Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA)

  • 2018-07-22 09:09:36
  • 723

"Kalau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!"
Kembali bisikan misterius itu membentur pedalaman saya bagai kilatan halilintar, yang belakangan ini justru semakin sering frekuensi kemunculannya. Rupanya upaya saya untuk menghapus bayangan Ita Martina dari benak saya justru semakin membangkitkan kembali bisikan misterius yang membingungkan itu.
Terus terang, dengan munculnya bisikan misterius itu Saya memang jadi terpojok. Sebab diakui atau tidak, sejauh ini saya memang selalu beralasan mencari Tuhan untuk menghindari tugas-tugas rutin membantu kegiatan pesantren. Saya selalu menyatakan bahwa saya ingin mencari pembuktian akan Tuhan yang selama ini selalu mengobsesi Saya. Celakanya, bisikan misterius yang muncul di pedalaman jiwa saya itu justru menyuruh saya agar belajar kepada iblis.
Sebagaimana telah dimaklumi, sejak kecil saya memiliki naluri untuk menyingkap-nyingkap sesuatu. Dan soal Tuhan beserta para malaikat-Nya, sudah menjadi tanda tanya besar dalam benak saya yang cepat atau lambat akan saya singkap juga kebenarannya, sebab sejak Saya masih duduk di kelas dua SD, saya sering mendapat kesan bahwa para malaikat dan Tuhan itu adalah laki-laki, terutama akibat nama-nama malaikat Saya kesankan mirip nama laki-laki seperti Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, Munkar, Nakir, Raqib, Atid, Malik, Ridwan, bahkan nama Gusti Allah sendiri pun menurut kesan saya adalah nama laki-laki, termasuk nama-nama Indah Tuhan yang disebut Asma’ul Husna seperti: Akbar, Qohaar, Kholiq, Bashir, Ghofur, Malik, Rahman, Jabbar, Muhaimin, Muttakabir, dan sebagainya. Karena kesan itu, sejak kecil kalau saya sedang bersembahyang sering saya munculkan bayangan Tuhan dalam imajinasi saya sebagai seorang laki-laki tua yang bijaksana dan penuh kasih sayang. Bahkan kalau saya kebetulan sedang sedih, saya bayangkan Tuhan turun ke sisi Saya dan mengelus-elus tubuh saya sambil menyanyikan lagu-lagu surgawi.
Bayangan-bayangan imajinatif tentang Tuhan itu pada akhirnya memang bertarung keras dengan otak saya yang menolak imajinasi yang dibentuk perasaan saya. Tetapi otak saya sendiri belum bisa menentukan jawaban, terutama tentang Tuhan yang bagaimana yang sebenarnya saya sembah dan patuhi itu. Saya memang sering mendengar para khotib berbicara muluk-muluk mendefinisikan Tuhan sebagai Mahapemurah, Mahatahu, Mahaagung, Mahameliputi, Mahapengasih, tetapi semua pembicaraan para khotib itu bagi saya, perlu pembuktian konkret, sebab Saya sangat yakin bahwa Gusti Allah itu Ada dan sekali-kali bukan sekadar dongeng.
Waktu saya duduk di kelas dua SMP, saya sering bertanya-tanya tentang Tuhan kepada orang-orang yang saya temui. Tetapi mereka rata-rata mengalihkan perhatian ketika saya sudah tanya soal ini-itu mengenai esensi dan eksistensi Tuhan. Mereka hanya berputar-putar dari dogma satu ke dogma lain yang sangat tidak bisa saya pahami sesuai tuntutan akal Saya. Bahkan ketika saya duduk di bangku SMA, seorang kawan saya bernama Amat Basyir menuduh saya ateis-komunis-kafir ketika saya mempersoalkan eksistensi Ke-Tuhan-an.
Rupanya, orang-orang yang saya kenal sudah terperangkap pada akal budi yang kerdil karena malas berpikir. Mereka akan menuding dengan tuduhan apa saja untuk menutupi kebodohan dan ketololannya. Dengan menyadari keadaan ini, saya pada gilirannya bisa maklum, kenapa ilmu kalam dan filsafat tidak pernah berkembang di Nusantara karena manusia-manusia beragama Islam di negeri ini malas berpikir secara independen. Artinya, kalau konsep Ketuhanan seseorang dianggap menyimpang dari konsep al-Asy’ariyah maka sudah layak orang tersebut dituding sebagai zindiq alias sesat. Ya, untung saja nabi-nabi zaman dulu lahir di negeri-negeri yang penduduknya rasionalistis sehingga sekalipun penduduk itu kasar, toh kalau konsep yang diajukan nabi-nabi bisa diterima nalar, akan diterima juga secara objektif sebagai keniscayaan.

Mencari kebenaran absolut memang bukan jalan yang ringan, sebab berbagai rintangan terus melintang dalam berbagai tahap dan tingkatan. Satu misal, dengan melesatnya bisikan misterius itu, tanpa sadar saya telah terseret kepada arus deras sungai imajinasi yang menghanyutkan sekitar sosok Ita Martina. Dan rasanya, sekarang ini saya memang harus siap untuk dituding-tuding dan diumpat-umpat sebagai Sudrun yang sudrun, senewen, sinting, edan, gendeng, kenthir, gelo, gemblung, dan saya harus tidak peduli.
Dengan satu dan lain alasan, munculnya gelar "Kiai Sudrun" yang disogokkan begitu saja ke dalam nama Saya, adalah suatu alasan yang cukup normal bagi saya untuk lebih tekun lagi mencari Tuhan. Saya hanya berbekal keyakinan bahwa Gusti Allah bukan sebuah dongeng. Dia Ada tetapi Dia masih tersembunyi dari saya.
Keyakinan saya yang lain bahwa satu ketika nanti saya akan beroleh kepastian tentang keberadaan Tuhan, ialah saya telah berusaha untuk tidak berbuat maksiat terutama berzinah. Sebab saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa sekalipun seseorang hafal al-Qur’an dan hafal hukum-hukum fiqh, kalau dia masih suka berzinah, tiadalah mungkin dia beroleh kebenaran hakiki. Sebab saya yakin bahwa sekali orang berzinah, sesungguhnya ada sesuatu di dalam jiwanya yang berubah; sehingga Islam tegas sekali menghukumi zinah dengan hukuman mati dengan cara dirajam.

Saya memang tidak perlu menutupi kemunafikan saya, bahwa saya memang pernah mencium perempuan yang belum menjadi istri saya. Saya juga sering menggerayangi tubuh kawan-kawan perempuan saya. Tapi untuk berzinah lebih jauh, saya belum pernah melakukannya. Dan sekarang ini, saya benar-benar kapok dan tak pernah lagi melakukan tindakan seperti binatang liar itu karena saya sadar itu semua adalah pengaruh iblis.
Akhirnya, setelah berbagai kecamuk pikiran bergalau di otak saya, saya pun melangkah menembus sepi seolah-olah saya ingin menapaki ke-sudrun-an saya. Dengan langkah tertatih-tatih saya berjalan dari satu lorong ke lorong lain dan dari trotoar satu ke trotoar lain. Saya nikmati pancaran lampu kota dan dingin malam dengan kelebatan wajah Ita Martina yang sesekali melintas. Saya larutkan ke-sudrun-an saya di tengah galau kota yang semrawut. Dan di antara deru mobil dengan hingar-bingar klaksonnya, saya menyebut-nyebut nama Tuhan dengan penuh perasaan. Ya hanya nama Tuhan yang sejauh ini bisa saya sebut karena saya tidak pernah tahu apapun tentang Tuhan selain nama-Nya.
Saya tidak tahu, kenapa setiap saya menyebut-nyebut Tuhan hati saya selalu merasa tenteram dan damai. Saya hanya merasa bahwa apa yang diungkapkan al-Qur’an dengan kalimat alaa bidzikri ‘illah tathmaa’innul quluub adalah benar adanya. Dan begitulah keyakinan itu saya resapi maknanya sehingga sebuah pancaran tentang kebenaran al-Qur’an yang saya pahami dengan perasaan dan pengalaman itu makin menebalkan keyakinan saya bahwa Allah itu memang Ada. Dan saya hanya merasakan bahwa dengan terus-menerus saya menyebut-nyebut nama-nama Allah, diri saya seperti larut ke dalam kumparan kekuatan yang tidak terukur. Kesadaran saya senantiasa saya rasakan seperti memasuki dimensi ajaib dari 99 Nama Tuhan Yang Indah yang sudah saya hafal di luar kepala; saya merasakan seperti berjalan di atas titian 99 jalur cahaya yang semuanya menuju Satu Cahaya Mahamulia yang tak terbayangkan pikiran manusia.
Tanpa terasa langkah kaki saya telah membawa saya ke daerah barat kota. Seperti digerakkan oleh kekuatan ajaib, saya melangkah ke bagian barat jalan tol. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saya menjumpai seorang lelaki bertubuh pendek kecil yang memakai kacamata tebal. Saya mengenal lelaki yang sekarang berpakaian kusut itu bernama Syaikhul Akbar Al-Musykil, seorang keparat senewen yang diam-diam mendirikan tarekat Musykiliyyah.
Sekilas perjumpaan dengan saya, Al-Musykil tidak lagi mengenal saya karena saya pun seumur-umur hanya sekali bersilaturahmi ke rumahnya yang reyot. Sekilas melihat saya terseok-seok, Al-Musykil hanya melirik ke arah saya dengan sudut matanya seolah-olah dia menganggap saya sebagai orang sedang mabuk. Tapi entah bagaimana awalnya, mendadak saja saya seperti menerima bisikan misterius yang mengatakan bahwa Al-Musykil adalah manusia yang sedang melangkah ke jalan kesesatan. Saya melihat daya iblis memancar diam-diam dari balik kacamatanya yang tebal. Bibirnya yang tebal seperti empal ditambah hidungnya yang mekar menandakan bahwa dia menurut Ilmu Katuranggan (fisionomi) Jawa tergolong orang yang sulit menerima pendapat orang lain. Manusia macam begini kalau sudah sesat amat sulit diberi petunjuk. Kalau dia pun ateis, maka orang sulit menanamkan iman, sebaliknya kalau dia sudah menyakini pada suatu hal, maka dia akan menganutnya secara membabi buta. Dan menurut pendapat saya, orang seperti Al-Musykil itu tidak akan bisa memperoleh kebenaran yang lebih tinggi dari kemampuan otaknya yang menurut ukuran normal volumenya relatif kecil.
Saya sendiri diam-diam menyakini bahwa perjalanan mencari Tuhan tidak gampang, sekaligus tidak semua orang boleh melakukannnya. Sebab saya yakin bahwa soal pencarian Tuhan bukan sekadar menyangkut unsur rasa seseorang, melainkan yang lebih merupakan syarat utama adalah ukuran volume otak yang terlihat dari bentuk tengkorak kepala seseorang. Saya yakin bahwa bentuk tengkorak kepala yang tirus yang menandakan volume otak seseorang sedikit, memiliki korelasi yang erat dengan kepesatan maupun kelambanan langkahnya dalam mencari kebenaran, baik kebenaran ilmiah maupun kebenaran Ilahiah.
Melihat bentuk tengkorak kepala Al-Musykil, sebenarnya saya sudah menangkap sasmita bahwa orang macam dia tidaklah mungkin orang cerdas apalagi jenius. Karena itu saya sangat heran ketika dia menguraikan ajaran tasawuf dengan ilmu kalam yang cukup berbobot. Ketika mendengar uraiannya, saya memiliki dua asumsi. Yang pertama, dia telah berguru kepada seorang ahli ilmu kalam yang agak condong pada kebatinan Jawa. Yang kedua, Allah mungkin memberikan rahmat dan hidayah kepadanya.
Tetapi ketika saya mendengar uraian demi uraiannya lebih lanjut tentang liku-liku kedalaman tasawuf yang diungkapkannya, segera tahulah saya bahwa Al-Musykil sebenarnya hanya mengulang-ulang dalil demi dalil yang kelihatannya telah dihafalnya dengan baik. Walhasil, kesimpulan saya yang pertama benar, yakni dia mungkin telah belajar kepada seorang ahli ilmu kalam yang agak condong kepada kebatinan Jawa. Uraian-uraian Al-Musykil memang memukau dan bersifat doktriner, sehingga dengan cepat menarik perhatian, khususnya bagi kalangan awam yang mudah terpengaruh dan gandrung pada hal-hal yang kelihat- annya rasional.
Sekalipun sudah bertahun-tahun kami tidak pernah ketemu lagi dan Al-Musykil sudah lupa sama sekali dengan saya, toh saya masih ingat benar akan apa yang dikatakannnya secara rinci. Saya ingat benar ketika mendoktrinkan ajaran bahwa segala gerak kehidupan ini sepenuhnya ditentukan oleh Allah. Oleh sebab itu, menurutnya, manusia tidak perlu merasa bersusah-payah bekerja karena Allah selalu memelihara setiap apa yang diciptakan-Nya. Bahkan, dengan jumawa dia berkata, orang boleh memantau kehendak Allah atas dirinya dalam segala hal.

"Saya kalau mendapat rezeki selalu bilang Innalillahi wa inna ilaihi roji’un," kata Al-Musykil menganehkan diri dengan alur berpikir aneh, "Sebab saya tahu bahwa rezeki itu milik Allah. Rezeki datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah, sehingga kita pun tidak merasa perlu memiliki apa-apa. Semua milik Allah."
Saya hanya mengangguk-angguk penuh takjub mendengar uraian Al-Musykil yang tampak filosofis itu, meski hati saya mengumpatnya sebagai manusia yang keblinger, karena Rasulullah SAW sudah jelas-jelas mengajarkan bahwa apabila orang memperoleh rezeki atau kenikmatan apapun bentuknya disunnahkan mengucap syukur alhamdulillah. Dari segi itu saja, sekalipun saya sudrun, saya masih bisa membedakan mana yang ajaran Rasulullah SAW dan mana ajaran sesat yang keblinger, sebab bagi saya apa yang menjadi sunnah Rasul dan tuntunan al-Qur’an adalah jauh lebih utama daripada ajaran aneh-aneh, meski kelihatannya hebat.
"Saya di dunia ini tidak memiliki apa-apa dan tidak dimiliki siapa-siapa," kata Al-Musykil mengutip ucapan para sufi "laa yamliku syaiun walaa yamlikuhu syaian" dalam usaha menghebatkan diri, "Satu bukti, ketika anak saya mati karena sakit dan tak terobati, saya hanya tertawa-tawa melihat kematian anak saya. Para tetangga menganggap saya orang edan. Tapi saya maklum, mereka adalah orang awam yang bodoh. Sedang saya sendiri tahu bahwa milik Allah yang mewujud dalam diri anak saya telah diambil lagi oleh yang empunya, yaitu Allah. Saya anggap saja keberadaan anak saya di dunia sebagai cat yang mewarnai tembok, di mana kalau cat itu dihapus maka akan hilang juga dari tembok."
"Saya ini adalah orang paling kaya di dunia, karena saya merasa kecukupan atas segala hal. Kalau sampean melihat rumah saya reyot dan gedhek-nya bolong-bolong serta kehidupan anak-anak dan istri saya morat-marit, maka itu hanya bentuk luarnya belaka. Sebab setiap hari Allah selalu memberi makan kami sekeluarga dengan berbagai cara-Nya yang tak terjangkau akal."
"Saya, satu saat dan kadang-kadang sering, memang harus utang ke sana ke mari untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Tetapi hal itu tidak menyalahi hukum karena Nabi sendiri kan pernah utang. Kalau saya punya utang, dan saya merasa tidak mampu membayar, maka saya biasanya akan mendatangi orang yang saya utangi. Kepadanya saya minta agar mau mengikhlaskan utangnya kepada saya, supaya nanti Allah membalasnya dengan limpahan rezeki yang lebih besar."
"Satu kali, saya pernah utang satu juta setengah kepada seseorang di tahun 1980. Saya lalu minta dia mengikhlaskan utang saya. Setelah dia menyatakan ikhlas, tidak sampai setahun kemudian, dia bisa naik haji. Nah, itu artinya, hanya dengan uang satu setengah juta yang diikhlaskan kepada saya, dia dapat balasan dari Allah rezeki berlimpah-limpah sampai bisa naik haji."
Semakin lama mendengar bualan Al-Musykil, saya merasa semakin muak, karena entah sadar entah tidak dengan bualannya yang berbelit-belit itu dia tampaknya berusaha menanamkan dogma dan mitos kepada pendengarnya bahwa dia memiliki keanehan-keanehan dan keajaiban-keajaiban adiduniawi karena dekat dengan Allah. Dia selalu berusaha menggiring pendengar untuk mengagumi bualannya yang amat sering berkontradiksi itu. Dan puncak dari kemuakan saya itu terjadi ketika dia membual bahwa dirinya sering menertawakan Allah yang mencobainya dengan berbagai percobaan. "Saya tahu apa yang akan diperbuat Allah atas saya," katanya jumawa dengan kacamata melorot ke bawah, "Dan saya biasanya hanya tertawa saja melihat kehendak Allah yang mencobai saya."
Ke-sudrun-an saya sebenarnya sudah hendak memuncak ketika secara mendadak saya menyadari bahwa saya tidak mungkin memperlakukan manusia Al-Musykil ini seperti Kiai Bruddin. Saya tidak mungkin melancarkan upper cut dan swing saya untuk membuatnya tumbang ke bumi. Sebab, menurut hemat saya, sekali saya gempur dia dengan upper cut dan swing tak diragukan lagi dia akan mampus. Kalau dia mampus, maka yang akan menerima derita dan sengsara adalah anak-anak dan istrinya yang hidup serba kekurangan itu. Karena itu, adalah lebih baik jika pembual konyol itu saya biarkan membual sepuasnya, karena setidaknya dengan bualannya yang muluk-muluk seperti tokoh sufi nomor wahid itu, prestise keluarganya masih bisa terjaga dengan baik; sebab orang akan beranggapan bahwa kemelaratan mendekati kere yang dialami keluarga Al-Musykil itu bukan kemelaratan dalam makna yang sesungguhnya, tetapi melarat yang memang disengaja demi kesucian rohani.
Bayangan tokoh-tokoh besar tasawuf dalam kisah- kisah sufisme mendadak berkelebat memasuki benak saya. Imam Al-Ghazali, Syaikh Abu Hassan As-Syadzily, Jalaluddin Rumi, Al-Hakim At-Tirmidzi dan tokoh- tokoh yang lain adalah orang-orang terpandang yang memiliki harta cukup, di mana saat mereka melakukan uzlah, keluarga yang ditinggalkan telah benar-benar tercukupi kehidupan materinya. Karena itu, saya menganggap saja bualan Al-Musykil itu hanya untuk menutupi ke-melarat-an dan ke-malas-annya belaka. Dengan mengungkap keanehan-keanehan dan keajaiban-keajaiban adiduniawi–terutama yang berkaitan dengan orang-orang yang bersedekah dan mengikhlaskan utang kepadanya–tidak lebih merupakan usahanya untuk menarik ketakjuban orang agar beramai-ramai memberinya sedekah dan mengikhlaskan utang jika dia memiliki utang.
Akhirnya, saya tidak bisa berbuat lain untuk mengatasi kemuakan saya terhadap bualan Al-Musykil kecuali dengan diam-diam memanjatkan doa kepada Allah, Tuhan yang saya rindukan untuk bisa dikenal. Saya memohon agar Allah memisahkan yang hak dari yang batil dan memisahkan yang terang dari yang tersamar. Saya benar-benar berusaha menyatukan akal budi dan perasaan saya dalam mendoa. Saya berdoa agar iman saya ditetapkan di dalam jalan-Nya.
Seyogyanya saya lupa pada manusia Al-Musykil kalau saja saya tidak mendengar berita yang benar-benar mengejutkan tentang dia. Berita itu benar-benar mengejutkan, karena dikatakan dalam berita itu bahwa Al-Musykil "telah dikehendaki Allah" untuk mengawini seorang pelacur murahan di kompleks lokalisasi Kremil, kampung Tambak Asri di sebelah barat lokalisasi Bangunrejo. Dalam berita itu disebutkan bahwa Al- Musykil hanya berniat mengentas sang pelacur dari kenistaan dengan mengorbankan dirinya menerima caci-maki orang lain.
Ke-sudrun-an saya mendadak berkelebat dan kemuakan saya menjadi ke-mual-an yang membuat saya hampir muntah. Akal budi dan perasaan saya benar-benar tidak bisa menerima bualan manusia sesat yang keblinger seperti Al-Musykil. Sebab apa yang dibualkannya itu pada dasarnya sangat bertentangan dan bahkan melecehkan Allah SWT. Bayangkan, Al- Musykil mengatakan bahwa perkawinannya dengan pelacur murahan itu adalah atas "kehendak Allah" dengan niat ikhlas untuk mengentas pelacur tercinta dari jurang kenistaan. Sementara Allah tegas-tegas dalam al-Qur’an menyatakan bahwa laki-laki pezinah tidaklah kawin kecuali dengan perempuan penzinah atau perempuan musyrik. Perempuan pezinah pun tidaklah kawin kecuali dengan laki-laki pezinah atau laki-laki musyrik. Dan yang demikian itu HARAM bagi kaum mukmin, (QS. an-Nur: 3).
Dengan kenyataan itu, jelaslah bahwa saya lebih yakin pada kebenaran nash al-Qur’an yang merupakan Sabda Allah ketimbang omongan Al-Musykil yang kurang pintar itu. Sebab saya yakin, Allah tidak akan mengubah hukum-hukum-Nya dalam al-Qur’an hanya untuk satu manusia seperti Al-Musykil yang sombong, tapi berlagak rendah hati.

"KALAU MAU MENCARI ALLAH, BELAJARLAH DARI IBLIS!"

Bisikan misterius itu makin memenuhi pedalaman saya seolah disogokkan sedemikan rupa dari lubang-lubang yang ada di tubuh saya. Dengan keadaan semacam itu saya makin tenggelam dalam samudera ke-sudrun-an yang membingungkan. Saya seperti terseret arus kuat untuk mau tidak mau harus memecahkan misteri bisikan yang terus menerus memburu ketenangan saya itu.
Kegelisahan masih mencakari jiwa saya ketika tanpa sengaja saya berjumpa dengan sorang guru kebatinan bernama Noyogenggong, yang oleh para pengikutnya disebut Romo Noyogenggong. Pertama kali dia memperkenalkan diri dengan menyebut nama Noyogenggong, saya sudah langsung ketawa terpingkal-pingkal sampai mau terkencing. Entah bagaimana awalnya, yang jelas dengan memperkenalkan diri sebagai Noyogenggong itu dalam benak saya mendadak tergambar bayangan seekor jangkrik dungu yang dinyanyikan Waldjinah: Jangkrik Genggong. Setelah itu, muncul gambaran jangkrik dalam komik Pinokio yang diikuti sederet gambaran jangkrik dalam film kartun produksi Disney berseliweran keluar dan masuk di dalam benak saya.
Ke-sudrun-an saya mendadak meledak. Romo Noyogenggong saya bayangkan wajahnya mirip jangkrik. Sesaat kemudian wajah itu saya bayangkan mirip garengpong. Tapi sesaat kemudian saya mengingat tetangga Saya Mat Koncer yang berasal dari Madura yang pintar sekali memainkan alat musik genggong yang iramanya menyentak-nyentak menghanyutkan. Dan urat-urat ketawa saya makin menegang ketika bayangan-bayangan lucu tentang tokoh banyolan Sabdopalon dan Noyogenggong meleset masuk ke dalam benak saya.
Romo Noyogenggong tampaknya agak tersinggung dengan sikap saya yang ketawa terus di hadapannya. Tapi dia kelihatan berusaha menahan amarahnya setelah saya memperkenalkan diri dengan nama Kiai Sudrun. Dia kelihatannya seperti pernah mendengar nama saya meski samar-samar. Dan suasana pertemuan kami itu pun menjadi ajang lelucon ketika Romo Noyogenggong pun akhirnya tidak bisa menahan ketawanya mendengar nama saya.
"Nama sampean Kiai Sudrun," kata Romo Noyogenggong geli, "Saya kok mendapat kesan sampean itu orang slendro, edan, senewen, bento, gendeng."
"Hehehe, saya memang orang sudrun yang sudrun," sahut saya terkekeh, "Tapi nama sampean benar-benar mengingatkan saya pada jangkrik genggong. Saya bayangkan mata sampean melolo dan kepala sampean ditumbuhi dua sungut."
"Nah, nah, kan bener toh, sampean agak slendro," kilah Romo Noyogenggong mulai tersinggung.
Setelah agak lama kami saling olok-mengolok, Romo Noyogenggong menanyai saya tentang hal apa yang sejatinya saya cari. Tapi sebelum itu, dia mengaku dengan terus terang bahwa setelah bergojlok-gojlokan dengan saya, dia menyimpulkan bahwa saya sebenarnya tidak senewen, tidak edan, tidak slendro, dan tidak gendeng. Dengan tulus dia berkata:
"Saya tahu bahwa sampean bukan orang senewen apalagi gendeng. Sampean hanya orang yang jujur dan menceritakan apa yang sampean rasakan dengan cara apa adanya. Tetapi kejujuran sampean itu justru tidak bisa diterima oleh masyarakat, sebab masyarakat pada dasarnya sudah dicemari oleh kedustaan dan kebohongan. Masyarakat sudah memiliki anggapan bahwa yang jujur pasti hancur. Yang jujur pasti edan. Yang jujur pasti lebur. Masyarakat menganggap bahwa kejujuran sampean sangat naif dan sinting, sehingga sampean pun dianggap naïf, sinting, edan, sudrun."
"Terus terang saya akui, bahwa selama saya menjadi guru kebatinan dalam tempo lima belas tahun ini, baru sekarang ini saya menemui orang jujur seperti sampean. Sampean dengan jujur menyatakan ketidaktahuan sampean tentang suatu hal. Sampean dengan jujur mengungkapkan ketidakpahaman sampean terhadap berbagai kejadian yang tidak sampean pahami. Sementara yang saya lihat sehari-hari adalah manusia-manusia yang selalu merasa tahu, merasa bisa, merasa hebat, merasa paling wah. Padahal mereka bodoh dan berusaha menutupi kebodohannya dengan kehebatan dan ke-wah-annya itu."
"Saya tidak bisa membayangkan apabila sampean dengan jujur pula mengatakan secara sembarangan tentang isi bisikan misterius yang sampean terima itu. Tentu sampean akan dituduh sebagai Kiai Sudrun yang benar-benar sudah edan, sebab orang-orang ke- banyakan mudah terperangkap pada kulit daripada memahami makna dan isi."
"Ya, ya, andaikata sampean menceritakan apa adanya tentang bisikan misterius itu kepada orang kebanyakan, mestilah sampean dituding sebagai manusia edan yang sesat penyembah setan. Bahkan tidak mustahil kalau sampean akan dilempari batu dan diusir-usir karena dianggap penyebar kesesatan dan kegilaan."
Mendengar pengakuan Romo Noyogenggong tentang ketidakedanan saya mendadak saja hati saya merasa trenyuh. Saya pegang tangan Romo Noyogenggong erat-erat. Dan dia dengan penuh kelembutan mengelus-elus kepala saya seola-olah mengerti kegundahan hati saya.
"Romo, benarkah sampean tidak menganggap saya edan?" tanya saya diliputi keharuan.
"Tidak ada yang menganggapmu edan, Nak, kecuali mereka yang tidak mengerti," jawab Romo Noyogenggong sabar.
"Tapi semua orang menganggap saya sudrun, emak dan bapak saya pun menganggap saya begitu," kata saya dengan dada berdegup keras, "Bahkan karena anggapan yang sudah bertahun-tahun melekat pada diri saya itu, maka saya pun merasa yakin bahwa saya memang sudrun. Saya menganggap bahwa akal dan jiwa saya memang tidak beres. Bahkan dari setiap kesalahan yang saya lakukan, sering saya anggap sebagai akibat dari ketidakberesan otak saya; padahal saya tahu bahwa kesalahan saya itu adalah kesalahan yang terkutuk."
"Sampean adalah korban dari masyarakat yang tidak mengerti, Nak," kata Romo Noyogenggong menepuk-tepuk bahu saya, "Sampean adalah manusia yang terperangkap oleh ilusi yang dibentuk oleh masyarakat. Dan sampean terus terombang-ambing antara kehendak untuk menemukan jati diri dan stempel yang telah diterakan oleh masyarakat. Sementara sampean belum menyadari bahwa ilusi yang dibentuk masyarakat itu telah memenjarakan jati diri sampean."
"Karena itu, sampean mesti menyadari bahwa tidak semua yang dicipta oleh masyarakat adalah baik dan benar. Sampean harus mampu melepaskan diri dari belenggu-belenggu yang telah mereka bentuk. Sampean harus yakin bahwa sampean tidak edan seperti yang ditudingkan masyarakat."
Mendengar uraian demi uraian Romo Noyogenggong, saya merasa tidak kuat menahan keharuan. Air mata saya menetes. Tanpa malu, saya menangis di depan Romo Noyogenggong. Dan hati saya seperti menemukan keteduhan setelah sekian lama dibakar oleh teriknya matahari kehidupan yang ganas. Entah- lah, saya mendadak saja seperti orang sebatang kara yang memperoleh seorang kawan yang bisa memahami saya. Saya seperti mendapat pengakuan yang paling berharga selama hidup saya, sebab pada kenyataannya baru Romo Noyogenggong inilah yang mengakui dengan jujur bahwa saya tidak tergolong manusia edan apalagi gendeng.
Air mata saya makin tumpah membasahi jiwa saya ketika Romo Noyogenggong mengisahkan perjalanan rohani Sang Hanoman, kera putih yang menjadi Manggala-Yudha Rama. Dengan suara bagai seorang dalang Romo Noyogenggong bercerita, seperti ini:
"Ketahuilah, o Anakku, bahwa dalam suatu zaman pernah lahir seorang kera putih dari rahim seorang perawan bernama Retna Anjani, yang memakan daun sinom (daun asam). Dia lahir tanpa ayah di keheningan telaga Sumala. Kera putih itu diberi nama Hanoman. Dia yang putih bagai kapas itu melesat dari panah waktu terlalu cepat sehingga bisa disebut sebagai buah yang masak sebelum waktunya."
"Ketika usia Hanoman masih kanak-kanak, dia sudah mampu menyibak kerahasiaan alam dengan segala perbedaannya. Dia telah mampu menelan matahari sebagai sumber dari pembedaan ruang dan waktu. Tetapi karena itulah, maka dia harus memikul kodrat sebagai pecinta keheningan. Ya, dalam usia yang masih kecil dia sudah ditinggal ibundanya ke swargaloka. Dia hidup dan belajar tentang hidup dari dirinya sendiri. Dia mengubah dan mengaduk samudera jati dirinya dengan Aji Wundri, makna hakiki lingkaran rahasia yang menyelubungi kekuatan cinta seorang ibu untuk menyusui bayinya dan makna kekuatan hakiki lingkaran rahasia seorang bayi untuk mencari puting susu ibunya. Perjalanan Hanoman dalam mencari purwajati dirinya bukan perjuangan yang ringan, Nak. Dia jatuh bangun dengan berbagai kepedihan dan kesedihan yang mengkarut-marut jiwanya. Satu saat Hanoman pernah mengalami kebutaan karena tergiur oleh kemolekan tubuh Sayempraba yang membius darah kelelakiannya. Hanoman meratapi segala kebodohannya yang begitu mudah terpesona oleh penglihatan inderawi yang menipu."
"Rontoknya Hanoman oleh daya pukau ke-perempuan-an Sayempraba yang membuatnya menyesal seumur hidup, ternyata berulang lagi ketika dia terperangkap pada pesona cinta yang memancar dari keindahan dan kesucian Trijata. Hanoman adalah Hanoman; pecinta sepi yang memaknai kesunyian demi kesunyian dengan jiwa semerah mawar merah. Dia tenggelam di samudera rasa dalam alunan mimpi Bathara Baruna yang menyodorkan dua ekor kera mungil warna merah dan putih sebagai anak imajinasinya. Hanoman seumur hidup tidak pernah menikah, karena takdirnya tidak untuk agung dan mulia di dunia. Hanoman adalah Hanoman; pengarung sunyi sejati yang telah mampu mewadahi makna purwajati diri-nya."
Seusai mendengar kisah romo Noyogenggong tentang Hanoman, saya merasakan bumi tempat berpijak saya terguncang dan kepala saya berdenyut- denyut. Apa yang dikisahkan oleh romo Noyogenggong tentang Hanoman saya anggap tidak jauh berbeda dengan apa yang telah pernah saya alami, terutama hambatan dari peri hutan bernama Sayempraba dan seorang gadis mulia bernama Trijata. Semua perjalanan Hanoman dalam mengarungi sepi dan kesendirian, nyaris mirip dengan rentangan kisah hidup saya. Karena itu dengan penuh keraguan saya bertanya, "Apakah saya akan mengalami nasib seperti Hanoman yang mengarungi samudera hidupnya seorang diri sampai ajal, Romo?"
"Hanoman adalah Hanoman dan sampean adalah sampean," kata Romo Noyogenggong penuh kesabaran, "Kalaupun ada kemiripan dari kisah sampean dengan kisah Hanoman, maka yang demikian itu hanya kebetulan belaka, karena pencarian purwajati diri yang hakiki pada setiap diri manusia, pada hakikatnya memiliki kesamaan-kesamaan di mana pun. Mungkin ada orang yang terbanting dalam pencariannya oleh gejolak nafsu kekuasaan dan kebesaran sehingga tergambar seperti kisah Bima dibelit ular naga di samudera. Tapi tak kurang pula di antara pencari yang dibelit gejolak nafsu berahi seperti kisah Hanoman."
"Apakah bisikan misterius yang saya peroleh bisa sampean uraikan maknanya, Romo?" tanya saya ingin tahu.
"Saya belum bisa menguraikannya, Nak," kata Romo Noyogenggong terus terang, "Sebab masalah itu menurut saya memiliki sangkut paut dengan wedaran . Tetapi saya sendiri sampai setua ini belum paham akan intipati ajaran itu."
"Kepada siapakah saya kira-kira bisa mempelajari  tersebut?" tanya saya penuh rasa ingin tahu.
"Saya sendiri tidak tahu, Nak, sebab sepengetahuan saya yang disebut-sebut orang dengan sebutan , itu hanya diomongkan dari mulut ke mulut. Saya sendiri sampai sekarang pun belum mengerti apa yang disebut Sastra Jendra itu. Yang saya ingat, ilmu itu diwedarkan oleh Kangjeng Sunan Kalijaga."
"Kalau begitu saya mohon pamit, Romo," kata saya menyalami tangan Romo Noyogenggong dan menciumnya, "Saya mohon doa restunya. Saya akan mencari di mana jejak pengikut Kangjeng Sunan Kalijaga yang memiliki pengetahuan tentang itu."
"Hati-hatilah di jalan, Nak," kata Romo Noyogenggong mengingatkan, "Dan janganlah sampean melalaikan sembahyang, karena sembahyang adalah jembatan Nur yang akan menuntun kita sampai ke pulau tujuan. Yakinkan di dalam hati sampean bahwa Rahmat dan Hidayah Ilahi akan menuntun sampean ke tersingkapnya makna  sekaligus mengungkap pencarian sampean akan kebenaran akhir."
"Assalamu’alaikum, Romo." "Wa’alaikum salam."
Dengan langkah tegar saya menapaki jalanan di depan saya. Lelaki aneh bernama Noyogenggong yang sempat saya tertawakan itu ternyata menegakkan kepercayaan diri saya sebagai Kiai Sudrun yang tidak sudrun. Dia memancarkan cahaya gemilang bagi makna jati diri saya, di mana saya tidak perlu mengkait- kaitkan langkah saya dengan ke-sudrun-an saya. Biarlah orang menganggap saya sudrun asalkan saya tidak menyimpang dari rel yang telah digariskan Allah dan Rasul-Nya.
Sengatan dingin malam mendadak merentangkan ingatan saya tentang kisah Hanoman yang terangkai dalam kisah hidup saya. Ya, banyak sisi dari perjalanan Hanoman yang mirip dengan saya, di mana satu ketika saya pernah terjerat oleh nafsu berahi terhadap seorang janda bernama Sulistyowati. Saya seperti tanpa sadar telah terpukau oleh pesona yang dipancarkan oleh hawa keperempuanannya. Dan seperti Hanoman, saya pun larut dalam samudera berahi yang membutakan mata lahir dan mata batin saya. Telinga lahir dan telinga batin saya pun menjadi pekak. Lidah lahir dan lidah batin saya pun kelu. Saya terpaku seperti seonggok patung batu. Saya benar-benar mabuk oleh anggur birahi yang dituangkan Sulistyowati di piala pesona percintaan yang menyilap kesadaran.
Setelah melihat saya buta dan tuli serta kelu tidak berdaya, Sulistyowati tiba-tiba berubah bagaikan Sayempraba yang siap melumatkan Hanoman dalam kenistaan. Sulistyowati tiba-tiba mendepak saya dengan cara aneh, yaitu minggat tanpa permisi dengan menyatakan bahwa saya adalah makhluk tidak berguna yang pantas dimasukkan ke dalam kerangkeng kehinaan di kebun binatang. Anehnya, saya justru mengalami kesembuhan seperti Hanoman untuk menobrak-abrik laskar kejahatan di dalam diri saya, meski tubuh jiwa saya sudah terbakar api. Mata batin saya yang buta ternyata bisa melihat kembali dengan lebih terang. Sementara Sulistyowati tidak jauh berbeda dengan tokoh Sayempraba; tenggelam dalam ke-larut-an nafsu duniawi beserta naluri-naluri rendah raksasa yang gelap, haus materi duniawi, suka merendahkan, gandrung pujian, suka pamer, bangga diri sebagaimana watak rendah kebanyakan raksasa.

Sekarang ini, setelah terbebas dari pengaruh gelap Sulistyowati yang merupakan gambaran Sayempraba, saya terperangkap ke dalam cinta lain pada Ita Martina sebagai pengejawantahan makna yang tercinta Trijata bagi Hanoman. Saya tidak pernah tahu, apakah saya akan mengalami nasib seperti Hanoman; mencintai seseorang dan tidak pernah bisa memilikinya. Ya, kalau saya memang harus seperti Hanoman yang memaknai sepi dan sunya dalam jiwa yang dicekam rindu, tentulah saya akan ikhlas menjalaninya. Saya tentu akan mengambil sikap seperti Hanoman; mendoakan keselamatan dan kebahagian bagi semua yang dicinta meski tidak pernah memiliki yang tercinta.
Dingin malam saya rasakan makin menggigit tulang belulang saya. Tapi dengan menguatkan diri, saya terus melangkah tanpa tujuan seolah saya tidak pernah peduli akan ke mana akhir perjalanan yang saya lalui. Saya hanya seperti bayi kecil yang merangkak-rangkak sambil menggapaikan tangan, mencari kehangatan buah dada ibunya yang tak pernah dia ketahui di mana letaknya. Saya terus merangkak dan menggapai-gapai, mencari kehangatan sebagaimana Hanoman mencari puting susu ibundanya dengan Aji Wundri.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Malam hitam membentang diwarnai jutaan bintang yang meneteskan embun bagai langit menitikan air mata membasahi semesta. Keheningan mencekam seolah-olah menidurkan rerumputan

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Setelah 9 tahun merantau ke Newyork, Rahwana akhirnya memutuskan untuk mudik ke kampung halamannya, tepatnya di kecamatan Alengka kabupaten Blora.Suatu pagi sehari sebelum

Hachi

Hachi

Bila hati ini mungkin bisa di wakili oleh sebuah tempat, misal kan rumah.Rumah yang telah kau tinggalkan.Rumah yang segala perabotannya berantakan walaupun tanpa

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Rahwana Bukber Dengan Shinta

Ramadhan dan lebaran selain tentang hal puasa dan mudik juga sebagai pemantik kenangan saat bulan puasa dan lebaran tahun sebelum-sebelumnya. Itulah yang dirasakan Rahwana

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Dening: Suparto BrataDiamput! Sepatuku ilang ndhuk mejid. Iki gara-gara sholat Jumat ndhuk mejid enyar cedhake kantorku. Diamput, ejik enyar wis nggawa korban!

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sebuah perjalanan melintasi semesta ruhani adalah sebuah rentangan pengalaman menakjubkan yang sangat fantastis jika dipikir dengan nalar. Sebab segala sesuatu yang tergelar

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Matahari bersinar bersih, cahayanya membias putih di batas cakrawala yang berpendar jernih laksana pancaran kristal. Langit biru membentang bagai kubah sebuah masjid. Angin

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEMBILAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEMBILAN)

Malam sudah agak larut ketika saya kembali dan mendapati Ashok masih menjerang airuntuk membuatkan kopi Tuan Arvind. Sepengetahuan saya, Ashok sepertinya tidak pernah