Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

  • 2018-08-01 10:15:50
  • 504

Matahari bersinar bersih, cahayanya membias putih di batas cakrawala yang berpendar jernih laksana pancaran kristal. Langit biru membentang bagai kubah sebuah masjid. Angin berhembus lirih menerbangkan wangi bebungaan. Berjuta-juta mawar jingga menghampar bagai permadani sutera dengan sulaman puluhan ekor naga bertarung memperebutkan bola matahari. Kabut tipis menghampar seperti menyelimuti permukaan bumi. Seekor burung dengan bulu-bulu emas melesat menembus keheningan. Sementara di kejauhan terdengar suara gema alam yang lamat-lamat bagai gemuruh suara jutaan lebah.
Pada sekuntum mawar putih yang menerbangkan wangi kesturi, Chandragupta tampak duduk bersila dengan ketenangan seorang yogi. Pada sekujur tubuhnya memancar semacam cahaya platina kebiruan. Wangi kesturi terasa membius penciuman inderawi. Sementara saya termangu di atas kelopak mawar jingga dengan jutaan lebah beterbangan mengitari mawar singgasana saya. Kesegaran air telaga yang luas membiru di bawah mawar-mawar terasa menyergap pedalaman jiwa saya. Saya benar-benar merasa seperti memasuki sebuah dimensi yang luar biasa menakjubkan, sebuah dimensi yang seolah-olah sebuah bentangan mimpi aneh yang menggetarkan.
Sambil mengangkat tangannya ke atas, Chandragupta berkata kepada saya dengan suara lembut mempesona, tetapi digetari wibawa:
"Ketahuilah, o Sudrun, bahwa apa yang disebut iblis adalah imajinasi Allah yang mengalir dari Ism alMudziil yang misterius dan tak pernah digambarkan jirim maupun 'aradh-nya. Allah hanya menyebut akan dzat dan sifat dari iblis. Oleh sebab itu, renungkanlah akan kisah iblis ketika membantah perintah Allah untuk bersujud kepada Adam niscaya engkau akan memperoleh hikmah."
"Apakah sifat iblis tersebut dapat saya lihat pada kehidupan manusia-manusia?" tanya saya ingin tahu.
"Ketahuilah, o Sudrun, bahwa di dalam diri setiap manusia terdapat sifat yang rendah dan tercela (fujur) yang hadir secara misterius sebagai bisikan-bisikan yang mendesak di gugusan naluri jiwa yang memancarkan kemuliaan (taqwa). Tetapi apabila bisikan-bisikan rendah itu diikuti dan dibiasakan, maka akan terjelmalah bisikan itu sebagai tabiat. Dan tabiat buruk itu pun pada akhirnya menjadi sifat orang seorang. Dengan demikian, sempurnalah sudah sifat tercela seseorang yang mengejawantahkan sifat iblis."
"Apakah proses itu yang disebut fii qulubihim maradhun?" tanya saya ingin ketegasan, "Bahwa penyakit jiwa itu berlangsung secara berangsur-angsur?"
"Maha benar apa yang difirmankan Allah!" "Apakah sifat-sifat tercela dari manusia?" "Ketahuilah, bahwa di dalam diri setiap manusia
tersembunyi bisikan naluriah rendah yang disebut almasyadul hayawaniah yang harus dikikis habis sebelum berurat akar di dalam kalbu sebagai sifat yang tetap, di mana pada tiap-tiap sifat tersebut akan semakin mempertebal hijab insan dari Khaliq-nya."
"Perlu engkau ketahui, o Sudrun, bahwa pada manusia yang engkau kenal sebagai Tuan Arvind terangkum sifat tercela dari nafsun thusiyyah (jiwa merak) yang selalu menyombongkan diri dengan asal-usul keturunannya. Sifat ini merupakan pengejawantahan sifat iblis yang bangga akan asal-usulnya yang terbentuk dari unsur api. Tetapi, engkau jangan memandangnya dengan tatap mata penuh kebencian dan kejijikan, karena sejatinya di dalam dirimu juga bersemayam nafs yang sama."
"Kalau engkau melihat akan manusia Avijjah, maka itulah pengejawantahan dari nafsun sabu'iyyah (jiwa serigala) yang selalu berusaha merusakkan kehidupan orang lain dengan berbagai cara. Sifat itu adalah pengejawantahan sifat iblis yang senantiasa ingin menggoda dan merusakkan peri kehidupan anak cucu Adam. Dan engkau haruslah tetap waspada, karena sejatinya di dalam dirimu juga bersemayam nafs yang sama."
"Akan hal manusia Bhavasava, tampaklah ia sebagai pengejawantahan dari nafsun kalbiyyah (jiwa anjing) dan nafsun himariyyah (jiwa keledai) yang rakus dan bodoh. Dia pengejawantahan dari sifat iblis yang ingin menguasai segala, tetapi terperangkap pada kumparan keserakahan diri dan khayalan yang menyesatkan."
"Manusia Bhavasava itu selalu ingin dinomorsatukan dalam segala hal. Dia selalu menunjuknunjukkan segala amal perbuatannya. Dia suka menghitung amal-amalnya dengan spekulasi yang naif dan bodoh. Dan engkau harus selalu waspada, karena di dalam dirimu sejatinya juga bersemayam nafs yang sama."
"Ketahuilah, o Sudrun, akan manusia Ashok yang merupakan pengejawantahan dari nafsun fa'riyyah (jiwa tikus) dan nafsun qirdiyyah (jiwa beruk) yang suka merusak dan mengejek orang secara diam-diam. Orang seperti Ashok adalah lain di mulut lain di hati. Dia lambang manusia celaka yang hanya mengomel, mengumpat, dan menggerutu menyatakan kebusukan orang lain meski dia tidak beroleh manfaat dari perbuatanya. Waspadalah engkau akan watak penjilat sekaligus pengkhianat semacam itu, sebab di dalam dirimu sejatinya bersemayam pula nafs yang sama."
"Renungkanlah akan makna manusia Ahmed Bushra yang merupakan pengejawantahan dari nafsun khinziriyyah (jiwa babi) dan nafsun jamaliyyah (jiwa unta) yang suka akan hal-hal buruk dan sangat mementingkan diri sendiri, di mana kalau perlu mengorbankan orang lain. Manusia Ahmed Bushra hidup dari satu kedustaan ke kedustaan yang lain. Manusia macam ini tidak akan memperoleh petunjuk dan rahmat Allah. Karena dia selalu mendustai orang lain dan dirinya sendiri. Tetaplah engkau waspada akan sifat ini karena di dalam dirimu sejatinya bersemayam nafs yang sama."
"Renungkanlah akan makna manusia Jhoota yang merupakan pengejawantahan dari nafsun dzaati suhuumi al-hamati kal hayaati wal agrabi (jiwa penyengat yang berbisa seperti ular dan kalajengking) yang selalu menyengat dan pembenci, hasut dan dengki akan keberuntungan orang lain. Manusia Jhoota ini selalu baik di mulut tetapi busuk di hati. Dia suka mengumpat dan memaki Tuhan yang dianggapnya memberi nasib buruk kepadanya. Oleh sebab itu, berhati-hatilah engkau, karena di dalam dirimu sejatinya bersemayam nafs yang sama."
"Perlu engkau pahami akan makna manusia Vinod Kamasava, yang tiada lain adalah pengejawantahan dari perpaduan nafsun kalbiyyah (jiwa anjing) dan nafsun dubbiyyah (jiwa beruang) yang rakus dan bodoh. Dia selalu hidup dalam persekongkolan busuk. Dia selalu menjadi pendukung setia sebuah kedustaan. Dia setia pada orang-orang yang dianggapnya memberikan keuntungan baginya. Dan dia tidak pernah sadar kalau hidup hanya dijadikan alat oleh manusia lain. Selalu ingatlah akan dia, karena di dalam dirimu ada nafs yang sama."
"Akan halnya manusia Moha-sha, dialah pengejawantahan dari perpaduan nafsun thusiyah (jiwa merak) dan nafsun qirdiyah (jiwa beruk)yang selalu bangga diri dan selalu merendahkan orang lain. Dia selalu berusaha memanfaatkan orang lain untuk keuntungan dirinya. Dengan berbagai cara, dia selalu menganggap dirinya diposisikan sebagai sumber kebenaran. Dia selalu merasa tahu dalam segala hal. Dia akan mati apabila sehari tidak dipuji. Tetapi ingatlah engkau, bahwa di dalam dirimu sejatinya ada nafs yang sama."
"Saya paham bahwa apa yang terjadi atas orangorang di sekitar saya pada dasarnya adalah manifestasi dari sifat iblis, di mana saya harus menghindarinya dari sifat-sifat tersebut," kata saya merasa telah menangkap makna 'belajar dari iblis' yang selama ini menjadi obsesi saya, "Tetapi, apakah sifat-sifat itu hanya mempertebal hijab insan dari Khaliq?"
"Adakah yang lebih celaka dari hidup manusia selain mereka yang dinding hijabnya teramat tebal dari Khaliq-nya?"
"Tentu tidak!"
"Ketahuilah, Sudrun, bahwa segala sifat iblis yang telah aku uraikan pada tahap tertentu sudah menyangkut tentang makna kufr dan syirk. Dan ketahui pula bahwa kufr dan syirk yang ada pun bertingkattingkat kadarnya dan beragam pula, yang sebagian besar tidak diketahui banyak orang kecuali mereka yang diberi hikmah."
"Lihatlah akan manusia Moha-sha! Dia adalah lambang dari perbuatan kufrun jahudiyyun karena dia selalu merasa lebih tinggi dan mulia dari orang lain. Dia juga lambang dari perbuatan kufrun iblisun karena dia manusia takabur yang selalu memuja dan memuji diri sendiri. Dia selalu mendesak orang-orang dan berupaya agar dapat dipuja dan dipuji orang-orang di sekitarnya. Oleh karena manusia Moha-sha adalah rangkaian dari apa yang disebut ujuub, takabur, dan riya'. Ketahuilah, bahwa Moha-sha adalah manusia yang sudah terperangkap pada syirk-i-dzaati yang semakin lama akan semakin sesat langkahnya. Manusia Moha-sha akan tenggelam dalam puja dan puji kepada diri sendiri dan sedikit demi sedikit rasa malu di dalam dirinya akan semakin terkikis dengan akibat iman di pedalaman dirinya pudar."
"Renungkan akan manusia Ahmed Bushra, Vinod Kamasava, Mirza yang tiada lain adalah lambang perpaduan dari perbuatan kufrun hukmiyyun dan kufrun a'raabun. Manusia-manusia macam itu tiada bisa memelihara lidahnya maupun anggota tubuhnya dari kejahatan. Mereka adalah lambang kedustaan dan sikap masa bodoh. Orang seperti mereka adalah manusia munafik yang terseret ke dalam pusaran perbuatan syirk-i-akbar yang menyesatkan."
"Lihatlah akan manusia Ashok, Jhoota, dan Avijja yang adalah lambang dari perpaduan perbuatan kufrun jahliyyun dan kufrun hukmiyyun, yakni kufr karena kebodohan dan tiada bisa memelihara lidah maupun anggota tubuh yang lain dari kejahatan. Mereka itu semua adalah manusia-manusia yang sudah rusak qalb-nya karena dikuasai ke-aku-an yang dangkal."
"Camkan benar, o Sudrun, bahwa di dalam diri setiap manusia selalu ada hal-hal yang merusakkan qalb. Yang pertama adalah tahdiidul khiitah, yakni orang yang suka mengurung diri dan membatasi pergaulan hidupnya, sehingga ia mengukur kebenaran dari dirinya sendiri. Yang kedua adalah at-tamanni, yakni orang-orang yang selalu berangan-angan akan hal yang tiada mungkin terjadi. Dengan berdiam diri mereka mengangankan bahwa Allah akan menurunkan rezeki dan berkah dari langit. Dan berbagai perbuatan terkutuk mereka dalam berangan-angan itu dianggap bisa langsung membuat mereka masuk surga."
"Yang ketiga adalah at-ta'alluqu bighoirillahi, yakni takluk kepada "gair" dari Allah. Takluk kepada "gair" dari Allah bisa mewujud dalam berbagai manifestasi, baik sekadar ingin kemasyhuran, mabuk puja-pujian, hasrat memiliki pangkat, jabatan, gelar, gandrung perempuan. Yang keempat adalah katsratul akli wal manamu, yaitu orang-orang yang banyak makan dan banyak tidur yang menyebabkanya menjadi pemalas. Oleh sebab itu, Sudrun, waspadalah engkau akan hal-hal yang dapat merusakkan qalb-mu!"

Lecutan petir memenuhi cakrawala menebarkan berjuta-juta bunga aneka warna dengan wangi kasturi merajai segala. Kelopak mawar dan teratai menguncup. Tanah-tanah terbelah menutup. Kebiruan telaga luas tanpa batas menjelma jadi badai dengan kilauan air berwarna platina. Saya tersentak dalam bius semesta ketika kelebatan petir menyambar tubuh saya, terus merasuk kegugusan jiwa saya terdalam.
"Di manakah kita ini?" tanya saya penuh kebingungan kepada Chandragupta.
"Inilah durru al-bayada (mutiara putih) yang tersembunyi di dalam dirimu yang merangkum makna 'aalam-i-ajsam. Di sinilah khatraat-i-syaithani dan khatraat-i-Laahi tersingkap dalam kasyaf. Dan andaikata sebelumnya engkau hanya dapat menangkap bisikan dari Sirr-i-Asrar, maka setelah melampaui alam ini engkau akan dapat menangkap bisikan Sirru'l Haqq yang sebelumnya terselubung hijab di dalam lipatan Sirr-i-Asrar."
"Insya Allah dengan meresapi makna sifst-sifat iblis, saya bisa membedakan antara khatraat-i-syaithani dan khatraat-i-Laahi," kata saya merasakan kelegaan luar biasa memenuhi jiwa saya, "Tetapi bisakah saya melihat hakikat nafs saya?"
Kepala Chandragupta mendadak dilingkari sinar kebiruan yang berpendar makin lama makin putih. Wangi kasturi menebar ke segala penjuru. Berjuta-juta cahaya petir terlihat berkilauan bagai jutaan akar langit membelah semesta.dan Saya tiba-tiba merasakan tubuh saya terpental dari kuncup teratai.
Dengan tubuh mengambang di udara seperti tanpa bobot, saya merasakan melayang di atas danau biru cemerlang dengan cakrawala mendadak tersingkap bagai tirai disibakkan. Dan bagaikan kilat, tubuh Chandragupta melesat, memasuki cakrawala yang tersingkap. Saya kebingungan sendiri menyaksikan keajaiban pandangan di depan saya itu. Tapi saya tak sempat berpikir lebih jauh karena sebentuk silhouette putih transparan berujud burung menyambar tubuh saya. Dan dengan kekuatan maha dahsyat silhouette itu melontarkan tubuh saya ke belahan tirai cakrawala yang terkuak menakjubkan itu.
Ketika tubuh saya melesat melampaui tirai, saya merasakan tubuh saya disengat stroom berkekuatan ribuan watt. Berjuta-juta jarum berapi saya rasakan menusuk seluruh pori-pori di sekujur tubuh saya. Dan tubuh saya terasa mengambang sangat ringan di awang-awang seolah tanpa bobot. Sementara wangi kasturi terasa sangat jernih menusuk penciuman saya.
Ketika tubuh saya sudah masuk utuh ke dalam tirai yang menyibak cakrawala, saya rasakan sesuatu terjadi pada diri saya yang aneh yang sebelumnya tak pernah saya rasakan. Saya merasa gamang, ngeri, gentar, takut. Saya memekik memanggil-manggil nama Chandragupta, tetapi hanya suara saya sendiri yang memantul seolah-olah saya berada di sebuah dimensi aneh yang luas yang dinding-dinding alamnya memantulkan setiap suara. Dan hati saya benar-benar tercekat ketika melihat sosok Chandragupta secara berangsur-angsur muncul di cakrawala dan berubah menjadi sosok yang mirip dengan saya. Sosok Chandragupta itu bersinar kilau-kemilau dengan wajah yang berpendar indah. Saya melihat bahwa pada wajah Chandragupta yang melayang-layang di depan saya itu tidak terkesan bentuk kera seperti saya. Namun, saya merasa bahwa ada suatu kemiripan antara saya dan sosok itu dalam segala hal meski saya tak tahu kemiripan dalam bentuk apa.
Ketika saya sudah tidak mampu membendung tanda tanya di kepala saya, maka saya pun bertanya, "Di manakah kita sekarang ini?"
Chandragupta tidak menjawab pertanyaan saya. Dia hanya tersenyum sambil melambaikan tangan seolah-olah menyuruh saya mendekatinya. Dan tubuh Chandragupta melesat memasuki suatu kumparan arus yang menggulungnya. Dan saya masih tercekat ketika arus yang menggulung-gulung Chandragupta itu menyambar saya dan menyeret saya ke suatu dimensi yang aneh dan memabukkan.
Sebuah arus yang maha dasyat mendadak menggulung tubuh saya. Saya merasakan tersentak-sentak antara sadar dan tidak sadar. Ketika keadaan sudah tenang dan kesadaran saya sudah agak utuh, saya dapati diri saya berada di sebuah dimensi yang hitam dan gelap gulita tanpa sinar. Saya tidak bisa melihat apapun.
"Tempat apakah ini wahai Tuan Chandragupta?" tanya saya kelabakan dalam kepengapan suasana yang menyesakkan jiwa.
"Inilah dimensi 'aalam-i-mitsaal yang merangkum makna hakikat nafs yang diterangi cahaya qandiil (pelita)."
"Tapi saya tidak melihat suatu cahaya pun kecuali kegelapan yang bersimaharajalela."
"Itulah yang dinamakan hakikat nafs lawwamah, yang merupakan sumber dari segala sumber sifat yang mementingkan diri sendiri. Ketahuilah bahwa setiap manusia yang terperangkap pada ke-aku-an yang kerdil yang selalu memanfaatkan segala sesuatu untuk kepentingan diri sendiri, maka dia sebenarnya berada dalam alam kegelapan nafs lawwamah."
"Ketahuilah, Sudrun, bahwa orang yang bersemayam di kerajaan nafs lawwamah ini tidak akan melihat kesalahan diri mereka sendiri sebagaimana mereka tidak bisa melihat cahaya apapun di tahap awal
'aalam-i-mitsaal yang hitam ini. Ketahuilah, bahwa kegelapan itu berawal dari bisikan iblis untuk kufr (menyembunyikan) kebenaran di dalam dirinya. Mereka yang terperangkap di alam nafs lawwamah ini tidak mampu lagi melihaat kebenaran di luar dirinya."
"Apakah alam ini ada di dalam diri saya juga?" tanya saya dengan perasaan ngeri mendengar uraian Chandragupta.
"Kita tidak ada di mana-mana kecuali di dalam dirimu sendiri."
Arus maha dahsyat bersama gumpalan kabut bergulung-gulung menyeret tubuh saya ke kumparan memabukkan. Dan Saya merasakan tubuh saya melesat bagai hanyut diseret arus sungai yang deras. Antara sadar saya melihat silhouette wajah Professor Mohasha, Tuan Arvind, Avijja, Ashok, Vinod, Tuan Bavasava, Baba Mirza, Jhoota, Ahmed Bushra, Laxmi Devi, Sayempraba Sulistyowati, Dyah Perwitasari, Nia Hartina, Ita Martina, Hesti Widowati, Wiwik Sedanwati, Kala Marica, Kiai Bruddin, Salman Rusdhie, dan Al-Musykil beserta puluhan lagi manusia-manusia yang pernah saya kenal. Saya diam-diam merasa bergidik karena melihat kenyataan begitu banyaknya manusia yang terperangkap di lingkaran dimensi nafs lawwamah yang bermakna daya kekuatan yang mementingkan diri sendiri.
Bayangan-bayangan orang yang pernah saya kenal itu pun berangsur-angsur hilang. Arus maha dahsyat kembali saya rasakan menggulung tubuh saya. Dan Saya dapati diri saya termangu penuh takjub di sebuah dimensi aneh yang diliputi warna kuning menyeluruh.
"Tempat apakah ini Tuan Chandragupta?" tanya saya heran
"Inilah yang dinamakan hakikat nafs sufliyyah, yang merupakan sumber segala sumber sifat erotis yang mendorong birahi. Mereka yang terperangkap di alam nafs sufliyyah ini tidak dapat lagi membedakan yang hak dan yang batil. Kebaikan dan kebusukan menjadi kabur. Sebab dimensi nafs sufliyyah ini merupakan kelanjutan dimensi nafs lawwamah. Nafs sufliyyah ini digambarkan sebagai unsur air samudera dan nafs lawwamah adalah bumi yang mewadahinya. Keterikatan antara nafs sufliyah dan nafs lawwamah adalah ibarat keterikatan air dan tanah. Nafs sufliyyah adalah air, nafs lawwamah adalah tanah."
Arus maha dahsyat bergulung-gulung melindas tubuh saya dan melontarkan tubuh saya ke kumparan arus dahsyat yang membingungkan. Saya merasakan tubuh saya melesat melewati letupan-letupan cahaya yang panas luar biasa. Antara sadar, saya melihat silhouette wajah Tuan Arvin, Mat Aksan, Al-Musykil, Ahmed Bushra, Wiwik Sedanwati, Sayempraba Sulistyowati, Ashok, Kalamarica, Vinod, Salman Rusdhie, dan beribu-ribu orang yang saya kenal, saya merasa bahwa di antara mereka sebenarnya ada diri saya meski saya tak melihatnya, diam-diam saya merasakan bulu kuduk saya meremang.
Bayangan-bayangan orang yang pernah saya kenal dan ketahui itu berangsur-angsur menghilang. Arus maha dahsyat yang diliputi kabut kembali Saya rasakan menggulung tubuh saya. Dan saya terkesima penuh takjub ketika sadar berada di sebuah dimensi yang diselimuti warna merah membara dengan rasa panas membakar.
"Tempat apakah ini Tuan Chandragupta?" tanya saya terheran-heran.
"Inilah yang dinamakan hakikat nafs al-ammarah, yang merupakan sumber dari segala sumber sifat congkak, takabur, riya', ujub, dan amarah. Mereka yang terperangkap di alam nafs al-ammarah ini tidak dapat lagi membedakan yang hak dan yang batil, karena akal budinya sudah dilindas dan dikuasai gejolak rasa amarah. Alam nafs ammarah ini adalah anasir yang terbentuk dari panas api membara yang merupakan kelanjutan nafs sufliyyah dan nafs lawwamah. Nafs ammarah ini jauh lebih halus unsurnya dari pada nafs sufliyyah dan nafs lawwamah."
"Renungkan akan hakikat tanah, air, dan api. Keaku-an di dalam nafsu lawwamah dapat ditembus oleh ke-aku-an dari nafs sufliyyah ibarat air meresap ke dalam gugusan tanah. Ke-aku-an nafs sufliyyah pun dapat ditembus oleh ke-aku-an nafs ammarah ibarat api menembus air. Camkan bahwa unsur air dan api di dalam dirimu tidak akan pernah bisa menimbulkan reaksi apabila tidak dijembatani oleh unsur tanah di dalam dirimu. Oleh karena itu, hasrat untuk mementingkan diri sendiri merupakan faktor utama dari termanifestasikannya nafs sufliyyah dan nafs ammarah."
"Bagaimanakah air dan api bisa bersatu dijembatani tanah?" tanya saya ingin kejelasan.
"Renungkanlah, o Sudrun, bahwa api senantiasa akan padam apabila disiram air, maka begitulah amarah di dalam diri manusia pun akan padam apabila orang tersebut dimabuk birahi yang memancar dari nafs sufliyyah yang merupakan anasir air. Tidak akan pernah ada manusia yang melampiaskan birahinya dalam keadaan amarah, karena kodrat yang digariskan Allah memang demikian. Oleh sebab itu, selalu ingatingatlah bahwa amarahmu adalah api dan birahimu adalah air, di mana keduanya tidak bisa disatukan. Sebab kalau salah satu dari unsur itu, yaitu air yang menang, maka bara amarah dari nafs ammarah pun akan padam. Sebaliknya kalau unsur api yang menang, maka gelombang birahi di samudra nafs sufliyyah akan diuapkan."
"Tetapi ketahuilah, Sudrun, bahwa ke-aku-an dari nafs lawwamah yang dari unsur tanah akan mampu merangkum keduanya meski dalam manifestasi yang berbeda. Apabila unsur tanah sudah mewadahi unsur air, maka tinggallah unsur api yang diantarai unsur tanah itu akan menyerang air hingga mendidih dan menguncang-nguncang ke-aku-an nafs sufliyyah. Dan di sinilah awal kemabuk-birahian orang seorang yang tidak terkendali."
"Renungkanlah, bahwa unsur tanah yang dibakar panas unsur api, pada giliranya akan kering mersik, bahkan tanah pun akan membara memancarkan percik api. Ketika itulah nafs lawwamah memanifestasikan nafs ammarah, di mana tanah kering mersik telah menjadi bara api."
"Resapilah, bahwa dari dzat tanah, air, dan api tersebut dengan segala sifat yang mengkodratinya, akan tercipta sifat-sifat dari nafsu insaniyyah yang menyimpan makna masyadul hayawaaniah. Lihatlah akan proses terciptanya keramik yang merupakan perikatan dari unsur tanah, air, dan api yang menyatu. Maka demikianlah, ke-aku-an dari nafs lawwamah yang mementingkan diri adalah menjadi sumber pokok dari manifestasi nafs suffiyah dan nafs ammarah pada diri manusia."
Saya termangu penuh takjub dengan uraian Chandragupta. Dalam hati saya berpikir bahwa sebenarnya rangkaian segala nafsu tercela di dalam diri manusia dapat disingkirkan apabila ke-aku-an dari nafs lawwamah, yakni nafsu mementingkan diri sendiri dapat dihindari. Namun demikian, saya tetap mengakui bahwa bicara soal kebenaran adalah jauh lebih mudah dari pada mempraktikkannya dalam kenyataan hidup. Untuk mencapai tingkat ridho, dalam arti tanpa pamrih pribadi, dalam fakta adalah sangat rumit ibarat menguraikan syirik dari yang syirik akbar sampai syirik asghar. Pamrih! Ya, betapa gampangnya manusia ngomong tentang tindakan amaliah tanpa pamrih, padahal dia yang mengucap tanpa pamrih itu sangat besar pamrihnya. Ya, ya, bahkan soal surga dan neraka pun pada hakikatnya adalah rangkaian dari pamrih, sehingga orang-orang tidak menuju Allah, tetapi berbondong-bondong menuju surga.
Arus maha dahsyat kembali saya rasakan menyerbu saya dengan kekuatan luar biasa, saya merasa tergulung oleh kumparan arus kabut maha raksasa yang menggilas saya dalam kesekejapan waktu. Dan saya benar-benar terpukau takjub ketika saya dapati diri saya berada di sebuah dimensi yang serba terang benderang bagai kilatan platina tetapi tidak menyilaukan. Semuanya tampak jernih dalam wujud putih penuh kecemerlangan. Saya mendapati diri saya berada di suatu dimensi yang serba putih dan terang yang aneh. Dikatakan aneh, karena itu sebuah dimensi yang putih terang tanpa matahari atau lampu.
"Tempat apakah ini Tuan Chandragupta?" tanya saya penuh ketakjuban.
"Inilah yang dinamakan hakikat nafs muthma'innah yang merupakan sumber dari segala sumber perbuatan baik yang hak di mana dari daya nafs muthma'innah inilah ke-rindu-an yang Ilahi senantiasa menggema. Nafs muthma'innah ini mampu menembus nafs sufliyyah, nafs ammarah maupun nafs lawwamah."
"Apakah di dalam nafs muthma'innah ini tersembunyi makna Sirr-i-Asrar dan Ruuh-i-Asrar?" tanya saya sangat ingin tahu.
"Seluruh kebenaran insani yang sejati sesungguhnya terangkum di dalam alam nafs muthma'innah ini. Inilah dimensi 'aalam-i-mitsal. Di dalam 'aalam-imitsal inilah tersembunyi makna Sirr-i-Asrar, Ruuh-iAsrar, Sirr-i-Haqq, Nuur-i-Asrar, Nuur-i-Haqq, dan Ruuh-i-Haqq."
"Ketahuilah, bahwa setiap manusia memiliki nafs yang sama, baik nafs lawwamah, nafs sufliyyah, nafs ammarah, maupun nafs muthma'innah. Hanya saja, orang cenderung sering terperangkap pada manifestasi nafs yang lebih kasar yang merupakan perwujudan dari tahap-tahap manifestasi yang lebih rendah. Semakin membenda suatu nafs, semakin rendah nilai kualitasnya. Oleh sebab itu, camkan benar akan kehalusan unsur tanah, air, api, dan cahaya yang bertahap. Dan nafs muthma'innah adalah unsur cahaya atau nur yang paling halus."
"Apakah nur yang merangkai makna nafs muthma'innah itu berasal dari diri yang Ilahi?" tanya Saya penuh dorongan ingin tahu.
"Ketahuilah, Sudrun, bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berasal dari yang Ilahi. Dialah yang mencipta segala sesuatu dengan kalam "kun" (QS. Yaasiin: 82). Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, dan Allah pula yang mencipta manusia dari unsur thin atau tanah (QS. as-Sajadah: 7). Kemudian Allah menurunkan unsur thin tersebut dalam wujud maa'immahin atau air sperma yang hina itu, kemudian dibentuklah sedemikian rupa (QS. asSajadah: 9)."
"Dari unsur tanah dan air yang sudah terbentuk tersebut, Allah pun meniupkan ruh-Nya, sehingga manusia memiliki sifat seperti Allah, yaitu mendengar dan melihat serta mengerti akan af'idah (QS. asSajadah: 9). Dan camkan Sudrun, bahwa unsur thin atau tanah itulah yang merangkum makna nafs lawwamah. Unsur maa'immahin atau air sperma yang hina itulah merangkum makna nafs sufliyyah. Sementara makna nafakha fiihi min ruuhihii (QS. as-Sajadah: 9) adalah merangkum makna nafs muthma'innah."
"Oleh sebab itu, Sudrun, janganlah sampai engkau dikelirukan oleh paham sesat manusia-manusia bodoh yang tersesat oleh kepicikan akal budinya. Sebab tiada kurang suatu anggapan di antara kaum batiniah yang menganggap bahwa pertautan antara unsur tanah dan unsur air pada proses penciptaan manusia-yang lewat persenggamaan-justru ditafsirkan sebagai ahadiyyah laa ta'ayyun, yakni suatu tanazzul dari dzat Ilahi. Padahal pertautan antara unsur thin atau tanah dan unsur maa'immahin atau air sperma hina yang memanifestasi dalam wujud sperma dan ovum, adalah pertautan unsur thin dan unsur maa'immahiin yang tidak lain adalah "ciptaan" Allah (QS. as-Sajadah: 7-8) dari kalam "kun" (QS. Yaasiin: 8)."
"Berhati-hatilah engkau, Sudrun, dalam memaknai setiap istilah dari ajaran batiniah yang bersumber dari ilmu hikmah sejati. Sebab tidak kurang manusia-manusia yang picik dan sempit wawasan memaknai istilah-istilah dalam ajaran tasawuf secara salah karena mereka itu tidak paham bahasa al-Qur'an, juga menggunakan kerangka berpikir otak-atik mathuk. Karena itu, sekali lagi engkau kuingatkan agar berhati-hati benar meniti ilmu hikmah sejati dengan tetap berpegang teguh pada kalaam-i-lafdzii yang terangkai dalam keutuhan al-Qur'an."
"Kalau demikian, apakah yang dimaksud dengan makna sejati dari ahadiyya la ta'ayyun?"
"Ketahuilah, Sudrun, bahwa titik puncak pertautan nafs lawwamah dan nafs sufliyyah antara laki-laki dan perempuan yang sekaligus puncak pertautan unsur thin dan maa'immahin. Ketahuilah, bahwa pada titik puncak pertautan kedua nafs tersebut, ke-aku-an telah lebur. Artinya, ketika persenggamaan mencapai titik orgasme, orang tidak lagi berpikir maupun merasakan bahwa dia adalah individu laki-laki atau perempuan. Dia hanya sadar akan nikmat yang satu yang merupakan pertautan puncak dari nafs lawwamah dan nafs sufliyyah."
"Titik puncak pertautan yang hanya beberapa kejap itu, adalah pangkal dari suatu proses penciptaan insan. Tetapi, engkau hendaknya tetap ingat, bahwa apa yang disebut sebagai ahadiyya laa ta'ayyun dapat bermakna ganda, yang pertama sebagai pertautan nafs lawwamah dan nafs sufliyyah yang terangkai sebagai kesatuan nikmat yang tanpa perbedaan. Yang kedua, sebagai pertautan sperma dan ovum yang keduanya terbentuk dari unsur thin dan unsur maa'immahin."
"Kalau begitu, kapan ruh dihembuskan ke dalam thin dan maa'immahin yang sudah bertaut menjadi satu itu?"
"Perlu engkau ketahui, o Sudrun, bahwa pertautan antara sperma dan ovum akan berproses selama 40 hari dalam tingkat ahadiyya la ta'ayyun yang terwadahi dalam hakikat 'aalam-i-haahuut. Pada tahap ini semua masih menyatu, tidak ada perbedaan dan tidak ada konsep-konsep yang diibaratkan awang-awang dan uwung-uwung yang hening-hampa-sunyi-senyap dan yang ada hanya pertautan nafs yang hidup."
"Pada 40 hari yang kedua, pertautan tersebut mangalami perkembangan pada tingkat wahdah (perbedaan pertama) yang ditandai adanya lingkaran yang membatasi 'ke-abstrak-an konsep' yang terwadahi dalam rangkaian aalam-i-lahuut yang sekalipun sudah ada perbedaan tetapi masih abstrak. Dan pada 40 hari yang ketiga, yang masih pada wadah rangkaian 'aalami-laahuut, terjadilah perkembangan menuju tahap wahidiyya (pembedaan kedua), di mana embrio dalam wujud daging menggumpal dalam wujud yang makin nyata."
"Pada 40 hari yang keempat, pertautan yang sudah agak mewujud nyata itu memasuki tahap jabarut yang merangkum berbagai konsep rupa dan perwujudan insan yang terwadahi dalam rangkaian makna 'aalami-malakuut. Pada tahap inilah 'ruh' ditiupkan (QS. asSajadah: 9) yang ruh tersebut bersemayam di dalam hakikat nafs muthma'innah yang merangkai sifat Kamaal, Jamaal, Jalaal, dan Qohaar. Dan masih di
'aalam-i-malakuut, ketika 40 hari kelima perkembangan pertautan tersebut memasuki tahap mitsaal, yakni bentuk manusia sudah muncul dengan selimut daging yang berupa kulit dan rambut."
"Pada 40 hari yang keenam, masuklah wajah ajsam dalam wujud yang terangkai dalam haqiqat aalam–inaasuut yang menandai perkembangan sempurna dari seorang bayi meski masih melekat pada ibunya. Dan pada 40 hari yang ketujuh, masuklah tahap insaan kamil dalam aalam-i-naasuut, di mana sang bayi mengalami proses untuk berpisah dari ibunya, dengan demikian proses tanazzul dari haqiqat ahadiyya laa ta'yyun pada penciptaan insan membutuhkan waktu 280 hari, yang jika dihitung sama dengan 9 bulan 10 hari."
"Nah, dari uraianku ini, jelaslah bahwa hakikat fisik manusia bukanlah tanazzul dari Ilahi, melainkan perpaduan unsur thin dan unsur maa'immahin yang merupakan ciptaan Yang Ilahi yang menyembunyikan hakikat ruh-Nya. Oleh sebab itu, Sudrun, manusia senantiasa terperangkap ke dalam dilema antara panggilan sucinya dari nafs muthma'innah berupa seruan gaib 'irji'i' yang senantiasa menyuarakan kebaikan af'idah dan dorongan untuk kembali ke kesucian Yang Ilahi, sementara di lain pihak manusia senantiasa terseret oleh hakikat ke-benda-an dari unsur thin dan unsur maa'immahin yang membuatnya melekat pada nafsu dunia."
"Kalau demikian di manakah hakikat nafs ammarah?"
"Ketahuilah, Sudrun, bahwa di saat manusia pada tahap mitsaal di aalam-i-malakut, terangkailah makna penciptaan Adam sebagai makhluk yang indah sempurna yang merangkai makna Kamal, Jamaal, Jalaal, dan Qohaar. Pada tahap inilah terjadi pertentangan dari proses kesempurnaan Ada, di mana pada tahap sebelumnya setiap ruh yang ditiupkan pada hakikat thin dan maa'immahin apabila ditanya 'Alastu birabbikum,' maka mereka akan menjawab 'Bala syahidna.' Hal itu merupakan kesaksian Rabb-nya nafs kepada Rabbu'l Arbaab, bahwa ruh yang berasal dari Yang Ilahi itu akan kembali kepada Sumber dari segala sumbernya. Rabb dari nafs itu mengakui bahwa hanya Rabbu'l Arbaab itulah Rabb, Sumber di mana dia harus kembali, sehingga di tahap tersebut diterangkan kalam "irji'i".
"Tetapi pada tahap selanjutnya terjadilah proses perkisahan iblis yang ingkar atas persaksian di atas. Unsur dzat dan sifat dari iblis yang terjelma dari unsur api yang terangkai dari hahikat nafs ammarah mulai memperkeras pertautan antara nafs lawwamah dan nafs sufliyyah sehingga dalam keutuhannya, manusia terhijab dari nafs muthma'innah-nya. Dan ketahuilah, semakin tebal tirai dari hijab yang menyelubungi nafs muthma'innah dalam diri orang seorang, maka akan semakin jauh orang tersebut dari kebenaran Ilahi, sehingga tiada kurang di antara mereka itu yang menjadi kufr dan syirk."
"Kalau demikian apa yang disebut taraqqi?" "Ketahuilah, Sudrun, bahwa yang disebut taraqqi adalah upaya kembalinya orang seorang ke sirathil mustaqim yang terangkai dalam makna nafs muthma'innah. Taraqqi inilah pengaliran Rabb dari nafs muthma'innah kepada Rabbu'l Arbaab, di mana hal itu digambarkan dalam simbol Adam yang bertaubat karena telah mendzalimi nafs-nya sendiri akibat bisikan iblis yang memanifestasi dalam nafs ammarah yang berunsur api."
"Oleh sebab itu, o Sudrun, dalam taraqqi orang harus bisa menyingsingkan nafs lawwamah-nafs sufliyyah-nafs ammarah seibarat orang menyibak permata yang berlepot lumpur. Apabila lumpur telah tersingkap, maka cahaya permata akan berkilau-kilau memancarkan keindahan yang sejati."
"Adakah alat untuk membersihkan lumpur itu itu dari permata?"
"Lumpur itu hanya bisa disibak oleh rahmat dan hidayah Ilahi yang hanya bisa diperoleh dengan jalan dzikr dalam berbagai manifestasi sesuai yang diajarkan Allah lewat Rasul."
"Apakah dari keterangan sampean ini menunjukkan bahwa sejatinya di dalam nafs muthma'innah saya tersembunyi rahasia Rabb, tetapi bukan Rabbu'l Arbab?"
"Benarlah apa yang engkau simpulkan itu," kata Chandragupta tegas, "Bahwa sejatinya di dalam nafsmu tersembunyi hakikat Rabb yang terangkai dalam kalimat "Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu." Dan lewat Rabb dalam nafs-mu yang kepadanya diterangkan kalam "irji'i" maka engkau akan bisa menyaksikan akan kebenaran Rabbu'l Arbab sebagai sumber dari segala sumber Rabb."
"Kalau begitu, apakah yang disebut Insane 'Ain Allah dan Allah 'Ain Insan? Apakah itu bukan berarti Al-Khalik manunggal dengan makhluk? Apakah itu bukan berarti manunggalnya kawula dengan Gusti?"
"Karena engkau sudah memahami akan hakikat nafs yang berasal dari ciptaan "kun" yang terangkai dalam nafs lawwamah-nafs sufliyyah-nafs ammarah. Engkau pun sudah memahami akan hakikat nafs muthma'innah yang berasal dari Ilahi yang kepadanya diterangkan kalam "irji'i. Oleh sebab itu, o Sudrun, apabila Rabb yang terahasia di dalam nafs muthma'innah-mu sudah mengenal akan Rabbu'l Arbaab, maka Rabbu'l Arbaab pun akan mengalirkan citra diri-Nya ke dalam Rabb di dalam nafs muthma'innah. Tetapi, engkau harus tetap membedakan bahwa citra yang mengalir dalam Rabb adalah Dzat dan sifat Rabbu'l Arbaab yang hakiki; sehingga yang menyatu adalah Rabb di dalam nafs muthma'innah dengan Rabbu'l Arbaab yang meliputi sifat-sifat, asma'-asma, dan af 'al, sehingga janganlah engkau mengatakan bahwa Allah sebagai Rabbu'l Arbaab berada di dalam tubuh manusia, melainkan manusia sebagai rahasia Rabb itulah yang berada di dalam Allah sebagai Rabbu'l Arbaab."
"Apakah yang disebut Rabb manusia berada di dalam Allah sebagai Rabbu'l Arbaab?"
"Renungkan akan sebuah makna hadits qudsi yang diriwayatkan Bukhari yang berbunyi; 'Dan jika Aku cinta akan hamba-Ku, Akulah pendengarannya jika dia mendengar, Akulah penglihatannya jika dia melihat, Akulah tangannya jika dia bekerja, Akulah kakinya jika dia berjalan!'"
"Itulah, Sudrun gambaran dari Rabb manusia yang sudah mengenal Allah sebagai Rabbu'l Arbaab. Kalau engkau melihat manusia sudah pada tingkat ruhani tersebut, maka berlakulah makna wa maa ramaita idz ramaitaa waalakinnallaha raama! Tetapi, engkau harus selalu ingat, bahwa mereka yang ditengarai dalam kitab Allah (QS. al-Anfal: 17) tersebut sulit dijumpai apabila engkau tidak memperoleh rahmat dan hidayah Allah. Bahkan kalaupun satu saat engkau menjumpai orang-orang yang mengaku telah ma'rifat dan manunggal dengan Allah sehingga dia disebut Avatar (manusia Tuhan), maka yang demikian itu adalah manifestasi dari sifat iblis yang nyata."
"Bagaimanakah ciri orang-orang mulia tersebut?" "Dia mencintai dan dicintai Allah! Dia selalu merendahkan diri kepada orang-orang yang beriman tetapi dia megah bagi yang kafir! Dia selalu berjihad di jalan Allah! Dia tidak pernah merasa gentar oleh celaan orang-orang yang mencelanya," (QS. al Maidah: 54).
"Saya justru melihat ciri-ciri itu ada pada sampean," seru saya dengan hati bergejolak diluapi kegembiraan raya.
Seberkas kilatan petir mendadak menyambar tubuh Chandragupta. Saya tercekat kaget, tetapi sosok Chandragupta sudah raib dari hadapan saya. Saya memekik-mekik memanggilnya tetapi ia tetap tidak terlihat. Bahkan sampai lama saya menjerit-jerit hanya suara saya sendiri yang menggaung di keheningan. Dan sayup-sayup saya dengar suara Chandragupta mengumandang di tengah keluasan, berpesan agar saya berhati-hati karena jalan yang akan saya lampaui yang akan menghidangkan banyak cobaan yang halus dan tak terduga. Dia berpesan agar saya tetap berpegang pada tali Allah dalam melangkah dalam samudera kaifiat.

Matahari bersinar kemerahan di ufuk Barat, cahayanya membias di garis langit seolah-olah telur dadar dionggokkan di cakrawala. Angin Laut Arab berhembus sepoi menyegarkan pernapasan di tengah bayangan perahu-perahu dan kapal yang berlombalomba di atas gelombang bagai sabut dipermainkan ombak.
Dalam suasana senja temaram yang tenang itu, saya melangkah tertatih-tatih di atas pasir pantai Laut Arab di pinggiran kota Bombay. Saya sadar bahwa tubuh saya sudah sangat lemah. Karena itu ketika saya mengambil wudhu untuk sembahyang dhuhur yang dijamak dengan Ashar, saya meminum air cukup banyak meski agak asin rasanya. Sepintas saya berpikir, bahwa barulah menjelang Isya saya akan tiba di kamar kontrakan saya di rumah Tuan Arvind.
Temaramnya senja kala itu benar-benar ingin saya resapi, karena saya tiba-tiba saja merasakan seperti memasuki suatu kehidupan yang baru setelah mengalami pengalaman menggetarkan bersama Chandragupta. Saya berjalan dengan kegembiraan memenuhi hati saya. Saya melihat seolah-olah pasir, air laut, karang, langit, camar, dan pepohonan bernyanyi riang menyambut kehadiran saya. Saya mendadak saja merasakan keakraban yang luar biasa dengan alam sekitar saya. Saya merasakan bahwa saya telah menemukan kemerdekaan dan kebebasan saya sebagai Sudrun yang telah terjepit kehidupan ganas selama tinggal di bumi Barat ini.
Menyadari kenyataan akan kebebasan saya sebagai manusia yang tidak memiliki sesuatu, mendadak saya merasa geli mengingat kebodohan saya selama ini. Ya, saya yang Sudrun dan sejak kecil mengakrapi kesudru-an saya, nyatanya masih sempat mengeluh akan kodrat yang diberikan Allah dengan ke-monyet-an saya. Padahal saya tidak pernah memanusiakannya sebelumnya. Dan sekarang ini, saya benar-benar dapat merangkum hikmah dari ke-monyet-an saya, di mana saya tidak bisa membayangkan andaikata Allah memberi saya tampang seperti bintang film Shashi Kapoor atau Rajesh Kaana.
Saya bisa memperhitungkan, andaikata Allah mengaruniai saya wajah setampan bintang-bintang film, tentulah saya akan menjadi congkak dan menyombongkan diri dengan ketamakan saya. Bahkan bukan mustahil, saya akan banyak diburu perempuan, di mana mereka pun tentu akan saya koyak-koyak kelezatan tubuhnya sebagai mangsa saya. Dan kalau sudah demikian, tidak mesti tidak saya akan menjadi iblis terkutuk yang hidup dari suatu perzinahan ke perzinahan lain sehingga mau tidak mau, saya mesti akan dibeteti dan ditumbuk oleh para malaikat di neraka, di mana tubuh saya yang sudah akan ditumbuk menjadi corned-beef dan dijadikan perkedel untuk lauk para setan penghuni neraka.
Dengan berbagai pengalaman yang telah saya lewati, saya berkesimpulan bahwa di antara ketidaksempurnaan sebenarnya terangkum makna kesempurnaan, sempurna dan tidak sempurna adalah dua kesatuan yang tak dapat dipisahkan, ibarat antara kesatuan tuan dan hamba, ibarat antara Khaliq dan insan. Dan apa yang pernah saya keluhkan dengan karunia Ilahi atas keberadaan saya sebagai Sudrun, teryata menyimpan makna yang tiada ternilai bagi saya. Allah Mahabijak dan Maha Mengetahui atas segala sesuatu, dan hanya kebodohan dan kenaifan manusia saja semuanya menjadi berjungkir balik maknanya karena ketidak-tahuan yang memang menjadi kodrat alamiah manusia.
Dengan rasa syukur memenuhi seluruh jiwa, saya melangkah menyusuri senja dengan nyanyian jiwa yang menebarkan wangi bunga. Tetapi, ketika saya tiba di kawasan Rumah Sakit Beach Candy, saya melihat beberapa sosok tubuh meliuk-liuk dalam posisi melingkar. Saya mendengar suara orang tertawa terbahak-bahak. Dan ketika saya mendekat, terlihat tiga orang anak muda sedang melonjak-lonjak sambil memegangi perutnya. Sementara di depan ketiga orang anak muda itu terlihat dua anak muda lain memukuli seorang dengan botol kosong.
Saya menyipitkan mata karena suasana senja remang-remang dan di kejauhan saya sudah mendengar suara adzan berkumandang. Namun, darah saya mendadak terasa mendidih ketika mengetahui bahwa orang yang dipermainkan anak-anak muda tersebut adalah seorang Brahmin tua. Saya melihat Brahmin itu hendak melangkah akan tetapi salah seorang di antara anak muda itu memalangkan kakinya hingga sang Brahmin itu tumbang dengan keras mencium tanah. Dan sewaktu Brahmin tua itu masih merangkak anak-anak muda yang lain lagi mementungkan botol minumannya ke punggung sang Brahmin yang meringis kesakitan.
Saya sadar bahwa dengan mendidihnya darah saya, maka nafsu amarah saya sedang menggelegak. Tetapi, saya juga sadar bahwa untuk menurunkan frekuensi kemarahan saya tentulah membutuhkan waktu, dan Brahmin yang sedang dijadikan bulan-bulanan itu pastilah akan lebih menderita. Akhirnya, dengan membaca ta'awwud dan bismillah, saya melesat ke arah kerumunan anak-anak muda yang mempermainkan Brahmin tua itu.
Saya menepuk bahu seorang anak muda yang berdiri agak di belakang yang tertawa terkekeh-kekeh. Ketika dia menoleh, saya langsung menghujamkan swing saya ke sisi kanan dagunya. Dengan mata terbelalak dan lidah terpilur anak muda itu langsung tumbang.
Seorang temannya menoleh dan terkejut ketika melihat saya. Tapi sebelum dia sadar akan apa yang sedang terjadi, saya hantamkan kaki saya ke atas dengan gerakan kinteki keri ke arah selangkangannya. Anak muda itu meliuk sambil memegangi bagian vitalnya. Dan saya tidak lagi memberikan kesempatan. Saya hujamkan hook kanan saya ke arah rahang kirinya sehingga dia tumbang tanpa sempat menjerit. Dan buru-buru saya memungut botol kosong yang dibawanya yang tergeletak di atas tanah. Anak muda yang seorang lagi, ternyata melihat saya. Dia memekik keras memperingatkan kedua orang kawannya yang sedang mempermainkan Sang Brahmin. Tapi saya langsung bertindak cepat. Saya kemplangkan botol kosong yang saya bawa ke kepalanya. Dia terpekik ketika botol saya menghantam sisi kanan kepalanya. Tubuhnya langsung rebah mencium tanah.
Dua orang anak muda yang melihat ketiga kawannya telah terkapar di tanah, mendadak terlihat gentar saat melihat saya. Tapi salah seorang di antara mereka mendadak mengeluarkan sebilah pisau dan mengacung-acungkan ke arah saya. Saya tercekat dan bergerak mundur beberapa langkah, karena melihat bahwa anak-anak itu sedang mabuk dan bisa nekat menggempur saya dengan pisaunya.
Dugaaan saya benar. Anak muda yang membawa pisau itu melesat ke arah saya dengan pekikan marah. Tangannya yang menggenggam pisau berkelebat ke arah jantung saya. Saya berkelit ke arah samping sambil meraup pasir bercampur tanah. Dan tanpa bilang bah atau buh lagi, ketika anak muda itu membalikkan tubuh ke arah saya, langsung saya hamburkan pasir ke arah wajahnya.
Dia memekik keras sambil mengumpat saya sebagai bajingan curang. Tapi saya tidak peduli. Dalam keadaan tidak bisa melihat, saya menghajar dia habis-habisan. Jab kiri dan jab kanan saya lepas ke arah dagu dan hidungnya. Lalu hook kiri dan hook kanan saya hujamkan ke pelipis kiri dan pelipis kanannya. Dan yang terakhir, saya kirim upper cut ke tenggorokan disusul dupakan keras ke arah ulu hatinya. Anak muda itu terpental ke belakang dan rebah menggebah bumi dalam keadaan pingsan.
Anak muda yang satu ternyata hendak melarikan diri tapi ke-sudrun-an saya tidak dapat saya kendalikan. Saya buru dia. Dia berlari terseok-seok karena sedang mabuk. Dan jarak saya sekitar dua meter dengannya, ketika saya melompat dan mendupak punggungnya dengan keras.
Anak muda itu terhuyung huyung ke depan. Saya langsung menyepak pantatnya. Dia menoleh, mungkin mau minta ampun kepada saya. Tapi dengan gempuran mawashi keri saya hantam rahang kanannya dengan kaki kiri saya. Anak muda itu meliuk dan tumbang ke bumi.
Saya menarik napas dan buru-buru mendatangi Brahmin tua yang babak belur. Dengan mengiba Brahmin itu merangkul kaki saya dan mengucapkan terima kasih atas pertolongan saya. Tapi, yang membuat hati saya tercekat adalah ucapannya yang menyebut saya dengan sebutan "Dewa Hanoman". Saya benar-benar tersinggung setiap kali ada orang menyinggung ke-monyet-an saya, meski saat ini kadar ketersinggungan saya agak rendah.
Saya sendiri tidak perlu lagi menjelaskan kepada Brahmin itu sekitar ke-monyet-an dan ke-hanomanan saya. Sebab, bagaimanapun orang-orang di Bombay gampang sekali mendewakan orang lain yang berbuat kebajikan kepada mereka. Dan oleh sebab itu pula, maka saya hanya menanyai sang Brahmin, mengapa dia sampai diperlakukan seperti itu.
Dengan suara tergetar Brahmin itu menuturkan bahwa, "Mereka adalah anak-anak muda yang sudah putus asa. Mereka sebelumnya sering menemui saya di kuil Mahalaxmi. Mereka minta agar saya mendoakan mereka, agar mereka dapat dengan mudah memperoleh pekerjaan. Tetapi ketika lebih setahun mereka ternyata tidak memperoleh pekerjaan juga, mereka marah. Dan saya benar-benar tidak menduga kalau mereka naik pitam dan marah kepada saya."
Saya hanya menarik napas berat mendengar kisah Brahmin tersebut. Entahlah setelah beberapa waktu saya tinggal di Bombay, saya mengetahui benar watak sebagian masyarakatnya. Mereka gampang percaya takhayul. Mereka gampang memperdewa sesamanya. Mereka pun gampang mengumpat tuhan-tuhanya apabila kehendaknya tidak terpenuhi.
Saya mendadak menyadari bahwa terjadinya perkelahian saya dengan anak-anak durhaka itu tentulah tidak akan selesai begitu saja. Brahmin yang belakangan saya ketahui bernama Bhratrin itu, tentulah akan dijadikan sasaran kemarahan anak-anak muda yang tentunya akan menyimpan dendam dengan kejadian tersebut.
Setelah merenung beberapa jenak, saya bergegas mendekati tubuh salah seorang di antara mereka. Dengan cepat pisau yang tergeletak di dekat genggaman salah seorang di antara mereka itu Saya pungut. Kemudian satu demi satu celana mereka saya buka. Dan ... crass! crass!... Saya sunat mereka satu persatu dengan pisau mereka sendiri.
Selembar saputangan saya ambil dari saku mereka, dan kulit sisa potongan sunatan mereka saya kumpulkan di dalam sapu tangan itu. Sesaat saya tercekat dengan ke-sudrun-an itu, tapi buru-buru perasaan itu saya tindas. Dan kepada Brahmin bernama Bhratrin itu, saya berikan potongan kulit kemaluan mereka itu beserta pisaunya. Brahmin Bhratrin terperangah dengan kejadian yang tak diduganya itu.
Melihat keraguan dan kegentaran Brahmin Bhratrin, segera saya menjelaskan. "Kalau mereka datang lagi menemui sampean, katakan kepada mereka kalau "Dewa Hanoman" akan datang lagi untuk memotong leher mereka jika mereka melukai sampean."
Brahmin Bhratrin dengan tangan gemetar menerima sapu tangan dari saya. Tapi ketika dia akan berlutut menyembah saya, buru-buru bahunya saya pegang. Saya larang dia berbuat seperti itu. Dan dengan terus terang, saya katakan bahwa semua itu adalah siasat saya untuk mengecoh anak-anak nakal itu. Brahmin Bhratrin, rupanya tidak percaya begitu saja kalau saya manusia biasa. Dia tetap berkukuh bahwa saya adalah Dewa Hanoman atau kalau tidak, saya diyakininya adalah kera Avatar alias kera yang kesurupan ruh Dewa Hanoman.
Saya tidak mau memperpanjang soal ke-monyetan dan ke-hanoman-an saya dengan Brahmin Bhratrin, sebab di kejauhan saya mendengar sayup-sayup suara orang mengumandangkan iqamat pertanda sembahyang Maghrib dimulai. Dengan saya papah, Brahmin Bhratrin saya antarkan sampai ke pinggir Jl. Bhulabhai Desai. Saya titipkan dia kepada seorang sopir taksi supaya diantar ke kuil Mahalaxmi yang tak jauh lagi letaknya. Brahmin Bhratrin yang usianya sudah sekitar 70-an tahun itu termangu haru melihat saya, seolah-olah dia ingin berkata banyak dengan saya. Tetapi, saya segera memberi isyarat kepada sopir agar cepat menuju ke kuil Mahalaxmi sambil saya berikan uang 15 rupee.
Setelah sembahyang Maghrib di sebuah surau kecil di pojok kampung tak jauh dari Shopia Bhabha Auditorium, saya berjalan menuju halte pemberhentian bus kota. Saat Saya merogoh saku celana saya, Saya dapati uang saya ternyata tinggal 20 rupee. Karena itu, saya putuskan untuk naik bus kota ke terminal sentral di Jl. Anandrao Nain untuk kemudian pindah ke bus lain ke jurusan Kantor Pos Besar yang terletak di Jl. Dadabhay Naoroji. Tapi baru saja saya berjalan beberapa ratus langkah dari surau, saya melihat anakanak kecil melompat-lompat sambil berteriak-teriak gembira. Rupanya mereka sedang melempari seekor anjing geladak yang tubuhnya sangat kurus dengan batu.
Dengan meraung dan menguik-nguik anjing kurus itu merangkak-rangkak seperti seorang tentara sedang berusaha menerobos kawat berduri. Anjing kurus itu terlempar ke tanah ketika seorang anak menyepak pantatnya. Saat masih tersungkur, anjing kurus itu dibuat menggeliat oleh tendangan seorang anak lain yang tepat mengenai perutnya. Anjing itu meraung dan tubuhnya terbanting keras ke tanah. Sambil memperdengarkan ratapan kesakitan, anjing malang itu berusaha bangkit.
Melihat nasib anjing kurus yang celaka itu, tibatiba saja hati saya runtuh. Entah bagaiman awalnya, mendadak saja air mata saya jatuh, hati saya terasa melumer bagai salju mencair membentuk titik-titik air di kelopak mata saya.
Perubahan perasaan yang saya alami ini benar-benar membuat saya heran sendiri. Sebab sejak kecil saya adalah Sudrun yang hidup dipenuhi ke-sudrun-an yang pantang menangis. Apapun yang saya alami, bahkan ketika bapak saya meninggal pun, saya tidak menangis. Penderitaan dan kepedihan yang saya alami yang bagi orang lain bisa meruntuhkan air mata, toh pada kenyataanya tidak pernah meruntuhkan air mata saya. Saya benar-benar manusia sudrun yang pantang menangis dan mengeluh dalam menghadapi kehidupan yang bagaimana pun ganasnya. Tapi sekarang ini, justru hanya karena seekor anjing kurus yang tidak pernah saya kenal sebelumnya, saya mendadak bisa nangis.
Bagaimana pun Saya tidak akan memperpanjang keheranan saya atas terjadinya perubahan pada diri saya ini, sebab anjing kurus itu tampaknya sudah megap-megap dijadikan bulan-bulanan oleh anak-anak nakal itu. Tanpa bisa saya cegah, tiba-tiba saya melompat, mendekati anak-anak yang bergembira ria itu tepat ketika anjing kurus yang malang itu punggungnya digebuk sepotong kayu.
"Mengapa kalian menyiksa anjing itu?" tanya saya kepada seorang anak yang agak besar di antara kawankawanya.
"Dia najis!" seru anak itu menuding, "Dia tadi masuk halaman surau dan mengendus celana saya."
Saya sadar bahwa anak-anak itu tentu tidak akan dapat saya cegah kehendaknya untuk tidak membunuh anjing celaka itu. Saya sadar bahwa pemikiran anak-anak itu tentulah tidak jauh dengan pikiran saya sewaktu masih kecil, di mana saya dan kawan-kawan sering membunuh anjing-anjing yang dipelihara Babah Hong Lie, tetangga saya yang berjualan Bakcang.
Sadar bahwa saya tidak akan bisa mencegah anak-anak itu agar tidak membunuh anjing celaka itu, saya akhirnya tidak memiliki pilihan lain kecuali memberikan sekadar uang kepada mereka sebagai ganti pembeli anjing celaka itu, meski saya sendiri tentunya emoh memeliharanya. Dan anak-anak itu pun tidak lagi menghiraukan anjing yang menggelepar di tanah itu ketika saya sodorkan uang 10 rupee sebagai penganti anjing malang itu. Saya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat anak-anak itu berlarian sambil tertawa-tawa.
Saya menghela napas panjang sambil meninggalkan anjing kurus sial yang sekarang menjilat-njilat ujung kaki depannya yang tampaknya terluka. Tetapi ketika saya sudah berjalan sekitar seratus meter, anjing kurus itu ternyata terus mengikuti saya dalam jarak tiga meteran. Saya tentu saja tak senang diikuti anjing kurus celaka itu, sebab kalau saya sampai masuk rumah Tuan Arvind dengan membawa seekor anjing, tidak bisa tidak saya pasti akan kena damprat bahkan kalau perlu anjing itu akan ditembaknya.
Saya mempercepat langkah dan berharap segera menjumpai bus kota di mana saya akan bisa melompat dan meninggalkan anjing kurus celaka tersebut. Bagi saya, sudahlah cukup saya menyelamatkan nyawanya dari keganasan anak-anak nakal. Saya tentu tidak mau lagi berurusan tetek-bengek dengan seekor anjing geladak yang kelihatannya banyak kutunya itu. Tetapi, anjing itu kelihatannya tidak menyerah. Ia terus memburu saya ke mana pun saya melangkah sehingga diam-diam saya menjadi jengkel dan ingin rasanya saya memungut batu untuk saya timpukkan ke kepalanya.
Uber-uberan antara saya dan anjing itu seyogyanya akan terus berlangsung seandainya saya tidak mendengar tangisan bayi di tengah keremangan senja. Saya celingukan melihat-lihat apakah di sekitar saya saat itu ada orang seorang yang menggendong bayi atau mungkin juga ada bayi yang sakit. Cukup lama saya celingukan. Anehnya, sepanjang Jl. Bhulabhai Desai, yang remang-remang itu hanya saya dapati anjing kurus itu sebagai satu-satunya makhluk hidup. Saya pun segera mencari-cari arah tangisan bayi itu ke sepanjang tepian jalan Bhulabhai Desai tapi tetap tidak menemukan secuil pun bayangan bayi.
Pada saat pandangan mata saya menyapu trotoar di bawah tiang lampu jalan, darah saya mendadak tersirap sewaktu saya dapati bungkusan selimut lusuh yang ternyata berisi seorang bayi. Bungkuasan selimut lusuh itu digeletakkan begitu saja di trotoar pinggir jalan tepat di bawah tiang lampu jalan. Perasaan saya langsung mengatakan bahwa bayi itu tentulah bayi malang yang dibuang oleh emak atau bapaknya yang tidak mau bertanggung jawab atas kelahirannya di dunia. Saya sudah sering mendengar dari omongan Tuan Arvind bahwa di Bombay ini banyak orang membuang bayi di jalan-jalan maupun di kuil-kuil.
Menurut Tuan Arvind, bayi-bayi yang dibuang sembarangan itu biasanya anak hasil hubungan gelap atau anak dari orang tua yang sangat melarat. Biasanya orang-orang enggan memungut anak malang yang diyakini akan mendatangkan celaka. Kalaupun ada orang yang mau memungut, bayi malang itu biasanya diserahkan ke panti-panti asuhan atau dijual begitu saja kepada sindikat pembuat anatomi tengkorak manusia di mana bayi-bayi itu akan dibunuh dan disisakan tulang-belulangnya sebagai model bagi pelajaran anatomi di sekolah-sekolah dan universitas-universitas.
Entah apa yang sesungguhnya terjadi, begitu mendengar tangisan bayi mungil terbungkus selimut yang umurnya belum genap sebulan itu, hati saya mendadak runtuh seperti saat saya melihat anjing kurus bernasib malang yang digebuki anak-anak nakal. Air mata saya tiba-tiba bercucuran tanpa bisa saya tahan. Lalu seperti refleks, saya merunduk dan menjamah bayi yang meronta dalam selimut butut itu. Sesaat saya berpikir, kalau saya sampai pulang membawa bayi malang itu, tak urung saya akan digempur Tuan Arvind habis-habisan. Saya pasti akan diumpatnya sebagai orang dungu yang memelihara makhluk celaka yang tidak ketahuan asal-usul keturunannya. Tuan Arvid pasti menggempur saya, karena saya dianggap menyimpan seonggok daging busuk yang akan mendatangkan malapetaka.
Pandangan saya tentang dosa yang diwariskan tentulah sangat bertolak belakang dengan pandangan Tuan Arvind. Saya tetap berpegang pada prinsip ajaran agama Islam bahwa setiap manusia tidak menanggung dosa orang lain, meskipun dosa emak dan bapaknya sendiri. Tidak harus bapak yang maling maka anaknya akan menjadi maling. Tidak harus pula bapak dan emak yang pezinah maka anaknya harus menjadi pezinah. Kisah Nabi Ibrahim, Nabi Luth, Nabi Nuh, dan kisah-kisah lainnya menunjukkan betapa tiap-tiap manusia memiliki otoritas bagi dirinya sendiri. Tidak ada dosa orang lain harus dipikul oleh seseorang, meski saya yakin genetika orang tua akan menurun kepada anak.
Akhirnya saya memutuskan bahwa apapun yang terjadi, saya harus menolong bayi mungil kurus yang malang itu. Saya tidak bisa membiarkan bayi tanpa dosa itu menggeletak di tempat berangin-angin di malam hari dalam udara yang jekut yang akan membuatnya mati. Saya tidak akan membiarkan bayi kurus malang itu dikerumuni semut-semut pantai yang ganas.
Dengan penuh kehati-hatian saya angkat tubuh bayi dalam selimut butut itu. Saya merasakan kehangatan memancar dari tubuh saya seperti matahari menghangati kesejukan pagi. Kehangatan itu saya rasakan menerobos pori-pori dari dada saya meresap ke tubuh bayi mungil yang jari-jari tangannya terasa dingin itu. Saya genggam tangan bayi kurus itu seolaholah saya ingin membuat jari-jemarinya hangat dijalari daya kehidupan yang memancar dari jari-jemari saya. Saya dekap bayi itu ke dada saya seolah-olah saya ingin memberikan seluruh kehangatan tubuh saya untuknya.
Di dalam dekapan saya, bayi kurus itu ternyata tidak lagi menangis. Dia diam bagai tidur di buaian ibunya. Tetapi, hati saya menjadi runtuh manakala tangan bayi mungil itu meraba raba dada saya, seolaholah dia sedang meraba puting susu ibunya. Saya tahu bahwa bayi kurus itu sedang dicekik kehausan. Namun, saya tidak tahu bagaimana harus berbuat untuk memberinya minum. Sementara angin pantai bersuit-suit menerbangikan pasir bagaikan ringkikan berjuta-juta setan. Hati saya benar-benar tersayat ketika bayi kurus itu menjerit dengan suara serak seolah-olah tenggorokannya telah benar-benar kering.
Bayi itu terus menjerit dan menangis dengan suara kering. Saya benar-benar kebingungan karena saya tak tahu apa yang harus Saya lakukan. Namun tanpa saya sadari, saya mendadak seperti memiliki naluri bahwa bayi dalam dekapan saya itu adalah anak kandung saya. Antara sadar, saya tiba-tiba melihat kelebatan wajah para perempuan yang pernah singgah di rentangan perjalanan hidup saya ganti-berganti dengan wajah bayi itu.
Saya termangu merenungi kejadian aneh yang saya alami ini. Apakah perasaan kasih yang memancar dari lubuk sanubari saya terdalam sekarang ini bukan suatu letupan dari kerinduan saya akan kehadiran seoarang anak? Mungkinkah seorang bayi lahir tanpa ayah dan tanpa ibu? Dari mana rasa kasih itu memancar dari kedalaman jiwa saya? Kenapa saya harus mengasihi bayi yang tidak saya ketahui asal-usulnya ini? Kenapa saya harus meneteskan air mata untuk makhluk bayi yang namanya pun tak saya ketahui itu?
Dalam benak saya mendadak berkelebat bayangan demi bayangan bayi kurus yang sekarang sedang saya dekap itu. Saya bayangkan bahwa saya akan digempur habis-habisan oleh Tuan Arvind. saya bayangkan Laxmi Devi akan menertawakan kebodohan saya. Kalaupun bayi itu akan saya pungut sebagai anak angkat lewat cara mengadopsi, saya tentu akan dicekik birokrasi yang tak kenal ampun, di mana bisa-bisa saya dituduh penculik bayi atau sedikitnya pembeli bayi dari suatu sindikat. Bahkan kalau saya berhasil mengatasi urusan birokrasi sekitar adopsi anak, saya harus memikirkan masa depannya. Saya harus menyekolahkan dia. saya harus mangajarnya mengaji. Saya harus mendidiknya, yang semua itu akan menyita waktu saya. Ya, saya benar-benar akan masuk ke dalam sebuah kamp kerja paksa hanya untuk mengurusi satu bayi kurus yang tak Saya ketahui emak maupun bapaknya itu.
Setelah berpikir-pikir tentang berbagai kemungkinan, saya mendapati benak saya penuh dijejali gambaran-gambaran mengerikan. Tapi tanpa saya rencanakan, saya tiba-tiba ingat pada Brahmin Bhratrin di kuil Mahalaxmi. Bukankah saya bisa menitipkan bayi itu kepada Brahmin tua itu? Bukankah saya sudah menolongnya dari kelakuan jahat anakanak mabuk? Bukankah saya sudah menyelamatkan nyawanya? Ya, saya bisa bicara pada Brahmin Bhratrin untuk menitipkan bayi kurus itu kepadanya. Saya berharap Brahmin Bhratin akan menitipkan bayi itu kepada salah seorang penduduk di sekitar kuil. Sementara saya bisa mengirimnya sedikit uang untuk sekadar membeli susu.
Nyawa saya mendadak bagai ditarik ke ubun-ubun ketika bayi kurus itu menjerit keras dengan suara serak. Hati Saya runtuh dan air mata saya jatuh bercucuran.
 
Saya seperti bisa merasakan bagaimana hausnya bayi itu. Saya seperti bisa merasakan bagaimana laparnya bayi itu. Saya mendadak saja merasakan bahwa tubuh bayi itu adalah tubuh saya. Saya mendadak saja merasakan bahwa jiwa bayi itu adalah jiwa saya. Laparnya adalah lapar saya. Hausnya adalah haus Saya. Tetapi bayi kurus itu tidak bisa menyatakan kehausan dan kelaparan yang dialaminya kecuali menangis. Dia terus meraba-raba dada saya dan mengapai-gapai seolaholah mencari putting susu ibunya.
Ketika bayi itu menjerit untuk yang kesekian kalinya, saya seperti tidak menggunakan lagi akal waras saya. Saya mendekapnya erat-erat dan berjalan menyusuri Jl. Bhulabhai Desai. Sementara saya melangkah, anjing kurus yang sejak tadi hanya memandangi tingkah saya, ternyata terus membuntuti saya. Saya mendadak merasa bahwa bagaimana pun saya tidak akan menghardik anjing kurus itu sebagaimana saya tidak akan melemparkan bayi dalam dekapan saya itu ke jalanan. Dan tekad saya makin membaja manakala Sirr'l Haqq di pedalaman jiwa saya membisikkan kepada saya bahwa seyogyangya saya merasa bersyukur karena Allah melimpahi saya dengan cinta kasih, sebab tidak semua orang dilimpahi cinta kasih sejati, di mana cinta kasih kebanyakan orang hanyalah cinta kasih untuk dirinya sendiri.
Dugaan saya ternyata terbukti, di mana saat memasuki rumah, Tuan Arvind yang melihat saya pulang membawa bayi dan anjing kurus langsung menggempur saya habis-habisan. Sumpah serapah dan caci maki disemburkan sedemikian rupa seolah peluru dihamburkan dari senapa mesin. Saya diam saja. Anehnya, saya mendadak seperti memiliki kekuatan tak terkendali ketika Tuan Alvind menggebrak meja dan membuat bayi kurus itu menangis keras karena terkejut. Tanpa pikir panjang, saya terkam krah baju Tuan Arvind dan saya ancam dia untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat darah saya mendidih. Seperti kesetanan, saya ganti menggempurnya habis-habisan sehingga dia gelagapan. Dan malam itu pula, saya memutuskan untuk menyingkir dari kamar sewa saya.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Lebaran 2011ku

Lebaran 2011ku

pengalaman itu tak selamanya menjadi guru yang terbaik. Pagi-pagi pulang dari kerja aku langsung ke stasiun gambir untuk membeli tiket kereta buat mudik, tapi ternyata semua

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DUA BELAS)

Sang bagaskara menyembul dari tirai cakrawala dengan kehangatan cahayanya yang menerobos dedaunan dan menguapkan embun pagi. Bebungaan menebarkan wanginya seolah menyediakan

Percayakah Kau Padaku?

Percayakah Kau Padaku?

Cerita ini diambil dari salah satu cerita pendek pada buku "Sepotong Hati Yang Baru" dengan judul "Percayakah Kau Padaku?" yang ditulis oleh Tere Liye.__________________

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH)

Matahari sudah menggelinding sembilan kali di langit Bombay ketika keanehan lelaki tua yang belakangan saya ketahui bernama Chandragupta menerkam jiwa saya. Keanehannya rasanya

Kisah Sejarah Gaib Tanah Jawa

Kisah Sejarah Gaib Tanah Jawa

Sejarah awal Pulau Jawa seolah terbungkus oleh misteri, karena sama sekali tidak diketahui keberadaannya oleh dunia sampai pulau ini dikunjungi oleh peziarah dari China, Fa

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT BELAS)

Badai gurun menggemuruh dahsyat bagaikan iring-iringan barisan raksasa berkejaran sambung-menyambung, melonjak, menggulung, menghentak-hentak, mengaduk-aduk, dan menghempas

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Malam hitam membentang diwarnai jutaan bintang yang meneteskan embun bagai langit menitikan air mata membasahi semesta. Keheningan mencekam seolah-olah menidurkan rerumputan

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sebuah perjalanan melintasi semesta ruhani adalah sebuah rentangan pengalaman menakjubkan yang sangat fantastis jika dipikir dengan nalar. Sebab segala sesuatu yang tergelar