Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA BELAS)

  • 2018-09-28 10:16:38
  • 478

Angin bertiup kencang menaburkan hawa maut ke segenap penjuru bumi. Gelombang samudera menggemuruh dengan suara ombak berdentum-dentum menggempur batu karang yang tegak menjulang di tengah amukan badai. Sepintas suara ombak terdengar bagai gemuruh beribu-ribu kereta api melintasi terowongan. Sementara titik-titik air berhamburan diterbangkan angin bagaikan jutaan anak panah lepas dari beratus ribu busur prajurit sakti.
Di tengah angin yang menderu-deru menggetari empat penjuru, saya tegak berdiri di tepi samudera luas yang menghampar hitam seperti tanpa batas. Saya termangu dicekam kerinduan hendak pulang ke kampung halaman, tapi saya lihat tidak ada satu pun kemungkinan bagi saya untuk bisa melampiaskan kerinduan saya. Entah apa yang terjadi, saya sekarang ini benar-benar seperti manusia miskin papa yang tidak memiliki apa-apa dan tanpa daya. Jangankan uang sepersen saya tidak lagi memegangnya, bahkan paspor dan visa saya pun sudah hilang begitu saja tanpa saya ketahui ke mana semuanya itu pergi. Saya tidak melihat kemungkinan untuk bisa pulang kembali dengan cara yang baik. Saya bayangkan kelebatan-kelebatan petugas imigrasi dan polisi datang menangkap dan memenjarakan saya karena saya tidak memiliki secuil pun identitas diri.
Beberapa jenak dengan perasaan ragu-ragu saya menatap gugusan bintang yang bertebaran seperti melekat dengan garis cakrawala yang menyatukan langit dengan lautan. Saya seperti tidak melihat garis cakrawala yang memisahkan langit dan lautan. Semua gelap pekat. Batas cakrawala hanya diterangi bintang-bintang yang bersinar redup ditutupi kabut. Saya sadar bahwa sekali saya salah melangkah, akan lenyaplah saya ditelan kekelaman malam yang menyatukan langit dan lautan. Saya tidak melihat secuil pun bayangan kapal atau perahu. Sementara desakan rasa rindu makin terasa menyayat-nyayat hati saya. Semakin saya tahan kerinduan yang menggelegar di relung-relung jiwa saya, semakin liar amukan rindu mengoyak–ngoyak keutuhan jiwa saya.
Dengan pikiran dan perasaan mengambang di tengah kerisauan, saya menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit kelam dengan pantulan cahayanya di lautan. Gemerlap bintang itu berkedip-kedip bagai meneteskan air mata seolah ikut merasakan kepedihan jiwa saya yang dikoyak-koyak kerinduan tak tertahan.
Ketika pikiran dan perasaan saya sudah mengambang dan menerkam gemerlap gugusan bintang-gemintang yang mencekam kerinduan, tiba-tiba saya merasakan ada sesuatu yang menarik tubuh saya kebawah. Secara ajaib, jutaan bintang saya lihat menghambur memasuki mata saya. Apakah yang sedang terjadi pada diri saya? Saya mengerdip-kerdipkan mata untuk menyingkirkan bayangan buruk yang menyergah kesadaran saya. Tetapi semuanya mendadak berantakan seperti diterpa badai. Saya merasakan tubuh saya terus ditarik ke bawah dengan kekuatan dahsyat. Dan antara sadar, saya merasakan tubuh saya melorot ke bawah dengan kesadaran makin melemah. Sepersekian detik saya merasakan seperti memiliki sayap yang bisa membawa terbang ke angkasa tetapi sepersekian detik pula merasakan sayap itu tidak berguna karena tubuh saya ternyata terus tertarik ke bawah dengan sangat cepat.
Saya merasakan alam di sekitar saya mendadak kosong. Keheningan dan kehampaan terasa mencekam seluruh alam. Sejauh mata memandang hanya hamparan hijau keputih-putihan yang membentang luas tanpa batas cakrawala. Saya mendadak merasakan tubuh saya seperti diikat di sebuah tonggak batu yang tegak kukuh di tengah hamparan luas. Sementara di kejauhan saya mendengar hiruk suara-suara seperti orang berceloteh di tengah gelombang suara seperti gemuruh dengung berjuta-juta lebah.
Saya meronta merasakan ikatan-ikatan semacam jaring laba-laba menjerat sekujur tubuh saya. Tapi aneh, semakin saya meronta kuat semakin erat ikatan jaring laba-laba itu menjerat tubuh saya sehingga napas saya menjadi sesak. Akhirnya saya tidak bisa meronta lagi. Saya biarkan tubuh saya melemas dijerat ikatan tali-temali gaib yang seperti jaring laba-laba itu. Anehnya, ketika saya tidak meronta, ikatan jaring itu makin mengendor dari tubuh saya dan saya merasa semakin terbebas dari semacam ikatan belenggu yang menyiksa. Lalu antara sadar, saya merasakan seberkas cahaya di cakrawala berkelebat menelan tubuh jiwa saya sehingga saya terlontar ke suatu dimensi yang sangat asing, di mana saya hanya melihat hamparan samudera luas tanpa gelombang dengan gemerlap cahaya berpendarpendar di mana-mana.
Saya termangu di pinggir samudera cahaya yang bagai tanpa batas itu. Namun saya menjadi terkejut ketika seberkas cahaya germerlapan mengelebat dari segala penjuru bagaikan beribu-ribu anak panah bercahaya yang menghunjam ke tubuh jiwa saya. Saya masih terperangah penuh takjub ketika kumparan cahaya itu menyatu dalam satu wujud, membentuk silhouette yang makin lama makin mewujud dalam bentuk mirip manusia.
Dengan penuh pesona saya pandangi silhouette mirip manusia bercahaya yang berdiri dalam jarak sejangkauan di depan saya itu. Dari wajahnya memancar kilatan cahaya yang berkilau-kilau seperti kilatan halilintar yang menyilaukan. Saya semakin takjub ketika mendapati sosok manusia bercahaya itu bentuk rupa dan wujud sempurnanya sangat mirip dengan saya, tetapi dia jauh lebih gemerlapan dengan pancaran cahaya agung yang menyejukkan. Sungguh, saya tidak syak lagi bahwa perwujudan manusia di depan saya itu adalah pantulan cermin dari bayangan saya. Namun yang aneh, ia tampak tidak tampan tidak pula jelek, tidak hidup tidak pula mati, tidak bergerak tidak pula diam. Sungguh, perwujudan bayangan saya yang bercahaya itu sangat aneh.
Ketika manusia bercahaya agung yang aneh mirip saya itu merentangkan tangan, saya bertanya dengan heran, "Siapakah sampean ini? Apakah saya sudah mati?"
Manusia aneh bercahaya gemerlapan itu bergerak-gerak dalam keadaan diam bagai hendak mengatakan sesuatu. Dari tubuhnya mendadak memancar getaran suara hati yang menjalari kesadaran jiwa saya. Anehnya, saya merasakan bahwa saya bisa menjalin komunikasi dengannya. Dia dengan tegas mengatakan bahwa saya belum mati. Dan yang membuat saya heran, dia mengaku sebagai saya yang bernama "Saya."
"Bagaimana mungkin Saya ada dua?" tanya saya penuh heran dan kecurigaan, "Jangan-jangan sampean yang mengaku Saya adalah setan yang akan menyesatkan saya."
"Engkau adalah "aku" yang bersumber dari kalam "KUN" yang dijadikan "Aku" oleh "Khalaqtu biya dayya." Tetapi aku adalah "Aku" di dalam dirimu yang terangkai dari kalimat "Minal hayyu'lladzi laa yamutu ila'l hayyu'l ladzi la yafuutu" yang bersumber dari "Nafakhaa fihi min ruuhihii."
"Ketahuilah, wahai Saya, bahwa di dimensi ini engkau tidak akan lagi melihat banyak "aku" yang mengaku-aku. Engkau hanya melihat adanya dua "aku" yang bersemayam dalam ke-aku-anmu dan keAku-anKu. Dan sekarang ini, hanya kita berdua yang mengatakan "aku". Dan kalau engkau mau, kita akan menuju ke hadirat "AKU" yang tunggal yang terangkai dalam kalimat Inni Ana'llaaha laa ilaaha ila ana."
"Di manakah "AKU" Tunggal itu berada?" tanya saya penuh rasa ingin tahu.
"Nahnu aqrabu ilaihi min habli'l wariid (QS. alQouf: 16), bahwa Dia lebih dekat Ada-Nya daripada urat lehermu. Kalau engkau masih sadar akan makna ke-ruang-an dan ke-waktu-an, maka engkau dan aku masih sampai ke tahap WILAAYAH dari TAJALLIYAH yang merupakan manifestasi dari makna Lima Allaahu waqtun laa yasani fihi maliki muqarrabun walaa nabi-i-mursalun. Tetapi tetaplah sadar bahwa makna di atas adalah keserangkaian dari makna Maa'arafnaaka haqqa ma'rifaatika yang dibatasi oleh makna Lan taraanii (QS. al-A'raaf: 143). Pada tahap inilah segala ke-aku-an akan musnah dan yang ada hanya AKU yang tunggal yang memanifestasi dalam makna Laa ilaaha illa'Llaah. Pada tingkat itulah engkau akan menyadari secara sempurna akan makna Aj'ala'laalihata ilaahaw waahid (QS. Shaad: 5), apa yang membuat Tuhan itu Allah Yang Maha Esa."
Seusai berkata-kata manusia bercahaya itu melesat ke gugusan angkasa yang tinggi, di mana tubuhnya seperti memiliki daya magnit luar biasa menyedot saya, sehingga saya pun melesat terbang mengikutinya. Saya merasakan melesat terbang dalam kecepatan supersonik yang mungkin secepat kecepatan cahaya yang
300.000 kilometer per detik. Namun di tengah kecepatan menakjubkan itu, saya mendadak merasakan luncuran tubuh-jiwa saya berhenti di suatu dimensi yang asing yang merupakan satu kesatuan tak terpisah. Manusia bercahaya itu memancarkan cahaya bagai kilatan petir dari sekujur tubuhnya.
"Di manakah kita sekarang ini, wahai Saya?" "Inilah Bahr-i-Wujuud yang tersembunyi dalam makna Dzaat-i-Mutlaq. Kalau kita terjun ke dalam-nya, maka kita akan sampai pada WILAYAAH. Di wilayah itulah kita akan tenggelam ke dalam hakikat Li'llaah-Bi'llah-Fi'llaah. Di wilayah inilah tercakup rahasia hakikat Qurb-i-Faraayad dan Qurb-i-Nawafil."
"Seorang salik yang bodoh apabila sampai pada tahap wilayah ini akan segera melompat ke Barh-iWujuud dan akan mengatakan Al-Wilayaatu Afdhalun mina'n-Nubuwah, bahwa wilayah itu lebih afdal daripada kenabian. Padahal ketika itu dia sedang terhisap oleh ke-aku-an dirinya sendiri. Dia ketika itu di-aku-i oleh Rabb-nya sendiri tetapi belum diakui Rabbu'l-Arbaab. Maka demikianlah perjalanan menuju "AKU" yang tunggal itu sangatlah penuh dengan jebakan halus yang teramat halus."
"Apakah Bahr-i-wujuud itu Dzat Tuhan?"
"Bagi sebagian salik memang memaknai begitu, di mana setelah mereka menenggelamkan ke-aku-annya ke dalam Bahr-i-Wujuud, maka mereka merasa telah fana dan menganggap telah bersatu dengan Tuhan. Padahal dia hanya fana di dalam Rabb-nya sendiri dan bukan di dalam Rabbu'l Arbaab. Pelarutan ke-aku-an ke dalam Bahr-i-Wujuud itulah yang oleh sebagian salik disebut istiqraa' yang justru dimaknai keliru oleh mereka."
"Proses istiqraa' ini bisa memanifestasi dalam berbagai cara. Ada istiqraa' yang dicapai dengan penancapan konsentrasi sedemikian rupa terhadap hakikat sirr sehingga selama beberapa detik orang akan melihat bayangan Bahr-i-Wujuud. Salik yang bodoh akan sudah merasa puas dengan istiqraa' berdetik-detik di bayangan Bahr-ul-Wujud itu. Dan ketahuilah, bahwa keadaan istiqraa' yang dangkal itu sering melintas begitu saja di mana saja dan kapan saja dalam kesan salik bodoh."
"Apakah kita akan terjun ke dalam Bahr-i-Wujuud dan fana di dalamnya?"
"Ketahuilah, o Saya, bahwa sekali kita terjun ke dalam Bahr-i-Wujuud, kita akan tenggelam ke dalam Tajjali-i-Ruuhanii di mana kita akan mendapat kenikmatan dan kepuasan tak terbatas setelah kita menyingsingkan diri dari Bahr-i-Wujuud tersebut. Di sinilah, kita akan tercekam oleh suatu daya rahasia untuk menyatakan 'Ana'l Haqq' setelah melihat semua melarut ke dalam takhta. Di situlah kita akan dipengaruhi oleh kualitas-kualitas dari nafs kita kembali seolah virus yang menebar secara diam-diam. Di situlah kita akan terperangkap pada dualitas ke-aku-an di mana nafs kita akan cenderung meneguhkan keunggulannya dari manusia lain."
"Oleh sebab itu, o Saya, kalau kita sudah menganggap bahwa kita lebih tinggi dalam maqam daripada orang lain, maka kita pun akan cenderung melangkah ke jalan yang menjauh dari-Nya, di mana kita akan diaku-i oleh Rabb kita sendiri tetapi dikutuk oleh Rabbu'l Irabb. Dan karenanya, kita sebaiknya menunggu di tepi Bahr-i-Wujuud ini sampai datang rahmat dan hidayah Allah, sehingga kita atas perkenan-Nya akan dibukakan tirai HIJAAB dari Bahr-i-Wujuud, dan kita akan menuju Tajallii-i-Rahmanii dengan kesadaran "Araftu Rabbi bi Rabbi."
"Apakah yang disebut Tajallii-i-Rahmaanii?"
"Mendaki (uruuj) sab-a samawaatiin thibaaqa sehingga gunung nafs kita menjadi lebur seperti Sinaa'i ketika Nyala Api Tuhan muncul di atasnya. Di situlah keberadaan salik akan lebur bagaikan Gunung Sinaa'i yang lebur dan tidak menemukan bentukya semula."
Berjuta-juta kilatan halilintar dan petir tiba-tiba menyambar kesadaran saya. Suara gemuruh mengerikan laksana mahasamudera banjir, tiba-tiba menelan saya. Pendengaran saya terasa pecah. Penglihatan saya serasa buta. Lidah saya kelu. Mulut saya terkunci. Semua jaringan indera saya meledak dan meletus. Saya hanya merasa bahwa apa yang saya alami saat ini adalah suatu hari kehancuran yang mengerikan. Saya merasa seperti sabut kelapa diaduk-aduk gelombang samudera yang mengamuk.

Kekacauan mengerikan itu terus berlangsung menghamburkan kengerian dan ketakjuban raya. Sungguh, ini suatu pengalaman yang sebelumnya tak pernah terjadi di dunia dan tidak pernah pula saya alami. Anehnya, di tengah kekacauan yang menggetarkan itu, tiba-tiba cakrawala yang kacau-balau tersingkap seperti tirai hijab yang menyibakkan ke-satu-an Bahri-Wujuud di mana saya merasakan suatu kenikmatan luar biasa yang tak tergambarkan dengan kata-kata dan bahasa manusia.
Beberapa jenak kemudian, saya merasakan seolaholah berdiri di suatu hamparan biru terang kehijauan yang membentang luas tanpa batas. Entah apa yang terjadi, saya merasakan betapa tubuh-jiwa saya telah hilang dan saya tinggal menjadi saya dengan tubuh jiwa yang bercahaya. Seperti mimpi saya tegak sendirian termangu-mangu penuh ketakjuban.
Pemandangan yang terhampar di depan saya benar-benar menakjubkan seperti dalam mimpi. Entah bagaimana kejadiannya, di kaki saya telah terhampar planet-planet dari tata surya yang membentang sedemikian rupa indahnya seperti butiran mutiara bercahaya. Tetapi sewaktu saya terpesona memandangi pemandangan menakjubkan itu, tiba-tiba muncul di depan saya sosok manusia yang indah sekali dengan cahaya gemerlapan menyilaukan.
"Siapakah manusia menakjubkan ini?" tanya saya dalam hati dengan takjub.
Seperti tahu apa yang saya pikirkan, bayangan manusia bercahaya yang menakjubkan itu menjawab dalam bahasa tanpa kata-kata, yang jika diungkapkan dalam bahasa manusia kira-kira seperti ini, "Aku adalah Hajiibur-i-Rahmaanii pengejawantahan dari Nuur-iRahmanii. Engkau di sini adalah pantulan dari Shuurati-r-Rahmaan. Akulah Hajiibur Rahmaan yang menghalangimu dari Ar-Rahmaan."
"Apakah arti semua ini?" tanya saya heran.
"Engkau adalah Majdzuub. Engkau adalah Shurati-r-Rahmaan yang terhisap ke hamparan suci takhta Ar-Rahmaan, di mana sekarang ini engkau berada di depanku, Hajib yang menjaga pintu Nuuri-Rahmaanii."
"Apakah yang disebut Ar-Rahmaan?"
"Tiadalah aku tahu akan hakikat ar-Rahmaan, sebab pengetahuanku tiada lain hanyalah mengenai Nuur-iRahmaanii, yang hal itu pun sedikit sekali."
"Terangkan kepadaku akan makna Nuur-iRahmaanii, wahai Hajiib!"
"Nuur-i-Rahmaanii adalah Cahaya tanpa lampu dan tanpa sumbu. Dia memancar sekaligus menarik. Dia memancarkan keindahan-Nya, tetapi keindahanNya itu sekaligus menarik penglihatan-Nya. Keindahan yang dipancarkan-Nya itulah yang disebut JAMAAL yang senantiasa melingkupi JALAAL dalam manifestasi, sehingga setiap nafs yang merupakan 'Ayn dari Nuuri-Rahmanii akan terhisap kepada hakikat Jamaal ibarat anai-anai terhisap cahaya lampu. Tetapi iblis, sebagai manifestasi dari Ism Mudziil dari Ar-Rahman senantiasa membelokkan tarikan dari Nuur-i-Rahmaanii, sehingga nafs sering tertarik pada pesona bendawi yang bersifat 'Adum."
"Ketahuilah, bahwa Nuur-i-Rahmaan dalam manifestasi Jamaal adalah mutlak sehingga semua yang tercipta akan tertarik oleh hukum-Nya untuk kembali ke sumbernya yang termaktub dalam hukum Kullu syai'in yarji'uu 'alaa ashiihii. Oleh sebab itu, Shuraati'rRahman adalah wujuud yang "mumkin" yang tergantung seutuhnya kepada Nuur-i-Rahmaanii."
"Camkan bahwa dzat dari benda-benda adalah 'adum (hampa), yang adalah ghair (yang lain) dari Wujuud-i-Muthlaq. Karena itu yang 'adum senantiasa terproses dalam hukum Bal hum fii labsin min khalqin jadiid (QS. al-Qaf: 15) yang melewati tahap hukum Kullu syai'in haalikun illa wajhahu (QS. al-Qashash: 88). Dengan demikian, betapa maha berat dan maha rumitnya shuraat-i-rahmaan kembali ke Wujuud-iMuthlaq dari Dzaat-i-Bahat yang merupakan hakikat Wahdah dari Ar-Rahmaan."
"Apakah proses itu yang disebut mati?"
"Ketahuilah, bahwa apa yang disebut mauut adalah berubahnya nafs menjadi wahdah karena hukum Tanazzul dan Taraaqqi yang diterakan bagi hakikat Jamaal dari Nuur-i-Rahmaanii. Dengan begitu, maka huruf THAA'-MIM-NUN-NUN yang merangkai hakikat Nafs Lawwamah-SufliyyahAmmarah-Muthma'innah terhisap ke dalam Wahdah, sehingga huruf THAA'-MIM-NUN-NUN tersebut menjadi huruf WAU. Nah di situlah rentangan kata MUTHMA'INNAH akan terbaca MAUUT karena huruf-huruf Thaa'-Mim-Nun-Nun telah berubah menjadi huruf Wau yang berarti Wahdah."
"Ada berapa tahapkah ke-mati-an itu?" "Ketahuilah, bahwa setiap yang memiliki nafs pasti
akan mengalami mati. Dan ketahui pula, bahwa bendabenda di alam semesta ini adalah tercipta dari nafs, sehingga semuanya akan mengalami kebinasaan, yakni nafs-nya akan terhisap ke dalam Wahdah. Oleh karena itu, kematian selalu bertingkat-tingkat bagi setiap benda sesuai dimensi ruang dan waktu yang melingkupinya. Seekor nyamuk, dalam dimensi manusia mungkin akan mati dalam waktu sepekan. Seekor virus dalam dimenci manusia mungkin akan mati dalam waktu dua menit. Dan bumi dalam dimensi manusia akan mati dalam waktu berjuta-juta tahun, demikian juga semesta alam akan mati di suatu dimensi tak terukur yang hanya dibatasi dengan sebutan Yaumu'l-Akhiir."
"Apakah yang disebut matinya bumi?" "Ketahuilah, bahwa yang disebut matinya bumi adalah saat memadatnya magma di dalam bumi, sehingga bumi akan kehabisan gravitasinya. Dengan memadatnya magma di perut bumi, maka bumi akan dingin dan gravitasinya habis dengan akibat terhapusnya kehidupan di seluruh permukaannya. Ketika itulah, seluruh manusia dan hewan yang melekat  akibat hukum gravitasi, akan berhamburan dan beterbangan bagai bulu yang ditebarkan (QS. al-Qaria'ai: 1-5)."
"Apakah kejadian itu pernah dialami planet lain di tata surya ini?"
"Kalau engkau membanding-bandingkan gravitasi antara planet satu dan planet yang lain, maka engkau akan mengetahui bahwa seluruh planet memiliki gravitasi yang berbeda-beda, yang semuanya tergantung pada aktif dan tidaknya magma yang ada di planet tersebut."
"Ketahuilah, bahwa proses habisnya panas planet akibat membekunya magma yang berakibat berkurangnya daya gravitasi itu akan berlangsung secara berangsur-angsur dengan berbagai hukum alam yang mengikutinya. Proses pendinginan magma bumi, akan selalu diikuti terjadinya gempa-gempa di kulit bumi, yang hukum tersebut merupakan peringatan bagi manusia yang mau berpikir."
"Ketahuilah, bahwa proses mendinginnya magma bumi itu akan memiliki pengaruh kuat pada kehidupan manusia, terutama pengaruh pada perubahan kejiwaan. Ketika bumi sedang berangsur-angsur menuju pemadatan magma dengan akibat berkurangnya daya gravitasi, maka manusia pun akan terserap ke nafs lawwamah-nya. Artinya, manusia akan benarbenar menjadi "aku" dari unsur tanah yang merupakan manifestasi ke-aku-an mutlak yang hanya mengenal dirinya sendiri (QS. al-Abasa: 34-37)."
"Keadaan itu akan didahului oleh melemahnya naluri yang dipancarkan Nuur-i-Rahmaanii untuk kembali ke asal. Manusia ketika itu sudah kehilangan sifat Rahmaan dan Rahiim-nya sehingga ibu-ibu lupa pada bayi susuannya, bayi-bayi dalam kandungan digugurkan, dan manusia hidup tak tentu arah ibarat manusia mabuk (QS. al-Hajj: 1-2). Karena itu, di akhir usia bumi nanti manusia tidak ingat lagi akan Rabbnya, sehingga ingatan mereka akan Tuhan dan alQur'an serta tuntunan moral terhapus sama sekali di mana proses menuju saat itu senantiasa ditandai oleh semakin biadab dan gilanya manusia, sehingga engkau akan mendapati orang-orang membunuh anak, istri, dan saudara hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Dan begitulah, ketika tahap yang paling menentukan dari habisnya gravitasi bumi akan ditandai gununggunung yang berguncangan memuntahkan magma, samudera tumpah ruah ke angkasa dengan batu dan pasir beterbangan (QS. al-Muzammil: 14)."
"Apakah usaha manusia dalam menguras kekayaan alam dari perut bumi akan mempercepat proses mendinginnya magma bumi, yang berarti mempercepat proses habisnya gravitasi bumi?" tanya saya ngeri.
"Sesungguhnya manusia tidak mendapatkan apa-apa selain apa yang mereka usahakan. Akan hal kematian bumi ini juga tak lepas dari usaha-usaha mereka menguras isi bumi. Tapi engkau mesti ingat bahwa manusia tidak akan bisa diberi petunjuk dengan ilmu, sebab Tuhan sudah menetapkan hukum yang pasti, di mana keberadaan bumi di tengah hamparan jagad raya yang bersuhu 273 derajat celcius di bawah nol ini, makin lama akan semakin padat dan dingin. Dengan demikian, saat kematian bumi pasti akan datang sebagaimana kematian alam semesta yang juga akan datang sesuai waktunya. Dan apa yang diuraikan dalam kitab suci pada hakikatnya adalah hukum yang dengan terang menjelaskan Kalaam-i-Nafsii dari alam semesta ini dalam wujud kalaam-i-lafdzii."
"Apakah sekarang ini proses memadatnya magma bumi sedang berlangsung?" tanya saya dengan hati galau digetari kengerian, "Sebab saya melihat kebiadaban manusia sudah menjadi pemandangan biasa di dunia. Saya juga melihat orang-orang berebut menambatkan diri pada unsur-unsur bendawi."
Hajbu'r-rahmaan tidak menjawab pertanyaan saya. Dia diam sesaat, tetapi kemudian saya melihatnya mengangakan mulutnya. Saya terkejut, karena sebuah pemandangan menakjubkan secara ajaib tergelar di depan saya, di mana mulut Hajibu'r-Rahmaan mendadak saja berubah menjadi selebar cakrawala. Bahkan dengan ukuran mulut sebesar itu, dia akan sanggup menelan bumi dan planet-planet yang terhampar yang besarnya tak lebih dari jeruk dan bola bowling.
Saya masih termangu takjub ketika menyaksikan di dalam rongga mulut Hajbu'r-Rahmaan terpampang sebuah pemandangan memilukan, di mana pada relung-relung keremangan yang menggelap terlihat sosok perempuan tua renta yang terkapar lemah dengan luka-luka memenuhi sekujur tubuhnya. Mata perempuan itu sangat redup seperti api pelita hendak padam. Darah mengalir di hampir seluruh tubuhnya, bahkan dari sudut bibirnya menetes darah segar. Napas perempuan itu tersengal-sengal seperti hendak putus. Sementara kedua tangannya yang keriput dan gemetaran menangkup di dada, menggenggam sebatang tongkat hitam, sehingga tongkat itu pun tampak timbul dan tenggelam seirama napasnya.
Melihat keadaan perempuan yang demikian menyedihkan itu, tanpa sadar saya menggumam, "Siapakah perempuan malang itu, wahai Hajibu'rRahmaan?"
Hajibu'r-rahmaan mengatupkan kembali mulutnya. Sekilas cahaya mengelebat dari wajahnya, kemudian dengan tenang dia menjawab dengan bahasa tanpa kata, "Dia adalah bumi yang sudah menjelang sekarat. Beberapa saat lagi dia akan mati memasuki kehampaan di perutku. Dan sekarang ini dia sedang menggelinding di dalam mulutku, menunggu ajal."
"Hajiib… Hajiib," seru saya mendadak ketakutan, "Saya tahu sampean adalah hakikat ruang dan waktu yang memanifestasikan Abi'l Waqt. Tapi izinkanlah saya masuk ke dalam diri sampean, sehingga saya bisa mati sebelum bumi mati."
"Ketahuilah, bahwa segala sesuatu sudah tertulis secara pasti di Lauh-Mahfudz. Tidak akan terjadi sesuatu yang tidak harus terjadi. Dan setiap kejadian sudah ditetapkan dengan pasti waktu, tempat, dan caranya. Oleh sebab itu aku tidaklah kuasa menentang hukum yang sudah diterakan oleh Huwa-RahmaanRahiim-Malik-Al-Qudusy. Bahkan bumi yang menggelinding di dalam mulutku ini pun bukanlah atas kehendakku, melainkan atas kodrat hukum yang bergerak sendiri oleh kuasa-Nya."
"Tetapi melihat keadaan bumi yang sedang sekarat, saya kira percuma saja saya kembali menjadi penghuninya, karena begitu saya kembali ke bumi maka bumi akan mati dan saya pun ikut mati. Wahai Hajiib, saya bukan takut mati. Saya hanya takut mati dalam kekufuran, karena Rasulullah SAW sudah menyatakan bahwa siapa yang mati di hari kehancuran, maka dia mati dalam kedzaliman karena ketika itu tak satu pun manusia yang ingat akan Rabb-nya. Bahkan dengan uraian sampean tadi tentang matinya bumi, saya semakin yakin bahwa saat mengerikan itu pasti terjadi tidak lama lagi."
"Janganlah engkau khawatir," kata Hajibu'rRahmaan menimbulkan getaran menggemuruh, "Sesungguhnya waktu di sisi Tuhan tidaklah sama dengan waktu di bumi sebab sehari di sisi Tuhan adalah seperti seribu tahun dari tahun bumi (QS. al Hajj: 47). Oleh sebab itu, janganlah engkau khawatirkan dirimu akan binasa bersama hancurnya bumi. Sebab di saat bumi mati, engkau sudah lama mati terlebih dahulu."
Saya merasa agak lega dengan uraian Hajibu'rRahmaan. Tetapi yang tetap menjadi obsesi saya adalah uraiannya mengenai proses mendinginnya bumi yang mempengaruhi kejiwaan manusia. Dengan kenyataan itu, saya dituntut untuk mengetahui cara-cara bagaimana saya bisa menghindari pengaruh menipisnya gravitasi yang membuat manusia menjadi makhluk paling egois dan paling biadab melebihi binatang. Sebab proses tersebut berlangsung secara diam-diam dan tidak ada yang menyadari untuk menghindari segala kemungkinan, saya pun kemudian bertanya, "Adakah suatu cara untuk menghindari pengaruh mendinginnya bumi sehingga saya tidak terpengaruh menjadi makhluk biadab?"
"Bukankah Islam sudah menetapkan shalat dan zakat sebagai keseimbangan jiwa?" sahut Hajibu'rRahmaan, "Apakah engkau selama ini belum memahaminya?"
"Saya tidak mengerti," sahut saya polos, "Saya hanya merasa bahwa shalat dan zakat hanyalah suatu upacara ritual dalam rangka menyembah Alllah."
"Ketahuilah, bahwa apabila seluruh umat manusia di atas bumi melakukan shalat semua, maka kekuasaan Allah tidak bertambah sedikit pun, begitu juga andaikata seluruh umat manusia tidak ada yang mendirikan shalat, maka kekuasaan Allah tidak akan berkurang sedikit pun. Sebab segala apa yang di langit dan di bumi menyatakan keagungan Allah (QS. alHadiid: 1)."
"Ketahuilah, bahwa shalat dan zakat sebenarnya rahasia Ilahi yang diturunkan melalui Rasulullah SAW yang merupakan Khatamin-Nabiyyin. Ketahuilah, bahwa saat Nabi Adam menjadi penghuni bumi, gerakan-gerakan shalat yang dijalankan sebagaimana yang dilakukan oleh umat Muhammad SAW belum diberlakukan. Allah hanya menetapkan peribadatan-peribadatan dengan cara mempersembahkan sesuatu kepada-Nya sebagaimana yang diajarkan kepada anak-anak Adam."
"Apakah gerakan-gerakan shalat yang sedemikian rupa itu memiliki kaitan erat dengan masa kematian bumi?" tanya saya menyimpulkan, "Sebab dalam perjalanan mi'raj yang dialami Rasulullah SAW beliau melihat bumi sebagai perempuan yang sudah tua bangka."
"Mahasuci Allah dengan hukum-Nya yang haq." "Apakah rahasia di balik gerakan–gerakan shalat
yang demikian itu?" tanya saya ingin tahu.
"Ketahuilah ketika orang berdiri tegak, maka itu memaknai hakikat lambang huruf Aliif. Ketika orang ruku' maka orang memaknai hakikat lambang huruf Lam. Dan ketika orang sujud memaknai hakikat lambang huruf Ha'. Dengan demikian, rangkaian gerak dari shalat sebenarnya adalah lambang huruf Allah."
Tetapi ketahuilah, bahwa gerakan-gerakan shalat: qiyam-ruku'-i'tidal–sujud–jalsah–sujjud-jalsah akhir itu tidak saja merupakan peribadatan nafs-nafs terhadap Khaliq-nya, tetapi berfungsi pula untuk menetralisasi kutub-kutub magnit dan medan listrik yang tersembunyi di dalam tubuh manusia dari tarikantarikan gravitasi benda-benda langit. Sebab dengan berangsur-angsurnya melemahnya gravitasi bumi sebagai akibat kondensasi magma, maka benda-benda langit seperti matahari dan rembulan akan bertambah daya tarik menariknya terhadap bumi di mana hal itu amat berpengaruh terhadap kejiwaan manusia. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan orang melakukan shalat pada waktu Subuh, Dzuhur, Ashar, Magrib, dan Isya pada setiap harinya. Begitu pun Allah selalu mensunnahkan shalat apabila terjadi gerhana matahari maupun bulan, karena dua benda langit tersebutlah yang paling banyak mempengaruhi jiwa manusia bumi, yang pengaruhnya hanya bisa dinetralisasi dengan geraka-gerakan shalat yang benar yang penuh penyerahan dan konsentrasi kepada Allah."
"Sejak kapankah gerakan shalat seperti yang dilakukan kaum muslimin dilakukan?"
"Sejak Nabi Ibrahim."
"Apakah benda-benda langit memang memiliki sifat untuk saling tarik menarik?"
"Itulah sunnatullah yang sudah dipaterikan Allah atas sifat semua materi, sehingga materi satu dengan materi yang lain selalu ditandai kecenderungan untuk saling tarik menarik satu sama lain. Dengan demikian, tertariknya seorang perempuan terhadap laki-laki juga disebabkan oleh faktor materi yang memilki kesamaan yang membentuk tubuhnya, sehingga setiap jodoh dari manusia yang dipasang-pasangkan senantiasa memiliki watak dan sifat yang sama. Dan oleh sebab itu pula, cinta manusia terhadap Tuhan yang bukan materi, amat sulit dimunculkan karena cinta atau ketertarikan itu sendiri memang demikian hukumnya."
"Oleh sebab itu, Allah menetapkan hukumhukum keseimbangan agar manusia dapat kembali kepada hakikat manusia yang sejati yang menggenapi hakikat nafakhtu. Dan hukum tersebut adalah berkait erat dengan pembebasan diri manusia dari unsur materi. Karena itu, Allah mengajarkan cara-cara orang melepaskan materi-materi yang melingkari orang seorang secara bertahap, baik dengan apa yang disebut zakat, infak, jariyah, waqaf, hibah, sampai yang berupa zuhud dan 'uzlah. Dan ketahuilah, bahwa setiap kali terdapat perintah shalat senantiasa diikuti perintah infak atau zakat yang tiada lain adalah manifestasi dari proses pelepasan diri orang seorang dari unsur-unsur materi. Sehingga orang yang shalat tetapi hidup hanya untuk memburu-buru harta serta tertambat hatinya, maka yang demikian itu adalah seibarat orang-orang yang tidak dapat tidak shalatnya yang lalai itu kepada mereka disediakan neraka Wail (QS. al-Maa'uun: 45). Begitulah seyogyanya engkau menilai baik dan tidak baiknya shalat seseorang, hendaknya dinilai dari sejauhmana seseorang itu tidak menambatkan hatinya kepada materi duniawi."
"Akan hal benda-benda langit yang terbentuk dari materi pun, sejatinya memiliki daya tarik menarik antara satu dan yang lain. Tetapi Allah memberikan jarak yang tepat sehingga terjadi keseimbangan (QS. ar-Rahmaan: 7). Dengan jarak yang tepat menurut hitungan Allah, maka benda-benda langit tidak akan bertabrakan menghantam bumi (QS. al-Hajj: 65). Tetapi dari gerakan-gerakan benda langit itu, engkau akan bisa melihat daya tariknya yang dahsyat, seperti daya tarik bulan dan matahari atas bumi yang terlihat dari gerakan kedudukan air laut dalam gejala pasang surut."
Saya kaget dengan uraian Hajiibu-'r-Rahmaan tentang adanya daya tarik-menarik antarbenda. Sebab sewaktu saya masih sekolah, saya pernah memperoleh teori Newton yang disebut Law of Gravitation. Dengan demikian, saya makin yakin bahwa Kitab Suci AlQur'an sejatinya berisi hukum-hukum gejala.
Tiba-tiba saja, seberkas cahaya menyilaukan menyambar tubuh saya, dan saya mendadak saja melihat pancaran kecerahan menerangi pikiran saya. Lalu secara berangsur-angsur ayat demi ayat al-Qur'an berkelebatan memasuki pedalaman pikiran saya dengan bahasa tanpa isyarat tanpa suara, yang jika diuraikan dalam bahasa manusia kira-kira sebagai berikut:
"Tuhan telah menggelar langit dan bumi dalam enam masa (QS. al-A'raaf: 54); Tuhan menggelar langit, bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa (QS. al-Furqaan: 59); Ketahuilah, bahwa di antara enam masa tersebut terjadi "naubah" yang merangkum makna penciptaan semesta dari Tanazzul-Ma'lul-Taraqqi. Dan rentangan dari Tanazzul ke Ma'lul adalah enam naubah yang terbagi dalam enam yaum."
"Ketika Tuhan menggelar langit dengan hakikat "KUN" yang dari "KUN" itu terbentang dukhan. Kepada langit dan bumi itu ditetapkan hukum tanazzul dan taraqqi kepada keduanya, yakni hukum tiup dan hisap (QS. Fushshilat: 11); dari dukhan sebagai sumber materi yang sudah terproses dalam hukum tanazzul-taraqqi, mengalirlah NUR; dari NUR menurun menjadi NAAR; dari NAAR menurun menjadi MAA'A; dari MAA'A menurun menjadi THIIN; dari THIIN menjadi MA'LUL. Dengan demikian, bumi terproses dalam enam tahap sejak dari dukhan hingga menjadi ma'lul dan akan mengalami taraqqi untuk menjadi dukhan kembali. Sementara itu Allah menggelar samaa' (matra langit) tujuh lapis bagi dukhan yang menjadi Nuur dalam dua masa yang di tiap langit yang dekat dihiasi dengan planet-planet," (QS. Fushshilat: 12).
Saya kebingungan dengan uraian ayat-ayat alQur'an yang berkelebatan yang belum dapat saya terima dengan nalar saya, sehingga saya pun bertanya kepada Hajiibu-'r-Rahmaan, "Bagaimanakah, wahai Hajiib, mengenai proses terjadinya langit dan bumi?"
"Ketahuilah, bahwa alam semesta beserta seluruh isinya adalah lahir dari Kalaam-i-'llahi: KUN FAYAKUN yang merupakan makna jarak yang merentangkan ruang dan waktu. Ketahuilah, bahwa telah menjadi hukum Allah bahwa segala yang tercipta di alam semesta senantiasa terproses dalam tujuh tingkat dan tujuh periode. Maka begitulah makna dari KUN pertama ke KUUN berikutnya, sejatinya merupakan rangkaian huruf-huruf dalam tujuh keadaan di dalam lambang huruf KAF-NUN-FA'-YA'-KAFWAU-NUN."
"Ketahilah, bahwa makna tersembunyi dari lambang huruf KAF adalah KALAAM-I-RAHMAAN. Lalu dari KALAAM-I-RAHMAAN muncul NUURI-RAHMAANI yang dilambangkan sebagai huruf NUN. Kemudian dari NUUR-I-RAHMANII muncul FAIDH-I-RAHMAAN dalam makna lambang huruf FA', yang darinya muncul YALAB-I-RAHMAAN dalam makna lambang huruf YA'. Kemudian menjadi huruf KAF yang menyembunyikan makna KAMAALI-RAHMAAN. Kemudian KALAAM-I-RAHMAAN menjadi WAJIDA'-R-RAHMAAN dalam lambang huruf WAU, dan yang terlahir menjadi NAMUUDI-RAHMAAN dalam rangkaian lambang huruf NUN. Dan inilah hakikat batin dari penciptaan alam semesta dari Kalaam-i-Rahmaan hingga ke Namuud-iRahmaan."
"Adapun makna dzahir dari penciptaan alam semesta adalah di saat Allah sebagai harta karun yang tersembunyi (kanzan mahfiyyan) yang memanifestasikan diri-Nya untuk diketahui. Dari Alllah muncullah Nuur dan dari Nuur muncullah Samawaati (bendabenda langit) hingga bumi, di mana Nuur itu ibarat pelita di dalam gelas, dan gelas yang melingkarinya itu adalah KAUKAB (planet) yang diturunkan dari nyala Nuur yang merentang sebagai pohon yang penuh barokah, pohon terang, yang tumbuh tidak di timur maupun di barat (QS. an-Nuur: 35)."

"Ketahuilah, bahwa dari Nuur ke samawati yang jumlahnya tujuh itu baru melewati dua periode. Dengan demikian, dari awal penciptaan yang permulaan sekali adalah SAMAA' yang bahannya dari DUKHAAN (nebula) (QS. an-Nuur: 11). Ini adalah periode penciptaan pertama, di mana SAMAA' ketika itu hanya merupakan dukhaan, dan dukhaan itu digulungkan Allah dengan rangkuman konsep-konsep tentang samaaawaati dan ardl, sehingga dukhaan dengan konsep tersebut menggulung-gulung sesuai hukum Tuhan (QS. Fusshilat: 12). Tahap inilah yang disebut tahap KAWWARA dari kalam Kun."
"Dukhaan yang menggulung tersebut kemudian mengikuti hukum Ilahi sehingga menjadi Nuur yang merupakan sumber dari SAMAAWAATI di mana samaawaati tersebut adalah periode kedua dari tahap penciptaan, di mana Allah menjadikan tujuh samaawaati dan menerangkan hukumnya, dan di sekitar samaawaati itu dengan bintang-bintang cemerlang (QS. Fusshilat: 12). Dan setiap samaawaati berada di tiap-tiap SAMAA' dengan segala hukum yang melingkarinya, sehingga pada setiap samaa' berdiam samaawaati yang dilingkari bintang-bintang dan planet-planet yang terang terpelihara dalam hukum yang pasti (QS. Fusshilat: 12). Tahap penciptaan samaawaati yang pertama itulah yang disebut tahap NUUR dari kalam NUN."
"Samaawaati yang terbentuk di samaa' pertama adalah sebuah bola siraj (pelita) yang maha raksasa yang merupakan sumber dari bahan material alam semesta. Siraj itulah yang amat menyala (QS. an-Naba': 13) yang apabila diukur dengan piranti manusia mungkin nyala pelita yang terang itu sekitar 500.000.000 derajat celcius. Karena siraj tersebut mengikuti hukum Ilahi dengan menggulung terus ke arah pusat, maka titik pusat dari bola siraj yang maharaksasa itu makin panas sehingga terjadi hukum pembalikan dari bias panas, yang keadaan tersebut berupa meledaknya bagian luar dari siraj. Ledakan itulah yang melontarkan materi siraj sehingga terbentuk enam siraj yang lain sehingga jumlah siraj menjadi tujuh, di mana dimensi ketujuh dari siraj tersebut adalah dimensi yang paling kecil."
"Itulah tahap FAQT, yakni tahap pemisahan siraj pertama ke dalam tujuh samaa' sehingga seluruh substansi dan sifat dari setiap siraj di tujuh samaa' tersebut adalah sama. Dan dari ketujuh siraj tersebut berpencar-pencar lagi bermilyar dan bertriliun siraj sehingga dari siraj yang terwadahi dalam ketujuh samaa' tersebut disebut samaawaati. Tahap faqt inilah yang disebut sebagai tahap pemisahan siraj awal ke siraj yang tujuh, yang digambarkan dalam makna Tuhan memanjangkan bayang-bayang-Nya (QS. al-Furqaan: 45). Inilah tahap faqt yang merupakan tahap kedua dari periode terjadinya samaawaati."
"Tiap-tiap siraj itu pun kemudian mengikuti hukum Ilahi yang bergerak sendiri-sendiri. Inilah tahap YASBAHUN di mana masing-masing siraj dan samaawaati dari yang berukuran maharaksasa sampai yang berukuran paling kecil bergerak mengikuti hukum Ilahi. Masing-masing siraj dan samaawaati yang berada di kekelaman samaa' yang memiliki suhu 272 derajat celcius di bawah nol itu pun mulai mengadakan kondensasi, tetapi sesuai dengan hukum Ilahi bahwa di antara panas akan terjadi daya saling tarik-menarik."
"Pada tahap inilah Allah dengan hukumnya memisahkan samaa' yang mewadahi samawaati ke dalam dimensi-dimensi yang saling berbeda jauhnya sehingga terjadi keseimbangan (QS. ar-Rahman: 7), sehingga jarak masing-masing samaa' untuk tiap samaawaati berimbang dan tidak terjadi tubrukan antara satu samawaati dan samawati yang lainya kecuali yang dikehendaki-Nya (QS. al-Hajj: 65). Dengan demikian, setiap samaawaaati yang sedang mengalami proses kondensasi akan memiliki DAIB atau orbit sendiri-sendiri (QS. Ibrahim: 33). Begitulah pada tahap YASBAHUN itu, peredaran masing-masing benda langit ditentukan hukumnya dengan pasti oleh-Nya."
"Periode kelima adalah periode KAWAKIB, yakni periode di mana siraj yang kecil-kecil mulai mengalami kondensasi karena berada di dalam samaa' yang memiliki suhu 263 derajat celcius di bawah nol. Demikianlah samaa' ad-dunya dipenuhi kawakib (planet-planet) yang mengitari siraj ad-dunya (matahari) (QS Asshaffat: 6). Sementara di samaa' yang lain yang dimensinya lebih besar dari dimensi addunya, kumpulan siraj yang berukuran besar dan raksasa itu masih tetap menyala dengan kumpulan siraj yang disebut buruuj (galaksi). Demikianlah pada tiap samaa' akan menyala menurut waktunya sampai yang terjauh dari siraj di samaa' pertama, tetapi yang terdekat di samaa' ad-dunya."
"Periode keenam adalah WAKHALU, yakni periode di mana pada kaukab mulai terjadi tahap subur yang siap menumbuhkan benih kehidupan. Tahap inilah tahap kaukab menjadi Ardl, yakni kulit kaukab sudah tebal dan dibasahi oleh air yang memancar dari perut bumi (QS. an-Nazi'ah: 31). Sementara itu kondensasi Ardl terus diikuti dengan keluarnya cairan panas magma dari dalam Ardl tidak bisa keluar dan dalam kondensasinya selalu mencari tempat keluar sehingga akan merusakkan segalanya dana wujud guncangan gempa."
"Tahap ketujuh adalah periode NAMUUD, yakni munculnya gejala-gejala kehidupan yang oleh alQur'an digambarkan dengan munculnya tetumbuhan (Q.S. al-Baqarah: 22, ar-Ra'd: 3, Thaha: 53, an-Nazi'at
:31, Qaaf:9). Dan begitulah kehidupan mulai muncul, di mana hukum dari penurunan tersebut berlaku dalam semua hal."
"Demikianlah Allah mencipta alam semesta dari tahap samawaati hingga tahap Ardl selama enam periode, kemudian Dia bersemayam di atas arsy (QS. as-Sajadah: 4). Sementara tujuh samaawaati yang berada di tujuh samaa' baru melewati dua periode, dari periode Kawwara ke periode Nuur (QS. Fushsilat: 12)."
"Dari uraian sampean tentang proses penciptaan alam semesta ini, saya makin yakin bahwa ardl atau bumi manusia sedang melewati titik-titik  akhir kondensasinya. Itu berarti, gravitasi bumi semakin lama akan semakin lemah. Tetapi apakah mungkin pada kawwakib yang tergelar di alam semesta ini ada yang mengalami proses kondensasi seperti ardl sehingga ada tetumbuhan, hewan, dan manusia?"
"Hukum Allah adalah tetap dan pasti, maka begitulah hukum itu terus berlanjut dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain ke alam semesta ini. Ketahuilah, bahwa Allah adalah "Daya Kreatif" yang setiap saat mencipta ciptaan-ciptaan baru (QS. al-Qaaf: 15). Dengan demikian, apa yang diyakini orang sebagai tanasukh adalah suatu kepicikan ilmu yang timbul karena orang hanya berpikir dengan fokus bumi dan tak berpikir dalam skala alam semesta."
"Kalau begitu alam ini bersifat kekal?"
"Tiap-tiap sesuatu pasti hancur kecuali wajah-Nya (QS. al-Qashas :88)."
"Saya tahu bahwa semua akan hancur, tetapi semua tidak pernah musnah, sebab yang rusak hanya bentuk, tetapi substansi yang meliputi dzat dan massa adalah kekal."
"Oleh karena itulah, pada hari kebangkitan nanti semua substansi akan dihidupkan kembali tanpa secuil pun yang tersisa. Begitulah makhluk baru yang disebut surga dan neraka akan hidup dari substansi yang mati. Sesungguhnya Allah senantiasa menghidupkan yang hidup dari yang mati dan mematikan yang hidup (QS. al-Baqarah: 28)."

Malam membentangkan sayap hitam, menyelimuti cakrawala tanpa pancaran bintang-bintang. Dingin mengalahkan gemerlap cahaya yang terselubung kabut tebal. Sejauh mata memandang, tak sedikit pun sisa cahaya Hajiib-ur-Rahmaan yang terlihat. Seperti baru terbangun dari tidur, saya termangu-mangu berusaha mengingat pengalaman khayal bertemu dengan Hajiib–ur-Rahmaan dan membincang sesuatu yang aneh dan membingungkan.
Saya tidak tahu apa yang sebenarnya telah saya alami dengan pengalaman absurd yang sulit diterima akal sehat itu. Saya hanya merasa, betapa sekarang ini saya seperti seonggok patung batu yang duduk di tengah gurun di pinggir oase yang berair tenang. Dengan pancangan patung batu, saya melihat semaksemak berpelukan, pohon palem bergoyang-goyang, bunga rumput bergulingan, dan bunga-bunga bercakap-cakap menebarkan wangi semerbak. Angin bertiup lembut menebarkan kesegaran bunga gurun.
Tercekam dalam pesona keindahan oase, tanpa sadar saya bersenandung diiringi suara alam yang menggemakan suara kehidupan. Jika saya ungkapkan syair-syair dari senandung saya, kira-kira maknanya sebagai berikut:
"Kehidupan adalah sebuah oase yang terpisah di tengah gurun. Entah sudah berapa banyak kabilah yang singgah mengambil airmu dan kemudian pergi menyisakan kotoran, engkau tetap setia menunggu kabilah-kabilah yang berlaku sama. Kehidupan adalah keterasingan yang samar-samar merindukan kebahagiaan di tengah kesendirian. Itu sebabnya, kehadiran kabilah senantiasa menjadi dambaan oase yang selalu menyediakan bekal kehidupan dengan tulus."

SHARE:

Comments

Recent Posts

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Dening: Suparto BrataDiamput! Sepatuku ilang ndhuk mejid. Iki gara-gara sholat Jumat ndhuk mejid enyar cedhake kantorku. Diamput, ejik enyar wis nggawa korban!

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Malam hitam membentang diwarnai jutaan bintang yang meneteskan embun bagai langit menitikan air mata membasahi semesta. Keheningan mencekam seolah-olah menidurkan rerumputan

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

Sejak melewati pengalaman menggetarkan bersama ruh mereka yang sudah berada di alam barzakh, segala sesuatu secara berangsur-angsur saya rasakan mengalami perubahan pada diri

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA)

"Kalau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!"Kembali bisikan misterius itu membentur pedalaman saya bagai kilatan halilintar, yang belakangan ini justru semakin sering

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Selasa sore seusai sembahyang Ashar, saya langsung melesat ke Jl. Jagannath Shankar Seth dengan mengendarai bus kota. Yang namanya bus kota di mana pun sama, kalau jam kerja

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

"Kalau engkau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!”Bagai kilatan cahaya petir, bisikan misterius itumembentur gugusan telinga batin saya tanpa dapat

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEBELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEBELAS)

Malam hitam jernih dengan jutaan bintang bertaburan laksana pelita semesta dibentangkan di atas permadani semesta. Dalam hening berjuta-juta wangi mawar menaburi bumi bagai

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Matahari bersinar bersih, cahayanya membias putih di batas cakrawala yang berpendar jernih laksana pancaran kristal. Langit biru membentang bagai kubah sebuah masjid. Angin