MENGHALAU PEMIKIRAN RADIKAL PADA ROHIS SMA

MENGHALAU PEMIKIRAN RADIKAL PADA ROHIS SMA

  • 2017-07-04 21:44:38
  • 1077

Hasil riset yang diselenggarakan oleh Kemenag dan Wahid Foundation terhadap 1600 pengurus Rohis tingkat SMA menunjukkan bahwa 75% setuju tegaknya Khilafah dan sebanyak 60% mengaku siap untuk ikut Jihad di Palestina dan Suriah (Tempo: 25 Juni 2017). Realita ini tentu sangat mengejutkan, dimana usia anak SMA harusnya menjadi bibit yang bagus untuk turut serta dalam pembangunan kemajuan bangsa Indonesia.


Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia Muhammadiyah dan NU harus turut berperan aktif dalam menanamkan konsep Islam Rahmatan Lil Alamin sekaligus berkemajuan. Terutama organisasi Nahdhatul Ulama (NU) yang sangat aktif menyerukan jargon NKRI harga mati Pancasila jaya. Saya berharap kader-kader muda NU bisa berperan serta membaur dalam mengisi kajian-kajian Rohis di seluruh SMA agar bisa menanamkan konsep Islam yang Ramah berhaluan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ‘ala Nahdhiyah.


Saya sebagai guru yang mengajar di SMA turut tertarik mengamati berbagai bentuk kajian yang dilakukan oleh anak-anak Rohis. Kajian Rohis di lingkup SMA menurut pengamatan saya, banyak diisi oleh alumni rohis dan relawan yang sangat bersemangat menyebarkan Islam versi mereka. Perlu diketahui, beberapa alumni tersebut merupakan aktivis kampus yang giat mengikuti halaqoh dan liqo’ mingguan di kampus yang berhaluan wahabi/salafi. Bahkan ada juga yang merupakan fans fanatik gerakan HTI dengan ustadz idolanya yaitu si Felix. Mereka membawa doktrin yang diperoleh dari kampus itu ke ranah SMA. Sedangkan relawan yang turut mengisi kajian di rohis SMA  banyak dari pemilik yayasan salafi bahkan beberapa aktif dalam kepengurusan salah satu partai politik. Tugas relawan diantaranya menjadi donator dalam beberapa kegiatan yang diadakan di luar sekolah (biasanya tanpa sepengetahuan pihak sekolah). Saking mesranya hubungan antara alumni, relawan dengan pengurus Rohis SMA, pernah saat itu menghadirkan Felix pentolan HTI yang sebenarnya tidak mendapatkan ijin untuk diselenggarakan di gedung pertemuan kota, malah dengan terbuka bisa diselenggarakan di Masjid SMA.


Di sisi lain, Pembina rohis SMA (Kesiswaan dan guru Agama Islam) sangat diuntungkan dengan keterlibatan alumni dan relawan dalam membantu kegiatan rohis. Akan tetapi, perlahan pemikiran mereka digiring untuk turut memahami isu problematika dunia Islam baik yang sedang dialami di Indonesia maupun yang sedang terjadi di Negara-negara Timur Tengah saat ini. Dengan penggiringan opini bahwa umat Islam selalu dipojokkan, hingga akhirnya dimunculkan kepada mereka solusi tunggal yaitu tegaknya Khilafah yang bisa membawa Islam menjadi pemimpin dunia. Tidaklah heran jika anak rohis bisa mnjadi bibit unggul untuk mendukung kampanya penerapan system Khilafah yang siap tumbuh subur ketika anak SMA melanjutkan ke perguruan tinggi.


Tidak hanya itu saja, umur anak SMA yang secara psikologis sedang saatnya untuk mencari jati diri dan ingin lebih mengenal agama harusnya bisa mendapatkan pendampingan yang baik. Tidak ada yang salah. Akan tetapi, dunia pendidikan SMA umum berbeda jauh dengan dunia pendidikan di pesantren. Mata pelajaran Pendidikn Agama Islam di SMA hanya sebanyak 3 jam pelajaran per minggunya. Tentu tidak cukup membekali siswa untuk memahami Islam dan membentengi mereka dari pemikiran radikal. Terlebih pada permasalahan Fikih dan Khilafiah. Pemahaman anak menjadi chaos ketika dihadapkan pada perbedaan hukum Fikih. Sholat Tarawih misalnya, masih banyak yang bingung mana yang lebih benar tentang banyaknya jumlah raka’at pelaksanaannya. Belum pada amalan sunnah lainnya yang bahkan dianggap bid’ah hingga Syirik oleh kelompok lain.


Semakin mudahnya anak SMA mengkases media sosial yang dimanfaatkan sebagai media dakwah, mereka merasa tak perlu lagi untuk menuntut ilmu agama dari sumber yang valid, di Madrasah atau di Pesantren misalnya. Hanya cukup dengan searching Google, menjadi follower akun media sosial yang postingannya dakwah atau join dalam grup What’s App kajian online, anak SMA secara umumnya tidak kesulitan lagi dalam mencari jawaban dari rasa penasaran mereka tentang hukum agama. Memiliki lebih banyak waktu dengan mengusap layar sentuh telepon pintar mereka, kapanpun dan dimanapun. Anehnya, mereka menjadi merasa lebih Islami bahkan daripada guru Agama Islam di sekolahnya. Saking merasa Islaminya, ada siswa yang mengajak debat dengan guru agamanya karena materi yang disampaikan ketika pelajaran tidak sependapat dengan pemahaman yang ia pahami lewat kajian online.


Suatu hari, selepas sholat Tarawih berjama’ah di masjid sekolah, saya mendekati beberapa anak yang sedang berkumpul membicarakan sesuatu. Ada yang menarik perhatian saya dari apa yang mereka bahas. Dari layar telepon pintarnya, salah satu anak menunjukkan kepada temannya tentang grup kajian online yang ia ikuti. Ia menyatakan kebanggannya bahwa grup kajian online tersebut dikelola oleh Ustadz “Sunnah” dan ustadz tersebut ternyata adalah ustadz yang isi dari dakwahnya seringkali menjustifikasi Bid’ah bahkan Syirik kepada amalan-amalan umat Islam Indonesia, khususnya pada amaliyah warga Nahdhiyin. Meski saya tidak sependapat dengan apa yang diikuti oleh murid saya itu, akan tetapi saya selaku guru harus bisa berlaku adil, dan bisa memberikan penjelasan tanpai menyalahkan kelompok lain.menjelaskan kepada mereka mengenai Firqoh dan Khilafiah secara hati-hati. Saya mengambil jalan tengah dan memberikan nasehat tanpa memaksakan bahwa apa yang saya yakini adalah sebagai kebenaran tunggal. Tidak masalah menuntut ilmu dari siapapun, asalkan harus jelas sanad keilmuannya, jika hanya mengikuti kajian secara online atau hanya membaca dari website-website, bagaimana bisa jelas sanad keilmuannya?  Jangan sampai terpengaruh untuk ikut memfonis Bid’ah, Kafir, Syirik amaliah kelompok lain dan yang paling penting dalah harus mencintai NKRI. NKRI harga mati. Jangan sampai terbuai dengan kampanya manis pejuang Khilafah, apalagi turut serta menjadi bagian dari Jihadis yang siap mati menjemput 72 bidadari demi halusinasi mendirikan Negara Islam.


Seyogyanya, Nahdhatul Ulama maupun Muhammadiyah harus bisa mewadahi kegiatan Rohis layaknya IPNU/IPPNU ataupun IRM. Agar pemahaman radikal bisa ditangkal sedini mungkin. Jam pelajaran SMA yang begitu padat, tugas sejagat mengakibatkan populasi jomblo meningkat pesat. Ditambah akhwat-akhwat tak lagi bersahabat. Inikah tanda kiamat sudah dekat?


 


Ahmad Idris Setyawan


Guru Matematika

SHARE:

Comments

Recent Posts

Polisi Golek Golek

Polisi Golek Golek

Adi ditilang polisi lalu lintas karena tidak memakai helm saat melintasi jalan pemuda, padahal dia hanya ingin membeli pulsa yang jaraknya hanya 1 km dari rumahnya, akhirnya

Mudiklah, Kepulanganmu Tak Tergantikan

Mudiklah, Kepulanganmu Tak Tergantikan

Mungkin judul diatas sedikit egois atau seakan-akan tidak mengerti keadaan orang-orang yang berkeinginan untuk mudik tapi tidak bisa mudik (semoga ada jalan untuk mudik).

Bahagia itu Menjadi Diri Sendiri

Bahagia itu Menjadi Diri Sendiri

Hidup itu kita yang menjalankan, orang lain yang berkomentar. Apapun yang kita lakukan tentu tidak akan bisa memuaskan semua orang. Tentu tetap akan ada orang yang berkomentar

Ketika Produk Dipilih Bukan Karena Produknya

Ketika Produk Dipilih Bukan Karena Produknya

Anggap saja kita sekarang sedang dihadapkan hanya dengan 2 produk saja (produk A dan produk B) dan kita harus memilih salah satunya. Tidak ada yang tidak memilih, yang boleh

Yo Mboh Yo

Yo Mboh Yo

Atiku bungah sak bungah-bungahe pas krungu nek neng MblorO arep di bangun pabrik. mungkin mergo wes saking suwene olehku ngrantau, dadi pas ono berita arep dibangun pabrik

Sampai Jumpa Blora

Sampai Jumpa Blora

Sudah sepuluh tahun lebih aku merantau meninggalkan Blora hanya untuk mencari jati diri yang sebenarnya.Dan Entah sudah berapa kali ak pulang kampung, tapi perasaan saat

Blora dan Ubet-nya

Blora dan Ubet-nya

Banyak orang-orang Blora yang merantau ke luar kota dengan tujuan mengumpulkan modal untuk membuka usaha di Blora. yang jadi pertanyaan, apakah menurut mereka peluang membuka

Profesional

Profesional

Hidup itu Harus Profesional,
Tau Kapan Harus Jadi KIRIK,
dan Tau Kapan Harus Jadi ASU.