Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH BELAS - SELESAI)

  • 2018-09-28 11:40:41
  • 288

Malam hitam membentang diwarnai jutaan bintang yang meneteskan embun bagai langit menitikan air mata membasahi semesta. Keheningan mencekam seolah-olah menidurkan rerumputan dan belalang. Ketika jam dinding berdentang tiga kali, sayup-sayup terdengar gemuruh dzikir memenuhi seluruh bumi. Sementara dalam kegemuruhan dzikir, saya, Sudrun, mengalunkan dzikir di sudut luar masjid sambil memangku mayat Saya.
Sejak memasuki suatu pengalaman absurd yang terangkai dalam makna Nuur-i-Rahmaanii, Saya memang telah mati dalam arti Kuntum amwataan faa ahyaakum tsumma yumiitukum (QS. al-Baqarah: 28). Saya memang sudah mati, tetapi Sudrun masih hidup. Sementara rahasia keserangkaian antara saya dan Sudrun tetap tersembunyi dalam rahasia Saya. Karena itu Sudrun dan saya dengan sangat setia memikul mayat Saya ke mana-mana seolah-olah Saya adalah cikal bakal hidup Sudrun dan saya di kemudian hari. Anehnya, dengan memikul mayat Saya, Sudrun dan saya justru merasakan kehidupan menjadi sangat ringan dan tanpa beban. Sudrun dan saya tidak memiliki sesuatu kecuali mayat Saya yang merupakan titipan Tuhan untuk dipelihara sebaik-baiknya.
Kalau Sudrun dan saya shalat, Saya dimasukkan ke dalam Sudrun. Lalu saya ikut shalat bersama Sudrun dan Saya, begitu pun kalau Sudrun membaca shalawat, saya merasakan mayat Saya berada dalam ayunan kedamaian abadi.
Karena Sudrun dan saya ke mana-mana memikul mayat Saya, maka Sudrun makin lama makin Sudrun. Itu sebabnya, Saya telah mati dan Sudrun masih hidup bersama saya. Anehnya, dengan kematian Saya, Sudrun dan saya makin rajin menjalankan shalat dan shalawat. Meski begitu, Sudrun tidak lagi diper-sudrun-kan orang, meski sering kali Sudrun mengalami kejadian-kejadian yang absurd dan sulit saya nalar.
Kematian Saya ternyata merupakan suatu perubahan yang sangat besar bagi Sudrun. Sudrun yang biasanya suka keluyuran ke mana-mana mendadak lebih suka mengurung diri di rumah bersama saya atau beribadah berlama-lama di masjid-masjid bersama saya. Sudrun mendadak suka sekali mendengarkan fatwa-fatwa dari kiai seolah-olah Sudrun ingin memberikan keseimbangan antara ke-sudrun-an yang pernah dilewati bersama Saya. Sudrun benar-benar menyadari bahwa penyebab berbagai penderitaan di masa lalu adalah akibat ulah Saya; sehingga dengan kematian Saya, Sudrun seperti terbebas dari segala belenggu ke-saya-an Saya yang memenjara saya.

Sejak kematian Saya, Sudrun memang telah berubah secara penuh. Sudrun dengan perubahan itu tiba-tiba dengan mudah dimengerti meski sering juga sulit dipahami. Satu ketika Sudrun pernah mengalami suatu pengalaman absurd, di mana Sudrun dalam menangkap benda-benda di sekitar Sudrun tidak lagi sebagaimana wajarnya. Ketika lonceng berdentang tiga kali, misal, Sudrun tidak mendengar dentang itu dalam bunyi teng..teng..teng tiga kali, tetapi mendengar lafadz Allah...Allah..Allah. Dan detak lonceng itu pun didengar Sudrun sebagai lafadz suara Allah... Allah...Allah.
Jika sudah begitu keanehan terjadi, Sudrun akan berlari bersama saya ke luar sambil memikul mayat Saya. Sudrun akan tegak di tengah alam mendengarkan desau angin, nyanyian belalang, bunyi kodok, dan gemerisik dedaunan sebagai suara dzikir. Sudrun meresapi dzikir alam dengan penuh ketakjuban dan rindu hendak kembali ke asal. Dan di saat air mata Sudrun bergulir membasahi pipi, Sudrun tidak mendengar bunyi lain dari titik air mata yang membasahi pipi itu kecuali bunyi dzikir: Allah...Allah…Allah.. di mana setiap gerak dari benda-benda didengar oleh bashirah Sudrun sebagai dzikrullah; bahkan gemuruh kereta api dan deru mesin-mesin pabrik pun dalam pendengaran Sudrun adalah dzikrullah. Bahkan apabila Sudrun tengelam di tengah gemuruh dzikrullah tersebut, sering Sudrun tanpa sadar berteriak keras, "Sabbaha li'llahi maafi'ssamaawaati wa'l ardl (QS. al- Hadiid:1)."
Pernyataan Sudrun yang sedang tenggelam dalam dzikr semesta itu sering membuat orang-orang tidak mengerti dan menuduh Sudrun sebagai manusia sudrun. Tetapi, Sudrun sering tanpa sadar menggumam, "Fa-ainama tuwallu fa-tsamma wajhu'llah (QS. al-Baqarah: 26). Inni wajjahtu wajhiya li'lladzii fathara'samaawaati wa'l-ardl (QS. al-An'am: 79). Alaa innahu bi-kulli syai'in muhit (QS. Haa Mim: 54). Inni ana'llaahu laa ilaaha allaa anaa (QS. Thaa Haa: 14)."
Ungkapan-ungkapan di luar sadar yang dilakukan Sudrun memang sering menimbulkan kesalah-tafsiran orang yang mendengar. Itu sebabnya, banyak orang menuduh Sudrun sebagai orang menderita edan karena keliru mendalami ilmu. Sementara orang yang lain lagi menganggap Sudrun telah menyebarluaskan paham pantheisme-monisme; manunggaling kawula Gusti. Sedang sebagian lagi, orang menuduh Sudrun sebagai manusia sesat. Karena Saya telah mati, maka Sudrun tidak perlu lagi merasa tersinggung. Sudrun adalah Sudrun; Sudrun adalah sudrun yang hidup dengan setia memikul mayat Saya; Sudrun tak peduli ketika Sudrun dilempari batu orang-orang karena dituduh membawa ajaran sesat.
Begitulah kehidupan Sudrun dari waktu ke waktu berlangsung begitu absurd diliputi ke-sudrun-an demi ke-sudrun-an. Sudrun membuat sebuah perbuatan kadang-kadang hanya didasari pada apa yang sewajib- nya diperbuat. Satu ketika, Sudrun pernah meng- gempur sebuah jemaat nabi palsu yang membuat anggota jemaat tersebut mencak-mencak, di mana Sudrun diuber-uber dan akan dituntut di pengadilan. Tetapi dasar Sudrun yang sudrun; dimintakanlah oleh Sudrun doa kepada Rabbu'l Arbaab agar orang-orang yang memburu-buru ke-sudrun-an Sudrun diberi petunjuk dengan kemunculan jawaban gaib yang misterius, "Wa man yudhillahu falaa hadiyalah". Dan Sudrun pun masih termangu-mangu takjub ketika sepekan sesudah doanya itu berlalu, sebuah cabang dari jemaat nabi palsu itu dilarang oleh kejaksaan; dan Sudrun benar-benar makin memuja dan memuji Allah yang dengan terang-benderang memberikan kepastian dan ketetapan hukum-Nya sehinnga dari ketetapan tersebut memancar keindahan makhluk dalam berbagai rupa. "Laa tabdiila likalimaati'llah" (QS. Yunus: 64).
Dengan kematian Saya, Sudrun memang hidup seolah-olah sebuah robot. Sudrun akan berjalan kalau sudrun sudah waktu dikehendaki-Nya berjalan. Satu ketika Sudrun menonton pengajian yang dibawakan oleh seorang kiai muda yang mengaku wali yang disanjung-sanjung dan disembah–sembah oleh banyak orang. Sudrun hanya menggeleng-gelengkan kepala ketika mendengar kiai tersebut melontarkan isyarat sederet nomer-nomer buntutan SDSB. Lalu secara ajaib, Sudrun dengan jelas dapat menyaksikan dengan bashirah betapa hati kiai muda itu terkilasi oleh bias-bias kebanggaan riya' dan 'ujub serta kibr ketika tebakan demi tebakan yang dilontarkannya tepat, sehingga banyak orang menganggapnya wali. Dalam setiap kesempatan Sudrun melihat kiai itu selalu menebak-nebak peruntungan orang yang datang meminta barokah darinya. Bahkan sering juga Sudrun melihat kiai itu menjewer telinga orang. Atau sekadar meludahi dan memukulnya. Atau sekadar menyuguhi tamu-tmunya dengan suara kentut yang menggelegar laksana bom.
Untuk kiai lepus model begitu, Sudrun tidak mau mendekat apalagi mencium tangannya. Sebab bagi Sudrun, mencium tangan kiai kampung yang tidak terkenal adalah jauh lebih mulia daripada mendekati kiai "punk" yang aneh dan urakan. Dan Sudrun tidak bisa berbuat lain kecuali mendoa kepada Rabbu'l-Arbaab agar kiai model begitu secepatnya diberi petunjuk; namun seperti yang sudah sering terjadi, yang muncul dari jawaban doa Sudrun adalah "Fii quluubihim maraadun;" bahwa di dalam relung hati kiai model demikian itu sejatinya ada penyakit jiwa dan kenyataan itu tidak pernah disadari.
Dalam hening malam Sudrun sering termangu sendiri di dalam masjid sambil menunggui mayat Saya. Dari matanya mengalir setitik air. Sudrun menyadari bahwa kiai-kiai muda yang akan menjadi estafet kepemimpinan umat kualitasnya makin lama makin memprihatinkan. Mereka rata-rata congkak, suka memuja-muji diri sendiri, "urakan" dalam bersikap, riya', 'ujub. Apa yang disebut Akhlaq'l Kariimah yang menjadi bagian integral dari keulamaan nyaris tergusur oleh kecongkakan dan egoisme. Dan mereka biasanya dengan acuh tak acuh akan mengajukan alasan apologis bahwa sifat wali memang aneh dan "urakan.

Semakin Sudrun menggeluti kehidupan di sekitar Sudrun, semakin Sudrun sadar bahwa gerak dari gravitasi bumi yang makin menipis sebagai akibat kondensasi magma, rupanya telah mengimbas pada kejiwaan manusia. Sudrun makin sadar bahwa habisnya gravitasi bumi sedang berlangsung sangat cepat tanpa diketahui oleh siapa pun. Oleh sebab itu Sudrun sangat rajin menjalankan shalat dan membaca shalawat agar jiwa Sudrun tidak terkena pengaruh menipisnya gravitasi bumi. Sementara setiap hari Sudrun menyaksikan berbagai kebiadaban manusia yang makin lama makin tidak terkendali di mana Sudrun dalam menantikan datangnya ajal selalu merasa tersiksa oleh kegamangan, keraguan, kegalauan, dan kerinduan yang membaur laksana air laut diaduk-aduk gelombang.
Makin lama Sudrun melihat gejala-gejala akhir dunia makin gamang Sudrun melangkah ke setiap arah. Dan satu ketika dengan berteguh pada kalimat "Ash- shuufi lam yukhlaq" dan "Bainu'l-asbaani min asabi'r rahmaan," Sudrun menyingkir dari keramaian dunia dan mengenakan jubah shuuf untuk menghindari pengaruh hiruk duniawi. Berhari-hari Sudrun tenggelam dalam jubah shuuf dengan terus berdzikir mengingat Rabbu'l-Arbaab. Dalam gemuruh dzikir semesta, Sudrun sering mengikuti gerakan tarian jiwa, karena dzikir semesta adalah gerakan-gerakan dzat dhahir dan batin; tarian jiwa yang indah gemulai dengan musik pendengaran jiwa yang mempesona kesadaran; jiwa Sudrun menari bagaikan tarian gunung-gemunung yang indah laksana tarian lembut gemulai awan-gemawan yang berarak-arak (Q.S. an- Naml: 88).
Tarian jiwa yang membuat Sudrun melupakan segala sesuatu itu terus berkumpar-kumpar penuh keindahan sampai pada suatu titik Sudrun mendapati sederet Kalaam-i-Nafsi dalam jiwa yang memanifestasi dalam Kalaam-i-Lafdzii; Tsumma ba atsnaakum min ba' di mautikum la allakum tasykuruun; dan Sudrun dengan penuh ketakjuban melihat Saya hidup kembali bersama saya.
Seyogyanya Sudrun akan terus tenggelam dalam tarian jiwa semesta andaikata Saya tidak hidup kembali. Tetapi, Saya yang hidup sekarang bukanlah saya yang hidup dulu. Saya pernah mati kemudian dihidupkan, dan setelah itu dimatikan lagi, sekarang dihidupkan lagi. Saya sekang adalah saya; Anaa nuqtatu ba-i-bismi'llah.. anna qalmun wa anaa aquulu wa anaa asmaa'i walakin ya sanii qalbi abdu'l mu'min!
Ketika malam hening ditaburi jutaan bintang yang gemerlap di tengah hamparan kabut, suatu kumparan cahaya aneka warna turun dari langit menyambar Kalam-i-Nafsi al-Qur'an menimbulkan sinar kilau- kemilau. Hening malam menjadi hingar-bingar. Kelam malam menjadi terang benderang. Suara dzikir menggemuruh laksana badai memenuhi gurun.
Saya segera menangkap sasmita bahwa kumparan cahaya yang kilau-kemilau aneka warna yang diiringi gemuruh dzikir tersebut adalah Kalam-i-Nafsi yang memanifestasi; Wahai engkau yang berselimut! Tanggalkan dan bersihkan jubahmu! Jauhilah dosa! Jangan menanam untuk menuai lebih banyak! Demi untuk Tuhanmu hendaklah engkau bersabar! Dan apabila nafiri sudah ditiupkan, maka itulah saat yang gawat datang!
Saya melihat gemerlapan sinar memancar dari segala arah menerpa tubuh saya dan tubuh Sudrun secara bersamaan. Saya tegak berdiri melepas jubah shuuf yang dikenakan Sudrun. Sementara Sudrun berdiri merentangkan tangan, menghirup udara malam yang jekut menusuk tulang. Ketika suara semesta mengumandangkan dzikir dalam gemuruh simfoni yang memukau pendengaran batin; Saya merentangkan tangan mengikuti Sudrun; kemudian Saya dan Sudrun menari melingkar-lingkar mengikuti irama dzat; gerakan Saya dan Sudrun makin lama makin cepat; berpusar-pusar melingkari satu titik: ke- saya-an yang memudar.
Ketika pusaran gerak Saya dan Sudrun makin cepat, semua berangsur menjadi sirna; Saya menyatu ke dalam Sudrun, dan Sudrun menyatu ke dalam Saya; saya pun sirna lebur tanpa sisa. Ketika suasana telah hening, terjadi peristiwa menakjubkan ketika bahu Saya tiba-tiba ditumbuhi bentangan sepasang sayap yang kukuh. Beberapa jenak kemudian, Saya dan Sudrun telah lenyap hilang bentuk; menjelma dalam wujud seekor rajawali Ma'luumi-i-Ma'duum yang berbulu putih sutera. Dua pasang sayapnya adalah sayap Tasbiih; ekornya yang kokoh adalah ekor Tanziih; kepalanya yang teguh adalah kepala Jalaal; paruhnya yang kilau-kemilau adalah paruh Jamaal; matanya yang tajam menikam adalah mata Kasyf-i-Quluub; telinganya yang tajam menerkam adalah telinga Kasyf-i-Quluub; kaki-kakinya yang bercakar tajam adalah cakar I'tibaaraat; jeritan sunyinya yang menggema di tengah kehampaan adalah jeritan Irsyaadaat yang memaknai Jaalaab dan Saalaab; bulu- bulunya adalah selubung rahasia haqqiqah 'Ain-wau- Miin; demikianlah Rajawali Ma'luum-i-Ma'duum itu disebut semesta alam sebagai KHATRA.
Ketika hening makin menikam dan gelap makin menyelimuti, terbanglah ruh-jiwa Rajawali Khatra menembus awang-awang menuju relung kesunyian tak bertepi. Kepak sayapnya mengumandangkan alunan dzikir; kibasan ekornya menggemakan dzikir; semua gerak tubuhnya menggaungkan dzikir; napasnya mendesahkan dzikir. Dan di tengah keheningan malam ketika makhluk bumi tertidur lelap dalam selimut kabut, ruh-jiwa Rajawali Khatra melayang-layang di angkasa menggemakan gemuruh dzikir di tengah kesenyapan. Matahari menyingsing dari rahim lautan pertanda kehidupan mulai bangun dan bangkit kembali. Dalam rentangan hutan beton dan baja, tubuh-jiwa Rajawali Khatra menukik dari satu pohon ke pohon lain yang gundul kehilangan daun-daun. Matanya yang setajam pisau cukur berkilau-kilau mencari tubuh-jiwa burung-burung yang terperangkap di tengah hingar-bingar kehidupan tanpa sayap kebebasan.
Di antara sangkar-sangkar indah berukir, tubuh-jiwa Rajawali Khatra menukik dari ketinggian angkasa mendekati tubuh-jiwa seekor kutilang yang diliputi kebanggaan sedang memperdengarkan keindahan suaranya. Rajawali Khatra pun menyuarakan tentang betapa pentingnya makna kebebasan hakiki bagi burung dalam bertashbih kepada Sang Pencipta; Rajawali Khatra mengungkapkan bahwa hakikat sejati dari kemerdekaan burung adalah terbang di angkasa mengepakkan sayap mengumandangkan tasbih, memuji keagungan dan kebesaran Sang Pencipta sambil menebar kicau kegirangan raya; sekali-kali bukan keterperangkapan yang menyesakkan di dalam sangkar sempit memenjara.
Mendengar uraian tubuh-jiwa Rajawali Khatra, tubuh-jiwa burung kutilang itu hanya manggut-manggut. Tetapi sejenak kemudian kutilang itu berkata, "Apakah yang akan saya peroleh dari kebebasan itu, wahai rajawali? Saya sudah merasa hidup mapan di sini. Tiap pagi dan sore makanan dan mimuman sudah tersedia bagi saya. Kalau hari baik, tubuh saya dimandikan. Setiap pagi saya hanya menyanyikan suara keindakan bagi dia yang menjamin hidup saya dan memuji-muji keindahan suara saya."
"Tetapi itu bukan kodrat hidup burung, kawan" kata Rajawali Khatra, "Sebab kodrat hidup burung- burung adalah terbang di hamparan angkasa raya mengumandangkan tasbih kepada Raja Burung. Adakah kebebasan yang lebih indah bagi burung-burung selain terbang di awang-awang sambil bertasbih memuji kebesaran dan keagungan Raja Burung?"
"Kehidupan telah berubah, wahai rajawali" sahut tubuh-jiwa kutilang, "Sebab kebebasan burung telah lama berakhir. Zaman telah berubah. Nasib burung pun ikut berubah. Semua telah berubah. Dan sekarang ini, sangkar inilah yang merupakan makna hakiki kehidupan saya. Saya hidup di sini tanpa perlu bekerja susah-payah mencari makan, karena semua keperluan saya telah dicukupi. Saya hanya menyanyi dan menyanyi dalam keriangan setiap hari."
Darah di tubuh-jiwa Rajawali Khatra mendidih mendengar jawaban kutilang yang sudah kehilangan naluri kebebasan itu. Tetapi, Rajawali Khatra menahan diri dan berusaha untuk sabar. Dengan suara lembut tubuh-jiwa Rajawali Khatra berkata:
"Tidakkah engkau menyadari bahwa di dalam sangkar itu dirimu telah dipenjara? Engkau bertahun-tahun hidup dalam kesendirian tanpa kawan hanya untuk menyenangkan hati pemeliharamu. Engkau sudah kehilangan segalanya, kawan. Kebebasan, tasbih, dan naluri."
Burung kutilang tersebut menunduk sedih, tetapi sesaat kemudian tubuh-jiwanya berkata, "Biarlah saya hidup menjalani nasib begini, o rajawali, sebab saya sudah merasa mapan dalam segala hal di sangkar ini. Kebebasan bagi saya sekarang hanyalah menyanyi dan menyanyi, di mana keindahan suara saya akan mendatangkan puji-puji bagi saya."
Sadar usahanya menyadarkan jiwa kutilang sia-sia tubuh-jiwa Rajawali Khatra terbang ke angkasa meninggalkan kutilang yang menyanyi dengan kepedihan suara di dalam sangkar. Khatra tahu bahwa sesuatu telah berubah tetapi ia tidak berputus asa. Khatra terus terbang mengepakkan sayap, menembus kesenyapan di antara gedung demi gedung pencakar langit, sampai ia tiba di suatu tempat yang teduh penuh rimbunan pepohonan, di mana terletak sangkar seekor ayam hutan. Dengan suara lembut Khatra menyampaikan hakikat kebebasan kepada ayam hutan, yaitu kebebasan untuk terbang dari pohon satu ke pohon lain untuk bertasbih memuji Keagungan dan Kemuliaan Sang Raja Burung.
Ayam hutan mendengar uraian Khatra itu mengangguk-angguk dan berkotek-kotek mengumandangkan kepedihan. Namun, seperti burung kutilang, ayam hutan itu menyatakan bahwa ia sudah merasa nyaman hidup dalam kecukupan di sangkarnya. Ayam hutan itu tidak peduli apakah dia dikurung sendirian di dalam sangkar dan tidak bisa kawin dengan ayam hutan betina serta tidak bisa hinggap di pepohonan. Ia hanya merasa, bahwa bagaimana pun hidup di dalam sangkar adalah jauh lebih mapan dan lebih selamat dibanding hidup bebas di tengah hutan belantara yang tanpa jaminan.
"Tuan saya selalu mengelus-ngelus saya apabila saya menang dalam lomba berkotek. Tiap pagi maupun sore, Tuan saya memuja-muji keindahan suara saya. Beliau sangat membanggakan saya di hadapan kawan-kawannya."
Rajawali Khatra kembali pergi mengarungi angkasa dengan tangan hampa. Namun ia tetap sabar mencari burung-burung dalam sangkar untuk dibebaskan. Dia terus terbang menuju gugusan awan-gemawan menembus sunyi. Di suatu taman yang indah ia menjumpai seekor burung merak sedang mengembangkan ekornya, memamerkan keindahan yang memancar warna-warni mempesona penglihatan. Dengan penuh harapan Khatra mendekati burung merak yang berada di dalam kerangkeng besar, menyampaikan makna kebebasan bagi burung.
Merak yang angkuh itu dengan dingin menolak seruan Rajawali Khatra. Dia merasa sudah sangat mapan hidup dalam kerangkeng, karena makan dan minumnya sudah tersedia. Pemeliharanya pun suka memuji-muji keindahan bulunya yang mempesona.
"Wahai merak," seru Khatra mengingatkan, "Tidakkah engkau rindu akan gemericik air sungai dan gemuruh jeram? Tidakkah engkau rindu akan raung harimau? Tidakkah engkau rindu akan nyanyian burung-burung hutan? Tidakkah engkau rindu akan desau angin di dedaunan?"
"O rajawali perkasa," sahut merak dengan tenang, "Engkau rupanya belum tahu kalau air sungai dan jeram telah lama kekurangan air. Engkau pun rupanya belum tahu kalau nyanyian burung, dengung lebah, jeritan kera, raungan harimau, dan gemerisik angin sudah lama tercabut dari hutan rimba. Engkau rupanya belum faham kalau hutan-hutan kayu dengan daun-daunnya telah berubah menjadi hutan batu dan baja. Engkau rupanya terlalu tenggelam ke dalam duniamu yang tinggi menjulang di angkasa."
"Karena itu, o rajawali, terbanglah terus engkau menembus awang-awang mengikuti kodratmu sebagai pengarung angkasa. Sebab tebing-tebing curam masih tegak menjulang memberikan lindungan bagimu. Langit yang sunyi pun masih kosong untuk mewadahimu. Terbanglah terus menuji kebesaran Ilahi. Terbanglah dalam getaran tasbih. Tapi biarkan saya melewati hari-hari saya sendiri seperti ini."
Rajawali Khatra termangu takjub mendengar alasan burung merak. Ia benar-benar merasa heran, bagaimana mungkin burung merak yang dahulu begitu indah sebagai mutiara hutan yang setia memuji Al-Khaliq dengan rentangan bulu-bulunya yang indah, kini jiwanya telah berubah menjadi jiwa bebek. Setelah lama termenung akhirnya Khatra sadar bahwa merak, kutilang, dan ayam hutan adalah burung-burung yang sudah kehilangan jiwa merdeka mereka. Makna kebebasan sebagai burung yang hakiki; diam-diam telah terbenam larut dalam kemapanan hidup dan puja puji kepada dirinya sendiri.
Haaqq... Haaqq... Haaqq!

Dengan jeritan pedih tubuh-jiwa Rajawali Khatra terbang mengepakkan sayap menembus kelengangan angkasa yang senyap. Ia berpikir, betapa sejatinya burung-burung yang telah kehilangan kebebasan itu jumlahnya berjuta-juta, sebab angkasa yang diarunginya tetaplah terlihat sepi tanpa kelebat bayangan burung seekor pun. Khatra terus melaju dengan kepak sayapnya yang menggeletar mengumandangkan dzikrullah.
Di sebuah hamparan padang rumput yang kering, tubuh-jiwa Rajawali Khatra menukik ketika menyaksikan segerombolan burung bangau termangu- mangu di antara rerumputan. Khatra dengan cepat menghampiri bangau tertua yang rupanya adalah pemimpin gerombolan tersebut. Dengan suara merendah Khatra bertanya, "Mengapakah kalian kelihatan bermuram durja, wahai para bangau?"
Dengan air mata bercucuran bangau tua itu menjawab, "Kami telah diusir dari sarang kami, oleh Bangau Tongtong, raja kami, o rajawali. Kami tidak tahu lagi, ke mana sekarang ini kami harus pergi, karena hutan-hutan bakau sekarang sudah makin hilang dijadikan kerajaan udang yang mengupah manusia untuk menjaganya."
"Wahai para bangau," kata Khatra menasehati, "Bukankan engkau sekalian punya sayap? Kenapa kalian semua tidak terbang mencari hutan bakau baru sebagai sarang?"
"Ketahuilah, o rajawali," sahut tetua bangau itu, "Kami sudah terbang beribu-ribu kilometer jauhnya untuk mencari hutan bakau baru sebagaian sarang, tetapi sampai hampir patah sayap-sayap kami, semua hutan bakau hampir tak tersisa. Hutan-hutan bakau telah ludes menjadi kerajaan udang. Celakanya, udang- udang yang semula adalah makanan kami telah mengupah manusia-manusia bersenjata untuk menembaki siapa saja makhluk yang mengganggu udang. Dan entah, sudah berpuluh ribu jumlah kami yang tewas ditembak manusia bersenjata yang diupah para udang itu. Ketahui pula, o rajawali, bahwa kami hinggap di rerumputan yang kering ini karena kami telah lelah akibat terbang berhari-hari mencari persinggahan."
Rajawali Khatra termangu sesaat dan matanya yang tajam menerawang ke seluruh permukaan bumi. Ia berulang-ulang menelan ludah ketika melihat kenyataan yang mengerikan tentang keserakahan makhluk-makhluk penghuni bumi yang menelan apa saja demi kekenyangan perutnya sendiri. Namun sesaat kemudian, ia dengan mata-jiwanya melihat kilau-kemilau air yang membentang di lingkungan gunung-gemunung seperti cermin raksasa dihamparkan. Lalu dengan suara penuh semangat ia berkata:
"Wahai para bangau, terbanglah engkau sekalian ke gugusan gunung-gunung yang tegak menjulang di mana terletak danau-danau indah yang menyimpan berjuta perbendaharaan dan makanan. Carilah ikan- ikan dan udang di danau yang tersembunyi dan buatlah sarang di tebing-tebing yang curam. Terbanglah terus dengan penuh kegirangan, karena kepak sayap kalian dan nyanyian kalian adalah puji-puji bagi Sang Raja Burung."
"Tetapi kami tidak lagi memiliki negeri dan sarang di hutan-hutan bakau. Kami juga tidak lagi memiliki raja," sahut bangau tua.
"Sadarlah wahai bangau-bangau," kata Khatra, "Bahwa bumi ini digelarkan untuk kita semua, para burung. Jangan engkau semua tertambat akan makna hutan bakau dan sarang-sarang di pohon serta raja bangau. Pasrahkan hidup kalian kepada Dia, Raja Burung, Sumber dari mana kalian semua berasal. Ketahuilah, o para bangau, bahwa lahirnya Bangau Tongtong sebagai raja bangau yang rakus itu, sejatinya adalah akibat kelemahan dan kesalahan kalian sendiri. Bangau-bangau selalu merasa tidak yakin bahwa tanpa Bangau Tongtong tua keparat itu, kalian semua tidak bisa hidup. Engkau sekalian sudah berbuat musyrik dengan menyekutukan Sang Raja Burung. Oleh sebab itu, janganlah sekarang ini kalian semua mengeluh menerima adzab dari Raja Burung akibat kebodohan kalian sendiri."
"Karena itu, wahai para bangau, apabila nanti kalian sudah menemukan tempat yang baru di tebing- tebing yang tegak menjulang, tetaplah kalian ingat untuk tidak membiarkan salah seekor di antara kalian menjadi bangau paling rakus sampai memakan sesama kalian. Bangunlah sarang kalian sesuai kebutuhan untuk sekadar melindungi diri, sebab tugas utama kalian di dunia ini hanyalah bertasbih dan mengagungkan Sang Raja Burung. Sebab apabila kalian menjadi rakus dan tamak, maka kalian akan mati dengan sakaratul maut yang mengerikan akibat ruh kalian ditarik kekuatan bumi."
"Wahai rajawali bijak," seru bangau tua, "Berilah kami doa restu. Kutuklah Bangau Tongtong tua keparat itu agar cepat mati dalam kesengsaraan!"
"Ketahuilah, wahai para bangau, bahwa doa orang-orang yang tertindas dan terusir seperti kalian ini, akan langsung diterima Simurgh, Raja Burung. Yakinlah kalian semua, bahwa Bangau Tongtong jahanam itu akan mampus secara mengerikan sekaratnya."
Bangau-bangau itu kemudian terbang menuju ke tebing-tebing curam yang ditunjukkan Khatra, yaitu tebing-tebing curam yang diselimuti awan tetapi ditebari danau-danau sunyi berlimpah ikan dan udang. Rajawali Khatra melihat bangau-bangau yang berbondong-bondong itu dengan mata berkaca-kaca. Setitik air jatuh dari kelopak matanya, ketika di antara para bangau yang terbang beriringan mengarungi angkasa itu berjatuhan ke atas bumi karena sayap-sayap mereka telah diterkam keletihan dan sebagian lagi patah.
"Berbahagialah engkau yang mati dalam keadaan bertasbih," gumam tubuh-jiwa rajawali Khatra mendengarkan kepak sayap para bangau yang mengumandangkan tasbih itu melenyap di kejauhan.
Namun belum lagi hilang titik-titik bayangan para bangau itu di cakrawala, tiba-tiba Khatra melihat beribu-ribu burung walet terbang menyambar-nyambar di sekitarnya. Kepak sayap burung walet itu dalam pendengaran Khatra mengumandangkan tasbih dan cericitnya menggemakan takbir.
Seekor walet muda menukik dan hinggap di punggung Khatra. Khatra mendengar desah napas walet muda itu terasa amatlah payah, mungkin dia beserta walet lain baru saja melakukan perjalanan jauh terbang melintasi angkasa.
"Mengapa engkau terbang berputar-putar di padang rumput yang kering ini, wahai walet muda?" tanya Khatra.
Dengan menitikkan air mata walet muda itu menjawab, "Ketahuilah wahai rajawali, bahwa sarang-sarang kami telah diobrak-abrik dan anak-anak beserta telur-telur kami dihancurkan oleh makhluk-makhluk rakus tak berjiwa. Ketahuilah pula, o rajawali, bahwa gedung-gedung tua tempat kami bersarang telah dirobohkan. Ceruk-ceruk gua tempat kami bersarang pun tak luput dari jarahan tangan makhluk serakah. Lihatlah jumlah kami yang makin lama makin kecil."
"Ke manakah kalian sekarang ini hendak pergi?"
"Kami sekarang ini tidak memiliki lagi arah dan tujuan. Kalau engkau mau, pimpinlah kami menuju ke suatu tempat yang aman di mana kami bisa membangun sarang."
Rajawali Khatra termangu-mangu. Sejenak kemudian ia mengepakkan sayap ke angkasa diikuti oleh beribu-ribu walet; dalam sekejap di awang-awang sudah menggemuruhlah suara tasbih memenuhi kesenyapan angkasa. Rajawali Khatra terus terbang menuju kesunyian yang diselimuti kabut di antara tebing-tebing karang yang tegak menjulang.
Berbilang walet yang mengikutinya berjatuhan kelelahan dan patah sayap, meluncur ke bawah dan remuk redam menghantam bebatuan. Sementara yang lain terus mengepakkan sayap meski letih menghajar seluruh tubuh. Mereka terus mengepakkan sayap dan berjatuhan sampai mereka tiba di batas tebing curam yang menjulang tegak sendirian menggapai langit. Jumlah walet-walet itu, ternyata tinggal 99 ekor.
"Wahai walet-walet, inilah tebing harapan yang akan memberikan makna bagi kalian."
"Tapi jumlah kami tinggal 99 ekor, o rajawali." "Apakah yang engkau risaukan?" tanya Khatra,
"Bukankah kita dulu lahir hanya dari sepasang burung?"
Burung-burung walet itu hanya termangu-mangu merasakan nikmatnya kesejukan udara gunung yang menyelimuti puncak tebing. Tetapi ketika mereka sedang terbuai dan hendak tidur, tiba-tiba datang serombongan bangau yang jumlahnya tinggal 20 ekor. Rupanya sebagian dari bangau-bangau itu dengan diam-diam mengikuti ke mana Rajawali Khatra terbang. Itu sebabnya, saat sampai di puncak tebing rahasia itu mereka terpesona takjub menyaksikan para walet bersama Rajawali Khatra di puncak tebing. Bangau-bangau itu pun dengan takjub saling berpandangan dengan para walet. Sementara Rajawali Khatra bertengger di puncak tebing di atas sebuah permata putih yang memancarkan sinar berkilau-kilau. Dengan suaranya yang merdu ia memekik-mekik menimbulkan kelelapan bagi para burung:
Haaqq....Haqq....Haqq!
Bangau tua yang memimpin 19 ekor kawannya itu menggumam, "Inikah tanah harapan yang engkau janjikan, o rajawali?"
Rajawali Khatra dengan mata berkilat-kilat dan suara perkasa menjawab, "Ketahuilah wahai para burung, bahwa sekarang ini di bumi sudah tidak ada lagi tanah harapan bagi kita, para burung. Ketahuilah, bahwa Rajawali Khatra telah datang dari langit kelam tempat Raja Burung di antara burung-burung bersemayam. Rajawali Khatra membawa kabar gembira bagi kalian semua, di mana raja kita, Simurgh, telah berkenan mengundang kita dalam sebuah pesta perhelatan yang hanya dihadiri oleh kita sendiri."
"Berarti kami semua akan meninggalkan bumi?" "Apakah yang engkau risaukan, sedang bumi tiada
lama lagi bakal sekarat?" seru Khatra. "Benarkah bumi bakal sekarat?"
"Tidakkah engkau mendengar suara Nafiri ditiupkan?"
"Kami semua mendengarnya, tetapi apakah makna suara Nafiri tersebut kami belum tahu," seru bangau tua.
"Nafs Fii Rabbi," kata Khatra tegas, "Apakah yang terjadi kalau nafs ditiup ke dalam Rabbi?"
"Pertanda panggilan kembali dikumandangkan, wahai rajawali."
"Demikianlah nafs bumi sekarang ini sedang mengalami proses dipanggil kembali," seru Khatra, "Kalau engkau semua ingin melihat, datanglah ke mari dan lihatlah gambaran di dalam mataku."
Burung-burung itu beterbangan dan berebut mendekati Rajawali Khatra. Setelah dekat, mereka serentak menatap mata Khatra yang bening dan berpendar kilau-kemilau. Tersentak kaget burung-burung itu menyaksikan pemandangan di dalam mata Khatra yang memukau sekaligus mencekam: mereka menyaksikan berjuta-juta manusia dengan mesin- mesin raksasa membongkar hutan belantara; pohon-pohon dijungkirkan; gunung-gunung dibongkar; bukit-bukit diruntuhkan; tanah-tanah dilubangi; sungai-sungai dibendung; danau-danau dikuras. Mereka menyaksikan berjuta-juta manusia bersenjata menembaki burung-burung yang sedang bertasbih memuji kebesaran Simurgh. Mereka menyaksikan berjuta-juta manusia melubangi bumi dan dengan keserakahan meminum dan menyantap semua isi perut bumi.
Hati para burung tercekat ketika melihat darah mengalir membanjiri kota-kota, desa-desa, sungai- sungai, danau-danau, sawah-sawah, bendungan-bendungan, kebun-kebun, tambak-tambak, gunung-gunung, padang belantara, bahkan lautan. Mereka melihat tubuh-tubuh manusia terpotong-potong berserakan. Mereka melihat manusia-manusia memakan manusia yang lain dengan lahap. Mereka melihat manusia-manusia melahap isi hutan, batu- batu, aspal-aspal, tanah, besi, baja, minyak, bahkan anak mereka sendiri mereka makan. Sementara suara Nafiri terus mengumandang di tengah hiruk pikuk kegembiraan manusia yang berpesta pora dalam kemabukan dan kegilaan. Manusia seperti tidak sadar sedang diintai maut.
Haqq...Haqq...Haqq!
Burung-burung itu tersentak kaget mendengar jeritan Rajawali Khatra. Mereka bingung dan saling berpandangan dengan kebingungan. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan menghadapi gambaran yang bakal mewujud menjadi kenyataan itu. Mereka tidak pernah membayangkan bakal terjadi kebinasaan yang begitu mengerikan melanda bumi. Lalu tanpa sadar, para burung itu serentak bertanya, "Apakah yang harus kita lakukan wahai rajawali jika dunia sudah begitu mengerikan keadaannya?"
"Bersiaga untuk kembali kepada Rabbu'l-Arbaab dengan penuh ridha dan diridhai."
Burung-burung terpana mendengar seruan kembali dari Rajawali Khatra. Tapi sekejap kemudian, 20 ekor bangau putih itu berhamburan terbang melingkari tubuh Khatra sambil mengumandangkan tasbih. Melihat gerakan para bangau tersebut, 99 ekor burung walet pun ikut beterbangan melingkari tubuh Khatra yang bertengger di atas permata putih sambil bertasbih dengan mata menembus kehampaan cakrawala. Kepak sayap para burung itu terus menggemuruh mengumandangkan tasbih; makin lama gerak terbang para burung itu makin cepat hingga sekilas tampak tubuh mereka seperti kumparan putih berpendar-pendar dikelilingi warna hitam, bergoyang menggelombang seperti bayangan bidadari menari.
Ketika walet-walet dan bangau-bangau yang menari dan bertasbih itu sudah semakin cepat pusarannya, bayangannya menjadi kilasan cahaya putih terbalut cahaya hitam yang menyatu; Khatra memekik-mekik keras sambil mengebas-kebaskan sayap dan ekornya yang menggemakan tasbih. Bulu-bulunya yang putih memantulkan sinar permata putih kilau-kemilau, sehingga dalam sekejap Khatra hilang ditelan sinar putih gemerlapan. Burung-burung pun telah hilang tinggal cahaya putih menyilaukan dibalut cahaya putih lain dan dibalut cahaya hitam yang berpendar-pendar; semuanya telah sirna tinggal Nuur-i-Khatra meliputi keheningan semesta; dan di tengah kesunyian dan keheningan tebing-tebing menjulang itu, mengumandang nyanyian Azali semesta dari Nuur-i-Khatra kepada Rabbu'l-i-Khatra.
Haqq...Haqq...Haqq!
Nyanyian azali Nuur-i-Khatra menggema penuh rindu di tengah keheningan awang-awang sehingga burung-burung yang beterbangan terbius dalam panggilan rindu yang mempesona. Ketika nyanyian azali itu menerobos makna terahasia para burung, berjuta-juta burung yang sudah kehilangan tempat bersarang tiba-tiba terlihat terbang berbondong-bondong mencari arah panggilan rindu jiwa semesta. Berjuta-juta burung terbang tak tentu arah. Mereka hanya mengepakkan sayap. Terbang. Terbang.
Nuur-i-Khatra terus melantunkan panggilan dalam selubung hitam yang tak dapat dijangkau indera burung-burung. Berjuta burung-burung pun terbang mengitari gunung arwah yang merangkum makna tebing Sirr, yang di puncak tebing bersemayam permata putih kilau-kemilau yang mewadahi makna hakiki Dzaat-i-Bahat; berjuta-juta burung terbang bergeleparan mengumandangkan tasbih; berjuta-burung-burung yang mati diterkam rindu berserakan tanpa nyawa di kaki gunung; beratus-ratus ribu burung mati dicekik rindu dan berserakan di kaki tebing dan di dasar jurang; hanya satu-dua burung yang berhasil mencapai kerahasiaan Nuur-i-Khatra dan mereka tak pernah kembali lagi.
Ketika Nafiri ditiupkan dalam nada tinggi yang mengoyak pendengaran burung-burung dalam sangkar, paniklah semua burung dalam sangkar. Mereka menabrak-nabrakkan kepala dan dan tubuhnya ke jeruji-jeruji sangkar. Mereka mencocok-cocok telur dan anak-anaknya sendiri. Mereka menghambur terbang tak tentu arah menabrakkan tubuh ke sangkarnya hingga rontok bulu-bulu mereka dan berdarah tubuhnya. Mereka meronta dan menjerit-jerit penuh penasaran dengan suara garau dan mata melesat keluar. Mereka menghancurleburkan tubuhnya sendiri dalam penderitaan pedih di dalam jeruji-jeruji sangkar besi duniawi.
Sewaktu pusaran waktu telah lewat, sangkar-sangkar terlihat kosong dengan bercak-bercak darah dan serpihan daging serta tebaran bulu-bulu. Angin berhembus panas menerobos terali-terali sangkar yang merana dalam sunyi; sepi; senyap; lengang; hampa!
Ketika kehidupan burung-burung telah terhapus dari permukaan bumi, Nuur-i-Khatra melesat dalam kerahasiaan semesta. Sementara Rajawali Khatra dengan pekik kebebasan melesat dari puncak tebing ke hamparan angkasa raya. Dengan kepak sayap-sayapnya yang kokoh yang selalu menggemakan tasbih, Khatra mengarungi kesunyian dan kelengangan awang- awang dengan terus mengumandangkan tasbih dan memekikkan kebebasan bagi ruuh-ruuh yang terperangkap belenggu duniawi.
Pada saat Khatra mengarungi angkasa di antara awan yang bergumpal-gumpal dengan hamparan rumput dan bunga-bunga dan pohon-pohon, ia tercekat ketika melihat dua bayangan manusia berlarian di antara desau angin yang menaburkan harum rumput dan bebungaan. Khatra menerawang gugusan ingatan yang tersembunyi di dalam rentangan kenangannya. Rajawali Khatra pun mendadak sadar bahwa dua manusia itu tiada lain adalah Aham dan Laxmi Devi; dua manusia yang pernah memiliki kelekatan cerita dengan Saya, Sudrun, dan saya dalam rentangan hidup yang samar-samar telah memudar dalam ingatan.
Seperti digerakkan oleh suatu kekuatan maha dahsyat, Rajawali Khatra menukik ke bawah dan hinggap pada sebatang dahan yang menyilang di pohon yang menaungi Aham dan Laxmi Devi. Dengan suara jeritan yang mengumandangkan haqiqat irsyaadaat, Khatra memekik-mekik memberikan isyarat kepada Aham dan Laxmi Devi bahwa sebuah Kematian Agung sedang berlangsung dengan keganasan tak tergambarkan. Namun, Aham dan Laxmi Devi tidak lagi mengerti kata-kata Khatra; mereka tidak lagi mengenalnya; mereka hanya bertepuk-tepuk tangan sambil memuji keindahan bulu-bulu Khatra dan kemerduan suaranya.
"Wahai rajawali perkasa, engkaulah burung terakhir yang kami lihat," seru Laxmi Devi dengan nada mengiba, "Terbanglah engkau menembus kesunyian angkasa agar orang-orang jahat tidak menembakmu. Terbanglah mengarungi kesunyian, karena engkau adalah rajawali pemekik suara kebebasan. Kepakkan sayapmu meski lelah dan letih telah menerkam urat-uratmu, sebab sayapmu menggemakan tasbih abadi. Terbanglah terus kepuncak-puncak tebing yang curam. Buatlah sarang yang kokoh di tebing curam. Carilah rajawali betina, agar terlahir rajawali-rajawali perkasa di atas bumi."
Khatra tidak dapat berkata apa-apa. Dadanya ia rasakan digumpali batu-batu panas yang menyesakkan. Kegalauan mencakari jiwanya. Tetapi Khatra tidak pernah mengungkapkan hasrat jiwanya kepada Aham dan Laxmi Devi; ia tidak ingin memperkenalkan diri kepada Aham dan Laxmi Devi tentang siapa sejatinya dirinya; bahasa mereka sudah lain. Isyarat mereka sudah berbeda. Dan rasa serta jiwa mereka pun sudah dibentangi tirai pembatas yang tak tertembus. Khatra yang merupakan tubuh-jiwa Saya, Sudrun, dan saya telah menjadi berbeda bahkan tak lagi mengenal dirinya sendiri.
"Pergilah rajawali!" teriak Laxmi Devi dengan rasa khawatir, "Pergilah menuju kesunyian yang tersembunyi di tebing-tebing terjal! Kapakkan sayapmu menuju kehidupanmu yang bebas di tengah kesunyian! Kepakkan sayapmu mengarungi kerahasiaan sejatimu! Terbanglah menuju kesunyian abadimu!"
"O, rajawali," seru Aham menghalau-halaukan tangannya, "Pergilah cepat dari dahan itu! Dengarlah bunyi letusan senapan orang-orang bersenjata! Dengarlah derap langkah sepatu mereka! Dengarlah dengus napas serakah mereka! Dengarlah gemeletuk gigi mereka yang penuh kesumat kepada para pemekik kebebasan! Ayo terbanglah rajawaliku! Terbang!"

Khatra berkedip-kedip memandangi Aham dan Laxmi Devi yang berdiri pucat di bawah pohon mengkhawatirkan keselamatannya. Khatra sadar bahwa bahasa yang digunakannya sudah tidak bisa ditangkap dan dipahami oleh Aham dan Laxmi Devi. Khatra sadar bahwa Aham dan Laxmi Devi sesungguhnya khawatir terhadap kematian kecil yang akan menyambarnya, tetapi mereka tidak sadar akan hadirnya Kematian Agung yang selalu mengintai setiap makhluk fana.
Ketika bunyi senapan dan derap sepatu yang menggemuruh terdengar mendekat, Aham dan Laxmi Devi melompat-lompat sambil menghalaukan tangan agar Rajawali Khatra secepatnya menyingkir dari keserakahan dan keganasan manusia-manusia bumi. Khatra mengedip-kedipkan mata dengan dada dipenuhi gumpalan kabut. Dan ketika Aham bersimpuh di rerumputan sambil menangis memohon agar sang rajawali terbang mengarungi angkasa, Khatra mengepakkan sayap, terbang menuju kesunyian awang- awang. Sayup-sayup Khatra mendengar suara Aham dan Laxmi Devi menggema sayup-sayup, "Terbanglah rajawaliku! Terbang! Terbanglah rajawaliku meng- arungi kesunyian abadi!"
Setitik air bening jatuh dari mata rajawali Khatra, meluncur ke bumi dengan suara tasbih menggema di antara desah napasnya:
Huu..Haqq...Huu...Haqq…Huuuuuu!




Surabaya, Juni 1989

SHARE:

Comments

Recent Posts

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (DELAPAN)

Selasa sore seusai sembahyang Ashar, saya langsung melesat ke Jl. Jagannath Shankar Seth dengan mengendarai bus kota. Yang namanya bus kota di mana pun sama, kalau jam kerja

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM BELAS)

Sebuah perjalanan melintasi semesta ruhani adalah sebuah rentangan pengalaman menakjubkan yang sangat fantastis jika dipikir dengan nalar. Sebab segala sesuatu yang tergelar

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (ENAM)

Perubahan besar di dalam diri saya makin saya rasakan ketika serentetan kenangan masa silam saya yang penuh percikan dan lepotan noda hitam yang mengotori jiwa saya, berkelebatan

Hachi

Hachi

Bila hati ini mungkin bisa di wakili oleh sebuah tempat, misal kan rumah.Rumah yang telah kau tinggalkan.Rumah yang segala perabotannya berantakan walaupun tanpa

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (EMPAT)

"KALAU MAU MENCARI ALLAH, BELAJARLAH DARI IBLIS!"Seperti ledakan halilintar bisikan misterius itu menggedor otak dan dada saya yang membuat seluruh jaringan darah di

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TIGA)

"Kalau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!"Kembali bisikan misterius itu membentur pedalaman saya bagai kilatan halilintar, yang belakangan ini justru semakin sering

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (SEPULUH)

Matahari bersinar bersih, cahayanya membias putih di batas cakrawala yang berpendar jernih laksana pancaran kristal. Langit biru membentang bagai kubah sebuah masjid. Angin

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH)

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (TUJUH)

Matahari sudah menggelinding sembilan kali di langit Bombay ketika keanehan lelaki tua yang belakangan saya ketahui bernama Chandragupta menerkam jiwa saya. Keanehannya rasanya