Memahami Kepahlawanan Kartini Melalui Surat-suratnya

Memahami Kepahlawanan Kartini Melalui Surat-suratnya

  • 2018-04-22 08:21:00
  • 482

Gagasan dan pemikiran yang terekam dengan baik dalam surat-suratnya membuat sejarah mengenang Kartini sebagai sosok luar biasa.


 "Orang boleh pandai setinggi langit," tulis Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca (1988), "tapi selama ia tak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah."


Raden Ajeng Kartini pun seperti menjadi bukti atas pandangan Pramoedya tersebut. Namanya dikenang sebagai salah satu pejuang perempuan karena tulisannya.


Kartini, hanya dengan nama itu ia mau dipanggil, hanya seorang perempuan Jawa biasa, yang kebetulan dilahirkan di keluarga bangsawan.


Namun, gagasan yang dimiliki Kartini menjadikan sejarah mengenangnya sebagai sosok luar biasa. Gagasan dan pemikirannya itu pun terekam dengan baik dalam surat-suratnya.


Sebagai seorang putri dari Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Kartini memang beruntung bisa mengenyam pendidikan, meski masih dalam keterbatasan. Namun, pendidikan itu membuat dia mampu baca-tulis, bahkan dalam bahasa Belanda.


Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV dari Demak, juga dikenal sebagai bangsawan yang terbuka terhadap peradaban Barat. Sikap terbuka ini juga diwariskan ayah Kartini, yang menyebabkan Kartini muda dapat berinteraksi dengan beberapa orang Belanda.


Salah satu orang Belanda yang berpengaruh dalam hidup Kartini adalah Marie Ovink-Soer, istri dari seorang pegawai administrasi kolonial Hindia Belanda di Jawa Tengah.


Ovink-Soer menjadi sahabat Kartini untuk mencurahkan hati akan banyak hal, terutama kondisi perempuan yang dikekang adat dan tradisi. Berkat Ovink-Soer Kartini mengenal gerakan feminisme di Belanda sejak usia 20 tahun.


Ovink-Soer juga yang mengenalkan Kartini akan jurnal beraliran feminisme De Hollandshce Lelie. Di jurnal itulah perempuan kelahiran 21 April 1879 itu menulis keinginannya memiliki sahabat pena dari negeri Belanda.


Keinginannya itu bersambut. Pegawai pos bernama Estella Zeehandelar pun menanggapi dan mengirim surat kepada Kartini.


Korespondensi Kartini dengan Stella membuat pikirannya makin terbuka. Tulisan Kartini dalam suratnya pun menjadi rekaman pemikiran dan gagasan Kartini yang dianggap luar biasa.


Dalam suratnya, Kartini dapat bercerita tentang kondisi perempuan seperti dirinya yang merasa terkekang, bahkan tanpa bisa memilih masa depannya sendiri.


Kartini pun bercerita mengenai banyak hal, tentang bangsanya yang menderita karena penjajahan, keresahannya mengenai agama, hingga kepeduliannya akan pendidikan.


Sejumlah buku pun dibahas Kartini bersama Stella dalam surat-suratnya. Misalnya saja, untuk bercerita mengenai kondisi mengenaskan Bumiputera yang dijajah, Kartini mengambil bukuMax Havelaar yang ditulis Multatuli sebagai referensi.


Surat-surat tidak hanya ditulis Kartini kepada Ovink-Soer dan Stella. Kartini juga menulis surat kepada sejumlah sahabat, salah satunya Rosa Abendanon, istri dari JH Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.


Kelak, JH Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini dan menjadikannya sebuah buku berjudul Door Duisternis tot Licht(1911). Buku itu diterjemahkan oleh sastrawan Armijn Pane pada 1939 dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.


Didukung Politik Etis


Salah satu latar belakang yang menjadikan Kartini dikenal sejarah seperti sekarang adalah berkat Politik Etis yang dijalankan Kerajaan Belanda. Politik ini lahir di Hindia Belanda sebagai kritik terhadap politik tanam paksa yang kemudian berhenti pada 1870.


Politik Etis mengedepankan sikap balas budi Belanda terhadap rakyat di negara jajahan. Salah satu bentuknya adalah dengan memberikan pendidikan. Karena itu, pendidikan menjadi isu penting di lingkungan pergerakan, termasuk pergerakan di kalangan Bumiputra.


Dalam buku Kartini, Sebuah Biografi (1977) yang ditulis Sitisoemandari Soeroto, JH Abendanon diketahui sebagai salah satu tokoh penggerak Politik Etis di Hindia Belanda. Karena itu tidak heran jika pemikiran Kartini melalui surat-suratnya juga tersebar hingga ke Belanda berkat JH Abendanon dan politisi berhaluan liberal Belanda.


Tidak hanya itu, munculnya Politik Etis dapat juga dianggap sebagai masa transisi, beralihnya perjuangan fisik melalui peperangan ke perjuangan nonfisik seperti diplomasi dan pemikiran.


Sebab, Politik Etis dianggap membuka keran yang memungkinkannya kalangan Bumiputra untuk menempuh pendidikan di Belanda.


Sejarah kelak mencatat, sejumlah mahasiswa Indonesia yang kemudian bersekolah di Belanda, menjadi tokoh pergerakan yang memelopori kemerdakaan dan berdirinya Republik Indonesia.


Dalam surat-suratnya, Kartini sebenarnya sudah menyatakan keinginannya untuk menuntut ilmu hingga ke negeri kincir tersebut. Namun, impian itu kandas karena sulitnya perempuan Bumiputera untuk mendapatkan pendidikan, apalagi hingga ke luar negeri.


Meski begitu, Kartini diketahui juga pernah merekomendasikan sejumlah nama untuk sekolah ke Belanda. Salah satunya adalah Agus Salim, yang terungkap dalam surat Kartini kepada Rosa Abendanon tanggal 24 Juli 1903.


Dengan demikian, terlihat wajar bahwa isu pendidikan pun menjadi bahasan penting dalam surat-surat Kartini.


Kartini pun menuntut perempuan untuk dapat pendidikan. Ini dilakukan, menurut Kartini, bukan untuk menyaingi laki-laki.


Namun, Kartini memahami bahwa perempuan dikodratkan menjadi ibu, dan ibu merupakan pendidik pertama untuk tiap manusia. Alasan itulah yang dinilai Kartini perlunya perempuan mendapat pendidikan.


(Bayu Galih/Kompas.com)


Sumber : National Geographic Indonesia


 

SHARE:

Comments

Recent Posts

Kuis "CERITA DARI BLORA"

Kuis "CERITA DARI BLORA"

Tuliskan cerita anda tentang Blora dan dapatkan kesempatan untuk mendapatkan buku CERITA DARI BLORA karya Pramoedya Ananta Toer. Buku yang menceritakan tentang Blora pada

Fokuslah pada

Fokuslah pada 'bagaimana' Anda bekerja, bukan 'kenapa'

Ada beberapa cara praktis yang bisa diterapkan agar Anda bisa merasa lebih puas, dan tidak terlalu gelisah, dalam pekerjaan. Kenapa pekerjaan modern begitu tidak memuaskan?

MENANAMKAN BUDAYA MEMBACA PADA SISWA SEKOLAH DASAR

MENANAMKAN BUDAYA MEMBACA PADA SISWA SEKOLAH DASAR

Pemerintah republik Indonesia melalui peraturan menteri pendidikan telah berusaha untuk meningkatkan budaya membaca bagi siswa-siswi di semua jenjang sekolah dari dasar hingga menengah atas. Peraturan

Yu Yuan: Aku Pernah Datang dan Aku Sangat Patuh

Yu Yuan: Aku Pernah Datang dan Aku Sangat Patuh

Kisah tentang seorang gadis kecil cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia

Dikira Murah, Lukisan Ini Ternyata Bernilai Lebih dari Rp 8 Miliar

Dikira Murah, Lukisan Ini Ternyata Bernilai Lebih dari Rp 8 Miliar

Terungkapnya identitas lukisan tersebut terjadi secara kebetulan ketika Pendeta Jamie membawanya untuk diliput di acara Antiques Roadshow.
Sebuah lukisan yang dibeli seharga £400 (sekitar

The 48 Laws of Power

The 48 Laws of Power

The 48 Laws of Power (48 Hukum Kekuasaan) by Robert Greene and Joost Elffers 1. Never Outshine the Master (Jangan pernah terlihat lebih baik dari atasan anda)

Peneliti: Tidak Perlu Mandi Setiap Hari

Peneliti: Tidak Perlu Mandi Setiap Hari

Menurut peneliti, mandi tidak perlu dilakukan setiap hari karena bisa mengurangi hidrasi kulit. Membuatnya menjadi kering, pecah-pecah, dan infeksi.
Para ahli mengatakan, mandi setiap hari

Blora

Blora

Saudara! Apakah kamu tahu apa yang dirindukan setiap tahanan? Kamu harus tahu! Keluar, mendapatkan kebebasan kembali, hidup di antara teman-teman, kerabat, dan sesama manusia.