Blora dan Ubet-nya

Blora dan Ubet-nya

  • 2016-10-14 14:01:35
  • 2437

Banyak orang-orang Blora yang merantau ke luar kota dengan tujuan mengumpulkan modal untuk membuka usaha di Blora. yang jadi pertanyaan, apakah menurut mereka peluang membuka usaha di Blora lebih besar dari di perantauan? jawabannya, Tidak! Probabilitas membuka usaha di kota besar tentu lebih besar daripada di Blora. Tapi bisa membuka usaha sederhana untuk hidup sederhana tapi tidak "asal hidup" di kampung halaman itu sudah cukup. Ini baru kemungkinan untuk membuka usaha, belum mengenai sukses atau tidaknya usaha tersebut. Sering kita mendengar atau bahkan dari kita sendiri yang mengucapkan pertanyaan "neng mblorO arep mbukak usaha opo?". Pertanyaan tersebut sudah saya dengar dari tahun 90an sampai sekarang, tapi belum ada jawaban yang tidak dijawab dengan pertanyaan "opo yo?", tapi setidaknya ada jawaban yang diawali dengan "hmmmm....", seperti "hmmmm.... nganu bro, nggawe omah manuk ae kepenak". Tapi itu adalah jawaban yang Diamput, umume nek iso nggawe omah manuk, mesti ora takon rep mbukak usaha opo. Ada yang dengan skeptis ber-argumen "nek gelem ubet mesti ono gawean neng mbloR0". Realistis sajalah, kita semua tidak menginginkan usaha atau kerjaan yang asal-asalan selama kita masih punya pilihan walaupun pilihannya tidak kunjung dipilih. Kalau masalah "ubet", siapa sih yang tidak tahu kalau orang Blora itu pinter golek ubet? dari penjual samier sampai pegawai honorer juga tahu kalau orang Blora pinter ubet, walupun ubet yang bener atau ubet yang mbulet yang jelas wong Blora pinter golek ubet. Dan ketika dunia perubetan semakin mbulet, maka pilihan terakhir adalah merantau sebagai bentuk dari perubetan itu sendiri.

Ternyata diperantuan tidak juga memberikan modal untuk bisa membuka usaha di Blora sebagaimana tujuan awal merantau. Disamping biaya hidup di kota besar yang ternyata tidak semurah di Blora, rasa nyaman , terlena, sekolah yang belum lulus, ilmu yang didapatkan belum bisa diterapkan di Blora, menikah dengan orang lain daerah, belum ada tabungan dan banyak alasan lain lagi yang membuat mereka tak kunjung pulang ke Blora. Apakah mereka melupakan Blora? Melupakan darimana mereka berasal? mereka tidak melupakan kalau mereka lahir dari sego pecel. Teman saya, rela untuk seminggu sekali pulang pergi Blora - Jakarta karena anak dan istrinya ada di Blora. Dia ngalahi awak'e kesel asal anak'e iso urip lan sekolah neng mblor0. Jelas, keinginannya untuk kembali ke Blora masih ada. bahkan tiap kali dia kembali ke Jakarta, dia selalu membawa sambel pecel (garingan),katanya agar dia tidak lupa dari mana dia berasal, dari sego pecel. Mungkin kita masih ingat akhir-akhir ini ada berita yang menghebohkan dimana ada orang Blora yang meninggal dan beliau menuliskan wasiat kalau beliau ingin dimakamkan di Blora, terlepas bagaimana beritanya, jelas beliau masih punya keinginan untuk kembali ke Blora. Yang kembali menjadi pertanyaan, "di Blora itu ada apa kok mereka tetap ingin kembali ke Blora?".

Masih banyaknya sawah, udara yang masih bersih, dan yang paling penting adalah lingkungan yang masih ideal untuk membesarkan anak adalah alasan dari sekian banyak alasan untuk tetap atau kembali ke Blora. Dan hal-hal kecil seperti sego pecel pincuk godong jati, rumpuk jagung atau gasdeso adalah hal-hal merindukan yang mendorong untuk kembali ke Blora.

"Kapan anda terakhir makan nasi pecel yang dipincuk dengan daun jati?"
"Kapan anda terakhir rumpuk jagung?"
"Kapan anda terakhir ke gasdeso daerahnya teman anda?"
"Dan kapan anda makan bubur atau rawon pakai SURU?"

Mungkin bagi anda saat ini banyak yang tidak merindukan hal-hal yang disebutkan diatas, tapi jika suatu saat Blora pembangunannya sangat maju, misalnya seperti Dubai atau Singapura, dan sawah dan hutan jati menjadi gedung-gedung atau pabrik, kemana anda akan mencari gasdeso?

Yang dirindukan dari Blora saat ini, alasan untuk tetap atau kembali ke Blora adalah Blora yang sekarang ini.

SHARE:

Comments

Recent Posts

Ketika Produk Dipilih Bukan Karena Produknya

Ketika Produk Dipilih Bukan Karena Produknya

Anggap saja kita sekarang sedang dihadapkan hanya dengan 2 produk saja (produk A dan produk B) dan kita harus memilih salah satunya. Tidak ada yang tidak memilih, yang boleh

Profesional

Profesional

Hidup itu Harus Profesional,
Tau Kapan Harus Jadi KIRIK,
dan Tau Kapan Harus Jadi ASU.

Makanlah di Warung Yang Ada Daftar Harganya

Makanlah di Warung Yang Ada Daftar Harganya

Papan himbauan yang ceplas-ceplos di simpang lima semarang

Pola Pikir Yang Belum Bisa Mengikuti Arus Sosial Media

Pola Pikir Yang Belum Bisa Mengikuti Arus Sosial Media

Di warung kopi, kedua teman saya sedang berdebat mengenai film kartun "Masha And The Bear" yang lagi viral karena di posting seseorang di facebook. yang satu berpendapat kalau

Nguk

Nguk

Disini itu tidak ada "nguk" seperti dikampungku saat waktu buka puasa."nguk" itu sirine yang menandakan waktu buka puasa telah tiba. mungkin dulu asal usul nguk itu terjadi

Sampai Jumpa Blora

Sampai Jumpa Blora

Sudah sepuluh tahun lebih aku merantau meninggalkan Blora hanya untuk mencari jati diri yang sebenarnya.Dan Entah sudah berapa kali ak pulang kampung, tapi perasaan saat

Polisi Golek Golek

Polisi Golek Golek

Adi ditilang polisi lalu lintas karena tidak memakai helm saat melintasi jalan pemuda, padahal dia hanya ingin membeli pulsa yang jaraknya hanya 1 km dari rumahnya, akhirnya

Bahagia itu Menjadi Diri Sendiri

Bahagia itu Menjadi Diri Sendiri

Hidup itu kita yang menjalankan, orang lain yang berkomentar. Apapun yang kita lakukan tentu tidak akan bisa memuaskan semua orang. Tentu tetap akan ada orang yang berkomentar