Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

  • 2018-07-22 13:42:44
  • 414

Sejak melewati pengalaman menggetarkan bersama ruh mereka yang sudah berada di alam barzakh, segala sesuatu secara berangsur-angsur saya rasakan mengalami perubahan pada diri saya. Saya merasakan bahwa bisikan misterius yang selama ini mengganggu saya, tidak lagi saya sikapi sebagai hal yang rumit dipahami. Saya merasa bahwa diri saya perlahan-lahan bisa menjalin komunikasi dengan diri saya sendiri, meski saya tak pernah tahu apa sejatinya subjek di dalam diri saya yang bisa saya ajak komunikasi itu. Saya tiba-tiba merasa bahwa "aku" di dalam diri saya memiliki "aku" yang lebih daripada "aku" yang bisa dimengerti oleh akal saya. Aku merasakan ada "aku" lain di dalam relung kedalaman diriku yang sebelumnya tidak aku kenal sama sekali.
Lewat "aku" yang misterius itulah biasanya saya bertanya tentang sesuatu yang tidak dapat dijawab oleh akal pikiran saya. Biasanya, saya merasakan adanya semacam kilatan petir yang menyambar kesadaran saya, yang kemudian diikuti munculnya gambaran- gambaran aneh, di mana dengan sambaran-sambaran itu saya merasakan kesadaran yang lebih dalam dari kesadaran saya tersingkap seolah-olah saya seekor kupu-kupu keluar dari kepompong. Dan dengan berbagai pengalaman semacam itu, maka tidak pelak lagi saya menyimpulkan bahwa kesadaran manusia pada hakikatnya bertingkat-tingkat dan berlapis-lapis ibarat lapisan tirai demi tirai penutup ruangan-ruangan yang disibakkan satu demi satu.
Sebelum saya berjumpa dengan ruuh orang-orang mati yang memberi banyak uraian tentang Sastra Hajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu dan bisikan misterius yang disebut Sirr-i-Asrar, saya sering mendapati kemacetan demi kemacetan akal budi saya ketika menghadapi realitas-realitas rumit dan membingungkan yang saya hadapi. Tetapi sekarang ini saya merasakan bahwa sesuatu yang terdalam di relung-relung pedalaman diri saya seolah-olah berisi perbendaharaan berlimpah atas segala jawaban dari pertanyaan- pertanyaan yang membingungkan. Namun demikian, saya tetap menjadikan al-Qur’an dalam makna Kalaam-i-Lafdzii sebagai patokan, karena sering kali harta tersembunyi dari perbendaharaan misterius saya itu masih dibalut oleh keragu-raguan akal saya.
Saya sempat nervous ketika kepada saya dijelaskan bahwa segala gerak-gerik dan nasib manusia seutuhnya ditentukan oleh Allah Rabb’ul-i-Arbaaab. Padahal sepengetahuan saya, manusia tidak akan bisa mengubah nasibnya apabila manusia itu sendiri tak mau mengubahnya, di mana menurut ruh para orang mati pandangan saya itu tidak benar.

Jujur saya akui, bahwa saya memang sempat bertanya-tanya tentang uraian bahwa Allah adalah Sang Penentu segala. Saya bahkan sempat meragukan kebenaran penjelasan ruh yang menemui saya itu. Namun, ketika obsesi aqliyah itu menyentuh pedalaman jiwa saya, bagaikan kilatan petir tiba-tiba di dalam relung pedalaman jiwa saya mengambang semacam bisikan gaib tanpa suara-tanpa huruf-tanpa gambar dari kalimat Wallahu khalaqakum wa maa ta’maluun (QS. ash-Shaffat: 96), di mana dengan itu saya baru menyadari bahwa sejatinya Allah menciptakan mahkluk beserta semua perbuatan makhluk ciptaan tersebut.
Saya sendiri bukan tidak paham atas ayat al-Qur’an tersebut, sebab sebagai orang yang hidup di lingkungan pesantren masalah mengaji al-Qur’an memang bukan masalah yang istimewa. Tetapi sebagaimana lazimnya kalangan awam tradisional yang lain, saya lebih suka menghafal saja ayat-ayat al-Qur’an dan memahami sepintas saja maknanya. Karena itulah, sering kedapatan saya dan kawan-kawan saya yang hafal maknanya, tetapi tidak tahu sistematikanya dalam arti nama surat dan urutan nomor ayat apalagi makna rahasia di balik makna tersuratnya.
Sebenarnya saya melihat banyak kekurangan dari kalangan muslim awam tradisional yang mencetak saya, di mana mereka sering merasa bangga dengan apa- apa yang ada secara tradisional tanpa mau mengem- bangkan ke arah pemikiran yang mengait dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang ada. Mereka sering terperangkap pada otoritas ayat yang ditafsir sesuai pemahaman mereka tanpa peduli dengan realitas yang ada, sehingga tak kurang muncul anggapan bahwa kalangan tradisional senantiasa mewakili pola pemikiran kolot yang dogmatis dan anti kemajuan apalagi progresivitas.
Saya sendiri sebagai Sudrun bukan tergolong orang-orang yang sok modern, sebab dalam banyak hal saya masih memegang nilai-nilai statis yang ada di kalangan tradisional. Hanya saja, nilai-nilai statis yang saya pegang sering tidak sesuai dengan orang-orang kebanyakan di sekitar saya. Suatu contoh, saya sangat menentang keras usaha-usaha dari keluarga saya yang perempuan untuk melanjutkan kuliah atau bersekolah di luar kota dengan kos di rumah orang yang jauh dari pengawasan keluarga. Sikap saya itu, dianggap oleh teman-teman saya sebagai sikap kolot masyarakat tradisional yang anti kemajuan, namun saya tidak peduli.
Saya memang sering dituduh sebagai biang kekolotan yang anti kemajuan. Saya sering dituduh tidak menghargai emansipasi perempuan. Saya dituduh manusia purba yang hidup di zaman modern. Tetapi saya tidak peduli. Saya tetap berpegang pada prinsip bahwa apa yang saya lakukan adalah berdasar atas nilai-nilai agama yang tidak bisa diubah dengan alasan apapun, termasuk alasan emansipasi dan modernitas sebuah masyarakat.

Dengan prinsip seperti itu, sebenarnya saya melihat jurang yang membentang antara keberadaan saya dan keberadaan Ita Martina, sehingga diam-diam pun saya merasa bahwa bagaimana pun itikad saya terhadap Ita Martina, toh Allah tidak akan ridla, karena perbedaan yang membentang di antara kami. Ada dua hal yang sangat prinsip dari keberadaan saya yang jauh berbeda dengan Ita Martina: yang pertama, dia bekerja di sebuah bank yang, menurut keyakinan saya adalah suatu pekerjaan haram karena bank tergolong lembaga keuangan pelaksana sistem riba. Yang kedua, dia kos dan jauh dari pengawasan orang tuanya, yang dengan alasan apapun saya anggap bertentangan dengan prinsip saya. Karena itu, diam-diam saya mendoa kepada Allah agar dalam tempo tidak terlalu lama Ita Martina mengemukakan penolakannya atas saya, sehingga saya tidak akan dibelit oleh problem yang lebih rumit di kemudian hari; dan saya pun berdoa agar dia secepatnya kawin dengan pacar yang setara dengannya.
Kalau saya menentang kekolotan orang-orang tradisional, maka kekolotan yang saya maksud bukan kekolotan nilai-nilai statis yang juga saya tentang. Yang saya tentang adalah kekolotan mereka dalam ilmu pengetahuan. Bayangkan, saya pernah berkonsultasi dengan seorang kiai yang menjadi guru saya dalam nahwu dan sharaf, yang menurut saya sangat menakjubkan kepandaiannya. Tapi betapa kecewanya saya, ketika beliau menegaskan sikap bahwa beliau tidak percaya kalau ada manusia yang bisa pergi keluar angkasa apalagi ke bulan. Beliau itu mengajukan dalil-dalil al-Qur’an yang menurut saya ditafsirkan dan dipahami secara picik.
Saya kira ketidaksamaan pandangan saya tentang makna kekolotan dengan kaum tradisional maupun kaum modernis sangat jelas sekali. Karena itu, saya seperti berada di tengah-tengah pertentangan dua kutub yang saling pengaruh-mempengaruhi di mana saya tidak hanyut pada salah satu kutub meski saya sendiri lahir dan berproses di kutub tradisional. Saya menilai bahwa kalangan tradisional tidak mau menerima kemajuan dalam ilmu pengetahuan dengan tetap berkukuh pada paham tradisional, sementara kaum modernis terlalu sok modern dan menolak setiap bentuk tradisionalisme. Dan saya sering menyayangkan kesenjangan dua kutub yang tidak mau saling mengisi itu.
Saya sendiri sering harus kebingungan dalam menentukan sikap, terutama dalam menetukan tempat berpijak. Saya pun pada gilirannya memutuskan untuk tidak berpihak pada salah satu kutub. Saya akhirnya harus dihadapkan pada kenyataan untuk melangkah sendiri berdasar pada keyakinan saya sendiri. Saya sudah mempersetankan pertentangan khilafiyah yang saya anggap hanya pertentangan yang sia-sia. Saya punya prinsip bahwa bagaimana pun saya harus berdiri di bawah panji-panji tauhid tanpa peduli pada bendera-bendera lain, apakah bendera tradisional atau bendera modern. Biarlah saya dituduh sebagai manusia individualistis yang tidak mempedulikan kepentingan golongan. Biarlah semua menuduh saya egois. Yang jelas saya sudah bersumpah dalam hati akan terus berusaha dan berjuang sekuat tenaga menegakkan panji-panji tauhid meski dengan risiko dikucilkan dari pergaulan dan dianggap sebagai orang senewen.
Dengan keyakinan saya untuk berjuang di bawah panji-panji tauhid, sekarang ini saya merasakan memperoleh hikmah yang amat mendalam, yaitu dengan terbukanya suatu hijab misterius di dalam diri saya sehingga saya dapat menjangkau perbendaharaan rahasia ruhani saya yang telah dibekalkan oleh Allah. Bahkan karena terbukanya perbendaharaan rahasia ruhani saya itu, maka kesadaran saya pun tersingkap, meski dengan pandangan kesadaran itu, saya akan semakin dianggap sebagai manusia sudrun yang aneh dan penuh ke-sudrun-an.
Dunia yang saya pijak kayaknya adalah dunia yang serba bertolak belakang dengan dunia masyarakat umum di dalam memaknai hakikat kebenaran. Ketika saya ungkapkan pendapat saya itu kepada orang-orang di sekitar saya bahwa saya mencintai Allah dan berusaha mencari-Nya, mereka serentak marah dan menuduh saya sudrun yang mengalami kesudrunan. Mereka mengharapkan saya mencintai seorang perempuan dan segera menjadikannya istri agar saya bisa beranak-pinak sebagaimana layaknya makhluk dari spesies manusia. Dan ke mana-mana saya bertanya tentang cinta, orang-orang selalu menjawab bahwa mereka mencintai anak, istri, jabatan, gundik, harta, kemewahan, sanjungan, dsb…dsb. Tetapi, ketika ruh di makam Syaikh Maulana Malik Ibrahim menanyai saya dan saya katakan secara jujur bahwa saya masih belum mencintai Allah, maka dia menganggap saya masih melakukan syirik dengan mencintai yang "gair" daripada Allah. Kenyataan demi kenyataan itu tentu saja membingungkan saya, sampai akhirnya sekarang ini sirr-i-Asrar di pedalaman saya mengungkapkan bahwa apa yang saya lakukan dengan mencintai perempuan-perempuan seperti Sayempraba Susilo- wati, Nia Hartini, Ita Martina, Anggelia, Diah Perwita Sari, Evi Ratnani, dsb., pada dasarnya hanyalah sebuah bias dari hakikat cinta sejati saya yang melenceng dari arah yang benar, yang membuat saya terpesona oleh keindahan semu yang fana. Dan hati saya benar-benar menjadi kecut ketika saya mendapati jawaban dari ruh yang mulia, bahwa mencintai "gair" dari Allah adalah tergolong perbuatan syirik.
Dengan seringnya saya berkomunikasi dengan diri saya lewat perbendaharaan rahasia ruhani saya itu, justru membuat orang-orang semakin melihat saya telah semakin tenggelam ke dalam ke-sudrun-an yang makin sudrun. Itu mengakibatkan saya menjadi malas untuk berbicara dengan orang lain, karena banyak dari omongan saya yang tidak bisa mereka pahami bahkan sering kali mereka salah menafsirkan semua omongan saya. Karena saya tidak suka konflik dan perdebatan yang bersifat debat kusir, maka saya lebih suka diam atau mengalah dalam setiap persoalan. Mungkin, begitu pikir saya, saya memang benar-benar senewen dan ruuh yang pernah saya temui itu hanya jin yang menjelma dan yang menyeret saya ke dalam samudera ke-gila-an raya.

Untuk menghindari hal-hal yang mudlarat, saya memutuskan untuk lebih baik menghindar dari persinggungan masyarakat sekitar daripada timbul friksi yang tidak saya kehendaki. Dengan berbagai cara saya berusaha untuk menolak hadirnya orang-orang yang ingin mengangkat saya sebagai guru atau sekadar sahabat ruuhaninya. Saya hanya merasa bisa mengekspresikan pengalaman spiritual saya lewat tulisan-tulisan yang kadang-kadang saya buat sedemikian rupa konyolnya dalam koran-koran lokal dan majalah-majalah picisan.
Dalam kenyataan yang berkaitan dengan sirr-i-Asrar di relung pedalaman jiwa saya, saya menjadi sadar bahwa selama ini saya telah berbuat dzalim terhadap diri saya sendiri. Saya sadar, betapa selama ini saya suka mengobral kata-kata cinta kepada setiap perempuan yang saya taksir yang tujuannya tidak lain dan tidak bukan hanyalah sebagai inspirasi bagi tulisan-tulisan imajinatif Saya. Dan apa yang saya lakukan dengan mengeksploitasi mereka ke dalam tulisan-tulisan imajinatif saya, maka saya merasa telah berbuat dzalim terhadap nafs saya.
Akhirnya, dengan sepenuh kesadaran saya memutuskan bahwa saya tidak boleh lagi bermain-main dengan perempuan-perempuan meski untuk alasan karya-karya fiksi imajinatif saya. Saya tidak perlu harus berbohong lagi dengan menyatakan cinta kepada perempuan-perempuan yang saya dekati demi hidupnya tokoh-tokoh dalam tulisan saya. Bahkan andaikata saya nanti kawin, maka saya akan melarang istri saya mencintai saya; sebab saya menghendaki seorang istri saya yang patuh dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya; Saya menghendaki istri yang memiliki religiusitas tinggi dan hidup dalam suasana yang religius yang gerak langkahnya ditentukan oleh aturan agama; sehingga dia akan menjadi sinyal pengaman bagi saya apabila saya melakukan perbuatan yang menyimpang dari tuntunan agama.
Saya tahu dengan keputusan saya itu, saya akan dianggap aneh dan edan. Tapi saya tetap yakin bahwa di dunia ini apa yang disebut cinta adalah sesuatu yang nisbi, karena hakikat kesucian dan keabadian cinta dibatasi oleh ruang dan waktu. Karena itu, betapa seringnya cinta yang menggebu-gebu menjadi luntur bersama merentangnya jarak dan waktu atas orang- orang yang saling mencinta.
Semakin Saya gali sifat dan sepak terjang saya, semakin saya peroleh bukti bahwa di dalam diri saya sebenarnya mengalir sifat iblis yang begitu misterius dan sulit saya ketahui keberadaannya kalau saya tidak mempelajari secara tersendiri akan hakikat dzat dan sifat iblis. Itu sebabnnya, saya akan berusaha sekuat daya dan upaya untuk menghindar dari manifestasi ke-iblis-an yang memancar dari alam bawah sadar saya. Sementara saya juga melihat banyak manusia di sekitar saya yang tanpa sadar telah menjadi iblis berwujud manusia dalam makna yang utuh, yang celakanya mereka tidak pernah menyadari semua itu.
Saya sendiri menjadi kagum dengan berbagai kejadian yang saya lewati. Betapa Sirr-i-Asrar Saya menyaksikan realitas-realitas yang tergelar di alam semesta ini sudah diatur sedemikian rinci dan rapinya secara sistematik. Kehidupan yang satu dengan kehidupan yang lain terangkai begitu rupa dalam hukum yang tak berubah. Setiap gerak dari objek-objek yang ada, pada dasarnya sudah diatur sedemikian rupa, sehingga saya berkesimpulan bahwa alam semesta ini sudah diciptakan dan sudah diatur secara sempurna; hanya pemandangan nisbi manusia terhadap objek-objek saja yang membuat munculnya pandangan bahwa alam tidak sempurna. Dan pandangan semacam itu pula yang mengatakan bahwa al-Qur’an tidak memuat hukum-hukum yang terang bagi alam semesta ini; padahal al-Qur’an adalah manifestasi dari Ilmu Allah atas alam semesta beserta rahasianya; al-Qur’an adalah yang dzahir dan yang batin.
Dalam kurun yang sangat lama, saya memang beranggapan bahwa al-Qur’an adalah buku suci yang dibatasi oleh kalimat, kata, huruf, dan kaidah-kaidah kebahasaan. Dengan demikian setiap orang menyebut al-Qur’an, maka secara otomatis di otak saya selalu terbayang sebuah buku tebal yang sering saya baca dan dibaca umat Islam. Tetapi sekarang ini saya benar-benar melihat bahwa di balik kitab kecil yang dibatasi kalimat, kata, dan huruf itu, sejatinya terangkum rahasia besar alam semesta yang luas tanpa batas.

Karena di dalam al-Qur’an tersembunyi rahasia agung alam semesta, maka keberadaan al-Qur’an dalam kehidupan manusia pun bersifat universal. saya kira hanya al-Qur’an saja satu-satunya kitab yang untuk membaca dan memaknainya tidak dibatasi oleh faktor usia, status, kedudukan, derajat, dan pengotak-kotakan manusiawi yang lain. Al-Qur’an boleh dibaca oleh siapa saja di antara laki-laki, perempuan, anak-anak, remaja, sampai orang tua bangka, dari kepala negara sampai pengemis dan gelandangan serta pedagang kaki lima, dari yang kaya sampai yang kere, dari yang berkulit putih sampai yang berkulit hitam; bahkan secara batin, al-Qur’an dibaca pula oleh kalangan jin dan malaikat. Untuk yang terakhir ini tentu saja belum bisa saya buktikan, karena saya belum pernah bertemu jin atau malaikat.
Di lain pihak, karena al-Qur’an memuat rahasia alam semesta, maka al-Qur’an pun tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dia boleh dibaca kapan saja, di mana saja, oleh siapa saja, dan didengar oleh siapa pun yang mendengar. Dan al-Qur’ an adalah satu-satunya buku yang secara fantatis yang paling banyak dihafal dan dibaca oleh umat manusia sepanjang hampir 15 abad bahkan mungkin sampai akhir zaman. Ayat-ayat al-Qur’an senantiasa dibaca orang dalam setiap detik, menit, dan jam tanpa henti, baik sebagai bacaan maupun hafalan, baik dalam beribadah shalat maupun dalam kehidupan sehari-hari; sehingga sejak al-Qur’an diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW, al-Qur’an tidak pernah berhenti dibaca oleh manusia barang satu detik pun.
Saya memang pernah punya pikiran konyol untuk memasukkan prestasi al-Qur’an yang menakjubkan ini ke dalam Guinness book of the record. Tetapi pikiran itu segera saya tindas karena Sirr-i-Asrar di dalam diri saya mengatakan bahwa sebuah kebenaran tidak perlu dipamer-pamerkan, karena kebenaran itu ibarat mawar; tidak pernah mawar mempropagandakan wanginya, tetapi wangi itu sendiri yang semerbak ke mana-mana membius kumbang dan kupu-kupu. Al- Qur’an adalah al-Qur’an; hakikat samudera memuat bahtera, tetapi juga hakikat bahtera memuat samudera pula; al-Qur’an adalah al-Qur’an; yang nisbi memuat yang mutlak tapi yang mutlak memuat yang nisbi pula; Dia Dzahir dan batin, Dia Wujuud-i-Muthlaq sekaligus Wujuud-i-Dhaafi.

Menjelang lebaran dunia terasa guncang, khususnya dunia orang-orang di sekitar saya. Saya melihat baik keluarga saya maupun tetangga saya sibuk membeli pakaian, mengecat rumah, berhutang sana-sini, sampai menggadaikan barang-barang untuk keperluan menyambut lebaran. Tetapi, suasana menjelang lebaran itu pula yang diam-diam saya rasakan ikut mengguncang ketenangan Saya dalam berakrab-akrab dengan diri saya sendiri. Bahkan karena keterguncangan saya, maka tanpa saya sadari bahwa saya telah terperangkap ke dalam ke-sudrun-an demi ke-sudrun-an yang selama ini telah dengan sekuat tenaga saya hindari.
Kisahnya, ketika malam takbir sedang berlangsung, di mana anak-anak beramai-ramai mengumandangkan takbir baik di masjid, mushalla, berbaris di jalan kampung dengan membawa obor, dan di atas truk-truk dengan membawa tetabuhan, tidak jauh dari rumah adik saya, saya lihat beberapa orang anak muda sedang menari-nari mengikuti irama dangdut sambil menenggak minuman keras. Ketika mereka melihat saya, dengan segera salah seorang dari mereka mendekat sambil menyodorkan segelas minuman ke arah saya.
"Mari Mas Sudrun, minum, sekadar penghormatan!" kata salah seorang anak yang bernama Badebor yang rambutnya dibabat habis pada kedua bagian samping kepalanya dengan menyisakan kucir panjang seperti ekor tikus.
"Wah, maaf, saya tidak minum," kata saya mengelak meski dada saya terasa panas karena tersinggung diajak mabuk-mabukan.
"Satu gelas saja, Mas, untuk penghormatan hari raya," katanya mendesak.
Didesak seperti itu saya mulai naik darah. Tapi saya tidak ingin terjadi ribut-ribut meski dada saya sudah hampir meledak karena dipenuhi keinginan untuk menghanjar mereka. Tiba-tiba saja saya memiliki gagasan untuk memberi pelajaran pada mereka. Gelas minuman yang disodorkan kepada saya segera saya sambar. Kemudian dengan cepat saya tempelkan bibir gelas itu ke bagian bawah bibir saya. Lalu gelas berisi minuman keras itu saya balikkan sehingga isinya tumpah membasahi dagu dan leher serta dada saya.
Saya yakin anak-anak yang tertawa-tawa melihat gelas menempel di bibir saya itu menganggap bahwa saya telah menenggak minuman yang mereka tawarkan. Padahal, isi gelas itu saya tumpahkan ke bawah hingga membasahi dagu, leher, dada, dan perut saya, termasuk baju yang saya kenakan. Kemudian gelas saya kembali- kan, dan saya pun berpura-pura jalan sempoyongan seperti mabuk.
"Tambah lagi Mas Sudrun!" pekik mereka keras. "Saya pulang dulu sebentar, nanti saya balik lagi,"
sahut saya sekenanya.
Anak-anak slebor itu tertawa terbahak-bahak melihat langkah saya yang terhuyung-huyung sempoyongan. Tapi saya tidak peduli. Saya berjalan terus sempoyongan seperti akan tumbang ke depan. Dengan langkah tergesa-gesa saya masuk kamar mandi dan mencelupkan kepala saya ke bak mandi. Saya tuang air dan sabun. Saya bersihkan bagian leher dan dada saya dengan sabun untuk menghilangkan bau alkohol yang membuat kepala saya sedikit pusing.
Setelah saya ganti pakaian, buru-buru saya mengambil bubuk kecubung yang saya simpan di plastik kecil di lemari. Bubuk kecubung itu saya buat enam bulan yang lalu ketika saya mengerjai anak-anak yang minum-minuman keras di dekat rumah kawan saya. Sekarang ini, anak-anak gila yang mabuk-mabukan di dekat rumah adik saya akan saya hancurkan habis-habisan karena mereka telah memaksa saya untuk mengerjai mereka.
Saya tahu pasti keampuhan bubuk kecubung yang saya bawa. Karena itu, dengan berpura-pura ikut di dalam arena per-minum-an keras itu, diam-diam saya memasukkan bubuk kecubung ke dalam baskom yang mereka pakai mencampur berbagai macam minuman keras dari tuak, malaga, whisky, sampai jenewer. Saya hanya ikut bertepuk-tepuk tangan mengiringi tubuh anak-anak muda yang sudah mabuk itu mengikuti irama dangdut. Kalau mereka menawari saya minum segera saya tolak dan saya keluarkan uang agar mereka membeli makanan kecil.
Belum lewat waktu setengah jam mendadak saya melihat satu demi satu di antara mereka yang menenggak minuman keras itu terkapar di tanah. Mereka mengomel, mengigau, berteriak-teriak dengan igauan-igauan dan teriakan-teriakan kata-kata dan makian yang jorok.
Ke-sudrun-an saya mendadak memuncak ketika saya mendapati banyak di antara mereka yang terkapar berkelojotan di tanah. Saya mengambil baskom di atas meja. Kemudian saya kencingi baskom itu. Sambil mengaduk-aduk minuman keras oplosan yang sudah bercampur dengan air kencing saya, saya tuangkan oplosan segar itu ke dalam mulut mereka satu demi satu. Saya melonjak-lonjak kegirangan setelah mulut mereka mencuap-cuap seolah menenggak dan minuman lezat dari surga. Bahkan banyak di antara mereka itu yang memuntahkan kembali minuman yang saya suapkan itu bercampur aneka jenis makanan. Setelah saya anggap cukup, satu demi satu celana mereka Saya lepasi sampai tubuh bagian bawah mereka telanjang.
Dengan tertawa dalam hati saya tinggalkan anak- anak muda yang sudah mabuk kepayang itu. Saya bayangkan, tubuh mereka akan dikerubuti semut, nyamuk, kecoak, dan bahkan tikus. Saya tidak bicara kepada siapa pun tentang ke-sudrun-an yang sudah saya lakukan itu sebagaimana hal serupa pernah saya lakukan sebelumnya. Saya hanya menganggap bahwa anak-anak bengal itu memang pantas menenggak minuman oplosan durgawi ramuan saya, karena di neraka pun mereka akan minum cairan yang lebih buruk dari itu.
Saya sendiri sebenarnya sangat jengkel dengan munculnya tradisi-tradisi di sekitar lebaran yang lebih banyak mudlaratnya ketimbang manfaatnya. Entah berapa banyak kerugian yang timbul dalam menyambut hari lebaran dengan alasan utama sekitar kepuasan diri dan pengumbaran nafsu itu, di mana masyarakat menganggap bahwa tradisi lebaran yang meliputi mudik ke kampung, berpakaian baru, berkunjung dari rumah ke rumah, berziarah kubur, menyulut petasan, sampai minum-minuman keras dianggap sebagai ibadah wajib. Orang seperti merasa menanggung dosa apabila tidak mudik ke kampung, tidak ziarah kubur, tidak menyulut petasan, tidak saling berkunjung ke rumah kerabat. Ya, sebuah institusi baru yang disakralkan yang disebut lebaran itu makin lama makin melembaga dan makin menancapkan akarnya dalam masyarakat sebangsa Saya.
Saya sendiri memang tidak bisa melepaskan diri sama sekali dari tradisi sekitar lebaran. Buktinya, saya masih sempat membuat selembar kartu ucapan selamat lebaran yang saya layangkan kepada Ita Martina. Tapi kartu lebaran itu saya buat sendiri dengan warna yang saya campur dengan air ludah saya. Saya kirim ke dalam amplop yang saya lekatkan dengan air ludah Saya juga.
Terus terang, saya memang tergolong jorok. Tapi semua itu saya lakukan karena kemalasan saya. Dan kartu lebaran yang saya buat untuk Ita Martina, terpaksa saya bubuhi dengan air ludah karena saya malas untuk mencari wadah apalagi air ledeng yang mengandung bahan-bahan kimia itu bisa merusakkan warna saya. Sekalipun begitu, jangan keburu meng- anggap ludah saya sebagai sebuah penghinaan: sebab saya yakin nilai air ludah saya lebih mahal dibanding air biasa.
Air ludah saya memang cukup berharga, terutama bagi mereka yang menganggap saya sebagai dukun. Sering saya dapati orang datang meminta jampi-jampi kepada saya agar sakitnya bisa sembuh. Ada yang sakit asma, liver, jantung, tekanan darah tinggi, sampai sakit gigi dan borok. Saya sendiri sebenarnya tidak mau bertindak seperti dukun, tetapi orang-orang dengan nada memaksa dan merengek-rengek meminta agar saya bersedia mengobati mereka. Akhirnya, saya pun dengan apa adanya mencoba mengobati mereka. Biasanya mereka saya beri air putih segelas dan saya bacakan surat al-Fatihah tiga atau tujuh kali. Tetapi mereka belum puas sebelum gelas itu saya ludahi. Walhasil, saya harus banyak-banyak minum air supaya air ludah saya tidak habis karena banyaknya orang yang minta air ludah saya.
Saya tidak pernah peduli apakah orang yang sudah pernah minum air bercampur air ludah saya bisa sembuh atau malah mati. Sebab saya sendiri tidak melihat apapun dari keistimewaan air ludah saya. Hanya saja, saya pernah meludahi borok seorang anak, dan dalam tempo dua hari borok itu sembuh. Saya berpikir mungkin air ludah saya mengandung sejenis virus sehingga virus di borok anak yang sakit itu dilahap oleh virus lain yang membentuk koloni dan kraton di mulut saya. Nah, karena itulah maka saya malah menganggap bahwa kartu lebaran yang saya buat dengan air ludah saya itu sebagai suatu bentuk penghormatan saya terhadap Ita Martina, meski diam-diam saya menjadi jijik sendiri kalau mengingat proses pembuatan kartu lebaran tersebut.
Balasan kartu lebaran dari Ita Martina saya terima sepekan setelah lebaran. Isinya singkat, lugas, padat, dan agaknya dibuat di komputer. Kartu lebarannya warna biru dan ada tulisannya "Selamat Idul Fitri, Maaf lahir batin." Dan selembar surat dengan huruf ketik besar semua, isinya sebagai berikut:
Membalas suratmu yang lalu!
Terima kasih atas segala uraian sifat-sifat dan lain pendapatmu tentang aku. Sekali lagi terima kasih. Tapi maaf… yang pasti sudah tentu kutolak maumu! Marah? Maaf sekali lagi jika kamu tersinggung. Ini permintaanmu kan? Jawaban yang tegas dan jelas. Dan ini kurasa adalah jawaban yang jelas, bukan jawaban khayalan atau mimpi-mimpi, kawan.

Krghxyz… kruighvxch… kluuixzvheui… krauxxhfvz... krrgh. Cobalah kamu mulai berpikir dalam kenyataan. Jangan berkhayal. Jangan sok berkhayal dan mimpi. Berpikirlah yang waras. Bercerminlah, sehingga kamu bisa membedakan monyet dan orang, jadi sudrunlah dirimu sendiri, jangan melibatkan aku. Aku hanya mendoa agar kamu beroleh jodoh yang sepadan dengan kamu dalam segala hal! Klekrrhgxi…grekxchvig…kurr....
Kluwwerxgh…Cuhxfveisk…Klerrxvexkf.... Terima kasih… bingkisannya, dan sudah saya buang di bak sampah…Krrkxvh…Sorry ya kalau ada omonganku…nggak berkenan… Nbnbnb Nggak usah telepon atau kirim surat lagi! Bedddhesss… ellexx!
Aduh sadis bener! Seru saya sambil membayangkan sosok Ita Martina yang melangkah seperti robot dari planet asing. Kesan saya bahwa Ita Martina adalah gadis dari planet asing yang tidak memiliki keromantisan dan kelembutan ternyata terbukti benar.


Tapi dengan penolakannya yang sadis itu, anehnya tidak membuat saya sedih atau marah. Sebaliknya, saya ketawa terpingkal-pingkal setelah menyadari bahwa Ita Martina tampaknya memang bukan jodoh saya. Sebab gadis bionic yang saya bayangkan berasal dari planet asing itu, sudah sewajarnya akan memilih laki-laki yang cocok dengan keberadaannya. Maksud saya, laki-laki yang pantas dan cocok untuk bionic woman seperti Ita Martina, pastilah laki-laki super yang memiliki kekuatan adikodrati seperti Superman, Batman, Spiderman, Incredible Hulk, Captain America, Godam, Gundala, atau sedikitnya The Six Million Dollar Man. Ya, hanya manusia-manusia luar biasa seperti tokoh-tokoh super itulah yang cocok menjadi pendamping Ita Martina, di mana kalau sampai tidak menemukan laki-laki serba super itu, saya yakin pasti bahwa Ita Martina seumur hidup tidak akan menikah.
Yang justru saya anggap aneh dan tidak wajar adalah kiriman kartu lebaran yang datang dari Nia Hartini, gadis melankolik kenalan saya yang terperangkap menjadi istri tukang kredit. Dalam kartu lebaran itu dia masih mengungkapkan, betapa dia masih sering merasa tersiksa karena tidak lagi bisa menikmati keakraban bersurat-suratan dengan saya. Dia, begitu tulisnya, masih sering menantikan kehadiran surat-surat saya. Tentu saja ungkapan itu saya anggap edan dan tidak wajar, sebab bagaimanapun dia adalah istri orang meski suaminya tukang kredit.
Nia Hartini, saya kenal ketika saya membuka-buka surat yang masuk ke rubrik "kontak jodoh" di koran lokal "Java Pop". Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu saya berbuat curang dengan menyabot suratnya. Saya sendiri tidak tahu kenapa saya menjadi tertarik setelah membaca isi suratnya dan fotonya. Padahal saya tahu bahwa dia tidak begitu cantik, meski saya bisa menebak kalau dia tergolong perempuan yang gampang diajak kencan dan enak dipacari.
Dari kekurangajaran saya itulah akhirnya Nia Hartini menjadi mabuk kepayang dengan surat-surat saya yang menurutnya amat puitis. Tanpa melihat siapa saya, dia langsung menyatakan jatuh cinta. Dan kami pun bercinta-cintaan lewat surat meski saya merasa bahwa saya lebih banyak memperalat dia sebagai sosok tokoh dalam cerita-cerita imajinatif yang saya buat. Dari berbagai pengakuannya yang tulus dalam surat- surat yang dikirim kepada saya, isinya kalau dirangkum sebagai berikut:
"Ketahuilah, Sudrun, bahwa saya mengirimkan surat ke biro jodoh di koran lokal "Java Pop" ketika saya berputus asa. Sampean mesti sudah tahu dari isi surat yang saya buat, bahwa saya baru saja patah hati, karena pacar saya kawin dengan gadis lain. Padahal kami sudah berpacaran bertahun-tahun ketika saya sekolah menari di Sekolah Tinggi Tari di Surabaya."
"Saya sendiri tidak tahu, kenapa keluarga saya tidak setuju dengan dia yang saya cintai dan saya sayangi itu. Yang jelas, saya baru tahu kalau ketidak-setujuan keluarga saya terhadap dia, karena dia tergolong manusia kotor alias tidak bersih lingkungan karena bapaknya orang PKI. Saya tahu bahwa keluarga saya menyayangi saya, sehingga hubungan saya diputus begitu saja, karena keluarga saya menyadari bahwa ketidakbersihan pacar saya dari lingkungannya itu akan menjadi virus yang menular bagi keluarga saya. Tapi sungguh saya sesalkan, kenapa orang tua saya justru mengait-kaitkan hubungan cinta kami dengan politik, padahal saya tahu persis hubungan cinta kami suci murni dan ditanggung tidak disusupi ideologi apapun."
"Mungkin pacar saya kecewa dengan sikap keluarga saya, sehingga dia memutuskan untuk kawin saja dengan gadis lain. Saya menjadi sakit hati dan kecewa. Bahkan saya merasa dendam terhadap pacar saya yang menyerah begitu saja pada keputusan sepihak keluarga saya. Padahal, saya sudah bertekad untuk lari bersama dia kalau dia mau; saya akan membayangkan diri saya seperti Roro Mendut dan dia sebagai Prono Citro. Tapi semua pupus manakala ia memilih untuk menikahi gadis lain yang tidak lebih cantik dari saya."
"Selama tiga tahun lebih saya putus asa dan mengurung diri di kamar. Setelah luka hati saya agak sembuh, saya baru menyadari kalau usia saya sudah semakin meningkat. Ya, usia saya sekarang ini sudah 23 tahun. Suatu usia yang cukup memenuhi syarat untuk disebut perawan tua di kampung saya yang terletak di daerah pedesaan. Oleh karena saya tidak mau disebut perawan kasep alias perawan yang tidak laku jual, iseng-iseng saya memasukkan surat ke rubrik biro jodoh koran."

"Saya mengharap, dengan memasukkan diri saya ke biro jodoh, akan berdatangan surat-surat dari sekian banyak lelaki. Saya berharap satu di antara mereka akan menjadi suami saya. Tetapi siapa yang menduga kalau yang hadir di pangkuan saya bukan puluhan atau ratusan surat, melainkan sepucuk surat dari sampean yang dikenal sebagai manusia bernama Sudrun."
"Saya tidak mengerti, kenapa saya mendadak menjadi terbius oleh surat sampean. Saya seperti tersihir oleh kalimat yang sampean susun yang saya rasakan seperti jaring-jaring laba-laba penjerat sukma saya. Bahkan yang saya herankan, sekalipun saya tidak pernah ketemu dengan sampean, tetapi saya memastikan bahwa saya sebenarnya sudah terjerat oleh benang- benang cinta sampean. Saya merasa bahwa saya kasmaran dengan sampean. Sumpah mati, saya kasmaran!"
"Entahlah, sekarang ini saya merasakan cinta saya amat lain dengan cinta yang pernah saya rasakan terhadap pacar saya tempo dulu. Saya merasakan bahwa cinta saya terhadap sampean begitu murninya sehingga sering saya memimpikan sampean benar-benar hadir dalam kehidupan saya. Saya bayangkan sampean memiliki sayap yang putih gemerlapan dan mengajak saya terbang ke gugusan awan putih di angkasa, lalu kita berdua menikmati percintaan di tengah keluas-bebasan alam semesta."
"Kalau saya membaca surat-surat sampean, maka saya selalu mengkhayalkan bahwa sampean tentu laki-laki yang agresif. Saya bayangkan kalau sampean datang ke rumah saya, sampean akan merayu dan mengajak saya untuk berkencan. Saya bayangkan sampean akan menggandeng tangan saya. Saya bayangkan sampean akan merangkul tubuh saya dengan penuh kehangatan. Saya bayangkan sampean akan menciumi saya dengan ganas. Dan saya pun akan membalas kehangatan yang sampean berikan pada saya. Saya bayangkan, tubuh sampean dan tubuh saya akan terbakar oleh api birahi. Lalu kita terbakar dalam api asmara yang berkobar-kobar sampai kita meleleh seperti gelali."
"Tetapi saya benar-benar kecewa, setelah ketemu muka dengan muka dengan sampean. Sebab, sampean ternyata tidak lebih dari seorang lelaki pendiam yang tidak bisa bicara leluasa seperti kalau sampean menulis. Jadi, saya selalu merasa serba salah. Sebab, kalau saya memulai gempuran saya terhadap sampean, maka saya takut dituduh sebagai gadis yang binal dan rakus. Saya tentu saja tidak ingin disebut gadis yang binal dan rakus oleh sipapun, apalagi sampean yang bilang begitu. Ya, ya, akhirnya saya harus puas berkasih-kasihan dengan sampean lewat surat, karena saya sadar bahwa saya tidak mungkin mendesak sampean untuk mengawini saya sebagaimana sangat saya inginkan."
"Jujur saya akui, bahwa saya sendiri tidak tahu, kenapa saya begitu senang sampean memperlakukan saya sebagai kekasih di dalam mimpi dan khayalan sampean. Padahal, jauh di libuk jiwa saya terdalam senantiasa muncul keinginan agar sampean buru-buru datang ke rumah saya, dan melamar saya. Saya benar-benar rindu kepada sampean sebagai laki-laki yang bisa saya raba, saya peluk, saya ciumi, dan saya permainkan seperti bola bilyar. Ya, saya bayangkan sampean menggelinding seperti bola bilyar dan saya sebagai mejanya; betapa keras dan cepatnya saya bayangkan bola sampean menggelinding dan memasuki lobang-lobang yang ada di atas meja saya."
"Ketahuilah, o Sudrun, sekalipun saya hanya bercinta dengan sampean lewat surat, tetapi saya sebagaimana kekasih yang lain, memiliki perasaan cinta dan cemburu kepada sampean. Buktinya, suatu ketika saya pernah naik kendaran umum dan ketemu dengan seorang perempuan cantik yang saya lihat membawa kliping tulisan sampean. Iseng-iseng saya bertanya kepada dia, apakah dia penggemar sampean. Ternyata dia meng-iya-kan dan mengaku banyak tahu tentang sampean. Dia bicara macam-macam tentang sampeyn dari A sampai Z seolah-olah dia adalah istri sampean."
"Saya sadar, bahwa saya tidak punya hak untuk cemburu kepada sampean. Tetapi ketahuilah, Sudrun, bahwa saya menjadi begitu cemburu waktu menyaksikan sampean dibicarakan oleh perempuan lain selain saya. Saya merasa tidak rela ada perempuan yang mengetahui sampean lebih dari saya. Karena itu, Sudrun, dalam kendaraan itu saya hampir saja menangis dan menjambak rambut perempuan itu; saya ingin memukuli wajahnya yang ayu supaya penyok dan pencong sehingga sampean tidak bisa lagi mencintainya. Tapi saya segera sadar, bahwa saya tidak punya hak untuk melakukan tindakan itu."
"Dengan hati penasaran saya mencari tahu siapa perempuan itu. Saya bahkan sempat tanya kepada sampean tentang dia. Jawaban sampean benar-benar membuat hati saya panas. Saya masih ingat waktu sampean bilang, bahwa perempuan ayu itu mungkin kekasih sampean yang minggat meninggalkan sampean."
"Aduh, betapa mangkelnya hati saya atas jawaban sampean itu. Tapi saya segera sadar, bahwa bagaimanapun saya tidak punya hak untuk marah kepada sampean, karena saya tahu sampean memang Sudrun yang hidup penuh ke-sudrun-an. Oleh karena itu, sekalipun saya sadar bahwa diri saya sudah ketularan sudrun sampean, tapi toh saya tidak ingin tenggelam utuh ke dalam ke-sudrun-an sampean yang tak dapat saya bayangkan batasnya."
"Ketahuilah, o Sudrun, bahwa saya sebagai manusia yang masih normal sering merindukan belaian dan dekapan mesra lelaki. Sampean sendiri yang begitu saya rindukan dan saya dambakan, ternyata hanya bisa saya gapai dalam khayal dan impian lewat surat-surat dan telepon. Sementara kerinduan saya untuk dibelai dan didekap lelaki makin lama saya rasakan makin menerkam jiwa saya. Saya sering merindukan bisa menimang-nimang bayi yang lahir dari perut saya. Saya benar-benar merindukan anak dan suami dalam arti yang utuh dalam kenyataan."
"Akhirnya, Sudrun, dengan jujur saya mengaku pada sampean bahwa diam-diam saya telah mengkhianati sampean. Diam-diam saya telah menjalin hubungan akrab dengan seorang lelaki bernama Darwanto, seorang karyawan bank kredit. Saya sadar bahwa saya tidak mencintai dia. Tapi saya juga sadar bahwa saya butuh belaian dan dekapan laki-laki. Dan Darwanto, saya anggap sebagai lelaki yang pas untuk melakukan peran itu."
"Ketahuilah, o Sudrun, bahwa saat dia sedang mencumbu saya, saya selalu memejamkan mata. Saya selalu membayangkan bahwa yang mencumbu saya bukan Darwanto, melainkan sampean. Aduh, saya bayangkan sampean menjadi seekor biawak yang melata di atas tanah berumput, di mana tanah berumput itu saya bayangkan adalah tubuh saya. Saya bayangkan biawak Sudrun menelusuri bukit-bukit, lembah dan ngarai curam di tubuh saya. Saya bayangkan biawak Sudrun memasuki lubang-lubang gua di tubuh saya. Dan saya masih diliputi khayal dan ketakjuban kepada sampean ketika kedua orang tua Darwanto datang ke rumah saya untuk melamar saya. Saya pun masih mengkhayal dalam ketakjuban terhadap sampean ketika Darwanto mengawini saya."

SHARE:

Comments

Recent Posts

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH)

Matahari sudah menggelinding sembilan kali di langit Bombay ketika keanehan lelaki tua yang belakangan saya ketahui bernama Chandragupta menerkam jiwa saya. Keanehannya rasanya

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT)

"KALAU MAU MENCARI ALLAH, BELAJARLAH DARI IBLIS!"Seperti ledakan halilintar bisikan misterius itu menggedor otak dan dada saya yang membuat seluruh jaringan darah di

Lebaran 2011ku

Lebaran 2011ku

pengalaman itu tak selamanya menjadi guru yang terbaik. Pagi-pagi pulang dari kerja aku langsung ke stasiun gambir untuk membeli tiket kereta buat mudik, tapi ternyata semua

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

"Kalau engkau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!”Bagai kilatan cahaya petir, bisikan misterius itumembentur gugusan telinga batin saya tanpa dapat

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Malam hitam membentang diwarnai jutaan bintang yang meneteskan embun bagai langit menitikan air mata membasahi semesta. Keheningan mencekam seolah-olah menidurkan rerumputan

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEBELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEBELAS)

Malam hitam jernih dengan jutaan bintang bertaburan laksana pelita semesta dibentangkan di atas permadani semesta. Dalam hening berjuta-juta wangi mawar menaburi bumi bagai

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA)

"Kalau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!"Bisikan misterius itu kembali mengganas sepertimenjebol dinding-dinding otak saya. Namun karena kebetulan saya

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Ramadhan dan lebaran selain tentang hal puasa dan mudik juga sebagai pemantik kenangan saat bulan puasa dan lebaran tahun sebelum-sebelumnya. Itulah yang dirasakan Rahwana