Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

  • 2018-09-28 11:01:55
  • 375

Sebuah perjalanan melintasi semesta ruhani adalah sebuah rentangan pengalaman menakjubkan yang sangat fantastis jika dipikir dengan nalar. Sebab segala sesuatu yang tergelar di semesta ruhani sangat aneh dengan berbagai peristiwa yang sangat absurd, ajaib, tidak terduga-duga, dan tidak tersangka-sangka bahkan sulit dicerna dengan akal sehat. Entah apa sesungguhnya yang terjadi pada sebuah perjalanan melintasi semesta ruhani, yang pasti saya merasakan peristiwa itu sebagai sesuatu yang ab-surd yang hanya bisa digambarkan seperti mimpi karena diliputi berbagai hal yang nyaris tak ada tolak banding dengan kehidupan di dunia yang bagaimana pun anehnya. Yang lebih membingungkan, semakin pengalaman ruhani itu tak tergapai akal, saya merasa- kan semakin terbuka tirai demi tirai kesadaran saya akan Kebenaran demi Kebenaran yang selama ini tidak terungkapkan secara masuk akal.
Dengan pandangan semesta ruhani, berbagai kenyataan terkait pencapaian Kebenaran di balik sabda-sabda Tuhan di dalam al-Qur'an sebagai kitab suci, terbukti tidak sama persis dengan pembacaan dan penafsiran yang pernah saya pahami yang secara umum merupakan pembacaan dan tafsiran agamawan yang disebut ahli tafsir. Bahkan saya mendadak sadar betapa selama ini istilah-istilah yang dipakai sebagai tafsir oleh para ahli tafsir sering kali tidak sesuai dengan maksud yang dikandung al-Qur'an sebagaimana dimaksud Allah. Oleh sebab itu, saya semakin yakin bahwa semakin orang membuktikan kebenaran al-Qur'an berdasar fenomena-fenomena semesta ruhani, maka akan semakin sadar betapa bodoh dan tolol karena mendapati keterbatasan akal budi yang tidak akan pernah cukup untuk mewadahi dan menampung serta menafsirkan al-Qur'an sebagai Kalaam-i-Nafsii dari Sang Mahamutlak yang bersabda lewat Maula-Nya.
Semula, saya menduga bahwa matahari adalah pusat dari tata surya di mana planet-planet melingkari dan mengitarinya. Saya senantiasa beroleh kesan bahwa matahari adalah pusat tata surya yang berhenti diam dan dikitari planet-planet sebagaimana teori Copernicus. Tapi dengan pandangan semesta ruhani, matahari ternyata bergerak pula mengedari bintang maha besar di mana al-Qur'an memberi sebutan bagi gerakan matahari dalam melingkari bintang tersebut dengan istilah Mustaqarr (QS. Yaasiin: 38). Sementara bintang maha besar yang dikitari matahari itu pun sebenarnya mengitari bintang maha besar lain yang ukuran dimensinya lebih besar.
Samaa' yang diartikan langit pada dasarnya lebih tepat kalau disebut sebagai dimensi-kosmos, sebab pada kenyataannya setiap lapis samaa' adalah manifestasi dari besaran dimensi dari kosmos. Dan pada tiap-tiap lapisan samaa' terdapat dimensi rahasia yang disebut Hajiib-ur-Rahmaan yang saling berbeda-beda, baik dalam perwujudan maupun dimensi besarannya.
Ketika saya terserap oleh suatu medan magnit maha raksasa dan berhasil menembus hakikat Hajiib-ur-Rahmaan yang melapisi dimensi samaa'i dunya, saya mendapati diri saya terlontar ke suatu dimensi bintang gemintang yang luar biasa besarnya. Saya menduga bahwa samaa' itu adalah gugusan bintang Alpha Lyrae di mana jarak antara satu bintang dan bintang yang lain adalah sangatlah besar, sehingga dalam jarak tempuh antara satu bintang dan bintang yang lain yang terjauh kalau dihitung secara teoretik mungkin mencapai 326 tahun kecepatan cahaya, padahal cahaya sendiri kecepatannya 300.000 kilometer per detik.
Yang mendadak saya rasakan aneh, tubuh ruhani Saya pun ketika memasuki dimensi samaa' maha raksasa yang entah apa namanya, tiba-tiba membesar sesuai dengan dimensi yang mengitari kesadaran saya, sehingga bintang-bintang yang kalau dalam ukuran bumi adalah maha raksasa itu ternyata tidak lebih dari butiran jeruk dan bola tenis bahkan sebagian besar seperti butiran-butiran pasir berserakan di pantai semesta. Semakin saya bertanya-jawab tentang dimensi samaa' dengan setiap Hajiib'r-Rahmaan senantiasa suatu ketakjuban dan keheranan baru memasuki otak dan perasaan Saya. Saya bisa membayangkan andaikata saya tidak mengetahui sedikit pun tentang seluk-beluk ilmu astronomi, tentulah Saya akan menganggap semua kejadian yang tergelar di depan saya itu sebagai vision atau bahkan sihir (QS. al-Hijr: 14-15).
Setelah melewati sekitar enam samaa', tiba-tiba saya terpukau oleh suatu pemandangan yang sangat menakjubkan. Bayangkan, di hadapan Saya terbentang suatu lubang hitam yang sangat ajaib diliputi kemisteriusan, di mana lubang itu menghisap dengan sangat kuat benda-benda langit di sekitarnya, sehingga setiap detik beribu-ribu bahkan berjuta-juta benda langit dari yang disebut bintang, asteroid, planet, sampai bumi terhisap dan hilang begitu saja memasuki pusatnya yang diliputi kekelaman. Ajaibnya, pada saat yang sama dari lubang hitam itu menghamburkan materi-materi bercahaya dalam jumlah yang tak terhitung di mana materi-materi itu terlontar jauh memenuhi alam raya menjadi benda-benda langit menakjubkan. Jika diamati, semburat cahaya-cahaya yang terhisap maupun yang terhambur, membentuk semacam akar-akar dan daun-daun cahaya dengan batang lubang hitam yang ajaib itu, di mana perwujud- annya mirip pohon semesta yang sangat menakjubkan dan tidak tergambarkan keindahannya.
Yang lebih menakjubkan dari lubang hitam kelam itu, bukan hanya bentuk fisiknya yang mirip pohon semesta yang tidak tergambarkan keindahannya, melainkan yang melampaui keindahan misteriusnya adalah pancaran cahaya ruhani yang berpendar gaib tidak saja menjadi penerang bagi lubang hitam beserta cahaya-cahaya yang terhisap dan terhambur menakjubkan, tetapi cahaya ruhani gaib itu menerangi pula dimensi ruhani alam semesta dengan terang yang lembut di balik kegaiban yang diselubungi misteri. Entah benar entah tidak dugaan saya, saya menduga benderang pancaran Cahaya yang hanya bisa disaksi- kan penglihatan ruhani itu sangat mungkin adalah Sumber dari lubang hitam ajaib yang seperti pohon ajaib menakjubkan itu sehingga Cahaya itu bisa disebut ajaib di atas ajaib.
Ketika melintasi dimensi samaa' yang aneh itu, saya bertanya kepada Hajiib-ur-Rahmaan tentang lubang hitam ajaib itu, "Gerangan apakah lubang hitam yang berpendar laksana pohon ajaib itu wahai Hajiib-ur-Rahmaan?"
"Kullu yajriiyaa 'ilaa 'ajalin musamman (QS. Luqman: 29), bahwa tiap-tiap sesuatu beredar hingga di suatu batas yang ditetapkan, yaitu 'ajalin musamman."
"Lubang itukah yang disebut 'ajalin musamman dan Cahaya gaib apakah itu yang benderangnya dengan sangat lembut menerangi jagad semesta?"
"Ketahuilah, bahwa Cahaya yang engkau lihat di balik lubang hitam kelam itu adalah Cahaya yang merupakan haqiqat Nuur dari Yang Azaali. Dia adalah siraj pertama. Di dalam siraj itulah tersembunyi haqiqat-i-Muhammadi atau Nuur-i-Muhammad yang merupakan Sumber dari segala sumber Haqiqat-i- insaani. Di siraj itulah tersembunyi haqiqat: Khalaqtuka min nuuri wa khalaqtu khalqa min nuurika."
"Itulah hakikat di balik makna 'Allah adalah Cahaya samawaati dan ardl; ibaratnya cahaya-cahaya itu seperti lubang yang tak tembus yang di dalamya terdapat pelita; pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seolah-olah kaukab yang cemerlang yang dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun yang penuh barokah, yang tumbuh tidak di timur maupun di barat, yang minyaknya memberi cahaya sekalipun tanpa disentuh api' (QS. an-Nuur: 35)."
"Kalau begitu, siraj hitam itukah Tuhan?" "Nuurun alaa nuurin (QS. an-Nuur: 35), ketahuilah bahwa Allah adalah Cahaya di atas cahaya. Dia meliputi segala sesuatu. Dia yang Dzaahiir. Dia yang Bathiin. Dia tidak bisa engkau tafsir-tafsirkan dan tidak bisa pula engkau maknai sesuai prasangkamu."
"Kalau begitu, Siraj hitam itu mestilah haqiqat-i-Muhammadi yang merupakan sumber penciptaan alam semesta."
"Siraj itu adalah pancaran 'ajalin musamman secara dzaaahiir, tetapi secara bathiin Dia terangkum dalam haqiqat Nuur-i-Muhammad."
"Bagaimana mungkin siraj itu bisa begitu hitam kelam dan menelan demikian banyak benda tetapi juga menghamburkan semuanya?"
"Ketahuilah, bahwa siraj yang hitam kelam tersebut adalah siraj yang paling awal dicipta di dimensi samaa' yang paling luas dan paling suci. Tidak satu pun makhluk yang bisa masuk ke dalamnya yang tidak lebur, sebab siraj itu adalah Cahaya di atas segala cahaya yang panasnya luar biasa tak terukur akal manusia. Dan ketahuilah, karena panas dari siraj maha raksasa tersebut tak terukur dengan ukuran apapun, maka cahaya yang memancar darinya tidak bisa keluar. Karena kecepatan cahaya masih kalah kuat ditarik oleh daya panas yang memancar. Dengan demikian, cahaya yang memancar dari siraj itu akan berbalik lagi terserap oleh panasnya, sehingga dari siraj itu yang tampak hanya hitam kelam belaka."
"Ketahuilah, bahwa dari bahan siraj itulah tercipta seluruh benda langit di tujuh petala ini, tetapi Allah yang menerakan hukum-Nya menghisapkan kembali semua benda di alam semesta ini ke dalam siraj itu. Ketahui pula bahwa daya hisap siraj itu sangatlah besar, sehingga seluruh benda alam semesta akan terhisap ke dalamnya setiap saat. Dan kalau engkau mengamati benar, maka seluruh benda di alam semesta ini sedang bergerak karena terhisap siraj tersebut."
"Kalau begitu yang disebut kehancuran alam semesta pasti akan terjadi," seru saya penuh ketegangan.
"Kullu syai'in yarji'u 'alaa aslihii, tiap-tiap sesuatu pasti kembali kepada asal usulnya. Dan begitulah ketika bintang-bintang sudah pudar karena samaa' demi samaa' dikuakkan (QS. al-Mursalat: 8-9) dan seluruh benda di seluruh alam semesta dihancurkan, maka ketika itulah tiap nafs menyadari akan dirinya (QS. at- Takwir: 1-14)."
"Ketahuilah, yang terhisap oleh daya hisap siraj 'ajalin musamman tersebut adalah partikel-partikel materi dari yang paling pejal sampai ke yang paling halus. Oleh sebab itu, ketika Nabi Muhammad SAW menuju Sidrat'l Muntaha dengan melewati siraj tersebut, Jibril tetaplah tinggal menunggu di luar hijab karena apabila Jibril naik seujung rambut pun dari hijab itu, niscaya dia akan terbakar habis."
"Ketahuilah, bahwa di siraj inilah semua kebendaan diuraikan. Bagi benda-benda yang padat maka penguraiannya akan lebih menyakitkan dibanding yang tidak padat. Oleh sebab itu, nafs yang terperangkap pada kebendaan akan mengalami proses penguraian yang menyakitkan untuk memisahkan kesuciannya dari unsur kebendaan."
"Tapi proses itu saya pikir tidak akan lama, karena kilasan daya hisap siraj itu begitu dahsyat hingga sekejab saja benda-benda akan lebur di dalamnya dan terurai menjadi debu."
"Engkau menghitung waktu di dimensi semesta ini dengan waktu bumi. Itu pasti salah. Ketahuilah, bahwa satu hari waktu di sini adalah ibarat seribu tahun dari hitungan tahun-tahun bumi, sebab satu hari di sisi Tuhan adalah seperti seribu tahun waktu hitungan- mu (QS. al-Hajj: 47)."
"Di sisi Tuhan?" seru saya kaget, "Berarti saya sudah dekat sekali dengan tempat Tuhan."
Hajiibu'r-Rahmaan begitu mendengar gumam saya tiba-tiba diam dan tanpa terduga mengangakan mulutnya. Tubuh-jiwa saya terasa menggeletar dan darah-jiwa saya terasa tersirap ketika mulut Hajibu'r-Rahmaan yang menganga itu robek dan tubuhnya terbelah menjadi dua. Subhanallah! Apa yang sesungguhnya sedang terjadi?
Saya masih terperangah takjub ketika tubuh Hajiibu'r-Rahmaan yang terbelah itu meledak berkeping-keping dan lebur menjadi kabut. Sekejap, saya merasakan tubuh saya terhisap oleh kekuatan maha raksasa yang memancar dari kabut bekas ledakan tubuh Hajiib-ur-Rahmaan. Lalu saya merasa seperti mati ketika saya merasakan tubuh saya meluncur dengan kecepatan supersonik bersama-sama kabut bekas ledakan tubuh Hajiib-ur-Rahmaan dan benda- benda angkasa lain, ke arah lubang hitam yang menganga seluas cakrawala.
Dengan kecepatan luncur yang tak terukur, tiba- tiba saya melihat kilasan-kilasan realitas aneh mewujud di depan saya. Betapa pada saat seperti ini saya men- dapati kenyataan bahwa semua benda langit yang mengandung unsur materi pada dasarnya tidak ada. Semua benda lebur bentuk fisiknya dan musnah tanpa sisa. Ajaibnya, justru kehampaan yang membentang di segenap penjuru semesta tiba-tiba menjadi wujuud nyata. Bahkan kelamnya kehampaan tiba-tiba menunjukkan hakikat yang sebenarnya sebagai Cahaya yang meliputi semesta raya. Dan keberadaan benda- benda langit di tengah semesta apabila dipandang dengan kecepatan maha supersonik itu tidak lebih gambarannya seperti gelembung-gelembung udara di dalam air. Dengan demikian, hakikat benda-benda sebenarnya adalah hampa dan hakikat kehampaan itulah justru yang Wujuud, demikian juga hakikat kekelaman tanpa batas itulah yang sejatinya Cahaya sejati yang hakiki; sungguh suatu hukum kebalikan yang benar-benar tidak bisa dijangkau akal budi.
Sepersekian detik kilasan penglihatan ruhani yang menakjubkan itu menyentak kesadaran saya, tetapi sesudah itu semua menghilang begitu saja di mana di hadapan saya secara fantastis tiba-tiba tergelar maha- lautan api yang menggelegak dikobari sinar putih kebiruan yang sangat terang. Saya tidak sempat lagi memekik ketika merasakan tubuh saya melesat ke dalam kobaran maha raksasa dari maha-lautan api tersebut. Dan saya hanya merasakan tusukan berjuta- juta jarum membara merejam ke sekujur tubuh-jiwa saya. Saya meregang dengan kesakitan yang luar-biasa tak tertahankan, seolah tubuh saya disayat-sayat beserpihan seperti abon.
Seberkas kilasan cahaya putih menyambar maha- lautan api secara tiba-tiba menimbulkan gelora luar biasa dahsyat. Lalu seperti kobaran lautan api menyambar seekor nyamuk, begitulah maha-lautan api itu menelan tubuh saya. Saya menjerit sejadi-jadinya karena rasa panas yang menyengat terasa sangat sakit tak tergambarkan. Rasa sakit itu makin tak tertahan- kan, manakala jutaan jarum membara yang menancap di tubuh saya mendadak menyala bagai dialiri medan listrik bertegangan jutaan mega watt. Dan saya benar- benar tak dapat menahan kesakitan yang maha dahsyat ketika ion-ion di tubuh saya terasa meledak secara berurutan.
Gemuruh ledakan ion-ion di tubuh saya terasa memecahkan seluruh jaringan sel yang membentuk tubuh saya. Saya merasa bahwa sekarang inilah saya merasakan jahannam. Dalam kesakitan yang luar biasa itu, saya hanya mampu menjerit sambil memanggili nama Allah. Namun gema suara saya segera tenggelam digilas gemuruh ledakan ion-ion yang melingkari kesadaran saya. Dan siksaan yang paling mengerikan sakitnya, adalah ketika saya merasakan tubuh saya melayang-layang dengan kecepatan sangat lambat, di mana saya bisa meresapi dan menghayati hakikat kesakitan yang maha dahsyat yang menyengat sampai ke ion-ion pembentuk tubuh saya. Tetapi, semuanya tetap mampu saya tahan dengan memanggili nama Allah sebagai tumpuhan harapan bagi pembebasan penderitaan.
Dalam keadaan yang serba galau dan kalut yang dilingkari rasa sakit maha dahsyat itu, entah bagaimana awalnya tiba-tiba saya melihat seberkas sinar memancar dari tubuh saya. Sinar itu melesat cepat di depan saya. Anehnya, seperti ada yang memberitahu, saya tiba-tiba mengetahuinya sebagai Sirru'l-haqq yang selama ini bersemayam di pedalaman saya. Seperti biasa, tanpa saya minta, Sirru'l-haqq itu mendadak mengingatkan saya bahwa sia-sia saja saya meminta pertolongan Allah karena saya melupakan Haqiqat-i-Muhammadi sebagai Faidh-i-aqdas yang membentangkan siraj dari manifestasi Ism Haadii.
Sedetik saya sadar. Saya sadar betapa selama ini saya telah berpikir keliru karena saya menganggap keberadaan Nabi Muhammad SAW hanyalah sekadar sebagai manusia biasa yang kebetulan memperoleh tugas sebagai nabi dan rasul dari Allah. Saya selama ini benar-benar terperangkap pada makna harfiah dari al-Qur'an dan hadits, sehingga kerahasiaan Haqiqat-i-Muhammadi sebagai Faidh-i-aqdas, Faidh-i-muqaddas, dan Faidh-i-rahmaani hampir tak pernah saya pahami. Saya hanya menghafal shalawat-shalawat tetapi saya melupakan haqiqat-i-sholawat, meski saya tahu bahwa Allah dan seluruh malaikat menyampaikan sholawat pada Muhammad Rasulillah SAW.
Dengan kesadaran akibat bisikan Siiru'l-Haqq itulah, saya mulai meresapi pengetahuan akan Haqiqat-i-Muhammadi. Lalu tanpa sadar, saya mengumandangkan shalawat lewat khasidah-khasidah yang pernah saya hafal dan selalu saya kumandangkan sejak saya masih kanak-kanak. Saya juga mengumandangkan shalawat seperti apa yang saya kumandangkan sebagai doa dalam shalat. Saya kumandangkan shalawat Ibrahimiyyah, shalawat Ibn Hajar al-Haytami, shalawat 'Ali ibn Husey, shalawat Ali ibn Abi Thalib, shalawat Abdullah ibn Mas'ud, shalawat Ibn Umar, shalawat Nur al-Qiyamah, shalawat Ibn 'Arabi, shalawat al-Jilani. Sepersekian detik, tiba-tiba saya merasakan gemuruh kegalauan yang melingkupi kesadaran saya berangsur-angsur tenang. Hening. Rasa sakit yang menikam dan menyengat-nyengat pun berangsur- ansur mereda. Saya makin terpukau keheranan dengan pengalaman menakjubkan yang saya lewati ketika cahaya Sirru'l-haqq yang melayang-layang di depan saya mendadak meraksasa ukurannya dan secepat kilat mennyambar tubuh saya. Lalu seibarat percampuran khamr dan air, begitulah ke-aku-an saya larut ke dalam ke-aku-an Sirru'l-Haqq yang tak saya ketahui lagi ukurannya. Di saat kelarutan saya dengan Sirru'l-Haqq mencapai titik fusi, tiba-tiba sebuah tirai gaib dengan cara yang sangat ajaib tersingkap; lalu saya menyaksikan bermilyar-milyar benda langit terhampar di kaki saya seperti butir-butir pasir emas yang menyala. Bahkan ketika saya merasakan tubuh-jiwa saya terangkat ke atas, benda-benda langit tersebut menghampar luas dan penuh seperti tanpa cakrawala. Sejauh mata memandang hanya kerdip-kerdip pasir emas menyala itu saja yang terlihat seperti layar monitor televisi mengalami ganguan. Saya pun merasakan semakin membubung ke suatu dimensi tanpa ruang tanpa waktu; suatu dimensi di mana semua yang ada menyatu dalam kesatuan semesta.
Seyogyanya saya tenggelam dalam kelarutan perwujudan materi semesta andaikata Sirru'l-Haqq yang mewadahi saya tidak memancarkan cahaya gilang- gemilang yang membentuk perwujudan maha-indah- semesta. Saya tidak bisa menggambarkan wujud keindahan cahaya Sirru'l-Haqq tersebut, karena saya tidak melihat padanannya di dalam rentangan peng- alaman saya sebagai manusia. Saya hanya bisa menggambarkan bahwa keterpesonaan saya terhadap wujud yang melingkari saya kadarnya bermilyar-milyar kali dibanding keterpesonaan saya terhadap perempuan-perempuan yang pernah mempesona hati dan jiwa saya. Dan keterpesonaan itu membuat saya tercekat dalam keterpanaan tanpa batas.
Saya benar-benar tenggelam ke dalam daya pesona luar biasa ketika dari keindahan tersebut me- ngumandang musik dan nyanyian yang maha merdu yang membuat kesadaran saya terbuai laksana di alam mimpi. Tetapi, ketika saya hampir larut dalam keterpesonaan, tiba-tiba dari keindahan yang melingkupi seluruh pemandangan saya itu timbul kilasan keindahan dalam wujud pribadi yang sangat menggetarkan. Kilasan-kilasan tersebut kemudian membentuk sosok manusia gemerlapan yang teramat indah.
Keindahan dari sosok manusia itu tidak bisa saya lukiskan karena keindahannya adalah keindahan semesta yang tidak terikat oleh jenis yang terpilah yang hanya bisa didefinisikan aneh dan ajaib. Ya, manusia gemerlapan itu keindahanya adalah mutlak bagi pemandangan bashirah saya. Saya melihat berjuta-juta sayap kilau-kemilau menggeletar di sekitarnya; lalu berjuta-juta bintang dengan aneka cahaya terlihat melingkari kepalanya seolah mahkota zamrud dan mirah dipancari cahaya intan. Wajahnya, tidak bisa dilukiskan karena begitu indah dan aneh sehingga saya bagaikan tersihir untuk terus-menerus melihat keindahannya yang aneh. Saya benar-benar tidak pernah melihat pemandangan bentuk manusia seindah dan seaneh itu, meski dalam mimpi atau angan-angan sekalipun; sesosok manusia cahaya yang tidak bergerak dan tidak diam, tidak hidup dan tidak mati, diliputi kabut sekaligus cahaya.
Bentuk manusia kilau-kemilau yang indah dan aneh tersebut dengan gerakan amat memukau yang tak juga bisa saya lukiskan terlihat bergerak bagaikan awan mendekati saya, sehingga jarak kami hanya sekitar satu gapaian tangan. Ketika wujud keindahan itu merentangkan tangannya yang sangat indah, dari tubuhnya memancar seberkas cahaya aneka warna, sehingga saya tanpa sadar menggumam, "Siapakah dia gerangan?"
Dengan suara penuh daya pesona bagaikan musik dan nyanyian surgawi, manusia cahaya yang indah dan aneh itu menjawab gumaman saya dengan bahasa tanpa kata dan suara:
"Ana Ahmad-un bi laa miim!"
"Anta Ahad?" tanya saya karena jawaban itu dapat bermakna Ahad, yakni Ahmad tanpa huruf miim."
"Ana Ahmad-un bi laa miim," katanya mengulang.
Saya termangu penuh takjub seperti tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Sebab saya tidak syak lagi bahwa yang sekarang berada di depan saya itu adalah haqiqat-i-Muhammadi. Saya tiba-tiba ingat pada kisah Chandragupta yang melukiskan haqiqat-i-Muhammadi sebagai seekor burung merak yang bertengger di puncak pohon Sajaratu'l Yaqiin sambil menyanyikan puja-pujian kepada Tuhan dan bersujud lima kali sehari. Burung merak itu menyembunyikan semua warna-warni yang indah di kedua sayapnya. Tapi apabila dia merentangkan sayap, maka muncullah keindahan semesta dalam aneka warna.
Saya termangu dalam pesona jiwa. Saya yakin andaikata apa yang saya hadapi ini terjadi di dunia, maka tidak syak lagi saya akan menangis penuh haru. Saya tentu akan menjatuhkan diri dan merangkul kedua kaki manusia kilau-kemilau diliputi keindahan dan keanehan yang mewujud di depan saya yang tidak lain dan tidak bukan adalah haqiqat-i-Muhammadi. Tapi suasana yang saya alami saat ini benar-benar lain, di mana saya hanya termangu-mangu dalam pesona tanpa bisa melakukan tindakan apa-apa. Saya merasa- kan seluruh ion di dalam diri saya berhenti bergerak ketika haqiqat-i-Muhammadi tersebut berkata dalam kemerduan raya:
"Ana min nuuru'llahi wa khalaq kuluhum min nuuri. Ana wujuud-i-dhaafi. Man ra'anii faqad raa'ulhaqq."
"Apakah beda antara Ahad dan Ahmad bila miim?" tanya saya benar-benar dicekam rasa ingin tahu.
"Huwa Ahad wa Ana Wahdah."
"Berarti keberadaan sampean dengan Ahad hanya dibatasi dengan lambang huruf WAU dan MIM. Saya melihat huruf WAU juga diterakan antara Allah dan Muhammad dalam syahadatain. Apakah makna lambang-lambang huruf tersebut?." Haqiqat-i-Muhammadi menggerakkan kedua tangan-Nya dan membentangkan kalimat demi kalimah Rabb yang tanpa suara, tanpa huruf, tanpa isyarat, tanpa bentuk, dan tanpa wujud. Tetapi saya merasakan diri saya ikut terang-benderang gemerlapan ketika memahami makna kalimat demi kalimat tersebut. Saya sadar bahwa uraian tersebut amatlah terahasia sehingga tiada mungkin diuraikan di dimensi lain, sebab pemaknaan tiap haal amat jauh berbeda dengan cara berpikir umum manusia. Sehingga penguraian akan segala haal di sini dengan terang sewaktu di dunia malah akan menimbulkan kesesatan maha besar.
Setelah saya memahami makna hakiki dari pemaknaan segala apa yang saya tanyakan, saya pun bertanya lebih lanjut, "Apakah yang membedakan antara Huwa-Rahmaan dan Nuu-i-Rahmaanii dalam hakikat?"
Haqiqat-i-Muhammadi kemudian membentangkan bahwa sebagai Nuur-i-Rahmaanii, Dia beserta unsur-unsur yang tercipta dari-Nya baik malaikat, jin, manusia, dan alam semesta tunduk kepada hukum Rubbubiyah. Artinya, Nuur-i-Muhammadi beserta alam semesta wajib menyampaikan shalat kepada Huwa-Rahmaan. Sebaliknya, Huwa-Rahmaan beserta seluruh isi alam semesta menyampaikan shalawat kepada Nuur-i-Rahmaanii. Demikianlah antara shalat dan shalawat dibatasi oleh lambang huruf WAU yang mencakup makna hakiki antara Ahad dan Wahdah. Kelanjutan dari bentangan tentang shalat dan shalawat adalah ibarat ruangan dan pintu, sehingga orang tidak bisa masuk ke dalam ruang jika tanpa melewati pintu. Begitulah sebuah shalat tidak sah tanpa shalawat, sebaliknya shalawat sia-sia tanpa shalat. Bahkan segala doa tidak akan bisa sampai kepada Huwa-Rahmaan apabila tidak melewati shalawat kepada Nuur-i-Rahmaan. Dan di satu segi, Ahad memiliki rahmat, sedang Wahdah memiliki syafaat. Yang lebih mengejutkan lagi dari bentangannya adalah mengenai Huwa-Rahmaan dalam kaitan dengan haqiqat-i-Muhammadi yang termanifestasi dalam Anfalu lillahi war rasuuli (QS. al-Anfal: 1), wa man yusyaaqiqi'llaha wa rasuulahu fainna'llaha syadidul 'iqaab (QS. al-Anfal: 13), athii'uu'llah wa rasuulahu (QS. al-Anfal: 20), washodaqa'llah wa rasuuluhu (QS. al Ahzaab: 22), innalladziina yu'dzuuna'llaha warasuulahu la'anahumu'llahu (QS. al-Ahzaab: 57), dan banyak lagi yang lain. Penafsiran atas ayat-ayat tersebut benar-benar merupakan persoalan besar, sebab kalau orang keliru satu menafsirkan maka akan menumbuh- kan pemahaman yang keliru dan bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah Islam.
Akan hal tajalli, haqiqat-i-Muhammadi membentangkan "Maa 'arafnaaka haqqa ma'rifatika" tiada suatu pandangan pernah tajalli kepada Dzat, sebab suatu kesadaran sudah runtuh ketika mencapai tajalli- i-rahmaanii. Demikianlah siapapun tidak pernah mengetahui Tuhan kecuali sebatas yang diperintahkan oleh pengetahuan Tuhan. Adapun tajalli lebih diibaratkan sebagai "wa mizajahu min tasniim, 'ainan yasyrabuu bihal-muqarrabuun (QS. al Muthaffifiin: 27- 28). Adapun tajalli-i-Rahmaan pada dasarnya hanya melampaui tahap di mana nafs akan terhembus lebur bagai puncak Sinai dihembus kehadiran "Api" Allah. Sebab huwa-Rahmaan sendiri menyimpan hakikat Huwa, dan Huwa pun menyimpan hakikat Lahuwa, Laa Laa huwa, Huwa Huwa; Tuhan yang tak terjangkau oleh konsep dan kejelasan apapun. Dan begitulah sebenarnya Dzat Tuhan tidak bisa diomongkan dan didiskusikan, dan oleh sebab itu haqiqat-i-Muhammadi hanya membentangkan kepada saya mengenai Nuur- i-Rahmaanii, Huwa-Rahmaan, dan Huwa.
Dalam pertautan kami sempat terungkap keheranan saya tentang ke-Arab-an Nabi Muhammad SAW, padahal secara genetika Nabi Muhammad SAW adalah termasuk jalur keturunan Nabi Ibrahim yang juga melahirkan Yahudi. Tanpa sadar terungkapkan keheranan tentang ke-Arab-an bahasa al-Qur'an dan juga Baitullah.
Haqiqat-i-Muhammadi membentangkan lambang "Ana 'Arab-un bi laa 'Ain." Saya tercekat dengan jejak pemikiran saya yang sering berpikir secara ke-bumi- an. Tetapi tentu saya tidak boleh cepat-cepat ber- kesimpulan untuk memaknai kalimat "Saya 'Arab tanpa huruf 'Ain" itu secara harfiah yang bisa bermakna Rabb. Sebab itu adalah pikiran ke-bumi-an yang sederhana. Namun demikian, jika ungkapan tersebut saya kaitkan dengan bahasa al-Qur'an, di mana apabila bahasa al-Qur'an diambil huruf 'ain-nya akan menjadi bahasa Rabb, yang tiada lain adalah kaalam-i-nafsii yang abadi yang tidak bisa dibaca dan dilihat dengan 'ain (mata). Dan begitu pun tanah Arab yang tanpa huruf 'ain akan berarti tanah Rabb. Sementara Rabb sendiri bermakna terpelihara dan abadi, sedang 'ain bisa bermakna penglihatan, tetapi bisa bermakna mata air. Sungguh, ini hal yang membingungkan jika dimaknai dengan akal.
Haqiqat-i-Muhammadi kemudian membentangkan bahwa soal ke-Arab-an Nabi Muhammad SAW sebenarnya hanya merupakan sebutan setelah Tuhan menyingsing dari Sinaai dan terbit dari Seer-Nya; Dia kelihatan kemilau dari gunung Faran, dan dia datang dengan sepuluh ribu malaikat; dari tangan kanan-Nya akan dikeluarkan hukum yang pedih (Eleh Haddebarim, 33:2). Tanah yang dijanjikan yang berupa padang liar yang bertentangan dengan Laut Merah, antara Faran, 'Ushairot, Thoifal, dan Diz'ahab yang kira-kira sebelas hari perjalanan dari Horeb melalui gunung Seer hingga Ka'desh-Bar'nea (Eleh Haddebarim, 1:1-2). Tanah yang dijanjikan itu tiada lain adalah tanah jajahan orang-orang Amori baik berupa dataran rendah, bukit-bukit, lembah, yang terletak di selatan dari tanah orang-orang Kanaan hingga Lebanon sampai sungai Eufrat; itulah tanah yang dijanjikan Tuhan bagi Ibrahim beserta seluruh keturunannya (Eleh Haddebarim, 1:7-8). Kepada Bani Israel diperintahkan untuk berkeliling, meninggalkan gunung Seer, tanah saudara Bani Israel, yaitu Bani Esau, (Eleh Haddebarim, 2:9) di mana Esau adalah kakak Ya'kub yang menjadi menantu Ismail. Dari pembentangan tersebut akhinya saya tahu bahwa tanah yang di janjikan oleh Allah tersebut pada masa silam hanya dinamakan sebagai padang liar yang disebut Be'er-she'ba di mana Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail (Beresyit, 21:14), di mana di padang liar itu Tuhan membuka mata air (Zam-Zam) hingga Ismail bisa besar dan menjadi pemanah di padang liar Faran (Beresyit, 21:19-21). Padang liar inilah yang kemudian disebut tanah Arab (Ar-Rab) di mana terletak padang liar Faran tempat Tuhan muncul setelah menyingsing dari Sinaai, yang tanah itu dibatasi oleh Laut Merah-Kanaan-Lebanon-sungai Eufrat-Ka'desh Bar'nea.
Dengan kenyataan tersebut, maka jelaslah bahwa Nabi Muhammad SAW adalah khaatim dari nabi-nabi, karena beliau diturunkan di tanah yang dijanjikan (Arab) yang mewadahi makna bangsa dan bahasa yang apabila diangkat haqiqat 'ain-nya akan memiliki makna yang tidak sembarangan boleh diungkapkan. Oleh sebab itu, segala pernyataan setan dungu yang mengaku-aku nabi sesudah Nabi MuhammadSAW cukuplah dijawab dengan ungkapan "wa man yuhdilluhu falaa hadiyalah." Sebab sudahlah jelas bahwa di dalam keberadaan Nabi Muhammad SAW terangkai makna Haqiqat-i-Muhammadi yang merupakan pangkal kejadian nafs semesta, sehingga Allah menerakan dalam al-Qur'an pernyataan tentang beliau dalam makna "Kami turunkan seorang rasul dari nafs kalian sendiri (QS. at-Taubah: 128)."

Pembentangan rahasia di balik makna-makna tentang berbagai hal terus berlanjut, termasuk persoalan makna perjalanan rahasia menuju Huwa-Rahmaan. Haqiqat-i-Muhammadi membentangkan bahwa sebagian besar dari para pencari Huwa- Rahmaan telah terjerat oleh aturan berbelit-belit yang mereka buat sendiri, sehingga tanpa sadar mereka telah terperangkap pada terali-terali aturan yang mereka ciptakan sendiri sedemikian rumitnya, sehingga mereka terjerat seolah laba-laba terjerat oleh jaring yang ditebarnya sendiri.
Haqiqat-i-Muhammadi membentangkan dengan tanpa selubung seputar keterhisapan saya ke dimensi rahasia yang tersembunyi di dalam rahasia, di mana saya merupakan salah satu pencari Huwa-Rahmaan yang naif, polos, terbuka, bebas, ke-aku-an yang tidak terjerat terali-terali aturan yang memenjara diri. Artinya, Haqiqat-i-Muhammadi mengetahui pasti bahwa saya tidak pernah memakai perantara wasilah yang lain kecuali Dia. Sementara pencari Huwa- Rahmaan yang lain banyak yang terperangkap pada wasilah-wasilah yang diciptakannya sendiri, sehingga pengetahuan akan Tuhan yang mereka dapatkan selalu lebih rendah dari "sosok" yang mereka jadikan wasilah. Oleh sebab itu, Haqiqat-i-Muhammadi memberitahu agar saya tetap setia dalam menjadikan Dia sebagai satu-satunya wasilah, tentu saja dengan mendalami makna tiap-tiap shalawat-khasidah-kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW sampai terbit rasa cinta dan rindu hendak kembali ke asal kejadian.

Mendengar bentangan Haqiqat-i-Muhammadi, saya terperangah takjub. Sebab Saya tidak pernah menduga bahwa satu-satunya senjata saya dalam segala hal yang berbunyi "ila hadraati Nabi Muhammad SAW" yang tanpa embel-embel "ila hadratii kepada yang lain" telah menjadi sarana penyingkap hijab yang membuat saya terhisap ke dimensi rahasia-Nya. Ya, senjata pamungkas yang tidak pernah saya duga keampuhannya itu setidaknya akan saya beritakan kepada orang lain kalau memungkinkan dan cerita saya dipercaya.
Ketika pembentangan menyinggung fenomena kemunculan orang-orang dekil yang mengaku wali, segeralah terbentang kilasan-kilasan rahasia yang menguraikan bahwa semua peristiwa yang ber- hubungan dengan kepalsuan segala hal pada dasarnya berhubungan dengan hari akhir bumi yang makin jarak waktunya. Bentangan itu membeberkan bahwa di antara umat manusia akan muncul manusia- manusia palsu yang mengaku-aku sebagai "Aku" padahal mereka belum "aku". Mereka itu biasanya akan berbuat aneh-aneh dengan berkata-kata kasar, mencaci, mengumpat-umpat, merendahkan, menista, dan bahkan mempermalukan orang lain.
Haqiqat-i-Muhammadi itu kemudian membentangkan bahwa bagaimanapun saya tidak boleh hanyut terbawa arus pesona ketinggian ilmu seseorang. Itu berarti, yang perlu saya jadikan patokan untuk melihat orang-orang palsu itu adalah dengan mem- bandingkan dari berbagai sisi dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW yang sangat sopan dan rendah hati serta selalu bertutur kata lemah lembut kepada siapa pun. Lalu dalam bentangan terpapar bahwa apabila terdapat orang-orang yang mengaku wali tetapi tingkahnya sengaja dibuat aneh-aneh dan dapat menimbulkan kesan bahwa Islam adalah ajaran yang tak kenal nilai moral dan tidak beradab, maka yang demikian itu adalah perbuatan orang Zindiq. Bagi orang yang mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW hendaklah meneladani kesantunan beliau dalam berbicara-bersikap-bergaul dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah cukup lama memperoleh bentangan rahasia, tiba-tiba saya merasa bahwa di sinilah saya harus tetap tinggal dalam kedamaian. Sebab selama hidup belum pernah saya merasakan perasaan senikmat seperti ketika saya berada di hadapan Haqiqat-i-Muhammadi. Saya merasa tidak perlu lagi kembali ke bumi manusia. Di dimensi rahasia ini, saya sudah teramat sangat merasakan hidup serba sempurna.
Seperti mengetahui segala sesuatu yang tersirat di dalam pikiran yang menggelegak di kedalaman jiwa saya, tiba-tiba di hadapan saya terbentang kilasan rahasia yang memaparkan keniscayaan bahwa selama takdir mati belum terjadi atas saya, maka wajiblah bagi saya untuk kembali ke bumi manusia sampai ajal datang menjemput Saya. Terbentang pula paparan yang menyatakan bahwa perjalanan hidup saya di dunia masih panjang dengan segala liku-likunya.
"Bolekah saya mendekati sampean lebih dekat lagi dan menyentuh kaki sampean?" tanya saya dengan hasrat menggemuruh dahsyat memenuhi cakrawala kesadaran saya.
Haqiqat-i-Muhammadi membentangkan ungkapan rahasia kepada saya, bahwa sekalipun jarak antara saya dan Dia terlihat seperti sejangkauan, tetapi sesungguhnya jauh jarak yang mengantarai jauhnya lebih dari lima ratus tahun perjalanan. Saya terkejut dan hampir akal saya tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Tetapi dalam bentangan rahasia dinyatakan secara gaib bahwa jauhnya jarak itu adalah kenicayaan yang terjadi karena rahasia dari hukum Ilahi tidak bisa diurai dengan akal manusia yang hanya sedikit menampung ilmu Tuhan.
Haqiqat-i-Muhammadi membentangkan kenyataan aneh bahwa sebelum saya melampaui jarak yang terbentang yang bisa mencapai Haqiqat-i-Muhammadi, saya terlebih dulu haruslah melampaui dimensi yang disebut AL-MIZYYATU'L KHAYAA atau Cermin Taubat yang memalukan. Saya benar- benar tidak mengerti akan apa makna yang tersembunyi di balik penamaan tersebut. Saya hanya selintas membayangkan bahwa di dimensi aneh itu akan saya jumpai orang-orang yang bertaubat dalam rangka mensucikan diri untuk kembali kepada Huwa-Rahmaan. Oleh karena saya menganggap perjalanan menembus dimensi AL MIRYYATU'L KHAYAA akan saya temui banyak rintangan, maka saya pun meminta petunjuk, "Apakah bekal yang harus saya bawa agar saya bisa selamat melampauinya dan bisa menghadap haribaan sampean?"
Haqiqat-i-Muhammadi membentangkan gambaran keniscayaan agar saya bisa melampaui suatu tahap ruhani di mana saya mampu menangkap makna rahasia dari apa yang disebut haqiqat shalatu daa'imun sekaligus haqiqat shalawatu daa'iman. Bentangan rahasia itu tertancap dalam-dalam di relung ingatan saya, di mana saya teguhkan jika saya bisa kembali ke bumi menunggu ajal, saya berjanji akan menelusuri rahasia shalat dan shalawat sampai saya temukan hakikat dari shalat daa'imun dan shalawat daa'iman.
Entah sadar entah tidak, tanpa saya inginkan, tiba- tiba saya melakukan shalat ruhani dengan mengarah- kan kekhusyukan jasad-ruuh-nuur-sirr. Sekejap kemudian, saya mendadak menyaksikan kilasan-kilasan cahaya kehijauan melesat dari dalam diri saya. Keadaan ini adalah mirip seperti saat saya tenggelam dalam kekusyukan yang memunculkan kilasan berwarna kehijauan dari dalam diri saya. Namun kali ini, kilasan cahaya kehijauan itu sangat kilau-kemilau benderangnya. Tidak syak lagi, kilasan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Ruuh-i-Dhaafi. Ketika saya mengikuti kilasan pancaran cahaya Ruuh-i-Dhaafi tersebut, tiba-tiba saya merasa terhisap oleh suatu kekuatan maha dahsyat sehingga tubuh-jiwa saya melesat dalam kecepatan yang luar biasa cepat.
Suara dentuman-dentuman mengerikan saya dengar menggemuruh dahsyat di segenap cakrawala, tekanannya seperti akan memecahkan telinga-jiwa saya. Berjuta-juta kilasan bintang dan benda-benda langit berledakan menghamburkan cahaya saya saksikan memasuki penglihatan saya. Saya menancapkan diri pada titik konsentrasi berusaha menyatukan makna hakikat shalat dan hakikat shalawat yang berkekalan.
Dalam hitungan detik, saat kesadaran saya memasuki suatu dimensi tanpa cakrawala, saya mendapati diri saya terhenti di tengah hamparan cahaya yang sangat luas tanpa batas diterangi kilasan cahaya-cahaya yang sangat menyilaukan. Sesuatu yang aneh, tiba-tiba saya rasakan telah terjadi pada diri saya, di mana penglihatan saya tidak lagi terfokus ke depan. Ini sungguh aneh, saya tiba-tiba seperti memiliki ber-juta-juta mata yang bisa saya gunakan untuk melihat ke segala arah. Sungguh fantastis, saya tiba-tiba mendapati diri saya berada di suatu dimensi yang tanpa arah depan, belakang, samping, atas, maupun arah bawah. Garis cakrawala pun tidak saya dapati ke mana pun saya mengarahkan pandangan.
Kilasan demi kilasan cahaya terus bergelombang, berpusar-pusar, berlesatan, berhamburan, berpendar-pendar sambung-menyambung menimbulkan bentuk-bentuk aneh yang memukau dan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tetapi napas saya mendadak saya rasakan berhenti ketika kilasan-kilasan yang saya saksikan itu adalah kilasan-kilasan dari segala perbuatan saya selama hidup di bumi, baik perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk.
Saya kebingungan menyaksikan rangkaian kilasan-kilasan yang memaparkan semua amaliah perbuatan diri saya selama hidup di bumi manusia yang gambarannya mirip film tiga dimensi yang sangat hidup seperti benar-benar riil. Kebingungan saya makin teraduk-aduk ketika saya tidak dapat berbuat sesuatu untuk menghindar dari keharusan menyaksikan kilasan-kilasan memalukan itu kecuali hanya berharap agar rentangan cerita hidup saya yang memalukan itu cepat-cepat berlalu. Anehnya, kilasan-kilasan memalukan itu tidak bisa saya hindari meski saya sudah berusaha untuk menutup mata agar kilasan-kilasan yang menampakkan keterkutukan saya tidak saya saksikan. Anehnya lagi, semakin saya berusaha untuk tidak menyaksikan, kilasan-kilasan itu malah semakin berlangsung lambat durasi waktunya yang membuat saya benar-benar sangat malu. Sungguh, saya tidak bisa berpaling karena mata saya yang bisa memandang ke segala arah itu sedemikian rupa tajamnya dan tak bisa dikatupkan. Saya tidak bisa berpaling karena seluruh diri saya ibaratnya adalah mata. Demikianlah, kilasan demi kilasan itu menggambarkan dengan sangat nyata bagaimana saya mencuri uang emak dan bapak saya, berbohong, mengintip orang mandi, bermasturbasi, minum khamr, mencium perempuan yang bukan istri, memegang-megang payudara kawan-kawan perempuan, membual, pamer kehebatan diri, ngerasani orang, menyombongkan diri, dan berbagai hal nista yang memalukan lainnya. Saya tidak menduga akan menghadapi kenyataan seperti ini, di mana seluruh perbuatan saya dari yang sengaja maupun yang tidak sengaja tergelar begitu terang dan nyata bagaikan tergambar di film tiga dimensi.
Mengalami pengalaman yang tak pernah terbayang-bayangkan dan terimpi-impikan sebelumnya itu, saya benar-benar tidak mampu mengendalikan kebingungan yang mengaduk-aduk pikiran dan rasa malu yang naik dari telapak kaki ke ubun-ubun. Saat rasa malu sudah tidak dapat lagi ditahan, saya pun menjadi panik. Saya menjerit-jerit keras dan meraung-raung penuh ratapan agar Tuhan berkenan menghapuskan kilasan-kilasan yang menimbulkan rasa malu tak terhingga itu. Saya benar-benar ingin mati saja, karena saya sangat sadar bahwa apa yang dialami ini pastilah diketahui oleh Tuhan dan Haqiqat-i-Muhammadi. Sungguh, kalau saja kilasan-kilasan memalukan itu dilihat oleh berjuta-juta orang mungkin saya masih bisa menahan rasa malu dengan menyembunyikan diri, tetapi dengan disaksikan oleh Sumber dari nafs saya sendiri, yaitu Haqiqat-i- Muhammadi dan juga Rabbu'l-Arbaab, jelaslah saya merasa tak dapat lagi menahan rasa malu yang tak bertepi ini.
Saking paniknya saya dirajam rasa malu merajalela, saya menjerit-jerit terus dan menyatakan bahwa diri saya adalah makhluk paling zhalim yang tidak layak untuk bersujud di hadapan Nuur-i-Rahmaanii. Saya menjerit-jerit dengan rasa malu tumpah-ruah melumuri tubuh-jiwa saya. Dengan mengiba, saya memohon agar saya diperbolehkan kembali ke bumi untuk memperbaiki segala amal perbuatan saya. Saya juga menyatakan bahwa saya rela dibeteti, disayat-sayat, diiris-iris, direbus, ditumbuk halus menjadi makanan setan di neraka jahannam asalkan kilasan-kilasan memalukan yang merentangkan seluruh amal perbuatan saya itu dihapuskan dari cakrawala penglihatan.
Kepanikan saya rupanya sudah sampai ke puncak karena kilasan-kilasan memalukan tersebut terus berlangsung tanpa bisa dihindari apalagi dihentikan. Akhirnya, setelah saya tidak mampu lagi menahan dentuman rasa malu, bobol pertahanan saya. Kesadaran saya dengan cepat terhapus. Kilasan-kilasan itu, benar-benar terhapus bersama terhapusnya kesadaran saya. Saya tidak lagi melihat sesuatu kecuali pancaran sinar sedemikian rupa benderangnya hingga menelan penglihatan dan kesadaran saya. Dan saya benar-benar merasa terhapus. Hilang, sirna; saya tidak ingat apa-apa lagi kecuali merasakan kehampaan yang maha luar biasa; saya terus tenggelam dalam hampa; saya tidak bisa membedakan lagi antara saya dan hampa; saya telah lebur; saya telah terhapus tidak merasakan apa-apa lagi.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Hachi

Hachi

Bila hati ini mungkin bisa di wakili oleh sebuah tempat, misal kan rumah.Rumah yang telah kau tinggalkan.Rumah yang segala perabotannya berantakan walaupun tanpa

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEBELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEBELAS)

Malam hitam jernih dengan jutaan bintang bertaburan laksana pelita semesta dibentangkan di atas permadani semesta. Dalam hening berjuta-juta wangi mawar menaburi bumi bagai

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Ramadhan dan lebaran selain tentang hal puasa dan mudik juga sebagai pemantik kenangan saat bulan puasa dan lebaran tahun sebelum-sebelumnya. Itulah yang dirasakan Rahwana

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Selasa sore seusai sembahyang Ashar, saya langsung melesat ke Jl. Jagannath Shankar Seth dengan mengendarai bus kota. Yang namanya bus kota di mana pun sama, kalau jam kerja

Kisah Sejarah Gaib Tanah Jawa

Kisah Sejarah Gaib Tanah Jawa

Sejarah awal Pulau Jawa seolah terbungkus oleh misteri, karena sama sekali tidak diketahui keberadaannya oleh dunia sampai pulau ini dikunjungi oleh peziarah dari China, Fa

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Matahari bersinar bersih, cahayanya membias putih di batas cakrawala yang berpendar jernih laksana pancaran kristal. Langit biru membentang bagai kubah sebuah masjid. Angin

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT)

"KALAU MAU MENCARI ALLAH, BELAJARLAH DARI IBLIS!"Seperti ledakan halilintar bisikan misterius itu menggedor otak dan dada saya yang membuat seluruh jaringan darah di

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Dening: Suparto BrataDiamput! Sepatuku ilang ndhuk mejid. Iki gara-gara sholat Jumat ndhuk mejid enyar cedhake kantorku. Diamput, ejik enyar wis nggawa korban!