Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA BELAS)

  • 2018-08-10 10:59:45
  • 492

Malam merentang laksana kubah biru dengan bintang-gemintang berkilau-kilau seperti jutaan permata ditaburkan. Sepotong rembulan sabit melengkung bagai busur direntangkan di kaki langit, melesatkan panah waktu menuju kesunyian. Angin pawana berhembus lirih menerbangkan butirbutir salju di bukit-bukit Khilan Marg yang bagai raksasa tidur diselimuti sutera putih kebiruan.
Hening malam yang menyimpan berjuta-juta rahasia melahirkan keindahan dan kebijaksanaan tersendiri bagi jiwa yang mencari. Dan ketika hening malam menggelinding tujuh kali di mana lonceng sunyi berdentang menggemakan panggilan rindu, saya tenggelam dalam kekhusyukan dzikr seibarat perahu diseret arus sungai menuju muara. Sesekali saya merasakan perahu hening saya tenggelam di dalam gelegak arus sungai yang ganas, tetapi sesekali saya merasakan perahu saya terbang ke angkasa.
Sejak pertemuan akhir dengan Chandragupta yang aneh dan menggetarkan, saya memang dicekam semacam kegelisahan tersendiri. Sebab dari rangkaian kata-kata Chandragupta saya menangkap semacam sasmita bahwa dia seperti mengisyaratkan bakal datangnya kematian saya, di mana dia mengungkapkan tentang Nafs Muthma'innah dengan tafsir nafs yang dibelenggu maut. Hampir setiap saat saya memikirkan, apakah makna panggilan Ilahi bagi saya merupakan sebuah kias majazi atau realitas. Dan bagaimana pun persiapan mental sudah saya persiapkan sedemikian rupa untuk menghadapi risiko yang paling berat, termasuk menghadapi kematian, toh dalam fakta saya masih gelisah dengan isyarat kematian yang mendadak itu.
Bagi saya sendiri sebenarnya soal mati bukanlah suatu masalah. Tetapi, saya tentu akan banyak menyusahkan keluarga saya kalau mati di tempat yang jauh secara tak terduga. Saya bayangkan tentu emak saya akan meratap dan menyesali ke-sudrun-an saya yang sejak awal sudah membuatnya susah.
Saya bayangkan emak saya akan mengundang orang kampung untuk tahlilan bagi arwah saya yang tak diketahui kuburnya. Saya bisa membayangkan bagaimana menyesalnya emak saya memiliki anak sudrun seperti saya yang selalu membuatnya sedih sepanjang waktu. Dan bagaimana pun sudrun dan monyetnya saya, saya kira tidak ada manusia di dunia yang mencintai dan menyayangi saya sedemikian rupa tulus kecuali emak saya. Malam apabila sunyi sudah mengabut, sering saya dapati bayangan emak saya masuk ke dunia mimpi saya, terbang ke angkasa menyuarakan kidung kehidupan untuk meninabobokkan jiwa saya yang liar.
Ya, emak saya tentu akan menyesal seumur hidup apabila mendengar kabar kematian saya tanpa tahu di mana kubur saya. Saya bayangkan emak saya akan bertanya ke sana ke mari, menanyakan letak kubur anaknya yang bengal. Bahkan saya bayangkan emak saya akan memohon kepada Tuhan agar dia bisa menggantikan nyawa saya dengan nyawanya. Emak saya tentulah akan berdiri melindungi saya dari malaikat yang akan mencabut nyawa saya. Dan tentu dengan sukarela emak akan menawarkan nyawanya sebagai pengganti nyawa saya. Dan saudara-saudara saya tentu tidak akan bisa mengibur kesedihan hati emak saya.
Dari kegelisahan membayangkan kesedihan emak saya, pikiran saya melesat memasuki dunia Aham dan Twam serta Laxmi Devi. Saya bayangkan Aham yang mungil menangis di tengah sunyi malam seolah mengharapkan dekapan saya. Saya bayangkan Twam menguik-nguik memanggili saya seolah ingin saya belai kehalusan bulu-bulunya. Dan saya membayangkan Laxmi Devi yang setia akan keropos digerogoti usia menjadi perempuan tua lapuk yang hanya hidup dalam khayalan sebagai istri saya. Semua bayanganbayangan buruk tentang orang-orang di sekitar saya, saya rasakan makin lama makin meresahkan dan menyiksa jiwa saya.

Tetapi, dalam keadaan gelisah sedemikian rupa, tiba-tiba saja pada hari ketujuh dari riyadhoh puasa saya, bayangan bapak saya berkelebat memasuki benak saya. Tiba-tiba pula saya mengingat pesan beliau menjelang kematiannya, bahwa bayangan terakhir yang melekat pada jiwa seseorang di saat menjelang sakaratul maut, itulah yang akan menentukan perjalanan selanjutnya dari kelangsungan hidup orang yang mati di alam barzakh. Artinya, bapak saya mengatakan, bahwa orang yang sedang mengalami sakaratul maut melekatkan pikiran dan jiwanya pada harta benda dan hal-hal yang bersifat duniawi, maka orang tersebut akan mati dalam keadaan su'ul khotimah atau mati yang buruk.
Bapak saya sendiri bukanlah seorang kiai besar yang terkenal namanya di seluruh penjuru. Bapak saya hanya seorang kiai kampung yang memiliki beberapa orang santri yang menimba ilmu ruhani. Tetapi dari beberapa orang murid beliau, saya ketahui bahwa bapak saya memiliki ilmu yang sangat dalam. Ada yang mengatakan bahwa bapak saya memiliki ilmu rahasia yang disebut Sastra Hajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Ada yang mengatakan bahwa bapak saya memiliki ilmu Kibriit Al-Ahmar, yaitu ilmu belerang merah warisan Syaikhul Akbar Ibnu Arabi. Namun, saya sendiri tidak pernah tahu kenapa bapak saya dikatakan memiliki banyak ilmu, padahal saya sendiri tidak pernah mengetahuinya.
Saya sendiri sempat terperangah ketika kematian menjemput bapak saya, terutama karena semuanya berlangsung secara tidak terduga, meski bapak saya sudah mengisyaratkan waktu kematiannya beberapa hari sebelumnya. Saya masih ingat ketika saya dan adik saya duduk di sisi ranjang beliau, dan diberi nasehat tentang berbagai hal. Dan ketika bapak saya berpamitan hendak "tidur", kami berdua masih terpukau melihat bapak menarik napas secara aneh sebanyak tiga kali yang dibarengi dengan melesatnya nyawanya dari tubuhnya. Tarikan napas aneh itulah yang disebut tarikan napas terakhir.
Sejak kematian bapak, saya seperti dihadapkan pada obsesi tentang kematian yang selalu memburu saya. Sebab sejak saat itu saya menjadi sering menyaksikan orang melewati masa sakaratul maut-nya secara mengerikan. Dan setiap kali saya menyaksikan orang menjelang sakaratul maut, selalu saja bayangan bapak saya saat menarik napas secara aneh sebanyak tiga kali itu membayang di wajah saya. Ya, bayangan kematian bapak saya dengan kematian orang-orang yang saya lihat senantiasa menjadi obsesi yang memburu saya, bahkan sampai saat ini. Bagaimana mungkin ada orang-orang yang mengalami sakaratul maut dengan mata terbelalak dan mulut ternganga sambil mengumpat-umpat. Atau meregang nyawa dengan menghitung piutangnya yang tersebar di mana-mana. Atau meregang nyawa selama tiga minggu dengan kesengsaraan sangat mengerikan.
Mengingat akan bapak saya, tiba-tiba saja saya menjadi sadar bahwa bagaimanapun saya harus bisa memisahkan antara yang "gair" dari Allah dan Allah sendiri. Saya harus bisa menghapus segala macam bayangan diskursif yang melekat di relung-relung kenangan saya. Saya tidak boleh memikirkan sesuatu selain Allah. Saya harus menghadapkan kiblat hati dan pikiran hanya kepada-Nya, terutama di saat sakaratul mauut.
Angin malam yang menerobos pori-pori saya terasa menggigit tulang-belulang saya dengan gigitannya yang dingin. Tapi seperti anak panah melesat dari busurnya, begitulah konsentrasi saya tancapkan ke titik sasaran utama. Kelebatan cahaya demi cahaya bersimburan menerkam kesadaran saya. Sementara keheningan terus mengguncang hingar-bingar pedalaman saya yang dipenuhi kelebatan-kelebatan roda pikiran saya yang menggelinding tanpa henti. Saya berusaha untuk mengarahkan fokus pikiran kepada 'merasakan'. Ya, saya berusaha untuk merasakan. Merasa. Mengarahkan kesadaran kepada zauq.
Pada satu titik hujaman anak panah konsentrasi saya, tiba-tiba saya melihat semacam terang cahaya merah dan biru berkilau-kilau. Kemudian saya membaui wangi mawar dan melati menyentuh penciuman saya. Tetapi semua itu saya tepis. Saya berusaha untuk meresapi, menghayati, merasakan semua gerak hidup kesadaran saya. Dan saat usaha merasakan itu terasa menggetari seluruh jaringan saraf dan aliran darah di tubuh saya, sebuah pancaran cahaya gemilang yang menyilaukan mata mendadak berpendar di depan saya diiringi suatu bisikan gaib yang membentur jiwa saya. Sekejap, saya seperti dihanyut mimpi ketika di hadapan saya melayang-layang sesosok bayangan manusia di tengah cahaya dengan wajah berkilau-kilau memancarkan sinar cemerlang, yang berangsur-angsur saya ketahui bahwa bayangan itu mewujud dalam rupa bapak saya. Lalu dengan bahasa aneh tanpa kata-kata yang digetari irama musik, bayangan bapak saya yang berpendar di tengah cahaya dengan wajah memancarkan sinar cemerlang itu berkata:
"Janganlah kegelisahan jiwa menyeretmu dalam kebimbangan, wahai Saya, sebab tidak akan terjadi sesuatu yang tidak harus terjadi. Dan setiap kejadian sesungguhnya sudah ditetapkan sesuai waktunya."
Saya terperangah takjub menyaksikan bayangan bapak saya yang melayang-layang di tengah cahaya sambil berbicara dengan bahasa tanpa kata-kata kepada saya. Saya mendadak merasakan teriakan kuat menyentakkan rasa rindu di relung-relung jiwa saya yang terdalam. Saya merasakan rangkaian panjang napas saya terjulur jauh menelusuri kilasan-kilasan cahaya yang berpendar di sekitar bayangan bapak saya. Beberapa detik kemudian, saya melihat kumparan cahaya terang menggelombang menelan saya dalam pusaran yang membingungkan. Saya tidak tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi tahu-tahu saya sudah berdiri tegak di depan bayangan bapak saya dalam jarak amat dekat. Anehnya, saya seperti tidak ingat lagi bahwa bapak saya sebenarnya sudah mati. Saya seola-holah berhadap dengan bapak saya yang belum mati yang wajahnya sangat muda memancarkan cahaya keagungan.
"Adakah sesuatu yang menggelisahkan jiwamu, o Saya, sehingga pilar-pilar di jagad jiwamu terguncang sangat dahsyat?" suara dari bayangan bapak saya menyambar.
"Saya merasa bahwa hidup saya di dunia ini tidak akan lama lagi, Bapak," sahut saya memulai percakapan dengan tanpa kata-kata.
"Kenapa yang demikian itu engkau risaukan, o anakku?" kata bapak dengan wajah berkilau-kilau, "Bukankah setiap nafs pasti mengalami mati sebagaimana hukum-Nya yang dirangkai dalam kalimah Kullu Nafsiin Dzaiqaatu'l mauut?"
"Itu saya tahu, tapi bagaimana saya harus menghadapi kematian saya, Bapak?"
"Dengan memahami hakikat hukum 'irji'i' yang diterapkan pada hakikat Nafs Muthma'innah," sahut bapak saya datar dan dingin.
"Adakah rahasia yang terselubung di dalam Nafs Muthma'innah?" tanya saya heran.
"Tahukah engkau akan huruf-huruf yang membentuk kalam Muthma'innah?"
"Saya melihat ada huruf MIM, THAA, MIMHamzah, NUN, NUN, dan TA," sahut saya dengan rasa ingin tahu menggebu, "Apakah makna dari rangkaian huruf tersebut?"
"Ketahuilah, Saya, bahwa di antara huruf MIM dan TA yang terletak di awal dan akhir terdapat makna sejati dari hakikat nafs yang empat, di mana huruf THAA adalah lambang dari THIIN, yakni unsur tanah yang membentuk hakikat Nafs Lawwamah; huruf MIM-Hamzah adalah lambang dari Maa'immahiin, yakni unsur air yang membentuk hakikat Nafs Sufliyah; huruf NUN awal adalah lambang dari NAAR, yakni unsur api yang membentuk hakikat Nafs Ammarah; dan huruf NUN kedua adalah lambang dari NUUR, yakni unsur cahaya yang membentuk hakikat Nafs Muthma'innah."
"Kalau demikian, apakah makna hakiki huruf MIM dan TA yang terletak di awal dan akhir kata Muthm'innah?"
"Huruf MIM adalah lambang dari MA'LUL yang merangkum makna "AKIBAT" yang tiada lain merupakan manifestasi dari sebab-sebab. Wujud konkret dari MA'LUL adalah MUTMA'ILLU atau manusia yang ditegakkan kukuh yang merangkum makna MAA'LAH atau kebun persemaian yang bisa menampung benih yang baik dan benih yang buruk."
"Sebagai manifestasi MA'LUL, maka MUTMA'ILLU dikabuti oleh hijaab MA'ULA sehingga MA:LUL tidak lagi mengetahui ILLAT-nya. Dan MA'LUL yang terhijab itulah yang disebut 'ADAM."
"Adapun huruf TA di akhir merangkum dua makna sebagai Hakikat ILLAT dari MA'LUL di mana huruf TA adalah lambang dari TANAZZUL dan TARAQQI. Dari TANAZZUL timbullah MA'LUL, dan dari MA'LUL akan kembali ke TARAQQI. Dengan begitu urutan-urutan TANAZZUL adalah NUUR-NAAR-MAA'I-THIIN yang berakhir MA'LUL. Dan dari MA'LUL kembali ke TARAQQI dengan urut-urutan kebalikan TANAZZUL, yakni THIIN-MAA'I-NAAR-NUUR, di mana hukum tersebut dapat diibaratkan orang yang melempar boomerang."
"Apakah yang dimaksud dari TANAZZUL ke MA'LUL adalah proses kelahiran?" tanya saya menerka, "Dan apakah yang dimaksud dari MA'LUL kembali ke TARAQQI adalah proses kematian?"
"Demikianlah hukum itu terangkai dalam makna innalillahi wainna ilaihi roji'un."
"Berarti kata 'IRJI'I' dalam surat al-Fajr ayat 28 merangkum panggilan utuh bagi keempat nafs?" sahut saya minta penegasan.
"Begitulah makna Kullu Nafsiin Dzaaiqaatu'l Mauut, di mana tiap-tiap nafs pasti mengalami mati, sebab nafs satu dengan nafs yang lain saling meresapi ibarat peresapan KAIN-BENANG-KAPAS-ATOM, dan begitulah peresapan makna THIN-MAA'I-NAARNUUR. Dan hanya bagi mereka yang sudah memahami makna hukum tersebutlah yang akan selamat meniti SIRATH yang lurus."
"Apakah yang sampean uraikan tentang ILLAT dan MA'LUL yang merangkai makna TANAZZUL dan TARAQQI itu merupakan intisari ilmu Kibriit AlAhmar?"
"Segala ilmu adalah milik Allah, dan manusia tidaklah diberi kecuali sedikit sekali."
"Kalau begitu apakah yang dimaksud Kibriit AlAhmar?"
"Renungkan akan kalimat Man Amila bima Aliimu warasatullahi ilmaa ma lam ya'lam, bahwa barangsiapa yang mengamalkan ilmunya maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang sebelunya tidak diketahuinya. Oleh sebab itu, janganlah menyembunyikan ilmu, sebab ilmu adalah milik Allah."
"Apakah yang dimaksud Kibrit al-Al-Ahmar adalah semacam laduni?"
Wajah bapak saya mendadak berkilau-kilau merah. Sedetik kemudian memancar rona pelangi di sekeliling kepalanya. Dan sedetik pula cahaya bagai platina memendar dari seluruh tubuhnya menerangi sekitar.
"Ketahuilah, Saya, bahwa tidak semua ilmu akan engkau peroleh lewat mata dan telinga inderawimu. Sebaliknya, ada pengetahuan yang memancar dari Qalb yang tiada satu pun makhluk mengetahuinya kecuali Allah sendiri. Dan Kibrit Al-Ahmar adalah makna tersembunyi dari uraian tersebut, sebab tiada akan engkau jumpai keberadaan "belerang merah" dengan mata inderamu yang hanya mengenal belerang kuning."
"Apakah itu berarti sama maknanya dengan Sastra Hajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu yang diajarkan leluhur kita, Kiai Pusponegoro dari jalur ilmu yang diwariskan Sunan Giri dan Sunan kalijaga?"
Bayangan bapak saya diam.
"Saya belum memperoleh pengetahuan itu dalam amaliah, wahai Bapak."
Wajah bapak saya berkilau-kilau kemudian meluncur suara gaibnya seperti memenuhi segenap penjuru, "Renungkan segala kejadian yang engkau lewati selama ini dan aku akan mengatakan, bahwa apa yang telah engkau lewati selama ini pada hakikatnya adalah rangkaian dari hakikat Sastra Hajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Hanya saja, engkau belum bisa memilah-milahkan apa yang telah engkau peroleh itu ke dalam pemahaman jiwa dan akal budimu, meski ilmu pengetahuan tidak selalu harus dipahami melalui akal budi manusia."
"Apakah Sastra Hajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu bisa dimaknai dengan Ma'rifat Billah?"
"Sastra Hajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah pengetahuan akan hakikat MUTHMA'INNAH sebagaimana yang telah aku uraiakan tadi kepadamu. Dia terangkum dalam makna Syari'atThariqat-Haqiqat-Ma'rifat yang tiada lain adalah manifestasi tersembunyi dari jalan rahasia menguak hakikat Thiin-Maa'a-Naar-Nuur."
"Apakah itu berarti terjadi dua makna dari sholat syariat dan sholat hakikat?"
"Itulah pengertian yang keliru, Saya, sebab antara Syariat-Thariqat-Haqiqat-Ma'rifat tidak bisa dipisahpisahkan seibarat tidak dapat dipisahkannya Nafs Lawwamah-Nafs Sufliyyah-Nafs Amarah-Nafs Muthma'innah. Artinya, di dalam makna shalat sejatinya terangkai rahasia empat makna yang tidak dapat dipisah-pisahkan satu dengan yang lainya."
"Yang pertama, adalah shalat jasad yang merupakan manifestasi Taraqqi bagi unsur Thin yang harus tunduk dan patuh kepada hukum-hukum syari'at. Yang kedua, adalah shalat Qalbu yang merupakan manifestasi shalat cipta, yang merupakan perwujudan shalat dari unsur Maa'a dalam Taraqqi yang disebut dengan Thariqat."
"Yang ketiga, adalah shalat Ruuh yang melambangkan shalat jiwa yang memanifestasikan Taraqqi unsur Naar yang disebut hakikat, dan yang keempat adalah shalat Sirr, merupakan manifestasi Taraqqi unsur Nuur yang disebut Ma'rifat."
"Keempat hal tersebut adalah piranti untuk mencapai derajat ma'rifat. Jasad yang diwakili 'Aql adalah piranti untuk mengetahui perbuatan Allah dalam hukum Illat dan Ma'lul. Qalb adalah piranti untuk mengetahui sifat dan hakikat sifat Allah. Ruuh adalah piranti untuk mencintai Tuhan sebab di dalam Ruuh terangkai makna Nafakhtu fihi min Ruuhi. Dan Siir adalah piranti untuk menyaksikan Tuhan."
"Oleh sebab itu, o Saya, antara Syari'at-ThariqatHaqiqat-Ma'rifat tidak bisa dipisah-pisahkan satu dengan yang lain. Tidakkah engkau sudah mengetahui bahwa pujangga Ranggawarsita menyatakan bahwa, hakikat tanpa syariat adalah batal, dan syariat tanpa hakikat adalah gagal (Suluk Sukma Lelana: 22)."
"Apakah rangkaian Shalat Jasad-Qalb-Ruuh-Sirr itu adalah shalat yang disebut shalat daa'im?" tanya saya.
"Demikianlah Allah menegaskan dalam sabda Alaadziina hum 'alaa shalaatihim daa'imuun (QS. alMa'aarij: 23), yakni kesatuan dari perikatan keempat shalat dalam rangkaian keempat nafs, di mana dengan ketunggal-sempurnaan keempat shalat tersebut dalam satu ikatan hakiki, maka lahirlah apa yang disebut shalat daa'im, yakni sembahyang yang kekal di mana ingatan (dzikr) hamba (abid) sepanjang waktu terhubung ke Tuan (Ma'bud)."
"Maka begitulah shalat syari'at menghadapkan qiblat dari Jasad-Qalb-Ruuh-Sirr untuk lurus dalam "kenaikan" shalat sehingga akan sampailah engkau ke puncak Sirr, di mana engkau akan menghadapkan mukamu kapada Allah yang memenuhi segala. Rahasia ini terungkap dalam hukum fa-ainamaa tuwallu fatsamaa wajhullah (QS. al-Baqarah: 115), ke mana pun engkau menghadapkan wajah di situlah (terpampang) wajah Allah."
"Apakah risiko dari mereka yang menjalankan hakikat tapi meninggalkan syari'at?"
"Kesesatan!" sahut bayangan bapak saya dengan suara menguntur, "Sebab mereka akan terperangkap ke dalam puja dan puji bagi diri sendiri. Di sinilah engkau akan menjumpai orang dungu yang sombong yang tidak segan mengaku sudah "manunggal" dengan Allah, padahal kegiatan utama dari hidupnya tiada lain kecuali mengutuk-ngutuk, mengumpat-umpat, mencela-cela, dan mencaci-maki kebodohan orang-orang yang menjalankan shalat syari'at. Dan akhir dari semua umpatan dan caci-maki tersebut, mestilah usaha memuji-muji kebenaran dan keunggulan serta kemuliaan amaliahnya sendiri."
"Ketahuilah, o Saya, bahwa semakin engkau mempelajari akan dzat dan sifat iblis, maka engkau akan mendapati betapa banyaknya manusia di sekitarmu yang sudah berfusi jiwa dan raganya dengan dzat dan sifat iblis. Oleh sebab itu, tetaplah engkau menjadikan Rasulullah SAW sebagai tonggak keteladanan dalam menentukan ukuran hidup yang benar. Beliau adalah Khatamin Nabiyyin dan penghulu segala rasul, tetapi beliau tetap merangkai makna keempat shalat dalam keseharian hidupnya."
"Apakah arti syari'at kalau demikian?"
"Syari'at adalah hukum-hukum kebenaran sebagai petunjuk bagi Mahjuub (yang terhijab) untuk menuju Haqq. Syari'at adalah Shirathaa'l-mustaqiim, yang semuanya adalah rangkaian dari hakikat perjalanan menuju Tanazzul-Ma'lul-Taraqqi. Mereka yang tidak mengikuti syari'at, akan terseret ke jalan yang menyimpang dari taraqqi yang menyebabkan kemurkaan Rabbu'l-Arbaab yang menjadi Sumber lahir dan kembalinya Rabb."
"Karena, itu, Saya, barangsiapa yang melanggar pembatasan-pembatasan Allah, maka sesungguhnya telah berbuat dzalim terhadap nafs-nya sendiri (QS. at-Thalaq). Karena itu pula, Saya, janganlah engkau terpukau oleh kepintaran orang-orang yang mengaku tuhan dan nabi sesudah Nabi Muhammad SAW karena mereka yang demikian itu adalah orang jahil yang sudah disesatkan Allah.
"Kenapa demikian, wahai bapak?"
"Sebab tiada lagi orang yang sesat kecuali mereka yang mengaku-aku, sebab tidak ada makhluk yang awal sekali mengaku-aku selain iblis. Dan pangkal dari keiblis-an setiap insan selalu diawali dengan keterhijaban terhadap nafsunya, yang hal itu hanya bisa dibebaskan dengan shalat daa'im."
"Dapatkakah sampean mengajari saya shalat daa'im?"
"Engkau akan memperolehnya sendiri dalam tahap tertentu dari perjalanan ruhanimu. Dan saat engkau telah memperolehnya, engkau akan mengalami 'mati dalam hidup' dan 'hidup dalam mati' yang termaktub dalam hukum Kuntum amwaatan faahyaakum (QS. al-Baqarah: 28) yang akan meningkat sampai tahap Muutu qabla an tamuutu."
"Sebenarnya, o Saya, shalat daa'im itu tiada lain harus dicapai lewat pintu-pintu pembuka hijab yang gerbangnya berada di hamparan 'Aql-Qalb-Ruuh-Sirr di mana pintu tersebut hanya bisa dibuka dengan kunci Tadzakur-Tanaffus-Tawajjuh-Tajarrud. Dari gerbang tersebut engkau akan melewati tujuh pintu lagi yang hanya bisa dibuka dengan kunci Zuhud-TaubahWara'-Faqr-Shaabar-Tawakkal-Ridlaa."
"Tetapi engkau harus ingat, wahai Saya, bahwa apabila dalam Taraqqi engkau telah mencapai derajat 'Adam Ma'rifat, di mana seluruh malaikat akan bersujud dan bershalawat kepadamu, maka di situlah akan muncul iblis yang akan memusuhimu. Artinya, pada saat perjalananmu sampai pada tahap Wahda, di mana Allah akan menumpahkan Al-Ilm kepadamu sebagaimana Allah mengajarkan kepada 'Adam akan hakikat segala sesuatu lewat pengenalan nama-nama, maka saat itulah akan muncul orang-orang yang akan mengutuk dan merendahkanmu karena ke-irihati-an dan kecongkak-an yang berlebihan sebagaiman sifat iblis yang tidak ingin dilebihi kemuliaannya oleh Adam."
"Adakah tahap lagi sesudah 'Adam Ma'rifat?"
"Tahap setelah 'Adam Ma'rifat adalah tahap ' Taraqqi' dari hakikat 'KUN' dan hakikat 'NAFAKHTU' menjadi 'MASHAHAA' yang tiada lain adalah suatu proses kembalinya kata 'Jadilah' ke arah 'Hampa' dan kata 'tiupan' menjadi 'hisapan'. Tahap itulah yang disebut fanaa fii Tauhid atau ada yang menyebutnya Fanaa Fi'llah, yakni tahap 'terserap'-nya 'Adam Ma'rifat ke dalam tahap Ruuh Ilahiyyah."
"Kalau suatu ketika nanti engkau sampai pada tahap ini, satu hal yang mesti engkau jaga dengan hatihati, yaitu menyangkut kewajiban merahasiakan semua pengungkapan pengalaman perjalanan ruhanimu. Sebab 'Adam Ma'rifat yang telah fanii dalam dirinya sendiri dan baaqii dalam Ilahi, biasanya tanpa sadar akan berbicara Ana'l Haqq pada saat berlangsung perpaduan insaan ain Allah."
"Bagaimanakah membedakan orang yang dalam tahab MAJDZUUB yang menggumam Ana'l Haqq dengan orang bodoh yang mengaku-aku Ingsun wus manunggal kalawan Gusti?" tanya saya ingin tahu.
"Kalau suatu ketika engkau melihat seseorang yang sedang dalam keadaan Fanaa Fii Tauhid kemudian mengeluarkan macam-macam ucapan yang disebut Syath', maka yang demikian itulah Majdzuub yang kadang-kadang menggumam Ana'l Haaqq. Tetapi kalau setelah itu dia dalam keadaan sadar mengaku Ana'l Haqq, maka dia adalah orang jahil."
Saya termangu-mangu mendengar kata-kata bapak saya. Saya sendiri sebenarnya ingin sekali bicara yang banyak mengenai bebagai persoalan dengan bapak tetapi tanpa saya duga sebelumnya, tiba-tiba sosok bapak saya memancarkan cahaya berkilau-kilau bagai kilatan petir, dan beberapa jenak kemudian suasana menjadi hening, hampa, bayangan bapak saya hilang.
Saya tersentak dan mencari percik cahaya yang melingkari bapak saya, tetapi tak saya lihat sesuatu pun cahaya kecuali keheningan malam yang gelap dan sunyi. Saya berlari ke halaman masjid mencari-cari bayangan bapak saya. Tapi hanya suara angin menderu yang bersuit-suit menggulung kesendirian saya.
Saya sadar bahwa saya tidak akan mungkin menemukan bayangan bapak saya yang sudah mati beberapa tahun silam. Saya sadar bahwa perjumpaan yang saya alami dengan bapak saya bukan di alam alsyahadah. Tapi bagaimanapun saya merasakan kerinduan masih mencekam jiwa saya, terutama ketika saya sadar bagaimana saya telah terlontar sendiri di negeri yang jauh ini. Kerinduan hendak pulang ke asal tiba-tiba menerkam jiwa saya, meski saya tidak tahu rindu kembali ke asal itu bermakna pulang ke rumah emak atau ke alam keabadian.
Angin malam yang dingin menggemuruh menerbangkan serpih-serpih salju di perbukitan Khilan Marg. Bintang-gemintang berkedip-kedip di atas kubah biru langit seperti meneteskan embun salju. Dan dingin malam, saya rasakan menusuk tulangbelulang saya ketika pipi saya mendadak terasa basah.

Kerinduan hendak pulang ke asal makin lama saya rasakan makin mencekam jiwa saya, sehingga tiada hari yang saya lewati tanpa kegelisahan dan keresahan. Bunga-bunga Yambirzal dan Guli Chin yang setiap pagi mengangguk-angguk di taman, saya rasakan seperti penabuh lonceng kerinduan yang membungkukkan badan, mempersilakan saya menaiki bahtera azali.
Burung-burung Katij, Kav, dan Tota yang terbang mencicit-cicit melagukan tembang kehidupan, membayang pedih di lubuk jiwa saya sebagai panggilan rindu yang gersang.
Menjelang hari yang ke-33 dari puasa saya, saya memutuskan untuk berpamitan kepada Laxmi Devi dengan mengatakan bahwa saya harus pulang ke asal. Saat mendengar ucapan saya, Laxmi Devi tercenung pedih dengan wajah pucat dan bibir bergetar seolah-olah dia tidak percaya pada apa yang baru saja saya ucapkan. Beberapa jenak dia memandangi saya dengan pandangan aneh sampai pecahan ratna berupa titik-titik air bening jatuh dari kelopak matanya, membasahi pipinya yang putih bagai pualam. Saya biarkan Laxmi Devi menangis terisak-isak menumpahkan semua kegundahan jiwanya.
Setelam agak lama tercekam dalam kepedihan, bibir Laxmi Devi bergerak-gerak dengan desah lirih berkata, "Mengapa semua ini mesti terjadi?"
Saya menarik napas panjang. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Laxmi Devi, karena hati saya pun diamuk oleh perasaan aneh yang sulit saya gambarkan. Saya merasakan gelegak perasaan saya, di mana saya sejujurnya sangat ingin memberikan perlindungan kepada Laxmi Devi. Tetapi gelegak perasaan itu segera saya tindas. Saya harus menang dalam pertarungan ini, seru hati saya mengema.
"Mengapa semua ini mesti terjadi, Sudrun?" tanya Laxmi Devi terisak.
Saya tersentak dan merasakan darah saya tersirap ketika Laxmi Devi memegang lengan saya dengan tangan gemetar seolah-olah dia meminta kekuatan dari saya. Sedetik saya rasakan sentuhan tangan Laxmi Devi begitu lembut menikam hati saya. Entah apa yang terjadi, yang pasti saya merasakan semacam kehangatan mengalir dari lengan saya naik ke ubun-ubun dan terus mengalir ke seluruh tubuh.
"Mengapa semua ini mesti terjadi, o Sudrun?" tanya Laxmi Devi mengulang.
"Sudahlah Laxmi!" gumam saya sambil menyingkirkan tangan Laxmi dari lengan saya dengan lembut, "Semua ini memang harus terjadi."
"Tapi mengapa?" tanya Laxmi Devi merangkum kedua tanganya menutupi bibirnya.
"Sadarilah, Laxmi, bahwa belum pernah terjadi sesuatu yang tidak harus terjadi. Hanya kekerdilan dan kedhaifan kitalah yang tidak mengetahui, mengapa sesuatu harus terjadi. Tetapi bagi yang sadar, akan segera tahu bahwa tidak ada suatu kejadian yang terjadi secara kebetulan."
"Bicaramu selalu filosofis, Sudrun," sahut Laxmi Devi memprotes.
"Tapi itulah jawaban yang bisa kuberikan untuk pertanyaanmu," sahut saya menarik napas panjang, "Saya tidak berfilsafat. Saya tidak mendramatisasi katakata."
Laxmi Devi termangu lama dengan mata tak berkedip tapi terus meneteskan air bening yang membasahi pipinya. Namun beberapa jenak kemudian ia mendesah, "Bukan saya menanyakan kumparan takdir yang melibas hidup sampean, o Sudrun. Bukan pula saya akan mencegah tekat sampean untuk pergi mencari Kebenaran hakiki. Saya hanya khawatir pada keselamatan diri saya sendiri beserta Aham."
"Itulah pertanda bahwa sampean adalah ibu sejati yang mempunyai naluri keibuan untuk dilindungi dan melindungi. Sampean adalah ibu yang tepat bagi Aham."
"Ketahuilah, Sudrun, bahwa selama ada sampean dan Aham, saya merasa hidup dalam kebahagiaan karena saya merasa bisa mendapat perlindungan dari sampean dan saya dapat melindungi Aham. Tetapi dengan kepergian sampean, saya seperti kehilangan sesuatu yang menjadikan saya tidak memiliki pelindung lagi."
"Berlindunglah hanya kepada Allah, Laxmi, sebab hanya Dia Pelindung Yang Maha Mengayomi."
"Tapi bagaimana saya bisa melakukan itu semua, padahal saya selama ini hanya yakin akan keberadaan Allah dalam hati berdasar cerita-cerita ayah dan ibu saya. Saya sering merasa sebagai manusia laknat yang meragukan keberadaan Allah, karena saya belum pernah membuktikan keberadaan-Nya. Saya selalu menganggap bahwa sesuatu yang riil yang selama ini bisa melindungi saya adalah sampean."
"Sampean orang jujur yang berani mengakui keraguan sampean atas keberadaan Tuhan, Laxmi," kata saya dengan hati trenyuh memandang Laxmi Devi yang seperti limbung, "Karena itu, saya akan mengatakan dengan sejujurnya kepada sampean bahwa jauh di relung-relung hati saya sebenarnya tersembunyi hasrat untuk bisa melindungi sampean sebagai istri saya. Tetapi saya tidak tahu, kenapa tarikan rindu untuk pulang ke asal yang memancar dari jiwa saya sedemikian rupa dahsyat sehingga menenggelamkan segala kesadaran saya."
Mendengar pengakuan saya yang jujur, Laxmi Devi tampak seperti memperoleh kekuatan baru. Dengan mata berkilat-kilat dia menggempur saya:
"Saya tahu sekarang, bahwa sampean sebenarnya tiada lain adalah manusia kerdil yang tenggelam di samudera khayalan. Jiwa sampean kerdil, karena sampean tidak berani menghadapi kenyataan hidup di tengah gelombang samudera sejati kehidupan. Sampean lari ke alam khayalan yang sunyi, termenung dan berkhayal menipu diri sendiri, dengan meyakinkan diri bahwa sampean telah mencapai pemaknaan sejati hakikat hidup sebagai manusia yang lain daripada yang lain, yaitu manusia pilihan kekasih Tuhan. Padahal yang sampean capai itu tiada lain hanyalah hakikat maya imajinasi seorang pengkhayal menghindari realita kehidupan."
Saya tersentak dengan gempuran Laxmi Devi yang saya rasakan bagai membeset hati saya. Tetapi bayangan bapak saya yang saya jumpai dalam alam khayal mendadak berkelebat memasuki benak saya. Lalu kupasan bapak saya tentang kisah Adam AS secara berurutan menerkam kesadaran saya. Saya sadar bahwa apa yang diungkapkan Laxmi Devi tiada lain adalah lambang dari godaan Hawa (nafsu) agar Adam mendekati dan menelan "pohon cinta" yang memabukkan yang membuat nafs lupa kepada Rabb-nya. Sirru'l Haqq menggema di pedalaman jiwa saya, mengingatkan saya bahwa pernyataan keras Laxmi Devi adalah bagian dari usaha menarik langkah saya ke lingkaran setan kehidupan duniawi.
Melihat saya termangu-mangu, Laxmi Devi memulai lagi gempurannya, "Benarkah kata-kata yang saya lontarkan kepada sampean?"
"Sampean punya hak untuk menilai dan mengatakan apa saja tentang saya," sahut saya berusaha tenang, "Sebab semua itu justru menunjuk adanya perbedaan dan jarak antara sampean dan saya. Tetapi sampean perlu menyadari, bahwa apapun penilaian sampean kepada saya, pada faktanya sampean tidak memiliki hak untuk menentukan hidup saya. Jangankan sampean, o Laxmi, diri saya sendiri pun tidak mempunyai hak untuk menentukan hidup saya sekalipun saya punya hak atas hidup saya."
"Kalau satu ketika sampean bisa menjadi istri saya, maka hal itu bukanlah atas kehendak sampean atau kehendak saya sendiri. Ketahuilah, o Laxmi, bahwa manusia tidak akan tetap membujang karena takut kawin, manusia pun belum tentu segera kawin sekalipun dia berani kawin. Jodoh tidak datang karena dipanggil. Jodoh juga tidak pergi karena diusir. Jodoh tak pernah terlambat datang sebelum waktunya. Dia menggelinding sebagai hukum yang berjalan di atas porosnya."
"Tapi, Sudrun, saya khawatir," kilah Laxmi Devi pantang mundur, "Saya khawatir justru dengan prinsip hidup seperti itu sampean akan hangus terbakar oleh api keyakinan sampean sendiri. Saya khawatir sampean akan tenggelam ditelan gelombang samudera yang sampean ciptakan sendiri. Percayalah, Sudrun, bahwa apa yang saya kemukakan dengan kekhawatiran ini bukan tersebab kebencian saya terhadap sampean, melainkan inilah wujud cinta saya terhadap sampean. Kalaupun sampean tidak dapat lagi saya halangi, semoga perpisahan ini menyimpan benih pertemuan kembali, entah di dunia ini entah di akhirat kelak. Yang pasti, saya akan setia menunggu sampean mesti kita nantinya hanya dipertemukan di kampung akhirat."
"Terima kasih atas kesediaan sampean mencintai saya yang faqir ini," kata saya terenyuh dengan tenggorokan seperti tersekat sesuatu, "Berbahagialah sampean yang masih dikaruniai Allah pancaran cinta kasih sehingga sampean bisa mencintai orang lain selain diri sampean. Sebab kebanyakan dari manusia sebenarnya lebih mencintai dirinya sendiri, sehingga kalau mereka menyatakan 'cinta' kepada orang lain, maka sebenarnya mereka mengharap orang lain itu mencintai mereka. Mereka berbuat sedemikian rupa untuk kesenangannya sendiri. Karena itu, betapa banyak orang yang memperbudak orang lain dengan alasan 'cinta' sejati."
"Saya sendiri selama ini tidak mengetahui secara pasti, apakah yang sebenarnya disebut 'cinta'. Sebab yang saya ketahui selama ini, hanyalah orang-orang yang mengatasnamakan 'cinta' saling memperbudak dan saling menghisap orang lain demi kesenangan dan kepentingan dirinya sendiri. Oleh karena itu, o Laxmi, saya tidak berani mengatakan apakah saya mencintai sampean atau tidak. Yang jelas, saya memiliki semacam perasaan ingin melindungi sampean. Saya tidak ingin melihat sampean hidup menderita. Saya ingin melihat sampean selalu bahagia di mana pun berada. Itu saja."
"Bukankah itu salah satu manifestasi cinta?" sergah Laxmi Devi.
"Saya tidak mengerti, Laxmi," sahut saya dengan nada datar, "Mungkin juga perasaan saya terhadap sampean itu jauh lebih suci daripada yang disebut-sebut orang dengan istilah cinta. Karena itu sekarang ini saya sudah tidak mau lagi membohongi orang dengan menyatakan cinta, di mana hal itu dulu sering saya lakukan untuk memuaskan diri saya sendiri. Padahal setiap saya menyatakan cinta, saya mesti menertawakan perempuan yang menerima maupun menolak cinta saya. Saya tertawakan mereka seolaholah saya menyaksikan badut yang lucu maupun tidak lucu."
Laxmi Devi menunduk dalam-dalam, menghunjamkan matanya ke lantai seolah ingin menembus permukaannya. Setitik air bening jatuh dari kelopak matanya. Sesaat kemudian, sambil menggigit bibir, dia berlari ke dalam kamarnya. Sebentar kemudian, dia keluar menggendong Aham yang tertawa-tawa dalam dekapannya.
Melihat Laxmi Devi berdiri mendekap Aham dalam gendongan, saya merasakan tubuh saya menggigil dan mendadak terasa ringan seolah-olah tubuh saya terbuat dari kapas. Sesaat, saya merasa seolah-olah berada di alam mimpi. Angin sepoi yang menerobos dari celah jendela mendadak saya rasakan membeku dan menghentikan aliran darah saya. Ruangan di mana saya berdiri tiba-tiba merasa kosong dan hampa. Sementara keringat dingin mengucur dari seluruh pori-pori di tubuh saya.
Saya sadar bahwa Laxmi Devi dan Aham bukanlah milik saya. Tetapi kumparan kenangan yang pernah mengikat kami dalam rentangan waktu telah menyentuh relung-relung rasa jiwa saya yang paling dalam. Entah mengapa, tiba-tiba saja saya merasakan ada rongga yang kosong di dada saya, di mana kekosongan itu rasanya akan terisi apabila dimasuki Laxmi Devi dan Aham. Ini sungguh aneh. Bagaimana saya merasakan bahwa dengan berpisahnya diri saya dengan Laxmi Devi dan Aham seolah-olah isi rongga dada saya ada yang hilang dan dada saya terasa dipenuhi kekosongan. Hati saya terasa hampa.

Suara tawa Aham yang manja berderai-derai menerobos pendengaran saya. Suara tawa itu tidak saya dengar sebagai suara kegembiraan, tetapi sebagai suara jerit tangis kepedihan yang menyayat hati. Bayangan Aham yang kurus yang saya temukan di pnggir jalan tiba-tiba membayang ganti-berganti di mata saya. Aham yang selalu saya gendong ke mana-mana. Aham yang selalu tidur di buaian saya. Aham yang selalu menggapai-gapaikan tangan mencari puting susu ibu yang tak pernah dikenalnya.
Membayang-bayangkan keterkaitan Aham dengan saya, tanpa terasa lutut saya gemetar. Aliran darah saya, saya rasakan meluncur perlahan-lahan mengalirkan rasa pedih yang menggumpal di dada saya. Waktu mendadak saya rasakan berjalan lambat dan menyiksa jiwa. Ya Allah, perasaan aneh apakah yang sekarang ini bersimaharajalela menerkam dan mencabik-cabik jiwa saya? Mengapa kepedihan ini menjadi begini menyakitkan? Mengapa kehampaan ini menjadi begini menyiksa?
Angin yang berhembus diiringi mendung hitam dan kelabu menyelimuti kesedihan bumi yang merana bagai kabut kepedihan menyelimuti jiwa saya. Langit tiba-tiba terasa akan runtuh menimpa kesadaran di kedalaman jiwa saya ketika Laxmi Devi menyodorkan tubuh Aham ke arah saya. Tatap mata Laxmi Devi yang sendu seolah-olah mengatakan bahwa dia ingin sekali melihat saya menggendong Aham untuk yang terakhir kali.

Tatap mata Laxmi Devi yang sendu dan penuh harap itu, saya rasakan seperti dialiri daya sihir yang dahsyat memukau kesadaran saya. Hati saya tiba-tiba terasa runtuh. Saya seperti tidak kuasa menolak permohonan Laxmi Devi yang memancar sendu lewat sorot matanya. Lalu seperti tidak sadar, saya menangkap tubuh Aham yang terasa empuk bagai kapas.
Begitu tubuh Aham saya sentuh dan saya dekap, saya merasakan tarikan magnet menghentak dari gugusan tubuh Aham ke tubuh saya. Kemudian bagai seorang ayah yang merindukan anak yang terpisah bertahun-tahun, tubuh Aham saya dekap erat-erat seolah ingin saya resapkan tubuhnya ke tubuh saya. Saya dekap erat-erat Aham seperti saya dekap hidup dan mati saya. Detik-detik berlalu dan pada satu titik waktu saya merasakan getaran kuat menyerbu jiwa saya. Saya mendadak merasakan tubuh saya seperti dialiri kegentaran. Saya merasakan, terkaman rasa takut itu tidak lain dan tidak bukan berasal dari hasrat tidak inginnya saya berpisah dengan Aham. Hati saya mendadak terasa kecut membayangkan berpisah dengan Aham.
Dalam dekapan saya, Aham tidak menangis tidak pula tertawa. Dia hanya menggumam seolah-olah merasakan kenyamanan berada dalam pelukan kasih seorang ayah. Tetapi justru gumam-gumam lirih yang mirip celoteh itu yang selama ini mengiang-ngiang di telinga saya dan memantul di hamparan jiwa saya. Dan tanpa saya sadari, titik-titik air bening perlahan-lahan jatuh dari mata saya. Hal itu baru saya sadari setelah bayangan Laxmi Devi di depan saya mendadak terlihat kabur.
Saya masih terhanyut gelegak perasaan ketika Laxmi Devi mengulurkan tangannya yang lembut menghapus air mata saya. Sentuhan lembut tangan Laxmi Devi yang gemulai itu saya rasakan seperti belaian seorang kekasih yang sangat mesra, menyegarkan jiwa saya yang gersang. Sesaat, saya benar-benar hanyut terseret perasaan kasih yang memabukkan. Bahkan tanpa saya sadari, mendadak saja hasrat di dada saya menggemuruh memberikan dorongan untuk merengkuh Laxmi Devi ke dalam dekapan saya. Saya mendadak dicekam keinginan kuat untuk memeluk dan mencium Laxmi Devi, di mana ia akan saya rengkuh sebagai milik saya bersama Aham. Hasrat saya itu begitu liar dan ganas, meraung-raung dan melolonglolong seperti serigala kelaparan akan menerkam mangsa.
Tetapi hasrat saya mendadak lebur dan nyawa saya terasa lepas ketika dengan suara lembut Laxmi Devi berkata:
"Kuatkanlah hati sampean, Sudrun, janganlah sampean mengikuti perasaan!"
Saya mengangguk-angguk penuh takjub dengan kenyataan tak terduga ini. Air mata saya pun tak dapat saya bendung lagi, tumpah membasah pipi saya. Entah apa yang terjadi, saya tiba-tiba merasakan betapa tidak perlu lagi merasa rendah untuk menangis di depan Laxmi Devi. Saya hanya merasa bahwa Laxmi Devi adalah orang yang sangat memahami kekurangan dan kelebihan saya sebagai manusia Sudrun. Dan air mata saya terus tumpah kendati Laxmi Devi berkali-kali mengusap pipinya yang juga basah oleh airmata.
"Tahukah sampean, o Sudrun," desah Laxmi Devi lirih, mengambil ibarat dengan kisah Mahabharata,"Bahwa saya sekarang ini dijalari semacam kebanggaan dan kebahagiaan yang jarang diperoleh perempuan lain. Saya merasa bangga dan bahagia seibarat kebanggaan dan kebahagiaan Utari saat melepas kepergian Abimanyu ke palagan Kurusetra, meski Utari tahu bahwa kekasih tercinta akan gugur di lautan darah dengan cara mengerikan."
"Karena itu, o Sudrun, teguh dan tegakkan semangat sampean dalam menghadapi mahayudha di palagan Kurusetra untuk memenangkan keyakinan sampean. Jangan biarkan sampean tenggelam dihanyut perasaan. Majulah terus mengibarkan panji-panji keyakinan di puncak gunung kemenangan."
"Kalau dalam peperangan sampean menang, berdiri tegaklah sampean mengumandangkan nyanyian sunyi Ilahi. Serulah puak-puak manusia untuk datang ke jalan kebenaran Ilahi. Kami semua akan merasa bangga dan bahagia melihat sampean berdiri tegak di atas gelora ombak samudera raya kehidupan."
Seperti gelombang samudera mengerikan katakata Laxmi Devi menggelora dahsyat menggempur jiwa saya. Saya tersentak kaget dengan kenyataan tersebut, sebab saya tak pernah menduga bahwa Laxmi Devi dapat sekukuh itu. Samar-samar saya melihat cahaya kemuliaan memancar dari kedalaman jiwa Laxmi Devi yang berpendar laksana permata. Dan saya pun makin terpesona penuh kekaguman ketika Laxmi Devi berkata seolah-olah menasehati:
"Sejak sampean menguraikan makna sejati kehidupan kepada saya di danau Dal, o Sudrun, saya seperti menyadari bahwa kehadiran sampean di samping saya dan Aham bukanlah jaminan bagi keselamatan dan kebahagiaan kami. Sebab jiwa dan tubuh sampean pun tidak dapat sampean jamin keselamatan dan kebahagiaannya. Saya menjadi sadar bahwa segalanya harus saya pasrahkan kepada Allah yang mencipta dan memelihara saya."
"Kalau tadi saya sempat bersitegang dengan sampean, maka itulah wujud dari keragu-raguan dan kekurangikhlasan saya menghadapi kenyataan. Tetapi sekarang ini, meski berat bagi saya, saya makin yakin akan kepasrahan saya kepada Allah setelah mendengar uraian-uraian sampean. Saya seperti menangkap satu pancaran keteguhan setiap kali saya mendengar uraiaan dari sampean tentang hidup."
"Saya sendiri menyadari bahwa sekarang ini saya hanya memiliki pengetahuan teoretis tentang hakikat hidup ini dari petunjuk dan fatwa sampean. Tetapi saya akan terus berusaha menerapkannya dalam kenyataan hidup saya. Dan segala apa yang sampean jalani, semoga dapat mejadi cermin bagi langkah saya selanjutnya."
Saya terpana dengan kata-kata Laxmi Devi yang meluncur bagai anak panah menikam jantung hati saya. Saya tiba-tiba merasakan seperti seorang anak kecil yang dinasehati oleh seorang ibu yang bijak. Saya merasakan ada semacam letupan kasih dan ketulusan yang memancar dari setiap kata-kata yang meluncur dari mulut Laxmi Devi. Lalu tanpa saya sadari saya tiba-tiba telah mengucapkan kata "Masya Allah" berkalikali sebagai ungkapan ketakjuban saya atas kebesaran Ilahi yang begitu tak terjangkau. Bayangkan, Laxmi Devi yang sering saya curigai dan sering saya nasehati serta sering saya sindir sebagai perempuan egois pemuja kesenangan duniawi itu, mendadak bisa membuat saya meringkuk tak berdaya bagai anak kecil nakal dinasehati ibunya. Dan saya benar-benar meringkuk tanpa daya ketika Laxmi Devi melanjutkan kata-katanya dengan nada penuh kelembutan dan kasih sayang seorang ibu:
"Sampean mesti sadar, o Sudrun, bahwa sampean sekarang ini sedang berjalan menuju Sang Pencipta, Tuhan bagi segala tuhan yang dipertuhankan manusia. Sampean mesti sadar bahwa sampean sedang menuju palagan mahayudha yang jauh lebih berat daripada menghadapi peperangan fisik. Sampean mesti sadar bahwa sampean sekarang ini sedang menuju jihad-iakbar. Oleh sebab itu, o Sudrun, sucikanlah tubuh dan jiwa sampean seolah-olah tidak ada yang sampean tuju di palagan mahayudha itu kecuali kematian untuk bisa menyatu dengan Sang Pencipta. Mandikanlah tubuh sampean. Guntinglah kuku-kuku sampean. Sisir dan sanggullah rambut sampean. Kenakanlah pakaian dari kafan sebagai penutup aurat. Tebarkanlah wewangian di tubuh sampean, sebagai pertanda kesiapan sampean menyongsong gemuruh kematian di medan perang. Dan dengan keyakinan syahid, gempurlah musuhmusuh sampean yang maha dahsyat yang tak dapat ditaklukkan dengan ujung senjata apapun kecuali dengan iman."
Seperti anak kecil yang patuh kepada ibunya, saya mengikuti semua petunjuk dan petuah Laxmi Devi. Saya segera mandi dan mensucikan diri. Namun saya sempat tersentak kaget ketika saya ketahui Laxmi Devi sudah menyiapkan pakaian putih yang terbuat dari kain kafan kasar. Saya lebih terkejut lagi ketika Laxmi Devi menaburkan minyak kasturi di tubuh saya. Dan kuku-kuku saya pun akan dipotongnya sampai bersih.
Sebuah keanehan mendadak saya rasakan menyelimuti jiwa saya. Bayangkan, dengan tangan yang lembut laksana sutera Laxmi Devi menangkap tangan saya. Lalu dengan cekatan ia memotong kukukuku saya. Anehnya, saya tidak lagi merasakan sentuhan tangan Laxmi Devi sebagai sentuhan tangan seorang perempuan terhadap seorang laki-laki. Ini aneh. Saya justru merasakan bahwa saya hanyalah seorang anak nakal yang mendadak patuh ketika kuku-kukunya dipotongi ibunya. Saya tidak merasakan sentuhan tangan Laxmi Devi berhubungan dengan benih birahi, tetapi lebih seperti tangan mulia yang mengurapi jiwa saya.

Setelah memotong kuku-kuku saya, Laxmi Devi menyuruh saya duduk di lantai sambil memangku Aham. Kemudian dengan tenang dia menyisir rambut saya. Disanggulnya rambut saya sedemikian rupa sehingga mirip sanggul para yogi. Sesudah itu dia menyuruh saya berdiri. Saya pun seperti robot mengikuti saja perintah.
"Sekarang pergilah ke palagan mahayudha," kata Laxmi Devi dialiri rasa bangga seperti seorang ibu yang bangga melihat anak lelakinya yang baru didandaninya untuk bermain-main, "Kalau dalam perang nanti sampean menang, tegakkanlah panji-panji kebenaran sampean di puncak dunia. Kalau sampean berkenan, ajarilah kami meniti buih di samudera kehidupan yang telah sampean taklukkan."
Saya termangu-mangu memandang cakrawala yang luas membentang. Saya menyadari bahwa saya belumlah cukup sempurna menggapai maqam mahmud. Saya belum apa-apa dalam perjalanan selama ini. Itu sebabnya, semakin saya renungkan keberadaan saya semakin sadarlah saya bahwa saya hanyalah sebutir debu di tengah gurun dibanding para nabi dan 'auliya yang membentang luas jiwanya sebagai gurun sunyi yang bisa menampung ruh gurun. Dan sekarang ini, sebagai debu saya merasakan hempasan angin menggemuruh sangat dahsyat melontarkan diri saya ke berbagai arah yang membuat saya terpontang-panting mengikuti ke mana angin membawa.
Sebuah benturan bagai petir yang menyambar-nyambar, saya rasakan menghantam pedalaman saya. Saya terkejut tetapi sekaligus gembira karena sirru'l haqq di pedalaman saya mendadak hadir kembali setelah cukup lama hilang dalam kemisteriusan. Lalu seperti tersadar dari mimpi, saya pun baru menyadari bahwa kedebuan saya harus sirna sehingga saya tidak lagi merasa sebagai "aku" sebab debu pun yang begitu kecil sebenarnya masih menyimpan rahasia "aku". Betapa kecil dan tak berharganya, "debu" tetap bisa menyatakan "aku" adalah "debu".
"Saya segera pergi," dengan kepastian akhirnya kata-kata itu melesat dari mulut saya.
Laxmi Devi tegak mematung seperti arca. Matanya yang bulat lebar dengan bulu-bulu lebat, mendadak berkaca-kaca bagai hendak menumpahkan air. Tetapi, Laxmi Devi kelihatan berusaha menguatkan hati dengan mengatupkan bibir rapat-rapat. Ketika air bening di kelopak matanya hendak tumpah membasahi pipinya, buru-buru ia membalikkan badan dan berlari ke arah kamarnya. Beberapa menit ia berada di dalam kamar. Setelah itu, ia keluar dengan tersenyum meski matanya kelihatan merah bekas tangis. Di tangan Laxmi Devi Saya lihat ada piring kecil berisi adonan lunak warna merah.
"Sebagai lambang kebulatan tekad dan lambang kebebasan dari keterikatan, biarlah saya guratkan warna merah ini di kening sampean," kata Laxmi Devi sambil mengguratkan adonan merah ke kening saya dengan ujung ibu jarinya.
"Saya melihat bahwa garis merah di kening hanya dipakai oleh para ksatria yang maju ke medan perang," kata saya berkomentar.
"Saya tidak melihat sampean seperti seorang Brahmin," sahut Laxmi Devi cepat, "Saya justru melihat sampean sebagai Ksatria-Brahmana. Sebab saya tidak melihat Islam mengajarkan sistem kerahiban, oleh sebab itu, saya hanya melihat sampean sebagai seorang ksatria yang sedang mengarungi dunia ke-brahmanaan untuk kemudian kembali lagi sebagai ksatriabrahmana."
Saya tersentak kaget dengan ungkapan Laxmi Devi. Sebab selama ini saya tidak pernah berpikir bahwa dalam perjalanan ini saya akan kembali kepada masyarakat. Saya hanya berpikir mencari kebenaran mutlak yang sempurna, di mana sesudah itu saya akan tenggelam dalam hubungan cinta dengan Al-Khalik. Saya benar-benar melupakan bahwa Islam melarang keras Ke-Brahmana-an yang meninggalkan perkawinan, pekerjaan dunia, dan masyarakat. Dan saya baru tersadar setelah Laxmi Devi mengingatkan hal itu.
Akhirnya saya tidak bisa berbuat lain kecuali tersenyum menertawakan kebodohan saya selama ini. Saya mulai sadar bahwa saya telah dihempas berbagai konsep yang acapkali tidak berasal dari ajaran Rasulullah SAW. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana seorang Adi-Brahmana seperti Rasulullah SAW mengatur istri-istri dan anakanak serta kehidupan kenegaraan dan masyarakat. Saya pun akhirnya mulai menyadari bahwa konsep KsatriaBrahmana yang ada dalam Islam adalah jauh lebih berat daripada konsep-konsep kerahiban yang ada. Mungkin karena itulah Mahatma Gandhi sangat memuji Rasulullah SAW, yang menurutnya, sudah melampaui tahap Brahman, tetapi masih mampu kembali dalam kehidupan sehari-hari mengatur rumah tangga, negara dan masyarakat.
"Saya harus pergi sekarang," kata saya sambil menyodorkan tubuh Aham kepada LaxmiDevi, "Jaga dan peliharalah amanat Ilahi ini, sebab dari Aham saya beroleh banyak hikmah dalam membaca gejala-gejala kehidupan. Dia yang saya temukan sendirian di tengah malam tidaklah menjadi mati karena ditinggalkan sendiri. Dia yang tidak mengenal ibunya, saya lihat justru memperoleh ibu-ibu yang penuh kasih dan kebijaksanaan."
"Ya, dari kisah hidup Aham-lah saya memperoleh kepastian bahwa kematian tidak datang bila dipanggil, pun kematian tidak pergi karena diusir. Dan karena itu pula saya makin yakin bahwa penderitaan, kebahagiaan, jodoh, kelahiran, kematian memiliki hukum tersendiri yang tak bisa diganggu gugat. Oleh karena itu, saya menyarankan agar sampean bisa belajar dari berbagai hal di sekitar sampean."
"Saya akan memelihara Aham sebaik-baiknya, karena dia adalah anugerah Ilahi yang diamanatkan kepada saya," kata Laxmi Devi teguh.
"Saya akan selalu ingat semua kata-kata sampean dan semuanya akan saya jadikan pusaka keramat yang menyertai perjalanan saya," kata saya menguatkan diri.
"Berangkatlah Ksatriaku," kata Laxmi Devi sambil mendekap erat tubuh Aham ke dadanya, "Janganlah sampean berpaling sebelum tercapai apa yang sampean harapkan."
"Assalamu'alaikum," kata saya menatap Laxmi Devi dan Aham ganti-berganti.
"Waalaikum salam," gumam Laxmi Devi dengan mata berkaca-kaca, "Berjalanlah lurus dan jangan sekali-kali berpaling lagi."
Saya membalikkan tubuh dan memulai langkah dengan berjalan perlahan-lahan meninggalkan Laxmi Devi dan Aham. Tapi baru beberapa langkah, saya terpaksa berhenti karena saya mendengar isak tangis tertahan Laxmi Devi dan celoteh Aham. Saya berdiri termangu dengan dada terasa berongga, kosong. Tapi saya tetap mengingat pesan Laxmi Devi untuk tidak berpaling lagi. Dan akhirnya, saya pun melangkah lagi meski isak tangis Laxmi Devi saya dengar makin keras di kejauhan.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sebuah perjalanan melintasi semesta ruhani adalah sebuah rentangan pengalaman menakjubkan yang sangat fantastis jika dipikir dengan nalar. Sebab segala sesuatu yang tergelar

Kisah Sejarah Gaib Tanah Jawa

Kisah Sejarah Gaib Tanah Jawa

Sejarah awal Pulau Jawa seolah terbungkus oleh misteri, karena sama sekali tidak diketahui keberadaannya oleh dunia sampai pulau ini dikunjungi oleh peziarah dari China, Fa

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Diamput, Sepatuku Ilang ndhuk Mejid

Dening: Suparto BrataDiamput! Sepatuku ilang ndhuk mejid. Iki gara-gara sholat Jumat ndhuk mejid enyar cedhake kantorku. Diamput, ejik enyar wis nggawa korban!

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEMBILAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEMBILAN)

Malam sudah agak larut ketika saya kembali dan mendapati Ashok masih menjerang airuntuk membuatkan kopi Tuan Arvind. Sepengetahuan saya, Ashok sepertinya tidak pernah

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

"Kalau engkau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!”Bagai kilatan cahaya petir, bisikan misterius itumembentur gugusan telinga batin saya tanpa dapat

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT BELAS)

Badai gurun menggemuruh dahsyat bagaikan iring-iringan barisan raksasa berkejaran sambung-menyambung, melonjak, menggulung, menghentak-hentak, mengaduk-aduk, dan menghempas

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Malam hitam membentang diwarnai jutaan bintang yang meneteskan embun bagai langit menitikan air mata membasahi semesta. Keheningan mencekam seolah-olah menidurkan rerumputan

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Setelah 9 tahun merantau ke Newyork, Rahwana akhirnya memutuskan untuk mudik ke kampung halamannya, tepatnya di kecamatan Alengka kabupaten Blora.Suatu pagi sehari sebelum