Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEBELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEBELAS)

  • 2018-08-01 10:43:55
  • 420

Malam hitam jernih dengan jutaan bintang bertaburan laksana pelita semesta dibentangkan di atas permadani semesta. Dalam hening berjuta-juta wangi mawar menaburi bumi bagai ditebar tangan-tangan bidadari. Sementara angin sakal menghembuskan butir-butir embun permata yang dingin menusuk tulang belulang.
Dalam terkaman udara malam yang jekut, saya melangkah tertatih-tatih sambil menggendong bayi kurus yang akhirnya saya beri nama "Aham" yang bermakna "Saya" sebagaimana nama saya yang asli. Sepanjang jalan, saya benar-benar merasakan seperti seorang gelandangan dekil yang celaka, di mana dengan bayi dalam gendongan dan buntalan pakaian di punggung, saya melangkah diikuti anjing kurus yang saya beri nama "Twam" yang maknanya adalah "sampean" alias "engkau".
Saya sendiri tidak tahu akan menuju ke arah mana malam itu meski pikiran saya menuju ke rumah Debendra yang belum saya ketahui letaknya. Saya terus melangkah dengan harapan akan menemukan rumah Debendra yang katanya terletak di kawasan elite Shivaji Park. Namun di tengah perjalanan, saya ragu-ragu untuk mencari rumah Debendra. Karena kalaupun saya dalam keadaan gelandangan ini, rasanya saya enggan menemui Debendra. Saya tidak mau memikulkan beban saya kepada orang lain. Itu artinya, kalau saya sudah memutuskan untuk memelihara Aham dan Twam, maka apapun risikonya akan saya tanggung sendiri. Saya tidak akan memberikan beban kepada Debendra.
Tengah malam saya sudah berada di luar kota Bombay. Saya berhenti untuk sekadar istirahat, karena saya merasa bahwa perjalanan yang saya lakukan sudah cukup jauh, terutama setelah saya sadar betapa beberapa saat yang lalu saya sudah melewati jembatan Swami Vivekananda yang melintas di atas Sungai Dahisar. Saya merasakan keanehan, karena Aham yang ada dalam gendongan saya sedikit pun tidak menangis meski dia hanya sempat saya beri minum sedikit susu kaleng pemberian Laxmi Devi. Aham tampak terbuai dalam kegelapan seolah-olah dia tidak pernah mau memikirkan apapun mengenai dirinya.
Menjelang dini hari, dengan menumpang sebuah truk pengangkut sayur, saya tiba di kota kecil Amravati yang masih berada di negara bagian Maharashtra. Di Amravati pun saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, karena tak satu pun manusia yang saya kenal di kota itu. Saya hanya pasrah pada kemurahan Allah yang tentunya tidak akan menyengsarakan saya bersama Aham dan Twam. Meski begitu, akal saya sering dicekam keraguan dengan kelebatan-kelebatan bayangan buruk yang akan menimpa kami.
Saya tahu bahwa saya tidak mungkin tidur sembarangan di Amravati. Saya harus mencari tempat istirahat, paling tidak di pinggiran kota. Menjelang subuh barulah saya melihat sebuah kuil kecil di pinggiran Amravati yang diterangi lampu gantung berkedip-kedip. Saya menduga bahwa saya akan bisa istirahat barang sebentar di teras kuil yang bentuknya seperti pendapa. Tapi saya agak sedikit kaget ketika mendekat, karena di pintu ruang kuil terlihat seseorang sedang berdiri dan bergerak-gerak dalam keremangan.
Melihat gerakan-gerakan dalam keremangan itu saya mendapati ada keanehan, karena setahu saya gerakan orang tersebut bukan gerakan orang bersembahyang di kuil. Saya menduga, kuil itu tentulah kuil Kali Devi yang biasanya disembah oleh para penganut aliran hitam yang cukup tidak disukai banyak orang.
Rasa ingin tahu mendadak memberontak di kedalaman jiwa Saya. Buru-buru Aham saya turunkan dan saya rebahkan tubuhnya perlahan-lahan di teras kuil. Kemudian dengan mengendap-endap saya mendekati orang yang bergerak-gerak dalam keremangan lampu minyak yang di gantung di ruang tengah kuil itu. Dan darah saya benar-benar tersirap ketika saya dapati orang di pintu kuil itu sedang mengumpat dan memaki patung yang ada di dalam kuil yang tidak lain dan tidak bukan adalah patung Hanoman.

Ketika sosok bayangan yang ternyata seorang perempuan itu meratap sambil membentur-benturkan keningnya ke lantai kuil, saya melompat dan menarik lengannya. Perempuan itu tersentak oleh kekuatan saya. Dia menengadahkan muka ke atas dan menatap Saya seperti menatap malaikat maut yang hendak menyabut nyawanya. Wajah perempuan yang kira-kira berusia 55 tahun itu pucat sekali bagai kertas. Dari keningnya yang dibentur-benturkan ke lantai itu mengucur darah segar membasahi wajahnya.
"Kenapa sampean berbuat begitu, ibu?" tanya saya heran.
"Aduh Dewa Hanoman, ampunilah saya yang terkutuk ini," seru perempuan setengah tua itu dengan suara gemetar sambil merangkul kaki saya hingga celana saya bersimbah darah. Perempuan itu terus meratap-ratap meminta ampunan.
Saya kebingungan sejenak. Tetapi saya segera sadar bahwa tampang saya yang mirip perpaduan Pithecanthropus Erectus dengan manusia Cromagnon, cenderung dibayangkan oleh orang-orang India sebagai penjelmaan Dewa Hanoman. Dan saya sudah memutuskan untuk tidak mau berdebat kusir lagi mempertahankan diri bahwa saya bukanlah monyet bernama Hanoman. Akhirya saya hanya termangu melihat tingkah perempuan itu merangkul-rangkul kaki saya sambil meratap-ratap dan menceritakan semua keburukan nasibnya.
"Berdirilah ibu!" kata Saya memerintah. Tetapi perempuan setengah tua itu makin meringkuk di kaki saya. Dan saya terpaksa mengumpat dalam hati ketika saya ketahui, bahwa perempuan itu telah terkencing-kencing karena ketakutannya. Dan saya masih tidak tahu akan apa yang mesti saya perbuat ketika saya lihat beberapa orang dalam keremangan mendekati saya. Saya benar-benar kebingungan ketika tak kurang dari lima orang mendekati saya dan langsung bersimpuh menyembah saya.
Bagi saya sendiri, perilaku orang-orang India yang penuh takhayul dan gampang mempercayai sesuatu memang terasa aneh, meski hal serupa saya lihat juga sebagai gejala dalam kehidupan masyarakat di negeri saya. Saya masih ingat bagaimana seorang Kiai Bahauddin Bruddin bin Gimin yang mengaku kemasukan Ruh Ilahi karena sudah ma'rifat dan sudah manunggal dengan Allah, di mana beribu-ribu orang percaya dan mau menjadi pengikutnya. Saya juga sering melihat romo-romo yang mengaku ahli kebatinan mengangkat diri sebagai ratu adil dan dipertuhan oleh cantrik-cantriknya. Bahkan tak kurang pula kiai-kiai sembrono yang mengaku sebagai auliya dengan tingkah yang memuakkan, yang kadangkadang menipu banyak orang dengan dalih pandai melipatgandakan uang.
Dengan kenyataan yang melingkari keberadaan saya yang di-Hanoman-kan orang-orang, saya diam diam mempunyai sebuah perhitungan bahwa bagaimana pun saya ingin menanamkan iman tauhid kepada mereka. Saya merasa bahwa sekalipun saya disibukkan oleh Aham, tetapi saya harus memberikan petunjuk bagi mereka yang suka mengumpat dewa-dewa yang mereka sembah. Dan saya pun merasakan hanyut terseret suatu arus ketika dalam tempo tak lama saya sudah dikenal sebagai Avatar yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan bisa dimintai petunjuk dalam berbagai masalah rumit.
Dengan posisi sebagai orang yang di-Hanomankan banyak orang, saya merasakan suatu pengalaman yang membingungkan menerkam hidup saya. Bayangkan, hampir setiap pagi dan sore orang-orang selalu membasuh kedua kaki saya dengan air yang diambil dari lima sungai, yaitu sungai Narmada-Tapi-GodavariWardha-Wainganga. Saya pernah bertanya kepada Rajesh, suami Reekha yang kepadanya saya titipkan Aham, sekitar basuh-membasuh kaki dengan air dari lima sungai itu. Rajesh mengatakan bahwa air bekas basuhan kaki saya itu akan dibagi-bagikan kepada orang-orang yang memohon kesembuhan.
Saya mendadak sadar, bahwa secara langsung atau tidak langsung keberadaan saya yang di-Hanoman-kan orang-orang telah dimanfaatkan oleh Rajesh dan tetangga-tetangganya. Rupanya, Rajesh menjual air bekas basuhan kaki saya itu ke dalam botol-botol dengan harga 10 sampai 25 rupee. Dan saya tidak tahu, berapa ribu botol yang telah dia jual, sehingga dia memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dari banyak orang.
Menyadari semua itu, saya dengan terus terang mengatakan kepada Rajesh bahwa saya sangat tidak suka dengan perbuatan-perbuatan dekilnya mengkomersilkan saya. Rajesh yang licik itu ternyata hanya bisa meringkuk di kaki saya sambil mengiba bahwa apa yang dilakukanya itu tidak lain dan tidak bukan adalah untuk membantu kemiskinan masyarakat di sekitar kuil. Rajesh mengaku telah membantu beras, ikan, susu, dan uang kepada orang-orang miskin sekitar kuil. Bantuan itu, menurutnya,diperoleh baik dari penjualan air dalam botol maupun dari sumbangan masyarakat lainnya.
Akhirnya, saya memutuskan bahwa kaki saya tidak perlu lagi dibasuh, karena semua itu bisa melahirkan sebuah kultus yang tiada lain adalah perbuatan syirik. Saya hanya menyatakan kalau Rajesh hanya boleh menerima sumbangan dari orang-orang tanpa menjual air basuhan kaki saya. Saya juga sudah memutuskan untuk banyak membuka waktu bagi pemecahan berbagai persoalan kehidupan.
Dengan satu dan lain alasan, pintu kuil sudah saya tutup, yang artinya orang tidak boleh lagi menyediakan sesaji maupun bersembahyang kepada patung Hanoman yang dicat merah dengan dada dicat kuning emas yang bentuknya mirip buah labu itu. Sebagai ganti untuk menampung luapan rasa spiritual para penyembah Hanoman, saya harus duduk di undak-undakan teras kuil untuk memberi petunjuk tentang bagaimana menjadi pengikut Hanoman yang baik.

Saya berharap, dengan siasat itu saya akan bisa menggiring orang-orang ke arah tauhid.
Kepada orang-orang sekitar Amravati yang menjadi pengikut Hanoman saya arahkan dengan ajaran-ajaran tauhid baik yang saya ambil dari Bhagavad-gitta maupun dari purana-purana Syiwa. Uraian-uraian tentang hakikat hidup ternyata diminati banyak orang, sehingga beberapa orang Brahmin saya lihat berada di antara orang-orang yang meminta fatwa dari saya.
Pada perkembangan selanjutnya beberapa orang rahib Buddha pun saya lihat muncul dan meminta banyak uraian dari saya. Bahkan beberapa orang yang beragama Islam dan Majusi datang untuk sekadar bertanya ini-itu kepada saya. Dan saya pun hanya menggantungkan sepenuhnya keberlangsungan keHanoman-an saya kepada bisikan-bisikan ghaib dari Sirru'l Haqq di pedalaman jiwa saya. Anehnya, semakin sering saya memperoleh bisikan dari Sirru'l Haqq di pedalaman jiwa saya, saya merasa semakin melihat alam semesta tergelar di hadapan saya dengan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban yang tidak terhitung. Saya mendadak merasakan bahwa di kedalaman relung-relung jiwa saya memancar semacam sinar terang yang mampu membaca perbendaharaan alam semesta dengan berbagai gejalanya.
Saya sendiri sudah menjadwalkan untuk mengajar orang-orang pada malam hari seusai saya sembahyang Isya' sampai menjelang Subuh. Saya juga menentukan tempat mengajar saya di teras depan kuil Hanoman yang sudah saya tutup pintunya. Dan waktu siang, benar-benar saya pergunakan untuk berakrab-akrab dengan Aham di rumah Rajesh dan Reekha. Dalam beberapa hari saja, saya melihat tubuh Aham sudah semakin berisi, karena disusui oleh Reekha yang kebetulan juga menyusui anak lelakinya bernama Vijay yang usianya tidak terpaut jauh dengan usia Aham. Yang sangat menggembirakan saya, Reekha maupun Rajesh kelihatan sangat menyayangi Aham seolah-olah Aham dan Vijay adalah dua saudara kembar.
Malam purnama menggelar tirai sutera biru, melukis makna keheningan langit yang menjernihkan kelam kabut. Rembulan bersinar utuh bagai mawar terbuka kelopaknya, menebarkan harum wangi alam, mempesona penciuman bumi yang menumpahkan air samudera sebagai pengejawantahan cinta semesta. Para malaikat turun membawa berkah kehidupan bagi yang tidur maupun yang terjaga.
Di antara warna lembayung malam dengan kedip-kedip api dari lampu-lampu gantung berminyak zaitun, saya duduk di undak-undakan kuil dengan selimut kain katun putih, memberikan rangkaian jawaban dari pertanyaan-pertanyaan. Selama saya memberi jawaban-jawaban, selalu saya amat-amati makna dari jawaban tersebut. Dan sering sekali saya harus terkejut dengan rangkaian jawaban saya sendiri yang sering tidak terduga. Oleh karena itu diam-diam saya masih bertanya kepada diri saya sendiri apakah jawaban-jawaban yang saya sampaikan sudah benar? Tidakkah jawaban saya justru makin menyesatkan?
Tetapi Sirru'l Haqq di pedalaman jiwa saya sering meletupkan bisikan gaibnya yang bagai benturan petir, bahwa apa yang saya serukan dimaknainya sebagai nyanyian ke-esa-an Ilahi beserta rentangan-rentangan jalan mencapainya.
Seorang saudagar dari Ajanta bernama Anand bertanya tentang tujuan saya menutup pintu kuil Hanoman sehingga orang-orang tidak lagi bisa menyampaikan persembahan kepada Dewa Hanoman. Dengan tenang dan cermat saya menguraikan akan iktikad utama saya menutup pintu kuil Hanoman:
"Ketahuilah, o Anand, bahwa bagi seorang pengikut Hanoman tiada patut menyampaikan persembahan dan puja puji bagi Hanoman tanpa tahu dia tentang ajaran-ajaran Hanoman. Renungkan bahwa di dalam Bhagavat-gita telah tertulis, bahwa oleh karena hati yang lemah dan pikiran yang kacau tentang apa yang benar untuk dilakukan, saya pun bertanya kepadamu, katakanlah kepada saya mana yang lebih bermanfaat dari dua pilihan."
"Hanoman tahu bahwa orang-orang telah sepakat bahwa bergeraknya matahari dari ufuk Timur ke ufuk Barat diberi nilai satu hari. Hanoman juga tahu bahwa orang-orang telah sepakat bahwa tujuh gerakan matahari di ufuk disepakati sebagai satu pekan, dan tiga puluh putaran matahari adalah disepakati sebagai satu bulan. Karena itu, dengan menelan matahari sebagai pangkal kesepakatan waktu, maka Hanoman telah menelan semua kesepakatan orang-orang. Dia telah menemukan jati dirinya, karena dia telah merangkum makna ruang dan waktu di dalam dirinya sendiri."
"Dapatkah kami menjejaki langkah Dewa Hanoman dengan menelan matahari?" tanya Anand ingin tahu.
"Janganlah engkau menafsirkan apa yang kukatakan dengan kisah Hanoman itu sebagai makna harfiah, di mana engkau dapat terbang ke langit dan menelan matahari. Ingatlah bahwa dengan lambang menelan matahari, Hanoman sebenarnya telah menelan BUDDHI dari sekian banyak manusia yang melahirkan kesepakatan akan ruang dan waktu. Dengan menelan BUDDHI, maka Hanoman sebenarnya telah merangkum makna MANAH sehingga dia telah menyingsingkan AHAMKARA di dalam dirinya."
"Ketahuilah, o Anand, bahwa seluruh ciptaan Ilahi terbentuk dari Prthivi (tanah), Apah (air), Agni (api), Vayu (angin), dan Akasa (nur). Ketehuilah, bahwa dari unsur-unsur tersebut lahirlah apa yang disebut Ahamkara atau Ego yang merupakan pangkal dari pintu Karmendriya dan pintu dari Jnanendriya. Dari Ahamkara itulah timbul keinginan, kebencian, suka, duka, percampuran, pikiran, ketaatan (Ksetratjna: XIII:6). Tetapi ketahuilah, bahwa Hanoman telah merangkum Kamendriya dan Jnanendriya dalam DASAI'KAM ke dalam MANAH yang bukan indria."
"Dengan kerendahan hati, ketulusan, tidak menyusahkan, kesabaran, keadilan, dan pengabdian kepada guru, kesucian, keteguhan iman dan mawas diri (Ksetrajna: XIII:7) maka Hanoman telah merangkum makna ANAHAMKARA, yang berarti dia telah berhasil menjauhkan ke-aku-annya."
"Dengan mencapai tahap ANAHAMKARA, Hanoman sejatinya telah dapat mengendalikan prthivi, apah, agni, dan vayu di dalam dirinya. Dia mengendalikan unsur ke-badan-an dalam AHAMKARA-nya dengan sinar BRAHMAN yang bersemayam di AKASA dirinya, sehingga dia tergolong manusia yang tiada menghiraukan akan keinginan nafsu duniawi, dia melenyapkan ke-aku-an dan dia telah menghapus bayangan keburukan tentang kematian, usia tua, sakit, dan kesengsaraan (Ksetrajna: XIII:8). Dan dengan mencapai tahap ANAHAMKARA, Hanoman sebenarnya telah mengenal akan Brahman yang ada dan yang tiada di dalam Akasa dirinya yang terahasia."
"Ketahuilah, o Anand, bahwa Brahman ada di luar dan di dalam semua insan. Dia tiada bergerak tetapi sesungguhnya bergerak. Dia teramat halus untuk diketahui. Dia jauh sekali, tetapi juga dekat sekali (Ksetrajna: XIII:15). Brahman sebenarnya Tunggal! Esa! Satu! Brahman tidak dapat terbagi-bagi, tetapi Dia ada di dalam setiap insan seolah-olah terbagi, dan Dia adalah pemelihara semua makhluk, menghancurkan semua makhluk dan mencipta semua makhluk (Ksetrajna: XIII:16). Dia adalah cahaya di atas semua cahaya di atas semua kegelapan. Dia adalah hakikat JNANAM yang harus diketahui dan dia menjadi tujuan JNANAM. Dia berada di dalam hati nurani semua insan (Ksetrajna: XIII:17)."
"Oleh sebab itu, o Anand, sadarilah bahwa engkau sebagai pemuja dan pengikut Hanoman haruslah mengikuti ajarannya dengan baik. Artinya, carilah dan kenalilah Brahman di dalam dirimu. Apabila engkau telah mengenal akan Brahman yang bersemayam di dalam dirimu, maka engkau akan mengenal akan MAHESWARA. Tetapi, tetaplah engkau mengingat, bahwa karena ketidaktahuan dan hanya dari dengarmendengar, maka kemudian orang-orang memuja sesuatu yang hanya didengarnya dari orang lain. Orang-orang pun dengan kebaktiannya mengabdikan diri kepada apa yang telah mereka dengar (Ksetrajna: XIII:25) dan lahirlah ketaklukanmu sekalian pada unsur-unsur bendawi. Padahal yang Mahakuasa berdiam di hati setiap insan yang menyebabkan semua insan hidup dan bergerak seperti sebuah mesin yang digerakkan oleh kekuatan maya-Nya (Samyasayoga: XVIII:61)."
"Kalau di dalam diri saya ada yang Ilahi, maka mengapa saya harus menyembah Ilahi yang lain?" tanya Anand.
"Engkau kurang mendalam mengartikan uraian saya, o Anand, sebab kalau engkau menyembah akan Brahman yang ada di dalam dirimu sendiri, maka engkau akan terperangkap ke dalam pemikiran duniawi dan melupakan hubungan dengan Brahman yang merupakan Sumber dari segala sumber Brahman.
Dan ketahuilah, Anand, bahwa tujuan utama dari semua tujuan adalah kepribadian Brahman Yang Maha Esa yang terangkai dalam makna TAT TU SAMANVAYAT (Vedanta: 1.1.4)."
"Ketahuilah, o Anand, bahwa Brahman Yang Maha Esa! Tunggal! adalah yang disebut Krishna, Caiva, Mahesvara, Ahuramazda, Adibuddha, Allah. Dia adalah Satu dengan berbagai sebutan. Dia Tuhan segala bangsa dan segala agama. Dia Tuhan segala makhluk yang kasat mata dan yang gaib. Dia tetap Tuhan Yang Maha Esa bagi yang mengakui maupun bagi yang ingkar. Tetapi engkau harus selalu ingat, bahwa Dia tidak dapat dicapai dengan akal budi dan panca indera. Oleh sebab itu, hendaknya setiap orang berlatih agar ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan cara memuji-muji nama-nama suci-Nya. Janganlah ada di antara sampean semua yang terperangkap pada imajinasi untuk mewujudkan Tuhan Yang Maha Esa ke dalam bentuk-bentuk yang bisa dikenali oleh panca indera!."
"Ingatlah ketika Krishna menyatakan, bahwa dengan pikiran dan kegiatan yang selalu dipusatkan kepada-Nya, dan semuanya dijadikan sibuk di dalam diri-Nya, tidak dapat diragukan lagi maka orang akan mencapai-Nya (Aksara Brahma Yoga: VIII:7). Oleh sebab itu, o Anand, mengapa saya menutup pintu kuil Hanoman, tiada lain karena saya ingin agar sampean mulai mengikuti jejak Hanoman untuk mencari Brahman di dalam diri."
"Renungkanlah akan perilaku Hanoman yang selalu berpikir tentang Rama. Dia selalu menemani Rama. Hanoman selalu mencintai Rama. Tetapi engkau harus ingat, bahwa Hanoman tidak pernah meng-arcakan Rama untuk disembah. Hanoman adalah Yogi dengan keimanan kuat yang bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam bhakti ruhani dengan cinta kasih. Begitulah Hanoman sebagai yogi sekaligus sebagai ksatria pendamping Rama, telah menjadi Jnani yang paling mulia dari Purusottama. Oleh sebab itu, sebelum Rama menyadari unsur ke-Ilahi-an di dalam dirinya, dia sering secara tidak langsung melakukan SWAVANAM dari Hanoman."
"Apakah kedudukan Dewa Hanoman sudah menyatu dengan Tuhan Yang Maha Esa?"
"Ketahuilah, o Anand, bahwa di dalam SrimatBhagavatam (1.2.11) telah ditegaskan bahwa mereka yang sungguh-sungguh mengetahui Kebenaran mutlak, mengetahui bahwa sang diri diinsyafi di dalam tiga tahap yang berada sebagai Brahman, Paramatman dan Bhagavan. Ketahuilah bahwa tingkat Bhagavan itulah yang dicapai Hanoman tentang pengetahuan sejati akan Tuhan Yang Maha Esa. Dan itu puncak dari segala puncak kesempurnaan pengetahuan. Oleh sebab itu, o Anand, janganlah engkau sembrono dan berbuat kebodohan dalam menafsirkan makna AHAM BRAHMASMI. Sebab sekali engkau keliru menafsirkan, maka kesesatanlah yang terbentang di hadapanmu!"
"Apakah pengetahuan sejati akan Tuhan Yang Maha Esa itu dapat dicapai dengan pemahaman yang cerah?" seru seorang Rahib Buddhis dengan sentuhan nada seperti memancing.
"Masalah yang utama tentunya akan terletak pada pemahaman yang cerah atau SAMPAJANNA, tetapi yang terpenting justru bagaimana orang bisa berlatih untuk terus mengembangkan kesadaran penuh atau SATI menuju ke Sampajanna."
"Adakah jalan yang memudahkan untuk mencapai sampanjanna?" tanya seorang anak muda bernama Ratnanand menyela.
"Kalau sampean membaca kitab MahaSattipatthana Sutta, maka sampean akan mendapati percakapan Sang Buddha tentang 'kesadaran sempurna' di mana Sang Buddha menjelaskan tentang empat landasan bagi pandangan yang cerah. Yang pertama, adanya apa yang disebut KAYANUPASSANA, yakni merenungkan akan tubuh fisik. Sang Buddha menguraikan, bahwa pada bagian yang paling mendasar dari tubuh ini berikut pencerahan dan pikiran, maka di situlah awal terjadinya dunia, akhir dunia, dan jalan mengakhiri dunia. Camkanlah, wahai Ratnanand, bahwa Hanoman adalah Yogi yang melatih diri untuk menyadari secara penuh atas segala sesuatu yang timbul dan tenggelam yang terjadi pada tubuhnya sendiri."
"Yang kedua, adalah apa yang disebut VEDANA UPASSANA, yakni perenungan terhadap perasaan.
Ketahuilah, bahwa Hanoman adalah yogi yang senantiasa melatih kesadaran penuhnya untuk merenungkan sifat-sifat perasaan tanpa dia menghindar dari perasaan apapun. Yang ketiga, adalah apa yang disebut sebagai CITTAN UPASSANA, yakni perenungan terhadap keadaan pikiran. Dan ketahuilah, bahwa Hanoman adalah yogi yang selalu mengamati dan merenungkan sifat dari keadaan pikirannya."
"Yang keempat, adalah apa yang disebut DHAMMAN UPASSANA, yakni suatu kontemplasi pada objek-objek pikiran. Ketahuilah, bahwa Hanoman adalah yogi yang selalu melatih kesadaran penuhnya untuk diarahkan pada segala objek pikiran yang ada baik yang berupa ingatan-ingatan, konsepkonsep, harapan-harapan, ketakutan dan yang lainnya."
"Tetapi, sampean mesti ingat, bahwa apa-apa yang mesti sampean lakukan dengan keempat dasar bagi pandangan yang cerah tersebut cukuplah hanya sampean kenali saja. Jangan sampai sampean terlibat dan terseret di dalamnya. Sebab Sang Buddha mengajarkan keseimbangan (Upekha) dalam hidup tanpa terikat oleh sesuatu perubahan-perubahan."
"Apakah itu berarti kita harus menghilangkan keaku-an kita?" tanya Ratnanand.
"Apakah menurut sampean ke-aku-an bukan pangkal penderitaan?"
"Saya pernah mendengarkannya begitu."
"Ketahuilah, wahai Ratnanand, bahwa semua gejala di alam semesta ini adalah perubahan yang timbul begitu cepat dan tenggelam begitu cepat pula. Semua datang dan pergi, terus mengalir bagai arus sungai. Oleh sebab itu, kalau sampean dapat melihat kenyataan tersebut, mengapa sampean harus mengikatkan diri kepada benda-benda?"
"Camkanlah, wahai Ratnanand, bahwa ke-aku-an apabila tidak dikendalikan akan menjadi penyebab kerusakan yang membinasakan. Satu contoh, kalau sampean ingin memiliki istri yang cantik, dan keinginan sampean itu sudah terpenuhi, maka di satu saat nanti sampean akan bosan dengan istri sampean dan akan melihat perempuan yang lebih cantik. Kalau keinginan untuk memiliki perempuan yang lebih cantik itu terus sampean ikuti, maka sampean akan menjadi orang serakah, di mana sampean akan hidup dilingkari perempuan-perempuan cantik yang menjadi istri atau gundik sampean. Dan perlu sampean ketahui bahwa lahirnya keserakahan adalah berawal dari ke-aku-an, di mana dengan mengurangi keserakahan maka datangnya penderitaan akan terkurangi juga."
"Camkan akan wejangan Sang Buddha di dalam Dhammapada, bahwa kejahatan yang dilakukan oleh diri sendiri, lahir dari diri sendiri dan disebabkan oleh diri sendiri, dan semua itu akan menghancurkan orang bodoh ibarat intan membelah batu yang keras (Atta Vagga: XII:5). Jangan mengejar sesuatu yang rendah; janganlah hidup dalam kelengahan; janganlah menganut pandangan-pandangan salah dan janganlah terikat pada kedunawian (Loka Vagga: XIII:1)."
"Bangun! Jangan lengah! Tempuhlah kehidupan benar! Barangsiapa menempuh kehidupan benar, maka dia akan hidup bahagia di dunia ini maupun di dunia berikutnya, (Loka Vagga:XIII:2) pandanglah dunia ini seperti kereta kerajaan yang penuh perhiasan, yang membuat orang bodoh terlena di dalamnya, tetapi orang bijak yang menyadarinya tiada lagi melekatkan diri akanya (Loka Vagga: XIII:5)."
"Ingatlah akan sabda Sang Buddha: Cattani thanani naro pamatto apajjti paradarupasevi apunnalapham na nikamaseyyam nindam tatiyam nirayam cattuhan (Niraya Vagga: XXII:4), yang artinya, manusia yang lengah dan berzinah akan menerima empat ganjaran. Yang pertama, dia akan menerima akibat yang buruk. Yang kedua, dia tidak akan dapat tidur dengan tenang. Yang ketiga, namanya akan tercela, yang keempat dia akan masuk ke dalam neraka. Oleh sebab itu, engkaulah yang harus mengingatkan dan memeriksa dirimu sendiri. Bila engkau dapat menjaga dirimu sendiri dan selalu sadar, maka engkau akan hidup dalam kebahagiaan (Bhikku Vagga: XXV:20)."
"Apakah sampean sudah melakukan semua yang telah sampean omongkan?" seorang anak muda mendadak bertanya dengan suara keras.
"Ketahuilah, wahai anak muda, bahwa saya bukan Avatar, pun saya bukan penjelmaan Hanoman. Saya tidak lebih dari sampean dalam segala hal. Saya pun sekarang ini sedang mencari akan makna Kebenaran Sejati. Dan saya pun menyadari bahwa saya bukan Kebenaran mutlak sempurna, karena sesungguhnya Kebenaran mutlak sempurna hanyalah milik Tuhan Yang Maha Esa."
"Kalaupun di sini orang-orang bertanya dan saya menjawab, maka saya mengatakan bahwa apa yang saya kemukakan bukanlah terjamin sempurna kebenarannya. Saya hanya mengatakan apa yang sewajibnya saya katakan. Dan andaikata saya tidak mengerti akan suatu persoalan, maka saya akan mengatakan dengan sejujurnya bahwa saya tidak bisa menjawab. Oleh sebab itu, sekali lagi saya tekankan bahwa saya bukan Avatar! Saya tidak pernah mengaku-aku sebagai Avatar!"
"Kalau sampean bukan Avatar, kenapa sampean berani berbicara macam-macam di sini?" pekik anak muda yang belakangan baru saya ketahui bernama Chitrangada.
"Saya tidak pernah mengundang siapa pun untuk mendengar omongan saya," kata saya dengan suara tenang, "Saya juga tidak pernah minta dibayar untuk bicara dan menjawab berbagai pertanyaan. Dan bagi saya sudah jelas bahwa untuk menyampaikan kebenaran tidak perlu orang mengaku-aku sebagai Avatar. Kebenaran bisa datang dari siapa saja, termasuk dari seorang anak kecil. Dan saya sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW telah menyampaikan apa yang saya ketahui tentang tauhid tanpa perlu saya menyembunyikannya. Kalaupun apa yang saya kemukakan tidak sesuai dengan pandangan sampean, maka sampean harus memaklumi karena kita memiliki pandangan yang berbeda meski kebenaran sebenarnya hanya satu tak terpecah."
Chitrangada tampaknya tidak dapat menerima alasan saya. Dengan muka merah padam bagai bara api, dia berdiri dan langsung menerjang ke arah saya. Entah dari mana dia memperoleh, tahu-tahu di tanganya sudah tergenggam sepotong kayu yang dihantamkan sedemikian rupa kerasnya ke kepala saya.
Saya tercekat kaget dan menyebut istighfar sambil mengebaskan tangan untuk menangkis serangan Chitrangada. Tapi sungguh di luar dugaan, karena dari tangan saya mendadak meluncur semacam tenaga gaib yang menolakkan tubuh Chitrangada sedemikian rupa hingga tubuh Chitrangada terpental keras ke belakang dalam jarak sekitar enam-tujuh meter. Dan begitu jatuh Chitrangada langsung meraung-raung seperti orang kesurupan setan.
Melihat kejadian tak terduga itu, mendadak saja puluhan orang beramai-ramai bersujud di depan saya. Dan saya benar-benar masih kebingunggan ketika mendapati salah seorang di antara mereka adalah Brahmin Bhratrin. Dengan mengiba dia memberi kesaksian kepada semua orang bahwa saya tiada lain adalah "Guru Hanoman" yang telah menyelamatkan nyawanya.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Malam hitam membentang diwarnai jutaan bintang yang meneteskan embun bagai langit menitikan air mata membasahi semesta. Keheningan mencekam seolah-olah menidurkan rerumputan

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA BELAS)

Malam merentang laksana kubah biru dengan bintang-gemintang berkilau-kilau seperti jutaan permata ditaburkan. Sepotong rembulan sabit melengkung bagai busur direntangkan di

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Dening: Suparto BrataDiamput! Sepatuku ilang ndhuk mejid. Iki gara-gara sholat Jumat ndhuk mejid enyar cedhake kantorku. Diamput, ejik enyar wis nggawa korban!

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sebuah perjalanan melintasi semesta ruhani adalah sebuah rentangan pengalaman menakjubkan yang sangat fantastis jika dipikir dengan nalar. Sebab segala sesuatu yang tergelar

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEMBILAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEMBILAN)

Malam sudah agak larut ketika saya kembali dan mendapati Ashok masih menjerang airuntuk membuatkan kopi Tuan Arvind. Sepengetahuan saya, Ashok sepertinya tidak pernah

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA)

"Kalau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!"Bisikan misterius itu kembali mengganas sepertimenjebol dinding-dinding otak saya. Namun karena kebetulan saya

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Selasa sore seusai sembahyang Ashar, saya langsung melesat ke Jl. Jagannath Shankar Seth dengan mengendarai bus kota. Yang namanya bus kota di mana pun sama, kalau jam kerja

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Setelah 9 tahun merantau ke Newyork, Rahwana akhirnya memutuskan untuk mudik ke kampung halamannya, tepatnya di kecamatan Alengka kabupaten Blora.Suatu pagi sehari sebelum