Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH)

  • 2018-07-26 11:26:00
  • 590

Matahari sudah menggelinding sembilan kali di langit Bombay ketika keanehan lelaki tua yang belakangan saya ketahui bernama Chandragupta menerkam jiwa saya. Keanehannya rasanya hanya bisa saya rasakan sendiri, karena orang-orang di Masjid Zakaria lebih menganggapnya sebagai orang senewen yang suka tidur-tiduran di teras masjid dan ikut-ikutan bersembahyang berjamaah kalau waktu sembahyang tiba.
Penampilan Chandragupta sebenarnya tidak begitu mencolok seperti lazimnya orang tidak waras yang berpakaian tambal-tambal. Dalam penilaian saya, dia terkesan berpenampilan bersih dengan pakaian yang selalu tampak seperti dicuci setiap hari. Rambutnya yang tergerai sebahu dan kelihatan awut-awutan, kalau dilihat lebih dekat sebenarnya bersih dan mengkilat seperti diminyaki dengan di sana-sini terlihat uban menghiasi. Semula saya sempat membayangkan bagaimana rambut Chandragupta yang awut-awutan itu dihuni beribu-ribu kutu atau bahkan kecoak. Namun setelah saya amati lebih cermat, ternyata sangat bersih dan mengesankan sering dikeramasi.
Waktu keanehan Chandragupta itu saya ceritakan pada Tuan Arvind, pemilik rumah di Jl. Yusuf Maherelli Nomor 867, yang kamar bagian samping rumahnya saya sewa, dia hanya tertawa dengan sorot mata seperti menertawakan ketololan saya. Tuan Arvid yang seorang tokoh modernis Islam itu kemudian menceritakan kepada saya bahwa lelaki tua bernama Chandragupta itu, sejatinya adalah orang sinting yang tak pernah diketahui dari mana asal-usulnya. Orang-orang, begitu Tuan Arvind berkisah, tak pernah melihatnya mandi atau mengambil air wudhu. Orang juga tak pernah melihatnya memakai sandal apalagi sepatu. Jubah hitam yang dipakainya selalu itu-itu juga. Kalau kebetulan dia di masjid Zakaria, orang justru sering melihatnya bicara sendiri seolah-olah mengeluhkan penderitaan hidupnya.
Dulu, begitu tutur Tuan Arvind, jamaah Masjid Zakaria pernah beramai-ramai mengusir Chandragupta karena mereka menyangka dia sebagai yogi yang kesasar dan tidur-tiduran di masjid. Namun, lanjut Tuan Arvind, si tua Chandragupta itu terus saja datang ke masjid untuk sekadar menyapu halaman atau mengepel lantai. Orang-orang di masjid akhirnya membiarkan saja Chandragupta yang tidak waras itu berkeliaran di masjid, terutama setelah dia berhasil menangkap beberapa orang yang mencuri sandal jamaah. Orang-orang bahkan merasa beroleh keuntungan dengan kehadiran Chandragupta, terutama untuk menjaga keamanan dan kebersihan masjid.
Tuan Arvind sendiri pernah memberinya uang sekadar untuk membeli makanan. Tetapi si tua sinting itu, ungkapnya, menolak dengan mengatakan bahwa dia tidak makan sesuatu dari sedekah orang-seorang. Penolakan itu benar-benar membuat kecewa Tuan Arvind, sehingga dia menganggap Chandragupta itu sebagai orang melarat yang sombong, yang tidak disukai dan dibenci Allah.
Keterangan Tuan Arvind tentang Chandragupta makin menumbuhkan tanda tanya di otak saya. Sebab sejak saya melihat keanehan Chandragupta, Sirr-i-Asrar yang sering mengelebat di pedalaman jiwa saya tidak sekalipun manifestasikan diri. Padahal keingintahuan saya tentang Chandragupta sebagai manusia yang aneh itu, saya rasakan semakin menyentak dan menarik kesadaran saya, sehingga saya seolah-olah terseret oleh suatu kekuatan tak kasat mata ke suatu dimensi asing yang sebelumnya belum saya ketahui.
Yang membuat saya sangat heran, ketika suatu sore saya mendekati Chandragupta yang sedang duduk-duduk di teras Masjid Zakaria, mendadak saja saya merasakan tubuh Chandragupta seperti memancarkan medan magnit yang kuat yang membuat tubuh saya seperti terseret sebuah arus misterius untuk mendekatinya. Anehnya, ketika saya mendekatkan tubuh saya ke tubuhnya, saya justru merasakan adanya daya getar magnet yang menolakkan tubuh saya untuk menjauh darinya. Dan saat saya memaksa untuk mendekatinya, kepala saya tiba-tiba terasa memberat. Lalu perlahan-lahan saya merasakan kepala saya yang memberat itu semakin berat dan bahkan hampir meledak terutama saat tanpa sengaja saya semakin mendekati Chandragupta, yang secara menakjubkan dari tubuhnya saya baui wangi lembut kesturi seperti yang pernah saya baui di makam Syaikh Maulana Malik Ibrahim.
Dengan kepala memberat dan hampir meledak penuh dijejali tanda tanya, saya berusaha sekuat daya mendekati Chandragupta. Tetapi saat jarak saya dengannya tinggal sejangkauan, dengan gerakan cepat seperti angin ia melesat meninggalkan saya, masuk ke dalam tempat wudhu. Dengan kepala memberat berdenyut-denyut, saya menunggunya keluar dari tempat wudhu. Tetapi sampai malam, saya tidak sedikit pun melihat bayangannya. Ini aneh, karena jalan masuk ke tempat wudhu hanya satu dan saya dari teras masjid bisa melihat siapa saja yang keluar dan masuk ke tempat wudhu itu. Bahkan saat saya masuk ke tempat wudhu itu mencari-cari Chandragupta, tak sedikit pun saya melihat bayangannya.
Pulang dari Masjid Zakaria, saya berharap bisa ketemu Chandragupta baik sengaja maupun tidak sengaja. Tapi sampai esok hari saya tidak melihat secuil pun bayangannya. Bahkan dalam tempo tiga hari saya tidak sekali pun melihatnya. Anehnya, saya tiba-tiba menjadi kebingungan seperti anak ayam kehilangan induk. Entah apa yang sedang saya alami, saya mendadak saja merasa seperti kehilangan suatu yang berharga dari dalam diri saya. Saya merasa ada rongga besar yang bersemayam di dada saya dan saya tidak bisa menutupnya. Sementara pikiran saya menjadi bingung, karena saya merasa seperti terperangkap ke suatu labirin dengan banyak jalan yang memusingkan yang penuh lingkaran setan dan jalan buntu yang membingungkan. Berhari-hari saya berkeliaran di Masjid Zakaria dengan pikiran selalu membayang-bayangkan si tua Chandragupta dengan segala keanehannya. Saya tidak tahu, kenapa saya terus memikirkan dan membayang-bayangkannya seolah-olah saya sedang membayangkan seorang gadis dalam kasmaran.
Menyadari ketidakwajaran yang saya alami, saya buru-buru berusaha mengalahkan desakan rasa ingin tahu saya terhadap si tua Chandragupta itu. Tetapi semakin saya berusaha menyingkirkannya, saya justru merasakan pikiran saya seperti ditarik oleh suatu kekuatan dahsyat yang menyentakkan seluruh jaringan kesadaran saya. Bayangan Chandragupta seolah-olah memburu ke mana pun saya pergi; Saya bahkan merasa seperti masuk ke sebuah labirin yang membingungkan yang dinding-dindingnya ditempeli foto Chandragupta dengan berbagai ekspresi; ada yang tertawa, tersenyum, meringis, mencibir, merengut, marah, menyeringai, dan sejuta ekspresi yang lain yang mengacaukan pikiran dan menegangkan jiwa saya.
Satu senja seusai sembahyang Isya', saya sengaja tidak pulang ke kamar sewaan saya yang jaraknya hanya dua-tiga ratus meter dari Masjid Zakaria. Hal itu saya lakukan, karena sekelebatan saya sempat melihat sosok Chandragupta berada di antara deretan jamaah sembahyang Isya. Dan kalau tidak salah melihat, seusai sembahyang berjamaah saya menyaksikan bayangan Chandragupta duduk-duduk di undak-undakan masjid sambil memijit-mijit kakinya.
Terus terang, sekalipun Chandragupta mengesankan sinting, saya merasakan kegentaran di hati saya setiap kali Saya berusaha mendekatinya. Oleh karena itu, sebelum mendekatinya, saya mengambil al-Qur'an dan membaca surat Yunus yang sudah saya hafal sambil sesekali saya mengamati gerak-gerik Chandragupta. Sejenak saya melihatnya menggumam sendiri seolah-olah ia memang orang edan yang berbicara pada dirinya sendiri. Dia terus menggumam seperti bicara tetapi kadang-kadang terdengar seperti orang berzikir.
Jantung saya tiba-tiba saya rasakan meletus ketika si tua Chandragupta dengan suara lantang mengulang-ulang bagian surat Yunus yang saya baca. Saya mendengar suaranya merdu dengan irama sangat mempesona. Dan jantung saya benar-benar saya rasakan seperti akan meledak ketika si tua Chandragupta mengomel keras dan mengumpati saya seolah-olah dia menyalahkan saya yang dianggapnya telah membaca al-Qur'an seenaknya.
Saya terlonjak mendekat, karena saya mengira bahwa inilah waktu yang tepat bagi saya untuk menguak misteri keanehan Chandragupta yang telah menggempur pikiran dan jiwa saya selama beberapa hari ini. Sambil buru-buru meletakkan al-Qur'an di tempatnya, dengan isi dada menggemuruh dan jantung berdebar-debar, saya melangkah mendekati Chandragupta. Entah apa yang sedang saya alami, sewaktu saya mendekati Chandragupta, saya rasakan tubuh saya sangat ringan seperti melayang-layang di angkasa tanpa gravitasi.
Menghadapi si tua Chandragupta adalah menghadapi sesuatu yang aneh, yang membuat saya seperti menghadapi suatu misteri mencengangkan. Bayangkan, biji mata Chandragupta yang melesak ke dalam cekungan kelopak matanya yang terkesan seperti orang kekurangan makan, ternyata memiliki daya tikam yang menggetarkan seolah-olah mata itu mampu menembus pedalaman saya; dagu Chandragupta yang keras ditumbuhi bulu-bulu lebat yang menggantung di rahangnya, menurut rabaan saya menunjukkan fisionomi orang dari kalangan bangsawan, apalagi kulitnya yang putih kemerahan menunjukkan bahwa dia bukanlah orang Bengali; saya menduga Chandragupta mestilah orang dari Aryawarta, yaitu Kashmir karena sepintas sosoknya yang tinggi besar mirip tokoh Bisma yang pernah saya tonton dalam serial film Mahabharat. Ya, kalau saja Chandragupta tidak tampil semrawut awut-awutan, tentu dia akan terlihat gagah dan penuh wibawa.
Berbeda dengan kesan dan penilaian orang yang cenderung menilainya tidak waras, Si tua Chandragupta pada kenyataanya adalah orang yang sangat sopan santun, begitu setidaknya penilaian saya terhadapnya saat kami berbincang-bincang di teras Masjid Zakaria meski sesekali dia membicarakan sesuatu yang tidak saya mengerti maksudnya. Tutur katanya yang lemah-lembut dan berisi, menunjukkan bahwa Chandragupta memang bukan orang kampungan. Omongannya teratur dan mendalam, menandakan dia seorang yang cerdas dan berwawasan luas. Bahasa Inggris yang digunakannya pun selama berbincang dengan saya, jauh melebihi kemampuan saya berbahasa Inggris yang saya pelajari secara otodidak.
Beberapa jenak berbincang dengan Chandragupta, saya memperoleh kesan bahwa dia memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan ilmiah. Omongannya tidak sedikitpun menyinggung soal-soal mistik apalagi yang berbau mitos. Diam-diam saya terperangkap oleh kesan bahwa di dalam kepala Chandragupta mestilah tersimpan sebuah perpustakaan mini atau seperangkat disket yang berisi jutaan data. Sebab ia seperti hafal semua hal yang kami perbincangkan mulai masalah agama, politik, sosial, ekonomi, sejarah, musik, film, sampai seni, budaya, psikologi, dan filsafat.
Diam-diam saya menyayangkan potensi luar biasa dari manusia Chandragupta yang ada di hadapan saya ini. Seharusnya, begitu menurut penilaian saya, Chandragupta bisa menjadi seorang guru besar bidang filsafat atau psikologi. Namun yang justru tidak saya mengerti, mengapa dia lebih suka menjadi gelandangan yang hidup berkeliaran dari satu masjid ke masjid lain. Dia tampaknya lebih menyukai hidup seperti burung yang hinggap dari satu dahan ke dahan lain daripada hidup terhormat sebagai ilmuwan. Bahkan saya tidak pernah tahu, apakah dengan menggelandang itu dia memiliki anak dan istri, sebab setiap kali saya melihatnya, dia selalu terlihat sendirian seperti seorang yogi pengembara yang berjalan membawa buntalan kecil yang entah apa isinya.
Chandragupta memang manusia sinting yang aneh. Siapapun yang melihatnya mesti akan menduga dia tidak waras. Saya sendiri membayangkan, andaikata dia hidup di Surabaya, tentulah dia akan disebut "Kiai Sudrun" atau bahkan "Kiai Gendeng" karena dia memang seperti orang tidak waras. Bagi Saya sendiri, sebutan "kiai" memang cocok untuk Chandragupta yang begitu mendalam pengetahuan agamanya apalagi dia hafal al-Qur'an di luar kepala. Yang tidak habis saya pikir, justru penampilannya yang sepertinya disengaja menimbulkan kesan bahwa dia adalah manusia yang tidak waras, meski pada kenyataannya dia begitu cerdas dan berpengetahuan luas.
Membayang-bayangkan Chandragupta dan mengaitkannya dengan keberadaan saya, diam-diam membuat saya merasa ngeri sendiri. Apakah satu ketika nanti Saya akan menjadi manusia sinting seperti dia? Bukankah sekarang ini saja orang-orang sudah menganggap saya sebagai orang sudrun bernama Sudrun? Apakah Chandragupta dulu awalnya mengalami proses ke-sudrun-an seperti saya?
Semakin membayangkan dan memikirkan Chandragupta, tanda tanya semakin mengganas di otak saya; Chadnragupta yang selalu berjalan sendiri; yang selalu menggumam sendiri; yang selalu memijit-mijit kakinya sendiri, seolah-olah dia hidup dari dan untuk dirinya sendiri. Boleh jadi, karena penampilan yang seperti itu, maka orang mencari gampangnya saja dengan mengatakan bahwa dia adalah orang gila. Anehnya, si tua Chandragupta kelihatannya cukup puas dengan anggapan itu. Buktinya, ia tidak suka didekati orang lain. Dia juga tak mau diberi sedekah orang lain. Ia tidak pernah menggubris orang lain sebagaimana orang lain tidak menggubris keberadaan dirinya.
Rupanya, seperti yang sudah saya duga sebelumnya, Chandragupta memiliki insting yang sangat kuat dan mata batin yang sangat tajam sehingga dia bisa memantau gerak dan kilasan tanda tanya di benak saya. Dan seperti menyindir kecamuk pikiran yang bergalau di benak saya, Chandragupta berkata sambil mengutip cerita-cerita, yang kalau dirangkai kira-kira seperti ini:
"Camkanlah akan satu kisah, wahai Sudrun, bahwa di satu siang ada seekor anjing yang mendekati seorang sufi. Anjing itu menggeser-geserkan kepalanya ke jubah sang sufi. Dan tanpa bilang bah atau buh lagi, sang sufi pun mengambil sepotong kayu dan menghajar anjing itu sampai si anjing babak belur."
"Anjing itu pun mendatangi Syaikh-i-Akbar dan melaporkan akan halnya yang teraniaya. Syaik-i-Akbar yang bijak pun bertanya kepada si anjing, mengapa dia sampai mendekati sang sufi yang kejam itu. Si anjing pun mengatakan bahwa dia tidak menduga sama sekali bahwa orang sufi itu akan menghajarnya, karena dia beranggapan bahwa setiap orang yang memakai pakaian darwis adalah orang sufi yang penuh kasih sayang dan kebijaksanaan. Tahukah engkau akan makna tersembunyi di balik kisah ini?"
"Saya mengerti," sahut saya manggut-manggut, "Rupanya anjing itu terperangkap oleh penglihatan inderawi yang keliru, di mana dia menganggap setiap orang yang berpakaian darwis mesti seorang sufi yang bijak dan penuh kasih sayang. Anjing itu adalah simbol dari orang yang cenderung melihat sesuatu dari bentuk luar sehingga menyesatkan."
Chandragupta terkekeh-kekeh mendengar kesimpulan saya. Kemudian sambil manggut-manggut dia bercerita lagi, seperti ini:
"Renungkanlah kisah Khidir waktu datang di sebuah kota, di mana Khidir memberi peringatan kepada seluruh penduduk kota bahwa di satu saat yang tidak lama lagi akan terjadi satu bencana hebat. Bencana hebat itu, menurut Khidir, adalah berubahnya air dari kemurniannya sewaktu terkena cahaya matahari yang sudah berubah, di mana orang-orang yang meminum air di kota itu akan menjadi gila. Khidir tidak memberitahu penduduk kapan perubahan matahari dan air itu akan terjadi. Dia hanya mengatakan 'suatu saat yang tidak lama lagi' kepada penduduk."
"Seorang sufi yang arif begitu mendengar wasiat Khidir, buru-buru berusaha sekuat tenaga  untuk menyimpan air di dalam gua dalam gentong-gentong agar tidak terkena cahaya matahari. Hari-hari dilewati tanpa sedikit pun dia pernah minum air di kotanya. Dia selalu minum air dari gentong-gentongnya di dalam gua meski untuk itu dia harus berjalan cukup jauh ke gua yang terletak di gunung itu."
"Satu ketika, perubahan air pun terjadi. Seluruh penduduk kota mendadak mengalami gila massal setelah minum air yang terkena cahaya matahari, kecuali orang sufi yang minum air simpanannya yang di dalam gua. Tetapi betapa kagetnya orang sufi itu ketika dia kembali di kota dan mendapati penduduk yang gila massal itu justru menuduhnya gila. Ya, seluruh penduduk kota yang telah menjadi gila itu beramai-ramai menuduh orang sufi itu telah gila karena mendalami ilmu gaib yang membuat pikiran dan jiwanya tidak waras alias gila."
"Orang sufi yang arif itu dengan kebingungan mencoba menjelaskan akan halnya kepada seluruh keluarga dan kerabat serta kawan-kawannya. Tetapi, semua orang tetap menganggapnya sebagai orang gila yang tidak bisa diajak berkomunikasi karena omongan dan perilaku si sufi tidak lagi bisa dimengerti. Demikianlah, seluruh penduduk kota itu pun menjuluki si sufi dengan gelar: darwis majnun."
"Akhirnya, si orang sufi yang semasa hidupnya selalu dipuji-puji dan dihormati oleh seluruh penduduk kota itu menjadi terguncang. Dia menjadi bimbang dengan apa yang pernah diwasiatkan Khidir.
Lalu dia pun dengan serta-merta pergi ke dapur rumahnya untuk meminum air yang sama dengan yang diminum oleh warga kota. Baru seteguk meminum air, sufi itu pun menjadi gila. Tetapi penduduk kota justru menyambutnya dengan sukacita dan menganggapnya telah sembuh dari pengaruh jahat ilmu gaib. Nah, mengertikah engkau dengan makna kisahku ini?"
Beromong-omong secara bebas dengan Chandragupta, ternyata memberikan pengalaman baru yang menakjubkan yang sebelumnya belum pernah saya alami. Entah bagaimana prosesnya, selama beromong-omong itu saya merasakan semacam keanehan menyerbu kesadaran saya. Tanpa saya sengaja, tiba-tiba saya menyadari bahwa apa yang selama ini saya peroleh dari masyarakat dengan gelar "sudrun" pada dasarnya memiliki makna yang amat dalam bagi perjalanan hidup saya. Chandragupta, yang melihat sesuatu bukan lagi dari wujud fisik melainkan dari wujud hakiki yang tersembunyi di balik makna esensi dan eksitensi sesuatu, dengan gamblang membongkar secara utuh seluruh rahasia yang tersembunyi di dalam relung-relung terdalam kehidupan saya. Lalu sambil bergurau dia membicarakan manusia-manusia terkutuk yang berpura-pura sembahyang di masjid tetapi niatnya mencuri sandal dan sepatu; dia bercerita tentang Tuan Vi Jay, pengusaha kaya raya yang suka membagibagikan sedekah kepada para gelandangan dan orang miskin, sejatinya telah melakukan perbuatan yang sepintas tampak mulia tetapi sebenarnya berisi kebusukan.

"Bagaimana sampean bisa menilai orang seperti itu?" tanya saya heran, "Bukankah sampean tidak tahu niat yang tersembunyi di dalam hati Tuan Vijay saat membagi-bagi sedekah?"
Mendengar pertanyaan saya, Chandragupta hanya tertawa terkekeh-kekeh seperti hendak memperlihatkan giginya yang putih berkilat dan tidak satu pun rontok oleh usia tuanya. Sekilas memandang dia terkekeh, saya merasakan suatu perubahan memancar dari wajah Chandragupta seolah-olah wajah Chandragupta pernah saya kenal, tapi saya tak tahu wajah siapa itu. Kemudian, dengan masih terkekeh, dia mengatakan bahwa kalau saya mau belajar membaca pikiran seseorang sebenarnya lebih mudah daripada membaca dan menyadari keberadaan diri sendiri.
Ketika saya sedang berpikir tentang ungkapan-ungkapan Chandragupta sekitar proses membaca pikiran orang lain, tiba-tiba saja dia sudah mengalihkan pembicaraan dengan menyinggung-nyinggung Salman Rusdhie, pengarang goblok yang novelnya menggegerkan dunia karena dengan vulgar menghina Nabi Muhammad SAW. Chandragupta mengatakan bahwa Salman Rusdhie adalah salah satu makhluk yang sudah "diselewengkan" citra kebenarannya dari sirath yang lempang. Dan orang macam Salman Rusdhie, begitu Chandragupta bicara, tidak akan bisa diberi petunjuk oleh siapa pun sekalipun ada nabi turun untuk menyadarkannya.
Salman Rusdhie adalah sesat, begitu kata Chandragupta, terlepas apakah dia dibayar atau tidak dalam menuliskan novel itu. Di India ini, lanjut Chandragupta, orang memang mudah sekali dibayar untuk berbuat sesuatu yang paling tidak masuk akal sekalipun. Satu saat, tutur Chandragupta, muncul orang yang mengaku nabi; setelah menimbulkan perpecahan umat, barulah diketahui bahwa dia adalah nabi palsu yang dibayar kolonialis Inggris untuk memerankan badut-badutan yang bertujuan memecah belah umat Islam yang saat itu sedang giat-giatnya berjuang melawan kolonialisme Inggris.
Chandragupta sendiri mengaku bahwa kehidupan yang dilewatinya sekarang ini yang mengesankan ke-senewen-an, sebenarnya berawal dari ketidakpahamannnya terhadap hakikat hidup yang tergelar atas hidupnya dan atas hidup orang-orang di sekitarnya. Dia merasa bahwa kehidupan di dunia ini penuh dengan ketidakadilan, di mana yang kuat menindas yang lemah dan yang pintar menipu yang bodoh. Dia melihat bagaimana manusia seperti tanpa harga bergelimpangan di pinggir-pinggir jalan di Calcutta dan Bombay. Dia melihat suatu sindikat penculik anak-anak, di mana anak-anak yang diculik itu kemudian dibunuh dan dikuliti serta dikelupas dagingnya sampai tersisa tulang belulang; lalu tulang-belulang itu ditata sedemikian rupa menyerupai kerangka manusia untuk kemudian dijual di sekolah-sekolah dan universitas-universitas sebagai penunjang pelajaran anatomi. Mayat-mayat orang terlantar yang bergelimpangan di trotoar jalan tidak luput dari sindikat perdagangan tulang kerangka manusia yang memunguti mayat-mayat malang itu lalu menguliti, mengelupas daging dan menata tulang-belulangnya sebagai kerangka manusia untuk dijual di sekolahsekolah dan universitas-universitas.
Dengan berbagai kejadian mengerikan yang pernah dilihatnya itu, Chandragupta kemudian menggugat keadilan dunia. Dia mulai mempertanyakan keadilan Tuhan, bahkan dia mengaku sempat tidak mempercayai kalau Tuhan itu Ada. Tetapi, desakan rasa kemanusiaan yang mengalir dari lubuk jiwanya terdalam itu akhirnya menuntunnya untuk menemukan pancaran Ilahi di tengah kegelapan jiwanya. Rupanya, keikhlasannya untuk memikirkan kehidupan di luar dirinya telah membuka selubung misteri keimanannya untuk bisa melihat cahaya Ilahi. Dan berdasar pengalaman hidupnya, Chandragupta memiliki keyakinan bahwa selama orang masih memikirkan kepentingan diri sendiri, maka orang semacam itu belum bisa melihat rahasia Kebenaran Ilahi.
Sayang sekali, Chandragupta tidak pernah mau mengungkapkan asal-usulnya. Dia hanya mengatakan bahwa dirinya pun sekarang masih belum tahu dari mana dia berasal dan hendak ke mana sesudah kehidupan di dunia ini. Saya tersentak dengan uraian Chandragupta yang nadanya seperti menyindir saya, tapi dia pun membincang lagi soal Salman Rusdhie dan kehidupan di India yang penuh liku-liku mengerikan.

Perbicangan dengan si tua Chandragupta yang saya anggap bisa menguak cakrawala pemahaman saya terhadap kehidupan, mendadak saja terpenggal bersamanya hilangnya Chadragupta dari peredaran hidup sehari-hari. Berhari-hari saya menunggu di teras Masjid Zakaria untuk menjumpainya agar kami bisa berbincang barang sebentar. Tapi bayangannya sedikit pun saya tidak melihat. Chandragupta seolah-olah menghilang ditelan bumi.
Saya sendiri merasa heran, bahwa perjalanan saya ke tanah India yang seyogyanya untuk melihat-lihat tempat wisata seperti yang pernah saya lihat dalam film dan televisi, ternyata membuat saya sibuk mengurusi Chandragupta. Untungnya, sejak awal datang di Bombay saya sudah menyatakan kepada Debendra bahwa saya tidak akan merepotkannya, sehingga saya membutuhkan tempat tersendiri. Semula Debendra menganjurkan agar saya menginap di hotel, tetapi saya bilang bahwa saya lebih suka jika bisa menyewa sebuah kamar di suatu rumah yang letaknya tidak jauh dari masjid. Demikianlah, Debendra menyewakan kamar untuk saya di sebelah rumah Tuan Arvind yang terletak di Jl. Yusuf Meheralli nomor 867.
Selama tinggal di rumah Tuan Arvind, Debendra memang beberapa kali datang menjenguk saya, tetapi tidak pernah ketemu karena saya sedang keluar. Rupanya dia mengira saya sedang keluyuran untuk meihat-lihat objek wisata di India. Padahal, kalau dia tahu bahwa saya sedang sibuk dengan si tua Chandragupta tentulah dia akan kecewa, karena saya jauh-jauh ke India ternyata hanya untuk berakrab-akrab dengan seorang lelaki yang dianggap sinting.

Keinginan saya untuk berjumpa dengan si tua Chandragupta makin lama saya rasakan semakin mengganas dan mencakari jiwa saya. Satu saat, saya menceritakan kepada Tuan Arvind sekitar perbincangan saya dengan Chandragupta, dengan harapan dia mau memberikan keterangan mengenai siapa sejatinya lelaki tua misterius itu. Tetapi Tuan Arvind justru menertawakan saya dan menganggap saya terlalu mengada-ada untuk mengubah citra kesintingan Chandragupta. Tuan Arvind bahkan mengatakan, bahwa seandainya Chandragupta bisa terbang ke angkasa pun dia akan tetap menganggapnya sebagai manusia tidak waras.
Karena saya melihat bahwa Tuan Arvind tidak terpengaruh sedikit pun oleh uraian saya mengenai keanehan Chandragupta, maka saya pun memutuskan untuk mencari lelaki tersebut sendirian. Beberapa surau dan masjid kecil saya masuki dengan harapan, siapa tahu saya bisa berjumpa dengan Chandragupta. Bahkan kalau dihitung pun tak kurang dari tiga kali saya harus pulang balik dari Masjid Zakaria di Jl. Yusuf Mehellan ke Masjid Juma di Jl. Abdul Rahman yang jaraknya sekitar satu atau dua kilometer. Namun sedemikian jauh, tidak satu pun orang yang saya tanyai mengetahui di mana Chandragupta berada.
Komunikasi saya dengan orang-orang di Bombay rasanya cukup lancar, karena bagaimana pun orang-orang India lebih menguasai bahasa Inggris daripada orang-orang Indonesia. Dari sopir sampai siswa sekolah, bahasa Inggris mereka cukup lumayan apalagi logat mereka lebih memudahkan saya untuk menangkap ucapan mereka. Anehnya, dalam beberapa waktu saja saya sudah bisa ngomong campur-aduk antara bahasa Inggris dan sepotong-sepotong bahasa Urdu.
Dalam pencarian saya atas Chandragupta ternyata ada juga orang yang diam-diam memperhatikan saya. Dia mengaku sebagai seorang penasehat hukum dan selalu memperhatikan saya. Orang itu mengaku bernama Ahmed Bushra berusia sekitar tiga puluh tahunan.
Dalam perbincangannya Ahmed Bushra menceritakan kepada saya, bahwa dia memang pernah melihat keanehan Chandragupta barang dua-tiga tahun silam di Masjid Juma. Ketika itu, tutur Ahmed Bushra, dia melihat seorang mullah bersalaman sambil mencium punggung tangan Chandragupta. Jamaah masjid tidak ada yang memperhatikan kejadian yang secara tak sengaja dilihat oleh Ahmed Bushra tersebut. Saat itu, tuturnya, dia beranggapan bahwa Chandragupta yang penampilannya mirip yogi itu tentulah orang luar biasa. Sebab, dia berpikir bahwa tidak mungkin seorang mullah mencium tangan seseorang kalau orang tersebut tidak memiliki tingkat ruhani yang tinggi.

Ahmed Bushra menceritakan bahwa sejak kejadian itu, diam-diam dia terus mengintai semua gerak-gerik Chandragupta dengan mengikuti kegiatannya dari satu masjid ke masjid yang lain. Tapi, begitu Ahmed Bushra mengaku, makin lama dia mengamati gerakgerik Chandragupta makin yakinlah dia bahwa lelaki tua itu adalah orang yang tidak waras. Ahmed Bushra mengaku sering mendapati perilaku Chandragupta yang tidak bisa diterima oleh nalar manusia waras. Anehnya, setelah mengecam Chandragupta, Ahmed Bushra menceritakan kehidupan pribadinya yang membosankan seolah-olah persoalan Chandragupta dianggapnya sudah selesai. Dan saya melihat bias kepuasan memendar dari matanya manakala saya kelihatan tertarik oleh ceritanya yang kelihatan sekali dibuat-buat.
"Pokoknya, kalau sampean tanya sama kalangan praktisi maupun pengamat hukum di Bombay, mereka pasti kenal saya," kata Ahmed Bushra mulai berkisah tentang kehebatannya, "Saya adalah pendiri Perhimpunan Mahasiswa Fakultas Hukum di Bombay. Karena itu, kalau sampean punya kasus boleh menghubungi saya, semuanya dijamin pasti beres. Asal sampean tahu saja, bahwa hukum di sini adalah hukum rimba, dalam arti siapa kuat dia menang. Dan asal sampean tahu kuat di sini adalah menyangkut masalah uang."
"Kalau begitu, hukum di sini adalah hukum yang pandang bulu," sahut saya heran dengan memandangi Ahmed Bushra yang telah bicara seenaknya terhadap orang asing seperti saya.
"Hei, mana ada hukum yang tidak pandang bulu?" tanya Ahmed Bushra menatap saya dengan pandangan heran.
"Ada hukum yang tidak pandang bulu. Sampean rupanya hanya melihat hukum yang dijalankan di tempat sampean hidup," kata saya menjelaskan, "Kalau saja sampean membaca buku sejarah, maka di negeri saya pernah ada sebuah negara bernama Kalingga yang dipimpin Ratu Sima. Beliau terkenal sangat adil dan bijaksana. Hukum berlaku untuk siapa saja, tanpa pandang bulu. Bahkan suatu ketika anak Sri Ratu yang bernama Ketut Emas, dipotong kedua kakinya karena bersalah terhadap negara."
"Sampean juga perlu membaca kisah Sayyidina Ali, ketika beliau diangkat menjadi khalifah. Waktu itu, Sayyidina Ali secara tak sengaja melihat pakaian perangnya yang hilang dalam pertempuran berada di rumah seorang Yahudi. Nah, sekalipun beliau waktu itu menjadi khalifah, tetaplah beliau mematuhi peraturan dengan melapor kepada hakim di pengadilan tentang pakaian perangnya itu."
"Oleh hakim pengadilan, Sayyidina Ali dan Yahudi itu didatangkan dalam sebuah sidang peradilan. Karena Sayyidina Ali tidak mempunyai saksi-saksi dan tidak bisa membuktikan bahwa zirah baju perang di rumah Yahudi itu adalah miliknya, maka pihak pengadilan pun memutuskan bahwa Sayyidina Ali kalah. Gugatannya ditolak. Dan beliau menerima dengan ikhlas keputusan pengadilan itu, meski beliau seorang kepala negara. Nah, bukankah dua kisah itu menunjukkan bahwa ada hukum yang tidak pandang bulu?"
"Itu zaman baheula, kawan," sergah Ahmed Bushra dengan suara tinggi, "Sekarang ini, mana ada hukum yang tidak pandang bulu?"
Saya merenung-renung dan otak saya memutar-mutar untuk membaca dunia perhukuman internasional. Saya pun memang tidak mendapati ada negara yang terbebas dari hukum pandang bulu. Bahkan Amerika Serikat yang dikenal sebagai kampiun demokrasi pun, dalam soal Iran–gate lebih banyak bungkam; karena yang tertangkap basah dalam skandal tersebut orang-orang yang banyak bulunya.
Setelah saya merenung agak lama dan tak menemukan jawaban, maka saya pun bertanya, "Menurut hemat sampean, kalau hukum pandang bulu diterapkan, siapakah yang akan memperoleh keuntungan?"
"Tentu saja mereka yang banyak memiliki bulu," ujar Ahmed Bushra berseloroh, "Mereka yang banyak bulu itu misalnya, monyet, anjing, tikus, serigala, clurut, dan yang lainnya."
Kami tertawa terkekeh-kekeh. Dan kami makin terpingkal-pingkal ketika kami berbincang tentang hukum yang pandang bulu di berbagai negara. Rupanya, Ahmed Bushra memiliki rasa humor yang tinggi meski omongannya terkesan membual dan nggedablus.

Ahmed Bushra sendiri menceritakan bahwa ia sejak kecil memiliki kegemaran main perempuan. Oleh sebab itu, ketika dia duduk di bangku SMP sudah sering menginap di komplek pelacuran. Dan sejak SMP, akunya, ia sudah banyak mencicipi kegadisan kawan-kawan sekolahnya yang hal itu terus berlangsung sampai dia di SMA dan kuliah. Dia mengaku kuliah di Bombay University dengan mengambil jurusan hukum tata negara, tetapi pada semester keempat dia dipecat gara-gara kasus obat bius. Setelah itu dia mengaku kuliah di Maharasthra University, sebuah universitas swasta dengan mengambil jurusan hukum pidana. Bahkan dengan pongah dia mengatakan akan melanjutkan kuliah ke Amerika.
Kesan saya bahwa Ahmed Bushra adalah seorang pembual ternyata tepat. Dia rupanya mengidap semacam penyimpangan jiwa yang berkait dengan bohong-membohong, di mana dia akan merasakan tubuhnya panas dingin apabila sehari tidak berbohong. Saya melihat betapa omongannya saling berbenturan satu dengan lainnya, sehingga makin lama saya berbicara dengannya, makin tahulah saya bahwa dia adalah makhluk pendusta kelas wahid di dunia. Karena itu saya berkesimpulan, bahwa Ahmed Bushra sebenarnya bukan orang pintar. Dia cuma pintar bicara, lihai membuat dan piawai berdusta. Yang makin meyakinkan saya bahwa Ahmed Bushra adalah seorang pengidap penyakit jiwa kelas berat yang terkait dengan kuman-bakteri-virus bohong-berbohong, adalah sikapnya yang sangat tenang ketika kebohongan yang dilakukannya terbongkar. Dengan ekspresi tidak merasa bersalah, dia akan berbicara apa adanya tentang kebohongannya dengan usaha licin membelokkan permasalahan dengan dilengkapi kebohongan-kebohongan baru. Diam-diam saya merasa kasihan kepada Ahmed Bushra yang terperangkap pada labirin kedustaan di dalam jiwanya yang terdalam, yang membuatnya seperti seekor tupai yang berlari dalam sangkar putar; dia menganggap bahwa dirinya telah mengecap kebenaran dan kebebasan di alam realitas, padahal sejatinya dia hanya berputar-putar dalam pusaran sangkar kebohongannya sendiri yang tanpa akhir.
Dalam pertemuan selanjutnya, omongan Ahmed Bushra makin ngelantur dan sembrono. Dia mulai bicara soal perempuan-perempuan yang ahli di bidang seks Kamasutra, yang servisnya tak kalah dibanding Pamela Bordes, yaitu pelacur India yang beroperasi di Inggris, tetapi tarifnya jauh lebih murah. Saya tentu saja tidak menggubris omongannya yang gila itu, karena saya datang ke Bombay memang tidak untuk mencari pelacur.
Meski sudah kurang tertarik, omongan Ahmed Bushra pada akhirnya menarik hati saya juga, terutama ketika dia berbicara soal praktik jual beli budak di Bombay. Dengan hanya beberapa ribu rupee, katanya, saya akan bisa memperoleh perempuan cantik berstatus budak yang bisa diperlakukan apa saja termasuk digarap seperti pelacur. Entah benar entah tidak omongan Ahmed Bushra, tiba-tiba saya teringat pada praktik perbudakan di Surabaya, di mana dengan uang dua ratus ribu, orang-seorang bisa menebus seorang budak perempuan yang secara formal diberi istilah "babu" atau istilah kerennya TKW yang akan diperdagangkan di luar negeri. Budak-budak malang itu tidak menuntut terlalu banyak dari orang yang membeli dan memeliharanya, karena dia hanya butuh uang dua ribu rupiah setiap hari untuk makan dan setelah itu dia merelakan dirinya diperlakukan apa saja oleh sang majikan. Bursa budak itu sendiri, setahu saya, mengambil gadis-gadis dari berbagai desa dengan janji muluk-muluk untuk bekerja di kota metropolitan atau di luar negeri.
Terus terang, sekalipun saya tertarik dengan kisah perbudakan yang dikemukakan Ahmed Bushra, saya tidak ingin melihat lokasi penampungan budak-budak yang menurut informasi terletak di salah satu sudut paling kumuh dari kota Bombay. Penolakan saya itu, lebih dikarenakan rekaman ingatan tentang pemandangan yang pernah saya saksikan di lokasi penampungan budak-budak di Surabaya beberapa tahun lalu, sudah cukup menyiksa perasaan saya seumur-umur. Ya, ketika itu saya lihat beratus-ratus orang gadis berjongkok di suatu lokasi perumahan yang tertutup, di mana calon pembeli dengan diantar calo-calo dan tukang kepruk berjalan hilir mudik meneliti satu demi satu budak perempuan yang akan dibelinya. Menurut salah seorang tukang kepruk yang ada, gadis-gadis itu sejatinya sudah tidak perawan lagi karena sebelum masuk ke penampungan sudah digarap terlebih dulu, baru kemudian dijual. Sedang pembeli yang menginginkan gadis yang masih perawan, harus memenuhi tawaran harga yang lebih tinggi.
Gadis-gadis budak bertubuh kurus dengan mata cekung itu, menurut cerita, hanya diberi makan dua hari sekali dengan cara dilempari nasi bungkus. Seperti kawanan hewan lapar menyantap mangsa, dengan sangat rakus gadis-gadis yang sudah kelaparan itu merangsak nasi bungkusan yang akan lenyap dalam tempo beberapa menit itu. Sungguh malang, gadis-gadis yang diperlakukan seperti makhluk-makhluk betina itu dibinatangkan laksana hewan dalam kerangkeng, di mana para tukang kepruk berwajah sangar tanpa segan-segan akan menghajar mereka apabila diketahui mereka berbuat hal yang tidak menyenangkan atau berusaha kabur.
Menurut salah seorang calo budak bernama Mat Koneng, sebagian gadis-gadis budak itu akan diekspor ke Saudi Arabia dengan diberi status TKW–Tenaga Kerja Wanita–meski hakikatnya mereka itu budak dan akan diperlakukan sebagai budak oleh badui-badui Arab. Bahkan menurut Mat Koneng lagi, penduduk Saudi Arabia sudah membeli budak kepada perusahaan-perusahaan pengerah tenaga kerja wanita dengan memberi uang muka sebagai indent. Tapi oleh perusahaan-perusahaan pengerah jasa tenaga kerja wanita uang beli budak itu ditelan sendiri. Para budak yang akan bekerja ke Saudi Arabia dengan status TKW, justru disuruh membayar sejumlah uang sebagai bayaran jasa bagi perusahaan. Jika tidak bisa membayar sejumlah uang yang ditentukan, maka gadis-gadis itu harus rela menjadi budak yang dengan sukarela menerima diperlakukan semau-maunya oleh juragan yang membelinya.
Terus terang, saya sangat terpukul dengan kejadian menyangkut nasib malang gadis-gadis budak yang mengalami nasib seperti film serial televisi Isaura itu. Saya diam-diam berencana untuk menghancurkan praktik perbudakan terkutuk yang memakai selubung nama perusahaan pengerah TKW itu. Tapi di tengah jalan saya menjadi ragu-ragu untuk melaksanakan niat tersebut. Bukan karena apa saya ragu, saya hanya belum menemukan dasar-dasar hukum Islam yang secara syar'i menghapus perbudakan. Saya hanya melihat bahwa Islam memiliki konsep yang sangat berbeda tentang budak dibanding konsep perbudakan yang dianut manusia seumumnya. Bahkan Islam menghukumi dengan tegas bagi kemudahan para budak untuk memperoleh kemerdekaannya (QS. an Nisa: 92, al-Maidah: 89, al-Mujadilah: 30, al-Balad: 13), tapi saya belum mendapati ketentuan hukum Islam yang dengan tegas-tegas menghapus perbudakan.
Dalam keraguan saya, akhirnya saya putuskan untuk mendalami masalah budak-berbudak secara riil, di mana saya harus meneliti secara cermat kasus demi kasus menyangkut nasib budak malang itu. Dengan uang sebesar dua ratus ribu rupiah, lewat calo Mat Koneng, saya membeli seorang gadis budak bernama Sarimoi yang saya pilih secara acak. Tanpa bicara ba bi bu, saya ajak Sarimoi itu keluar dari penampungan dan saya titipkan di rumah Sarip, kawan sekolah saya, untuk sementara. Kepada Sarimoi saya berikan pilihan alternatif agar dia mencoba hidup baru dengan berdikari menjadi pedagang kaki lima, tentu saja dengan modal dari saya. Dengan mata berbinar, Sarimoi kelihatan bernafsu menerima tawaran saya dan siap menjalankan petunjuk-petunjuk dari saya.
Dengan modal seratus ribu rupiah dari pemberian saya, Sarimoi mulai merintis usaha mandiri dengan berjualan sandal dan sepatu murahan di Pasar Turi. Setiap hari saya datang untuk sekadar memantau perkembangan dagangannya sambil sesekali memberi petunjuk bagaimana mengelola manajemen dagang sandal secara gampang-gampangan. Dua minggu, saya melihat ada perkembangan menggembirakan ketika Sarimoi kulakan sandal dan sepatu. Sewaktu saya tanya tentang keuntungan, Sarimoi menyatakan sudah dapat untung sekitar tiga puluh ribu rupiah selama berjualan dua minggu. Saya berharap, bulan depan dagangan Sarimoi bisa berkembang lebih besar karena modalnya sudah bertambah.
Tetapi harapan tinggal harapan. Ketika saya pergi ke Jakarta untuk suatu urusan, dan tiga minggu kemudian saya datang lagi ke Surabaya, ternyata saya tidak melihat lagi batang hidung Sarimoi. Saya sempat menduga, jangan-jangan Sarimoi mengalami kebangkrutan karena selama tiga minggu tidak ada yang memberinya petunjuk bagaimana mengelola dagangannya. Namun betapa terkejutnya saya ketika mendapat kabar bahwa Sarimoi berada lagi di sebuah tempat penampungan tenaga budak yang akan menjualnya ke luar negeri. Sewaktu saya membuktikan kabar itu, saya dapati Sarimoi dipajang sebagai calon babu berstatus TKW.
Pada saat melihat saya, dengan gemetaran Sarimoi mendekat dan berlutut di hadapan saya dengan air mata bercucuran. Dengan suara tersendat-sendat ia menuturkan, betapa selama saya tinggal pergi ke Jakarta, ia mengalami kerugian besar tak tertanggungkan karena dagangannya diobrak-abrik dan dirampas oleh pasukan tramtib, yang mengakibatkannya bangkrut. Sebagai perempuan tak berdaya dan tidak pandai, Sarimoi mengaku tidak melihat kemungkinan untuk mencari pekerjaan lain selain memasuki lingkaran perbabuan yang sudah diketahuinya, yaitu kembali menjadi gadis berstatus budak yang bisa diperlakukan apa saja dan oleh siapa saja yang berkenan membelinya.
Berbagai pengalaman yang saya alami sehubungan dengan lingkaran perbabuan dan perbudakan pada gilirannya menginsyafkan saya bahwa bagaimanapun aneh dan tidak masuk akal, sejatinya tiap-tiap manusia memiliki kumparan nasib sendiri. Ada manusia yang dikodratkan sebagai penguasa bagi yang lain, di mana mereka itu memiliki kodrat menjaga keseimbangan kehidupan dengan memberikan sebagian kelebihan yang dimilikinya kepada orang lain. Sementara itu ada pula manusia yang dikodratkan sebagai budak yang tidak bisa hidup apabila tidak dikuasai oleh orang lain.
Mereka yang terakhir ini ibarat sapi perah yang justru merasakan kepuasan puncak apabila diperah dan akan menjadi sakit jika tidak diperah.
Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa adanya ayat-ayat yang menyangkut perbudakan, yatim-piatu, orang miskin, shadaqah, infak, zakat menunjukkan bahwa apa yang ditetapkan Allah dalam al-Qur'an memang sudah menjadi hukum alam atau sunnatullah dari kodrat kehidupan. Perbedaan adalah hal yang esensial dan paling eksistensial dari kehidupan, ibarat perbedaan dasar sungai yang tidak rata yang menjadikan air sungai bisa mengalir ke laut, yang hal itu tampaknya berlaku juga dalam kehidupan manusia dan hewan serta isi semesta dengan berbagai perbedaannya ini. Itu artinya, sekalipun dunia sudah mengalami kemajuan teknologi hingga manusia mencapai luar angkasa, toh kemiskinan dan penindasan serta penghisapan manusia satu atas manusia lain tetap saja berlangsung. Kalaupun perbudakan secara formal telah dihapus karena dianggap tidak sesuai dengan kaidah-kaidah kemanusiaan universal, maka dalam praktik, perbudakan tetap ada di berbagai belahan bumi dengan berbagai manifestasinya baik yang dilakukan terang-terangan maupun yang terselubung.
Pemikiran saya tentang makna perbedaan sebagai bagian yang esensial maupun yang eksistensial dari kehidupan, mungkin akan menambah kualitas gelar ke-sudrun-an saya. Tapi saya tidak peduli dituding sebagai orang sudrun atau gendeng sekalipun, karena saya yakin apa yang termaktub di dalam al-Qur'an adalah nilai universal yang tidak berubah oleh gempuran zaman. Saya tidak perlu melihat ajaran Islam dari kacamata humanisme, sosialisme, pragmatisme, universalisme, dan setumpuk isme-isme yang lain, tetapi Islam harus saya pandang dari Islam, sebab Islam tidak bisa diotak-atik dengan seperangkat isme-isme yang dewasa ini dianut banyak orang. Islam tidak bisa dikurangi atau ditambah agar selaras dengan isme-isme yang ada. Islam adalah Islam: Kalaam-i-Nafsi sekaligus Kalaam-i-Lafdzii yang haq yang kebenarannya tidak dibatasi ruang dan waktu.
Apa yang pernah dikatakan ruh di makam Syaikh Maulana Malik Ibrahim bahwa sesungguhnya tiap sesuatu sudah diatur dalam kesempurnaan oleh Allah, pada gilirannya memang terbuka bagi saya setelah berbagai pengalaman saya lewati. Tetapi saya pun yakin bahwa apa yang telah ditetapkan oleh Allah dengan sempurna itu tidak diketahui oleh manusia kecuali orang-orang tertentu yang dikehendaki-Nya, sehingga bagi saya orang-seorang wajib berjuang dan berusaha untuk menguji garis nasibnya sendiri. Orang tidak boleh berputus asa dan menyerah kepada garis-nasib sebelum dia mengetahui secara pasti akan keputusan garis-nasibnya. Dan bagi mereka yang tak pernah tahu garis keputusan nasibnya, wajib untuk terus berjuang tanpa kenal putus asa. Orang wajib berjuang untuk menguji apakah dirinya digariskan menjadi budak, pengemis, tukang becak, sopir, juru kunci, guru, kiai, polisi, tentara, jenderal, atau bahkan presiden. Terkutuklah orang-orang yang belum tahu keputusan takdirnya kemudian dengan satu dan lain alasan mengatakan bahwa dia tidak perlu lagi berjuang dan berusaha dalam mencapai yang terbaik dalam hidupnya di atas bumi karena nasibnya telah ditentukan oleh Tuhan.

Ahmed Bushra yang melihat saya termangu agak lama, berusaha memancing perhatian saya dengan tawarannya untuk melihat tempat budak-budak dipajang. Saya dengan tergagap buru-buru menolak dengan mengatakan bahwa saya tidak sampai hati melihat penderitaan orang lain. Ahmed Bushra terkejut dengan jawaban saya. Lalu dengan terus terang dia mengatakan jika selama ini dia telah keliru menilai saya. Menurut pandangannya, saya adalah orang yang suka dengan hal-hal yang berkait dengan kegemaran laki-laki, terutama bermain perempuan. Dia selama ini mengakui secara jujur kalau telah menganggap saya sebagai orang yang nakal yang suka meminum minuman keras, meniduri perempuan dan mencuri. Saya hanya tersenyum kecut mendengar pengakuan Ahmed Bushra yang disampaikan dengan jujur itu.
Ketika saya mulai mengalihkan kembali fokus pembicaraan sekitar si tua Chandragupta, Ahmed Bushra justru mulai berkisah tentang Baba Mirza, orang keramat yang memiliki banyak pengikut dan mempunyai kemampuan ajaib memanggil ruuh orang yang masih hidup maupun yang sudah mati. Seperti seorang juru kampanye, Ahmed Bushra membual tentang Baba Mirza seolah-olah Baba Mirza adalah seorang malaikat yang turun ke bumi, makhluk suci yang tiada tolok bandingannya. Tanpa sungkan, Ahmen Bushra bahkan menceritakan kalau beberapa orang tokoh muslim pada hari Selasa mendatang akan meminta bantuan Baba Mirza untuk memanggil ruh Salman Rusdhie.
Mendengar uraian Ahmed Bushra tentu saja saya menjadi heran, sebab saya tidak melihat keterkaitan antara Baba Mirza dengan Salman Rusdhie meski dia katakan bisa memanggil ruh penulis novel The Satanic Verses yang menggegerkan itu. Melihat keheranan saya, Ahmed Bushra langsung menceritakan bahwa diam-diam para tokoh di Bombay memang ada yang mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisi Salman Rusdhie. Namun demikian, mereka tidak pernah tahu di mana Salman Rusdhie disembunyikan Scotland Yard. Nah, dengan bantuan Baba Mirza yang bisa memanggil ruh Salman Rusdhie, mereka akan bisa mengetahui secara pasti di mana pengarang dekil yang kurang ajar itu bersembunyi. Hal itu harus dilakukan karena pembunuh bayaran yang dikirim ke London telah mengirim kawat bahwa mereka kesulitan mencari persembunyian Salman Rusdhie.
Setelah berbicara ke utara dan ke selatan, akhirnya Ahmed Bushra berjanji akan menunggu saya di Kuil Api Wadiaji yang terletrak di Jl. Jagannath Shankar Shet, tidak jauh dari jalan layang Gandhi pada waktu sore seusai sembahyang Ashar. Tetapi sebelum itu dia mengajak saya makan-makan dulu di restoran Kashmir di pusat perbelanjaan Buleshwar. Di restoran itu, melihat cara makan Ahmed Bushra saya memiliki kesan bahwa dia adalah orang rakus yang tidak terbiasa dididik dalam aturan sopan santun. Kalau orang Jawa menyaksikan cara makan Ahmed Bushra yang tidak mengikuti aturan, semua pasti akan menyatakan bahwa pengacara kampiun bohong itu adalah orang urakan!
Tanpa malu dan permisi, dengan sangat lahap Ahmed Bushra memasukkan makanan ke mulutnya yang masih penuh makanan. Kemudian dengan suara berdecap-decap seperti kuda dia mengunyah-ngunyah dengan peluh memenuhi wajahnya. Bahkan yang paling membuat saya muak, dia terus berbicara meski mulutnya sedang penuh makanan. Keadaan memuakkan itu benar-benar menghilangkan selera makan saya. Sebab, bagaimana pun saya sebagai manusia sudrun, toh kalau soal sopan santun makan tidaklah saya sampai berbuat memuakkan seperti pengacara dekil pembual itu.
Kemuakan saya pada tingkah Ahmed Bushra rasanya makin menikam perut saya ketika dia tersedak dan menghamburkan sebagian makanan yang dikunyahnya sampai tumpah ruah di atas meja. Dengan mata melotot dia menyambar gelas sambil memegangi tenggorokannya. Lalu air putih di dalam gelas itu pun ditenggaknya langsung sampai tenggorokannya menimbulkan suara yang mengiriskan hati. Mata Ahmed Bushra yang bulat itu saya bayangkan seperti akan melesat keluar dari kelopaknya ketika air minum meluncur di tenggorokannya. Suasana makan-makan itu benar-benar membuat saya muak. Dan kemuakan saya pun akhirnya menjadi kemualan ketika dengan ekspresi yang tenang seolah-olah saya ini bapaknya, Ahmed Bushra mendaulat saya agar membayar semua makanan dan minuman yang telah kami pesan dengan harga yang mencekik itu. Akhirnya, tidak ada yang bisa saya perbuat menghadapi siasat licik pendusta dekil itu selain membayar semua makanan dan minuman yang tandas tak bersisa itu, tentu dengan hati mendongkol karena merasa telah terkena tipuan orang Bombay.
Sepanjang perjalanan pulang, saya diam-diam ternyata memikirkan manusia macam Ahmed Bushra yang suka berdusta dan membual. Tanpa bias saya tahan, saya diam-diam mulai meragukan kebenaran cerita Ahmed Bushra tentang Baba Mirza. Sebab kalau Baba Mirza memang bisa memanggil ruh Salman Rusdhie, berarti dia memakai semacam ilmu exorcist atau ilmu dukun kesurupan seperti yang pernah saya lihat dipraktikkan oleh seorang dukun lepus di Purwokerto bernama Sukino Bin Paino, di mana Sukino Bin Paino itu, pernah saya taruhi uang satu juta jika dia berhasil memanggil ruh Nabi Muhammad SAW, yang dijawabnya dengan pernyataan tidak berani melakukan karena takut kualat. Entah benar entah tidak alasan Sukino bin Paino tentang ketidakberaniannya. Yang pasti, menurut saya, bukan karena apa dukun lepus itu mengaku tidak berani, tetapi latar alasan utamanya pastilah fakta yang menunjuk bahwa dia sama sekali tidak bisa ngomong dalam bahasa Arab, karena bisanya hanya dia memanggil ruh yang berbahasa Jawa dan Indonesia saja. Oleh sebab itu, kalau dia berani mengaku memanggil ruh Nabi Muhammad SAW, tentu saja kebohongannya akan terbongkar, terutama kalau dia ditanyai ini dan itu dalam bahasa Arab yang tidak bisa dijawabnya.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Tidak Ada Newyork Hari Ini

Setelah 9 tahun merantau ke Newyork, Rahwana akhirnya memutuskan untuk mudik ke kampung halamannya, tepatnya di kecamatan Alengka kabupaten Blora.Suatu pagi sehari sebelum

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SATU)

"Kalau engkau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!”Bagai kilatan cahaya petir, bisikan misterius itumembentur gugusan telinga batin saya tanpa dapat

Lebaran 2011ku

Lebaran 2011ku

pengalaman itu tak selamanya menjadi guru yang terbaik. Pagi-pagi pulang dari kerja aku langsung ke stasiun gambir untuk membeli tiket kereta buat mudik, tapi ternyata semua

Hachi

Hachi

Bila hati ini mungkin bisa di wakili oleh sebuah tempat, misal kan rumah.Rumah yang telah kau tinggalkan.Rumah yang segala perabotannya berantakan walaupun tanpa

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (LIMA BELAS)

Angin bertiup kencang menaburkan hawa maut ke segenap penjuru bumi. Gelombang samudera menggemuruh dengan suara ombak berdentum-dentum menggempur batu karang yang tegak menjulang

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEBELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEBELAS)

Malam hitam jernih dengan jutaan bintang bertaburan laksana pelita semesta dibentangkan di atas permadani semesta. Dalam hening berjuta-juta wangi mawar menaburi bumi bagai

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Matahari bersinar bersih, cahayanya membias putih di batas cakrawala yang berpendar jernih laksana pancaran kristal. Langit biru membentang bagai kubah sebuah masjid. Angin

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA BELAS)

Malam merentang laksana kubah biru dengan bintang-gemintang berkilau-kilau seperti jutaan permata ditaburkan. Sepotong rembulan sabit melengkung bagai busur direntangkan di