingga saya menganggap bahwa betina yang meng- uber-nguber jantan adalah mahkluk yang lebih tidak waras dibanding ayam betina.
Akhirnya saya putuskan, bahwa bagaimana pun saya tidak akan mau mengawini gadis yang lebih tidak waras dari ayam betina. Celakanya ibu si Isti Widyawati menebar lagi isu bahwa dia telah menolak mentah-mentah lamaran saya karena tidak sudi memiliki menantu sudrun. Walhasil kabar terakhir tentang Isti Widyawati, saya dengar dia berpacaran dengan Margono, anak penjual nasi pecel yang pengangguran. Dan saya hanya bisa menggelengkan kepala ketika saya dapati kabar bahwa perut Isti Widyawati melembung sebelum nikah karena sudah digarap berkali-kali oleh Margono.
Sosok demi sosok perempuan yang pernah singgah dalam rentang hidup saya dan terekam dalam relung-relung ingatan saya, saya dapati berulang-ulang memasuki rentetan koleksi kenangan saya. Setelah wajah Isti, kini wajah Dyah Prawitasari mengambang di pelupuk mata saya. Kalau saya mengingat Dyah, saya selalu mengingat sosok puteri bangsawan yang ayu dan berkulit kuning langsat. Dyah sebenarnya menaruh hati kepada saya sejak awal sekali dia mengenal saya. Bahkan tanpa malu, dia mengakui terus terang ketulusan cintanya kepada saya.
Saya tidak tahu, kenapa Dyah Prawitasari yang begitu anggun dan agung seperti ratu itu bisa jatuh cinta kepada laki-laki sudrun yang hidup tidak karuan jluntrungnya seperti saya. Saya hanya tahu, betapa Dyah telah mengatakan dengan sejujur-jujurnya, bahwa dia sangat tertarik dengan kecerdasan otak saya yang menurutnya sangat brilian. Dia dengan terus terang mengatakan bahwa dia sangat menginginkan menjadi istri saya dan melahirkan anak-anak brilian seperti saya. "Sungguh, saya akan merasa sangat berbahagia jika sampean berkenan mempersunting saya sebagai permaisuri," ujar Dyah satu siang dengan pandangan penuh harap.
"Kalau saya jadi suami sampean," kata saya waktu itu, "Keadaannya tentu tidak berimbang. Sebab saya jelek mirip kera, sedang sampean sangat ayu, anggun, dan mempesona. Saya hidup semrawut, sampean hidup tertata rapi. Jika dibandingkan, seperti bumi dengan langit yang sangat jauh jaraknya."
"Tidak ada sesuatu yang tidak bisa diserasikan, o Sudrun," kata Dyah Prawitasari manja, "Saya justru melihat ke depan, ketidakserasian kita akan menjadi sesuatu yang sangat serasi, terutama jika kita sudah dikaruniai anak-anak yang lucu."
"Bagaimana sampean bisa punya pendapat seperti itu?" tanya saya heran.
"Ketahuilah, o Sudrun, bahwa saya adalah seorang gadis keturunan ningrat. Nama saya Raden Roro Dyah Prawitasari puteri Raden Mas Pranowo Prawitonagoro. Sekalipun demikian, tidak semua trah yang mempunyai embel-embel raden itu otaknya brilian. Contohnya, tidak jauh-jauh, yaitu saya sendiri. Kepada sampean, saya mengaku terus terang bahwa saya tergolong orang yang kurang cerdas. Saya tidak tahu, kenapa di antara keluarga saya, sayalah anak yang paling bodoh. Telmi–telat mikir. Tapi itu saya anggap sudah takdir dari Yang Mahakuasa."
"Perlu sampean ketahui, bahwa kebodohan saya tidak ada keterkaitan dengan genetika saya. Mungkin, kebodohan saya berawal dari kelahiran saya yang tidak genap sembilan bulan. Saya lahir tepatnya dalam usia kandungan tujuh bulan, sehingga saya harus dioven di ruang incubator. Bapak saya selalu membesarkan hati saya, bahwa kelemahan saya dalam pikir-memikir adalah karena faktor yang terkait dengan proses kelahiran. Sekali-kali bukan karena faktor genetik, di mana anak keturunan saya pun pada gilirannya akan cerdas seperti saudara-saudara saya."
"Sudah saya katakan berulang-ulang, o Sudrun, bahwa saya bukanlah dungu, pandir, bodoh, goblok apalagi idiot. Saya masih bisa berpikir meski pikiran saya tergolong lambat. Oleh sebab itu, wahai Sudrun, saya menghendaki seorang suami yang memiliki otak cemerlang lebih dari laki-laki seumumnya. Karena menurut hemat saya dan itu dibenarkan oleh bapak saya, dengan memiliki seorang suami yang berotak brilian, maka saya akan mempunyai anak-anak yang otaknya brilian juga."
"Tapi Dyah, sampean mesti memperhitungkan bahwa saya hidup semrawut tidak beraturan, dan tampang saya pun lebih mirip bajingan daripada bangsawan, belum lagi mereka yang membayangkan saya seperti kera," kata saya apa adanya.
"Ah sampean jangan begitu!" kata Dyah Prawitasari mulai merajuk, "Sampean mesti ingat pada kisah para pandawa dan kurawa. Mereka yang bertubuh perkasa seperti Bima, berwajah tampan seperti Arjuna, dan bijak seperti Yudhistira; adalah keturunan Bhagawan Abiyasa, yang tampangnya jelek dan semrawut hidupnya. Tetapi karena Bhagawan Abiyasa otaknya cemerlang dan istri-istrinya berwajah ayu, maka anak keturunannya memiliki otak cemerlang dengan wajah tampan dan ayu. Sungguh, itu perpaduan harmonis yang akan terulang jika sampean berkenan menjadi suami saya."
"Apakah sampean berpikir, bahwa kalau kita kawin maka anak-anak kita akan memiliki otak cemerlang karena warisan dari saya, sekaligus anak-anak kita memiliki wajah tampan dan ayu karena warisan dari sampean?" tanya saya ingin penjelasan pasti dari Dyah Prawitasari, yang menurut saya berpikir sangat dangkal dengan menyederhanakan suatu masalah serius.
"Begitulah menurut pemikiran saya, o Sudrun," sahut Dyah Prawitasari kalem, "Saya berharap, sampean berkenan menyetujui pemikiran saya ini."
Saya tidak menjawab perkataan Dyah Prawitasari. Sebab Saya tidak ingin menyakiti hatinya kalau saya harus berterus terang tentang gagasan saya yang jauh berbeda dengan jalan pikirannya. Saya sadar bahwa saya masih punya rasa tepa salira, empati, tenggang rasa untuk tidak mengganyang kebodohannya dalam berpikir secara habis-habisan, sehingga dia menjadi terpojok sebagai makhluk super dungu.
Saya memahami, bahwa orang-orang dengan kecerdasan setingkat Dyah Prawitasari pemikirannya cenderung menggunakan logika otak-atik mathuk, yaitu mempersamakan secara identik kemiripan- kemiripan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Karena itu, dengan membayangkan cerita wayang Bhagawan Abiyasa yang menurunkan Pandawa dan Kurawa, dia membayangkan bahwa dengan mengawini saya maka dia akan memiliki anak-anak yang tampan dan ayu seperti dia sekaligus berotak brilian seperti saya. Ya, anak-anak yang tampan dan ayu merupakan warisan dari dia, dan kebrilianan otaknya warisan dari saya. Padahal, yang justru saya khawatirkan adalah terjadinya kebalikan dari teori otak-atik mathuk yang digunakan oleh Dyah Prawitasari itu.
Sungguh saya tidak bisa membayangkan, apabila dari perkawinan saya dengan Dyah Prawitasari itu itu lahir anak-anak yang buruk rupa yang cara hidupnya semrawut dengan otak jongkok. Naudzubillah. Sungguh, saya tidak bisa membayangkan apabila anak-anak kami berwajah buruk, hidup seenaknya seperti orang sudrun seperti saya, tetapi bodohnya seperti ibunya. Alamak, ini akan menjadi neraka dunia bagi saya, karena harus memiliki anak-anak buruk rupa dan goblok.
Akhirnya, saya memutuskan untuk menghindar saja dari Dyah Prawitasari. Saya merasa lebih baik tidak perlu kawin dengan dia daripada saya punya anak yang jelek dan dungu. Dan saya benar-benar tertawa terpingkal-pingkal setelah mendengar kabar bahwa Dyah Perwitsari akhirnya kawin dengan seorang dokter hewan. Dan saya makin tertawa terpingkal-pingkal ketika suatu hari saya iseng-iseng menyuntikkan ayam babon saya ke tempat praktik suami Dyah. Kenapa saya tertawa terpingkal-pingkal, karena untuk menyuntik ayam saja, saya dipungut biaya Rp5000, sementara saya membeli ayam itu di pasar hanya seharga Rp3000.

Nasib manusia memang sudah diprogram sempurna dalam satu kemasan disket misterius. Karena kemisteriusan nasib itulah, maka sering orang berbeda pendapat sekitar otoritas nasib terhadap perjalanan hidup manusia. Saya sendiri secara pribadi menyakini bahwa nasib segala sesuatu sebenarnya sudah digubah dan diprogram secara rinci. Hanya ketidaktahuan manusialah yang menimbulkan berbagai selisih pendapat. Oleh karena itu, saya sering merasa takjub dengan berbagai pengalaman yang saya alami yang benar-benar di luar program yang saya kehendaki.
Saya sering merenung-renung akan semua perjalanan hidup yang pernah saya lewati. Pertalian demi pertalian saya dengan para perempuan yang dalam rentangan kenangan saya, rasanya terjadi begitu mendadak dan tidak bisa saya elakkan kejadiannya. Saya merasa seperti diseret oleh suatu arus misterius yang memaksa saya untuk menghanyutkan diri di sungai nasib, meski saya sering sadar dan berusaha mengapai-gapai mencari pegangan agar tidak hanyut lebih jauh.
Yang cukup membuat saya bersyukur sekarang ini, bahwa saya sepertinya memilki kewaspadaan tertentu untuk dapat melihat dorongan-dorongan misterius yang menyeret nasib saya. Saya merasakan bahwa dalam segala gerak-gerik saya, seolah-olah ada sesuatu yang misterius yang ikut campur menentukan alur dan arah hidup saya, meski Saya tidak pernah tahu tentang apa dan siapa sesuatu yang misterius itu. Karena menyadari adanya sesuatu yang misterius itulah, saya merasa harus berhati-hati dan selalu meneliti segala gerak dan langkah saya. Kalaupun sesuatu yang misterius itu tidak dapat saya hindari, maka setidaknya ketika saya sedang diseret oleh kekuatannya, saya selalu bisa memohon pertolongan Ilahi agar saya tidak terlalu hancur dihantamkan ke karang kehidupan olehnya. Dan apa yang saya alami dengan kemampuan saya dalam memantau sesuatu yang misterius yang merupakan bagian dari kumparan nasib orang seorang itu, baru saya rasakan setelah saya mempelajari tentang dzat dan sifat iblis.
Dalam waktu yang cukup lama, saya diam-diam sering bertanya kepada orang-orang yang melakukan pembunuhan, perkosaan, penganiayaan, perampokan, dan tindak kejahatan yang lain. Saya selalu memperoleh jawaban, bahwa mereka sebenarnya mengetahui akan perbuatannya yang tidak baik dengan segala risikonya itu. Tapi, begitu mereka mengaku, mereka merasakan seperti terperangkap oeh suatu kekuatan misterius yang maha dahsyat yang tidak mampu mereka elakkan sehingga mereka melakukannya dalam keadaan "khilaf ". Ya, setiap tindakan yang dilakukan manusia, sepertinya didahului dengan peristiwa "khilaf ".
Soal "khilaf " yang misterius itu, diam-diam telah menimbulkan obsesi bagi saya dalam kurun bertahun-tahun, sampai saya menjumpai Kiai Said Bhagawan yang tinggal di sebuah pesantren di kaki Gunung Semeru, yang dengan gamblang menjelaskan kepada saya perihal "khilaf " itu. Dengan gaya yang aneh dan agak sudrun, Kiai Said Bhagawan menjelaskan kegiatannya dalam bercanda dengan Tuhan, di mana beliau yang memiliki ketajaman pandangan batin itu, seperti mampu melihat getaran daya gaib yang hendak membuat khilaf dirinya. Kemudian dengan memohon rahmat dan hidayah dari Allah, beliau berusaha menyingkir dari "kekhilafan" yang hendak diperbuat-Nya. Sejauh ini, ungkap Kiai Said, ia selalu berhasil menghindar dari "kekhilafan" yang dibuat-Nya. Tetapi, ia tidak yakin bahwa selamanya akan begitu, karena Dia pastinya tidak akan membiarkan ada makhluk ciptaan-Nya bisa lepas bebas dari kehendak-Nya sehingga makhluk-Nya itu menjadi lebih hebat dari penciptanya.
Satu pengalaman menegangkan sekitar sesuatu yang misterius yang bisa membuat orang "khilaf " itu, setidaknya pernah saya alami ketika saya menjalin hubungan dengan Sayempraba Sulistyowati, yang tidak lain dan tidak bukan adalah kawan saya. Jujur Saya akui bahwa Sayempraba kawan saya ini, sangat lain dan sangat berbeda dengan siluman Sayempraba yang penggoda Hanoman, meski keduanya memiliki watak yang hampir sama. Sayempraba kawan saya itu adalah istri Kala Marica dan sudah memiliki dua orang anak.
Sejauh pengetahuan saya, Sayempraba memiliki watak dan sifat yang buruk menurut katuranggan Jawa.
Dia suka mengobral kebusukan mertua maupun suaminya kepada siapa saja di antara orang-orang yang dijumpainya. Dia juga sering mengobral kebusukan kawan-kawan dekatnya kepada siapa pun orang yang diajaknya bicara. Ia tipe perempuan yang menjengkelkan, terutama dengan pengakuan-pengakuannya yang sering menceritakan jika dirinya selalu diuber-uber oleh banyak lelaki.
Bagi saya, segala apa yang dilakukan oleh Sayempraba pada dasarnya hanya merupakan rangkaian upayanya saja agar ia bisa menuai simpati dan pujian dari orang lain. Sayempraba memang tergolong orang yang gila hormat dan gila pujian. Anehnya, suaminya yang agak senewen tidak pernah memujinya, malah sering memukul-menendang-mendupak-mencacinya. Segala perbuatan Kala Marica yang brengsek dan kampungan itu, tentu saja menjadi pengetahuan umum karena Sayempraba selalu menceritakan segala ikhwal penderitaannya kepada siapa pun di antara makhluk yang dijumpainya.
Sebagai kawan, saya sering dimintai pendapat oleh Sayempraba sekitar nasibnya yang kurang beruntung. Saya pun ketika itu dengan penuh kecongkakan memberikan pengetahuan agama yang cukup mendalam terhadapnya seolah-olah saya adalah seorang syaikh, pewaris Nabi. Tapi nasib yang dialami oleh Begawan Wisrawa yang memberi wejangan Sastra Hajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu kepada Dewi Sukesih, justru terjadi atas saya. Tanpa sadar, pertemuan saya dengan dia, telah menimbulkan magnet kuat dalam diri saya dan Sayempraba, terutama saat badai prahara dengan mendadak begitu dahsyat menggoncang kehidupan Sayempraba, dengan akibat rumah tangganya berantakan. Sayempraba mengajukan gugatan cerai kepada suaminya, yang ditudingnya telah melakukan tindak kekerasan terhadapnya, baik kekerasan fisik maupun kekerasan psikologis.
Saya ketika itu tidak menyadari bahwa sesuatu yang misterius sedang terjadi atas diri saya. Selama beberapa waktu, saya mengalami "khilaf ". Dalam keadaan yang kacau balau di tengah prahara itu, saya dan Sayempraba sepakat untuk menikah saja di depan modin. Waktu itu, saya hanya merasa iba dan berusaha melindungi Sayempraba beserta anak-anaknya. Tetapi seperti Hanoman tergiur oleh pesona birahi yang ditebar Sayempraba, saya pun selama beberapa waktu menjadi buta dan tuli. Batin saya seperti terselubungi oleh tirai tebal tak tembus cahaya. Saya sehari-hari sibuk dengan hal-hal yang menyangkut Sayempraba. Jagad raya semesta ini seolah-olah berubah menjadi serba Sayempraba, sehingga di mana pun saya berada senantiasa saya teringat pada Sayempraba; ke mana pun saya berpaling seolah-olah menyaksikan wajah Sayempraba.
Keterperangkapan jiwa saya oleh pesona Sayempraba Sulistyowati benar-benar telah membuat saya buta jiwa dan tuli hati. Saya benar-benar terbius oleh pesona jiwa yang "meng-khilaf-kan" kesadaran saya. Sehingga tanpa sadar saya mengalami ketergantungan kepada Sayempraba, ibarat saya seorang musyrik yang tergantung kepada berhala sesembahannya. Saya merasa benar-benar menjadi manusia paling bodoh sejagad raya.
Badai dahsyat yang tak terduga-duga, mendadak datang memporak-porandakan rencana kehidupan indah yang ingin saya bangun bersama Sayempraba. Entah bagaimana awalnya, tanpa hujan tanpa angin Sayempraba mendadak minggat, menjauh dari saya. Dengan umpatan-umpatan kotor dan caci-maki kasar, dia membusuk-busukkan saya seolah-olah saya adalah bajingan super tengik yang telah membuat hidupnya berantakan. Saya yang sudrun, tentu saja tidak bisa berbuat banyak untuk melakukan pembelaan diri; tetapi saya diam-diam mendoa agar Tuhan memberi petunjuk kepada Sayempraba, meski Sayempraba sendiri selalu merendahkan saya sebagai manusia sudrun yang celaka.
Saya yang menyadari bahwa ke-khilaf-an besar telah saya lakukan, yaitu mengajarkan sesuatu yang bersifat ruhaniyyah yang tidak selayaknya diketahui oleh orang seperti Sayempraba, yang hidupnya masih diliputi hasrat nafsu duniawi yang penuh sanjungan dan pujian dengan bayangan-bayangan kemewahan. Kesadaran akan kekhilafan diri itu yang akhirnya membuat saya pasrah dan hanya menyesali diri sambil memohon ampun kepada Yang Ilahi. Saya sadari benar bahwa saya telah melakukan perbuatan musyrik yang sangat besar.

Saya tidak tahu lagi nasib Sayempraba yang minggat meninggalkan saya. Saya hanya mendengar dari beberapa orang yang kebetulan menjumpainya, bahwa kehidupan Sayempraba tampaknya dihajar oleh nasib buruk. Watak dan sifatnya yang buruk itu ternyata telah memerangkapnya dalam perputaran roda nasib, sehingga ia mirip seekor tupai yang berlari di kerangkengnya. Celakanya, kepada orang-orang yang mengenal saya, dia selalu bicara kalau saya telah menelantarkannya. Padahal dia dengan sengaja minggat sambil membusuk-busukkan saya, dengan masih meninggalkan warisan berupa segunung hutang yang belum terbayar. Alamak!
Segala apa yang pernah saya alami bersama Sayempraba Sulistyowati dan perempuan yang lain akhirnya menyadarkan saya, bahwa tanpa sadar saya telah terperangkap dalam pepujian dan penghormatan berlebihan terhadap nafs saya. Padahal saya sadar bahwa nafs adalah berhala yang paling besar dalam diri manusia. Dan akibat dari kesalahan tersebut, saya menjadi buta dan tuli sehingga tidak mengetahui bagaimana sesuatu yang misterius itu telah membuat saya khilaf dan saya tidak sadar jika telah khilaf.
Sekarang ini, setelah saya diberi karunia Allah untuk bisa memantau sesuatu yang gaib dan misterius itu, saya mendadak menyadari bahwa Saya telah cukup lama terperangkap dari perbuatan syirik satu ke perbuatan syirik yang lain. Saya sadar bahwa pandangan batin Saya sudah sering terpesona oleh yang "gair" dari Allah. Saya sadar bahwa saya masih sering merindukan bayangan perempuan-perempuan yang tidak lain adalah "gair" daripada Allah; semua tindakan saya itu tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah tindakan syirk-i-khaafi.
Sekalipun saya sudah merasa memperoleh anugerah dengan kemampuan yang diberikan kepada saya dalam bentuk kemampuan merasakan dan menangkap sentuhan daya-daya misterius yang "meng-khilaf-an" saya, toh Saya tidak bisa memastikan bahwa saya adalah orang yang telah memperoleh petunjuk dari-Nya. Sebab pengetahuan akhir tentang garis-keputusan nasib saya, belumlah saya ketahui sama sekali karena dalam fakta saya belum membaca Lauh-i-Mahfudz. Tetapi, saya juga tidak boleh berprasangka buruk bahwa saya akan disesatkan Allah. Yang pasti, sekarang ini, bagaimanapun saya harus selalu sadar untuk senantiasa berjuang sekuat tenaga menghindari sifat-sifat iblis yang mengejawantah dalam nafs saya sambil terus saya bermohon agar terus-menerus beroleh rahmat dan hidayah-Nya.
Ketakjuban saya atas kumparan nasib saya yang belum saya ketahui secara pasti ujung dan pangkalnya, tampaknya telah memukau saya untuk yang kesekian kalinya, terutama ketika saya tiba-tiba mendapati diri saya terlontar di Bombay, sebuah kota di negeri yang jauh: India. Keterlontaran saya ke negeri yang di masa lalu disebut Bharatnagari ini, sebenarnya lebih merupakan kebetulan saja, yaitu ketika tanpa saya sengaja saya telah berhasil menyembuhkan Debendra, seorang warga India, pengusaha kain wool, dari sakitnya yang menahun.
Saya sendiri tidak pernah merasa telah menyembuhkan Debendra. Sebab Debendra sendiri tidak pernah datang berobat kepada saya sebagaimana layaknya orang sakit meminta obat kepada tabib atau dukun atau dokter, apalagi saya hanyalah sudrun yang hidup kabur kanginan alias tak tentu tempat tinggalnya, di mana Saya lebih sering tidur di masjid-masjid dan musholla-musholla daripada di rumah.
Perkenalan saya dengan Debendra sendiri bermula ketika saya membeli kain wool untuk bahan celana. Entah bagaimana awalnya, saya secara tidak sengaja melihat seorang lelaki setengah umur, yang belakangan saya ketahui bernama Debendra, sedang duduk di sudut toko dengan bersandar pada sebuah kursi goyang. Saya melihat bahwa lelaki itu sedang mengidap sakit yang cukup parah meski fisiknya kelihatan masih kukuh. Matanya yang kuyu. Kulit di bawah kelopak matanya yang kendor dan berwarna gelap. Tulang Zyghomathicusnya yang menonjol. Dan rambutnya yang kelihatan banyak rontok, di mana semuanya itu menunjukkan bahwa laki-laki setengah umur itu sedang menderita sakit serius.
Saya sendiri tidak tahu, mengapa hati saya mendadak merasa iba. Kemudian bagaikan tanpa kendali, mulut saya tiba-tiba menyalak dengan mengatakan secara terus terang bahwa lelaki setengah umur itu mengidap penyakit yang serius. Anehnya, begitu Debendra melihat saya, ia langsung berdiri dan memperkenalkan diri.
"Saya menduga sampean punya penyakit gula yang mengalami komplikasi dengan liver," kata saya seperti tanpa kendali, "Saya juga mengira sampean punya jalur genetika yang cenderung terkena tekanan darah tinggi."
Saya melihat bibir Debendra bergetar keras. Kemudian dengan penuh nafsu dia mengakui kebenaran dugaan saya atas penyakitnya. Dia kemudian menceritakan bahwa dia telah berobat ke berbagai tempat dan ternyata penyakitnya tidak berhasil disembuhkan oleh macam-macam terapi. Bahkan dia mengatakan kalau sekarang ini, dia sedang berada di rentangan jalan yang penuh keputusasaan.
Dalam keputusasaan, begitu Debendra memulai cerita, suatu malam dia bermimpi didatangi seekor kera berbulu putih seperti kapas. Kera putih itu kemudian memberinya makan belalang dan madu hitam serta sejenis akar tertentu. Ajaib, begitu memakan makanan dari kera itu, Debendra merasakan tubuhnya memiliki kekuatan yang luar biasa. Dalam mimpi itu dia tidak merasa sakit apapun. Dia merasa sudah benar-benar sembuh.
"Saya berpikir bahwa kera putih yang hadir dalam mimpi saya itu pastilah dewa Hanoman," kata Debendra sambil mengejap-ngejapkan mata meneliti saya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dipandang dengan tatapan menyelidik seperti itu, tentu saja saya menjadi tidak enak dan serba salah. Saya bahkan merasa bahwa sorot Debendra tampak sekali bernada sangat menyelidik seperti polisi mencermati tersangka maling. Tetapi untuk tidak menyinggung orang yang sedang sakit, saya diam saja sambil mengetuk-ngetukkan tangan ke meja.
"Maaf, kalau boleh saya tahu siapa nama sampean?" tanya Debendra ingin tahu sambil mengenalkan diri, "O ya, nama saya Debendra."
Dengan agak blingsatan saya menjawab, "Nama saya Sudrun."
"Astaga!" seru Debendra kaget dan serentak berseru, "Kera putih yang datang kepada saya dalam mimpi itu, menyebut-nyebut kata "sudrun" berulang- ulang. Ini ajaib. Ini bukan kebetulan."
"Apakah sampean menyangka saya penjelmaan kera putih dalam mimpi sampean itu?" tanya saya tersinggung.
Debendra tidak menjawab. Sebaliknya, dengan terbata-bata ia menyuruh saya masuk ke ruang dalam tokonya. Saya lihat peluhnya mengucur deras dari kening, wajah, leher, dada yang membasahi bajunya. Anehnya, saya seperti kerbau tolol dicocok hidungnya, justru menurut saja ke mana saya diajaknya. Dan saya menjadi kaget luar biasa ketika Debendra dengan tiba-tiba berlutut dan merangkul kaki saya sambil menangis tersedu-sedu, meminta agar saya bersedia menolongnya. Dia merasa yakin bahwa saya adalah penjelmaan dewa Hanoman, sebab dia juga melihat tampang saya agak mirip Pithecanthropus Erectus.
"Diamput!" Saya misuh-misuh dalam hati karena disamakan oleh Debendra dengan Hanoman dan Phitecanthopus Erectus. Hampir saja darah di otak saya menyembur dan menggelapkan mata saya. Sungguh, saya hampir saja meninju muka Debendra karena secara langsung dan terang-terangan dia telah menuduh saya sebagai Hanoman dan bahkan Phitecantrophus Erectus alias 'kera yang berjalan tegak' mirip manusia. Tapi saya segera menahan diri setelah melihat kepolosan Debendra yang terisak-isak merangkul lutut saya.
Beberapa saat saya merasakan tubuh saya kaku dengan darah mengalir deras di jaringan tubuh saya. Jantung saya, saya rasakan seperti tersentak ketika tanpa sengaja saya melihat bayangan saya di dalam cermin yang dipasang di sudut ruangan. Sekilas saya mendapati kenyataan bahwa tampang saya memang mirip dengan Pithecanthropus Erectus; rambut saya yang menjuntai sebahu awut-awutan; kumis dan janggut saya yang juga awut-awutan; sorot mata saya yang tersembunyi di balik kelopak yang cekung. Sekilas, ya, sekilas; saya memang mirip Pithecantrophus Erectus tetapi kening Saya lebih tinggi; bentuk tengkorak kepala saya sama sekali jauh dari bentuk tengkorak Pithecanthropus Erectus. O tidak, begitu hati saya mengelak, saya tidak sama persis dengan Pithecanthropus Erectus; saya lebih mirip Homo Erectus, Meganthropus Javanicus atau bahkan manusia Cro-Magnon yang agak lumayan sedikit dibanding manusia kera dari Trinil, Kabupaten Ngawi itu.
Diam-diam saya memaklumi, kenapa Debendra menangkap kesan bahwa saya adalah penjelmaan Hanoman, tokoh mitologi India kuno yang berwujud kera berbulu putih itu. Tapi bagaimana pun saya tetap tidak rela dianggap sebagai kera bahkan sebagai manusia kera, sebab bagi saya, bagaimana pun sakti dan hebatnya Hanoman, saya lebih suka menjadi manusia meski hanya menjadi tukang becak, kernet, penyemir sepatu, atau bahkan kuli daripada harus menjadi kera yang sakti dan dipuja-puja seperti Hanoman. Oleh karena itu, saya menyanggupi saja untuk mengobati Debendra asalkan dia mau mengikuti jalan saya.
Dengan nada gembira, Debendra menyatakan setuju dengan syarat yang saya ajukan bahkan dengan tulus dia mengatakan, jangankan menjadi pengikut jalan kebenaran, bahkan andaikata dia disuruh menyembah saya pun, dia akan mematuhinya. Kesanggupan Debendra itu tentu saja menggembirakan saya, sebab selain saya bisa memberinya petunjuk yang benar sesuai keyakinan saya, dia juga tak lagi akan menganggap saya sebagai kera jelmaan Hanoman.
Seperti apa yang pernah diimpikan, saya mengobati Debendra dengan memberikannya makanan berupa belalang–jangkrik–serangga yang digoreng tanpa minyak ditambah menelan binatang undur-undur, lalu meminum madu hutan dan rebusan akar pohon pule pandak dan daun sambiroto. Selain itu, saya melatih jenis olahraga dan pernapasan tertentu yang dilakukan setiap kali usai bersembahyang. Ajaib bin aneh, dalam waktu sekitar tiga puluh enam hari gula darah dan tekanan darah Debendra dinyatakan normal oleh dokter. Jika kondisi itu bisa dipertahankan, kata dokter, peluang hidup Debendra masih 25-35 tahun lagi dan penyakitnya bisa dianggap telah sembuh.
Kegembiraan Debendra tak terbayangkan lagi dengan hasil diagnosa terakhir dokter kepercayaannya itu. Dengan mata bersinar dan napas tersengal-sengal dia mendatangi rumah saya. Dia mengatakan mau memenuhi apa saja permintaan saya. Bahkan dalam kegembiraan yang meluap-luap, ia mengajak saya ke showroom untuk membeli mobil yang akan diberikannya kepada saya. Tetapi ajakan itu tentu saja saya tolak. Rupanya Debendra tetap ingin memberikan sesuatu bagi saya, sehingga ia mengajak saya ke developer untuk membelikan rumah Saya. Dengan pandang penuh harap dia memohon agar saya tidak menolak rasa syukurnya dengan memberikan sesuatu kenangan yang berharga bagi saya.
Saya sendiri menjadi bingung dengan keinginan Debendra. Saya hanya bisa menggaruk-garuk kepala saya yang tidak gatal. Dan dari berbagai tawaran Debendra, akhirnya hanya satu yang saya terima, yaitu ajakannya untuk mengunjungi tempat kelahirannya di Bombay, di mana dalam sakitnya dia pernah bernadzar bahwa apabila sembuh dia akan pulang kampung untuk menziarahi tempat-tempat keramat di kotanya. Nah, untuk tujuannya yang terakhir itulah saya dengan tegas menyatakan tidak bisa mengikutinya. Saya dengan terus terang menyatakan hanya ingin mengetahui suasana di luar negeri, karena saya memang tidak pernah ke luar negeri. Saya tegaskan pula bahwa saya ingin menikmati suasana di India dengan sekehendak saya, di mana saya ingin benar-benar menghayati kehidupan yang indah di India sebagaimana yang pernah saya lihat di film-film India yang saya gemari; saya ingin menonton film-film Rishi Kapoor, Hema Malini, kemerduan suara khas penyanyi senior Latta Mangeshkar dengan iringan musik Ravi Shankar.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT)

"KALAU MAU MENCARI ALLAH, BELAJARLAH DARI IBLIS!"Seperti ledakan halilintar bisikan misterius itu menggedor otak dan dada saya yang membuat seluruh jaringan darah di

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Matahari bersinar bersih, cahayanya membias putih di batas cakrawala yang berpendar jernih laksana pancaran kristal. Langit biru membentang bagai kubah sebuah masjid. Angin

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA BELAS)

Malam merentang laksana kubah biru dengan bintang-gemintang berkilau-kilau seperti jutaan permata ditaburkan. Sepotong rembulan sabit melengkung bagai busur direntangkan di

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA)

"Kalau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!"Bisikan misterius itu kembali mengganas sepertimenjebol dinding-dinding otak saya. Namun karena kebetulan saya

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

Sejak melewati pengalaman menggetarkan bersama ruh mereka yang sudah berada di alam barzakh, segala sesuatu secara berangsur-angsur saya rasakan mengalami perubahan pada diri

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH)

Matahari sudah menggelinding sembilan kali di langit Bombay ketika keanehan lelaki tua yang belakangan saya ketahui bernama Chandragupta menerkam jiwa saya. Keanehannya rasanya

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Selasa sore seusai sembahyang Ashar, saya langsung melesat ke Jl. Jagannath Shankar Seth dengan mengendarai bus kota. Yang namanya bus kota di mana pun sama, kalau jam kerja

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA)

"Kalau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!"Kembali bisikan misterius itu membentur pedalaman saya bagai kilatan halilintar, yang belakangan ini justru semakin sering