Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEMBILAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEMBILAN)

  • 2018-07-30 13:17:25
  • 311

Malam sudah agak larut ketika saya kembali dan mendapati Ashok masih menjerang air
untuk membuatkan kopi Tuan Arvind. Sepengetahuan saya, Ashok sepertinya tidak pernah istirahat dari kerja hariannya sebagai jongos di rumah itu. Tadi pagi, misalnya, saya sudah melihat dia menjerang air untuk kopi sekaligus persiapan mandi bagi Tuan Arvind dan Laxmi. Sementara air dijerang, dia sudah kelihatan sibuk menyapu kamar depan, ruang tengah, teras, dan halaman. Anehnya, dia seperti sudah memiliki naluri kuat sehinngga pekerjaan yang menggunung pun dapat selesai tepat waktu. Dia seperti sudah tahu kapan air yang dijerangnya matang. Dia seperti tahu kapan seterika listriknya mulai panas. Bahkan dia tahu pasti kapan gas di ditabung kompor butuh diisi.
Semula saya mengira dia melihat waktu dengan arloji kecil. Rupanya dugaan saya keliru, karena belakangan saya baru tahu kalau dia hanya mengandalkan nalurinya yang terlatih bertahun-tahun. Naluri Ashok, dalam penilaian saya, adalah naluri jongos yang tidak mesti dimiliki setiap orang meski kodrat seperti itu melekat secara universal pada tiap orang. Tetapi karena ke-jongos-an Ashok lebih kuat dibanding orang lain, maka dia seperti sudah memahami rutinitas yang melingkarinya, di mana dia tahu bagaimana menyenangkan hati tuannya sekaligus dia tahu bagaimana menghindari kemarahan tuannya. Terlatih naluri ke-jongos-an Ashok ternyata sudah berlangsung sejak dia masih kecil, yaitu ketika dia harus melayani neneknya yang lumpuh yang selalu butuh ini itu.
Kalau kebetulan saya sedang melihat Ashok bekerja, sering saya membayangkan dia melesat sangat cepat dari satu ruang ke ruang lain seolah-olah pada kedua kakinya terpasang sepatu roda. Dalam pandangan saya, Ashok meluncur begitu cepat dari satu tikungan ke tikungan lain. Kemudian dengan kecekatan luar biasa dia menyambar gelas-gelas, piring-piring, cangkir-cangkir dan mangkuk-mangkuk yang dirauknya sedemikian rupa di dadanya untuk dibawa ke dapur. Cara Ashok mencuci barang pecah-belah itu pun amat menakjubkan hati saya, karena dia seperti tidak mencuci bahan yang mudah pecah tetapi seperti mencuci bahan dari besi. Dia masukkan semua barang pecah belah ke dalam bak besar, dan setelah diberi air kemudian ditaburi sabun. Kemudin secepat kilat tangannya mengaduk-aduk di antara busa sabun; beberapa detik kemudian barang pecah-belah itu berlesatan ke ember yang berisi air bersih; kemudian dia mengaduk-aduk lagi; barang-barang itu pun berlesatan di atas meja; diusap-usap dengan lap kain; baru berlesatan di atas rak.

Keterampilan Ashok dalam bekerja sering saya kesankan seperti orang bermain akrobat, sehingga saya sering harus bertepuk tangan penuh kagum. Semula, saya memang agak ragu bertepuk tangan karena takut menyinggungnya, tetapi setelah saya tahu bahwa dia suka sekali dipuji hasil kerjanya maka saya pun tak segan lagi bertepuk tangan atau sekadar mendecakkan mulut penuh kagum.
Sebagai seorang jongos dengan beban kerja yang berat tanpa batas waktu, Ashok sering kali kedapatan tidur sewaktu menjalankan tugas. Dia, terutama sering tertidur kalau sedang membersihkan lumut kamar mandi. Dengan posisi meringkuk sambil merangkul lututnya dia mesti memperdengarkan suara ngoroknya yang mirip lenguh babi. Kalau Ashok sudah tidur, jangan harap bisa dibangunkan. Dia akan terus meringkuk dan mendengkur meskipun bahunya diguncang-guncang keras atau kepalanya dihantam martil. Dia terus mendengkur terus memperdengarkan suara: grook…grook…groook.
Ashok baru terbangun kalau mendengar ada perempuan kencing,di mana dengan mengejap-ngejapkan mata dia akan melirik ke kanan-kiri. Kalau perempuan yang terpaksa kencing di kamar mandi itu melihatnya, dia buru-buru meringkuk lagi.
Sepintas lalu, orang memang tidak bisa melihat jelas Ashok yang meringkuk di kamar mandi. Sebab dia selalu meringkuk di bawah wastafel. Tapi Laxmi yang sudah sering mengetahui kebiasaan itu, sering mengambil air untuk diguyurkan ke tubuh Ashok. Sesudah tubuh Ashok basah.Laxmi mencabut bulu-bulu di ibu jari kakinya. Dengan cara itu, Ashok langsung terbangun dan dengan tergopoh-gopoh dia melesat keluar kamar mandi.
Gerak-gerik Ashok yang aneh sering membuat saya mengesankan dia sebagai manusia mesin yang hidup secara mekanis. Walaupun Ashok bukan manusia mesin, setidaknya dia akan cukup tepat apabila dia bekerja di Nehru Planetarium sebagai manusia dari planet asing. Sungguh saya tidak bisa membayangkan kalau orang-orang seperti Ashok yang bekerja siang malam tanpa kenal henti jumlahnya amat banyak. Tentulah tenaga kerja akan tersedia cukup banyak, meski hanya kerja sebagai jongos. Dan ke-jongos-an Ashok benar-benar saya sayangkan, sebab menurut hemat saya orang macam Ashok bisa bekerja di tempat lain dengan gaji yang lebih layak.
Kenyataan bahwa Ashok adalah manusia biasa yang bisa letih, baru saya sadari setelah satu saat saya memergokinya sedang memijit-mijit kakinya sambil berselonjor di teras depan rumah tak jauh dari kamar saya. Ketika saya tanya, dia dengan meringis jengah menjawab kakinya sudah sangat pegal karena sudah bertahun-tahun dipakai kerja tanpa henti. Dia merasa beruntung, karena Tuhan memberinya kaki dan tangan dari daging dan tulang, sehingga dia hanya merasa pegal dan letih yang amat sangat. Dia justru tidak bisa membayangkan kalau tangan dan kakinya dibuat Tuhan dari besi atau baja; tentulah kaki dan tangannya akan aus atau bahkan karatan.
Dengan ungkapan Ashok, saya menjadi sadar betapa seringnya saya terkecoh oleh kesan bahwa sesuatu yang kuat mesti saya kaitkan dengan bahan besi atau baja. Padahal, kekuatan besi dan baja memiliki keterbatasan dengan berbagai cara dan fungsinya. Ya, saya sungguh tidak bisa membayangkan andaikata telapak kaki saya terbuat dari baja yang tentunya akan aus karena selama bertahun-tahun tergeser sandal, sepatu, dan batu serta tanah. Tuhan yang membuat bahan baku telapak kaki saya dari darah dan daging ternyata menempatkan elastisitas tersendiri yang membuat telapak kaki saya tidak aus.
Ashok sendiri setelah mengungkapkan keletihan yang dialaminya, seperti biasanya, langsung menggempur kedua majikannya dengan gerutu dan umpatan yang kotor. Dia menyatakan bahwa selama hidup telah diperas habis-habisan oleh Tuan Arvind dan Laxmi seperti dia itu seekor sapi perah yang diperah susunya tak bersisa. Ashok dengan bahasa yang amat kasar kemudian menceritakan bagaimana busuknya selera Tuan Arvind terhadap perempuan, di mana Tuan Arvind yang bangga dengan darah kebangsawanannya itu diam-diam sering menyuruh Ashok mencari pelacur-pelacur jalanan yang Ashok pun muak menggarapnya. Tuan Arvind, tutur Ashok, seleranya terhadap perempuan rendah sekali seakan-akan dia tidak peduli apakah perempuan yang digarapnya itu pelacur yang cantik atau hanya sesosok mummi.

Saya sendiri sebenarnya sudah amat muak mendengar umpatan Ashok terhadap Tuan Arvind dan Laxmi. Oleh karena itu, saya pun diam-diam berusaha mengalihkan pembicaraan dengan persoalan sekitar Avijja, kemenakan Tuan Arvind. Dan begitu saya menyinggung soal Avijja, Ashok tampak agak gentar berbicara seolah-olah dia menghadapi seekor setan yang jahat dari dasar neraka jahannam. Bahkan tanpa saya duga, Ashok dalam tempo beberapa detik sudah basah kuyup bajunya oleh peluh.
Perubahan Ashok yang mendadak itu tentu saja membuat saya bertanya-tanya. Sebab pada waktu sebelumnya, saya justru melihat Ashok sangat antusias menggempur Avijja dengan ungkapan-ungkapan yang seronok. Dan saya pun akhirnya maklum setelah Ashok mengaku bahwa dia baru saja ditempeleng Avijja garagara kepergok saat ngrasani bersama Laxmi.
"Sudahlah, jangan takut," kata saya menghibur, "Nanti kalau ada yang melapor dan sampean ditempelengi, biar saya yang akan mengganyangnya."
"Sampean mau melindungi saya?" gumam Ashok berharap.
"Ya!" sahut saya memastikan.
Setelah merasa pasti bahwa saya akan melindungi, maka Ashok pun mulai menggempur Avijja. Avijja, menurut Ashok, adalah manusia serakah yang benar-benar laknat. Dengan berbagai kecurangan dan kelicikannya, Avijja telah menguasai hampir seluruh warisan kakek Laxmi, ayah Tuan Arvind yang bernama Ditthasava. Dengan memalsukan surat-surat dan tanda tangan, Avijja memperoleh sebagian besar harta Tuan Ditthasava yang seolah-olah telah menulis surat warisan kepadanya. Sementara proses perebutan harta warisan itu berlangsung, dengan kelicikan luar biasa Avijja sengaja memasang seorang pelacur untuk menggaet Tuan Arvind hingga melupakan persoalan warisan itu. Bahkan karena ulah Avijja yang menenggelamkan Tuan Arvind dalam kemabukan atas perempuan itulah hingga Ny. Lalitha, ibu Laxmi meninggal karena menderita tekanan batin.
Cara apapun telah ditempuh oleh Avijja untuk memenuhi keinginannya. Bahkan Tuan Jhoota, adik Tuan Arvind sempat difitnah oleh Avijja sebagai pengedar obat bius hingga Tuan Jhoota dijebloskan ke dalam penjara oleh polisi. Dengan rontoknya Tuan Arvind dan Tuan Jhoota, maka Avijja dengan leluasa bisa merangsak harta warisan dengan gampang.
"Apakah Tuan Jhoota itu orang kurus yang sering diberi uang Laxmi?" tanya saya mengingat sosok kurus yang sering mampir ke rumah Tuan Arvind dan diberi makanan serta uang oleh Laxmi.
"Benar," sahut Ashok mengiba, "Saya selalu merasa kasihan bila melihat Tuan Jhoota, sebab dia orang yang lugu dan agak sedikit bodoh. Setahu saya, yang paling sering mencelakakan Tuan Jhoota adalah kebiasaannya membual untuk menutupi kebodohannya. Dia selalu berusaha menjelek-jelekkan Tuan Arvind maupun saudara-saudaranya yang lain seolah-olah dia ingin mengemukakan bahwa kemelaratannya adalah disebabkan oleh keserakahan mereka."
"Karena itu, sampean akan selalu mendengar Tuan Jhoota bicara menyindir-nyindir Tuan Arvind dalam segala hal. Dia hanya menyindir dan memfitnah saudara-saudaranya yang kaya yang dianggapnya memelaratkan dia. Dia selalu berbicara kepada semua orang yang ditemuinya, bahwa kekayaan yang diperoleh saudara-saudaranya adalah kekayaan yang tidak halal. Bahkan dengan berani dia mengatakan bahwa kekayan Tuan Arvind dan Avijja diperoleh karena mereka bisnis obat bius."
"Rupanya, Avijja mendengar hal itu dan ingin memberi pelajaran kepada pamannya yang dungu itu. Dan entah bagaimana awalnya tahu-tahu di dalam tas Tuan Jhoota terdapat 50 gram heroin yng mnyebabkannya digerebek polisi dan dia harus masuk penjara empat tahun. Celakanya, kejadian itu bertepatan dengan waktu kematian Tuan Ditthasava beberapa hari hingga Tuan Jhoota pun kehilangan hak atas warisan begitu saja, karena dalam surat wasiat Tuan Ditthasava hanya Avijja yang disebut-sebut sebagai pewaris tunggal. Alasannya, Tuan Arvind tidak bisa melanjutkan dinasti Ditthasava, karena hanya memiliki anak perempuan. Sedang Tuan Jootha dianggap memalukan nama baik keluarga Ditthasava karena terlibat heroin. Satu-satunya orang yang berhak adalah Avijja, anak Tuan Mithya, yang tak lain adalah anak tertua Tuan Ditthasava."
"Kerja apakah Tuan Jhoota?" tanya saya ingin tahu. "Jongos di kuil Mumbadevi."
"Jongos?" tanya saya heran, "Kenapa dia tidak bekerja saja pada Tuan Arvind atau pada Avijja?"
"Tuan Jhoota tidak mau," kata Ashok, "Dia merasa bahwa dengan bekerja di kuil Mumbadevi, dia masih mendapat penghormatan yang layak dari masyarakat, karena bagaimanapun masyarakat yakin bahwa seorang jongos yang selalu membersihkan tempat ibadah akan lebih mudah menyampaikan doa kepada Sang Dewi daripada orang kebanyakan."
"Apakah dia sering disuruh mendoa dan diberi ongkos?"
Ashok sambil tersenyum-senyum meng-iya-kan. Tetapi sesaat kemudian, tanpa sadar Ashok mulai lagi menggempur Tuan Arvind seolah-olah Tuan Arvind adalah dongeng yang paling menyenangkan baginya. Dan saya menilai, bahwa kegemaran Ashok membicarakan Tuan Arvind adalah karena ketertindasannya oleh kesewenang-wenangan Tuan Arvind.
"Saya sudah muak melihat Tuan Arvind," gumam Ashok seperti biasa, "Saya selalu berdoa agar si laknat Laxmi itu tidak laku kawin. Biar dia jadi perawan lapuk. Biar dia tidak pernah punya suami dan anak-anak sampai nenek-nenek. Dan saya kira, Tuan Arvind akan mampus karenanya."
"Doa sampean terlalu kejam, Ashok," sahut saya mengingatkan.
"Saya sudah tidak kuat diperlakukan begini," seru Ashok dengan mata berkilat, "Saya lebih baik mencari kerja di tempat lain daripada terus-terusan begini."
Kalau Ashok sudah melampiaskan kejengkelannya, maka saya melihat gemuruh ombak di lautan jiwanya menggelora dahsyat bagai hendak menghancurkan segalanya. Saya melihat dia seperti Ramabhargava, Dewa Kapak yang siap menghancurkan siapa saja yang menghalangi langkahnya. Tetapi, begitu Tuan Arvind muncul, Ashok langsung meringkuk bagai trenggiling. Dia hanya mengangguk-angguk bagai burung onta.
Melihat sikap Ashok yang gampang berubah itu, diam-diam saya sering menjadi geram. Setelah saya memikir-mikir, saya pun menyadari bahwa bagaimanapun mental jongos yang menjadi bagian inheren watak manusia macam Ashok memang tidak memungkinkan baginya untuk bersikap konsisten dan berani berisiko atas apa yang dikehendakinya. Manusia macam Ashok akan selalu bersikap manis di depan orang, tetapi akan mengutuk di belakang. Orang macam Ashok selalu terperangkap pada kebiasaan menggerutu dan mengumpat dalam segala hal. Bahkan kalau perlu Tuhan pun akan diumpat dan dimaki-maki karena dianggapnya telah memberinya nasib busuk. Saya kira kodrat sudah amat adil dengan menempatkan manusia macam Ashok di bawah tekanan orang lain, karena kodratnya sendiri memang kodrat sapi perah yang merasa layak apabila diperah.
Mendadak saja, saya mengingat seorang kenalan saya di Surabaya yang bernama Noor Sodok yang bekerja sebagai tukang becak dan calo nomer buntutan. Watak dan sifat Ashok mirip dengan Noor Sodok, di mana dalam banyak hal saya sering mendengar Noor Sodok membual dan berbicara muluk-muluk sekitar ajaran tasawuf yang dicampuradukkan dengan wayang. Dia bicara soal orang-orang berilmu dengan berbagai fatwanya yang ditambah-tambahkan sendiri bumbunya.
Sekalipun Noor Sodok suka bicara soal ilmu yang aneh-aneh, dia sendiri suka berjudi hingga rumah tangganya berantakan. Kalau sudah begitu, maka dia akan mengumpat siapa saja yang ada di sekitarnya sebagai manusia busuk. Anehnya, apabila dia minta fatwa kepada seseorang dan diberi fatwa, maka sering dia justru memfatwai orang tersebut, sehingga di kalangan tukang becak dan calo nomer buntut dia disebut "Kiai Noor Sodok" yang suka menyodok. Bahkan, menurut penilaian saya, dia sering mengumpat dan mmaki-maki Tuhan dalam hati karena Tuhan dianggapnya telah memberi nasib buruk.

Rabu pagi dalam suatu kesempatan sarapan pagi, saya menceritakan kepada Tuan Arvind semua pengalaman saya di rumah Baba Mirza bersama Ahmed Bushra dan Vinod serta Avijja. Laki-laki yang menjadi bapak Laxmi Devi itu melonjak kaget mendengar omongan saya. Kemudian dengan mata berkilat dia meraung keras sambil menuding-nuding seolah-olah marah kepada saya:
"Tua bangka Mirza itu bajingan tengik! Dia penipu besar yang bekerja untuk kepentingan perutnya sendiri. Ahmed Bushra dan Vinod adalah begundal dukun tua keparat itu."
"Tapi dia tadi memanggil ruh Salman Rusdhie." "Orang lain boleh percaya itu," sergah Tuan
Arvind berapi-api, "Tapi saya tidak percaya sihir busuk itu."
"Tadi malam dia kerasukan ruh Salman Rusdhie," kata saya memancing, "Ruh Salman Rusdhie bahkan ngomong dengan Vinod. Mereka bahkan mengaku masih saudara sepupu."
"semua orang Bombay tahu kalau Vinod dan Salman adalah saudara sepupu," seru Tuan Arvind berang, "Semua orang tahu mereka berdua memang keturunan para pendusta yang hidup dalam lingkaran dusta. Orang-orang pun sudah tahu bahwa Vinod dan Salman adalah anak-anak nakal yang suka bohong. Orang-orang pun sering memergoki mereka mencopet dan mencuri di terminal dan pasar."
"Bagamana sampean bisa tahu semuanya?" tanya saya.
"Sejak geger Nobel laknat itu, semua orang beramai-ramai membongkar kebusukan-kebusukan di dalam keluarga Rusdhie. Orang bahkan akhirnya tahu bahwa kematian ayah Salman karena menderita batin, sebab Salman ternyata bukan anak kandungnya. Salman adalah anak hasil hubungan gelap, yang hal itu baru diketahui setelah Salman Rusdhie suatu hari sakit dan diperiksa darahnya. Ternyata golongan darah ayah beranak itu sangat berbeda."
Kejadian yang saya anggap menakjubkan, justru terjadi setelah heboh novel Salman Rusdhie, di mana keberadaan Islam setelah masa menggegerkan itu, mendadak bersinar terang-benderang penuh harapan. Di Hongaria keberadaan umat Islam diakui. Kebebasan menjalankan ajaran Islam pun mulai beroleh angin di Soviet. Bahkan tentara merah pun ditarik dari Afghanistan. Gerakan-gerakan Islam di Cina. Berdiri tegaknya masjid di Roma; semua yang ada bagai menggetar dan memancarkan kebenaran Islam. Ya, saya secara samar melihat bahwa umat Islam di berbagai belahan dunia sedang bergerak menegakkan panji-panji kebenaran Islam dalam berbagai manifestasi.
Saya sendiri sudah menyadari bahwa dalam rentangan sejarah telah bermunculan orang-orang yang dengan sengaja berusaha menggempur keberadaan Nabi Muhammad SAW dari berbagai sisi. Saya memaklumi, karena para penggempur tersebut memiliki berbagai alasan. Ada yang menggempur Nabi Muhammad SAW memang semata-mata karena dibayar seperti halnya Salman Rusdhie. Ada yang menggempur dikarenakan sentimen ras seperti halnya para penulis dan pengarang Yahudi yang melancarkan aksi sejak awal kenabian beliau, di mana banyak Yahudi yang kecewa karena yang terpilih sebagai mesias adalah manusia bernama Muhammad yang tak lain adalah Yahudi peranakan dari jalur genetika Ibrahim. Padahal yang ditunggu-tunggu para Yahudi di Makah dan Madinah adalah lahirnya nabi dari ras Yahudi yang murni, sebagaimana yang dijanjikan kitab suci mereka. Sementara tak kurang pula yang menggempur Nabi hanya berdasar kecemburuan dan kebodohan agama seperti yang dilakukan Martin Luther dan Dante Alegori beserta begundalnya.
Namun demikian, digempur atau tidak digempur, Nabi Muhammad adalah manusia raksasa maha raksasa yang tiada tanding di atas lembaran sejarah kemanusiaan. Ya, diakui atau tidak diakui, secara objektif keberadaan Nabi Muhammad SAW dapat dipandang sebagai tokoh sejarah yang memiliki prestasi luar biasa yang tidak pernah terpecahkan sepanjang sejarah kemanusiaan. Siapakah yang dapat menyangkal bahwa Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya tokoh sejarah yang namanya selalu disebut oleh berjuta-juta manusia tanpa henti dalam tempo 15 abad ini? Dalam sholat, shalawat kasidah, wirid, pengajian, bahkan sampai di sekolah pun nama itu terus disebut tanpa henti sebagai figur idola yang dijadikan keteladanan. Bentuk bumi yang bulat dengan perbedaan waktu yang beragam, setidaknya memungkinkan nama Nabi Muhammad SAW senantiasa disebut dalam tiap jam, menit, detik. Adakah tokoh sejarah yang begitu luar biasa diingat dan dikenang serta disebut-sebut namanya selama 15 abad selain beliau?
Entah berapa banyak manusia yang namanya hanya disebut dalam perkuliahan-perkuliahan belaka.
Dan berapa banyak pula manusia yang dilupakan orang begitu saja meski pada masa hidupnya dikenal sebagai manusia luar biasa. Saya kira dari sisi sejarah ini saja, orang yang paling sekuler pun-kecuali yang disesatkan Allah-mesti akan mengakui prestasi maha raksasa Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh sejarah dalam makna yang utuh.
Ketika saya sedang memikir-mikir, Tuan Arvind memulai gempurannya lagi kepada Baba Mirza. Menurutnya, Baba Mirza adalah manusia busuk yang mengaku berdiri di atas kepentingan semua agama, meski dia sendiri adalah beragama Majusi. Tapi dengan satu dan lain alasan, Baba Mirza sebenarnya sedang menegakkan dinasti, di mana dengan mengaku sebagai Avatara alias Tuhan, dia mulai menumpuk banyak rezeki. Dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya bagi kelanjutan kekuasaannya yang akan berlangsung turun-temurun. Ya, entah sampai kapan, keturunan Baba Mirza akan dianggap sebagai Avatara yang berhak disembah dan dijamin kehidupannya.
Gempuran dan hantaman Tuan Arvind terhadap Baba Mirza benar-benar luar biasa. Dia memaparkan segala kebusukan Baba Mirza yang pemalas dan suka menipu orang dengan macam-macam takhayul. Dia menceritakan bagaimana sesatnya Baba Mirza yang menganut ajaran Zarathustra yang menyembah api. Bahkan, dia merasa khawatir kalau suatu ketika Baba Mirza memiliki pengaruh yang lebih luas, sehingga akan menyesatkan banyak umat seperti Zarathustra. Ketika Tuan Arvind ngomong macam-macam soal Zarathustra, tiba-tiba saja saya ingat buku karangan Nietzsche yang bejudul Also Sprach Zarathustra yang pernah saya baca lima tahun silam. Kalau Zarathustra dalam karangan Nietzsche itu adalah sama dengan Zarathustra penyebar ajaran Majusi, maka tak pelak lagi saya pun berkesimpulan seperti Tuan Arvind bahwa Zarathustra memang sesat. Tetapi, terus terang saja, saya belum banyak tahu tentang Zarathustra sendiri. Saya hanya membaca dari buku atau omongan orang yang tentu saja belum jelas kepastian benarnya. Oleh sebab itu, diam-diam saya berniat untuk mencari tahu tentang Zarathustra secara utuh, karena bagaimana pun orang-orang keturunan Persia yang menyembah api jumlahnya cukup banyak di Bombay.
Omongan Tuan Arvind yang membusuk-busukkan ajaran Zarathustra tidak lagi saya gubris. Saya mendadak merasakan bahwa ada sesuatu yang dilingkari misteri sekitar keberadaan Zarathusra di dalam relung-relung otak dan jiwa saya. Saya mendadak merasa diliputi rasa bersalah karena hampir saja menjatuhkan vonis bagi seorang manusia masa silam yang bernama Zarathustra yang belum saya ketahui kebenaran maupun kesesatan risalah yang dibawanya. Dan Tuan Arvind masih terus mengumpat dan mengutuki Zarashustra maupun Baba Mirza ketika saya melesat pergi meninggalkannya.
Melihat saya melesat begitu saja, Tuan Arvid berteriak keras, mengingatkan agar saya tidak mengikuti jejak iblis sepert Baba Mirza.
Dengan otak dipenuhi tanda tanya, saya melangkah tanpa tujuan yang pasti menghiliri Jl. Yusuf Maherelli ke arah timur hingga tiba di kawasan Bhuleshwar. Setelah membeli teh, saya melanjutkan lagi perjalanan ke timur ke arah Jl. Vithalbhai Pastel hingga di simpang lima sardar patel. Saya mendadak saja menjadi bingung memikirkan langkah saya yang seperti tidak saya kehendaki. Dalam hati saya sempat berpikir, bahwa apabila saya berjalan ke arah selatan menuju Jl. Jaganath Shankar Shet, maka saya akan menemui Baba Mirza. Tapi untuk apa saya menemuinya?
Matahari di puncak langit Bombay menebarkan bara api, menyengat gugusan pori-pori di sekujur tubuh saya. Peluh sudah saya rasakan membasahi pakaian saya, dan saya rasakan kepala saya seperti hampir meledak dibakar panas matahari. Jalanan aspal di depan saya, saya lihat memuai dengan fatamorgana meliuk-liuk bagaikan menguapkan bara api dari perut bumi. Dan kendaraan-kendaraan saya lihat masih berkelebatan dengan kecepatan setan ketika saya merasakan tubuh saya oleng dengan kepala berdenyut-denyut.
Seyogyanya saya sudah tumbang dan pingsan di pinggir jalan andai kata saja tidak saya lihat kelebatan bayangan seorang yang saya kenal sebagai Chandragupta. Ya, bayangan lelaki setengah umur itu mendadak saja berkelebat dalam jarak sekitar lima meter di depan saya. Dia berdiri tegak dan tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah saya. Melihat pemandangan itu, tentu saja saya terkejut sekaligus keheranan, sebab selama ini saya sudah berusaha sekuat tenaga mencarinya, dan mendadak saja dia sudah muncul di depan saya.
Dengan suara garau saya panggil namanya. Tetapi dia hanya tersenyum sambil melambaikan tangan seolah-olah mengajak saya. Tanpa menunggu waktu, dan dengan menguatkan diri, saya buru-buru mengikutinya meski tubuh saya terasa remuk.
Sepanjang perjalanan tubuh si tua Chandragupta melesat di atas jalanan seolah-olah tubuhnya terbuat dari kapas yang ringan yang melayang-layang ditiup angin. Tubuh Chandragupta dengan lincah menerobos keramaian jalanan dengan gerakan yang lincah. Sepintas saya melihat tubuhnya bagai terbentuk dari asap karena dengan tenang dia melangkah di antara kelebatan kendaraan yang menabraki tubuhnya tetapi tak satu pun yang mengenainya. Sementara saya dengan kaki terasa makin berat dan napas megap-megap serta kepala berdenyut-denyut, mengikuti terus dari kejauhan.
Saya sendiri heran kenapa sampai begitu menggebu-gebu memburu Chandragupta. Saya hanya merasa bahwa wangi kesturi yang ditebarkan tubuhnya benar-benar membius kesadaran saya, meski bagi orang lain bau tubuh Chandragupta tidak lebih wangi dari bau seekor kambing. Dan saya benar-benar seperti mabuk bius mengikutinya berjalan di tengah terik matahari yang membakar dengan tujuan yang tidak saya ketahui. Saya hanya sempat mengingat kalau sudah melewati Jl. Dr Dadasaheb Bhadkamkar, terus menerobos Jl. Maulana Shaukatali hingga tiba di simpang enam Nana Chowk. Dan berjuta-juta jarum berani saya rasakan menusuk-nusuk sekujur tubuh saya ketika Chandragupta melesat terus ke Jl. August Kranti hingga Jl. Bhulabai Desai di tepi pantai laut Arab.
Desau angin laut Arab bersuit-suit menyibak gelombang yang menghempas pantai. Lautan luas tanpa batas mendadak menyergap pemandangan saya. Sementara desau angin yang mengawut-awutkan rambut saya, terasa panas membara. Leher saya terasa dicekik sebuah tangan raksasa karena rasa haus yang menerkam. Tubuh saya terasa lunglai bagai tanpa tulang. Dan saya lihat Chandragupta melayang-layang di atas air laut dengan melambaikan tangannya ke arah saya.
Melihat pemandangan menakjubkan itu, saya mendadak berpikir bahwa apa yang saya lihat itu bisa saja merupakan ilusi saya. Saya kejap-kejapkan mata saya untuk meraih kesadaran secara utuh. Beberapa jenak saya lihat tubuh Chandragupta bergoyanggoyang di tengah alunan gelombang. Dan sedetik kemudian saya lihat Chandragupta berdiri di atas pasir pantai, tidak melayang di atas air seperti yang saya lihat sebelumnya.
Sebenarnya saya ingin sekali berbicara menanyai sesuatu kepada Chandargupta. Tetapi lidah saya terasa keluh. Sementara Chandragupta berdiri tegak dengan wangi kesturi menebar dari tubuhnya dan benar-benar membius kesadaran saya. Dan suara Chandragupta yang mendadak begitu merdu dalam pendengaran telinga saya, terdengar mengalun lembut menerobos suara angin pantai yang bersuit-suit:
"Sudahkah engkau menjumpai iblis?"
"Belum!" jawab saya tergagap dan kebingungan.
Si tua Chandragupta tersenyum sambil merentangkan tangannya ke atas. Mulutnya komat-kamit dan matanya dipejamkan. Beberapa detik kemudian dengan gerakan aneh dia menangkupkan kedua telapak tangannya. Bersamaan dengan melekatnya kedua telapak tangannya itu, terlihat kilatan warna platina berkilauan seperti kilatan petir.
Saya terpukau dengan kejadian aneh yang dilakukan oleh Chandragupta. Tetapi sebelum saya sadar akan sesuatu, mendadak saja saya lihat cakrawala terbelah bagai kelopak mawar. Laut Arab di depan saya menggemuruh, tiba-tiba saja bagai dipisahkan oleh sebuah tirai gaib. Dan saya melihat ada lautan lain yang jauh lebih luas dan dalam dari laut Arab: sebuah lautan yang kelam tanpa batas.
Saya masih kebingungan ketika tubuh Chandragupta mendadak melesat bagai seekor burung ke arah tirai cakrawala yang terkuak. Tubuh Chandragupta berkilat-kilat bagai platina ketika melewati tirai cakrawala. Saya tercekat bingung.
"Kemarilah, Sudrun!" seru Chandragupta dengan suara merdu bagai nyanyian jiwa menerobos teratai kedamaian saya.
Hati saya tergerak, saya kemudian melangkah tertatih ke tirai cakrawala yang membelah di depan saya. Dan seyogyanya saya akan melompat menyusul Chandragupta andaikata saja saya tidak merasakan tangan saya dihentakkan. saya menoleh dan saya dapati orang-orang yang saya kenal berdiri melingkari saya. Ya, Saya lihat Tuan Arvind, Laxmi Devi, Ashok, Avijja, Bhavasava, Vinod Khamasava, Ahmed Bushra, Profesor Moha-asha, Baba Mirza, Jhoota. Dan saya seperti memasuki alam mimpi ketika orang-orang itu secara serempak memperingatkan agar saya tidak melanjutkan niat saya bunuh diri dengan terjun ke laut Arab.
"Saya tidak pernah berniat bunuh diri," kata saya kebingungan, "Saya hanya menuju ke suatu tempat untuk menemui seseorang."
Mereka tertawa terbahak-bahak seperti menertawakan kebodohan saya. Mereka mengatakan bahwa saya sudah tidak waras karena keinginan saya untuk menemui Chandragupta yang edan. Mereka mengingatkan saya, bahwa saya akan mati digulung gelombang laut Arab yang ganas. Mereka kemudian secara serentak menyarankan agar saya menunggu saja kapal yang akan berangkat, tetapi tentu tidak di pantai laut Arab, tetapi di pelabuhan Bombay di mana saya mesti mengurus surat-surat lebih dulu di Foreigners Registration Office di Jl. Dadabhoy Naoroji.
Saya tentu saja menolak usul mereka. Hasrat saya untuk mengikuti Chamdragupta sudah meluap ibarat lautan banjir. Dan saya menjerit keras sambil berlari di atas pasir pantai menuju tirai cakrawala yang terkuak. Tetapi dengan kekuatan yang dahsyat, orang-orang mengerubuti saya. Mereka menarik tangan dan kaki saya. Saya rasakan rambut saya disentak-sentak. Saya rasakan baju saya dikoyak-koyak. Tapi saya terus meronta dan berusaha melepaskan diri.
Bumi mendadak berguncang, mengaduk air samudera saya, menghamburkan hujan darah ke puncak langit. Matahari mekar bagai mawar menebarkan panas api. Tanah-tanah menganga bagai raksasa tertawa. Angin bersuit-suit menggemakan raungan setan neraka. Awan-gemawan pun berjumpalitan menaburkan hawa panas membara. Sementara tubuh saya terasa dibetot dari segala penjuru sehingga saya rasakan seluruh persendian di tubuh saya hampir copot dihentakkan kekuatan berton-ton.
Antara sadar dan tidak, saya melihat kelebatan wajah-wajah dahsyat menyeringai bagai hendak menelan saya utuh. Saya meronta, dan saya rasakan hentakan kuat hampir melepaskan anggota tubuh saya satu persatu. Akhirnya dalam keadaan sakit luar biasa, tiba-tiba saya merasakan kilatan petir mengguntur di pedalaman saya. Saya tersentak, sebab kilatan putih platina bagai petir itu adalah sirr-i-asrar di relungrelung teratai kedamaian saya yang sudah cukup lama tidak hadir di pedalaman saya.
Dengan hadirnya letusan Sirr-i-Asrar yang membentur pedalaman saya yang hening, mendadak saja saya teringat suatu pesan dari Chandragupta bahwa saya tidak boleh melawan arus pikiran maupun arus perasaan saya. Saya tidak boleh berusaha menguasainya. Sebab apabila saya menguasai pikiran dan perasaan saya, niscaya saya sendirilah yang akan tergilas dan dikuasainya.
Saya berusaha menenangkan diri. Saya tidak melawan dan tidak mengikuti pusaran pikiran maupun perasaan saya. Saya berusaha untuk mengendalikan arus pikiran dan perasaan saya yang berputar cepat dan kuat. Mendadak saya rasakan tarikan yang dikakukan orang-orang mengendor, seolah mengikuti ketenangan jiwa saya. Dan saya merasakan suasana yang melingkupi diri saya menjadi hening dengan suasana alam menjadi tenang. Dan tirai cakrawala yang menguak, tiba-tiba saya rasakan menelan diri saya dalam keheningan sebuah dunia yang menakjubkan.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Malam hitam membentang diwarnai jutaan bintang yang meneteskan embun bagai langit menitikan air mata membasahi semesta. Keheningan mencekam seolah-olah menidurkan rerumputan

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA BELAS)

Sang bagaskara menyembul dari tirai cakrawala dengan kehangatan cahayanya yang menerobos dedaunan dan menguapkan embun pagi. Bebungaan menebarkan wanginya seolah menyediakan

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sebuah perjalanan melintasi semesta ruhani adalah sebuah rentangan pengalaman menakjubkan yang sangat fantastis jika dipikir dengan nalar. Sebab segala sesuatu yang tergelar

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Setelah 9 tahun merantau ke Newyork, Rahwana akhirnya memutuskan untuk mudik ke kampung halamannya, tepatnya di kecamatan Alengka kabupaten Blora.Suatu pagi sehari sebelum

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEBELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEBELAS)

Malam hitam jernih dengan jutaan bintang bertaburan laksana pelita semesta dibentangkan di atas permadani semesta. Dalam hening berjuta-juta wangi mawar menaburi bumi bagai

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA)

Sejak melewati pengalaman menggetarkan bersama ruh mereka yang sudah berada di alam barzakh, segala sesuatu secara berangsur-angsur saya rasakan mengalami perubahan pada diri

Lebaran 2011ku

Lebaran 2011ku

pengalaman itu tak selamanya menjadi guru yang terbaik. Pagi-pagi pulang dari kerja aku langsung ke stasiun gambir untuk membeli tiket kereta buat mudik, tapi ternyata semua

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Matahari bersinar bersih, cahayanya membias putih di batas cakrawala yang berpendar jernih laksana pancaran kristal. Langit biru membentang bagai kubah sebuah masjid. Angin