Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

  • 2018-07-21 20:42:10
  • 795

"Kalau engkau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!”
Bagai kilatan cahaya petir, bisikan misterius itu
membentur gugusan telinga batin saya tanpa dapat saya ketahui maksudnya. Kilatan itu muncul begitu saja dengan frekuensi yang tak menentu fluktuasinya.
Bagi saya, kelebatan misterius yang membentur- bentur bagai kilatan cahaya petir itu memang bukan hal baru. Namun demikian, baru sekali ini saya mendapati makna yang demikian aneh. Bagaimana mungkin saya harus belajar dari iblis sesat yang terkutuk untuk bisa menemukan Kebenaran Ilahiah? Setelah merenung-renung dan memikir-mikir secara lebih dalam, akhirnya saya berkesimpulan bahwa semua itu adalah bisikan dari setan terkutuk yang akan menyeret saya ke jurang kesesatan yang mengerikan.
Keanehan demi keanehan yang selama ini saya alami memang cukup absurd untuk orang yang berpikiran normal, sehingga tidaklah salah apabila orang-orang di sekitar saya memanggil saya dengan sebutan “Sudrun” terutama ketika saya mulai sering menulis di media massa cetak dengan menggunakan identitas “Ki Sudrun”. Kalau saja orang-orang mengetahui bahwa diam-diam saya telah mendapat bisikan misterius agar saya berguru kepada iblis, niscaya saya akan digelari sebagai “Sudrun Edan” alias “Sudrun Gendeng”, yang berarti gila kuadrat!
Terus terang, ketika orang-orang menyebut saya dengan sebutan Sudrun saya tidak merasakan sesuatu yang janggal dari gelar tersebut. Dan seingat saya, sebutan Sudrun itu sudah disodokkan sedemikian rupa oleh orang-orang ke dalam nama Saya sejak saya sekolah SD. Bahkan pada gilirannya pun sebutan Sudrun itu dicoretkan begitu saja di rapor sekolah saya, sehingga di rapor tersebut tertulis nama: Saya Sudrun.
Saya sendiri sebetulnya cukup heran dengan kebijakan bapak saya yang memberi nama “Saya” kepada saya. Sebab sejauh ini belum pernah saya ketahui ada manusia di dunia yang bernama “Saya” kecuali saya sendiri. Baru setelah saya agak tumbuh menjadi anak yang cerdas, barulah saya dapat menafsirkan nama “Saya” tersebut; dan saya diam-diam menaruh hormat atas kebijaksanaan bapak saya yang memberikan nama Saya kepada saya.
Menurut cerita emak, ketika saya lahir memang tidak sebagaimana wajarnya kelahiran seorang bayi. Wujud saya ketika itu, adalah mirip seekor bayi kera yang sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu halus putih bagai kapas. Oleh emak saya, bayi Saya itu rencananya akan diberi nama Hanoman dengan maksud agar saya bisa tumbuh menjadi ksatria perkasa seperti tokoh Hanoman dalam kisah pewayangan. Paman-paman saya, konon, ada yang akan memberi nama Anggada, Sugriwa, Subali, Anila, Jembawan. Tetapi bapak saya yang merupakan penentu, akhirnya memutuskan untuk memberi nama bayi yang mirip kera itu dengan nama tidak lazim: Saya.
Orang-orang kaget dengan nama aneh pemberian bapak saya tersebut. Tetapi ketika saya tumbuh menjadi anak-anak yang nakal dan banyak diolok-olok anak lain, orang-orang pun baru mengetahui maksud bapak saya memberi nama seperti itu. Bayangkan, kalau ada anak- anak yang mengolok-olok saya dengan sebutan kera atau monyet, maka anak tersebut akan mengatakan: “Saya kera! Saya monyet! Saya kera!” Dengan demikian, anak tersebut telah mengolok-olok dirinya sendiri sebagai kera atau monyet. Dan tentu saja saya amat kagum dengan siasat bapak saya itu, sehingga anak- anak pun tidak ada lagi yang berani mengolok-olok saya sebagai kera atau monyet.
Mengenai sebutan Sudrun yang disodokkan begitu saja ke dalam nama Saya, seingat saya terjadi ketika saya masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Ketika itu saya dikenal sebagai murid yang paling nakal; suka berkelahi, merampas makanan anak lain, mengoret- oret bangku dan papan tulis dan tembok, dan menyingkap rok siapa saja yang saya jumpai. Entahlah, soal singkap-menyingkap rasanya sudah menjadi bagian naluri saya yang muncul sejak saya masih kecil. Saya selalu merasakan sesuatu yang aneh apabila melihat hal-hal yang ditutupi. Karena itu, selain rok orang-orang yang saya singkap, saya pun sering menyingkap tirai di rumah siapa saja. Saya selalu dirayapi keinginan untuk melihat sesuatu di balik yang terselubung.
Naluri menyingkap-nyingkap dan membuka-buka itu, terus Saya lampiaskan dalam berbagai manifestasi sampai akhirnya naluri itu pada gilirannya mem- peroleh makna yang menguntungkan ketika Saya mulai suka membuka lembar demi lembar buku. Ternyata, di balik lembaran-lembaran buku yang saya singkap tersembunyi rahasia pengetahuan tentang berbagai hal yang tergelar dalam alam kehidupan alam raya ini.
Satu hal yang merupakan keanehan saya terkait dengan naluri buka-membuka itu, yakni sejak kecil saya suka membuka pakaian, telanjang bulat seolah-olah saya ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa saya adalah Saya yang tidak memiliki rahasia apapun. Kegemaran telanjang itu saya pelihara sampai saya duduk di kelas tiga SD, di mana seusai sekolah saya mesti mencopot semua pakaian saya dan bermain-main di sekitar rumah sampai jauh ke luar kampung dalam keadaan telanjang.
Boleh jadi, berbagai hal yang menyangkut per- tumbuhan saya sebagai anak yang dianggap tidak wajar itulah yang membuat orang menyebut saya dengan sebutan Sudrun. Oleh sebab itu, ketika saya duduk di SD, saya sudah tidak lagi menoleh kalau dipanggil nama Saya. Saya justru baru menoleh kalau dipanggil: “Drun..Sudrun!” Celakanya, entah tangan siapa yang usil, tahu-tahu dalam rapor sekolah saya sudah tertulis nama “Saya Sudrun”.
Saya tidak tahu, kenapa bapak saya tidak protes dengan tambahan Sudrun di belakang nama Saya itu. Bapak saya justru tersenyum seolah-olah beliau sengaja menjadikan saya sebagai kera kecil yang dieksprimen- kan. Bapak saya benar-benar ingin melihat per- tumbuhan saya dengan segala risikonya meski sering saya melihat bapak saya bersedih hati memikirkan ke- Saya-an dan ke-sudrun-an saya.
Satu hari, guru SD saya yang lama diganti guru baru yang masih muda dan agak cantik. Guru cantik yang dipanggil Bu Anik itu dengan senyum ramah memperkenalkan diri. Dia bercerita tentang berbagai hal; tentang dirinya sampai murid-murid bergembira. Setelah itu, Bu Anik ingin mengenal murid barunya satu demi satu dengan cara mengabsen dan memanggil nama masing-masing murid. Nah, ketika Bu Anik menyebut giliran saya, kelas mendadak gemuruh karena semua murid tertawa terbahak-bahak. Bu Anik kaget sambil menatap saya penuh heran meski saya tetap mengacungkan tangan dan berdiri. Rupanya Bu Anik belum tahu kenapa murid-murid tertawa terbahak-bahak ketika ia memanggil nama saya. Itu sebabnya, dengan suara ditekan lebih keras, Bu Anik kembali memanggil nama saya: “Saya Sudrun!” Dan murid-murid pun tertawa terpingkal-pingkal sambil menuding-nuding ke arah saya dan Bu Anik.
Akhirnya, Bu Anik sadar dan baru mengetahui jika ia telah menyebut dirinya sendiri sebagai Sudrun, yang berarti edan alias gila. Walhasil, entah karena kejadian tersebut atau ada tangan usil yang lain, nama Saya di rapor sekolah tahu-tahu sudah dicoret sehingga pada rapor sekolah saya hanya tertera nama: Sudrun.
Saya sendiri akhirnya tidak pernah mengerti apakah nama Sudrun muncul karena tingkah saya yang Sudrun, ataukah saya setelah dinamai Sudrun ber- angsur-angsur menjadi Sudrun. Saya hanya tahu bahwa saya anak nakal yang suka dihukum, entah disuruh berdiri di depan kelas dengan setumpuk buku di kepala atau sekadar diteriaki, dimaki, dicubit, dan disabet rotan oleh guru.
Sebagai anak Sudrun, kehidupan formal di sekolah benar-benar tidak menarik minat saya untuk belajar. Buku-buku di sekolah hanyalah buku yang tidak menarik untuk dibaca seperti komik, majalah dan buku yang lain. Oleh karena itu, saya lebih suka membaca- baca komik dan buku-buku bekas di kawasan Pasar Turi yang dijual pedagang kaki lima, atau sekadar menonton tukang sulap dan penjual nomer buntutan togel (toto gelap).
Satu ketika bahkan pernah, saya disuruh guru untuk menyelesaikan soal berhitung di papan tulis. Tanpa kesulitan soal itu saya garap. Tetapi ketika saya baru saja akan menyelesaikan garapan soal tersebut, murid-murid tertawa terbahak-bahak melihat garapan saya yang mereka anggap ajaib bin aneh. Ketika guru kelas bertanya tentang rumus yang saya pakai, dengan jujur saya mengatakan bahwa rumus yang dipakai itu adalah rumus hitungan tukang nomer buntutan togel. Tentu saja saya menjadi bahan tertawaan. Dan orang- orang pun makin menganggap saya sebagai Sudrun yang benar-benar sudrun alias senewen.
Saya sendiri sering merasa heran dengan ke- sudrun-an yang saya lakukan, meski hal itu sebenar- nya cukup wajar bagi saya. Satu saat, misalnya, saya sering terlihat duduk berlama-lama di pinggir jalan sambil sesekali tertawa sendiri sampai terpingkal- pingkal. Orang yang melihat saya tertawa sendiri, tanpa tanya ini-itu, langsung menuding saya sebagai anak sudrun. Bahkan tingkah saya yang agak tak wajar menurut orang-orang itu sempat dilaporkan kepada bapak saya.
Bapak saya dengan penuh kesabaran memanggil saya dan menanyakan kenapa saya sering tertawa-tawa sendiri di pinggir jalan. Dengan terus terang saya menjelaskan, bahwa saya sampai tertawa terpingkal- pingkal karena saya suka menyama-nyamakan bentuk mobil yang lewat dengan wajah manusia. Lampu mobil saya kesankan sebagai mata. Kaca spion mobil saya kesankan sebagai kuping. Bumper mobil saya samakan dengan mulut. Walhasil saya sering melihat bentuk mobil-mobil yang mirip dengan tampang manusia; ada yang pesek, lonjong, mrongos, mringis, pencong, dan monyong.
Kalau saya kebetulan melihat bemo roda tiga lewat, maka dalam benak saya selalu muncul wajah tetangga saya yang bernama Sukkes yang giginya mrongos. Kalau saya melihat bus Hino, maka dalam benak saya selalu muncul wajah Narsih pesek tetangga saya yang hidungnya mancung ke dalam. Begitu pun kalau saya melihat oplet yang pencong dan suka mogok, saya selalu membayangkan sosok mbah Merto Tarup yang suka terbatuk-batuk dan jalannya terseok-seok. Dengan imajinasi liar seperti itu, saya kalau sudah lewat per- empatan jalan dan melihat mobil-mobil berseliweran, maka saya selalu mendapat kesan bahwa tetangga- tetangga saya saat itu sedang berseliweran di jalan.
Bapak saya akhirnya memaklumi ke-sudrun-an Saya, bahkan bapak saya menasehati agar saya terus saja memelihara imajinasi saya tanpa peduli olok-olokan orang. Dengan restu dari bapak saya, maka saya pun makin suka meluncurkan imajinasi ke dalam alam khayal yang absurd. Kalau satu ketika, misalnya, saya lewat di pinggir rel dan melihat keloneng besi peninggalan zaman Belanda yang berdiri di dekat gardu penjagaan kereta api, saya seketika mendapati kesan bahwa keloneng besi itu seperti teman saya, Si Baidin bodong. Lalu dengan kapur atau arang, saya biasanya mengoret-oret keloneng besi itu dengan memberinya mata, alis mata, hidung, mulut, gigi; begitulah saya lalu tertawa terkekeh-kekeh karena membayangkan keloneng besi itu sebagai temannya yang lucu, Si Baidin bodong.

Saya memang tidak peduli dengan orang-orang yang memper-sudrun-kan saya, sebab saya merasa sudah menyatu dengan ke-sudrun-an saya. Saya sadar bahwa saya adalah Sudrun yang sudrun.
Ke-absurd-an kehidupan saya tampaknya makin meluncur deras dan mengulung kehidupan saya. Bayangkan, di antara semua saudara saya, hanya saya yang memiliki nama aneh. Begitu pun ketika saudara- saudara saya belajar di berbagai pesantren, saya justru disuruh belajar ke sekolah umum. Bahkan ketika saya tidak mengaji, juga tidak ada yang memarahi seolah- olah saya hanyalah seekor kera yang numpang hidup di sebuah pesantren. Tetapi meski Saya tidak pernah mengaji bahkan tidak hafal urut-urutan huruf Hijaiyyah, ternyata saya bisa juga membaca huruf al- Qur’an dan kitab-kitab kuning meski dengan cara belajar sendiri secara otodidak. Satu-satunya guru mengaji dalam ilmu nahwu dan sharaf yang saya dalami selama beberapa pekan adalah kiai sepuh Sulchan, di mana dengan sedikit arahan dari Kiai Sulchan, saya kemudian melesat sendiri dalam memahami ilmu alat.
Karena saya sendiri merasa bahwa cara belajar otodidak memiliki banyak kekurangan, maka saya hanya berani mengajar mengaji anak-anak kecil di sekitar rumah dengan cara saya sendiri. Saya memang punya cara tersendiri dalam belajar mengaji, di mana untuk anak-anak kecil lebih saya tekankan pada hafalan surat-surat pendek dalam Juz ‘Amma, sebab menurut hemat saya, anak-anak lebih mudah meng- hafal daripada memahami sistem lambang huruf-huruf.

Dengan demikian, hampir setiap anak yang saya ajari mengaji mesti hafal Juz ‘Amma di luar kepala meski mereka belum bisa membaca dan menulis huruf Arab.
Kegiatan saya untuk ikut membantu keluarga saya dalam mendidik anak-anak mengaji, terpaksa saya hentikan secara total ketika orang-orang mulai memanggil saya dengan sebutan “Kiai Sudrun”. Saya benar-benar merasa tersinggung dengan adanya gelar “kiai” yang disogokkan begitu saja di depan nama Saya. Sebab kalau saya sampai mendapat sebutan “Kiai Sudrun” maka tak pelak lagi nama baik leluhur saya akan rontok karena saya.
Memang, dari daftar silsilah keluarga bapak saya terdapat urut-urutan gelar kiai yang amat panjang. Di urutan awal, saya dapati ada nama Raden Kusen yang bergelar Kiai Adipati ing Trung. Sesudah itu ada nama Kiai Adipati Ing Sengguruh, dilanjutkan Kiai Gaib, Kiai Ketib, Kiai Tempel, Kiai Muruk, Kiai Kemis, Kiai Puspo, dan Kiai Joyo yang bergelar Kanjeng Jimat, setelah itu ada nama Kiai Suro, Kiai Tirto dan berderet- deret kiai lain sampai pada urutan bapak saya.
Dari urut-urutan silsilah para kiai yang menjadi leluhur saya, tidak ada satu pun di antara kiai tersebut yang dikisahkan melanggar rambu-rambu ke-kiai-an mereka. Dengan demikian, sebutan “Kiai Sudrun” yang disodokkan begitu saja pada nama saya, bagi saya benar-benar sebagai suatu penghinaan kepada para kiai leluhur saya. Sebab, kalau sebutan “Kiai Sudrun” itu sampai masuk ke dalam urut-urutan silsilah maka diantara sekian jumlah kiai akan terdapat satu kiai yang senewen alias tidak waras jiwanya, yang celakanya kiai tersebut adalah saya sendiri.
Akhirnya, setelah berpikir jauh, saya tidak lagi mengajar mengaji, tetapi belajar lebih mendalami ilmu-ilmu sekolah. Bapak saya rupanya sudah waskita akan apa yang akan terjadi pada diri saya kelak di kemudian hari. Dan saya pun akhirnya menyadari betapa tepatnya beliau menyekolahkan saya, sehingga saya pada gilirannya bisa menjadi sarjana dan tidak menjadi kiai. Sebab kalau saya sampai menjadi kiai maka boleh jadi saya akan mendapat sebutan “Kiai Sudrun” atau “Kiai Monyet”.
Setelah saya tidak lagi mengajar mengaji, ternyata sebutan Kiai Sudrun tetap tak bisa lepas dari diri saya, sehingga saya memang harus tunduk lagi pada nasib untuk mendapat nama baru, Kiai Sudrun, sebagaimana ketundukan saya ketika disebut Sudrun. Tetapi, meski saya disebut Kiai Sudrun, saya sejatinya masih tergolong orang waras karena saya sangat rajin sembah- yang. Padahal, banyak sekali orang-orang yang dinilai tidak sudrun alias waras justru tidak lagi melaksanakan sembahyang dengan alasan sudah ma’rifat. Dan untuk manusia model begini, saya sangat suka sekali menggempurnya, sebab manusia model begitu saya anggap jauh lebih sudrun daripada orang sudrun. Kalau saya amat geram dengan orang sudrun yang dengan alasan ma’rifat kemudian meninggalkan sembahyang, bukan berarti saya otoriter dan memaksa- kan kehendak. Saya hanya memiliki naluri yang mengatakan bahwa orang model begitu secara langsung atau tidak telah menumbangkan agama dengan ketakaburan diri. Di lain pihak, saya meng- ukur keberadaan mereka dengan Nabi Muhammad SAW yang tetap menjalankan sembahyang meski sudah mengalami Isra’ dan Mi’raj.
Satu ketika, saya pernah bersilaturahmi ke rumah Kiai Baha’uddin bin Bruddin bin Gimin yang dikenal sebagai guru Tariqah Bruddiniyyah. Menurut omongan murid-murid Kiai Bruddin, bahwa guru mereka itu adalah manusia yang sudah mencapai tahap ma’rifat billah; artinya sudah omong-omongan, bercanda, rangkul-rangkulan, rindu-rinduan, dan cinta-cintaan dengan Tuhan; sehingga Tuhan pun sudah menyatu di dalam diri Kiai Bruddin.
Karena prinsip Kiai Bruddin seperti itu, maka dia lantas berpendapat: “Kalau Allah adalah menyatu dengan insan, maka Gusti dan kawula sudah jadi satu, dan kalau sudah begitu siapakah yang harus disembah dan siapa yang harus menyembah.” Walhasil, Kiai Bruddin tidak perlu lagi melakukan sembahyang lima waktu, karena ia adalah pengejawantahan Ilahi di atas bumi. Bahkan para santri yang bersembahyang dan dzikir, wajiblah membayangkan wajah Kiai Bruddin; ngomongnya sebagai Rabithah.
Sebetulnya, saya tidak ada urusan apapun dengan prinsip hidup Kiai Bruddin andai saja ke-sudrun-an saya tidak kumat mendadak. Entah bagaimana awalnya, saya tiba-tiba mendatangi Kiai Bruddin di rumahnya seperti menjadi seorang polisi yang menginterograsi pesakitan. Kiai Bruddin yang tak menduga ada orang yang begitu kurang ajar tanya ini- itu sekitar prinsipnya, menjadi kelabakan ketika saya berondong dengan aneka macam pertanyaan seperti, “Apakah maqam sampean lebih tinggi dari Rasulullah?”
Dengan suara terbata-bata menahan marah, Kiai Bruddin menjawab pertanyaan saya yang menggebu- gebu dengan suara ditekan tinggi, “O tentu saja tidak, Nabi Muhammad SAW tidak ada yang menandingi ketinggian maqamnya.”
“Padahal,” kilah saya cepat, “Rasulullah SAW masih wajib menjalankan syari’at dengan mendirikan sholat. Sedang sampean sudah terbebas dari kewajiban itu.”
“Siapa bilang saya tidak sembahyang?” sergah Kiai Bruddin tersentak dengan wajah merah padam dan mata berkilat-kilat.
“Tadi sampean ngomong tidak perlu lagi sholat jasad, kan?”
“Memang saya tak perlu lagi sholat jasad, sebab saya sudah melakukan sholat da’im, yaitu sholat berkekalan yang nilainya jauh lebih tinggi dibanding sholat yang hanya berisi ruku’ dan sujud tubuh belaka,” sahut Kiai Bruddin.
“Padahal Nabi Muhammad SAW diriwayatkan melakukan sholat tubuh sekaligus sholat batin sampai wafatnya,” kata Saya memancing, “Kenapa sampean tidak?”
“Beliau lain dengan saya,” kata Kiai Bruddin dengan pasti, “Beliau adalah Uswatun Hasanah yang menjadi contoh bagi seluruh umat. Kalau beliau hanya menjalankan sholat batin saja, maka kalangan awam nanti tidak mau sholat semua karena tidak diberi contoh oleh beliau.”
“Dan manusia-manusia macam sampean, mendapat dispensasi dari Tuhan untuk tidak sholat, begitu?” kilah saya mencibir.
“Kamu ini orang awam,” gumam Kiai Bruddin mendadak menilai, ”Kamu tak pernah bisa memahami uraian orang khawas seperti saya.”
“Jadi sampean menganggap maqam sampean lebih tinggi daripada maqam saya, begitu?” tanya saya memancing.
“Aku orang khawas, dan kamu orang awam,” Kiai Bruddin menggeram, “Kedudukan kita sudah jelas, di mana kamu bagiku tidak lebih dari seekor kambing dungu yang hanya bisa mengembik.”
“Kiai Bruddin yang mulia,” sahut saya mulai terasa kumat sudrunnya, “Menurut siapakah maqam sampean itu lebih tinggi daripada maqam saya?”
“Tentu menurut aku pribadi berdasar ilmu laduni.”
“Dengarlah Kiai Bruddin,” kata saya mengejek, “Dulu ketika iblis menolak disuruh bersujud pada Adam, Allah bertanya mengapa iblis berlaku seperti itu, yaitu tidak mau sujud kepada Adam. Iblis bilang, dia lebih mulia dan lebih tinggi dari Adam karena dia dicipta dari api, sedang Adam dicipta dari tanah liat. Allah kemudian bertanya lagi kepada iblis, menurut siapakah iblis menilai dirinya lebih tinggi daripada Adam? Ketika iblis menjawab penilaian itu menurut dirinya sendiri, nah, sampean pasti tahu, apa yang dilakukan Allah terhadap iblis yang merasa lebih tinggi dan lebih mulia itu?”
“Apa maksudmu anak gendeng?!” Kiai Bruddin marah.
“Hehehe, kalau sampean pintar mesti tahu arah omongan saya,” seru saya sambil menjulurkan lidah mengejek.
“Jahannam!” Kiai Bruddin menyambar dampar yang biasa dipakai membaca al-Qur’an, kemudian dengan sekuat tenaga menghantam kepala saya.
Wusss!
Saya menunduk cepat. Dampar di tangan Kiai Bruddin melesat di atas kepala saya, menghantam angin. Saya berpikir, andaikata dampar itu mengenai kepala saya, mestilah saya sudah tumbang dan digotong ke UGD. Oleh karena hantaman Kiai Bruddin luput, tubuhnya meliuk sendiri ke depan dan dampar yang dipegangnya lepas dari pegangannya dan terbang menghantam dinding.
Prakk!
Sepersekian detik saya kirim upper cut pendek ke ulu hati Kiai Bruddin. Dia terpekik kaget dengan mata melotot dan lidah terpilur keluar. Tapi sebelum dia menyadari keadaan, sesegera mungkin saya layangkan sebuah swing dengan kekuatan penuh ke sisi kiri kepalanya, tepat di bagian kupingnya. Tanpa mengeluh ah atau uh lagi, Kiai Bruddin rontok, tubuhnya terjungkal ke depan mencium kaki saya. Melihat kiai sombong itu sudah terkapar tak berdaya, saya langsung mengambil langkah seribu, lari terbirit-birit karena saya tidak mau tewas dikeroyok murid-murid Kiai Bruddin yang sudrun itu.
Begitulah dari waktu ke waktu saya melakukan berbagai ke-sudrun-an tanpa dapat saya kendalikan. Ke-sudrun-an yang saya alami itu, seingat saya, ber- langsungnya sangat cepat dan mendadak sehingga akal waras saya sering tak berfungsi ketika ke-sudrun-an itu memerangkap saya. Dengan demikian, saya pribadi menganggap ke-sudrun-an yang saya alami itu sebagai sejenis penyakit yang saya sebut penyakit angin- anginan. Maksudnya, kalau hari baik saya bisa kumat dan kalau hari tidak baik maka saya akan waras seperti tak terjadi apa-apa. Dan rasanya, penyakit sudrun yang misterius itu memang tidak mungkin bisa saya sembuh- kan begitu saja.


“KALAU MAU MENCARI ALLAH, BELAJARLAH DARI IBLIS!”

Bisikan misterius itu berkelebat lagi membentur gugusan telinga batin saya ketika saya sedang makan roti Maryam di warung pinggir jalan di Jl. K.H. Mas Mansyur selepas sembahyang tarawih. Saya berusaha menindas bisikan misterius itu, tetapi dia bagaikan benda misterius yang liar memasuki jiwa saya dan kemudian menyodok-nyodok relung otak dan dada saya dengan sangat ganas.
Bisikan misterius yang terus berkelebat tanpa dapat saya cegah itu pada akhirnya memunculkan gam- baran–gambaran imajinasi di otak saya. Entah bagaimana awalnya, sewaktu saya menyuapkan roti Maryam ke mulut saya, mendadak saja pada otak saya meluncur sebuah gambaran fantastis tentang iblis: sosok berbentuk manusia dengan kaki keledai mirip Centaur dalam dongeng Yunani Purba; kupingnya mencuat lancip mirip Mr. Spook dalam film Star Trek; mulutnya meringis dengan taring panjang mirip topeng Rangda; jubahnya hitam dengan kerah me- ngembang ke atas seperti jas Dracula; matanya ber- sinar merah membara seperti lampu strobo; kuku-kuku jari tangannya memanjang seperti cakar beruang.
Gambaran imajinatif iblis yang mengerikan itu serta merta saya tumpahkan dari otak saya, kemudian saya bayangkan roti Maryam di tangan saya sebagai iblis terkutuk. Sedetik kemudian, roti Maryam itu saya celup ke dalam kuah gulai kacang hijau. Lalu bersama- sama dengan mangheli—sejenis lento Arab—iblis itu pun saya santap terus saya kunyah-kunyah, dan akhirnya saya telan utuh. Tapi baru saja iblis itu masuk ke tenggorokan saya, mendadak saja saya merasa bahwa iblis itu tentu tidak akan mampus di perut saya. Dia justru akan hidup bersama cacing-cacing di perut saya. Selanjutnya, dia akan masuk ke jantung saya dan bersemayam di sana mengatur dan mengendalikan gerak-gerik saya. Aduh celaka, keluh saya menya- yangkan roti Maryam yang sudah keburu masuk ke perut saya dan celakanya, sudah terlanjur saya bayangkan sebagai iblis.
Akhirnya dengan perut seperti diaduk-aduk, saya melangkah terhuyung menyusuri Jl.K.H. Mas Mansyur yang penuh sesak dijejali pejalan kaki dan pedagang kaki lima. Tapi baru beberapa meter saya berjalan, tiba-tiba saya disapa oleh seseorang. Saya menoleh dan saya dapati Mat Aksan, kawan sekolah saya waktu di SMA, yang rumahnya di pasar Pabean Lama, tak jauh dari warung roti Maryam langganan saya.
Berjumpa dengan Mat Aksan, rasanya seluruh bayangan iblis dalam benak saya seketika melenyap. Sebab setiap kali saya menemuinya, saya selalu mengenang ke-sudrun-an saya sewaktu sekolah SMA. Kalau saya sudah mengenang ke-sudrun-an saya waktu SMA, maka gambaran iblis tidak lain dan tidak bukan justru akan muncul dalam perwujudan sebagai diri Saya. Ya, si sudrun gendeng yang brengsek dan brutal itulah bayangan iblis mengerikan yang menjadi raja diraja dari segala setan dengan pengikut setia setan gendut bernama Mat Aksan.
Terus terang, di kelas kami di SMA, saya dikenal oleh semua orang sebagai murid yang pendiam dan tak pernah ikut-ikutan tradisi berpacaran. Saya tidak suka menggoda kawan-kawan perempuan saya. Saya selalu pasif, bahkan mengesankan tidak wajar karena tidak memiliki rasa tertarik pada lawan jenis yang di usia SMA seibarat bunga sedang mekar-mekarnya. Kawan-kawan perempuan saya sering menggoda saya dengan mengelus-elus pipi, merangkul-rangkul, atau sekadar mendesak-desakkan susunya ke tubuh saya. Dan semua tingkah mereka itu sudah menjadi alasan bagi muka saya untuk pucat pasi dan blingsatan. Rupanya kawan-kawan perempuan saya menganggap saya sebagai lelaki kampungan yang takut dengan perempuan, sehingga rata-rata mereka menganggap saya terlalu alim dengan kegiatan sehari-hari hanya belajar sebagai murid.
Sebenarnya anggapan kawan-kawan perempuan sekelas Saya itu amat salah. Sebab mereka tidak pernah tahu bagaimana licik dan jahanamnya saya dalam membawakan peran sebagai iblis brengsek yang suka bermain-main dengan perempuan secara diam-diam. Dan saya kira, hanya Mat Aksan dan beberapa kawan perempuan saya saja yang tahu tentang ke-iblis-an saya dalam soal perempuan.
Dengan jujur saya mengakui bahwa sebagai Sudrun yang penuh ke-sudrun-an, saya merasakan adanya ketidakberesan pada diri saya, terutama yang menyangkut soal perempuan. Saya sendiri tidak mengerti kenapa saya tidak memiliki rasa tertarik pada lawan jenis saya yang cantik mempesona. Keayuan wajah, kemancungan hidung, kesayuan mata, ketebalan alis mata, kelebatan bulu mata, dan keindahan bentuk bibir tidak cukup membuat saya tertarik kepada perempuan yang digolongkan cantik menurut ukuran laki-laki normal. Satu-satunya hal yang bisa saya rasakan adanya ketertarikan dengan lawan jenis saya adalah semacam amukan nafsu syahwat setiap kali saya mendekati mereka. Entah kenapa, saya selalu merasakan betapa setiap kali saya mendekati perempuan yang memiliki tubuh ‘segar’ nafsu saya mesti menyala-nyala.
Keadaan jiwa saya yang seperti itu ternyata mem- pengaruhi gerak-gerik dan perilaku saya, khususnya terhadap perempuan. Entah mengapa, saya sering secara terus terang dan tanpa malu-malu memuji kesuburan tubuh seorang perempuan yang saya kesankan seperti kelinci besar berbulu tebal. Bahkan sering kali, tanpa bisa saya tahan-tahan, saya bicara terus terang mengemukakan keinginan saya untuk mengelus-elus ketebalan bulu mereka sebagai kelinci. Saya biasanya menawarkan alangkah baiknya andaikata saya menjadi kelinci laki-laki yang disambut hangat kelinci betina untuk berdesak-desak saling meng- hangatkan tubuh di tengah padang birahi.
Dalam menawarkan diri sebagai kelinci, saya tidak selalu terus terang lewat omongan. Sering saya hanya mendekati salah seorang teman perempuan saya dan kemudian mendesakkan tubuh saya ke tubuhnya. Setelah tidak ada reaksi, tangan saya mulai berkeliaran meliuk-liuk, meraba-raba, mengelus-elus, menekan- nekan, dan merayap seperti ular melata, menelusuri lekuk-liku dataran tinggi dan lembah mereka. Bahkan satu saat di saat ke-sudrun-an saya lepas kendali, saya mengejar dan mendesak habis-habisan teman perempuan saya sampai dia menggeliat di sudut kantor guru, sehingga beberapa orang guru menggelengkan kepala melihat keganasan saya. Salah seorang guru malah sempat menggumam, ”Dasar kera, sudah sekolah pun tetap saja berjiwa binatang.”
Saya tidak marah dengan sindiran sinis guru itu. Saya justru merasa bahwa saya memang iblis biadab tidak punya jantung yang lebih ganas daripada binatang. Saya merasa bahwa saya memang iblis laknat, sebab setiap kali saya habis mendesak kawan per- empuan saya dengan terkaman-terkaman dan belaian- belaian tangan saya yang jahannam, saya selalu mengancam mereka agar mereka sekali-kali tidak menceritakan kepada kawan yang lain tentang apa yang telah saya lakukan terhadap mereka. Karena itu, bagaimanapun jahannamnya saya, kawan-kawan saya yang belum tahu selalu menganggap saya anak baik.
Kegemaran saya untuk bermain kelinci-kelincian dengan teman-teman perempuan yang saya kenal, ternyata menjadi penyakit menular yang amat ber- bahaya. Buktinya, Mat Aksan yang sebelumnya adalah anak baik, mendadak saja suka berbuat seperti saya; mendesak-desak, merangkul-rangkul, mengelus-elus, meraba-raba teman perempuan dengan penuh nafsu; menyodok-nyodokkan siku ke susu perempuan; atau sekadar memagutkan bibir ke bahu mereka yang hangat. Untungnya, kebinatangan saya yang ditiru Mat Aksan itu tidak begitu berbahaya. Artinya, kebinatang- an itu hanya kami lakukan sebatas raba-meraba dan rangkul-merangkul dan remas-meremas saja, tidak lebih.
Sebenarnya, saya tidak bisa mengatakan bahwa saya tidak memiliki perasaan tertarik pada lawan jenis saya. Rasa tertarik itu ada, tapi sifatnya khusus sekali. Artinya, saya hanya merasakan tertarik pada satu orang gadis yang yang menjadi kawan saya, sedang selebihnya nafsu saya yang lebih banyak bicara.
Penyakit kebinatangan saya yang membuat saya jadi iblis, kalau dipikir memang aneh dan misterius. Sebab dia tidak sekadar menebarkan virus-virus yang secara khusus diserap oleh jiwa Mat Aksan, tetapi getar kemisteriusan rasa tertarik saya pada kawan perempuan saya pun pada gilirannya menulari Mat Aksan pula. Ya, kami diam-diam mencintai satu perempuan dengan segala kemisteriusannya. Semua berlangsung aneh dan menggetarkan sepertinya kami adalah dua orang yang mengidap penyakit menular yang parah, dan gadis yang diam-diam kami cintai itu adalah dokter yang bisa menyembuhkan penyakit kami. Tapi sebagai manusia- manusia berpenyakit menular yang tahu diri, mana mungkin kami dengan terang-terangan menyatakan cinta kami dan mengharap balasannya.
Sebagai raja diraja setan jahannam, saya tergolong cukup rapi menyembunyikan kebinatangan maupun keiblisan dan ke-sudrun-an saya. Kalau Mat Aksan dalam kehidupan sehari-hari sering menunjukkan wujud mengerikan dari penyakitnya, di mana dia selalu menampakkan taringnya yang ganas yang siap mencabik-cabik mangsa, maka saya tampak lebih bisa menyembunyikan diri.
Sekalipun saya adalah raja diraja setan jahannam yang suka menggerayangi teman-teman perempuan, saya tidak sembarangan melahap mangsa. Saya memiliki semacam naluri untuk mengetahui siapa saja di antara mangsa-mangsa yang bisa saya lahap. Karena itu, dibanding Mat Aksan, saya lebih jarang memangsa, sekalipun setiap perempuan yang saya mangsa selalu menunjukkan gejala mengerikan; tubuh dan jiwanya meleleh dan melumer seperti es krim.
Satu keanehan yang saya rasakan justru yang menyangkut Ita Martina, gadis yang diam-diam begitu dicintai Mat Aksan. Saya sendiri tidak tahu apakah saya mencintai Ita Martina juga atau sekadar tertarik, entahlah, yang jelas saya merasakan suatu keanehan meliputi gadis pendiam itu dalam imajinasi saya. Boleh jadi karena saya diam-diam sering mengimajinasikan Ita Martina sebagai sesuatu yang bukan manusia, maka saya memiliki semacam kegentaran tersendiri setiap kali berhadapan dengannya. Entah bagaimana prosesnya, setiap kali saya melihat Ita Martina, saya selalu merasa- kan hentakan daya sihir yang kuat yang merontokkan ke-iblis-an saya. Dengan kenyataan tersebut, saya merasakan seperti hidup di dua kutub di mana pada kutub yang satu, saya seperti membutuhkan kehadiran Ita Martina untuk menghapus ke-iblis-an saya, tetapi pada kutub yang lain, saya justru selalu merasa sebagai pesakitan setiap kali berhadapan dengan Ita Martina.
Imajinasi saya yang berkumpar-kumpar tentang sosok Ita Martina makin lama makin membuat saya ngeri dan gentar sendiri. Dia saya bayangkan tidak lagi sebagai gadis cantik yang penuh kodrat kemanusiaan. Sebaliknya, saya sudah terlanjur mengimajinasikan dia sebagai bidadari yang turun dari planet asing yang jauh dan suka terbang mengitari ruang kelas dan bertengger di genteng sekolah. Dan lebih celaka, setiap kali saya menatap sorot matanya, saya selalu merasa bahwa dia seolah-olah mengetahui siapa saya sebenarnya dan kemudian pandangannya menikam saya dengan tuduh bahwa saya adalah iblis.
Mat Aksan sendiri tampaknya mencintai dengan serius Ita Martina, meski dia sudah pacaran dengan Yuyun. Kepada saya Mat Aksan sering menyatakan cintanya pada Ita Martina, sementara saya justru terlanjur terperangkap pada kesan yang amat absurd terhadap Ita Martina yang saya bayangkan sebagai bidadari dari planet asing.
Seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, pertemuan saya dengan Mat Aksan di Jl.K.H. Mas Mansyur kali itu tidak lupa membicarakan kebinata- ngan dan keiblisan kami, tetapi kali ini sempat menyinggung soal Ita Martina. Mat Aksan rupanya kurang yakin ketika saya mengatakan sejujurnya bahwa saya sekarang sudah terbebas dari virus kebinatangan dan keiblisan yang menguasai jiwa saya. Tapi setelah saya uraikan panjang lebar dan di antara kami memang selalu jujur satu dengan yang lain, dia pun menjadi percaya pada omongan saya meski dia seperti melihat suatu keajaiban telah terjadi atas saya.
Mat Aksan sendiri dalam pertemuan itu mencerita- kan panjang-lebar tentang pengalamannya sebagai manusia pengidap virus kebinatangan dan keiblisan yang tidak sembuh, malah semakin parah. Dengan diseling-selingi humor di sana-sini, Mat Aksan menceritakan petualangannya sebagai binatang, yang jika dipaparkan seperti ini:
“Waktu saya masih kuliah, Drun, saya memang jarang menguyel-uyel kawan sesama mahasiswi. Tetapi, beberapa orang di antara mereka, sempat saya ciumi, tapi saya tidak berani bertindak lebih lanjut. Entah kenapa, saya takut kalau nanti ada di antara mereka yang hamil. Saat itu, satu-satunya perempuan yang menjadi objek pelampiasan nafsu kebinatangan saya adalah pembantu bibi saya, seorang janda yang body- nya selalu membuat tegak kuping saya. Dia punya nama Atik. Atik memang tidak cantik dan tidak keren seperti mahasiswi teman-temanku. Tetapi body-nya, jangan ditanya. Kalau dia sedang bernapas, misal, dadanya turun-naik berguncang-guncang. Itu yang selalu membuat jantung saya berdegup-degup memompa aliran darah saya sangat keras.”
“Atik yang janda itu, sepertinya sengaja me- mancing-mancing hasrat kelelakian saya setiap kali saya di dekatnya. Sering dia hanya membelitkan handuk di tubuhnya yang segar sehabis mandi. Lalu dengan tubuh dibikin melenggak-lenggok, dia berjalan di depan saya seperti memamerkan dendeng kepada kucing. Tentu saja darah saya tersirap dan memancar dengan kecepatan 1000 kilometer per menit. Suhu di tubuh saya pun serentak melonjak dari 36 derajat celsius menjadi 120 derajat celcius, melebihi air mendidih. Tegangan stroom di tubuh saya juga meningkat frekuensinya dari 1.5 volt menjadi 360 volt. Itu sebabnya, serta merta, Atik yang janda itu pun saya sergap dan saya terkam habis-habisan sebagai mangsa. Anehnya, napas saya megap-megap dan tubuh saya lemas, kehilangan daya dan kekuatan meski mangsa sudah berada dalam terkaman.”
“Seperti serigala lapar, dengan napas megap- megap saya jepit tubuh Atik ke tembok. Hidung saya mengembang seperti serigala membaui darah segar. Lalu tanpa dapat saya tahan, taring-taring saya ter- hunjam ke leher Atik. Liur saya menetes. Dan sekejap kemudian saya sudah menggigit dan meraung.”
“Sayang sekali, di saat saya sudah melolong-lolong dan meraung-raung hendak mengunyah-kunyah dan menelannya, mendadak saja Atik menolak untuk saya makan habis-habisan meski tubuhnya sudah meleleh seperti gelali. Atik bilang, dia takut perutnya akan menggelembung seperti balon karena berisi bayi, padahal dia tidak mau menanggung risiko meng- gugurkan bayi di dalam perutnya. Untungnya, kebinatangan saya segera mereda dan saya sadar sebagai Mat Aksan kembali. Dan yang lebih beruntung lagi, Atik akhirnya meminta berhenti dari bibi saya, karena dia merasa harus menghindari setan terkutuk seperti saya yang setiap saat selalu siap menyantapnya bulat-bulat.”
“Kamu kelabakan?” tanya saya ingin mengetahui reaksi Mat Aksan sewaktu Atik si janda molek itu berhenti bekerja.
“Beberapa saat saya memang kelabakan, karena saya tidak mempunyai objek mainan yang bisa saya sergap dan saya kunyah-kunyah,” sahut Mat Aksan.
“Tapi apa kamu masih terus membinatangkan diri?” tanya saya.
“Saya tidak mampu mengelak,” kata Mat Aksan menarik napas panjang, “Saya selalu merasa seperti terseret arus yang kuat dan tak mampu melawannya. Saya seperti seekor tupai yang dimasukkan ke dalam sangkar putar, di mana saya selalu berlari di tempat tanpa bisa keluar dari sangkar meski saya sudah kelelahan. Saya sadar bahwa semua itu bukan suatu kebebasan, melainkan justru suatu keliaran! Kebuasan! Kebinatangan! Keiblisan!”
“Apakah kamu pernah melakukan kebinatangan dengan serta merta terhadap perempuan yang belum pernah kamu kenal?” tanya saya lagi mengukur tingkat kebinatangan Mat Aksan.
“Pernah,” kata Mat Aksan polos.
Saya menelan ludah. Tenggorokan saya terasa kering oleh gumpalan napas yang menyesakkan. Saya menyadari benar bahwa segala hal yang berkenaan dengan kebinatangan Mat Aksan tidak terlepas sama sekali dari kebinatangan saya. Sebab sayalah penyebar virus kebinatangan dan keiblisan jahannam itu kepada Mat Aksan. Sekalipun sekarang ini ke-sudrun-an Saya telah menghapus habis kebinatangan dan keiblisan itu, saya tetap merasa berdosa setiap kali saya menjumpai Mat Aksan yang pernah saya tulari virus kebinatangan dan keiblisan itu.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sebuah perjalanan melintasi semesta ruhani adalah sebuah rentangan pengalaman menakjubkan yang sangat fantastis jika dipikir dengan nalar. Sebab segala sesuatu yang tergelar

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA)

"Kalau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!"Bisikan misterius itu kembali mengganas sepertimenjebol dinding-dinding otak saya. Namun karena kebetulan saya

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Dening: Suparto BrataDiamput! Sepatuku ilang ndhuk mejid. Iki gara-gara sholat Jumat ndhuk mejid enyar cedhake kantorku. Diamput, ejik enyar wis nggawa korban!

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Setelah 9 tahun merantau ke Newyork, Rahwana akhirnya memutuskan untuk mudik ke kampung halamannya, tepatnya di kecamatan Alengka kabupaten Blora.Suatu pagi sehari sebelum

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Ramadhan dan lebaran selain tentang hal puasa dan mudik juga sebagai pemantik kenangan saat bulan puasa dan lebaran tahun sebelum-sebelumnya. Itulah yang dirasakan Rahwana

Percayakah Kau Padaku?

Percayakah Kau Padaku?

Cerita ini diambil dari salah satu cerita pendek pada buku "Sepotong Hati Yang Baru" dengan judul "Percayakah Kau Padaku?" yang ditulis oleh Tere Liye.__________________

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT)

"KALAU MAU MENCARI ALLAH, BELAJARLAH DARI IBLIS!"Seperti ledakan halilintar bisikan misterius itu menggedor otak dan dada saya yang membuat seluruh jaringan darah di

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

Sejak melewati pengalaman menggetarkan bersama ruh mereka yang sudah berada di alam barzakh, segala sesuatu secara berangsur-angsur saya rasakan mengalami perubahan pada diri