Fokuslah pada

Fokuslah pada 'bagaimana' Anda bekerja, bukan 'kenapa'

  • 2019-02-02 21:34:53
  • 237

Ada beberapa cara praktis yang bisa diterapkan agar Anda bisa merasa lebih puas, dan tidak terlalu gelisah, dalam pekerjaan. Kenapa pekerjaan modern begitu tidak memuaskan? Apakah kita salah karena fokus pada 'kenapa' kita bekerja, padahal yang sebenarnya kita butuhkan adalah menjawab 'bagaimana'?

Jika kita menciptakan pekerjaan hari ini, kita akan kesulitan untuk memikirkan sesuatu yang begitu tidak memuaskan seperti pekerjaan di awal Abad 21. Rangkaian rapat tanpa akhir yang membuat kita bisa melupakan nama kita sendiri dan email yang tampak identik dengan yang sudah kita bereskan kemarin, semuanya dilakukan di tengah kebisingan kantor dengan tata letak terbuka.

Saya telah menghabiskan dua tahun terakhir untuk meneliti dan menulis buku tentang mengembangkan budaya tempat kerja modern — dan yang saya temukan adalah pengingat akan apa yang perlu diperbaiki.

Tantangan tempat kerja modern adalah lebih dari sekadar gangguan, tapi sesuatu yang lebih substansial. Yayasan Kesehatan Mental di Inggris menemukan bahwa 74% warga Inggris pernah merasa kewalahan oleh stres pada tahun lalu, dengan pekerjaan sebagai penyebab utamanya.

Tidak mengherankan memang. Sejak kita semua mulai membaca email di telepon genggam, jam kerja rata-rata telah bertambah sebanyak dua jam. Berdasarkan beberapa estimasi, para pegawai yang diharapkan untuk tetap terkoneksi dengan kolega mereka menghabiskan 70 jam terhubung dengan kantor setiap pekan. Setengah dari orang-orang yang menambah dua jam ekstra pada jam kerja mereka menunjukkan tingkat tertinggi stres yang bisa tercatat.

Itulah sebabnya khotbah dari orang-orang yang menyebut dirinya sendiri sebagai visioner, seperti Simon Sinek, tampaknya semakin tidak cocok dengan pengalaman orang-orang di tempat kerja.

Ketika 'kenapa' tidak cukup

Sinek mendapatkan ketenaran dan pengakuan dari keyakinannya bahwa kaum milenial perlu memahami 'kenapa' mereka bekerja sebelum berkomitmen pada kerja keras yang dibutuhkan dalam pekerjaan tersebut. "Perusahaan besar tidak mempekerjakan orang yang terampil dan memotivasi mereka, tapi merekrut orang yang sudah termotivasi dan menginspirasi mereka," kata Sinek.

Inspirasi tersebut berupa memberi tahu mereka 'kenapa' mereka melakukan pekerjaan itu. Tetapi semakin jelas bahwa fokus tunggal pada tujuan menciptakan disonansi dan ketidakpuasan di kalangan pegawai.

Para pekerja dari segala usia dihadapkan pada rekonsiliasi dengan 'masalah dunia pertama' yang paling utama: "Kenapa saya bisa bekerja di organisasi dengan tujuan yang mulia ini dan masih belum merasa bahagia?"

Semakin banyak perusahaan mendapati para pegawai minta penjelasan tentang perbedaan antara yang dijanjikan kepada mereka sebagai calon pegawai dan realitas pekerjaan mereka. Peristiwa mogok kerja di Google pada 2018, menyusul artikel blog Susan Fowler, menjadi salah satu tonggak di jalan panjang ketidakpuasan di tempat kerja kendati ada jawaban yang mulia untuk pertanyaan 'kenapa'.

Semakin jelas bahwa sementara fokus pada 'kenapa' mungkin menciptakan visi yang menarik bagi seorang CEO jagoan untuk memimpin dari belakang, itu tidak membantu para pekerja yang merasa dihancurkan dengan kelelahan di meja mereka.

Sudah saatnya bagi kita untuk beralih dari keberanian semata yang dilambangkan dalam pertanyaan 'kenapa' ke diskusi yang relatif biasa saja tentang 'bagaimana': 'Bagaimana saya bisa merasa lebih puas dan tidak terlalu cemas dalam pekerjaan saya?'
Kekuatan hal-hal kecil

Seperti apa 'bagaimana' dari budaya kerja yang lebih baik?

Meskipun Anda yakin bahwa tidak akan ada sosok seperti Steve Jobs yang mengungkap versi pekerjaan yang lebih baru dan lebih mentereng di kantor Anda, kita secara pribadi dapat membuat perubahan pada agenda harian yang dapat memperburuk pekerjaan.

Begitu para pekerja menerima bahwa 'bagaimana' itu penting, banyak dari kita merasa bersemangat dengan kesadaran bahwa kita memiliki otonomi untuk memulai perubahan. Beban kerja terbesar bagi sebagian besar dari kita adalah terlalu banyak waktu dihabiskan dalam rapat. Langkah sederhana dengan mengurangi jumlah orang yang hadir sampai setengahnya bisa menjadi tindakan berbelas kasihan.

Para bankir investasi di Bridgewater Associates menyadari bahwa melibatkan lebih sedikit orang dalam rapat tampak sangat efektif untuk meningkatkan kualitas diskusi. Tantangannya, tentu saja, adalah kita yakin bahwa rapat yang tidak kita hadiri adalah rapat ketika semua hal baik terjadi.

Untuk membuktikan bahwa sikap 'fear of missing out' (FOMO) ini tidak tepat, mereka mulai merekam isi semua rapat — akhirnya, tidak ada yang mengeluh ketika namanya dicoret dari daftar peserta.

Ada hal-hal lain: para pekerja semakin sadar bahwa istirahat makan siang yang layak tiga atau empat kali seminggu telah terbukti oleh penelitian dapat meningkatkan pengambilan keputusan. Juga, mengurangi kelelahan pada hari Jumat yang mengganggu kebanyakan dari kita.

Lebih jauh lagi, meminjam tradisi fika dari Swedia dengan berjalan-jalan dengan kolega sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari untuk minum kopi tampaknya memberi efek positif. Kebiasaan ini membuat kita tidak terlalu lelah karena email dan menyegarkan pikiran kita di akhir hari kerja.

Bahkan, inisiatif untuk berjalan-jalan dapat diperluas dengan mengubah format pertemuan dari duduk diam menjadi bergerak. Pakar dari Stafford, Marily Oprezzo menemukan bahwa berjalan meningkatkan pemikiran kreatif pada 81% peserta yang diuji.

Menambah jadwal pertemuan baru mungkin tampaknya salah ketika kita berusaha membenahi minggu kerja, tetapi manfaat pertemuan sosial (yang berbeda dari rapat kerja biasa) semakin populer.

CEO Margaret Heffernan menjelaskan bahwa upayanya memulai pertemuan sosial seminggu sekali di salah satu perusahaannya yang berbasis di AS "benar-benar mengubah" budaya kerja. Heffernan mengamati bahwa mendorong para pekerja menghabiskan waktu untuk bersosialisasi satu sama lain di hari kerja membuat mereka lebih mungkin untuk berkolaborasi sepanjang pekan itu.

Tempat kerja kini dijangkiti 'penyakit buru-buru' yang merupakan konsekuensi dari tuntutan tinggi pekerjaan modern, dan dampak keletihan itu bisa keras, terutama pada pegawai paling junior. Ketika pekerjaan begitu bertubi-tubi, fokus pada tujuan mulia seperti 'kenapa' kita bekerja tidak akan membantu, maka mungkin kita harus mulai mengatasi persoalan 'bagaimana'.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Anak SMP di bawah umur

Anak SMP di bawah umur 'ngotot' menikah: Apakah menikah muda cara menghindari zina?

Sepasang anak SMP yang ingin menikah menjadi bahan perbincangan, apalagi dengan gerakan menikah muda yang semakin ramai.
Dua anak SMP di Bantaeng,

Pengakuan mantan agen CIA yang menginterogasi Saddam Hussein

Pengakuan mantan agen CIA yang menginterogasi Saddam Hussein

Ketika mantan Presiden Irak, Saddam Hussein, ditangkap pada Desember 2003, badan intelijen Amerika Serikat (CIA) memerlukan seorang ahli yang dapat mengenali

Peneliti: Tidak Perlu Mandi Setiap Hari

Peneliti: Tidak Perlu Mandi Setiap Hari

Menurut peneliti, mandi tidak perlu dilakukan setiap hari karena bisa mengurangi hidrasi kulit. Membuatnya menjadi kering, pecah-pecah, dan infeksi.
Para ahli mengatakan, mandi setiap hari

Rambut Sambungan Telah Digunakan Sejak 3000 Tahun

Rambut Sambungan Telah Digunakan Sejak 3000 Tahun

Sebuah tengkorak perempuan yang hidup pada 3.300 tahun yang lalu ditemukan terdapat 70 rambut sambungan di kepalanya.
Rambut tambahan tampak seperti tren mode rambut termutakhir. Tapi ternyata

Memahami Kepahlawanan Kartini Melalui Surat-suratnya

Memahami Kepahlawanan Kartini Melalui Surat-suratnya

Gagasan dan pemikiran yang terekam dengan baik dalam surat-suratnya membuat sejarah mengenang Kartini sebagai sosok luar biasa.
 "Orang boleh pandai setinggi langit," tulis Pramoedya

Pemenang Kuis "CERITA DARI BLORA"

Pemenang Kuis "CERITA DARI BLORA"

Berikut adalah pemenang kuis "CERITA DARI BLORA" dan berhak mendapatkan buku CERITA DARI BLORA karya Pramoedya Ananta Toer.1. rendy

The 48 Laws of Power

The 48 Laws of Power

The 48 Laws of Power (48 Hukum Kekuasaan) by Robert Greene and Joost Elffers 1. Never Outshine the Master (Jangan pernah terlihat lebih baik dari atasan anda)